Kamis, 04 Maret 2010

Sri Mulyani dan Kant

Suatu hari, Immanuel Kant, seorang filsuf Prusia Timur yang berasal dari abad ke 18, menyambangi Sri Mulyani. Dimana? Di sebuah tempat sepi yang terserah mau kau interpretasikan dimana. Sepertinya mereka bertemu begitu saja, tanpa ada siapa yang mengundang dan siapa yang diundang. Takdir, begitu mereka menyebutnya.

Sri Mulyani : Tuan Kant, adalah hal yang luar biasa bagiku untuk bertemu dengan anda.

Kant : Ah, jangan begitu Bu Sri, biasa aja kok. Aku juga senang bertemu anda. Suatu hal yang asing pada mulanya, bertemu orang di luar warga Konigsberg. Tapi aku yakin pasti menarik.

Sri Mulyani : Kuharap begitu, Tuan Kant. Setidaknya hingga Tuan mendengarkan masalahku.

Kant : Aku sudah tahu, soal bailout kan?

Sri Mulyani : Bagaimana kau tahu perihal itu, Tuan Kant?

Kant : Ah, sepanjang masih soal fenomena, pasti dapat kita ketahui. Maka ceritakan padaku kegelisahanmu itu, Bu.

Sri Mulyani : Sederhana saja, aku merasa bahwa dana yang digunakan, darimanapun itu, telah sukses mencegah krisis. Dan itulah tanggungjawabku sebagai ketua KKSK. Aku heran kenapa itu dipermasalahkan? Tidakkah yang terpenting dari semua ini, adalah hasil akhir, Tuan Kant? Aku heran kenapa orang-orang begitu ribut dengan asal muasal dana yang digunakan. Tidakkah krisis sungguh hal yang ditakuti semua orang?

Kant : Aku punya cerita sederhana, Bu Sri. Dan semua yang menggeluti pikiranku, sering sekali mendengarkan kisah semacam ini. Ada seorang penjahat kabur, dicari ia oleh polisi. Penjahat itu ingat rumah kawannya, dan kaburlah ia ke tempat itu. Suatu ketika polisi datang ke tempat itu, rumah si kawan sekaligus persembunyian sang penjahat. Kawannya maju ke muka setelah membuka pintu, berhadapan dengan polisi yang bertanya apakah ia menyembunyikan seorang penjahat? Pertanyaannya, Bu Sri, kalau kau jadi kawan itu, apa yang kau lakukan? Memberitahukan pada sang polisi bahwa kau tengah menyembunyikan penjahat, atau kau mau melindungi kawanmu dengan mengatakan bahwa tiada siapa-siapa di rumah ini?

Sri Mulyani : Itu pertanyaan sangat sulit, Tuan Kant. Dan sangat tergantung sikon. Bagaimana cara memilihnya?

Kant : Sekarang bayangkan, kedua pilihan itu, diuniversalkan.

Sri Mulyani : Maksudnya?

Kant : Pertama, bayangkan di seluruh dunia, semua orang melakukan kejujuran ketika ditanya oleh polisi apakah ia menyembunyikan penjahat atau tidak. Kedua, bayangkan di seluruh dunia, semua orang melindungi kawannya yang penjahat. Menurut Ibu, manakah diantara keduanya, yang jika diterapkan, lebih membahayakan bagi dunia?

Sri Mulyani : Tentu saja yang kedua, Tuan.

Kant : Demikianlah, sekarang kita lihat kasusmu. Pertama, bayangkan di seluruh dunia, semua orang menyuntikkan dana pada suatu perusahaan tertentu yang asal muasalnya dari uang rakyat, yang jika tidak dilakukan, akan berpeluang menjadi krisis. Kedua, bayangkan di seluruh dunia, semua orang menjaga penuh uang rakyat dan menjaga hak-haknya, tanpa perlu terlalu memusingkan soal ada satu bank yang nyaris kolaps. Manakah diantara keduanya, yang lebih menguntungkan bagi dunia jika diterapkan?

Sri Mulyani : Sebagai eks-ketua KKSK, tentu saja yang pertama, Tuan Kant.

Kant : Sekarang katakanlah padaku, Bu, sebagai seorang manusia.

Sri Mulyani (berbisik) : Kedua.

Previous Post
Next Post

0 komentar: