Selasa, 16 Maret 2010

Islam

Tidak ada manusia yang memilih agamanya sendiri sejak lahir. Tempat lahir, kewarganegaraan, keluarga, bentuk fisik, dan agama, seolah-olah merupakan sesuatu yang "terberi" sejak kita semua turun ke dunia pada permulaan. Seperti kata Kierkegaard, "Mengapa hidup ini begitu menyedihkan, karena tak ada diskusi dulu dengan kita soal kenapa, dimana, bagaimana, dan untuk apa kita dilahirkan." Maka itu, menurut saya, apa yang dinamakan perjalanan hidup, salah satunya adalah tentang memaknai apa-apa yang terberi sejak lahir itu. Ketika dimaknai, maka hidup barangkali tidak akan menjadi soal keterlemparan belaka, atau kesemena-menaan Tuhan. Tapi kita sendiri yang memberi alasan mengapa dan untuk apa.

Demikian halnya saya, yang sejak lahir sudah Islam ini. Dari kecil hingga SMP, saya sering mengalami doktrinasi soal ritual-ritual ibadah, serta beruntungnya kita masuk Islam ini. Termasuk salah satu guru Agama Islam saya kala SMP yang mengatakan, "Orang Islam pasti masuk surga, orang non-muslim pasti tidak, biarpun dia baik hati." Shalat lima waktu plus sunat-sunatnya, mengaji hingga khattam, lalu puasa yang kumplit, adalah salah satu bagian penting masa kecil saya. Hal tersebut berlangsung lancar-lancar, hingga saya membaca pemikiran Marx pertama kalinya di masa SMA. Dari situ naluri purba yang mempertanyakan segala atribut yang dibawa sejak lahir, mulai terstimulus. Sampai akhirnya saya mengikuti perjalanan nalar tersebut (salah satunya lewat jalur filsafat), sambil sedikit demi sedikit melepas ritual demi ritual, dogma demi dogma, doktrin demi doktrin. Perjalanan tersebut sempat berbuah kekecewaan dan kemarahan terhadap Islam, karena ternyata, banyak ajarannya yang tak sanggup mengikuti kontekstualitas jaman, kuno dan mengerdilkan banyak persoalan.

Lalu datanglah hari itu, hari ketika orangtua saya mengajak untuk pergi bersama ke tanah suci dalam rangka ibadah umrah. Tanpa tedeng aling-aling, saya menjawab "ya" dengan setengah menantang dan haus pembuktian. Seolah-olah saya ingin tahu, betulkah cerita banyak orang, tentang pelbagai hikmah yang didapat sepulang dari sana? Ataukah saya justru akan mengalami degradasi moralitas sepulang dari sana, karena sudah merasa suci dan pasti masuk surga? Jujur, saya tidak merasakan adanya panggilan atau kerinduan akan Baitullah seperti yang didengungkan banyak orang kala sebelum mereka bergegas. Saya pergi ya pergi, karena diajak, karena ditraktir, karena ingin tahu.

Setelah berada disana, dalam sekitar sembilan hari, ternyata tak semua hal sesederhana apa yang saya bayangkan. Artinya, ternyata mengunjungi tanah suci tak sesimpel datang, tinggal, shalat, bertemu ka'bah, dan pergi. Tak sesimpel datang kesana pasti beriman dan suci. Tak sesimpel datang kesana pasti bertemu Tuhan karena disana adalah rumahnya. Saya tak sedemikian cocok dengan istilah pencerahan, saya lebih suka menyebutnya sebagai pemaknaan. Pemaknaan kembali tepatnya, soal agama yang saya bawa sejak lahir dan terberi ini:

