Sunday, February 21, 2010

Suatu Pagi di STT Tekstil


Jumat pagi, tanggal 19 itu, ada acara yang tidak biasa. Acara yang membuat rutinitas harian sukses dialihkan. Adalah hari pertama saya mengajar di STT Tekstil. Letaknya juga menyenangkan. Selain tak terlalu jauh dari rumah, jalurnya juga berbeda dari biasanya. Sekarang lebih ke arah Timur Bandung, setelah seringkali berkutat dengan wilayah Barat Utara Selatan. Jadinya, memang hari itu saya sangat bersemangat. Suatu momen yang berbeda dalam kubangan rutinitas yang menjemukan, bagaikan lembar berwarna dalam bundelan komik hitam putih.

Oh iya, di STT Tekstil tersebut, yang saya ajari bukan tetek bengek soal tekstil. Tapi kenyataan bahwa mereka punya unit kemahasiswaan yang mengurusi gitar klasik dan beranggotakan lebih dari tiga puluh orang, yang Alhamdulillah, mempercayai saya untuk melatihnya. Ini, bagi saya, cukup mencengangkan. Bayangkan, sekolah yang berbasiskan perindustrian, punya minat terhadap gitar klasik yang barangkali paling tinggi ketimbang sekolah manapun di Bandung, bahkan sekolah yang punya jurusan musik sekalipun. Ini jelas tantangan yang menggiurkan bagi saya pribadi. Selain mesti berbagi pada mahasiswa yang barangkali lebih akrab dengan bunyi mesin ketimbang musik, saya juga diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang sudah saya dapat selama bergelut di dunia gitar klasik. Ilmu yang saya percayai, hanya berarti kala dibagi. Kala bermanfaat bagi orang lain.

Dan tibalah saya di pagi itu, pukul sembilan. Belum ada satupun orang yang datang, dan saya gunakan kesempatan itu untuk berkeliling melihat area kampus. Ternyata kampus yang cukup besar, dan fasilitasnya pun oke. Ia berada di bawah Departemen Perindustrian. Lalu tak lama kemudian, datanglah para pengurus unit gitar klasik, namanya Widya dan Iskan. Keduanya mengatakan bahwa kemungkinan orang-orang akan terlambat, karena ada miskomunikasi. Ada yang bilang jam sembilan, ada yang tahunya jam sepuluh.

Akhirnya, pelatihan pun dimulai. Dimulai, maksudnya, setelah cukup banyak orang yang datang. Banyak itu, sekitar dua puluh orang. Saya memperkenalkan diri, meminta para pengikut unit memperkenalkan dirinya juga sembari menceritakan motivasinya ikut unit ini, serta akhirnya saya memainkan dua buah lagu sebagai "perkenalan" lebih lanjut. Pagi itu, saya berbagi sedikit soal pengetahuan membaca not, membaca ketukan, serta tangga nada mayor. Memang, sebagian besar dari mereka belum terlalu fasih soal dasar-dasar gitar klasik. Tapi, sebetulnya, bukan itu yang jadi sorotan saya. Yang membuat saya bahagia, haru, dan mencintai kegiatan ini, adalah kenyataan bahwa saya berhadapan dengan puluhan manusia yang sedang sangat bersemangat. Saya tidak setuju dengan Trie Utami di AFI dulu, bahwa, "Penonton tak peduli dengan alasan apapun, yang penting nyanyi kamu bagus." Untuk dunia hiburan, bolehlah slogan itu diangkat. Tapi, saya berani bilang di hadapan mereka (oh ya, unit gitar itu bernama Silhouette), bahwa, "Yang penting, adalah alasan kamu disini, semangat serta kerja kerasnya. Permainan? Itu adalah poin tambahan."



Maka, ketahuilah, wahai anak-anak Silhouette, bahwa saya tidak melakukan ini semua dalam rangka menyebarkan virus musik klasik seolah-olah saya ini antek-antek Barat kafir seperti yang FPI dengungkan. Sederhana saja alasannya: Bahwa saya ini telah banyak dibukakan jalur-jalur tempat saya berpijak di bumi ini, oleh musik klasik. Dan ini salah satu cara untuk membalas budi atas segala kebaikan yang musik klasik sudah berikan bagi saya.

Continue reading

Thursday, February 11, 2010

Ritual Malam

Ritual Malam
Bapakku anggrek bulan, putih dari hutan. Ibuku mawar merah di taman, dekat pagar pekarangan. Bertemu suatu pagi di pelabuhan. Melahirkanku. Bayi merah muda kemboja. Bunga kuburan.

... Bapakku bening air kelapa muda. Ibuku sirup merah kental manis buatan sendiri. Aku Bloody Mary. Jumat malam alkoholik, happy hours, Jumat pagi robotik. Kadang aku minum jus tomat, dan merasa sehat. Kadang berseru alhamdulillah, ini hari Jumat -atau Ahad, Rabu, hari apa saja. Kor lepas dengan beberapa temanku di sore-sore hari, seraya aku membayangkan gelas berkaki tinggi dan hijau margarita dan kristal garam berkilau di bibir gelas, seperti sesosok perempuan, datang dari kejauhan.


