Thursday, December 30, 2010

Hadiah Penalti

Hadiah Penalti
Peluit berbunyi sesaat setelah Arif Suyono menyundul bola dan mengenai tangan bek Malaysia. Penalti! Wasit asal Australia menunjuk titik putih. Stadion meledak. Gembira karena konon penalti adalah separuh gol. Bagaimana tidak, gawang sebesar demikian hanya tinggal diceploskan dari dua belas meter saja.

Kedudukan saat itu 0-0. Menit ke-17. Final leg kedua Piala AFF dimana Indonesia mesti menang dengan selisih empat gol, akibat di leg pertama kami ditundukkan Malaysia 3-0 di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. O, coba tengok gelegak para suporter di sini: Di sekitar tempat saya berdiri. Mereka terlalu haus untuk diberi minum setetes air. Dahaga mereka ingin dipuaskan oleh anggur yang memabukkan. Dan anggur itu berjarak cukup jauh untuk diraih. Tapi kami bisa, kami sanggup. Semua optimis Indonesia mampu membalas kekalahan dengan jumlah gol yang lebih banyak sehingga mampu merengkuh trofi. Anggur yang memabukkan itu.

Penalti, dalam hampir sebagian besar peristiwanya, sering disebut sebagai "hadiah". Pers atau komentator, menyebutnya "hadiah penalti", atau "wasit menghadiahkan sebuah penalti". Komentator Inggris pun demikian adanya, menyebut penalti sebagai "award", atau "referee has awarded a penalty". Ini menunjukkan betapa penalti, bukanlah seperti kausalitas kerja dan uang. Dimana orang yang bekerja, ia mendapatkan uang sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Penalti adalah pemberian lebih, bonus, insentif, THR, atau kue di hari Natal. Satu-satunya usaha kerasmu adalah membuka amplop atau mengambil pisau dan memotong kue, untuk merengkuh hadiah tersebut sepenuhnya.

Firman Utina, skipper timnas sekaligus algojo penalti, rasa-rasanya tak berpikiran sama. Ini penalti tak semudah membuka amplop dan mengambil pisau. Ini penalti bukan hadiah. Ini penalti adalah jutaan harapan bangsa yang dibebankan pada pundaknya. Ini penalti bagai Yudhistira berjudi mempertaruhkan istrinya, Drupadi. Firman sudah berkonsultasi dengan kawan-kawannya sebelumnya, soal siapa yang layak untuk menyepak bola dua belas pas ini. Christian ogah, Arif ogah, Irfan juga. Semua percaya Firman. Semua menggantungkan semua pada Firman. Dan Firman tiada pilihan, ia mesti ambil.

Siapapun yang menyebut penalti sebagai hadiah, pasti lupa bahwa hadiah tak semata-mata berisikan kegembiraan. Kau bisa mendapatkan bubuk anthrax, bom, ataupun kepala binatang. Kita tahu Roberto Baggio, di Piala Dunia 1994, adalah bintang Italia, sang penggocek bola ajaib. Namun apa yang terjadi kala ia menendang penalti adalah seperti Rapunzel dipangkas rambutnya: tak ada daya magi, bola melambung ke angkasa. Yang terakhir tentu kita ingat Asamoah Gyan di Piala Dunia 2010. Ia bomber utama Ghana: agresif, dan selalu sukses menggolkan dari titik putih. Tapi apa yang terjadi ketika perempatfinal melawan Uruguay adalah hal yang sulit sekali dipahami oleh akal sehat manusia. Menit 120, Ghana dihadiahi penalti akibat Luis Suarez menahan bola dengan tangan. Gyan melangkah yakin, dengan asa Afrika berada di pundaknya. Namun sepakannya gagal, membentur mistar dan melayang ke belakang gawang. Ghana akhirnya kalah adu penalti.

Firman mengambil ancang-ancang cukup jauh. Gemuruh stadion selaras dengan gemuruh batinnya. Khairul Fahmi, kiper Malaysia, posisinya bak tikus yang berada di pojokan, menghadapi kucing kelaparan. Sejenak ia berdoa, "Ya Tuhan, tutuplah kupingku dari gelora suporter lawan, dan biarlah keheningan membimbing gerak jatuhku ke arah mana." Tendangan Firman diarahkan ke kanan bawah, dan Fahmi sejalan dengannya. Bola tak terlalu keras, sehingga bola tetap dalam dekapan kiper Malaysia tersebut. Stadion langsung bungkam, nyeri, dan kecewa. Mereka berharap Firman membuka pintu menuju lumbung gol Indonesia. Apa mau dikata, beban di pundak memberatkan kelenturan kakinya. Beban di pundak memalingkan segenap konsentrasinya. Sesungguhnya ia ingin segera mendengarkan gempita bangsa menyanyikan yel-yel kebanggaan Garuda. Tapi ia tak bisa melampaui dua belas meter pun untuk mencapainya. Firman gagal, Indonesia tetap menang. Tapi Malaysia yang juara.

Sesungguhnya penalti, jangan-jangan, merupakan hadiah manis yang masih netral untuk diperebutkan. Asumsi bahwa penalti adalah hadiah bagi kubu algojo, adalah menyesatkan. Sesungguhnya ketika sang penendang gagal menunaikan tugasnya, hadiah itu menjadi milik kubu penjaga gawang. Bukan semata-mata karena gol gagal terjadi, namun jua bagaikan gladiator yang tadinya bersimbah darah hendak kalah: mereka sukses mengayunkan tenaga terakhirnya untuk justru membunuh lawan dalam sekali tikam.

Kawasan Gelora Bung Karno, 29 Desember 2010. Indonesia gagal juara, tapi saya tetap bangga.
Continue reading

Monday, December 27, 2010

Catatan Harian Seorang Suporter: Drama Antrian Enam Belas Jam

Catatan Harian Seorang Suporter: Drama Antrian Enam Belas Jam
Awalnya, saya tidak ada niat mengantri tiket Final Piala AFF, sehubungan dengan janji kawan yang sanggup menyediakan tiket via kenalannya. Ternyata janji itu mendadak batal, akibat distribusi tiket dari PSSI yang sama sekali beda dengan babak-babak sebelumnya. Kawan saya bilang, singkatnya, “Yang sekarang beda, kita mesti ngantri.” Saya jawab, “Oke, ga masalah, dari abis maghrib gimana?” “Yah, jangan abis magrib banget lah, jam dua belas aja ya?” Singkat kata, kami mencapai kata sepakat untuk antri sejak jam dua belas malam. Sebagai informasi, loket konon baru dibuka antara jam sembilan atau jam sepuluh pagi. Malam itu sudah lewat jam dua belas ketika kami tiba di parkiran loket yang terletak di pintu utama. Ternyata antrian sudah cukup panjang, sekitar dua ratus meter. Tiket yang dilepas seharga 50.000 Rupiah itu telah ditunggui orang bahkan dari sejak jam sembilan malam.

Kami, berempat jumlahnya, mengampar beralaskan koran. Saya pribadi sulit tidur nyenyak, karena perasaan campur aduk. Takut barang hilang, takut antrian tersalip, kadang terganggu oleh teriakan tukang dagang, ada juga perasaan deg-degan membayangkan besok apa yang terjadi ketika loket dibuka. Keakraban antar suporter sering terasa baik lewat guyonan maupun berbagi perasaan soal distribusi tiket yang kurang baik dan situasi PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin Halid. Dari awal saya mengantri, saya tahu bahwa para pengantri ini murni ingin menyaksikan tim kesayangannya, tidak ada satupun pikiran dalam benak saya yang mengatakan bahwa para suporter disusupi perusuh (seperti yang biasa dituduhkan jika ada kerusuhan suporter). Kawan saya melontarkan guyonan satir, ”Aneh yah, malam ini timnas maen lawan Malaysia di Bukit Jalil, tapi kok kita ngantri di Gelora Bung Karno.” Iya, sebagai informasi, final Piala AFF berlangsung dua kali. Yang pertama di kandang Malaysia tanggal 26 Desember, yang kedua barulah di Gelora Bung Karno tanggal 29 Desember.

Matahari terbit, antrian mulai bergerak sedikit demi sedikit. Suporter sangat solider dengan berani meneriaki mereka yang kelihatan menyalip. Menjelang jam sembilan pagi, sudah kelihatan ada beberapa suporter paling depan yang masuk mengambil nomor antrian. Sebagai informasi, mekanisme pembelian tiket ini sangatlah rumit dan sama sekali tidak mengakomodasi jumlah massa yang berlimpah. Tanggal 26 Desember, menurut jadwal, adalah saat dimana kita mengantri dua tahap. Pertama demi nomor antrian, kedua, nomor antrian ditukar kupon. Kupon? Ya, dan kupon barulah ditukar tiket asli pada tanggal 28 Desember. Ribetkah? Iya, sangat ribet, terutama jika mengingat antrian tiket bioskop jauhlah lebih sederhana. Terlebih jika mengingat PSSI sebenarnya bisa mempermudah distribusi tiket lewat agen-agen yang disebar di luar stadion atau memaksimalkan penjualan online yang sebenarnya bukan sesuatu yang sulit.

Menit demi menit menjelang jam sepuluh, suasana antrian memanas. Terutama disebabkan udara Jakarta yang panas dan situasi antrian yang sangat berdempetan hingga berjongkok pun sulit. Setiap antrian bergerak, seringkali tidak ada keteraturan sehingga beberapa kali terdengar ada keributan di antrian belakang saya. Polisi atau keamanan cuma kelihatan satu-dua, sehingga mustahil melakukan penertiban terhadap ribuan suporter. Antrian mulai kacau ketika saya merasakan adanya dorongan dari belakang yang menyebabkan kawan-kawan sebarisan hampir terjatuh. Suporter mulai tidak sabar karena oksigen menipis, “Buka, buka, buka loketnya!” Begitu teriak mereka. Merasa volume suporter sudah sesak, beberapa orang merusak pagar pembatas semata-mata agar lebih leluasa. Saya ingat ada perempuan di depan yang nyaris kehabisan napas, ia selamat justru karena lolos ke pagar pembatas yang dirusak itu. Akhirnya, karena sayapun nyaris kehabisan napas, saya tak berpikir lagi untuk tetap di antrian, tapi fokus bagaimana caranya untuk selamat dari kerumunan. Ternyata antrian memang sejatinya sudah bercerai dan orang-orang di depan terlihat sedang menghancurkan pagar serta kursi-kursi. Saya mengikuti kemana arah suporter berlari, dan ternyata menemukan loket yang kosong! Kosong entah kenapa, entah kemana si penjaga, yang bikin emosi saya juga tersulut. Membuat saya bisa memaklumi anarkisme para suporter karena saya pun merasa membakar loket adalah ide yang bagus! Antri dua belas jam dengan jarak ke loket cuma sekitar dua ratus meter, ternyata hanya disambut loket kosong.

Usut punya usut para penjaga loket sudah kabur karena situasi tak terkendali. Kenapa tak terkendali? Karena pengamanan sedikit. Kenapa sedikit? Pasti karena PSSI pelit, tak mau bayar keamanan. Pasti karena PSSI tak belajar dari kerusuhan penjualan tiket sebelumnya. Kami juga sering berteriak, ”Petugas, tolong atur kami!” Menunjukkan bahwa kami tak berdaya oleh kekuatan yang kami buat sendiri. Jam demi jam berikutnya adalah neraka, karena kami dibuat bingung oleh berbagai penantian yang tak pasti. Ada yang tetap memilih bertahan di loket, ada yang memilih merangsek ke stadion, dan ada juga yang pulang saja karena situasi mulai mengkhawatirkan. Harapan tertinggi datang ketika polisi mengatur suporter untuk berbaris bergandengan sehingga barisan menjadi tertib. Itu terjadi sekitar pukul satu, tanpa kita tahu barisan ini berujung kemana.

Ternyata, panitia dan polisi menggiring kami masuk ke tribun dan menyaksikan hijaunya lapangan GBK. Di tribun, ya barisan yang manis itu pecah kembali karena penonton jadinya duduk-duduk saja secara bebas. Di lapangan, terlihat beberapa gelintir polisi saja, yang tak lama kemudian dikerumuni massa lagi. Entah kenapa, mungkin karena mereka kembali menjanjikan tiket. Saya sendiri sudah kelelahan akibat mengantri selama hampir enam belas jam: berpanas-panas dan bergencet-gencetan. Saya memilih kursi di Royal Box, yaitu kursi tempat SBY dan Nurdin Halid biasa duduk. Di kiri kanan suporter beragam tingkahnya, ada yang duduk tertib, ada yang menghancurkan kursi. Sedangkan pemandangan di lapangan seperti pasar Gasibu, orang dimana-mana tak teratur dan ikut kemanapun yang menjanjikan kupon atau tiket.

Pada titik ini saya sudah menyerah. Menyerah dalam artian, saya tidak berminat lagi tiket final Piala AFF, karena saya sudah mendapatkan lebih dari sekedar tiket. Saya belajar soal nasionalisme, soal solidaritas, soal kesabaran, soal kebobrokan sistem, dan soal budaya mengantri. Dari situ saya berpikir, sebenarnya apa yang saya cari di sini? Tiket kah, atau euforia kah? Karena jangan-jangan setiap persona yang menonton di stadion, mereka tidak hendak menyaksikan sepakbola dalam arti sebenarnya. Menyaksikan sepakbola jelas lebih nyaman di televisi, oleh sebab sudut pandang yang beragam dan adanya tayangan ulang. Tapi kualitas visual objek saja tidak cukup, manusia perlu merasakan gairah untuk merangkul objek itu ke dalam diri. Dan gairah sejati barangkali ketika mata tidak punya halangan apa-apa terhadap objek yang ditujunya. Kita bisa ikut merasakan penderitaan korban Merapi via televisi, tapi mereka yang datang kesana tidak hanya ingin membantu semata, tapi juga ingin merasakan gairah sejati berada dekat dengan objeknya. Tidak terhalang layar, tidak terhalang teks berita. Demikianlah pengindraan menjadi penting, menjadi suatu medium kuat yang mampu menghantarkan listrik kehidupan ke batin kita. Terima kasih para suporter, sesungguhnya gairah sepakbola tak hanya terjadi kala menyaksikan langsung jagoan kita berlaga, tapi juga ketika kita semua bersatu mengekspresikan cinta dan benci sama-sama.

