Minggu, 11 April 2010

Tuhan itu Suka-Suka

Jika ada yang sepaham bahwa Nabi dan Rasul adalah satu-satunya penyampai wahyu dari Tuhan, maka saya akan menjadi salah satu orang yang angkat tangan dengan lantang menolak paham itu. Bahkan jika yang masih dengan primitif menganggap cuma para ulama, pendeta, MUI, atau pihak-pihak dari lembaga keagamaan lah yang berhak menyuarakan isi hati Tuhan, maka saya juga akan menolak itu dengan keras.

Dalam perjalanan saya, banyak sekali ditemukan orang yang saya yakini dia adalah penyampai wahyu. Bukan dalam artian penyampai wahyu yang konsisten seperti para nabi. Tapi wahyu yang bisa jadi singkat, hanya sepenggal, atau dia sendiri tidak sadar sedang mewahyukan sesuatu, tapi saya yakini bahwa itulah suara Tuhan. Suara Tuhan yang sekaligus memberitahu bahwa dia suka-suka saja memilih siapa yang menyampaikan wahyunya. Ia tak menunjuk seseorang berdasarkan status ekonomi, kekuasaan, pekerjaan, bahkan tingkat kesalehan. Berikut adalah orang-orang yang memang bukan nabi, tapi bagi saya, ia membawa wahyu. Wahyu yang barangkali tidak langsung dipahami saat itu, tapi lama-lama lumayan paham juga.



Pak Igun Gunawan (Guru Bahasa Sunda SMP): "Manusia itu singkatan dari Mana Nu Sia (Bahasa Sunda: Mana Punyamu?)."

Kang Trisna (Sahabat di KlabKlassik): "Segala sesuatu itu mengarah pada kebaikan."

Mbak Tarlen (Owner Tobucil): "Jika seseorang mampu menyampaikan sesuatu secara sederhana, maka ia sudah berpikir rumit. Sedangkan orang yang menyampaikan sesuatu secara rumit, berarti pikirannya masih sederhana."

Pak Bambang Sugiharto (Dosen Filsafat): "Jangan-jangan realitas itu, adalah hidup itu sendiri."

Bapak saya: "Kebenaran adalah pencarian kebenaran itu sendiri."

Bu Molly (Guru Bahasa Indonesia SMA): "Orang yang kepribadiannya maju, adalah mereka yang setiap malam bisa menertawakan dirinya."

Yampan (Pegawai/asisten di rumah): "Tidak ada orang kaya di dunia."

Ridwan (Guru Gitar): "Saya tidak pernah sedekah, tapi kunci sukses saya adalah tidak pernah secara sengaja mau menyakiti orang."

Dicky (Pianis Hilton): "Rejeki itu adalah yang dimakan."

Pak Sukanda (Guru PPKn SMA): "Dengan menuliskan namamu di kertas ulangan. kau sudah dapat nilai 7."

Sundea (Kawan menulis): "Buat diri sendiri baik, maka segalanya akan menjadi baik."

Kang Tikno (Sahabat di KlabKlassik): "Dahulukan orangtua kita."

Ayah Bilawa: "Tidak ada yang harus di dunia ini."

Bilawa (Sahabat di KlabKlassik): "Kebenaran itu menenangkan."

Dega (Pacar): "Komitmen itu diatas perasaan."

Budi (Pianis Hilton): "Anak-anak itu adalah titipan dan amanah."

Pidi Baiq (Penulis tetralogi Drunken): "Orang yang masih mengukur kemuliaan manusia dari harta dan jabatan, adalah kampungan."

Ibu saya: "Jangan takut miskin jika rajin memberi."

Kak Iin (Sahabat di Pascasarjana): "Orang yang tidak kenal baik dan buruk, maka akan masuk surga. Dan anakku yang autis ini, adalah bukti betapa baiknya Allah itu, karena telah memberiku anak yang Insya Allah pasti masuk surga."




Demikian "hadits" yang telah saya himpun, atau wahyu yang telah saya kitab-sucikan. Sementara sampai situ ingatan saya. Semoga diingatkan lagi kelak, atau bahkan diberi wahyu lagi nanti. Atau diberi kesempatan bertemu orang yang diberi wahyu.
Previous Post
Next Post

0 komentar: