Thursday, February 4, 2010

Membongkar "Dosa" Alay

Jika diantara kamu ada yang belum tahu apa itu Alay, maka tidak sulit mencarinya di google. Ketik saja kata tersebut, maka akan keluar berbagai definisi tentangnya. Definisi tersebut, semuanya berbau emosionil dan penuh kerancuan, dan jangan harap menemukan definisi ketat ala KBBI. Tapi jika kamu orang yang peka terhadap fenomena sosial belakangan, tentu tak sulit untuk mengaitkan definisi Alay tersebut dengan realitas keseharian. Meski demikian, saya cukup mendefinisikan Alay terkait dengan gaya penulisannya yang terutama diterapkan pada SMS atau jaringan sosial (jika sudah ada yang menerapkannya pada tulisan tangan, maka beritahu saya, karena itu kronis!).

Gaya penulisan Alay
, jauh di luar kaidah baku Bahasa Indonesia, dan relatif sulit dipahami, bagi mereka yang terbiasa dengan standar baku penulisan. Karena, Alay seringkali menyingkat kata secara ekstrim, misal "aku" menjadi "q", ataupun mengubah huruf tertentu menjadi angka, misal "kemana" jadi "k3m4na". Belum pula ciri-ciri lain semisal huruf yang seringkali mengombinasikan besar-kecil tidak dalam kaidahnya, atau menambahkan huruf tertentu di akhir katanya seperti "ray" menjadi "rayz".

Bagi banyak orang, gaya penulisan macam ini jelas menjengkelkan. Alasannya macam-macam, entah "merusak mata", "banyak gaya", atau "berlebihan". Tapi setidaknya boleh diambil satu kesimpulan: gaya penulisan Alay, tidak komunikatif. Efek dari kejengkelan orang terhadap tulisan Alay ternyata cukup masif. Selain definisi yang bermuatan sentimen negatif di berbagai situs, dalam facebook juga telah didapati beberapa grup yang dikhususkan untuk mendiskreditkan Alay. Soal gaya penulisan, tentu saja kejengkelan tersebut tidak berlaku bagi kelompok Alay itu sendiri. Yang mana bagi mereka, barangkali gaya penulisan macam inilah modal eksistensi mereka. Dan tentunya, diantara mereka, tak ada kesulitan untuk membacanya.

Alay ini, bagaimanapun juga merupakan fenomena sosial, untuk itu saya mencoba membuat beberapa catatan (catatan ini, dibantu juga oleh hasil diskusi Madrasah Falsafah Rabu kemarin di Tobucil):

1. Alay, barangkali, adalah korban teknologi. Seseorang yang bisa menulis seperti Alay, pasti difasilitasi teknologi. Artinya, mereka minimal punya HP untuk yang mengekspresikan tulisannya via SMS, serta minimal "melek internet" untuk mengekspresikan via Facebook atau Twitter. Bahkan, kata Rudi, teman saya, merk HP tertentu memang memudahkan orang untuk menulis ala Alay. Artinya, tak ada teknologi, tak ada Alay. Sejauh ini banyak terbukti, bahwa ketika teknologi diciptakan, maka ia menyelesaikan masalah tertentu, tapi menimbulkan konsekuensi tertentu juga. Jika kita seorang yang memuja teknologi sebagai pemecah segala, tapi sekaligus juga mendiskreditkan Alay sebagai the others, maka sungguh, terasa paradoks. Itu seperti baru mempunyai kompor canggih yang konon bisa menyelesaikan seluruh proses di dapurmu, tapi ketika kompor itu jadi sumber kebakaran, kau berkata, "Tidak mungkin komporku penyebabnya, komporku canggih! Pasti orang lain yang menyulut api!"

2. Seorang Neo-Pragmatis, Richard Rorty mengatakan, "Bahasa adalah sesuatu yang membuat komunikasi berjalan." Dengan demikian, gaya penulisan Alay telah terlegitimasikan oleh Rorty. Kenapa? Karena toh, komunikasi tetap berjalan, mereka sama-sama mengerti satu sama lain. Persoalannya tentu saja ketika pesan dengan gaya tulisan Alay disampaikan pada orang yang "non-Alay". Meski demikian, apakah kita merasa harus mendiskreditkan orang di pedalaman Papua, misalnya, karena kita tak paham apa yang mereka bicarakan? Sedangkan di antara kaumnya sendiri, mereka berbicara lancar seperti kita berbahasa dengan sesama kita? Berarti kuncinya, bagi Alay, jangan gunakan bahasa Alay bagi warga "Non-Alay". Tapi sejauh itu digunakan dalam komunitasnya sendiri, maka seharusnya tak menjadi masalah bagi kita.

3. Baiklah, tentunya, nomer dua diatas bisa dibantah dengan, "Tapi, mereka kan merusak Bahasa Indonesia. Patutkah kita diam saja?" Pertama, jika yang dimaksud dengan "Bahasa Indonesia" adalah yang berada dalam lingkup KBBI dan EYD, maka tentu saja kita tidak bisa hitung berapa banyak upaya "perusakan" Bahasa Indonesia oleh warga kita sendiri selain dari para Alay. Tapi saya setuju mereka memang merusak, jika kaitannya dengan pertanggungjawaban. Para sastrawan, penulis, atau penyair, barangkali tidak bisa dibilang telah merusak Bahasa Indonesia, karena setidaknya mereka mampu dan tahu bagaimana menulis sesuai kaidah. Saya tidak bisa menganggap Goenawan Mohamad seorang Alay, ketika dia menulis "elang" dengan "lang". Karena saya yakin, meski tak pernah secara langsung menanyakannya, bahwa ia tahu dan bertanggungjawab atas yang ia tulis. Dalam hal ini, ia memenuhi pragmatisme Rortyan, karena dengan menggunakan kata "lang", komunikasi tetap berjalan, saya paham, dan mungkin banyak orang paham juga. Maka itu, perlu diverifikasikan pada para Alay, apakah mereka menulis seperti improvisasi jazz setelah belajar klasik sekian lama, atau bermain notasi secara asal agar terdengar jazzy?

4. Yang ini, saya butuh objektivitas: Mungkinkah menganggap kemampuan Alay sebagai bentuk kecerdasan tertentu? Karena sungguh sulit melakukan penulisan dengan variasi tulisan macam itu. Huruf-angka, besar-kecil, singkat-panjang. Pada sudut pandang tertentu, ini barangkali adalah semacam bentuk resistensi atau pemberontakan dari kaidah-kaidah yang dianggap memenjarakan mereka. Seperti ketika jalan layang dibangun, maka ada ide bagus bagi orang-orang tertentu untuk membuat grafiti di dinding jalannya. Secara ekstrim, Alay adalah semacam cara bagi sebagian kaum untuk menunjukkan, bahwa KBBI dan EYD justru yang tidak komunikatif. "Mesti ada cara revolusioner, cara baru, soal bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan singkat, padat, jelas, tanpa usah memikirkan baik-benar. Setidaknya lambat laun ini akan menjadi kesepakatan alamiah!" Begitu saya membayangkan seorang pelopor Alay berorasi. Sejak itu, boleh dibilang kreatif, cerdas, ekspresif, atau bahkan nyeni, Alay mengembangkan gaya penulisannya. Bahkan yang masih memegang kaidah, dianggap ketinggalan jaman dan minim kreasi.

5. Keempat poin di atas terdengar saya sedang membela Alay, tapi sesungguhnya saya mewaspadai juga. Karena dalam artikel yang ditemukan oleh teman saya, Mbak Desiyanti, ia menunjukkan bahwa di Kanada, tepatnya di Universitas Simon Fraser, satu dari sepuluh mahasiswa baru gagal dalam ujian Bahasa Inggris. Dan ditengarai ini diakibatkan oleh seringnya mereka menggunakan bahasa tidak baku dalam Facebook atau Twitter. Jika demikian, maka menjadi tugas para pendidik, baik orangtua maupun guru, untuk menjaga agar putra-putrinya tidak menggunakan bahasa Alay di "sembarang tempat". Gaya penulisan Alay, saya yakin, tak akan bisa dibasmi. Tapi yang terpenting, mereka ditempatkan pada situasi yang seharusnya. Ini tentu saja dengan asumsi, lingkungan akademik belum mengadopsi bahasa Alay sebagai bagian dari norma institusinya.

