Sunday, January 31, 2010

Nine: Rasakan!



Hari Minggu kemarin, saya dan pacar menonton film Nine di Plaza Senayan. Film itu, saya belum tahu soal apa. Yang pasti, pacar saya sangat ingin menyaksikan Marion Cotillard, aktris idolanya yang turut bermain. Ternyata, ini film drama musikal. Hal yang tak pernah lagi saya tonton sejak Moulin Rouge.

Syahdan, ada seorang sutradara bernama Guido Contini (Daniel Day-Lewis). Mengambil latar di Roma tahun 1965, Guido digambarkan sebagai seorang sutradara besar di Italia. Hampir seluruh orang di negeri itu mengenalnya, atau dalam bahasa Lily (Judi Dench), teman sekaligus kru kostumnya, "Tidak ada seorangpun yang lewat disini, tidak tersentuh oleh film-mu." Demikian Guido Guido (saya sengaja menuliskannya dua kali, karena terngiang oleh nama Guido yang sering sekali diucapkan di film itu), yang terjerumus dalam sebuah masalah besar: Ia sedang menghitung mundur satu minggu menuju film terbarunya yang berjudul Italia, dan ia belum menuliskan naskah!

Entah apa yang mengganggu Guido Guido, yang pasti, ia selalu dalam keadaan gelisah dan galau. Dalam pelbagai adegan, ia nyaris selalu dalam keadaan mengisap rokok, dan wajahnya kusut (stereotip seniman besarkah?). Ia mencari inspirasi kemana-mana: menyepi ke hotel di kota antah berantah dimana ia berharap tak ada orang yang mengenalnya (namun mustahil bagi Guido), bertemu Kardinal untuk berharap menemukan inspirasi yang berbau spiritual, hingga yang paling Guido sepertinya suka: mencari dari para wanita, entah istrinya, kekasih gelapnya, ibunya, hingga aktrisnya sendiri.

Yang terakhir inilah yang mendominasi film dan mempertajam konflik-konfliknya. Mulai dari istrinya, Luisa (Marion Cotillard) yang berusaha tetap setia meskipun tahu Guido punya kekasih gelap bernama Carla (Penelope Cruz), hingga ibunya (Sophia Loren) yang seperti guardian angel, selalu ada menjaga meskipun tahu pelbagai kenakalan anaknya.


Saya bukan sedang me-review film tepatnya, karena sebaiknya film tersebut disimak sendiri, ataupun buka google saja, sudah banyak review-er hebat yang menggambarkan dengan tepat beserta kritiknya. Saya sedang memaknai saja, secara subjektif, apakah film Nine ini sebenarnya?

Pertama, drama musikal seringkali membosankan bagi sebagian orang. Karena dianggap terlalu dramatis, bertele-tele, dan mana ada dalam kehidupan nyata, ungkapan keseharian berada dalam balutan nyanyian yang berlebihan? Tapi ternyata, bagi saya, tidak demikian adanya. Unsur musikal dalam sebuah film, adalah garam dalam sayur, tak bisa tidak mesti ada. Bahkan dalam film bisu pun, musik tetap tersisa, alih alih katakata. Karena sepertinya begini: musik mampu mewakili banyak rasa. Atau sebaliknya, rasa mampu terwakili dengan baik dalam musik. Kata-kata? Ia juga bisa, tapi lebih butuh dicerna. Musik barangkali, -semoga banyak yang setuju- adalah jenis seni yang tidak sulit bagi banyak orang untuk langsung tersentuh ke dasar perasaan.

Dan ketika film Nine, di banyak sela-sela filmnya menghadirkan musik dengan kemasan yang ekstrim (kadang lirih, kadang gegap gempita, dan yang pasti: menghadirkan si aktor itu sendiri sebagai penyanyinya, sehingga suasana dramatis lebih terasa seiring gemulainya), maka gairah film itu semakin nyata. Ya, film Nine ini penuh gairah, penuh perasaan yang menunjukkan bahwa hidup sejati adalah yang dirasakan. Percakapan Guido dengan Kardinal, menunjukkan bahwa Kardinal tak bisa merasakan gairah kehidupan meskipun diliputi religiusitas. "Kau mesti menjaga imajinasimu, Guido, karena imajinasi adalah Taman Tuhan, dan jangan biarkan iblis tinggal disana." "Lantas, Romo, bagaimana imajinasi bisa dijaga?" Jelas, itu bukan pertanyaan, tapi sindiran bagi Kardinal, karena memang ya, seperti kata Iqbal: agama, filsafat, sains, punya keterbatasan, hanya seni yang tidak. Seni adalah soal imajinasi, maka itu Guido benar adanya.