"Halo, Sayang. Udah tidur?"
"Hmmmmmh.."
"Oke, dilanjutkan ya bacanya."
"Hmmmmmh.."


Bapak menamaiku Amanita. Nama itu tak datang dari bapakku, tapi pemberian seorang kolega temannya, botanis bangsa Inggris, ketika mereka bertemu pada sebuah konferensi kelautan. Bapakku bilang padanya sebentar bertemu pada sebuah konferensi kelautan. Bapakku bilang padanya sebentar lagi akan punya bayi, bayi perempuan, belum punya nama. Lalu orang Inggris ini mengusulkan sebuah nama dan bapakku setuju saja, atau terlalu santun untuk menolaknya. Amanita, klasifikasi Linnaeus, genus untuk jamur beracun. Amanita muscaria, spesies paling beracun. Yang memakannya akan berhalusinasi, melihat imaji-imaji aneh yang tak benar-benar ada, sureal. Diikuti sakit keras, mengigau, ceracau kata-kata yang tak jelas karena imaji dalam kepala. Delirium.


"Halooo.. Masihkah disana?"
"..."
"Halooo.."
"..."
"Selamat tidur ya, mimpi indah. I love you."
"..."
"Assalamualaikum."
"..."

Klik.




(Huruf italic dikutip dari buku Cala Ibi karya Nukila Amal. Paragraf pertama, ada di halaman satu. Paragraf kedua, ada di halaman empat. Paragraf ketiga, ada di halaman enam.)

Continue reading

Wednesday, February 10, 2010

Sepakbola

Sepakbola
Sejak final sepakbola Piala Eropa 1996 yang mempertemukan Jerman lawan Rep. Ceko, saya mendadak jadi penggemar olahraga tersebut. Saya mulai memilih satu per satu tim favorit, mengetahui lebih jauh perihal peraturan, serta menghapalkan nama-nama pemain. Ternyata, saya suka olahraga ini. Candu, kalau boleh dibilang. Jika musim Piala Dunia atau Piala Eropa, saya begadang nyaris setiap hari. Pernah kala digelar Piala Dunia 1998 di Prancis, ketika kompetisi sedang beristirahat dua hari karena persiapan menuju perdelapanfinal, saya muntah-muntah. Kata orangtua, ini akibat kebanyakan begadang. Kata saya: Bukan, ini karena pertandingan sepakbola sedang rehat.

Tak perlu dibahas sejauh mana saya mencintai sepakbola. Yang pasti, jika ada yang namanya kuliah jurusan pengetahuan sepakbola, saya yakin tak perlu perjuangan terlampau keras untuk lulus. Yang mau saya bahas adalah, kenapa olahraga sepakbola begitu menarik? Ini subjektif dan pernyataan yang cukup "kasar" memang. Tapi bisakah menjawab fakta bahwa Italia menjadi sepi di kala weekend, karena mayoritas penduduknya menjauh dari jalanan untuk menonton sepakbola di stadion, rumah, atau kafe? Bisakah menjawab fakta bahwa seorang Diego Maradona bisa disamakan dengan Tuhan, karena kemudian di Rosario, Argentina, didirikan Gereja Maradona yang sekarang mempunyai lebih dari sepuluh ribu jemaat? Belum lagi kala ia bermain untuk Napoli, fans menyebutnya sebagai Il Nostro Dio alias Dewa Kami. Bisakah menjawab fakta statistik bahwa final Piala Dunia 2006 ditonton oleh sepersembilan manusia di planet ini? Bisakah menjawab fakta bahwa dalam lapangan sepakbola, tidak cuma olahraga yang menjadi fokus, tapi juga ada unsur politik, ekonomi, bahkan pertarungan kelas, ras, dan agama? Jika kau perhatikan, maka salah satu cara termudah elite politik meraup kekuasaan, adalah dengan mengampanyekan hal positif berkaitan dengan sepakbola. Kaitan dengan agama, jangan lupakan Old Firm, pertemuan klub di Glasgow, Skotlandia, yang melibatkan Glasgow Rangers sebagai representasi kelompok Protestan, versus Glasgow Celtic, yang merupakan wakil kaum Katolik.

Sepakbola sangat dekat dengan masyarakat. Barangkali salah satunya, karena ia juga mudah dimainkan. Tidak butuh ring atau bola yang mampu memantul, tidak butuh kolam renang, tidak butuh kuda, tidak butuh meja atau net. Ia hanya perlu sesuatu yang berbentuk bundar dan tidak terlalu keras, serta empat butir batu sebagai penanda gawang. Lalu tendanglah. Peraturannya sederhana, jangan kena tangan, kecuali kiper. Dari situ, sepakbola nyaris tak mengenal kasta dan strata. Ia milik siapapun. Ia bahkan bisa mempertemukan dua kubu yang sulit didamaikan dalam keseharian. Seperti dalam film Escape to Victory, kala tawanan perang Sekutu bertanding melawan tentara Jerman. Atau derby superclasico di Argentina yang melibatkan Boca Juniors (wakil kelas pekerja) versus River Plate (wakil kelas borjuis).

Jika ada hubungannya dengan kemudahan dimainkan siapa saja, maka tak sulit untuk menjelaskan kenapa olahraga kriket atau hoki es tak populer di Indonesia. Selain sulit menemukan fasilitasnya, dan kalaupun ada, dimiliki orang-orang berada, kriket atau hoki es juga tidak "bersenyawa" dengan masyarakat Indonesia. Jika ada pertandingan kriket atau hoki es, barangkali masyarakat kita hanya akan adem ayem saja. Karena kurang paham, tidak tahu apakah teknik mereka sulit atau tidak, tidak tahu seberapa tinggi tingkat kesukaran permainan tersebut. Cara termudah untuk paham, ya dengan merasakan bermain, atau pernah bermain.

Oke, itu sepertinya universal. Tapi adakah hal lain, yang membuat sepakbola begitu menarik? Begitu agung dan punya daya magi? Saya ingat, guru fisika saya kala SMP pernah berkata di sela-sela pelajarannya, "Sepakbola menarik, karena bola terus bergerak kesana kemari." Itu argumen yang menarik, maka itu saya ingat sampai sekarang. Tapi saya terus merenung-renung, dan sedikitnya melakukan komparasi terhadap olahraga lain. Yang tanpa bermaksud merendahkannya, tapi tetap tidak punya penonton sebanyak dan sefanatik sepakbola. Tenis, jika dilihat, bolanya bergerak kesana kemari, pemainnya juga militan. Tapi apakah gerangan yang membedakan? Peraturannya terlampau jelas. Wasit satu, tapi hakim garis banyak. Mengawasi agar pertandingan adil dan tanpa cacat. Belum lagi teknologi hawk-eye, yang dapat membantu wasit untuk melihat apakah bola kena garis atau tidak, via layar besar yang dipajang di sudut lapangan. Bulutangkis? Permainan sederhana, banyak orang bisa. Tapi untuk hal yang sedemikian sederhana, aturannya juga sempurna. Wasit satu, tapi pengawas garis begitu dimana-mana.

Mari sekarang lihat bagaimana sepakbola mempertahankan keserasian antara permainan dan peraturan. Ada satu wasit, dua hakim garis, dan ofisial keempat yang mengawasi permainan dari pinggir lapangan. Merekalah para penegak peraturan. Adakah kamera? Ada, tapi tidak bisa dipakai membuat keputusan mutlak. Adakah hakim garis punya wewenang? Tidak, karena wasit kemudian yang memutuskan. Jika berkaitan dengan durasi sepakbola yang berlangsung selama sembilan puluh menit di lapangan sebesar 110 kali 75 meter dan di dalamnya terdapat dua puluh dua pemain, maka tidakkah jumlah penegak keputusan tak sebanding dengan yang ada dalam tenis ataupun bulutangkis? Pun komputerisasi tak dibenarkan. Pernah dicoba wasit dua orang, ditentang oleh wasit senior, Pierluigi Collina, "Hanya boleh ada satu pemimpin di lapangan." Pernah dicoba wasit elektronik alias robot, Michel Platini, Presiden UEFA menolak, "Selama dalam kepemimpinanku, wasit sepakbola harus manusia."

Cacat dalam menegakkan peraturan? Jelas, itu biasa dalam sepakbola. Namanya juga wasit manusia. Tak jarang keputusan itupun kontroverial di tengah partai mahakrusial. Gol Geoff Hurst di final Piala Dunia 1966 memenangkan Inggris atas Jerman Barat. Meskipun sampai sekarang, perdebatan tidak pernah selesai, betulkah bola sepakan Hurst telah melewati garis gawang Jerbar? Salah satu yang teraktual, adalah handsball Thierry Henry sebelum ia memproses gol sehingga Prancis lolos ke Piala Dunia 2010. Gol itu, ironisnya, menguburkan asa Republik Irlandia yang telah tampil spartan sepanjang pertandingan. Wasit melihat kejadian itu? Tentu tidak, maka itu golnya disahkan. Karena dalam sepakbola, kesalahan mata wasit adalah bagian dari penegakkan peraturan itu sendiri. Maka itu, bagi saya, satu yang membuat sepakbola selalu menarik, adalah kenyataan bahwa ini adalah olahraga paling "manusiawi" di muka bumi. Ia mempertahankan seluruh kodrat dan hakekat manusia, lewat diri sang pengadil. Ia bisa salah, bisa merasakan, bisa larut dalam sebuah partai emosional, dan juga bisa kelelahan. Perhatikan jika sebuah tim sudah unggul jauh atas lawannya. Biasanya, wasit akan memberikan beberapa keuntungan bagi tim yang kalah. Semata-mata agar pertandingan bisa sedikit lebih adil. Atau perhatikan wasit yang berada dalam tekanan penonton tuan rumah. Tidakkah akan sedikit lebih mudah bagi psikisnya, untuk lebih memberikan keuntungan bagi tim tuan rumah?

Saya ingat satu partai di Piala Eropa 2004, antara Portugal melawan Belanda. Ada banyak kartu merah dikeluarkan wasit, saya lupa tepatnya, entah tiga atau empat. Dan lebih dari selusin kartu kuning ia berikan di partai itu. Ia menjalankan peraturan? Ya, sangat baik. Terlalu baik. Hasilnya? Ia dipulangkan dari perhelatan akbar itu. Karena dianggap tidak mampu menjaga kualitas pertandingan. Banyaknya ia memutuskan pelanggaran dan kartu hukuman, menyebabkan permainan banyak terhenti dan sulit berkembang. Kedua tim juga jadi terpancing emosi dan provokasi. Disini, tugas wasit sepakbola menjadi teramat berat. Ia mestilah tak cuma paham kebijakan, tapi juga mesti mampu mengasah kebijaksanaan. Meski waktu tambahan empat menit, ia mesti tahu bagaimana menoleransi waktu empat menit lima detik, jika ada kubu yang masih tanggung melakukan serangan. Ia juga mesti tahu bagaimana melindungi pemain yang cedera, sementara banyak pemain yang melakukan trik untuk mengelabui wasit agar terlihat cedera. Jika demikian, kebijaksanaan seorang wasit, mustahil memuaskan keduapuluhdua pemain yang terlibat. Jadinya, sering ada protes, sering ada caci maki, sering ada provokasi, dan juga konflik. Inilah barangkali, mengapa sepakbola demikian abadi. Jangan sesekali, himbau saya, menerka-nerka kapan sepakbola akan berakhir. Selama pengadilnya manusia, demikian juga perangkat hukumnya, maka ia akan terus menerus menyedot massa. Karena dalam sepakbola, kita bisa bercermin melihat diri kita, dalam tataran hasrat yang dasar dan naluriah.

Emosi yang paling jujur ada disana. Marah dan menangislah bersama sepakbola. Boleh juga kecewa. Ataupun menjadikan mereka agama. Agama yang hakekatnya sama dengan agama yang kamu bayangkan: jalan keluar bagi buntunya akal pikiran manusia, dan mari kita selesaikan, dengan ekstase emosi yang menggelegak. Persis seperti rasa rindu pada Tuhan.
Continue reading

Saturday, February 6, 2010

Nyanyian Cinta di Pagi Hari

Nyanyian Cinta di Pagi Hari
Oh, judul yang norak. Tapi saya tak bisa menemukan yang lebih baik.



Hari Jumat adalah hari yang menyenangkan selain hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu dan Minggu. Karena salah satunya, hari itu adalah hari yang mana saya pilih untuk libur. Tak ada kegiatan terikat, kecuali tampil reguler di malam harinya. Maka itu saya sengaja bermalas-malasan di pagi harinya. Lama di tempat tidur, atau berjalan keliling kamar. Sekedar berpikir, mencari inspirasi, atau membuat pegal kaki. Sampai tiba-tiba, saya dikagetkan oleh bunyi HP sekitar pukul 08.15. Ah, paling pacar saya. Tapi ternyata bukan. Nomernya tidak dikenal. Lalu saya angkat.

"Syarif, kamu dimana?"
"Ini siapa?"
"Lioni, kamu dimana?"
"Lioni mana ya?"
"Itu Lioni yang kamu kira Mirna, dulu,"
"Hah? Di rumah, memang ada apa?"
"Rumah kamu dimana?"
Saya deg-degan.
"Eh, emang kenapa?"
"Cepetan. Rebana nomer berapa?"
"Nomer sepuluh. Emang kenapa?"
"Oke, gua kesana ya sekarang,"

Klik. Telepon ditutup. Hati saya berdegup. Wah, ada apa ini? Jujur, saya ada rasa panik dan ketakutan juga, ada orang pagi-pagi memaksa datang ke rumah. Saya mondar-mandir lebih cepat di dalam kamar. Sampai akhirnya terdengar tukang jamu memanggil dari luar. Saya keluar dengan cepat, ke teras rumah, memenuhi panggilan si tukang. "Ayu, anggur satu," Saya pesan anggur dalam gelas. Setelah itu, datanglah Lioni yang dimaksud. Dia bersama seorang lagi. Membawa gitar.

Dengan wajah heran saya sambut sambil keanehan, "Eh Lioni, kenapa ya?" Dia jawab dengan ceria, "Begini, kami membawa kiriman dari Dega, katanya kalian tujuh bulanan ya?" "Ssssst.. ayo masuk dulu masuk," Saya suruh mereka masuk, karena sepertinya ini sesuatu yang vulgar jika terdengar tukang jamu dan seisi rumah yang sedang ada kegiatan Yoga. Yoga, kau tahu, mereka bermeditasi, dan butuh ketenangan. "Oke, Lioni, ceritakan, kiriman apa gerangan?" Setelah kami semua duduk, berceritalah Lioni: "Tenang, kami bukan mengirim kamu gitar. Hehehe. Kami dari Kappalettas, dinamakan juga Telegram Bernyanyi. Jadi, Dega, pacarmu, mengirimkan kami untuk menyanyikan sebuah lagu, dan kau mesti duduk lalu mendengarkan."

WOW! Jantung saya serasa ditinju. Ada rasa haru, tapi kaget lebih mendominasi. Saya sulit rileks mendengarnya, karena Ya Tuhan, bagaimana mungkin pacar saya "tega" melakukan ini? Saking paniknya, saya sampai mau ambil gitar karena saya pikir, saya mesti ikut maen gitar! Tapi, ah, betapa bodohnya, saya kan penerima pesan, masa mau ikut melipatkan amplop? Oke, saya kembali duduk, dan setelah berusaha rileks, saya persilahkan mereka nyanyi. Lalu digenjrenglah gitar, dan Lioni ternyata yang menyanyikannya. Lagunya adalah Lucky I'm In Love with My Best Friend dari Jason Mraz.

I'm lucky I'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

Saya mencoba mendengarkan liriknya baik-baik, karena pasti disitulah pesan telegramnya. Tapi sulit. Saya cuma bisa menangkap reffrain-nya saja. Karena saya terdominasi oleh perasaan haru. Bagi saya, pesan itu sudah diterima sebelum lagunya dinyanyikan. Bulat. Baik. Indah. Ketika telegram itu sendiri datang. Saya sudah senang seseorang yang saya kasihi mau mengirimkan surat, sebelum saya membuka amplopnya. Tidak banyak yang saya pikirkan selama mendengarkan lagu berdurasi kurang dari tiga menit itu, kecuali bahwa pagi itu sangat sangat terasa indah.

Lagu selesai. Saya beri tepuk tangan sekencang-kencangnya, yang saya yakini bisa membuyarkan para peserta Yoga. Tepuk tangan dari hati yang paling dalam. Pada sebuah pertunjukkan yang mencengangkan. Performa yang sederhana dan jauh dari gempita. Tapi hati ini merasa riuh dibuatnya. Saya tidak kuasa berhenti menyunggingkan senyum, baik di bibir maupun di batin. Saya ajak mereka, Lioni dan Pepeng (saya tahu namanya sesudahnya), berbincang sebentar. Terus terang, saya merasa bisnis ini unik dan kreatif. Kotasentrisme saya langsung keluar: Cuma di Bandung nih yang bisa begini. Hehehe. Kappalettas, katanya, berarti "lagu" dalam bahasa Finlandia. Memang bisnis ini fokus pada pengiriman telegram yang berisi lagu yang dinyanyikan langsung di depan penerimanya. Mendengar itu, saya malah mengusulkan, bagaimana jika sesekali pakai biola atau cello, agar efeknya lebih dramatis. Demikian akhirnya mereka pulang dengan membawa persetujuan bahwa sesekali pemakaian biola dan cello itu adalah ide yang sangat baik. Saya pun kembali ke kamar, menghubungi sang pengirim, dan kemudian tersiksa karenanya. Tersiksa kenapa? Karena saya bahagia, namun apa daya, cuma punya bahasa untuk mengungkapkannya.


Terima kasih, Wahdini Degayanti. Atas kirimannya. Atas kejutannya di pagi hari. Atas perhatian dan cintanya selama ini. Terima kasih.



Jet'aime Toujours.
Continue reading

Thursday, February 4, 2010

Membongkar "Dosa" Alay

Membongkar "Dosa" Alay
Jika diantara kamu ada yang belum tahu apa itu Alay, maka tidak sulit mencarinya di google. Ketik saja kata tersebut, maka akan keluar berbagai definisi tentangnya. Definisi tersebut, semuanya berbau emosionil dan penuh kerancuan, dan jangan harap menemukan definisi ketat ala KBBI. Tapi jika kamu orang yang peka terhadap fenomena sosial belakangan, tentu tak sulit untuk mengaitkan definisi Alay tersebut dengan realitas keseharian. Meski demikian, saya cukup mendefinisikan Alay terkait dengan gaya penulisannya yang terutama diterapkan pada SMS atau jaringan sosial (jika sudah ada yang menerapkannya pada tulisan tangan, maka beritahu saya, karena itu kronis!).