Semoga ini kesimpulan: bahwa Alay, bagi saya, tetap memiliki hak untuk mengekspresikan sesuatu. Sebagaimana orang yang membencinya merasa mempunyai hak untuk membencinya. Bagi saya, ini adalah gejala alamiah remaja manapun, kapanpun, dan dalam peradaban manapun, untuk menunjukkan eksistensi dirinya secara ekstrim. Karena konon, remaja berada di persimpangan jalan, ia tak bisa lagi dimanja seperti anak-anak lagi, tapi ia belum cukup kompeten untuk dianggap dewasa. Dan ketika yang trendi adalah komunikasi digital, maka dengan medium inilah mereka bereksistensi. Yang krusial barangkali, dunia sekarang ini begitu datar dan seperti dilipat, sehingga kita dengan cepat mengetahui satu sama lain. Dan setelah tahu, sentimen itu dibagi (dengan cepat pula), dan diklaim sebagai sentimen massal. Saya malah heran, definisi Alay yang jelas bermuatan emosional sangat tinggi itu, ternyata mampu mempengaruhi orang banyak. Dan saya setuju dengan Mbak Tarlen, bahwa muatan sentimen itu, tercium bau stratifikasi sosial yang amat kuat. Orang yang membenci Alay, kemungkinan besar mulanya tidak menyukai ada kelompok sosial tertentu bersinggungan dengan kelompok sosialnya. Bersinggungan lewat apa? Ya itu, internet, HP, hingga model fashion tertentu. Pembenci Alay itu pada mulanya barangkali hendak berkata, "Jika kau mau hidup di kota besar, maka hidup atau matilah sekalian. Jangan tanggung di persimpangan. Karena inilah awal mula sesaknya tempat."



Tidakkah teknologi ini membuat kita tahu banyak, tapi kadangkala justru mengerikan?
Previous Post
Next Post

6 comments:

  1. Setuju poin satu-empat! Itu kan kebebasan berekspresi!

    ReplyDelete
  2. Hehe, perihal poin 4 jika Goenawan Mohamad disebut alay karena elang jadi lang, atau karakteristik huruf besar kecil dan sering ada yang hilang atau ditambahkan, apa kabarnya anak2 disleksia yah? Pasti alay kronis mereka..

    ReplyDelete
  3. @Andika: Setuju! hehehe. Biarpun saya agak tergugah juga sama beberapa komen di FB, bahwa ada kemungkinan, tulisan itu mengimplementasikan pola berpikir. Maksudnya, kalau tulisannya kacau, pasti ada kerancuan berpikir.
    @Nia: Anak-anak diseleksia memang gaya penulisannya kenapa, Nia? Coba terangkan, gw belum tahu euy..

    ReplyDelete
  4. Contoh kasus anak di sekolah gue:

    gAS untuk gelas
    baug untuk bagus
    bao untuk balok
    balo untuk balon
    agh untuk ayam
    bbe untuk bebek
    bdba untuk domba
    AeI untuk anjing
    kuci untuk kucing

    Secara tulisan, mereka memiliki karakteristik huruf banyak yang hilang atau ditambahkan (buwaya, suwatu, setujuh), kemudian bentuk huruf pun tidak konsisten yaitu besar dan kecil. Untungnya sih kagak ada yang diganti pake angka. Hehehe.

    ReplyDelete
  5. Itu pengaruh apa ya, Nia? Hahahaha jadi tanya jawab gini di komen. :p

    ReplyDelete
  6. Hehehe, awalnya sih niatnya bercanda, jadi serius. Ini diakibatkan oleh gangguan pada otak (neurotransmitter) - yang mana jauh juga sama teknologi.

    Lupakan aja, Rif :D

    ReplyDelete