Selasa, 06 April 2010

Filsafat dan Agama

Filsafat dan agama, seolah menjadi dua entitas yang berbeda. Kadang dipertentangkan, kadang dipersatukan. Yang menjadi bahan pertentangan, tentu saja: yang satu memaksimalkan akal pikiran, satu lagi berintikan keimanan. Sifat akal seringkali dimulai dari keraguan sebagai syarat kebenaran, sedangkan sifat iman dimulai dari keyakinan sebagai syarat kebenaran. Paham pemurnian iman biasa disebut fideisme, jadi "Iman ya iman, tidak ada akal pikiran di dalamnya".

Adapun yang mencoba mempersatukan, yakni yang percaya bahwa akal adalah syarat untuk memperoleh keimanan. Dalam agama sering sekali ada suruhan untuk berpikir, semata-mata agar mengetahui bahwa iman tidak bersifat dogmatis. Ia justru ada dalam alam nalar kita jua.

Sebelum dibahas, filsafat yang dimaksud, adalah dalam pengertian filsafat Barat. Yang membahas apa-apa dari sudut pandang ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ontologi berarti hakekat, epistemologi adalah apa yang dapat diketahui, dan aksiologi berarti manfaatnya. Tradisi filsafat Barat, tentu saja lekat dengan nama-nama macam Nietzsche, Descartes, Hegel, Kant, Hume atau Foucault. Dan filsafat yang akan dipertautkan disini, adalah gaya berfilsafat yang sekiranya sesuai dengan radikalisme yang dibangun oleh gaya para tokoh diatas. Maksudnya, filsafat disini bukanlah filsafat yang digolongkan pada bagaimana MUI seolah menggunakan akal pikirannya untuk merumuskan fatwa. Filsafat yang memang sering dipertentangkan dengan agama, yakni ya si tradisi filsafat Barat ini. Inilah si filsafat yang ramai-ramai dihindari oleh para penggila agama, seperti ketakutan oleh kekuatan nalar yang menggerus segala iman.

Demikian, saya belajar filsafat Barat sejak sekitar empat tahun lalu. Lewat Extension Course Filsafat yang diselenggarakan UNPAR, saya belajar macam-macam, mulai dari antropologi filsafat, isme-isme, filsafat agama, dan beberapa pandangan tokoh maupun kelompok. Syukurnya, saya belajar cukup serius. Goyah keimanan itu biasa, religiusitas anjlok itu lumrah, skeptisitas pada hidup disikapi asik-asik saja. Buku-buku pun tak luput dibaca, dan pelbagai forum diskusi cukup sering diselami. Adapun pada akhirnya, keimanan yang sempat terpendam entah dimana, lama-lama ingin muncul juga. Dan dari situ Tuhan bertanya, "akal pikiranmu selama ini, kau gunakan untuk apa?" Seolah-olah ia menantang agar filsafat punya andil membenarkan keberadaan diri-Nya. Dan kemudian, lewat jalan yang tak mudah, filsafat akhirnya bertatap muka dengan agama. Bertatap bukan berarti bersalaman. Bertatap bukan berarti menyapa dan berintim ria. Inilah daya upaya seadanya yang bisa saya tawarkan dalam rangka mempertemukan dua kutub yang sering bermusuhan ini:

1. Filsafat mampu membongkar esensi dari ritual agama.

Agama punya ritual, itu pasti. Tapi pemahaman tentang ritual, biasanya minim sekali dipahami secara nalariah. Adapun alasan paling jauh yang bisa dikemukakan agama, adalah ritual punya nilai pahala, punya ganjaran surga. Atau paling rasional, adalah mengenang suatu semangat tertentu. Misal, prosesi Sa'i (dalam haji atau umrah) yakni mengenang perjuangan Siti Hajar mencari air. Daya kritis filsafat, sangat berguna untuk menelaah, apakah yang menjadi esensi berbagai ritual itu? Apakah ritual sekedar alat mencapai surga atau mengenang semangat, atau ada yang lebih dari itu?

Contoh kasus, dari buku Agus Mustofa, Berhaji tanpa Berhaji: Ada seorang nenek, sedang menjalankan thawaf mengelilingi Ka'bah. Ia sangat berhati-hati menjalankan seluruh prosesi. Tapi amat disayangkan, di putaran terakhir ia lupa bacaannya. Maka dalam putarannya ia bergetar hebat, ketakutan, karena khawatir seluruh rangkaian ibadahnya gagal total. Kau yang melihat ini dari segi ritualitas belaka, akan menjawab apa? Dan bandingkan dengan yang sempat memikirkannya dengan kekritisan filsafati? Lalu kasus lain, misalnya banyak jema'ah haji yang memilih untuk membaca doa mengikuti pembimbingnya, dengan bahasa Arab yang ia tak kenali. Ketimbang berdoa dengan bahasa sendiri yang lebih khusyuk dan pribadi.

Disinilah filsafat punya peran "menghalalkan" daya kritis. Mengajak kita untuk tidak melulu melihat ritual dalam arti gerak-gerak yang kaku. Tapi ibarat manusia, ia juga punya hati dan jiwa. Punya cinta dan rasa. Bukan rangka yang gerak dengan sendirinya.

Dampak dari tiadanya kekritisan, adalah contoh yang lumrah: mengartikan shalat sebagai penghapus dosa dalam kacamata harfiah. Dengan demikian, orang rajin berbuat jahat dan menyakiti orang lain, lantas tenang-tenang saja karena sehari ia dihapus dosanya lima kali. Coba tengok banyak oknum di instansi pemerintahan. Shalatnya biasanya rajin, banyak yang sudah haji, tapi mentalitas tak pernah ikut tumbuh bersama religiusitas.

2. Filsafat bisa menghindarkan agama dari sifat narsistik dan egosentris.

Persoalan terbesar agama, seringkali ada pada kenyataan bahwa ia kurang rendah hati. Dalam artian, ia sering mengklaim diri sebagai kebenaran yang sempurna dan tiada keraguan. Akal pikiran pun tak mampu menggugat, karena ini cuma iman yang boleh masuk. Filsafat sangat membantu untuk menetralisasi paham macam itu. Belajar filsafat, artinya belajar banyak macam pemikiran. Berbagai macam pemikiran itu sesungguhnya menyadarkan bahwa memang sulit sekali memahami kebenaran, karena semuanya seringkali terdengar enak-enak saja. Pada akhirnya, dalam titik ekstrem, agama bisa dianggap sebagai satu dari sekian banyak pemikiran saja. Bedanya, agama punya sifat holistik yang luar biasa. Punya daya cakup yang besar, dan menawarkan banyak jawaban-jawaban transendental. Namun hal tersebut cukup meyakinkan untuk menyebut bahwa filsafat membantu agama untuk sedikit lebih rendah hati. Ketika mengetahui pemikiran Nietzsche, Kant, atau Freud, mendengar Muhammad adalah menjadi sadar saja: oh, mereka sama-sama pintar, sama-sama revolusioner, tapi perbedaan mereka hanya latar belakang sejarah saja.

Pernahkah berpikir, bahwa andaikata para filsuf semisal Nietzsche dkk. itu menyebut buah pemikirannya berasal dari wahyu Tuhan, maka boleh kita sebut mereka semua nabi? Apa bedanya bukan, dengan Muhammad?

3. Filsafat mendinamisasi teks-teks dalam agama.

Agama punya kebiasaan berambigu ria dalam menyampaikan pesan. Tidak jelas, samar, dan menggeneralisasi, adalah ciri khas agama berbicara. Yang kemudian memperjelas siapa? Jelas manusia. Jelas nalar manusia. Itulah, filsafat dalam hal ini mengasah nalar, mengasah kemampuan dalam menerjemahkan teks-teks samar. Bagi saya, adalah tidak bijak melihat agama sebagai suatu jalan hidup yang sudah jelas dari sananya. Jika sudah jelas, Tuhan tidak akan menurunkan kitab suci, tapi KUHP atau GBHN. Jika demikian, selesai semua perkara, tak ada multitafsir berlebihan. Tak ada perang antar agama, atau perpecahan intern agama. Semua damai, semua rukun, di bawah atap kitab yang mahajelas.

Dalam filsafat dikenal istilah hermeneutika, yakni ilmu tentang menafsir. Ada dua aliran besar hermeneutika, yakni Schleirmacher dan Gadamer. Schleiermacher mewajibkan penafsir memasuki teks dalam melihat sesuatu. Artinya ketika kita membaca Al-Qur'an, wajib kita telusuri bagaimana diturunkannya, sejarahnya, dan konteks apa sesungguhnya yang mau ia bicarakan. Gadamer berkata, kita tak perlu repot-repot, dan memangnya bisa kita betul-betul memahami sejarah teks yang otentik. Yang penting, penafsiran itu datang sesuai dari jaman si penafsir saja. Teks itu sudah mati, jadi hidupkan dengan cara merelevansikan dengan jaman sekarang. Misal, Rasulullah menyunahkan janggut. Barangkali jika Gadamer tinggal di Indonesia, ia akan mengatakan nonsens: janggut-janggut orang Indonesia tidak menarik jika ditumbuhkan, alih-alih mencapai imej kebijaksanaan seperti yang Rasulullah harapkan, yang ada malah jadi lucu-lucuan.

Filsafat terus menerus meyakinkan bahwa nalar manusia punya daya jelajah yang tinggi. Ibarat improvisasi jazz, teks adalah panduan tema lagu, sedangkan nalar bertugas membangkitkan tensi dengan memainkan not-not yang nakal.

