Selasa, 02 Maret 2010

Anti-Barat

Alkisah ada seorang fundamentalis Islam berorasi: Hancurkan Barat! Hancurkan Amerika! Kapitalitas merusak akhlak! McDonald terkutuk! KFC busuk! Yahudi mati!

Lalu berjalanlah ia pulang dari demonstrasi di, bisa di gedung pemerintahan, ataupun kedutaan AS itu. Pulang dengan menggunakan mobil yang di era lampau diciptakan oleh Karl Benz. Ia juga tak luput menyebarkan pamflet kebencian pada AS, yang tanpa ide Johann Gutenberg soal mesin cetak, ia akan kecapean menuliskan pamflet per pamflet yang jumlahnya seribu. Ia pulang, kelaparan, makan di warung nasi goreng. Katanya, "Ini bukan produk Amerika, asal kita jangan makan di McD, boikot McD!" Setelah makan dengan menggunakan sendok yang konon diciptakan di Eropa Utara, ia membayar. Membayar tanpa bertanya darimana nasi goreng tersebut harganya menjadi sekian dan mengapa bukan sekian. Seolah-olah dia percaya, bahwa harga dikendalikan oleh invisible hand-nya Adam Smith.

Sebelum sampai rumah, ia mampir ke warnet, mengakses Facebook. Membuka akunnya yang sedang membuat grup anti-Amerika. Tahukah ia soal Mark Zuckerberg? Yahudi perintis Facebook itu? Mungkin tahu, mungkin juga tidak. Tak luput juga ia membuka blog pribadinya, yang berisi caci makian terhadap Barat, salah satunya soal Valentine sebagai bentuk syirik. Agar terlihat pandai, dipaparkanlah sejarah Valentine, yang mana ia ambil dari Wikipedia (ingat, diciptakan oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger). Ia menyalin sejarah yang, oh sialan, dimetodakan dengan baik oleh Herodotus. Belum lagi, ia jelas-jelas memuja Alexander Graham Bell yang tanpanya, ia tak bisa menelepon teman-temannya sesama akhwan-ikhwat. Sambil terkadang menonton acara Manajemen Qalbu di televisi ciptaan John Logie Baird, ia menunggui anaknya pulang sekolah. Sekolah yang tak akan ada tanpa sistem akademia Platonis. Lalu di akhir hari, ia tidur, mematikan lampu temuan Thomas Alva Edison. Esoknya, ditelpon ia oleh kedutaan AS. Sang fundamentalis diundang makan di hotel Hilton. Silakan katanya, mengemukakan aspirasinya, sambil makan malam. Diterima ia bak raja, dihidanginya pelbagai makanan istimewa dari penjuru dunia. Sang tuan rumah mempersilahkan dengan ramah, "Silakan, ini halal." Di perbincangan, ia melunak, "Allah tidak suka orang yang menolak rizki. Asal halal."




Lalu ia pamit shalat di tengah makan. Ia bingung dimanakah kiblat? Untung ia membawa kompas. Kompas yang dahulu digunakan dengan bangga oleh Columbus dan Magelhan untuk mengolonialisasi. Sehingga wajah dunia menjadi seperti sekarang ini.



Adakah Timur Barat, jika bumi ini bulat?
Previous Post
Next Post

5 komentar:

  1. suka bgt ma Invisible hand Adam Smith (bpk gw tuh...,hihihi..:)..Timur melengkapai Barat dan barat melengkapi timur,org barat suka dg alam timur dan org timur suka music barat...,perpaduan yg melengkapi,terkadang saling membutuhkan tp terkadang tak sadar akan itu..

    BalasHapus
  2. @hapsari: merci.. :)
    @Mba Liely: Iya mbak, tapi lebih tepatnya, barat sekarang lagi banyak lagi belajar soal timur. Sedangkan timur, yang sejak dulu sedang canggih, malah menurut saya mundur dengan belajar soal barat. Nanti akan saya bahas di tulisan. Ini menarik. :)

    BalasHapus
  3. waduh om ini bagus..salut
    yg kaya gini nih, munafik..kah? :p

    BalasHapus
  4. Bener pa, keren! Barat timur kaya laki-laki sama perempuan, logika sama hati.
    Rian Septiandi 112500274 hahaha

    BalasHapus