1. Bahasa Arab

Dulu, saya kritisi habis-habisan soal kenapa Al-Qur'an berbahasa Arab. Artinya, ini tidak adil. Orang Arab akan lebih mudah mengerti bahasa Tuhan ketimbang orang lainnya. Tuhan berpihak pada orang Arab. Tapi lama-lama saya memaknai, bahwa begini: Tuhan sesungguhnya punya bahasa universal, yakni lewat alam semesta ini (ayat kauniyah). Tapi ia menyadari bahwa manusia banyak yang kurang menyadari pesan-pesan tersirat tersebut, sehingga ia "terpaksa" berbahasa juga (bahasa formal maksudnya). Dan yang saya yakini, ia memilih bahasa Arab, tanpa alasan. Acak saja, bebas saja, karena ia ingin memilih satu bahasa. Ia melempar dadu, dan jatuhlah pilihan pada Arab. Dan bagi saya, dengan Tuhan sudah konsisten memilih satu bahasa, itu lebih bermakna jadinya bagi saya, ketimbang kemudian dia memilih lebih banyak bahasa semata-mata agar semua orang di dunia menjadi mengerti. Misalnya begini, bahasa di dunia ada 100.000 bahasa. Lalu Tuhan menurunkan Al-Qur'an dalam multilingual, sejumlah 100.000 bahasa tersebut (ingat, satu Al-Quran yang isinya sama semua, dengan 100.000 bahasa). Pertama, efeknya, Tuhan akan sulit memberikan perumpamaan-perumpamaan, karena kondisi bangsanya berbeda-beda. Jika ada ungkapan di surga banyak sungai mengalir dan di neraka panasnya berlipat-lipat bumi, akankah relevan bagi bangsa Indonesia? Yang notabene sudah banyak sungai mengalir dan udaranya tidak panas-panas amat? Kedua, akan banyak klaim Tuhan mana yang paling benar (maksudnya, lebih banyak lagi). Misal begini, Tuhan mengatakan bahwa negeri yang diagungkan adalah negeri yang diselimuti es sepanjang tahun. Jika demikian, negara-negara benua Alaska akan merasa digjaya, dan sebaliknya, negeri-negeri panas merasa Tuhan tidak memihak mereka, padahal bahasanya sama.

Keputusan Tuhan memilih satu bahasa itu, akan terasa ketika kita melakukan ritual di tempat-tempat yang jauh dan asing. Mendadak tak ada kesulitan berarti bagi kita untuk shalat, membaca doa, membaca Al-Qur'an, atau dzikir, di tengah-tengah hamparan manusia multilingual. Pertanyaannya, apakah tetap, di tengah-tengah manusia multilingual tersebut, orang Arab masih lebih unggul dari segi "kedekatan dengan Tuhan", karena bahasanya sama? Tidak otomatis, saya pikir. Secara etimologis, tentu saja iya. Tapi soal penafsiran yang lebih dalam, seluruh manusia berada di posisi yang kira-kira adil. Yang membedakan adalah seberapa dalam ia membaca teks Tuhan via semesta alam, alias kauniyah tadi.

2. Multitafsir

Ini masih soal bahasa. Saya pernah mengkritisi bahasa Al-Qur'an atau hadits, sebagai bahasa yang ambigu dan tidak jelas. Beda dengan bahasa hukum atau filsafat yang subjek-objeknya tegas, dan apa yang dibicarakan pun tegas. Dalam hadits misalnya, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, seluruh kondisinya pasti menjadi baik. Dan itu hanya dimilki oleh seorang mukmin saja" (HR Muslim) Bagi saya, dulu, kurang jelas. Apakah gerangan maksudnya? Ini mestilah dibedah, ini mestilah didefinisikan ulang, apa itu mukmin? apa itu baik? apa itu yang namanya pasti? Atau dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah diri mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’d: 11) Apakah artinya itu? Tidak jelas. Lantas apa artinya kepasrahan dan berserah diri yang diinginkan oleh Tuhan, jikalau Tuhan juga ingin ada perubahan dalam diri dan nasib?

Begini, saya kemudian merenungkan, bahwa agama bisa sedemikian kokoh berdiri sampai hari ini, barangkali salah satunya pada ambiguitas tersebut. Pada kenyataan bahwa ia memang tidak pernah memberikan sedikitpun keterangan yang jelas soal apa-apa. Tuhan seolah tahu kelemahan bahasa, sehingga ia berbicara sedikit saja via teks. Kemultitafsiran itulah yang mendinamisasi masyarakat. Sekarang bayangkan, Tuhan berbicara dengan bahasa hukum: "Dilarang membuat patung, film, gambar, yang sekiranya mempertontonkan aurat perempuan (selain telapak tangan dan wajah) dan berpotensi membuat pria menjadi bersyahwat. Kecuali di wilayah Bali, Papua, dan tempat-tempat yang belum mengenal pakaian sebagaimana halnya masyarakat modern yang akrab dengan tekstil." Bayangkan bayangkan, Tuhan berbicara demikian. Sepertinya jelas, mantap, tegas. Tapi saya sulit membayangkan masyarakat akan tumbuh, dan berkembang berdasarkan ayat macam itu. Bahasa, bagi saya, justru mengandung kelemahan pada kenyataan bahwa ia statis, sementara masyarakat sendiri dinamis. Bahasa diam, tapi penafsiran manusia selalu bergerak. Maka itu bahasa yang terlalu komplit dan kompleks, akan membunuh dirinya sendiri. Itu sudah diketahui sejak lama oleh Buddhisme Zen yang tak banyak tutur dalam pelbagai semangat spiritualitasnya.

Ingat kamus yang berisi kumpulan definisi? Biasanya hanya beberapa lama kemudian, definisi itu jadi usang, sehingga butuh pembaharuan. Demikian halnya undang-undang, diamandemen berulang kali, karena paham banyak yang tidak lagi relevan berkaitan dengan perubahan dalam masyarakat. Itu dia, Al-Qur'an, dalam hal ini, mempertahankan ambiguitas dan ketidakjelasannya, semata-mata karena ia tahu, bahasa sangat lemah dalam menyampaikan sesuatu. Ia justru memberi kesempatan paling banyak pada nalar untuk menjelajah dan berekplorasi dalam ruang-ruang bahasa yang lapang. Seperti Agus Mustofa bilang, dalam Al-Qur'an dan hadits, mau dicari pembenaran atas pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, juga ada, tinggal dicari. Inilah Al-Qur'an, pemberian kesempatan tafsir yang banyak, membuat ia terasa relevan dipakai dalam wilayah manapun: ekonomi, politik, sains, teknologi, pendidikan, hingga kriminalitas. Maka itu, patutlah heran jika ada orang yang mengklaim tafsirnya paling benar.

3. Ka'bah

Setelah melihat Ka'bah untuk pertama kalinya, saya takjub. Takjub pertama, adalah karena reputasinya tentunya: Sebuah bangunan yang dijuluki Baitullah, rumah Allah. Takjub kedua, karena inilah kiblat seluruh orang yang shalat, semua mengarah kesini dari penjuru dunia, dan sekarang saya berada dekat sekali dengan si pusat. Namun setelah diperhatikan berlama-lama, berhari-hari, saya merasakan banyak kejanggalan, terutama pada para jema'at. Ini toh memang rumah Tuhan, tapi betulkah Tuhan tinggal disana? Coba perhatikan perilaku para jema'at kebanyakan, yang begitu mengultuskan Ka'bah, dan seolah-olah semakin dekat dengan Ka'bah, semakin dekatlah dengan Tuhannya. Atau perilaku jema'at yang rela bersikut-sikutan, berdempetan hingga terancam kehabisan napas di tengah terik matahari Timur Tengah, demi mencium batu bernama Hajar Aswad. Okelah, Rasulullah mencontohkannya, sehingga menjadi sunnah. Tapi saya tidak yakin, Rasul melakukannya dalam keadaan jema'at berbondong-bondong hingga ratus ribuan. Jika Rasul sekarang ikut berada di Masjidil Haram pun, saya yakin ia mendahului keselamatan umatnya alih-alih mencium Hajar Aswad. Atau tengok orang-orang yang bergelantungan di pintu Ka'bah, serta meratap sambil mengelus-ngelus kainnya. Efeknya, ketika saya makan-makan di hotel bersama rombongan, obrolan yang keluar adalah soal seberapa sering mereka mencium Hajar Aswad, seberapa sering mereka shalat di Hijr Ismail, atau berdoa di Multazam. Atau seberapa lama mereka bergelantungan di pintu Ka'bah atau masuk dari pintu Babussalam. Ukuran-ukuran kemuliaan menjadi tentang seberapa dekat mereka dengan Ka'bah secara fisikal serta seberapa intens mereka berinteraksi dengan simbol-simbol religius.