Ditulis pasca kekalahan timnas 0-3 dari Malaysia yang saya tidak mau membahasnya.
Continue reading

Tuesday, December 21, 2010

Tiki Taka

Tiki Taka
Bayangkan sebuah orkestra bernama Barcelona. Semua dimulai dari dirigen bernama Xavi. Ia pemimpin rombongan, dan seluruh pemain menunggu aba-abanya. Tongkat konduktor ia angkat tanda bersiap, para pemain bergerak mengangkat instrumennya masing-masing. Biasanya segalanya dimulai dari denting harpa Busquets. Ia membunyikan intro ringan, semata-mata agar suasana menjadi terbiasa. Di bar kedelapan Busquets menaikkan volume. Forte. Tak lama kemudian berbunyi jua instrumen lain. Suasana menjadi ramai, riang, dan memukau. Iniesta membunyikan flute, muncul sesekali bagaikan balutan improvisasi. Suaranya bagai desah angin di pegunungan. Xavi menunjuk Villa, dan ia pun memeragakan permainan brass yang mahir. Meliuk-liuk bagai wanita di klab malam. Jangan sampai membosankan, kawan, kata Xavi sambil meminta Puyol dan Pique mendeciskan cymbal. Alves, giliranmu, mainkan cello. Rambatilah sudut ruangan dengan jangkauan nadamu yang luas dan seksi. Pedro turun kau kemari, buang partitur itu, dan mainkan biola alto untuk membuat penonton geregetan. Geregetan karena sekeras-kerasnya kau bermain, tetap tak akan setajam sayatan sang violinis Messi. Messi sang Medusa yang tatapannya bisa bikin kau membatu.

Dengarkanlah kemeriahan itu, seperti Tchaikovsky dalam Waltz of The Flowers. Mereka menari, mereka gembira, mereka berbunga-bunga.

Akhirilah Overture ini segera, wahai sang komposer, Guardiola. Dada kami sudah gegap gempita menahan kekaguman yang maha. Karya berjudul tiki-taka hanya sempurna dimainkan oleh anak-anak Katalonia. Dari La Masia, untuk dunia.

Continue reading

Monday, December 20, 2010

Del Piero dan Kesetiaan

Del Piero dan Kesetiaan
"... benda yang akrab ke dalam hatiku -dan sebab itu ia punya arti bagiku- cuma jadi benda yang tiap saat bisa dipertukarkan dengan benda lain." (Goenawan Mohamad menginterpretasi Hegel tentang ein sich in sich selbs bewegende Leben des Todes)


Sepakbola Italia pernah menorehkan catatan kelam tahun 2006 silam. Namanya calciopoli, atau skandal pengaturan skor yang melibatkan banyak klub besar Seri A, dan salah satunya adalah klub favorit saya, Juventus. Juventus dihukum degradasi ke Seri B dan memulai kompetisi dengan minus 30 poin. Gelar scudetto tahun 2005 dan 2006 pun dicabut. Kover depan koran BOLA saat itu, saya ingat, judulnya EKSODUS, yang menunjukkan adanya hijrah pemain besar-besaran dari Juventus ke klub lain. Alasannya apa lagi, kalau bukan gengsi yang turun karena sebagian besar pemain bintang tersebut menolak main di kasta kedua. Zlatan Ibrahimovic, Patrick Vieira, dan Fabio Cannavaro adalah contoh tiga bintang yang memutuskan keluar dari Juventus. Yang tinggal tidak banyak, dan salah satunya adalah pemain favorit saya, Alessandro Del Piero.

Del Piero, kelahiran 9 November 1974, bukanlah produk asli akademi Juventus. Ia baru bergabung tahun 1993 dari klub Padova. Karirnya gemilang sejak musim debutnya, dan sejak itu ia hampir selalu menjadi pilihan utama pelatih manapun yang menukangi Juventus. Bulan Oktober lalu, Del Piero merayakan 17 tahun pengabdiannya bersama Juventus, yang mana menjadikan ia sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub tersebut dengan 279 gol. Sekarang Del Piero berusia 35 tahun, masih menjadi starter, dan juga bertindak sebagai kapten tim.

Del Piero, yang pernah menjuarai Piala Dunia 2006 bersama Italia, bukanlah pemain yang tak laku. Ia banyak diiming-imingi klub besar untuk pindah, apalagi kalau bukan karena kemampuannya yang mumpuni. Dunia sepakbola modern memang mengenal kontrak sebagai pengikat, tapi juga mengenal kontrak sebagai hiasan semata. Sering sekali pemain pindah karena klub baru mengimingi gaji besar, dan tidak memedulikan kontrak yang mengikatnya. Teken kontrak hanya sebatas pencitraan pada fans, bahwa ia loyal. Tapi loyal dalam batas waktu tertentu, sebelum ada tawaran yang lebih menggiurkan.

Di tengah kenyataan kontrak bukan lagi sesuatu yang bisa dihormati, maka Del Piero adalah contoh yang tersisa dari masih berharganya sebuah loyalitas. Tentunya masih banyak contoh lain, Steven Gerrard misalnya, atau Alex Ferguson. Tapi Del Piero punya nilai lebih bagi saya, semata-mata karena Juventus pernah terpuruk dari hingar bingar kompetisi sepakbola. Dan Del Piero, dalam statusnya sebagai pesepakbola yang memenangi Piala Dunia, menolak hingar bingar itu, dan memilih untuk jatuh pada kesetiaan. Belum cukup bukti loyalitasnya? Del Piero gajinya saat itu dipotong, karena kenyataan klub kekurangan uang, akibat sponsor ogah menemani mereka di Seri B.

Mari memetik hikmah sedikit dari cerita Yudhistira dari kitab Mahabharata. Ketika perang Bharatayudha berakhir, Pandawa dan Drupadi menuju nirwana secara ruhani. Tapi Yudhistira tertahan, bersama anjingnya. Dewa Indra mengajak Yudhistira masuk nirwana, tapi tidak dengan anjingnya. Yudhistira menolak, ia beranggapan bahwa lebih baik ia tidak memasuki sorgaloka yang sudah menjadi takdirnya daripada harus membiarkan anjingnya menunggu di luar sambil menderita haus dan lapar, sedangkan ia sendiri bermewah diri di dalam nirwana. Yudhistira mengatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati anjingnya hanya demi surga. Tiba-tiba, anjing tersebut berubah menjadi Dewa Dharma. yang langsung memeluk Yudhistira tanpa kata-kata. Yudhistira pun mencapai moksha.

Saat ini, mengutip interpretasi GM di awal artikel, banyak sekali hal yang berkaitan dengan sejarah personal, dilego demi uang. Maksudnya, laptopku ini, tempat aku menuliskan banyak hal, curhat, dan barangkali ikut membentuk pribadiku, ketika ada yang tertarik mau beli, maka sesungguhnya ia tak lebih dari barang biasa yang bisa diperjualbelikan. Demikian halnya gitarku, celana dalamku, kaos-kaosku yang sudah robek, yang mana ia pernah menjadi bagian esensial yang turut serta "mendagingiku", jika saatnya dilego, untuk sebuah harga, maka pergilah karena ia cuma benda mati.

Del Piero bagi saya adalah figur yang kurang populer dalam industri sepakbola saat ini. Karena ia, membela klubnya oleh sebab hal yang amat "remeh", yaitu kenyataan bahwa Juventus adalah tim yang secara emosional terikat dengannya. Yang "menubuhinya" dari ia bukan apa-apa sampai jadi legenda. Ia tak mau dilego untuk harga berapapun. Dan kesetiaan, pada akhirnya, barangkali, baru terukur jika ada tawaran sekeping surgaloka. Del Piero menolak kemewahan Seri A, menolak gemerlap klub besar di luar sana, ia ingin tinggal saja bersama anjingnya.

Continue reading

Wednesday, December 1, 2010

Mengukur Kualitas Keimanan David Villa

Mengukur Kualitas Keimanan David Villa
"Bola itu bundar, kita tidak akan tahu jatuh dan memantul kemana."


Saya tidak tahu siapa yang mengucapkan itu, tapi barangkali kita semua tahu kalimat itu sangat terkenal. Seperti halnya kalimat tauhid, saya asumsikan kalimat itulah yang menjadi pijakan keimanan pesepakbola manapun. Sehebat-hebatnya strategi pelatih, sejago-jagonya kemampuan pemain, jika mengingkari bahwa bola itu bundar, maka dalam kegagalannya ia akan jatuh pada jurang yang pahit dan tersesat disana. Namun kalimat "tauhid sepakbola" itu adalah penyelamat sejati, ketika aktor sepakbola mengalami kekalahan dan kejatuhan yang pastinya lumrah di roda kehidupan. Mereka tahu bahwa bola yang bundar adalah realitas sejati yang menyebabkan jatuh dan memantulnya tak pernah mampu ditebak kemana arahnya. Dan karena itu, pantulan yang tak diketahui adalah ambang batas terakhir alasan untuk sebuah kegagalan yang tak bisa dijelaskan.

Kita semua tahu Filippo Inzaghi adalah fenomena sepakbola. Bukan karena kemampuannya yang mumpuni, tapi oleh sebab ia diberkahi dan "dipilih Tuhan" untuk seolah mengetahui tentang arah pantulan bola. Bola sering sekali memantul pada Inzaghi di tengah kemelut serumit apapun. Dan atas "keimanannya" ini, hingga usia hampir empat puluh ia masih rajin mencetak gol ke gawang tim sekelas Real Madrid sekalipun. Kita jua tahu tragedi Robert Green di babak penyisihan Piala Dunia 2010 lalu. Kiper Inggris tersebut gagal menangkap bola tendangan pelan gelandang AS, Clint Dempsey. Ia bermaksud memeluk erat, tapi bola tetap bergulir masuk ke gawang lewat sela-sela kakinya. Tragis, tapi bundarnya bola adalah alasan terakhir mengapa ia "tetap dimaafkan". "Seandainya bola itu bentuknya kotak, pasti bisa saya tangkap," begitu kira-kira saya menebak isi kepala Green.

Lalu mari kita layangkan pikiran ke beberapa hari lalu, ketika sejarah mencatat kemenangan besar Barcelona atas Real Madrid 5-0. Kita semua menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa orang bodoh pun tahu, Barcelona bermain lebih hebat dari El Real dan tidak bisa dianggap kemenangan yang berbau keberuntungan. Mereka menang dengan elegan dan tidak memberi ruang sedikitpun. Ketika pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, ditanyai tentang kekalahan timnya, ia cuma menjawab bahwa timnya memang pantas kalah, karena tim lawan bermain lebih baik. Tidak ada alasan "kalah beruntung" disana, apalagi disebabkan oleh bundarnya bola.

Tapi mari kita mengingat gol kedua Barcelona yang lahir dari kaki Pedro Rodriguez. Di menit 18 itu, tiki taka pemain Barcelona sukses membuka ruang David Villa di sisi kanan pertahanan Real Madrid. David Villa lalu menggiring bola, dihalangi oleh Sergio Ramos. Ia membuat gerak tipu sedikit, sebelum memutuskan untuk menembak dengan kaki kiri dari sudut sempit. Bola sedikit menyentuh kaki Ramos, menyentuh tangan kiper Iker Casillas, sebelum jatuh di kaki Pedro yang menceploskan bola ke gawang kosong.

Mari kita memikirkan sejenak apa yang di kepala Villa. Ia berada dalam situasi sulit ketika menggiring bola di kotak penalti Madrid. Ia bukan pemain dengan kaki kiri yang bagus, tapi menendang dengan kaki kanan terlalu sulit. Dan ia tahu, tim dengan pelatih macam Mourinho pasti sudah tahu kelemahan lawan-lawannya. Mourinho punya ahli statistik yang konon selalu mencatat pemain lawan lebih senang pakai kaki kiri atau kanan. Jika Villa bergerak agar dapat menggunakan kaki kanannya, pasti Ramos sudah bisa menebak dan akhirnya mampu mengantisipasi. Namun kualitas keimanan Villa berkata lain, ia meneruskan pergerakan ke sudut yang lebih sempit dan melepaskan tembakan dengan kaki yang bukan favoritnya. Dan saya, yang menyaksikan kejadian itu, punya semacam keyakinan bahwa Villa mencoba keberuntungannya.

Pada situasi itu, pemain Madrid di kotak penalti ada tujuh termasuk kiper. Sedang pemain Barcelona hanya tiga, yaitu Villa, Pedro dan Messi. Villa mempunyai keyakinan luhur bahwa bola itu bundar. Seketika ia menembakkan dengan keimanan penuh, maka ia berdoa dalam waktu sangat sekejap, bahwa bola yang jatuh dan memantul akan menguntungkan timnya. Maka itu ia sepak sekuat tenaga dengan kaki yang diremehkan Ramos, juga Casillas. Semua terkejut, semua panik, dan bola, anehnya, jatuh di kaki Pedro yang mana ia dalam kawalan pemain Madrid lainnya, Marcelo.