Dan juga, menyedihkan, bila menganggap ini film yang mengumbar birahi, karena beberapa adegan tarian sensual dari Carla, Claudia Jenssen (Nicole Kidman), Saraghita (Fergie), ataupun Stephanie (Kate Hudson). Sekali lagi, ini adalah bentuk simbolisasi gairah, dan soal birahi, murni diserahkan pada subjektivitas (pria). Film ini dimana-mana adalah soal gairah, bahkan bisa secara implisit ditemukan dalam ketidaksanggupan Guido menemukan naskah film. Di bagian pembuka, ia berkata, "Kenapa film mesti dipilah ke dalam kata-kata? Itu mengerdilkan film itu sendiri."

Terakhir, adalah tips untuk menonton film ini: sebaiknya, banyak gunakan imajinasi, dan rasakan gairahnya. Menggunakan akal dan logika yang berlebihan akan merusak alur film itu sendiri. Biarkan hanya kesan yang tersimpan. Pesan? urusan belakangan. Tidak semua hal mesti dimengerti maksudnya apa dan apa maunya. Kata Goenawan Mohamad, bersiul pun tak ada gunanya, tak ada maksudnya, tapi sekedar menunjukkan bahwa hidup kita punya gairah.

Continue reading

Wednesday, January 27, 2010

Filsafat itu..

Saya lupa kapan mulai berkenalan dengan filsafat. Tapi resminya, boleh dibilang ketika saya mengikuti extension course filsafat di tahun 2006. Kegiatan rutin tiap Jumat malam di Jl. Nias itu, pelan tapi pasti, mengubah cara pandang saya. Saya ingat, awal mula materi di extension course itu, adalah soal antropologi manusia. Saya berkenalan diantaranya dengan pemikiran Nietzsche, Marleau-Ponty dan Lacan soal manusia ini sebenarnya apa, dari mana, mau ke mana? Apakah makhluk yang sudah selesai, atau sedang dalam proses? Lantas, apakah yang dinamakan hubungan sesama manusia itu? Lalu, bagaimana manusia mendefinisikan baik-buruk? Ketuhanan? Macam-macam lah pokoknya, membuat saya kebingungan dan keluar ruangan dalam perasaan yang aneh. Perasaan yang, ternyata, one way ticket: Tidak bisa pulang kembali ke kenyamanan yang dulu. Melainkan mesti mengarungi, terus menerus, bergulat dengan gelisah, hingga entah kapan.

Demikian awal mula filsafat ambil bagian dalam hidup saya. Mulailah dibeli buku-buku yang berkaitan dengannya. Saya ingat buku favorit saya sampai sekarang, Dari Socrates ke Sartre oleh T.Z. Lavine. Meski demikian, tak bisa, ternyata bagi saya, membaca satu atau dua buku saja untuk memahami satu pemikiran filsuf sekalipun. Mesti beberapa, mesti kadangkala buka internet juga, lalu mestipula sesekali mengaplikasikannya dalam pelbagai diskusi. Kadang, pemahaman terbaik ada ketika berbicara, alih-alih mendengarkan.

Efek filsafat, cukup klise: keimanan dogmatis yang ditanamkan sejak kanak-kanak, luntur perlahan; menjadi senang berdebat dan berdiskusi, seolah-olah semua orang mesti senang mempertanyakan hingga ke dasar-dasar, tidak ada yang boleh naif; menjadi galau setiap saat, karena sering mengaitkan segala peristiwa terhadap kategori-kategori filsafat beserta alirannya; menjadi kritis dalam segala hal, merusak segala tatanan, meski seringkali lupa membangun apapun diatas puing-puingnya. "Tuhan telah mati!" demikian Nietzsche bersabda. "Eksistensi mendahului esensi," Sartre berkata. "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh," ujar Dostoyevski. "Para filsuf hanya berbicara tentang dunia, bukan mengubahnya," oh, itu kata Marx. "Hidup yang tidak dikaji, tidak layak dihidupi," ujar Socrates. Demikian seterusnya, petikan-petikan kalimat keren, mempesona, dan tampak beradab, mewarnai hidup saya.