Gaya penulisan Alay
, jauh di luar kaidah baku Bahasa Indonesia, dan relatif sulit dipahami, bagi mereka yang terbiasa dengan standar baku penulisan. Karena, Alay seringkali menyingkat kata secara ekstrim, misal "aku" menjadi "q", ataupun mengubah huruf tertentu menjadi angka, misal "kemana" jadi "k3m4na". Belum pula ciri-ciri lain semisal huruf yang seringkali mengombinasikan besar-kecil tidak dalam kaidahnya, atau menambahkan huruf tertentu di akhir katanya seperti "ray" menjadi "rayz".

Bagi banyak orang, gaya penulisan macam ini jelas menjengkelkan. Alasannya macam-macam, entah "merusak mata", "banyak gaya", atau "berlebihan". Tapi setidaknya boleh diambil satu kesimpulan: gaya penulisan Alay, tidak komunikatif. Efek dari kejengkelan orang terhadap tulisan Alay ternyata cukup masif. Selain definisi yang bermuatan sentimen negatif di berbagai situs, dalam facebook juga telah didapati beberapa grup yang dikhususkan untuk mendiskreditkan Alay. Soal gaya penulisan, tentu saja kejengkelan tersebut tidak berlaku bagi kelompok Alay itu sendiri. Yang mana bagi mereka, barangkali gaya penulisan macam inilah modal eksistensi mereka. Dan tentunya, diantara mereka, tak ada kesulitan untuk membacanya.

Alay ini, bagaimanapun juga merupakan fenomena sosial, untuk itu saya mencoba membuat beberapa catatan (catatan ini, dibantu juga oleh hasil diskusi Madrasah Falsafah Rabu kemarin di Tobucil):

1. Alay, barangkali, adalah korban teknologi. Seseorang yang bisa menulis seperti Alay, pasti difasilitasi teknologi. Artinya, mereka minimal punya HP untuk yang mengekspresikan tulisannya via SMS, serta minimal "melek internet" untuk mengekspresikan via Facebook atau Twitter. Bahkan, kata Rudi, teman saya, merk HP tertentu memang memudahkan orang untuk menulis ala Alay. Artinya, tak ada teknologi, tak ada Alay. Sejauh ini banyak terbukti, bahwa ketika teknologi diciptakan, maka ia menyelesaikan masalah tertentu, tapi menimbulkan konsekuensi tertentu juga. Jika kita seorang yang memuja teknologi sebagai pemecah segala, tapi sekaligus juga mendiskreditkan Alay sebagai the others, maka sungguh, terasa paradoks. Itu seperti baru mempunyai kompor canggih yang konon bisa menyelesaikan seluruh proses di dapurmu, tapi ketika kompor itu jadi sumber kebakaran, kau berkata, "Tidak mungkin komporku penyebabnya, komporku canggih! Pasti orang lain yang menyulut api!"

2. Seorang Neo-Pragmatis, Richard Rorty mengatakan, "Bahasa adalah sesuatu yang membuat komunikasi berjalan." Dengan demikian, gaya penulisan Alay telah terlegitimasikan oleh Rorty. Kenapa? Karena toh, komunikasi tetap berjalan, mereka sama-sama mengerti satu sama lain. Persoalannya tentu saja ketika pesan dengan gaya tulisan Alay disampaikan pada orang yang "non-Alay". Meski demikian, apakah kita merasa harus mendiskreditkan orang di pedalaman Papua, misalnya, karena kita tak paham apa yang mereka bicarakan? Sedangkan di antara kaumnya sendiri, mereka berbicara lancar seperti kita berbahasa dengan sesama kita? Berarti kuncinya, bagi Alay, jangan gunakan bahasa Alay bagi warga "Non-Alay". Tapi sejauh itu digunakan dalam komunitasnya sendiri, maka seharusnya tak menjadi masalah bagi kita.

3. Baiklah, tentunya, nomer dua diatas bisa dibantah dengan, "Tapi, mereka kan merusak Bahasa Indonesia. Patutkah kita diam saja?" Pertama, jika yang dimaksud dengan "Bahasa Indonesia" adalah yang berada dalam lingkup KBBI dan EYD, maka tentu saja kita tidak bisa hitung berapa banyak upaya "perusakan" Bahasa Indonesia oleh warga kita sendiri selain dari para Alay. Tapi saya setuju mereka memang merusak, jika kaitannya dengan pertanggungjawaban. Para sastrawan, penulis, atau penyair, barangkali tidak bisa dibilang telah merusak Bahasa Indonesia, karena setidaknya mereka mampu dan tahu bagaimana menulis sesuai kaidah. Saya tidak bisa menganggap Goenawan Mohamad seorang Alay, ketika dia menulis "elang" dengan "lang". Karena saya yakin, meski tak pernah secara langsung menanyakannya, bahwa ia tahu dan bertanggungjawab atas yang ia tulis. Dalam hal ini, ia memenuhi pragmatisme Rortyan, karena dengan menggunakan kata "lang", komunikasi tetap berjalan, saya paham, dan mungkin banyak orang paham juga. Maka itu, perlu diverifikasikan pada para Alay, apakah mereka menulis seperti improvisasi jazz setelah belajar klasik sekian lama, atau bermain notasi secara asal agar terdengar jazzy?