Saya jadi ingat film Enemy of the Gates yang diperankan oleh Jude Law sebagai Vasili, seorang sniper Rusia pada PD II melawan Jerman. Ada situasi dimana ia cuma berdua dengan kawannya, tapi ia harus menghabisi lebih dari lima orang Jerman yang tengah bersantai, piket, dan mandi. Dilemanya adalah: senapan sniper tidak sama dengan rifle. Rifle memungkinkan untuk memberondong kelimanya dalam waktu singkat. Sniper hanya mampu menembak sesekali. Dan Vasili harus memilih diantara kelima itu, mana yang mesti ditembak pertama tapi tidak menarik perhatian keempat lainnya. Dengan berhati-hati ia mencoba keberuntungannya, dengan mengarahkan peluru pertama pada orang yang sedang mandi. Kenapa? Karena orang yang sedang mandi jauh di belakang keempat rekannya, dan jika ia mati duluan, maka tak akan ketahuan. Lalu Vasili mengeksekusi: Kepalanya kena, mati, dan pelan-pelan ia menembak satu per satu yang lainnya tanpa membuat kerusuhan. Vasili tahu, bahwa salah tembak, atau meleset di tembakan pertama, akan menyebabkan kelimanya jadi rusuh dan membunuhnya balik. Tapi ia mengambil resiko tidak populer, mencoba keberuntungannya, meneguhkan imannya, dan seketika ia mendapatkan hasilnya.

Dalam situasi sempit itu, Villa tak berpikir apa-apa. Ia hanya tahu dan percaya, bahwa bola itu bundar. Jatuhnya kemana ia tak punya pengetahuan, bisa ke lawan, bisa ke kawan. Tapi pilihan sedikit, dan harus cepat diputuskan. Dalam keterjepitan seringkali manusia harus melakukan lompatan iman. Dan apa yang dilakukan Villa membawanya pada ekstase dahsyat.



Untuk melihat gol Pedro tersebut, klik disini.


Continue reading

Monday, November 29, 2010

Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta

Catatan Galau Seperempat Abad: Untuk KlabKlassik Tercinta
KlabKlassik akan berusia kelima tahun ini, tepatnya 9 Desember. Untuk itu, di usia seperempat abad ini, akan saya ucapkan terima kasih bagi tempat yang selalu membantu memanusiakan saya. KlabKlassik adalah komunitas terbuka yang siapapun boleh ikut. Ia non-profit, ia jauh dari komersil, dan Insya Allah segala uang yang masuk adalah untuk menghidupi perjalanan komunitas itu sendiri. Temanya memang musik klasik, tapi jika menggeluti komunitas ini lebih jauh, ternyata yang saya punguti justru jauh lebih kaya daripada itu.

KlabKlassik adalah tempat dimana saya menemukan diri saya sebagai manusia seutuhnya. Utuh dalam artian: Syarif yang tampil sebagai Syarif. Keseharian rutinitas yang cenderung materialistik sukses menjauhkan manusia dari totalitas dirinya sendiri. Waktu diukur dengan uang, keringat diukur dengan uang, bahkan tidur pun diukur dengan uang. Seketika kala kegiatan nongkrong bersama klab mau dengan tulus dijalani, ternyata ketahuan juga bahwa ada sesungguhnya dalam hidup ini, yang lebih berharga daripada uang. Yang lebih berharga dari waktu. Yang lebih berharga dari tidur. Yang, bisa dibilang, ternyata tak seluruhnya hal mesti "penting". "Bersiul itu pun tidak penting, tapi toh menyenangkan," demikian kata Goenawan Mohamad.

Isi kegiatan klab, jika mau objektif, tak lebih dari sekedar hura-hura. Kami berbincang, membahas, ketawa-ketiwi, kadang berbau analitik-akademis yang serius tapi diseringi candaan. Tak pernah ada satu kurikulum atau aturan yang terlampau berat mengikat. Jam berkumpul pun sangat lentur dan tidak ada pengumuman yang sifatnya menekan. Semua datang seenaknya, dan tak ada yang disetrap karena keterlambatan. Barangkali yang beginilah, yang menjaga kemanusiaan manusia. Bahwa pada dasarnya manusia memang bisa dan harus diikat oleh sesuatu (jam kerja, jam tidur, norma-norma). Tapi ada kalanya ia dilepaskan seenaknya, mempunyai momen dimana tali kekang tak mengendalikannya. Di klab jua ada norma, tapi sebatas bahwa kita menjaga perasaan sesama. Tak saling menghina, tak saling menghujat, itu adalah harus dijunjung dimanapun berada. Namun sisanya kau adalah manusia yang menghirup kebebasannya barang sejenak saja dari seminggu yang penat.

Saya pernah ditanya, "Apa bedanya mendapatkan ilmu di klab dengan di kelas-kelas?" Lalu dijawab, "Di kelas, gurumu membawa 'lima', dan kau adalah 'nol'. Selesai belajar, kau membawa pulang 'lima'. Sedang di klab, andaikata ada lima orang, kita masing-masing membawa 'satu', dan 'satu' itu dibagi-bagikan sehingga masing-masing bisa sama-sama membawa 'lima'." Artinya apa, belajar di kelas dan nongkrong di klab, barangkali punya kadar ilmu yang setara. Hanya saja prosesnya berbeda. Di kelas kau akan dapati situasi dimana si guru dalam posisi serba-tahu yang harus kau patuhi. Sedang di klab kau dalam posisi memberi dan menerima yang sejajar dengan lainnya. Yang menentukan seberapa banyak pengetahuan yang kau dapat, adalah tentang seberapa banyak kau mau membuka telingamu untuk mendengarkan.

Secara spesifik, akan saya sebut beberapa contoh kepribadian yang telah memperkaya saya di klab. Yang telah sangat-sangat membantu saya menyadarkan bahwa dunia ini beragam adanya, keinginan untuk menyatukan dunia dalam satu konsep adalah konyol dan utopis belaka.
  • Tidak akan saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau hadir jauh-jauh dari Subang, hanya untuk duduk bersama kami ketawa-ketiwi belaka. Konon ia mengaku mau datang karena mendapatkan ilmu di tempat ini, tapi kenyataannya, kamilah yang mendapat pengajaran darinya, bahwa: jarak bukan alasanmu untuk malas mencari ilmu.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang menyadarkan bahwa klab bukan sekedar proyek duniawi belaka. Ia harus bersinggungan dengan situasi-situasi transenden yang menyejukkan. Seperti sedekah, silaturahmi, perbaikan akhlak, dan peduli sesama. Ketika konser-konser mulai padat, acara komunitas terlampau bikin stres, maka ada yang senantiasa mengingatkan, "Pada akhirnya, ujung segalanya adalah bagaimana kau menghargai orang lain sebagai manusia. Bukan kepentingan-kepentingan semu semata."
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, orang yang mau berjuang, dari tadinya bicara pun malu-malu, sekarang sudah mampu merealisasikan dirinya dalam performa klasik yang menuntut keberanian. Yang membuat saya sadar, sesungguhnya jika kau tak bisa dikenang Guiness Book of World Records, atau Wikipedia, atau koran-koran lokal, maka kau sesungguhnya bisa cukup dikenang di hati seorang manusia. Cukup satu, tapi berarti selama-lamanya.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, seorang akademisi yang begitu cinta mati akan pengetahuan. Deklarasinya berani, bahwa ia tak akan mengambil sepeser pun dari ilmu yang ia bagikan. Ia percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah pahala tiada putusnya. Baginya, membagikan ilmu adalah mengobati kehausan batinnya sendiri. Untungnya kami cukup paham dengan kerapkali mentraktirmu kopi.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kebersamaan yang tulus dalam suka dan terutama duka. Bahwa sahabat sejati bukan ia yang ada ketika kita bahagia dan jaya, tapi juga kala butuh dan jatuh. Ukuran-ukuran hubungan bukan lagi berdasarkan acara-acara konser yang digelar periodik, tapi di luar itu kita rajin berjumpa. Membicarakan kehidupan, membicarakan cinta, membicarakan tuhan, kebenaran, atau apa-apa yang kau tak dapatkan dalam kehidupan praktis disana.
  • Tidak akan jua saya temukan di tempat lain kecuali di klab, kesan yang selalu tertinggal dimanapun ia berada. Ada di Amerika, ada di Italia, ada di Jakarta, ataupun sibuk entah kemana, bahwa selamanya mereka dengan pancaran cintanya, turut membesarkan klab dari kejauhan. Semoga pancaran cinta klab pun sampai pada kalian yang sudah berjauhan. Insya Allah.
Masih banyak lagi keunikan yang mustahil terspesifikasikan. Ini belum termasuk para punggawa yang bersama-sama menanggung duka komunitas ini dengan gembira. Sesungguhnya cita-cita saya kali ini sederhana saja: Bahwa KlabKlassik seyogianya adalah rumah bagi mereka yang mau berteduh. Dan sebaik-baiknya rumah, bagi saya, adalah tempat dimana kau bisa berteriak seenaknya, menjadi dan menjadilah dirimu sendiri. Ketika penghuni rumah yang lain terganggu, tinggal minta maaf dan kalian bisa bergurau kembali.

Terima kasih KlabKlassik.



Continue reading

Saturday, November 27, 2010

Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi

Sepakbola Menyelamatkanku dari Alienasi

Foto diambil dari sini


Dalam tulisan ini, saya akan membela sepakbola habis-habisan. Karena semata-mata saya suka sepakbola, dan tak peduli dibilang fanatisme buta. Persoalan apakah subjektivitas saya ini nantinya jadi hal yang objektif adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Alienasi adalah istilah lama yang susah-susah gampang untuk dipahami. Paling sering kata alienasi diletupkan dalam pemikiran Marx tentang pekerjaan kaum buruh. Bahwasanya kala buruh dipekerjakan dalam mekanisme kapitalistik yang menekankan jam kerja dan rutinitas, maka ia akan terasing dari dirinya.
  • Terasing dari dirinya sebagai produsen. Bagaimanapun juga, buruh adalah tangan langsung yang membentuk benda hasil produksi, tapi pemilik modal merenggutnya, dan menjadikan buruh terasing dari produk buatan yang harusnya amat lekat dengan dirinya.
  • Buruh juga terasing dari kegiatan kerja itu sendiri. Kegiatan kerja yang mestinya alamiah dan hakiki bagi setiap manusia, diubah persepsi oleh para pemilik modal menjadi kerja-untuk-uang, atau kerja-untuk-tetap hidup. Karena pemilik modal kemudian merampas kehidupan para buruh, dan buruh diharuskan bekerja keras untuk membeli kehidupan yang dikuasai para kapital.
  • Mekanisme kapitalis juga membuat buruh terasing dari buruh lain, serta kehidupan sosial kebanyakan. Karena kerja yang rutin dengan jam kerja yang ketat, membentuk kesadaran orientasi buruh untuk melulu soal kerja dan kerja. Ia akan melihat hubungan personal sebagai cenderung konfliktual jika tak ada hubungannya dengan kegiatan bekerja yang rutin tersebut.
Alienasi kemudian menjadi tema besar yang giat dibahas dalam ruang lingkup perkotaan. Camus mengatakan, "Neraka manusia modern adalah ketika mereka melakukan rutinitas tanpa henti, lalu berhenti di satu titik dan bertanya, 'Apa gerangan yang sedang saya lakukan?'" Lalu tulisan Bambang Sugiharto di sebuah artikel, bahwa manusia masa kini adalah mereka yang mendefinisikan rekreasi sebagai pergi, ke luar dari diri, menuju perangkap-perangkap eksterior seperti mal, club, tempat wisata, atau negeri asing. Alih-alih berefleksi dan kontemplasi, bertanya apa-apa pada diri sendiri. Ketiga perkataan filsuf tersebut di atas tidak menjelaskan apa itu alienasi, tapi lebih ke contoh-contoh yang menunjukkan perasaan teralienasi itu seperti apa.

Jika demikian adanya, maka ijinkan saya mendefinisikan kira-kira apa itu alienasi dalam ungkapan yang lebih pribadi. Alienasi adalah "perasaan terbiasa" akan keseharian, sehingga kesadaran tidak timbul secara mandiri. Manusia yang mengalami alienasi , ia akan mengerjakan apa-apa karena rutinitas, bukan karena kesadaran yang utuh. Sering sekali kita ditanya, "Dimana letak Circle-K terdekat?" Lalu dijawab, "Perasaan tahu, tapi lupa, dimana gitu." Padahal itu terletak di jalanan yang setiap hari kita lewati. Karena rutinitas telah membunuh kesadaran, maka fokus kita hanya mencapai kantor dalam sekian menit sekian jam. Alih-alih menyadari apa yang terjadi sepanjang jalan.

Apa yang menjadi obat alienasi kemudian? Jika rutinitas selalu dilawan dengan liburan. Maka berarti liburan itu pastilah harus sesuatu yang kontras dengan rutinitas itu. Artinya, liburan adalah fase jeda dimana kita mempunyai momen untuk menemukan kesadaran kita seutuhnya. Bahwa kita adalah manusia yang sadar total akan keberadaan sekitar. Liburan tak perlu dalam bentuk yang ekstrim, bepergian, keluar uang banyak, dan senang-senang. Ketika jalanan yang dilalui kita menuju kantor setiap hari begitu-begitu saja, lalu mendadak suatu hari kita berjumpa dengan doger monyet yang entah kenapa baru hari itu ada di lampu merah itu, maka kesadaran kita kembali biarpun sejenak. Ketika kita memainkan musik yang itu-itu saja ketika tampil reguler di suatu hotel, lalu mendadak ada tamu yang memesan lagu tradisional, maka kita juga menemukan kesadaran kembali. Artinya, obat alienasi adalah segala-gala yang sifatnya spontan, kejutan, dan datang dari luar rutinitas keseharian itu sendiri.