Yang saya yakini, begini: Allah mendeklarasikan dirinya sebagai dzat yang tidak menyerupai apapun di dunia ini, dan berbeda dengan makhluknya. Nah, berangkat dari titik itu, maka sebetulnya Allah sendiri tidak berwujud, dan tidak terjangkau imajinasi manusia. Karena imajinasi, pasti punya landasan kesan-kesan indrawi. Tapi meskipun demikian, Allah bukannya tidak tahu keterbatasan imajinasi manusia. Maka itu, ia menciptakan semacam simbol duniawi, semata-mata agar manusia dengan indranya yang miskin, mempunyai arah kemana mereka mesti menyembah. Ka'bah dibuat, semata-mata agar manusia punya arah, punya pusat, dan punya orientasi. Seolah-olah Allah tahu bahwa fitrah manusia yang apa-apa mesti bertujuan, apa-apa mesti ada juntrung-nya, apa-apa mesti ada wujudnya, konkrit. Saya yakin, berbagai keyakinan akan Tuhan dimanapun, yang konon berlandaskan iman tanpa pamrih, tetap mesti ada pembuktian yang indrawi. Misalnya, orang berdoa, pasrah, mencari jalan keluar, tetap ia ujung-ujungnya mesti melihat efek doanya. Dalam Islam, doa selalu terkabul, tapi ada yang segera, ada yang ditangguhkan, meskipun di akhirat. Nah, janji ditangguhkan meskipun di akhirat, juga adalah bentuk pembuktian fisik Tuhan pada manusia.

Kembali ke Ka'bah, yang saya yakini, mengkultuskan Ka'bah, adalah sama dengan merendahkan Tuhan itu sendiri. Karena artinya, menganggap Tuhan sama dengan makhluknya. Makhluk yang dengan sederhana menganggap orang yang menciumnya seratus kali, pasti lebih sayang daripada yang menciumnya sekali. Atau orang yang tinggal serumah pasti lebih dekat dengan mereka yang tinggal di luar rumah. Namun demikian, saya bukannya jadi menganggap Ka'bah tak berguna. Ia justru penting, karena setiap semesta butuh pusat untuk dikitari. Ada orang yang memilih rumahnya sebagai pusat, untuk kemudian ia pergi dan pulang ke tempat itu, setelah seharian pergi bekerja, yang bisa bermakna "mengitari" rumah. Setelah keluar dari kota, kita lalu memutuskan sebuah kota yang menjadi pusat. Saya pergi ke Surabaya, Jakarta, Semarang, Yogya, Papua, tapi tetap saya mesti memiliki kota pusat bagi saya sendiri, anggap saja Bandung. Ketika saya ke luar negeri pun, saya menciptakan pusat negara mana tempat saya berpulang. Demikian memang, dekat dengan pusat adalah kenyamanan dan ketenangan. Karena semakin dekat dengan pusat, arus putaran menjadi lebih singkat dan sederhana. Maka itu, Allah menciptakan Ka'bah sebagai pusat bagi orang yang berkeyakinan pada-Nya. Pusat yang satu-satunya, sebagaimana bahasa Arab yang satu-satunya, Al-Qur'an yang satu-satunya, dan gerakan shalat yang satu-satunya.

Demikian sedikit catatan perenungan tentang agama yang saya anut sejak lahir ini. Dan pemaknaan terbesar sesungguhnya, datang ketika melakukan thawaf (berputar mengelilingi Ka'bah tujuh kali, dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad):
Hidup itu seperti thawaf, ia bermula dan berakhir di tempat yang sama, serta pada dasarnya semua orang berada pada lintasan yang berputar-putar saja. Namun anehnya manusia, meskipun tahu lintasannya melingkar dan suatu saat akan kembali ke tempat yang sama, tetap saja ada yang sikut-sikutan, adu cepat, buru-buru, atau malah terlampau santai. Meski demikian, maju terus, jangan pernah berhenti. Berhenti berarti mengacaukan arus thawaf itu sendiri.