Hingga suatu ketika, yang saya lupa tepatnya kenapa, yakni pada saat tersadari: bahwa ada titik, dimana hati lelah, mengikuti nalar yang terus menjelajah. Nalar ini, sialannya, ibarat kita makan keripik cabe: satu-satunya cara menghilangkan pedasnya, adalah dengan memakannya kembali. Nalar tak punya kepuasan. Ia mencari, mengusik, merobek, hingga menukik, kemanapun dan apapun. Saya tiba-tiba ingat kata Kierkegaard, "Nalar justru mesti digunakan hingga mentok, sehingga kita tahu keterbatasannya."

Ya, ternyata, Kierkegaard, tidak ada yang namanya batas itu sebenarnya. Hanya saja, kita selama ini terjebak bahwa filsafat adalah soal pemenuhan kepuasan nalariah. Pikiran yang terus bertanya, dan kemudian dijawab kembali oleh kekuatan pikiran jua. Ini agak terinspirasi dari makalah Bambang Sugiharto, bahwa jangan-jangan, filsafat itu, punya fungsi memuaskan perasaan juga, hati juga. Setiap kita mempertanyakan apa-apa, maka selalu berangkat dari kegelisahan perasaan. Dan ketika kita dapat menjawabnya, setidaknya untuk sementara, maka ketentraman itu terasa juga. Dan ketika nalar itu seperti tak kenal lelah menerjang apa-apa, maka hati, ternyata punya bensinnya sendiri. Ia seperti berkata pada nalar, "Sudahlah, sayang, aku sudah mendapatkan apa yang kau cari. Bahkan sebelum kau berangkat mencari. Aku mendampingimu selama ini, hanya semata-mata mengawasi engkau agar tak tersesat di labirin realita yang sesungguhnya tak menyuguhkan jalan keluar apa-apa."

Lantas, untuk apa filsafat itu? Jika perjalanan nalar pada akhirnya akan dihentikan oleh bisikan hati? Filsafat, bagi saya, adalah sekedar memahami, bahwa tidak ada kebenaran itu sebenarnya. Yang ada, barangkali, mengutip perkataan ayah saya: "Kebenaran, adalah tentang pencarian kebenaran itu sendiri." Filsafat, lewat daya jelajah nalarnya, merupakan cara untuk meyakini bahwa kita, manusia, pada dasarnya turun ke dunia sebagai pengembara. Dan Tuhan, jika boleh saya bilang Tuhan, ternyata tidak ada di ujung mana-mana. Ia ada di tas yang sedang kau jinjing.





Gambar : The Thinker - Auguste Rodin
Sumber Gambar : http://www.southdacola.com/blog/wp-content/uploads/2009/04/rodin20thinker.jpg
Continue reading

Friday, January 22, 2010

Posmo oh Posmo


Jelas sekali, ini masa sudah berbeda. Kita masuk pada apa yang para filsuf namai dengan posmodern. Entah kita semua merasakan itu, atau hanya ada pada alam para filsuf, seperti kata Goenawan Mohammad. Yang pasti, memang ada bedanya, yang jika boleh saya menyobek kutipan macam-macam dari Lyotard, Foucault, Derrida, hingga Bambang Sugiharto, maka posmodern dapat diartikan sebagai:

1. Matinya subjek. Jika modern adalah tempat dimana subjek berkehendak bebas dan menentukan dirinya sendiri, maka dalam posmo(dern), subjek dikendalikan oleh suatu kuasa yang mana subjek pun jadi bingung, dia ada dalam kuasa atau tidak. Seperti kita berkata film Hollywood bagus, apakah memang iya kesadaran kita mengatakan demikian, atau jangan-jangan memang apa yang disuguhi pada kita, hanyalah Hollywood, sehingga pikiran kita selalu berpatokan pada Hollywood. Demikian maka cogito ergo sum Cartesian, Kehendak Bebas Sartre, Ego Freud, dan pemikiran modernis lain soal subjek ikut ketinggalan jaman.

2. Matinya oposisi biner. Modern terkenal dengan oposisi binernya. Jika bukan 0 maka 1, jika bukan 1 maka 0. Jika aku kaya, maka yang lain di luar kriteria yang aku miliki adalah miskin. AS adalah negara maju, maka Indonesia adalah negara berkembang. Demikian modernis merasakan kegembiraannya dalam melaksanakan kategorisasi. Dalam posmo dipertanyakan lagi: maju itu, dalam konteks apa dulu? Kalau keuangan mungkin iya, kalau kekayaan alam? Indonesia bisa lebih kaya. Artinya, posmo menciptakan suasana kontekstual yang lebih kondusif.