Nah, sekarang kita masuki ranah sepakbola. Saya bukan penonton televisi setia, karena isinya nyaris buruk semua. Saya bilang buruk kenapa, karena televisi tidak menyuguhkan sesuatu yang lain untuk mengobati rutinitas. Apa yang disuguhkan relatif bisa ditebak dan itu-itu saja. Terkecuali berita tentunya, walaupun kemasan berita kadang tidak menolong kita juga. Ada yang disebut reality show, dulu, dimana sajian spontanitas mereka cukup menghibur, eh akhirnya ketahuan bahwa reality show juga ternyata diseting agar terlihat spontan padahal tidak. Lantas, berlebihankan jika saya bilang tayangan sepakbola adalah salah satu reality show yang paling nyata, spontan, dan penuh kejutan? Tayangan olahraga memang seyogianya demikian, olahraga yang bersih ya sifatnya spontan dan sukar diduga. Kecuali kala Michael Schumacher di era jaya, sepertinya dunia balap mobil teralienasi sekali. Bedanya, sepakbola sangat rajin ditayangkan, hampir seminggu tiga atau empat kali. Beritanya pun dimana-mana. Semuanya spontan, mengejutkan, dan bikin deg-degan. Oh, membuat kita sadar bahwa kita masih manusia dengan kesadaran yang utuh.

Mari kita runut kronologi sepakbola secara umum. Musim awal mula berjalan (biasanya Agustus atau September), kita mendapatkan pertandingan seru di partai pembuka. Kita melihat pemain baru siapa saja, pelatih baru atau bahkan stadion baru. Lalu kita mendapatkan mitos-mitos siapa yang menang di partai pembuka, ia akan juara. Lalu Liga Champion dimulai di tengah minggu, yang menurut Ferguson lebih dahsyat dari Piala Dunia. Liga Champion kita tahu, juaranya paling sulit ditebak. Lalu memasuki musim dingin Desember, kita akan menemukan Juara Paruh Musim. Masuk ke Januari, bursa transfer dibuka kembali, ada tim yang berbenah menambal timnya, ada juga yang merasa cukup. Suasana transfer selalu penuh kejutan dan menyenangkan. Bursa transfer ditutup, dan para tim mulai tancap gas menuju akhir musim untuk penentu juara. Dan setelah juara didapat sekitar bulan Mei, kita akan nantikan juara Liga Champion yang biasanya sekitar bulan Juni. Dan kala Liga Champion berakhir, berakhirlah satu musim sepakbola. Paling jeda maksimal dua minggu, setelah itu aktivitas mengejutkan dalam sepakbola kembali menggeliat. Kalau kebetulan di tahun genap, maka bersiaplah menikmati sajian Piala Eropa atau Dunia di kala jeda. Jangan lupakan juga Liga Indonesia, atau Piala Konfederasi. Semua mengejutkan, semua tak bisa ditebak, semua sering melampaui prediksi. Apalagi media olahraga semakin melimpah, komentar-komentar punggawa sepakbola semakin sering dikutip dan jua mengejutkan.

Besok, tanggal 29 November, atau 30 November dinihari WIB, kita akan sama-sama menyaksikan partai El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid. Entah ini El Clasico keberapa dalam sejarah hidup saya, tapi sedikitpun saya tak pernah kehilangan gairah menyaksikannya. Tak pernah dan Insya Allah tak akan pernah, pada El Clasico edisi seribu pun, saya kemudian mengatakan, "Ah, El Clasico dari dulu begitu-begitu saja." Sepakbola menyelamatkan saya dari rutinitas perkotaan yang membunuh kesadaran, pertama: Karena ia, setiap denyutnya, selalu tak mampu diprediksi, spontan, dan mengejutkan. Kedua, karena dalam sepakbola, kau akan menyaksikan keseluruhan manusia dalam keseluruhan eksistensinya yang nyata. Jika yang membedakan manusia dari mesin salah satunya adalah kesalahan, maka tengok kinerja wasit yang tak pernah sempurna, namun toh FIFA tak jadi mengganti wasit dengan robot. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah gairah, tengok para suporter yang meledak kala gol tercipta. Jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kepasrahan dan harapan, maka liat emosi pemain kala pertama memasuki lapang dengan wajah menengadah ke atas, melihat langit, berpihak pada siapa kau malam ini? Dan, jika yang membedakan manusia dari mesin adalah kehidupan, tengok para pemain kala berteriak kegirangan, sesaat setelah kaki-kaki mereka menempatkan bola di gawang lawan.


Continue reading

Monday, November 22, 2010

Travelling Without Moving

Travelling Without Moving
1. Harimau berkedut. Lehernya bagai ular sedang girang. Kuning, merah, dan hijau muda. Latar hitam sehingga warna semakin memancar. Ia menari, semua menari. Girang semua dalam balutan melodi. Melodi dari mana? Melodi dari mana? Sesungguhnya ia fana. Datang dari alam-entah-darimana.

2. Bali masa SMA. Pantai pekat malam. Bintang jatuh ke cakrawala. Ayo raih-ayo raih. Duduk aku bersama guru pembimbing. Itu teras kamar hotel. Kupegang gitar nilon dan mainkan karya Beethoven. Kawanku menikmati sebelum ada yang teriak. "Hey, berhentilah bermain, kami sedang tidur." Atau-atau, ia mau berkata, "Huey, be-be-rhentilah, ber-ber-main, ka-kami se-dang ti-ti-dur." Matilah kau jahanam. Kusulap kau jadi lingkaran. Hihihi.

3. Mari kuajak kau ke jaman koboi. Punggung kuda dan pelana, aku duduk di atasnya. Goyang ia liar bagai terluka di tengah rodeo. Lasoku warna ungu. Lasomu warna biru. Oh lihat, kibasan ekor membentuk cahaya. Bagai petasan di malam lebaran. Aku mual juga rindu. Pada apa-apa yang menjadikan aku ada disini. Matahari, apakah kau sedang menyinari kami?

4. Siapa kamu! Tuhan atau bukan? Menyeringai bagai kucing pada tikus terjerat perangkap. Kau cinta, tapi juga benci. Kau manis, tapi jua iblis. Jubahmu mejikuhibiniu. Matamu jingga kelabu. Siapa kamu! Datang dan segera sudahi aku. Sesungguhnya aku ini lelah dan ingin pergi dari pagutanmu. Galileo Galilei. Figaro. Bismillah!

5. Adzan memanggil. Memanggil Lennon dan bertanya, kenapa kau mati cepat? Tidakkah kau mau seperti aku yang terjerembab lunglai dalam kegilaan yang nikmat?


Gambar diambil dari sini
Continue reading

Monday, November 15, 2010

Berkurban dan Mengatasi Tubuh

Berkurban dan Mengatasi Tubuh
"Para pendiri agama dunia menyepikan diri, menjadi manusia soliter, mengambil jarak dari desakan 'daging', merenungkan kebenaran (arya satyani) dan 'jalan' (dharma, Tao, Din)." (Sepenggal paragraf dalam handout di ECF Filsafat oleh Alois Agus Nugroho)

Dalam Al-Qur'an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang kurban, diantaranya Al-Kautsar ayat 2, Al-Hajj ayat 27-28, 34 dan 36. Meski secara syar'i sudah jelas hukumnya, lalu secara praktis juga sudah jelas gunanya (yakni agar kaum dhuafa bisa merasakan daging yang mungkin bagi mereka langka), namun semoga Allah tidak marah jika ayat-ayatnya diinterpretasi ulang secara filosofis. Karena demikianlah nalar menjadi berguna, dan memang ayat Al-Qur'an seolah membuka ruang interpretasi luas oleh sebab kemultitafsiran bahasanya.

Pertama, jika pendiri agama dunia menyepikan diri, soliter, dan mengambil jarak dari desakan 'daging', berarti ada sesuatu yang bermasalah dengan kebertubuhan manusia. Mari mundur sejenak, ke era dimana Plato mengemukakan buah pikirnya. Ia percaya soal dualisme, bahwa manusia ini terbagi atas tubuh dan ruh. Tubuh ini hidup di dunia bentuk (form) yang sifatnya sementara, berubah-ubah, dan tak lain merupakan cerminan dari dunia ideal (Plato menyebutnya sebagai dunia ide). Sedangkan ruh, ia ideal, pernah hidup di dunia ide dimana keseluruhan pengetahuan terungkap secara sejati. Ruh lahir ke dunia dibonceng oleh tubuh, dan maka itu ruh lupa segala-galanya dan memulai perjalanan "mengingat kembali" apa yang telah diajarkan di dunia ide. Maka itu, kata Plato, tidak ada pengetahuan yang betul-betul baru di dunia ini. Manusia sesungguhnya cuma mengingat kembali masa lalunya ketika mereka belum lahir ke dunia.

Artinya, Plato 'menyalahkan' tubuh sebagai biang keladi kealpaan ruh. "Tubuh adalah penjara ruh," demikian kata Plato. Apakah Plato satu-satunya orang yang menyalahkan tubuh? Tidak, masih banyak sesungguhnya. Beberapa dari kita ingat buku Da Vinci Code, dimana karakter Silas rajin memecuti tubuhnya hingga berdarah-darah. Semata-mata agar ia merasakan penderitaan Kristus dan menahbiskan bahwa tubuh adalah biang dosa. Kaum Syi'ah di beberapa tempat menyakiti dirinya agar jiwa serta batinnya ikut bersatu dengan penderitaan Imam Husain kala menjadi martir di tangan Yazid bin Muawiyah. Beberapa orang dari umat Buddha dan Hindu mempraktekkan meditasi agar mencapai moksha, yaitu lepas dari siklus abadi duniawi yang berlabel samsara atau kesengsaraan. Islam juga punya, yakni shalat dan berpuasa. Berpuasa ada pada hampir semua agama besar, tapi shalat adalah ciri umat Muslim. Mengapa shalat dianggap kegiatan 'menyalahkan' tubuh? Karena dalam shalat, tubuh diatur, didisiplinkan, dilatih, dan dikondisikan agar tidak bergerak mengikuti dorongan 'daging' semata. Pemimpin Islam di masa awal seperti Muhammad SAW, Salman Al-Farisi, atau Ali bin Abi Thalib mempraktekkan 'kemenangan' mereka atas tubuh dengan hidup zuhud atau sederhana. Kesemua kegiatan tersebut digolongkan sebagai asketisme. Yakni 'latihan' yang disasarankan pada tubuh, tapi bertujuan mencapai kepuasan ruh atau transendental.

Jika demikian adanya, maka tak terlalu sulit mengaitkan kurban dengan asketisme. Kurban adalah simbol tubuh, dan tubuh adalah sesuatu yang mesti ditundukkan. Islam, dalam hal ini, menjadikan asketisme tidak eksklusif milik para "petinggi agama". Asketisme menjadi hal dasar yang bisa dijalankan bersama-sama. Tidak perlu penghayatan sekelas Sufi atau Bhiksu, pemeluk agama yang "biasa-biasa saja" pun diperkenankan menundukkan tubuhnya. Dan baiknya Islam adalah (saya berkata subjektif, sebagai pemeluk Islam), ia tidak mengorbankan tubuh si empunya tubuh, melainkan mentransfer makna pada tubuh si kambing atau sapi. Merekalah simbol pengorbanan daging demi nilai-nilai spiritual. Yang seyogianya adalah contoh bagi kita, para manusia.

Wallahu A'lam.
Continue reading

Wednesday, November 10, 2010

Yang Maha Pemurah

Yang Maha Pemurah
1. Koruptor mencuri uang rakyat, pergi mereka ke Yunani lalu Turki. Pulang dari sana keluarganya sehat, makan sate tetap terasa enak.

2. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

3. Pejabat memperoleh gelar akademik dengan menyuap. Tapi kemudian masih dihargai di masyarakat. Masih pula berangkat ke Baitullah dengan undangan-Nya.

4. Seorang guru mengajar dengan gaji tak banyak. Berjalan kaki ia belasan kilometer agar mencapai sekolah tanpa atap. Tapi tengok bening matanya kala menatap anak-anak.

5. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

6. Seorang atheis meragukan Tuhan. Menyerang-Nya tanpa ampun dalam simposium-simposium filsafat. Di tengah jalan ia ditabrak, namun hanya mobilnya yang hancur. Ia masih selamat.

7. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

8. Seorang alim mati cepat-cepat. Di masa muda ketika ia rajin mengaji dan shalat. Namun ia tersenyum sejenak sebelum jadi mayat. Karena katanya, Tuhan rindu dan ingin memeluknya erat.

9. Merapi meletus memuntahkan wedhus gembel. Darinya rakyat banyak yang meninggal dan terbakar. Tapi tengok hasil dari muntahan vulkanik yang kelak bisa membuat anak cucu berpanen banyak.

10. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

11. Terbayang roti yang dimakan, lalu buang air besar tetap berbentuk roti yang baru saja dimakan.

12. Terbayang anggur yang diminum hingga memabukkan, buang air kecil masih berupa anggur yang bisa diminum. Dan masih jua memabukkan.

13. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

14. Manusia mencari-cari kepastian dan membuat rencana. Lalu semua sesuai dengan dugaan dan manusia itu senang. Namun Tuhan masih menyisakan ketidakpastian agar manusia penasaran. Yakni diri-Nya dan kematian.

15. Bunga tumbuh merekah, pohon menggugurkan dedaunan, anak tumbuh besar dan bicara melebihi kedua orangtuanya. Si anak sekolah dan mengerti arti cinta. Mampu mengungkapkannya dalam bahasa.

16. Penulis buntu merampungkan idenya. Ia jalan-jalan dan melihat kucing bermain dengan bayangan. Penulis kembali ke mejanya dan mendapat segudang pencerahan untuk dituangkan menjadi tulisan.

17. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

18. Memberi uang pada orang berarti membuang. Yang pelit terus saja berpendapat demikian. Lupa bahwa pundi-pundinya akan tetap penuh, jikasanya ia percaya bahwa orang yang menerima kerap menukar dengan kepuasan dan kebahagiaan.

19. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?

20. Saya menulis ini seolah ingin meniru surat Ar-Rahman. Tapi begitu sulit dan tak terjangkau pikiran. Wajar karena yang satu kalam Tuhan, sedang yang ini nalar dangkal seorang insan.

21. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang engkau dustakan?



Continue reading

Wednesday, October 27, 2010

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan
"Guru, apakah yang pertama kau lakukan jika memerintah sebuah negara?"

"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah pembetulan nama-nama. Hendaknya seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai seorang menteri, seorang bapak bersikap sebagai seorang bapak dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak."
(Konfusius dari Analek 13:3)


Dihadapkan pada situasi posmodern sekarang ini, kalimat agung Konfusius di atas jelas saja dipertanyakan. Posmodern paling gemar rekonstruksi, dekonstruksi, serta menghancurkan sebuah bangunan konseptual, tanpa membangun apa-apa di atas puingnya. Sasaran gugatan tentu saja: Apa itu "sikap penguasa"? Apa itu "sikap seorang menteri"? Dan seterusnya. Tidakkah segala-galanya tak bisa didefinisikan sesaklek itu? demikian koar posmo.

Tapi Konfusius tak berpikir serumit itu. Bisa jadi ia dianggap kuno, bodoh, karena standar pemikiran Barat: Bahwa sesuatu yang masuk akal, adalah yang terjelaskan dengan kata-kata, explainable. Konfusius hanya menjelaskan banyak pemikirannya dengan takaran moral yang disebut jen (kata yang kemudian mati-matian ditafsirkan oleh banyak pemikir karena Konfusius sendiri tak pernah menjelaskan artinya). Dalam suatu situs, jen diartikan sebagai: human heartedness; goodness; benevolence, man-to-man-ness; what makes man distinctively human (that which gives human beings their humanity). Maka itu, jika ditanya, apakah yang dinamakan "sikap penguasa"? Konfusius kira-kira akan menjawab, ya mereka yang sesuai dengan jen.

Konfusius tidak asal bicara. Di masanya ia hidup, sekitar 500 tahun Sebelum Masehi. Situasinya kurang lebih sama dengan negara kita sekarang, carut marutnya. Ia kemudian merumuskan, bahwa keseluruhan penyebab kekacauan negara ini semua, adalah tidak betulnya nama-nama. Seorang menteri tidak bersikap seperti seorang menteri lagi. Karena nama, bagi Konfusius, menggambarkan identitas. Dalam nama, ada batasan bersikap dan jua tanggungjawab. Ketika sebagian besar individu tak lagi melakukan tindak-tanduk sesuai nama yang disematkannya, tunggu waktunya kehancuran terjadi.

Jauh, ribuan tahun pasca wafatnya Konfusius. Ada seorang sepuh bernama Mbah Maridjan. Jabatannya bukan guru besar seperti Konfusius dengan muridnya yang berlimpah serta ajaran yang diikuti sekaligus ditakuti penguasa. Mbah Maridjan posisinya juru kunci, yakni semacam penjaga tempat-tempat keramat. Tempat yang ia jaga adalah Gunung Merapi, sebuah gunung vulkanik aktif di kawasan Yogyakarta. Orangnya bersahaja, sederhana, dan taat pada apa-apa yang dititahkan Sultannya. Pengabdiannya tak main-main, ia menjabat juru kunci sejak tahun 1982, atau 28 tahun lamanya. Dan dalam masa tugasnya yang alamak itu, ia sering dipuji Sultan sebagai abdinya yang setia, dapat dipercaya, dan menunaikan tugas dengan baik. Satu-satunya "dosa" Mbah Maridjan barangkali ketika membintangi iklan extra joss beberapa tahun lalu. Toh, uang hasil iklan itu tetap ia gunakan untuk membangun masjid di desanya di lereng Gunung Merapi.

Sisanya, ia tetap harum dalam statusnya sebagai juru kunci Merapi. Ia tak melakukan tugas itu dengan merasa diri teralienasi. Beda dengan penduduk perkotaan yang kerja kantor tiga bulan saja kadang kesadarannya telah tertimbun rutinitas. Meski situasi Mbah Maridjan jauh lebih robotic, ia tak mengeluh. Ia gembira, besar hati, dan bertanggungjawab. Hal itu juga yang ia tunjukkan kala tempat keramat yang ia jaga, ternyata membebaskan dirinya dari tugas itu selama-lamanya. 27 Oktober 2010, Mbah Maridjan wafat, di tengah situasi genting letusan Gunung Merapi. Ia tidak turun gunung, bebal seperti biasanya: tak mau turun kecuali dipaksa tim SAR. Mbah tidak mencari heroisme buta, tidak mencari pengikut. Toh ia tetap meminta warga mengevakuasi diri, ikut pemerintah. Mbah sendiri tetap teguh, besar hati, dan tinggal. Jika memang dia juru kunci, tidakkah sesungguhnya ia tahu pertanda letusan itu jauh lebih awal? Entah lewat wangsit atau tanda-tanda alam. Tidakkah, jika ia mau, ia bisa saja mengungsi duluan, bahkan sebelum BMKG mencium sinyal bahaya?

Mbah bisa, tapi kenyataannya ia enggan. Sultan telah memintanya turun, demi keselamatan nyawa, sejenak meninggalkan tugas suci juru kuncinya, dan berlebur bersama manusia umumnya. Mbah bisa, tapi ia tak mau. Ia mengemban amanat, ia mengemban nama, baginya tak ada yang lebih mulia dari itu. Tak ada yang lebih mulia dari meninggal dalam keadaan pengabdian loyal, pada apapun yang ia percaya. Predikat mati konyol bukanlah kata miring yang akan masuk dalam telinganya. Mbah Maridjan merumuskan kematiannya adalah gembira: hanya jika ia secara hakiki melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya.

Meninggalnya Mbah adalah bukti simbolisme keheroikan "pembetulan nama-nama" Konfusianis. Hanya saja, satu Mbah Maridjan saja tak cukup untuk negeri ini. Tidak cuma juru kunci yang betul namanya, tapi juga presiden, anggota DPR, gubernur, walikota dan banyak lainnya. Ketika keseluruhannya telah melaksanakan tugas sesuai dengan nama yang disematkannya, maka selamatlah bangsa ini dalam versi Konfusius. Anggota DPR, terutama yang sedang pelesir ke Yunani, pastilah bertanya balik dengan angkuhnya, jika disodori buah pikir Konfusius ini, "Lah, saya sedang menjalankan tugas saya sebagai anggota dewan kok!"

Mereka barangkali betul, tapi mari kembalikan pada konsep jen: Adakah ia berperikemanusiaan? Adakah ia bersikap heartedness? Adakah ia dengan tegas mau membedakan dirinya dengan binatang lewat sikap-sikap manusiawinya?

Saya tak mau menjawabnya. Lebih baik marilah kita sama-sama mengangkat derajat heroisme Mbah. Mendoakan agar ia mendapatkan maqam yang baik di sisi Allah SWT. Sebaik-baiknya manusia adalah Muhammad SAW. Dan ciri derajat luhur Muhammad adalah dia tak pernah secuilpun melenceng dari amanah yang diembankan baginya. Muhammad adalah sebetul-sebetulnya nama yang disematkan baginya. Semoga kelak Mbah dapat diperjumpakan dengan Al-Mustafa.



Continue reading

Monday, October 18, 2010

Kafé dan Waktu Senggang

Kafé dan Waktu Senggang
Terus terang, saya adalah orang yang cukup skeptik dengan kafé. Seperti simbol kapitalis yang dingin, tempat berkumpulnya para borjuis memperjuangkan eksistensinya, serta pendirian latar suasana yang palsu di tengah keruwetan kota. Tapi entah kenapa, hari ini saya begitu ingin ke kafé. Saya bosan dengan suasana perpustakaan, dan ingin mencoba menulis tesis di kafé. Saya punya motivasi terselubung juga, ingin tahu kenapa kafé begitu digemari. Begitu menjadi idaman orang untuk berdiam diri di tengah cengkraman rutinitas. Dan jika memang tesis sudah menjadi rutinitas saya, maka bolehlah saya mencoba obat yang selama ini tampak mujarab secara massal. Obat, meski pahit, jika mujarab, kenapa tidak?

Saya datang pagi-pagi buta, ke sebuah kafé di Jalan Burangrang. Mereka sedia sarapan pagi, buka pukul tujuh. Saya tamu paling awal, memesan bubur ayam dan teh. Saya memulai ritual para kafé-is, yakni membuka laptop, dan mengoneksikan ke internet. Sayang sekali, internet baru hadir pukul dua belas. Dan akhirnya saya ketik beberapa paragraf tesis saja tanpa usah online. Sarapan datang, dan saya menyantapnya. Pasca makan, saya coba pandangi sekeliling kafé, dan berpikir, apa gerangan yang menjadikan kafé begitu menarik? Interiornya, barangkali pengaruh. Musiknya, tenang, juga pengaruh. Makanannya enak, pasti juga pengaruh. Tapi saya bukan ahli kuliner atau feng shui. Saya tak akan bahas kafé dari sudut pandang itu.

Imajinasi saya melayang sejenak, jauh, ke Paris. Alkisah, di pojok kota itu terdapat kafé bernama Café de Flore. Sofanya merah, dengan gaya interior Art Deco. Bayangkan sejenak, dua orang duduk disana. Dua orang yang bagi kalian yang belajar filsafat, pasti hapal: Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir. Itulah dua filsuf besar dalam sejarah pemikiran Barat. Dari keduanya lahir tema eksistensialisme, yang sangat mempengaruhi Barat tahun 90-an. Tema besar yang lahir dari hasil obrolan sambil minum-minum. Dari hasil temu intensif di kafé.


Café de Flore barangkali tidak sebesar Ngopi Doeloe di Teuku Umar. Konon, harga makanannya juga sangat murah (memang salah satu yang membedakan kafé pada mulanya, adalah jenis makanannya yang relatif ringan, dan harganya yang jauh lebih murah dari restoran). Jika ada tudingan Sartre adalah filsuf borjuis, maka itu pastilah orang yang membayangkan Sartre ada di Ngopi Doeloe. Café de Flore tergolong sederhana, dan sama sekali tak mencirikan simbol kapitalisme.

Yang menarik adalah, "kafé sejati" adalah kafé yang mempertahankan identitas dasarnya sebagai penjual makanan ringan, seperti kopi atau roti kukus. Harganya juga relatif murah. Jika berasumsi restoran adalah penjual makanan berat, maka kafé adalah pelengkap di sela-selanya. Yang mau saya katakan adalah: Restoran identik dengan waktu produktif dan biologis-alamiah manusia, karena ia menyediakan makanan primer, yang digunakan untuk mengenyangkan manusia, membuat mereka tersambung untuk tetap hidup. Sedangkan dalam kafé, makanan ringan adalah identik dengan waktu senggang. Tidakkah kita semua ngemil ketika sudah yakin bahwa hidup kita telah tersambung oleh makanan primer? Makanan ringan pastilah pengisi sela-sela antara jam makan primer.

Jika demikian, maka saya akan berkata sesuatu tentang waktu senggang: Bahwa seluruh buah pemikiran besar, darimanapun itu, pastilah datang dari waktu senggang. Waktu luang, atau jeda sementara, atau apapun namanya. Yang pasti tidak datang dari waktu ketika bekerja atau sedang dalam produktivitas tinggi. Manusia adalah makhluk yang selalu berdimensi realitas dan idealitas. Ia bisa saja berpikir, merenung, mengabstraksi dunia, tapi kemudian ia tidak boleh terus-terusan seperti itu. Ia harus bekerja, berbuat, dan menyamakan diri dengan denyut semesta. Tapi bekerja saja juga akan menyebabkan dirinya mekanistik dan teralienasi. Ada kalanya ia mesti beristirahat, tidak hanya untuk jiwa raga, tapi beristirahat untuk mengambil jarak dari kesehariannya. Memaknai kembali apa yang ia lakukan selama ini, sebelum buyar lamunannya dan melebur kembali bersama rutinitas.

Kafé, bagi saya sekarang, setelah direnung-renung, ternyata memang tak lagi seideal Café de Flore era Sartre. Figur "kafé sejati" tempat menjual kopi, roti kukus, earl grey tea, dan berbagai simbol-simbol klasik makanan ringan yang melambangkan kesenggangan, menjadi agak lebur dan rusak, akibat percampurannya dengan simbol restoranisme, seperti lontong kari, sate, atau nasi goreng. Membuat kafé jadi tempat makan primer dan tidak lagi memfokuskan pada simbol-simbol kesenggangannya. Tak heran, fungsinya jadi sekedar tempat gathering dengan ya itu tadi, interior yang indah, musik yang tenang, serta makanan yang enak. Kafé barangkali masih punya unsur perangsang berpikir di waktu senggang. Tapi waktu senggang yang dimiliki pengunjung itu sendiri, dieksploitasi habis-habisan oleh sifat kapitalistik si kafé. Waktu senggang pengunjung terkonversi dengan cepat menjadi pundi-pundi uang yang masuk ke kantong pemilik kafé. Harga makanan dan minuman di kafé-kafé, memang seringkali lebih mahal dari restoran pada umumnya. Karena ya itu tadi, simbol waktu senggang yang tadinya menjadi kekuatan kafé, telah dijual dengan harga murah pada kapitalisme. Kapitalisme sebagai pemilik, kemudian mengubah label kafé menjadi gaya hidup, alih-alih waktu senggang. Inilah barangkali yang menjadi sumber kegandrungan pengunjung.