4. Filsafat mengajak keluar dari penjara pahala dan dosa.

Seketika belajar filsafat, maka nalar dijamin tak akan berhenti mengejar kemana larinya setiap argumentasi. Termasuk soal pahala dan dosa, yang sering jadi senjata utama agama dalam menjaring ketaqwaan umatnya. Filsafat mengajak untuk memahami bahwa sesungguhnya manusia punya sinyal kendali yang cukup dalam dirinya, untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, terlepas itu berdosa atau tidak.

Seperti Bambang Sugiharto yang memberi contoh dengan sangat baik: Kita tidak menerobos lampu merah bukan semata-mata takut polisi, kita tidak membunuh bukan semata-mata takut dosa, tapi ada hati nurani yang berkata bahwa hidup ini punya guna.

Para filsuf dari jaman ke jaman mati-matian merumuskan soal etika: apa itu baik dan apa itu buruk. Ada yang bilang bahwa baik artinya jauh dari rasa sakit, atau baik itu bertanggungjawab atas pilihannya, atau baik itu berguna bagi orang banyak, bahkan sejalan dengan evolusi. Apa poinnya? Mereka semua percaya, bahwa ada kebaikan dan keburukan yang bisa dirumuskan secara lebih "manusiawi" ketimbang sekedar dosa dan pahala. Menimbang perilaku manusia dalam tataran dosa-pahala, bagaikan mengiming-imingi anak belajar dengan dibelikan sepeda.


5. Filsafat membantu mempertanggungjawabkan keimanan.

Poin ini banyak diilhami oleh buku Franz Magnis Suseno yakni Menalar Tuhan. Filsafat dewasa ini sangat dibutuhkan dalam mempertanggungjawabkan keimanan, karena orang tidak bisa langsung menerima secara instan keimanan itu sendiri apa. Maksudnya, iman tentu saja pribadi dan sulit dijelaskan. Tapi filsafat sangat membantu bagaimana kita dapat menjelaskan minimal proses menuju keimanan itu sendiri. Nabi Ibrahim yang beriman setelah melihat matahari terbenam, lalu bulan terbenam, adalah contoh bagaimana ia mempertanggungjawabkan keimanannya lewat jalur nalar.

Di satu sisi, alangkah pentingnya, berbagi soal pencerahan keagamaan yang kita dapatkan. Namun di sisi lain, tak banyak orang yang masih mau mendengarkan ocehan agama dengan gaya lama. Orang perlu banyak cara penyampaian yang baru. Belajar filsafat adalah belajar berpikir runut dan sistematis. Akan sangat membantu dalam berbagi soal apa yang kita percayai, rasakan dan alami, biarpun itu dalam tataran transendental.




Akhirul kata, sesungguhnya benar itu kata Kierkegaard, "Nalar mesti digunakan sejauh-jauhnya, agar kita paham keterbatasannya." Filsafat bukan cara untuk membuktikan nalar sesungguhnya digjaya. Tapi justru sekedar menyadarkan, bahwa alah, nalar itu kecil, labirin, dan kekanak-kanakan. Tapi dalam filsafat, dilatih ia menjadi pengembara tangguh di tengah gurun mahaluas, yang tak mau sedikitpun berhenti di oase keimanan meski dahaga telah mengeringkan kerongkongan. Hingga pada akhir menjelang kematian si pengembara, barulah tetes demi tetes mau ia gelontorkan juga. Dan ketika si pengembara telah tiba di kota tujuan, ia jauh lebih kuat dari pengembara lain yang rajin meminta minum dari kafilah ataupun berteduh di oase berlama-lama.

Previous Post
Next Post

3 komentar:

  1. jadi kang apakah memegang suatu agama harus hanya dengan iman atau logika??
    atau seimbang antara keduanya??

    BalasHapus
  2. Filsafat mengajak keluar dari penjara dosa.like this lah mas..
    kata panji mah yg pnting tidak merugikan.hehehe
    ap karena sering menimbang antara dosa dan pahala,yg mmbuat segelintir orang ngerasa paling bener/suci??.yang kadang2 ky yang lebih tau dari tuhan?..

    BalasHapus
  3. @Panji: Menurut saya, ujung dari pemahaman agama tetaplah iman. Tapi logika harus digunakan awalnya sampai mentok, agar kita menyadari bahwa logika itu sendiri punya keterbatasan. Iman adalah cara untuk menjembatani logika dengan kebenaran itu sendiri.
    Betul sekali, klaim dosa - pahala itu Tuhan yang membuat, kok manusia yang sibuk? Dan banyak sekali yang menakar dosa - pahala itu seperti matematika, atau seperti Tuhan itu robot yang statis. Tidakkah Tuhan Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui? dia punya cara menakar dosa dan pahala yang tidak diketahui makhluk-Nya.

    BalasHapus