3. Runtuhnya metanarasi. Yang ini dari Lyotard. Katanya, metanarasi alias narasi besar seperti Hak Asasi Manusia, Keadilan, Kesejahteraan, Kebebasan, dan Universalitas ternyata tak memberikan solusi serius di masa modern. Bagi Lyotard, narasi besar itu tak lain adalah bentuk penghalusan dari kekuasaan saja. Kenyataannya, tidak ada standar yang bisa mencakup semua persoalan. Maka itu, posmo menawarkan jalan keluar, berupa penghancuran atas seluruh ide besar tersebut, dan -mirip dengan poin ke 2- mengembalikan semuanya secara kontekstual. Tidak ada universalitas, yang ada kontekstualitas atau partikularitas. Efek yang paling terasa, adalah menurunnya hegemoni Barat. Karena kenyataan bahwa ternyata, ide-ide besar tersebut ditelurkan oleh Barat. Dan kemudian, pada akhirnya, Barat sendiri menyadari bahwa metanarasi telah gagal, yang membuat mereka lantas melirik apa yang ada di Timur. Lirikan Barat tersebut menyebabkan tak relevan lagi membicarakan narasi utama, bahkan membicarakan istilah Timur dan Barat sekalipun!

4. Kembali ke Alam.
Poin ini sepertinya terlalu naif, tapi nampaknya ada benarnya. Bahwa modern yang habis-habisan mengeksploitasi alam dan membetoni dunia ini, terbukti malah menimbulkan banyak masalah dan bencana. Posmo akhirnya mengupayakan agar alam dilirik kembali, misalnya lewat gerakan kesadaran daur ulang, serta pengembalian ruang hijau dalam satu kota. Selain alam dalam arti sebenarnya, posmo juga merayakan munculnya kealamiahan pengobatan, misalnya: yoga atau akupuntur. Hal yang masa modern dianggap irrasional karena di luar kaidah medis, dalam konteks posmo, yang demikian tak ada salahnya loh digunakan manusia. Tidak apa-apa, dan barangkali lebih aman dan cepat bagi orang-orang tertentu.

5. Kebenaran.
Kebenaran semakin subjektif dan beragam. Mirip eksistensialisme? Tidak. Jika eksistensialisme masih menghargai kehendak pribadi, maka posmo justru mempertanyakan kembali apa itu subjek (baca poin 1). Meski demikian, anehnya, penafsiran subjektif masih dianggap, meski posmo yakin bahwa subjek telah terdistorsi kekuasaan. Media contohnya, dewasa ini, media telah melimpah dan kita sulit menentukan mana yang benar. Realitas telah diacak-acak dan subjek sama sekali terjebak. Efeknya justru, subjek menjadi semakin majemuk. Majemuk itu, majemuk bagi dirinya, atau tubuh Prothean jika dalam bahasa mitologi. Ketika subjek semakin majemuk bagi dirinya, maka kacamata realitas pun ikut-ikutan majemuk. Maka itu, kebenaran semakin sulit tercapai secara sepakat, karena masing-masing orang punya perangkat yang berbeda untuk menafsirkannya.


Diskusi-diskusi filsafat, hampir dimanapun, banyak mengikuti karakteristik posmo ini. Dan mau tahu kata jagoannya? Yakni: Konstruksi. Konstruksi menjadi kata yang latah di jaman sekarang. Apa-apa dikaitkan dengan konstruksi. Orang takut karena konstruksi, orang nonton film karena konstruksi, orang beli jins karena konstruksi, orang makan karena konstruksi. Realitas ditampakkan sebagian, atau telah dikemas, atau telah dikuasai, agar sampai pada manusia dalam bentuk yang sudah "dipadatkan", dan dibius seolah-olah itulah realitas yang hakiki.
Memang beginilah jaman ini, sedang begini, dan entah sampai kapan. Barangkali di jaman-jaman sebelumnya pernah ada, diskusi yang apa-apa dikaitkan dengan kebebasan manusia, eksploitasi alam, ateisme, ideologi, atau etika sesama. Hanya saja, posmo ini, bagi saya, kadang-kadang sudah kelewatan liarnya. Ia mengobrak-abrik tanpa membangun. Ia mengkritisi tanpa solusi. Dan memuarakan segala diskusi pada konstruksi.
Posmo, pada titik tertentu, seolah lupa, bahwa bagaimanapun manusia, secara aktif menerjemahkan dunia, seperti kata Kant. Ia bukan objek pasif penerima apapun yang dicekoki oleh raksasa bernama kekuasaan. Manusia masih bisa, memaknai dunia ini secara independen, tanpa kemudian dituduh habis bahwa independesinya ada di bawah (lagi-lagi) kekuasaan tertentu. Manusia masih ada, berpikir, merasa, berkehendak bebas, dan kelak, jika mereka mau, akan meruntuhkan posmo itu sendiri.



Oh, apakah tulisan ini berada dalam kuasa tertentu?







Sumber gambar: http://www.adidaupclose.org/FAQs/postmodern.gif
Continue reading

Monday, January 11, 2010

Lelaki itu Bernama Adam


Bayangkan bayangkan. Adam hidup sendirian. Ia baru saja dibuang. Dari surga yang buah-buahan dan susu sedemikian dihamparkan. Turun ia ke bumi, ke dunia yang kejam dan keji. Kemana Hawa? Tuhan punya rahasia. Meski keduanya makan khuldi bersamaan, tapi Tuhan hanya memilih Adam. Ia berdosa, Hawa juga iya. Tapi Tuhan punya rahasia.

Demikian Adam hidup di bumi. Bercocok tanam dan berburu binatang. Disertai luka di hati, karena lepas dari nikmatnya surgawi. Adapun ia tak henti bersedu sedan, karena tiada lagi teman. Hawa yang cantik dan satu itu, entah kenapa tak diturunkan Tuhan. Ia juga kesal pada Hawa, iri tepatnya. Karena kami sama-sama makan khuldi. Sama-sama terbujuk setan terkutuk. Tapi kenapa ia tetap berada di surga? Atau malah ia ada di neraka? Pikiran terakhir itu membuatnya bingung. Entah lega atau sedih. Ia tak mau Hawa berada di neraka, tapi merasa tak adil jika dirinya bernasib lebih buruk atas suatu perbuatan yang sama.

Mengapa aku memakan buah itu? Padahal rasanya tak begitu enak. Pahit campur asam sekaligus. Buah-buahan di surga biasanya manis adanya. Dan kenapa juga, ya Tuhan, kau ciptakan buah macam itu di surga yang katanya tak ada dosa dan prahara? Yang mana kata-Mu, cuma ada bahagia dan senang belaka? Tidakkah kata-Mu, nafsu itu dihempaskan entah kemana, dan setan terpenjara dalam neraka, sehingga tak bisa bercampur dalam alam surga? Ah, Tuhan. Bolehkah kusebut kau pembual?

Demikian Adam hidup di bumi. Bersedu sedan setiap hari. Meratapi nasibnya yang tak lagi sama. Dahulu apa-apa tinggal minta. Tinggal berkehendak. Sekarang kehendak adalah penjara. Kehendak adalah siksaan. Kehendak berarti perjuangan. Dan pemuasan kehendak adalah kebahagiaan sesaat. Sesaat sebelum kehendak itu muncul lagi. Seringnya lebih besar. Hingga akhirnya, Tuhan berbicara jua. Menurunkan Hawa di tengah padang rumput. Di bawah pohon yang tumbuh di sekeliling oase. Adam terkejut, di tengah lapar dahaga yang tengah melanda. Yang ia tak tahu lagi mesti berbuat apa. Karena binatang sedang susah diburu, tanaman sedang tidak ada bisa dimakan, dan air sedang kering karena musim panas.

Adam memburu, ke oase itu. Dalam keadaan campur aduk, sebelum ia kenal perasaannya: aku rindu. Rindu akan seseorang yang bisa diajak cerita dan berbagi. Soal keluh kesah dunia, yang ternyata tak semanis surga. Lalu mereka beradu mata, berpeluk mesra, berpagutan tanpa ampun. Seolah Adam telah memendam duka mendalam, dan melepasnya dalam sekali pertemuan.