Tentu saja saya tidak bisa menyuruh kafé manapun mengembalikan makanannya menjadi seperti kafé-kafé masa silam, karena pastinya menyurutkan keuntungan mereka. Tapi jangan salahkan saya jika tak akan ada pemikir besar seperti Sartre dan De Beauvoir yang lahir dari Ngopi Doeloe.

Continue reading

Tuesday, October 12, 2010

Puisi Substitusi

Puisi Substitusi
Ada yang tak tergantikan oleh emoticon, yakni lesung pipit dan guratan wajah yang menua.

Ada yang tak tergantikan oleh mobil, yakni jalan kaki sambil meneriakkan sebaris kalimat dari Gibran, "Kura-kura bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kancil!"

Ada yang tak tergantikan oleh SMS Lebaran, yakni perjuangan untuk berjumpa dan sekedar merasakan kulit tangan kala bersalaman.

Ada yang tak tergantikan oleh Playstation, yakni kesabaran untuk menantikan pergantian musim demi main layangan.

Ada yang tak tergantikan oleh E-book, yakni bau debu dari rak dan buku tua.

Ada yang tak tergantikan oleh marmer dan pendingin di antara bukit Safa dan Marwa, yakni perjuangan Siti Hajar demi anak-anaknya.

Ada yang tak tergantikan oleh telepon seluler, yakni perasaan deg-degan ketika dikunjungi tamu, tanpa lebih dulu menerima SMS, "Gue udah di depan."

Ada yang tak tergantikan oleh e-mail, yakni guratan tangan yang merepresentasikan perasaan, serta kesabaran menunggu pak pos membunyikan bel sepeda.

Ada yang tak tergantikan oleh televisi, yakni kebenaran yang tampak oleh mata kepala sendiri.

Ada yang tak tergantikan oleh Blackberry, yakni kehangatan duduk bersama di meja makan. Membicarakan apa yang baru saja terjadi di sekolah.

Ada yang tak tergantikan oleh McDonald, yakni nikmatnya menanti hidangan sambil berbincang, tanpa khawatir diteror waiting list.

Ada yang tak tergantikan oleh alat musik harpa sekalipun, yakni dinamika angin yang berhembus piano serta gelegar petir yang fortissimo.

Ada yang tak tergantikan oleh gedung pencakar langit, yakni rumah beratap jerami yang tak pernah khawatir oleh gempa.

Ada yang tak tergantikan oleh asuransi kesehatan, yakni perasaan orang gila yang tak pernah sakit meski memakan segala.

Ada yang tak tergantikan oleh Facebook, yakni mendalami pribadi manusia dari percakapan tatap muka. Bukan foto-foto dan profil yang sudah dipilih sedemikian eloknya.

Ada yang tak tergantikan oleh lampu, yakni kesabaran menanti matahari yang pasti akan terbit kembali.

Ada yang tak tergantikan oleh kamera, yakni usaha menggali kembali ingatan dan kenangan yang lebih hidup dan nyata karena tersimpan sejati di dalam hati.

Ada yang tak tergantikan oleh sekolah tinggi-tinggi, yakni kesadaran bahwa pengetahuan hakiki berasal dari pemaknaan pribadi.

Ada yang tak tergantikan oleh Sorabi Enhai, yakni hangatnya pembakaran sorabi di tengah tusukan angin subuh.

Ada yang tak tergantikan oleh tahu-tahu dengan pengawet, yakni Tahu Cibuntu di dalam panci yang baru diangkat langsung dihidangkan.

Ada yang tak tergantikan oleh Kangen Band dan Putri Ayu, yakni The Beatles, Led Zeppelin, Metallica, dan mereka-mereka yang mau berjuang demi pencitraannya sendiri.

Ada yang tak tergantikan oleh wahyu Ilahi pada Muhammad, yakni wahyu Ilahi pada seluruh manusia lewat tuturan semesta.

Ada yang tak tergantikan oleh bahasa, yakni kedalaman tatapan mata.



Udah ah, cape..
Continue reading

Selamat Datang di Klub 27

Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana bintang rock dan blues meninggal dunia di usia 27. Brian Jones, Janis Joplin, Jimi Hendrix, Jim Morrison dan Kurt Cobain adalah lima diantaranya. Selamat datang di Klub 27. Perkumpulan dimana manusia manapun memasuki usianya yang terang. Terang karena sukses melewati dengan baik krisis seperempat abad-nya, atau terang karena sebentar lagi jelang kepala tiga, dan para wanita tengah berkesadaran utuh. Berkesadaran bahwa dirinya punya keseksian lahir dan batin. Haha.

Selamat datang di Klub 27. Janganlah engkau ikut-ikutan mati bersama Morrison atau Cobain. Tapi hiduplah selamanya. Karena sesungguhnya pria jika bersama wanita adalah biasa adanya. Tapi jika wanita pergi, pria menjadi gila dibuatnya.

Jadilah terang. Jadilah seksi. Bukan seksi bentukan citra industri. Bukan seksi bentukan aerobik atau tai-chi. Tapi seksi yang cuma dikenali oleh hati. Seksi yang membuat nalar, ruh, nafsu, dan angkara tunduk kala ia disuguhkan berlenggak-lenggok di mata batinmu.

Selamat ulang tahun, kekasihku. Tetaplah haus akan ilmu, karena kehausan adalah ilmu itu sendiri. Tetaplah rindu pada Ilahi, karena kerinduan adalah Tuhan itu sendiri. Tetaplah menjaga dahaga akan kebenaran, karena dahaga sesungguhnya, merupakan kebenaran itu sendiri. Tetaplah cinta pada keluarga dan teman-teman, karena cinta adalah satu-satunya obat kesunyian. Dan di tengah pijakan kakimu yang kokoh, jangan pernah luput melihat ke bawah. Seburuk-buruknya tanah yang kotor dan berdebu, sesungguhnya tanpa ia kau tak mampu berdiri di atas apa-apa.

Joyeux Anniversaire!


Continue reading

Thursday, September 30, 2010

Lari dari Kenyataan

Lari dari Kenyataan
"Mereka kemari bukan untuk tidur, tapi untuk bangun."



- Kata Yusef pada Cobb dalam film Inception


Petikan dialog itu hendak menyebutkan bahwa bermimpi tidak sama dengan keadaan tak nyata, jangan-jangan mimpi itulah kenyataan yang sejati. Ide film Inception tentang "kenyataan mimpi" sungguh keren, tapi bukan isu yang baru sebetulnya, bahkan sangat purba. Kepurbaan itu bukan persis soal mimpinya, tapi soal bahwa banyak kaum mencari cara untuk menemukan "kenyataan"-nya.

Dalam mitologi Yunani, ada dua tokoh yang cukup rajin diangkat dalam kefilsafatan Barat, yakni Apollo dan Dionysus. Keduanya anak dari Zeus: Apollo, ia Dewa Matahari, simbol pengetahuan, pencerahan, rasionalitas, keteraturan, dan nilai-nilai kebudayaan. Dionysus, Dewa Anggur, simbol gairah, hasrat, irasionalitas, khaos, naturalisme, insting, serta absurditas. Keduanya sering dipersandingkan untuk menunjukkan semacam paradoks.

Meski demikian, Nietzsche menilai bahwa penyakit peradaban Barat salah satunya karena mereka terlalu Apollonian: terlalu mengagung-agungkan rasionalitas. Terlalu mempertanyakan air yang diminum adalah berasal dari mana, untuk apa, efeknya bagaimana. Padahal yang lebih penting adalah merasakan gelegak air tersebut kala mengalir di tenggorokan. Demikianlah bertindak ala Dyonisus. Mabuklah, dan dengan demikian sekat-sekat kehidupan tak lagi penting, karena realitas sejati cuma satu: merasa.

Apa yang dibayangkan oleh Nietzsche, -meski dalam kontroversi, termasuk ketika kasus sakit jiwa nya di sebelas tahun akhir hidupnya, ia tidak terlihat gembira seperti mabuknya Dyonisus- sesungguhnya memupus bagaimana Barat memandang realitas pasca Descartes. Descartes dengan cogito ergo sum nya, mencoba memilah dengan tegas bahwa realitas, yang nyata, yang ada, adalah kondisi ketika aku bisa berpikir. Maka itu mustahil itu terjadi kala aku dikuasai iblis. Kala aku bermimpi. Sejak era Cartesian, Barat semakin menegaskan mana yang riil, termasuk Hegel dengan seeing is believing nya, atau Kant dengan noumena dan fenomena nya.

Jauh di Persia sana, enam ratus tahun sebelum Nietzsche, terdapati seorang bernama Jalaluddin Rumi. Ia muslim taat, melaksanakan ritual seperti umumnya. Namun sejak bertemu Syamsyi Tabriz, seorang pria yang kelak memberikan pencerahan bagi Rumi, ia melihat dunia tak lagi sama. Apa yang nampak sesungguhnya cuma permukaan, kepalsuan, dan jangan-jangan cuma mimpi. Apa yang sesunggguhnya nyata ada di baliknya, apa yang sesungguhnya realitas, dapat digapai setelah kita mati, atau bisa saat masih hidup, tapi lewat proses perenungan dan transendensi yang kuat. Maka itulah Rumi menciptakan tarian The Whirling Dervish atau Mevlevi Sema Ceremony, terinspirasi dari Abu Bakar Ash Shiddiq yang menari kegirangan setelah mendengarkan salah satu sabda Rasulullah. Tarian berputar tersebut, adalah cara Rumi untuk mencapai kenyataan dibalik permukaan duniawi. Ia mengalami transendensi, tak sadar, dan menemukan realitas sejati, seperti dalam sajaknya:

Seperti gelombang di atas putaran kepalaku
maka dalam tarian suci Kau dan aku pun berputar
Menarilah, Oh Pujaan Hati,
jadilah lingkaran putaran
Terbakarlah dalam nyala api-bukan dalam nyala lilin-Nya

Jauh sebelum tarian sufi Rumi, dan pastinya lebih jauh sebelum era psychedelic-Art yang melanda AS, kebudayaan pra-sejarah Kaspian serta Mesoamerika telah menggunakan jamur jenis tertentu untuk kepentingan spiritual. Mereka biasa mencari hakikat realitas tidak cuma di alam indrawi ini, tapi juga di "balik sana". Dan ah, sesungguhnya masih banyak contohnya, dari dulu hingga kini, manusia masih sama-sama mencari realitas kesejatiannya. Agama-agama banyak menawarkan ide bahwa kenyataan sesungguhnya bukanlah yang kau tinggali disini. Mereka ada disana, di balik semua ini, dan cara mencapainya adalah dengan beribadah. Tapi beribadah, bagi sebagian orang masih belum cukup juga untuk "melihat" apa yang di balik sana. Butuh lebih dari ibadah, untuk melompat kepada kenyataan sejati. Ibadah berkaitan dengan ritual, sedangkan mencapai kenyataan sejati adalah petualangan pribadi yang kadang-kadang tampak konyol jika dimassalkan.

Lewat tulisan ini saya bukan mau bilang: bermimpilah, karena itu kenyataan sejati. Atau jangan percaya realitas yang kau lihat, karena itu cuma mimpi. Tidak, tidak, saya tidak dalam kapasitas itu. Tapi sekedar mengingatkan, bahwa jangan-jangan pemilahan mimpi dan kenyataan adalah murni persoalan bahasa. Sejatinya, mimpi dan kenyataan tak ada bedanya, keduanya satu seperti kondisi ketika setiap manusia dimabuk anggur. Karena sudah sejak pra-sejarah, sudah lumrah manusia mencari kenyataan dari balik apa yang nampak.

Memang iya jika kemudian, terutama manusia sekarang, rajin berkoar soal realita, berkonsentrasi untuk menghadapi kenyataan sejati. Dengan sesumbarnya mereka bilang, "Hadapi kenyataan, Man, jangan lari." Namun bolehlah kuimajinasikan Tuhan sedang tertawa di atas sana sambil berkata, "Man, sesungguhnya kalianlah yang sedang lari dari kenyataan."



Bandung, 30 September 2010, 01:59. Sambil nonton Valencia vs MU. Semoga kau kalah, MU.
Continue reading

Saturday, September 11, 2010

Kisah Seorang Sufi Bernama Amab

Kisah Seorang Sufi Bernama Amab
Saya sekeluarga punya semacam tukang pijit terpercaya. Ia datang tak tentu, tergantung panggilan. Tukang pijit ini usianya masih cukup muda, barangkali 24 atau 25, namanya Amab (atau Amap?). Pijitannya boleh dibilang tak sejenis refleksi di pinggir jalan yang cenderung relaksasif dan bikin ngantuk. Amab ini condong pada menyakiti dan bikin kita terjaga selalu akibat kesakitan. Tapi sesudah pemijitan, efeknya lebih terasa. Pegal-pegal hilang, tidur nyenyak, bangun tidur juga enak.

Konon teknik pijit Kang Amab tidak cuma mengandalkan pengetahuan akan titik-titik saraf manusia, tapi juga dimuati tenaga prana yang membuat ia bisa membagikan energinya pada pasien. Saya pribadi ketika dipijit tak pernah jatuh tertidur, tapi selalu menyempatkan untuk mengobrol. Katanya, untuk meraih kemampuan memijat sambil mengobati ini, ada dua pantangan serius dari gurunya. Satu, ia tak boleh bernafsu jika memijat wanita. Dua, ia dilarang memasang tarif atas jasanya ini. Tidak diberi uang tak apa-apa, diberi uang pun tak apa-apa.

Suatu hari ia datang tak cuma untuk memijat, tapi juga membagikan sebuah undangan: undangan pernikahan. Ia akan menikah tanggal 13 September di kampung halamannya, Garut. Topik pernikahan itu jadi tema yang menarik untuk diangkat ketika sesi pemijitan saya. Begini petikan dialognya yang diterjemahkan bebas ke dalam Bahasa Indonesia:

"Kang, gimana sih rasanya memijit tanpa ditarif?"
"Ya, biasa aja, kan niatnya mengobati."
"Pernah gak suatu ketika pulang jalan kaki, karena si pasien gak ngasih uang?"
"Lumayan sering hehehe."
"Terus gimana, sengsara atuh, Kang?"
"Ya gak juga kalau ikhlas mah. Yang menawari saya untuk mengelola panti pijat juga ada. Tergantung orangnya itu mah."
"Oh, Kang, kan mau nikah tuh. Ganti profesi gak?"
"Kenapa harus ganti profesi?"
"Kan istri perlu makan, perlu uang."
"Tukang pijit juga bisa, malah saya mau mendalami ilmu batinnya lagi. Sekarang ini kan baru dhahir (fisik -red)."
"Oh gitu, tapi pasti tertarik masang tarif kan ntar mah kalau udah nikah?"
"Gak tuh."

Saya agak terbangun dari pijitan.

"Seriusan Kang?"
"Iya, emang kenapa?"
"Kan, nanti ada kebutuhan, ada makanan, ada uang sekolah anak. Bukannya mesti ada perencanaan keuangan tuh?"
"Iya, tapi kan rejeki bukan dari manusia."

Kau mesti ada disana untuk melihat sendiri bagaimana ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Ia mengucapkannya dengan ketenangan yang menakjubkan, dengan binaran mata yang sulit terkatakan. Membuat saya merasa diskusi selesai, tak perlu ada yang ditanyakan lagi.

Ini semakin membawa renungan saya pada kenyataan: Kang Amab, si tukang pijit itu seolah menampik dengan lembut tapi yakin, dasar-dasar pelajaran ekonomi kita semasa sekolah, bahwa prinsip ekonomi adalah membuat untung sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Bahwa motif ekonomi adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terbatas sedangkan alat pemenuhan kebutuhan terbatas. Ia secara sufistik mematahkannya dengan santai: modal bukan dari manusia, pun untung. Sedangkan kebutuhan manusia hakikatnya tak terbatas, tapi batin bisa menyebut "cukup" untuk membendung semuanya.

Dulu, saya yakin ini prinsip fatalisme yang membosankan. Ini yang ditakutkan Marx sebagai candu yang membuat masyarakat enggan maju. Tapi perlahan keyakinan saya meluntur, seiring dengan semakin banyaknya melihat prinsip "fatalis" yang ternyata menebar rona wajah bahagia. Seiring pula dengan semakin banyaknya melihat orang yang memegang prinsip ekonomi umum yang teguh, ternyata malah membuahkan keluhan dan ocehan tentang hidupnya yang serba kekurangan. Ada kawan yang merasa hidupnya terancam karena gajinya yang sepuluh juta membuat ia tak bisa berbelanja sepatu favoritnya. Ada orang yang begitu gelisah melihat tetangganya beli mobil, membangun rumah, lantas ia minder dan kecewa karena mata pencahariannya tak bisa mengonsumsi hal yang serupa.

Seluruh cerita nabi dan orang bijak, adalah seringkali tentang bagaimana ia menyikapi dunia. Dan kebanyakan sikap yang diambilnya, adalah cenderung mengambil jarak, karena banyak yang berpikir bahwa dunia adalah tipu-tipuan belaka. Kita semua tahu kisah Siddharta Gautama, anak raja yang kabur dari gelimang kemewahan istana, lantas hidup miskin papa di hutan-hutan agar mengetahui hakekat alam semesta. Atau Salman Al-Farisi, sahabat Rasulullah asal Persia, yang bahkan di rumahnya ia tak bisa selonjoran saking sempitnya. Kala ditanya, alasannya ialah, "Saya khawatir saya menjadi cinta dunia jika rumah ini besar." Atau seorang sufi, Jalaluddin Rumi, pasca bertemu gurunya, Shams Tabriz, ia langsung menjauhkan diri dari hiruk pikuk dan menyatakan bahwa yang bisa dirasakan indra sesungguhnya cuma permukaan saja. Pun Yesus Kristus, saya rasa penerimaan tulus dia atas siksaan dan penyaliban, adalah bukti bahwa tubuh ini tak ada artinya. Tubuh ini adalah simbol penghubung dengan dunia yang memuat pemenuhan hasrat tiada habisnya. Maka cambuk dan siksalah karena tubuh adalah dosa.

Jadilah Kang Amab menambah satu lagi daftar sufi yang saya ketahui. Mereka yang tubuhnya menancap pada dunia, tapi ruhnya melayang mencari esensi Ilahiah semesta.
Continue reading

Sunday, September 5, 2010

Ode untuk Ramadhan

Ode untuk Ramadhan
Ramadhan adalah tamu yang mengetuk sanubarimu sekali saja
Tapi ia duduk lama setelah kau bukakan pintunya
Ia berkunjung untuk membicarakan kesunyian
Hingga kau terlelap dan ia pergi tanpa pamit

Kau tidur karena asyik berbincang dengannya
Sampai lupa menyuguhi apa-apa

---

Kala terjaga kau bermunajat:
Jangan pergi
Tinggalah semalam lagi
Karena lebaran, emasmu terlalu berkilauan
Perakmu terlampau menawan

---

Ramadhan mendengarkanmu dalam rintik hujan malam Qadar
Bersama bulan dan bintang sesungguhnya Ia pun bermunajat:
Ya Rabb, ijinkan aku mencintai manusia
Seperti embun mencumbui dedaunan
Seperti oase merekah di padang gersang
Mereka tak butuh balasan atas tugasnya yang memang demikian

---

Manusia meratap cuma sejenak
Sedang Ramadhan merintih sepanjang malam
Ia cemburu pada Lebaran
Yang merebut hati hamba-Nya cuma dengan ketupat
Continue reading

Thursday, September 2, 2010

Sedikit Pengetahuan tentang Para Pecinta Keluarga Nabi

Lukisan artis tentang pembai'atan Ali di Ghadir Kum (diambil dari sini)

Dengan Bismillahirrahmaanirrahim, saya akan menulis sesuatu, yang memang selalu saya tuliskan jika dalam hati punya kegelisahan. Ini tulisan bukan tulisan analitik, apalagi tulisan religius (saya berharap tidak ada tendensi kesana). Ini cuma tulisan, alah, semoga cuma biasa-biasa saja dari seseorang yang baru tahu sesuatu. Yang begitu menempel di benaknya sekalimat ujaran dari Foucault bahwa, "Pengetahuan sedikit adalah berbahaya." Dan ini adalah buah tulisan dari pengetahuan yang sedikit, tapi kegelisahan yang besar. Semoga tidak menjadi sesuatu yang berbahaya, dan jika memang ternyata ada perdebatan di dalamnya, maka ijinkan saya menyerahkan pada yang lebih paham ketimbang kemudian memberikan penjelasan yang memperuncing segala.

----

Dalam beberapa bulan terakhir, sejak berkenalan dengan seorang kawan yang sebut saja namanya Hasan, saya jadi mengetahui dan lama kelamaan mengkaji tentang suatu mazhab dalam Islam yang mempunyai perbedaan dengan apa yang saya pelajari selama ini. Saya mengira Islam yang saya kenal belakangan, adalah Islam universal, yang dimana-mana pasti begitu. Islam indah karena punya tatacara yang satu, setidaknya itu yang saya yakini ketika beribadah di Makkah. Tapi ini adalah mazhab yang begitu asing, dan punya kekontrasan dari banyak segi. Saya pernah dengar perbedaan Persis, Muhammadiyah, atau NU, tapi yang ini begitu berbeda, dan bahkan oleh beberapa golongan sering dituduh sebagai kaum rafidhah (meninggalkan) atau ada pula yang menyebut mazhab ini bukan Islam, tapi semacam agama baru.

Dalam pemahaman saya yang sedikit, saya juga sempat menduga mazhab ini seperti yang sesat. Tapi jika kemudian saya mengklaim itu sesat sebelum mengkaji, maka saya terjebak pada fanatisme buta. Maka saya tak ubahnya seperti pastor Terry Jones yang mau membakar Al-Qur'an pada tanggal 11 September dengan berpegang pada argumen-argumen yang menggelikan. Atau FPI yang kerjanya melakukan penghancuran sana-sini tanpa sadar bahwa menyakiti sesama manusia adalah berdosa. Dan berpegang pada keingintahuan, serta pengalaman mempelajari filsafat, -sehingga saya tidak terlalu sulit menerima perbedaan pemikiran- maka saya mulai pelan-pelan mengkaji mazhab ini.

Semuanya berawal dari Rasulullah SAW ketika pulang dari menjalankan ibadah haji beserta tidak kurang dari 120.000 pengikutnya (dalam riwayat lain disebutkan 70.000). Pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 H itu, ketika semua rombongan meninggalkan kota suci Makkah dan bermaksud pulang, tibalah mereka di sebuah sudut padang pasir yang bernama Juhfah, sebuah persimpangan yang memisahkan perjalanan dari satu karavan dari karavan lainnya. Namun sebelum keseluruhan rombongan betul-betul berpisah, Nabi akan menyampaikan semacam risalah, atau bisa dibilang pesan maha-penting. Akhirnya keseluruhan rombongan berkumpul di sekitar sebuah kolam air yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Inilah sepenggal pesan Nabi yang saya kutip dari buku Pesan Terakhir Nabi (SAW.): Terjemahan Lengkap Khotbah Nabi SAW. di Ghadir Khum (18 Dzulhijjah 10 H):

"... Ketahuilah - wahai umat manusia - sesungguhnya Allah telah menetapkannya (Ali) sebagai wali, pemimpin dan imam bagi kalian. Mematuhinya adalah wajib, baik bagi kalangan Muhajirin, Anshar, generasi-generasi yang baik yang datang setelahnya, orang-orang desa, kota, 'ajam (non-Arab), Arab, orang yang merdeka, hamba sahaya, kecil, besar, putih, hitam, dan bagi setiap orang yang menyatakan tauhid kepada Allah (SWT). Keputusan hukum yang diambilnya (Ali) adalah sah. Kata-katanya wajib didengar dan perintahnya wajib dipatuhi. Orang yang menentangnya akan terkutuk, yang mengikutinya akan memperoleh rahmat, dan yang mempercayainya adalah orang yang beriman ...
"

" ... Dan dari setiap ilmu yang kuketahui itu, telah kuajarkan pula secara rinci pada Imam orang-orang yang bertakwa ini. Sungguh tiada ilmu melainkan telah aku sampaikan kepada Ali, sang Imam yang agung ... "

" ... Wahai umat manusia, jangan kalian tersesat karena meninggalkannya; jangan kalian berpaling darinya; dan jangan kalian takabur karena menerima kepemimpinannya ... "


" ... Wahai umat manusia! Utamakanlah Ali, sebab dia adalah manusia yang paling utama setelahku, baik dari kalangan laki-laki ataupun perempuan ..."


Ali yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib, anak dari paman Nabi yang bernama Abu Thalib, atau bisa dibilang Ali merupakan keponakan Nabi. Sedangkan tentang kebenaran dari khutbah di atas, Dhiya'-uddin Muqbili pernah berkata: "Seandainya kriteria keshahihan hadits al-Ghadir ini kita tolak, niscaya tidak satu pun hadis-hadis lain dapat kita kategorikan sahih." Adapun hadis diatas dilaporkan oleh 125 perawi, diantaranya sahabat Nabi seperti Abubakar bin Abi Qahafah, Umar bin al-Khattab, dan Uthman bin Affan. Bisa dibilang, merujuk pada jumlah perawi dan orang-orang yang menuliskan tentang hadis kejadian diatas, maka khutbah di Ghadir Kum bukanlah kejadian yang mengada-ada.

Singkat cerita, Nabi pun meninggal dunia, sekitar tiga bulan setelah haji tersebut. Bisa dibilang, khutbah Al-Ghadir merupakan pesan terakhir yang sifatnya massal dari Nabi. Setelah itu terjadilah semacam musyawarah di Saqifah Bani Sa'idah, semacam tempat pertemuan tertutup, untuk merumuskan masa depan kepemimpinan kaum Muslimin sepeninggal Nabi. Kita, muslimin pada "umumnya", tahu bahwa setelah Nabi, yang naik sebagai pemimpin adalah Abu Bakar bin Abi Qahafah atau terkenal dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Jika memang demikian, maka kejadian tersebut bertentangan dengan khutbah Nabi di Ghadir Kum yang mengisyaratkan Ali bin Abi Thalib sebagai penerusnya. Perbedaan cara pandang inilah yang membawa Islam terbelah menjadi dua kelompok besar: Ahlus Sunnah dan Syi'ah.

Ahlus Sunnah atau Sunni, adalah kelompok yang mengakui khulafaurasyidin, atau kepemimpinan pasca wafatnya Nabi adalah berturut-turut kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Uthman, dan lalu Ali. Mereka percaya bahwa kepemimpinan pasca Nabi diserahkan pada musyawarah diantara umatnya. Sedangkan Syi'ah, yang merupakan kependekan dari Syi'ah Ali atau berarti Pengikut Ali, adalah kelompok yang percaya bahwa Nabi mewariskan kepemimpinan pasca wafatnya beliau pada keponakannya, Ali bin Abi Thalib. Secara lebih luas, dari buku berjudul Dahulukan Akhlak di atas Fikih, Syi'ah adalah kelompok yang memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna Al-Quran setelah Rasulullah wafat dipegang Ahlul Bait.

