Minggu, 10 Januari 2010

Baik - Buruk

Dulu dalam satu kuliah dari Pak Slamet di Extension Course Filsafat UNPAR, saya pernah mendapati satu pernyataan (atau pertanyaan) yang cukup membuat saya merenung-renung hingga sekarang: Bagaimana posisi baik-buruk itu sebenarnya?

1. Baik-buruk itu dualisme. Saling mengadakan.
2. Buruk adalah cacat dari baik, sehingga kebaikan adalah utama.
3. Manusia terlahir bebas. Baik-buruk adalah soal kesepakatan.

Saya awalnya, karena banyak membaca Sartre. Setuju yang nomor tiga. Menurut saya itu Sartrean sekali: "Man are condemned to be free". Jika Dostoyevsky bilang, "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh.", Sartre bilang, "Manusia boleh melakukan semua, maka itu Allah tidak ada." Artinya, segala baik-buruk, adalah soal bagaimana manusia memutuskan. Mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup yang disediakan. Dengan demikian sepaket dengan konsekuensi etisnya. Pada akhirnya saya tidak bertahan lama dengan nomor tiga ini, karena paradoks semantik Sartre. Ia mengatakan manusia bebas etika, tapi kemudian mengatakan, "Manusia yang baik adalah yang bertanggungjawab pada pilihannya." Berarti ia juga punya batasan baik-buruk, dong?

Saya lama berpegang pada nomor satu akhirnya. Saya percaya, bahwa dunia ini tetap berjalan, karena baik dan buruk berdinamisasi. Saling mematikan sekaligus saling mengadakan. Demikian dunia ini diciptakan seolah-olah hanya tempat pertarungan antara baik dan buruk, yang mana tidak boleh ada satu yang mati. Seperti Partai Golkar memelihara dua partai lainnya di era Orba. Seperti kiai yang mendadak akan kehilangan makna dari setiap pekerjaannya, jika kita membayangkan kejahatan telah terbasmi semua. Maka tidak ada yang salah jika kita berbuat buruk, karena kita memberi jalan untuk berbagai kemungkinan timbulnya kebaikan. Jika demikian tak perlu ada surga-neraka, pahala-dosa. Semua fair dan saling membantu. Yang berpahala ada karena yang berdosa. Tidakkah ya, itu terasa masuk akal? Dan membuat mereka, para pengumpul pahala yang merasa diri mulia, sesungguhnya tak lebih derajatnya dari para pendosa?

Belakangan saya mulai melirik nomor dua. Nomor yang dulu saya anggap, religius dan terlalu naif. Nomor yang, ah, mungkin saya tidak akan pilih untuk waktu entah kapan. Karena, oh, agama sekali. Kurang keren, kurang radikal. Tapi tendensi itu mengarah kesana, mengarah pada jangan-jangan: memang yang ada cuma kebaikan. Bahkan segala keburukan, juga demi kebaikan, juga untuk kebaikan. Seperti kata teman saya, Sutrisna: segalanya mengarah pada kebaikan. Secara logika, bisakah dibalik? Mari berandai-andai bahwa yang ada cuma keburukan. Bahkan segala kebaikan, juga demi keburukan, juga untuk keburukan. Saya kira itu boleh juga, hanya bagi saya terasa kembali seperti eksistensialisme Sartrean: bahwa kita, semua, manusia, hanyalah gairah tanpa makna.

Bahwa menganggap hidup ini pada dasarnya buruk dan maka itu baik juga tak lebih sebagai aksentuasi buruk semata, sama sekali tidak salah. Dan sialnya, ini akan mengembalikan kita pada pilihan khas Sartre (mau menganggap hidup ini hakekatnya kebaikan atau keburukan?). Ujung-ujungnya, bagi saya sekarang: Saya merasa tidak usah menunjuk salah satu dari topik lemparan Pak Slamet. Karena sungguh, ternyata, itu bukan pilihan ternyata. Saya terjebak. Bagi saya, yang penting dari segala perbuatan, adalah totalitas dan kecintaan. Karena perputaran dunia selalu membutuhkan itu semua. Ketika totalitas tiada, dan cinta hanya sebersit saja, maka baik buruk betul-betul tak lebih dari jebakan norma-norma yang gelap dan kaku. Ketika tukang sapu jalanan bangun pagi dan mulai menyapu pada jam yang ditentukan, lalu dia menikmati pekerjaannya seperti halnya ia tak peduli apakah kemudian dapat uang atau tidak. Maka ia telah melampaui baik-buruk secara etikal. Meski kemudian ada orangtua ambisius yang anaknya disekolahkan tinggi-tinggi lantas menasehati, "Kamu sekolah yang tinggi, agar jangan jadi penyapu jalanan." Maka si penyapu, barangkali tidak akan merasa dirinya buruk, jika mendengar ucapan orangtua itu.

Ketika saya mengajar gitar dengan sungguh-sungguh, menulis dengan sepenuh hati. Maka saya berhenti mempertanyakan apakah perbuatan saya baik atau buruk. Bahkan mungkin ketika saya membunuh pun. Saya akan mempertanyakan baik-buruk, jika saya lepas dari totalitas, lantas hati nurani meragukan. Dan soal hati nurani, saya tak dapat berbicara apa-apa.

Previous Post
Next Post

1 komentar:

  1. fantastis..
    walaupun akhir jawaban yang menggantung..
    eh km udah nulis novel blum??
    klo ada gw beli dah..
    asli asik nih pemikiran..
    hahahaha

    BalasHapus