“Kemana saja kau, Hawa?”
“Tidak tahu, Adam. Aku tidak ingat apa-apa semenjak buah itu kita makan.”
“Ah, sudahlah, yang penting temani aku saja ya. Disini sepi dan gersang. Semua mesti diusahakan, dan tidak bisa tinggal minta seperti di surga.”
“Tidak apa, Adam. Lebih baik begitu. Tidakkah bosan ketika di surga yang ada cuma hamparan kebahagiaan? Yang mana saking bosannya, kita minta Tuhan menyediakan tempat bercocok tanam. Agar kita sedikit berpeluh menanam padi dan tanaman, melihatnya tumbuh berkembang di musim-musim tertentu, lalu memetiknya ketika panen, dalam keadaan girang yang sangat. Padahal sadarkah, kita bisa langsung minta nasi kalau mau? Nasi dan lauk pauknya yang lengkap.”
“Ya, Hawa. Di dunia ini memang ada baiknya juga. Karena kehendak dan kenyataan selalu bersinggungan. Di surga, kehendak adalah sama dengan kenyataan. Yang kita mau adalah yang terjadi. Tapi disini, anehnya, ada nikmatnya juga demikian. Karena tugas kita tak henti-hentinya mempersatukan yang hendak dan yang nyata.”
“Jika demikian, mari kita mulai, Adam. Kita perpanjang usia, kita bercocok tanam dan pertahankan hidup kita. Dan terpenting, lanjutkan keturunan dengan beranak pinak.”

Demikian Adam dan Hawa hidup bersama. Bersama mempersatukan apa yang nyata dan apa yang dikehendaki. Mereka belajar tentang seluk beluk dunia, dan terkadang menjadi takut membicarakan surga. Adam tak takut lagi dunia, dan surga menjadi masa lalu yang menjadi kenangan mereka berdua. Hingga akhirnya, Adam melihat wanita. Bukan, bukan Hawa yang ia maksud. Tapi seorang berkulit legam, yang mana akhirnya mereka kenalan sambil merasa ada keanehan. Adam mendadak kenal manusia lain, selain Hawa yang ia muliakan.

Namanya, ia tak tahu namanya siapa. Tapi Adam menamai dengan Zulaikha. Bersama Adam dan Zulaikha berburu rusa, sementara Hawa bercocok tanam. Menjelang petang mereka pulang, bertemu di gubuk yang terbuat dari ranting-ranting. “Hawa, kenalkan, ini Zulaikha. Aku menemukannya di hutan tadi. Ia kebingungan dan ketakutan. Bolehkah kita menampungnya?” Hawa membolehkan, tapi ia juga merasa ada keanehan. Adam ternyata bukan satu-satunya manusia. Ia kenal lainnya, yang sejenis ia. Yang berarti bisa bersama Adam melanjutkan keturunan. Ia tak kenal suatu perasaan aneh dalam dirinya, yang di sisi lain tak ingin Zulaikha ikut serta.

Esoknya Adam menemukan lagi, wanita berambut pirang di hutan dekat gua. Tampak kebingungan, Adam bertanya namanya. Lalu dijawab, “Europa”. Matanya biru dan kulitnya putih. Adam mengajak berburu rusa, dan kemudian membawanya pulang. Zulaikha dan Hawa terkejut. Terkejut melihat manusia lainnya, dan terkejut karena ada bagian dari diri mereka yang tak mau Adam membagi perhatiannya.

Begitu kemudian setiap harinya, Adam membawa pulang wanita demi wanita. Ada yang ia temukan di pinggir sungai, kaki gunung, hingga di dahan pepohonan. Berkulit warna beda-beda, dan membuat Adam tertarik dengannya. Ia membawa pulang semuanya, satu per satu, hingga akhirnya rumah rantingnya ramai dengan banyak wanita. Bergantian pula masing-masingnya menemani Adam berburu rusa. Sementara Adam berburu rusa, yang lain bisa berburu hewan-hewan yang lebih jinak seperti kambing atau babi. Lebih banyak yang Adam mesti nafkahi. Terkadang yang satu merengek, yang satu sedang ingin disetubuhi, yang satu sedang ingin Adam memijiti dan bersikap romantis.

Hawa sering termenung sendirian. Meratapi nasibnya yang mengherankan. Ia tak berhenti bertanya pada Tuhan, kenapa Adam tak jadi temannya seorang? Perhatiannya jadi terbagi, pada wanita-wanita yang entah darimana. Hawa berteman baik dengan semua, dengan masing-masing wanita. Tapi selalu ada batin yang tergurat. Ketika Adam memberi makan bagi semua, atau mengistimewakan satu darinya, atau kala bersetubuh dengan wanita lainnya.