Lalu apa gerangan Ahlul Bait? Ahlul Bait yang diterjemahkan secara harfiah berarti People of The House atau Penghuni Rumah, merujuk pada keluarga dan keturunan Rasulullah. Kaum Sunni dan Syi'ah berbeda pendapat soal ini: Syi'ah berpegang bahwa Ahlul Bait berkisar lima yakni Muhammad sendiri, Ali bin Abi Thalib, putri Nabi, Fathimah Az-Zahra, serta cucu, Hasan dan Husain. Sedangkan dalam Sunni, Ahlul Bait ini luas cakupannya, tidak terbatas pada kelima nama tersebut, melainkan keluarga dalam arti yang lebih luas.

Kembali ke kepemimpinan, dengan naiknya Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah, sedangkan kaum Syi'ah berpegang pada hadits Ghadir Kum, maka cara pandang Sunni dan Syi'ah sangat berbeda terhadap para sahabat. Bagi kaum Syi'ah, bisa dibilang para sahabat ini melakukan perebutan kekuasaan, yang oleh Rasulullah sempat diramalkan dalam ucapan, "Setelah aku meninggal, akan timbul fitnah." Terlebih kaum Syi'ah percaya bahwa Nabi selalu meninggalkan petunjuk bagi umatnya, sekecil apapun, apalagi soal kepemimpinan. Beberapa kejadian juga memperkuat hal ini, misalnya ketika Nabi di ranjang menjelang wafatnya, ia meminta sahabatnya mengambilkan sesuatu untuk ditulisi pesan, kemungkinan semacam wasiat. Tapi kemudian Umar ibn Khattab berkata, "Sesungguhnya telah cukup Kitabullah (Al-Qur'an) diantara kami." Dalam versi Sunni, ucapan Umar ini menunjukkan kewibawaannya dan keimanannya terhadap Al-Qur'an. Tapi bagi Syi'ah, perbuatan Umar ini menghalangi pewasiatan Rasulullah yang sangat mungkin menghalangi para sahabat menuju kekuasaan. Efek dari sudut pandang yang berbeda tentang sahabat ini cukup masif. Syi'ah hanya memegang hadis dari Ahlul Bait, dan menolak hadis dari para sahabat. Pendek kata, Syi'ah lebih selektif dalam menerima hadis, mengecek jalur sanad secara lebih teliti, dan tidak mau dalam jalurnya terdapat orang yang tidak bisa dipercaya, Abu Hurairah misalnya, yang dianggap tidak masuk akal bisa meriwayatkan lima ribuan hadis sedangkan para sahabat saja hanya sekitar seribu kurang. Selain itu, Abu Hurairah juga dianggap dekat dengan Muawiyah, khalifah kelima Sunni yang mana anaknya, Yazid, dikenal dalam peristiwa Karbala karena membunuh Husain (cucu Nabi) dan segenap keluarganya.

----

Saya sesungguhnya belajar beberapa hal juga, tapi pengetahuan yang dipaparkan di atas adalah barangkali yang paling "aman" yang bisa saya bagi. Itupun, kalau boleh jujur, saya tuliskan dengan begadang dua malam dalam keadaan peluh keringat dan ketelitian yang lebay. Karena khawatir ada yang meleset dan menimbulkan salah paham yang merepotkan.

Yang mau saya beri catatan kecil sesungguhnya sederhana saja. Saya mau mengutip ucapan Paul Spoonley yang diambil dari buku Rasisme: Sejarah Singkat karya George M. Fredericksen, katanya, rasisme itu: " ... mencerminkan kemalasan orang Eropa untuk berpikir ketika menghadapi keragaman manusia dalam perjalanan ekspansi mereka." Ini saya mau kaitkan dengan fanatisme. Fanatisme juga semacam bentuk kemalasan dalam mengkaji yang liyan, yang berbeda dari kita. Saya juga punya fanatisme, terutama pada sepakbola. Jika saya memuja Italia, maka saya tak peduli lawan Italia kalah sampai 10-0 dan perasaan mereka hancur lebur. Saya tak mau peduli si pemain lawan punya istri-anak yang begitu sedih ayahnya dipecundangi dan maka itu anak-anaknya jadi diledek oleh teman-teman sekolahnya. Saya tak mau peduli bahwa lawan yang dikalahkan, pelatihnya sudah berpikir keras sampai tidak tidur, tidak makan, atau tidak beribadah. Ini bukti fanatisme: semacam pengerasan diri untuk menutupi kemalasan mengkaji.

Mengkaji tidak sama dengan mengikuti. Mengkaji tidak sama dengan menjadi bagian darinya. Jika membenci berlebihan adalah akibat dari pengkajian yang lemah, maka pengkajian yang lemah juga menyebabkan cinta yang berlebihan. Saya masih seorang Ahlus Sunnah, tapi saya sekarang ikut sedih jika Syi'ah dituduh rafidhah. Bagi saya, meskipun sempat kaget dengan beberapa fikih Syi'ah, tapi saya mencoba melihat hal tersebut dari jarak yang membuatnya terlihat indah. Sungguh perbedaan adalah rahmat. Sungguh jangan-jangan tidak ada yang namanya berbeda itu, yang ada cuma belum terbiasa. Atau fanatisme buta.

Continue reading

Friday, August 13, 2010

Ode untuk Muhammad

Ode untuk Muhammad
1
Kala Descartes bilang, binatang tak punya kesadaran
: Ia cuma seonggok benda mekanik yang makan dan berjalan

Maka Muhammad datang dengan untanya namanya Al-Qishwa
Beliau bingung: di Madinah, semua warga menawarinya tempat berlindung
Maka silakan wahai unta, carikan tempat tinggal yang baik untukku
Tempat nantinya akan berdiri masjid yang disesaki orang sujud dan ruku

2
Kant berkata lantang
: Baik adalah jika kau memberitahu polisi tentang kejahatan kawanmu yang bersembunyi di rumah

Sartre berujar lebih tenang
: Baik adalah jika kau menjadi biarawan atas pilihanmu sendiri dan bertanggungjawab atas pilihan itu

Muhammad bergerak dalam diam
: Baik adalah menjenguk orang sakit
Meski ia rajin melemparimu dengan tahi

3
Ya Rasulullah, dewasa ini sebahagiaan kaum-mu semakin pemarah
Emosian bukan kepalang
Perlukah kuceritakan lagi kisah Kakek Yahudi yang netra lagi renta?
: Yang memfitnahmu dengan sebutan Majnun pada orang-orang di pasar
Kau datang padanya tanpa bicara
Membawa makanan yang kau kunyah terlebih dahulu agar halus
Sebelum disuapkan pada mulut kakek yang tak berhenti mencerca
Setelah kenyang kau tidurkan dia dengan usapan tulus

Allahumma shalli 'ala Muhammad wa ala 'aali Muhammad
Continue reading

Thursday, July 29, 2010

KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)

KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)
Jika kalian, wahai para penggiat di KlabKlassik, merasa bahwa komunitas ini tengah dalam kondisi menyenangkan, maka saya coba bahas darimana kita ini berasal. Agar kita tidak termasuk golongan Malin Kundang yang setelah mengalami nikmat duniawi lalu lupa pada wanita yang melahirkannya ke dunia.

Kita ini, diberi nama KlabKlassik, jangan tanya saya, Bilawa, Royke, atau Iyok, atau Kang Trisna kenapa-kenapanya. Bukan, bukan kami yang menamainya. Adalah seorang penikmat jazz sekaligus koordinator komunitas jazz bernama KlabJazz, yang menamai kita seperti ini, lima tahun silam. Ia pun, sesungguhnya, barangkali tidak tahu kenapa melabelinya dengan dua huruf "s". Saya cuma pernah mendengar pernyataan beliau: "Karena setahu saya, klasik itu nama salah satu periode dalam sejarah musik Barat. Jadi klasik disini mengacu pada hal yang berbeda." Demikianlah beliau berkata, dan kami yang tak paham mengangguk tanda iya. Adakah kami paham sekarang? Sesungguhnya tidak juga, tapi kami sudah menganggap dua "s" itu sebagai ciri yang memang telah melekat. Seperti kata Bilawa: Biarkan saja jika memang dua "s" tidak bermakna, setidaknya itu memudahkan orang dalam mengingat.

Dia orangnya, beliau, yang memberi kita pada mulanya, sebuah hari di minggu kelima pertemuannya. Jadi begini, KlabJazz berkumpul setiap hari minggu, dan jika di suatu bulan terdapat minggu kelima, itulah saatnya KlabKlassik beraksi. Beliau tak cuma merelakan pertemuan komunitasnya diambil kami, anak ingusan yang haus eksitensi, tapi juga mau mengundang komunitas jazznya untuk tetap turut serta dalam KlabKlassik. Jadilah pertemuan kami seolah banyak orang yang datang, biarpun mereka entah suka musik klasik entah tidak, atau barangkali ada rasa kasihan terhadap kami-kami yang tak jelas ini.

Dia orangnya, beliau, yang mengingatkan bahwa: "Tidak boleh ada iuran bulanan, karena bayar berarti in, tidak bayar berarti out." Itulah ucapan yang mendasari, seluruh gerak-gerik kita sekarang ini. Jika ya, Ririungan Gitar Bandung bayar, itu disebabkan karena demi konser, agar anggota menjadi bertanggungjawab mengikuti latihan demi latihan. Karena absen satu atau dua kali dalam persiapan, akan mengganggu harmonisasi keseluruhan. Lagipula, siapa yang melarang kalian mengambil teh botol atau mie sebagai konsumsi? Keduanya berbeda harga, tapi di mata kami derajatnya sama: sama-sama dibayar dengan uang RGB.

Jika ya, akademi KlabKlassik membayar, juga karena ini sistem kelas lengkap dengan dosennya yang nyata. Artinya, kita semua tentu saja tidak mau mengecewakan sang dosen, baik oleh kehadiran, baik oleh imbalan. Sang dosen bukan seorang yang mata duitan, saya tahu betul. Tapi ia seorang yang mencintai apresiasi dari murid-muridnya. Dan berhubung klab tak mampu membayar jasa-jasanya dengan uang yang banyak, maka kami membayar dengan kehadiran yang bertanggungjawab. Bagaimana agar kehadiran bisa bertanggungjawab? Sebagai paksaan, ya lewat membayar. Dan kembali lagi, kau bisa ambil risoles ataupun kopi aroma sebagai konsumsi, dengan derajat yang sama.

Dia orangnya, beliau, yang kemudian entah kenapa ternyata bagaikan filsafat Wittgenstein: "Aku hanya memberi kalian tangga. Setelah kalian berada di atas, maka tak perlu lagi tangga itu. Agar kalian tak punya pilihan untuk turun." KlabJazz kemudian berjuang di tempat yang berbeda dengan kami. Sementara kami, KlabKlassik, terus mencari bentuk sampai selama-lamanya: "Tempus mutantur, et nus mutamur in ilid" Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya.

KlabKlassik sekarang, bagi saya, adalah tempat dimana saya tak perlu takut jadi manusia terasing di tengah mekanisasi rutinitas perkotaan. Ada masa satu hari dalam seminggu dimana saya mewaraskan diri. Menggunakan segenap hati untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena adakah segala sesuatu mesti berguna? "Bersiul pun tidak berguna," demikian kata Goenawan Mohamad. Ini adalah tempat dimana saya menghabiskan ongkos, waktu, tenaga untuk kesana. Yang oleh manusia ekonomi saya ini dibilang inefektif, karena kemudian apa yang saya lakukan tidak mengembalikan modal yang telah saya keluarkan. Tapi jika Nietzsche berkata, "Hakekat kehidupan adalah kehendak untuk berkuasa" maka dari klab saya belajar, "Hakekat kehidupan adalah mengekspresikan rasa cinta" Dan jika kau mempunyai sesuatu, ataupun tempat, ataupun manusia, tempat kau mengekspresikan rasa cintamu secara bebas, maka barangkali damailah engkau. Dan jika memang ekonomi berbicara tentang uang, tidakkah uang nantinya juga digunakan untuk mengekspresikan rasa cintamu akan sesuatu?

Akhirul kata, semoga tulisan ini adalah bentuk rasa syukur atas adanya tempat yang barangkali Tuhan akan berpikir ulang jika mau menggelar kiamat. Setidaknya masih ada satu tempat dimana orang masih mau menggerakkan kakinya untuk sesuatu yang tak praktis. Sesuatu yang melampaui kepraktisan, yang cuma bisa dijawab oleh makna yang tertanam dalam masing-masing orang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Kang Trisna dari Subang mau jauh-jauh datang ke pertemuan klab yang cuma dua jam lalu lantas pulang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Mas Yunus dalam kondisi tipus mau dengan sempoyongan datang ke klab untuk mendengarkan haha hehe kami yang pasti kemasannya jauh lebih tidak menarik dibanding filosofi The Secret. Tidakkah barangkali, kiamat turun ketika semua orang sudah berpikir praktis? Semua orang sudah berpikir apa yang berguna bagi ia, dan tidak lagi menalar soal hal-hal yang melampaui itu?

Maka berbahagialah kita, dan berterima kasihlah pada orang yang jika tiada ide-idenya yang brilian, maka barangkali tak pernah ada klab ataupun tak pernah ada gairah untuk menjalankannya. Kita disini intinya mengikat silaturahmi, atau kata Kang Trisna, "klab ini dipersatukan oleh sesuatu, yang sesungguhnya bukan musik, tapi entah apa." Dan Mas Niman, Dwi Cahya Yuniman, kaulah beliau yang kami maksud. Dan kami berterima kasih sedalam-dalamnya atas batu pertama yang kau letakkan. Semoga kita bisa membangunnya hingga menjadi menara yang tinggi. Dan ketika sudah terlampau tinggi, seyogianya kita ingat tragedi Menara Babel yang mahsyur. Mereka tak mau lagi memandang ke bawah, tapi terus meninggikan menara, sehingga Tuhan menghukumnya dengan menjadikan lidah mereka bersilat berbagai bahasa.

Bach memberkati
Continue reading