4. Yang ini, saya butuh objektivitas: Mungkinkah menganggap kemampuan Alay sebagai bentuk kecerdasan tertentu? Karena sungguh sulit melakukan penulisan dengan variasi tulisan macam itu. Huruf-angka, besar-kecil, singkat-panjang. Pada sudut pandang tertentu, ini barangkali adalah semacam bentuk resistensi atau pemberontakan dari kaidah-kaidah yang dianggap memenjarakan mereka. Seperti ketika jalan layang dibangun, maka ada ide bagus bagi orang-orang tertentu untuk membuat grafiti di dinding jalannya. Secara ekstrim, Alay adalah semacam cara bagi sebagian kaum untuk menunjukkan, bahwa KBBI dan EYD justru yang tidak komunikatif. "Mesti ada cara revolusioner, cara baru, soal bagaimana kita dapat berkomunikasi dengan singkat, padat, jelas, tanpa usah memikirkan baik-benar. Setidaknya lambat laun ini akan menjadi kesepakatan alamiah!" Begitu saya membayangkan seorang pelopor Alay berorasi. Sejak itu, boleh dibilang kreatif, cerdas, ekspresif, atau bahkan nyeni, Alay mengembangkan gaya penulisannya. Bahkan yang masih memegang kaidah, dianggap ketinggalan jaman dan minim kreasi.

5. Keempat poin di atas terdengar saya sedang membela Alay, tapi sesungguhnya saya mewaspadai juga. Karena dalam artikel yang ditemukan oleh teman saya, Mbak Desiyanti, ia menunjukkan bahwa di Kanada, tepatnya di Universitas Simon Fraser, satu dari sepuluh mahasiswa baru gagal dalam ujian Bahasa Inggris. Dan ditengarai ini diakibatkan oleh seringnya mereka menggunakan bahasa tidak baku dalam Facebook atau Twitter. Jika demikian, maka menjadi tugas para pendidik, baik orangtua maupun guru, untuk menjaga agar putra-putrinya tidak menggunakan bahasa Alay di "sembarang tempat". Gaya penulisan Alay, saya yakin, tak akan bisa dibasmi. Tapi yang terpenting, mereka ditempatkan pada situasi yang seharusnya. Ini tentu saja dengan asumsi, lingkungan akademik belum mengadopsi bahasa Alay sebagai bagian dari norma institusinya.

Semoga ini kesimpulan: bahwa Alay, bagi saya, tetap memiliki hak untuk mengekspresikan sesuatu. Sebagaimana orang yang membencinya merasa mempunyai hak untuk membencinya. Bagi saya, ini adalah gejala alamiah remaja manapun, kapanpun, dan dalam peradaban manapun, untuk menunjukkan eksistensi dirinya secara ekstrim. Karena konon, remaja berada di persimpangan jalan, ia tak bisa lagi dimanja seperti anak-anak lagi, tapi ia belum cukup kompeten untuk dianggap dewasa. Dan ketika yang trendi adalah komunikasi digital, maka dengan medium inilah mereka bereksistensi. Yang krusial barangkali, dunia sekarang ini begitu datar dan seperti dilipat, sehingga kita dengan cepat mengetahui satu sama lain. Dan setelah tahu, sentimen itu dibagi (dengan cepat pula), dan diklaim sebagai sentimen massal. Saya malah heran, definisi Alay yang jelas bermuatan emosional sangat tinggi itu, ternyata mampu mempengaruhi orang banyak. Dan saya setuju dengan Mbak Tarlen, bahwa muatan sentimen itu, tercium bau stratifikasi sosial yang amat kuat. Orang yang membenci Alay, kemungkinan besar mulanya tidak menyukai ada kelompok sosial tertentu bersinggungan dengan kelompok sosialnya. Bersinggungan lewat apa? Ya itu, internet, HP, hingga model fashion tertentu. Pembenci Alay itu pada mulanya barangkali hendak berkata, "Jika kau mau hidup di kota besar, maka hidup atau matilah sekalian. Jangan tanggung di persimpangan. Karena inilah awal mula sesaknya tempat."



Tidakkah teknologi ini membuat kita tahu banyak, tapi kadangkala justru mengerikan?
Continue reading

Tuesday, February 2, 2010

Di Lapang Bulutangkis, Ada Plato dan Aristoteles


Suatu hari Senin, dimana saya dan kawan-kawan bermain bulutangkis setiap jam empat sore, lapangan kedatangan dua orang filsuf terbesar dalam sejarah peradaban Barat. Plato dan Aristoteles. Ya, mereka datang, dan duduk di pinggir lapangan, menyaksikan kami bermain. Sambil bermain, saya mencuri dengar apa yang mereka perbincangkan. Sebetulnya, saya tidak mencuri dengar, karena mereka berbicara sangat keras. Entah dalam bahasa Yunani atau apa, yang pasti, saya memahaminya. Itulah mengapa saya tuliskan disini.