Hingga akhirnya Hawa tak tahan, dan bertanya pada Adam, “Aku tak tahan. Melihat kau berbagi dengan semua. Padahal aku datang untuk menemanimu seorang. Dan tentu dengan harapan kau menemaniku seorang pula.” Adam berkata tenang, “Hawa, apakah kau akan membiarkan wanita yang terbujur sendirian, kebingungan tak tahu kawan? Bagaimana jika ia dimangsa hewan buas?”

Hawa tak menjawab. Tak berdebat. Karena ia tahu Adam ada benarnya. Tapi ia juga tahu perasaannya mengatakan ada yang salah. Hingga akhirnya Hawa pergi tanpa pamit. Meninggalkan wanita-wanita yang sedang tidur nyenyak bertumpukan di gubuknya yang sekarang sudah terbuat dari kayu yang kokoh. Adam entah dimana, ia tak peduli. Hawa pergi mengendap. Pergi entah kemana yang iapun tak tahu harus kemana. Yang penting jauh darinya, dari Adam yang tiada lagi membahagiakannya.

Hawa berjalan jauh sudah. Berhari-hari, berpetang-petang, bersenja-senja. Melampaui gunung terjal, sungai deras, dan sengat panas. Hingga akhirnya ia menemukan pria berkulit legam, yang ia keheranan karena mengingatkannya pada Adam. Ia berkenalan, namanya, “Jamal”. Jamal mengajak Hawa menemaninya, tapi Hawa menolak. Ia meneruskan perjalanan entah kemana, dan hatinya hanya teringat Adam.

Di jalan Hawa bertemu banyak pria-pria lainnya. Kulitnya putih, ada yang kuning juga. Ada yang bermata sipit, ada yang bermuka bintik. Tapi Hawa terus berjalan, sambil sesekali mencari air atau membunuh hewan. Berharap ia bisa menemukan Adam sendirian di ujung dunia. Adam yang pertama kali ia temukan sendirian dan berharap akan bersamanya sendirian pula. Hingga akhirnya, dalam suatu momen istirahat, ketika tidur nyenyak ia terjaga pelan-pelan. Dan seperti biasa, ia selalu memanggil Adam dalam bisikan. Tapi sontak sekarang ia tak berkubang lama dalam kenangan. Ia ingat bahwa pria-pria yang ia temui, juga mencari teman. Teman yang rupanya, barangkali, wanita-wanita yang sekarang sedang mendiami rumahnya dengan sesak. Wanita yang ditemukan Adam terlantar dan telanjang. Demikian ia sadar bahwa Tuhan menurunkan semuanya berpasangan. Berpasangan hanya jika mereka, wanita-wanita yang tak tahu menahu dan kebingungan itu, tidak terburu-buru memenuhi ajakan Adam untuk mencari aman. Mereka mesti berjuang ke ujung dunia, dan tak terbujuk rayuan Adam. Adam yang tak mau peduli luasnya dunia. Atau membiarkan wanita-wanita itu melihat luasnya dunia. Dunia yang sebenarnya diciptakan agar wanita masing-masing bisa menemukan tempatnya.

Hawa melanjutkan perjalanan. Mengubur Adam dalam kenangan.




sumber gambar: http://goldenstate.files.wordpress.com/2008/12/rubens_-_adam_et_eve.jpg
Continue reading

Sunday, January 10, 2010

Baik - Buruk

Baik - Buruk
Dulu dalam satu kuliah dari Pak Slamet di Extension Course Filsafat UNPAR, saya pernah mendapati satu pernyataan (atau pertanyaan) yang cukup membuat saya merenung-renung hingga sekarang: Bagaimana posisi baik-buruk itu sebenarnya?

1. Baik-buruk itu dualisme. Saling mengadakan.
2. Buruk adalah cacat dari baik, sehingga kebaikan adalah utama.
3. Manusia terlahir bebas. Baik-buruk adalah soal kesepakatan.