Previous Post
Next Post

11 komentar:

  1. saya suka posting ini..pemaknaan (mengutip kata-kata anda) adalah sebuah perjalanan,bukan tujuan..dan perjalanan dalam bentuk apapun akan memberikan banyak jawaban..

    BalasHapus
  2. kenapa islam turun di arabia, menurut nalar saya karena pada masa itu orang arab memang manusia yang paling lalim di muka bumi ini sampai di namai masa jahiliyah (the dark age of human race)..gaya hidup yang barbar, suka menyiksa wanita, konon dikisahkan umar bin khattab juga sebelum muslim mau membunuh anaknya sendiri karena membaca Al-qur'an, rasul-rasul kan diturunkan pada kaum yang lalim..,bahasa arab dalam al qur'an katanya bukan bahasa (grammar)arab biasa yang digunakan sebagai percakapan sehari-hari karena pada masa setelah muhammad s.a.w wafat, orang2 muslim arab membutuhkan banyak sekali ahli tafsir dan bahasa (nahwu)untuk mengkaji isi al-qur'an..mungkin karena kejelimetannya itu orang modern sekarang lebih suka baca koran..tapi mungkin saja ada ayat al qur-an yang tersirat dalam koran :)

    BalasHapus
  3. kita sedang berada di fase dimana kita masih berkutat di dunia cari ilmu (ilmu syar'i)dan amalkan sekuat mungkin anda bisa, hanya mengharap keridhoan dari allah swt, urusan hasil allah yang tau kita hanya wajib ikhtiar, hingga muncul takdir (yang bisa anda lihat setelah terjadi). tetap istiqomah di jalan al qur'an dan as sunnah allah lebih tau yang anda inginkan. tetaplah belajar ilmu syar'i yang wajib hukumnya bagi setiap muslim dan muslimat

    BalasHapus
  4. @jagalbabi: terima kasih.. iya, bahkan saya curiga, sebenarnya "perjalanan" itu nama lain dari "tujuan", sebagaimana "awal" itu nama lain dari "akhir".
    @Mas Yunus: Wah terima kasih info soal bahasa Arabnya, Mas.. Iya, sebenernya yang lagi saya pikirin sekarang adalah kenapa nabi diturunkan disana? maksudnya, mungkin juga karena masyarakat Arab yang jahilliyah. Tapi masa di suku barbar lainnya, ga diturunkan nabi gituh?
    @RCA IHSANIYAH FM TEGAL: Amin.. semoga apa yang sedang saya lakukan ini berada dalam ridha-Nya.

    BalasHapus
  5. hahaha, sekali lagi saya 'terpaksa' setuju dengan anda..karena menurut saya manusia terlahir untuk memutuskan apa 'tujuan' hidupnya..dan dalam rangka mencari 'tujuan'itu, seorang manusia melakukan 'perjalanan'..tanpa disadari, 'perjalanan' inilah sebenarnya 'tujuan', karena seperti sudah disinggung sebelumnya, dalam perjalanan selalu ada proses pembelajaran, pemaknaan, pencerahan atau apapun namanya..
    btw, sedikit ikut campur tentang penurunan nabi di kaum barbar..mungkin saja saat itu Arab adalah 'the purest form of barbarian' sehingga perlu dibombardir sedemikian rupa oleh para utusan-Nya..atau bisa jadi, seperti yang anda bilang dalam pemilihan masalah bahasa untuk Al Quran, tanpa alasan, lempar dadu dan selesai..hehe..

    BalasHapus
  6. akhi, nice post ... tapi ada analogi yang menurut saya tidak pas ^^

    yaitu bagian ini : "Tuhan akan sulit memberikan perumpamaan-perumpamaan ..."

    Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu akhi ... kun fa yakun ... ;)

    BalasHapus
  7. @muhammadhilmy: Makasih komentarnya ya.. Tentu saja saya percaya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tapi saya sedang menganalogikan, seolah "merendahkan" Tuhan, agar terjangkau oleh nalar manusia, jadi saya pake analogi tersebut. Kalau saya menggunakan kepercayaan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu secara mutlak, buat apa saya nulis2 sepanjang ini toh? Hehehe. Tapi terimakasih, ukhi, mau membaca tulisan saya dan mengomentari..
    @jagalbabi: hehe iya, sekali lagi terimakasih atas kesepahamannya.. :)

    BalasHapus
  8. orang arab katanya terkenal memegang sumpah "Dami ala dami" (nyawa dibayar dengan nyawa)permusuhan diantara orang arab itu bisa berlangsung menghabisi nyawa sampai tujuh turunan apabila tidak menemui kata damai dari kedua belah pihak..tpi di sisi lain orang arab sangat menghargai tamu-nya, hingga apabila tamu-nya dalam bahaya.. mereka rela berkorban segalanya hingga nyawa sekalipun.. pada perang sabil..hindun ialah wanita kaum quraisy yang saat perang memakan jantung sayyid hamzah paman rasullullah (kanibalisme uda ada d zaman muhammad s.a.w)

    BalasHapus
  9. Hehe iya, saya denger cerita soal Hindun, yang alhamdulillah akhirnya masuk Islam juga. Perang Sabil itu sama kaya Perang Uhud kah?

    BalasHapus
  10. itw yg bener mas..Perang Uhud tepatnya :)

    BalasHapus
  11. Allah mengatakan dalam Quran, bukan aku yang akan ditanya (mengenai ini dan itu) tetapi kamulah, manusialah yang akan di tanya tentang apa yang ia lakukan.

    Terkesan arogan apa yang dikatakan Allah, memang, sampai-sampai ada teman yang berkata "saya akan mencari tuhan yang mau ditanya."

    Tapi saya mengerti apa yang dikatakannya, dan apa yang dikatakan Allah.

    Ada batasan-batasan yang kadang nggak bisa kita lampaui.

    Ada dilema, kita kadang tergoda untuk mempercayai hanya sesuatu yang terindera, tuhan yang harus dan musti bisa diajak dialog apapun itu, dan menafikannya ketika kepala kita tidak sesuai dengan apa yang dikatakan tuhan.

    Tapi tidak semua godaan itu harus dijawab secara inderawi. Kadang kita bisa menggunakan proses penyandaran untuk banyaknya misteri yang tak bisa kita pecahkan.

    Kita percaya bahwa Allah lah yang akan menanyai bukan ditanyai tentang apa yang dilakukannya. dan tentang konsep keadilan yang diperbuatnya, karena kita bersandar pada firman Tuhan melalui Quran, kita percaya karena kita telah membuktikan keajaibannya (Quran) dan keotentikannya dibandingkan dengan kitab2 lainnya (berbeda kasusnya jika kita tidak pernah membuktikan kebenaran quran. maka kita tidak sudi bersandar padanya).

    Keimanan adalah sebuah gerbang, untuk mempercayai banyak hal yang tak terindera.

    Keimanan adalah sebuah sandaran....tapi...
    manusia kadang membutuhkan hikmah untuk menjelaskan segala sesuatu... hikmah bukanlah jawaban Tuhan, atau kalau mau adil, hikmah bisa jadi jawaban tuhan dan bisa jadi bukan, tapi kita tidak bisa bersandar pada ketidakpastian.

    jadi saya katakan hikmah adalah sebuah jawaban yang kita gunakan untuk memperkaya, mengukuhkan, membeningkan keimananan...tetapi tetap saja... hikmah bukan jawaban tuhan... tuntutlah Tuhan untuk itu... tapi Tuhan pun menjawab bukan saya yang akan dituntut, tapi kamu yang akan dituntut :)....

    Allah memang maha besar... dan manusia selalu melakukan ziarah keluar, ziarah dialam untuk memaknai misteri kehidupan, dan iman adalah halte keberangkatan... (ky ustad ya :D)

    Kontemplasi yang menarik, Syarif, thx :)

    BalasHapus