Plato : Wahai muridku, pernahkah engkau berpikir, mengapa orang Brasil nyaris semua penduduknya mahir bermain sepakbola?

Aristoteles: Tentu saja, karena berlatih, Guru.

Plato : Lantas, kau bisa menjawab, mengapa mereka memenangkan Piala Dunia paling banyak? Padahal banyak negara-negara di Eropa, yang juga berlatih keras -mungkin lebih keras-, tapi mereka tetap tidak sekuat Brasil.

Aristoteles : Ini jelas, sebuah proses alam. Tidak ada yang kebetulan. Pasti Brasil punya "sebab formal" mengapa mereka memenangkan Piala Dunia paling banyak. Entah karena pelatih yang baik, taktik yang bagus, atau lawan yang sedang sakit perut, atau penyerang Brasil yang orangtuanya sedang disandera, sehingga ia sangat bersemangat. Pasti ada sesuatu yang mendasarinya, guru. Yang nyata, yang indrawi.

Plato : Apakah kau setuju jika kubilang, mereka semua memang telah hebat bermain sepakbola ketika mereka sudah berada di dunia ide? Di alam jiwa sana? Sehingga ketika mereka menempati tubuhnya, maka itu tak lain dari cerminan apa yang sudah terjadi di dunia ide.

Aristoteles : Guru, dengan segala hormat, aku mempertanyakan padamu, bagaimana kau tahu dunia ide itu ada atau tidak? Bagaimana jika guru ternyata hanya melihat kehebatan sepakbola Brasil, kenyataan mereka berprestasi sepanjang jaman, dan seolah tidak ada yang menandingi, lantas guru seolah menyimpulkan, bahwa Indonesia ini tidak mungkin menjadi juara sepakbola, karena mereka tak pernah hebat di dunia ide? Bagaimana guru tahu itu?

Plato : Bagaimana aku tahu? Semua orang tahu itu! Hahaha.

Aristoteles : Hahaha. Aku serius, Guru.

Plato : Tentu saja dalam dunia ide, segalanya kekal dan ideal. Ketika kita berbicara anak-anak yang sedang bermain bulutangkis ini. Mereka sedang mengingat. Jiwanya mengalami eros, rasa cinta yang membuat mereka mengingat kembali apa-apa yang telah diajarkan di dunia ide, yakni tempat sang jiwa pernah bersemayam. Mereka, anak-anak ini, tidak sedang belajar bermain bulutangkis, tapi jiwanya sedang mengalami kerinduan, bagaimana bermain bulutangkis itu.

Aristoteles : Katakan poinmu, Guru.

Plato : Pernahkah berpikir, mengapa orang Brasil begitu mudahnya menyepak dan memainkan bola di kaki, sama halnya dengan orang Indonesia begitu lihainya memainkan shuttle cock dengan raketnya? Pernahkah berpikir, mengapa Thales mesti lahir di Miletos untuk mempersoalkan alam ini berasal dari mana? Sedangkan nun jauh di Cina sana, Konfusius lahir untuk pertama-tama memaparkan bagaimana memperbaiki negara? Pernahkah, wahai muridku?

Aristoteles : Kau tahu jawabanku, Guru. Ini soal proses alamiah, pasti ada sebab formal mengapa itu terjadi. Dan jangan lupakan juga "sebab terakhir". Seperti hujan turun agar tanaman bisa tumbuh. Tugas kehidupan. Pasti ada sebab mengapa Brasil yang menjuarai Piala Dunia, dan bukan Indonesia. Entah apakah karena Brasil negaranya miskin, sehingga martabatnya bisa lebih terangkat dengan sepakbola.

Plato : Itu sebabnya, kita selalu berselisih paham, muridku. Karena bagiku, dunia ide tetap kekal dan abadi. Ia memuat segala pengetahuan tentang sepakbola dan bulutangkis pastinya. Namun, eros atau rasa cinta masing-masing jiwa berbeda, ternyata. Bagiku, jiwa masyarakat Brasil lebih merindukan sepakbola, sedangkan jiwa masyarakat Indonesia lebih merindukan bulutangkis. Itu sebabnya, orang Indonesia, tak sulit untuk pandai bermain bulutangkis. Setidaknya begitulah bagiku.

Aristoteles: Baiklah, Guru. Kau tahu aku tak sependapat.

Plato : Oke, kita mau nonton saja pertandingan ini, atau jalan-jalan?

Aristoteles : Kita jalan-jalan habis set ini, Guru. Posisi sedang deuce. Seru.


Continue reading