Saya awalnya, karena banyak membaca Sartre. Setuju yang nomor tiga. Menurut saya itu Sartrean sekali: "Man are condemned to be free". Jika Dostoyevsky bilang, "Jika Allah tidak ada, semuanya boleh.", Sartre bilang, "Manusia boleh melakukan semua, maka itu Allah tidak ada." Artinya, segala baik-buruk, adalah soal bagaimana manusia memutuskan. Mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup yang disediakan. Dengan demikian sepaket dengan konsekuensi etisnya. Pada akhirnya saya tidak bertahan lama dengan nomor tiga ini, karena paradoks semantik Sartre. Ia mengatakan manusia bebas etika, tapi kemudian mengatakan, "Manusia yang baik adalah yang bertanggungjawab pada pilihannya." Berarti ia juga punya batasan baik-buruk, dong?

Saya lama berpegang pada nomor satu akhirnya. Saya percaya, bahwa dunia ini tetap berjalan, karena baik dan buruk berdinamisasi. Saling mematikan sekaligus saling mengadakan. Demikian dunia ini diciptakan seolah-olah hanya tempat pertarungan antara baik dan buruk, yang mana tidak boleh ada satu yang mati. Seperti Partai Golkar memelihara dua partai lainnya di era Orba. Seperti kiai yang mendadak akan kehilangan makna dari setiap pekerjaannya, jika kita membayangkan kejahatan telah terbasmi semua. Maka tidak ada yang salah jika kita berbuat buruk, karena kita memberi jalan untuk berbagai kemungkinan timbulnya kebaikan. Jika demikian tak perlu ada surga-neraka, pahala-dosa. Semua fair dan saling membantu. Yang berpahala ada karena yang berdosa. Tidakkah ya, itu terasa masuk akal? Dan membuat mereka, para pengumpul pahala yang merasa diri mulia, sesungguhnya tak lebih derajatnya dari para pendosa?

Belakangan saya mulai melirik nomor dua. Nomor yang dulu saya anggap, religius dan terlalu naif. Nomor yang, ah, mungkin saya tidak akan pilih untuk waktu entah kapan. Karena, oh, agama sekali. Kurang keren, kurang radikal. Tapi tendensi itu mengarah kesana, mengarah pada jangan-jangan: memang yang ada cuma kebaikan. Bahkan segala keburukan, juga demi kebaikan, juga untuk kebaikan. Seperti kata teman saya, Sutrisna: segalanya mengarah pada kebaikan. Secara logika, bisakah dibalik? Mari berandai-andai bahwa yang ada cuma keburukan. Bahkan segala kebaikan, juga demi keburukan, juga untuk keburukan. Saya kira itu boleh juga, hanya bagi saya terasa kembali seperti eksistensialisme Sartrean: bahwa kita, semua, manusia, hanyalah gairah tanpa makna.

Bahwa menganggap hidup ini pada dasarnya buruk dan maka itu baik juga tak lebih sebagai aksentuasi buruk semata, sama sekali tidak salah. Dan sialnya, ini akan mengembalikan kita pada pilihan khas Sartre (mau menganggap hidup ini hakekatnya kebaikan atau keburukan?). Ujung-ujungnya, bagi saya sekarang: Saya merasa tidak usah menunjuk salah satu dari topik lemparan Pak Slamet. Karena sungguh, ternyata, itu bukan pilihan ternyata. Saya terjebak. Bagi saya, yang penting dari segala perbuatan, adalah totalitas dan kecintaan. Karena perputaran dunia selalu membutuhkan itu semua. Ketika totalitas tiada, dan cinta hanya sebersit saja, maka baik buruk betul-betul tak lebih dari jebakan norma-norma yang gelap dan kaku. Ketika tukang sapu jalanan bangun pagi dan mulai menyapu pada jam yang ditentukan, lalu dia menikmati pekerjaannya seperti halnya ia tak peduli apakah kemudian dapat uang atau tidak. Maka ia telah melampaui baik-buruk secara etikal. Meski kemudian ada orangtua ambisius yang anaknya disekolahkan tinggi-tinggi lantas menasehati, "Kamu sekolah yang tinggi, agar jangan jadi penyapu jalanan." Maka si penyapu, barangkali tidak akan merasa dirinya buruk, jika mendengar ucapan orangtua itu.

Ketika saya mengajar gitar dengan sungguh-sungguh, menulis dengan sepenuh hati. Maka saya berhenti mempertanyakan apakah perbuatan saya baik atau buruk. Bahkan mungkin ketika saya membunuh pun. Saya akan mempertanyakan baik-buruk, jika saya lepas dari totalitas, lantas hati nurani meragukan. Dan soal hati nurani, saya tak dapat berbicara apa-apa.

Continue reading