Senin, 21 Desember 2009

Siddhartha: Percikan Inspirasi Sang Buddha


Penganugerahan Nobel Sastra bagi Hermann Hesse pada tahun 1946 dibuktikannya dengan sangat baik dalam novel Siddhartha ini. Bagi saya, novel ini tidak hanya indah dan puitis, tapi juga inspiratif dan mencerahkan. Keunikannya terletak dari tidak adanya konflik antar orang, melainkan hanya konflik Siddhartha (sang tokoh utama) dengan dirinya. Ya, ini adalah karya sastra yang bercerita tentang pergulatan batin dan pencarian spiritual seorang Siddhartha, yang diceritakan hidup sejaman dengan Gotama, Sang Buddha (sekitar 600 SM). Penokohannya sendiri sebenarnya cukup menggelikan. Fakta historis mengatakan bahwa Sang Buddha bernama asli Siddhartha Gotama. Namun di novel itu, antara Siddhartha dan Gotama adalah dua tokoh yang sama sekali lain. Gotama adalah Sang Buddha yang ajarannya saat itu tengah naik daun dan sangat digandrungi masyarakat India, sementara Siddhartha justru menolak ajaran Gotama, yang diungkapkannya dalam kalimat yang inspiratif: "Tidak ada seorangpun yang mendapat pencerahan dari sebuah ajaran".
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Siddhartha pun pergi mengelana mencari jati diri, dan bertemu banyak orang-orang yang menstimulus pergolakan dalam dirinya. Mulai dari pelacur cantik bernama Kamala, Kamaswami sang pedagang, juru sampan bernama Vasudeva, hingga sahabatnya, Govinda. Setiap tokoh tersebut memberikan kesan tersendiri bagi perjalanan spiritual Siddhartha. Bagi saya, novel ini memberi kesadaran bahwa hidup itu memang penuh paradoks. Manusia menjadi "baik" tak selalu didorong oleh hal-hal dan gagasan yang "baik" pula, seringkali justru yang "tidak baik" itulah yang menstimulus segala kebaikan.
Siddhartha tidak melakukan demarkasi antara pengaruh Gotama Sang Buddha dengan Kamala sang pelacur. Baginya, kedua orang itu sama sucinya. Saya juga luar biasa terkesan dengan tokoh Vasudeva si juru sampan, yang sangat ahli dalam "mendengarkan". Setiap cerita yang diungkapkan panjang lebar olah Siddhartha, ditanggapi Vasudeva dengan penghayatan yang tinggi, tanpa kata-kata. Bahkan kadangkala Vasudeva memejamkan matanya, dan menganggap setiap kata yang keluar dari mulut Siddharta, seperti rembesan air hujan yang masuk ke akar pepohonan, sangat alami! Saya jadi terpikir, jangan-jangan ada alasan tertentu kenapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Jangan-jangan juga memang "mendengarkan" itu adalah pekerjaan tersulit yang bisa dilakukan manusia.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dikandung dalam novel ini, yang sejujurnya sangat merangsang saya untuk lebih memahami tentang apa dan bagaimana itu "Buddha". Saya tutup review ini dengan kalimat yang menyegarkan dari -siapa lagi kalau bukan-Siddhartha: "Pengetahuan dapat diungkapkan, tapi tidak kebijaksanaan. Kebijaksanaan, saat seorang bijak mencoba mengungkapkannya, selalu terdengar bagai kebodohan".



Terima kasih untuk Indra yang sudah merekomendasikan buku ini. Sangat sangat inspiratif.
Previous Post
Next Post

0 komentar: