Kamis, 31 Desember 2009

Catatan Awal Tahun

Catatan Awal Tahun
Alhamdulillah, akhirnya tahun 2009 terlewati juga. Tahun yang bagi saya, salah satu yang berkesan. Berkesan dalam artian, di tahun ini, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Dan pemaknaan baru. Ada hal-hal yang dulunya saya tak paham, sekarang jadi paham. Atau entah saya merasa paham padahal sebenarnya belum, atau dari dulu sudah paham tapi sekarang tambah paham. Memangnya paham itu apa sih?

Yang pasti begini, apapun yang saya alami di tahun 2009 kemarin, ternyata sukses membuat saya sungguh-sungguh menatap 2010. Saya, untuk pertama kalinya, membuat daftar resolusi. Daftar resolusi yang bagi saya, terlampau rinci dan penuh perencanaan. Membuat tahun 2010 terasa dingin dan kaku, bagaikan angka-angka di microsoft excel. Membuat tahun 2010 terasa singkat dan padat, karena memang saya padatkan dalam perencanaan. Bukankah iya, segala perencanaan adalah seolah-olah menafikan bahwa hidup itu punya kejutan? Tidakkah jika Hume masih hidup, ia akan menertawakan daftar resolusi kita semua? Sambil berkata: "Bahkan kau tidak bisa menjawab apakah besok matahari masih terbit atau tidak."

Pertama, Alhamdulillah, Hume sudah lama tiada. Kedua, ini sepertinya klise, karena dulu prinsip saya tak begini. Ini baru-baru saja saya renungkan, dan rasanya naif sekali, bahwa: Coelho benar, bahwa jika kita sungguh-sungguh, alam semesta akan mendukung. Atau bahasa yang lebih religius: jika kita niat, maka akan terjadi. Kalau tidak terjadi? kurang niat namanya.

Saya kecewa sebenarnya mengatakan hal di atas. Rasanya percuma saja belakangan belajar filsafat serius, kalau ujung-ujungnya menyandarkan diri pada ungkapan klise yang berbau "iman". Tapi kekecewaan itu akhirnya berkurang sedikit-sedikit, ketika saya tahu, justru filsafatlah yang mengantarkan saya pada pemahaman lebih dalam terhadap ungkapan klise tersebut. Filsafat sukses meyakinkan seperti yang Kierkegaard bilang: "Nalar harus dipakai terus, agar kita tahu keterbatasannya". Dan wahai Kierkegaard, terlalu naif jika saya sudah mengatakan saya telah mencapai ujung nalar. Tapi bolehkah, sebagai manusia yang mana kebebasannya pun punya batas, saya menarik kesimpulan sementara, dengan melihat iman sebagai oase di tengah gurun. Untuk kemudian, sang nalar berhenti disana, minum air dan menggelar tenda. Sebelum melanjutkan perjalanan mencari batas entah dimana.

Tahun 2010, sudah siap saya tatap. Ditatap tak cukup, mestilah dihampiri dengan berani. Tahun yang menurut rencana saya, haruslah menjadi momen yang lebih baik untuk mengenal diri saya sendiri. Yang korelasinya mengarah pada apa yang kata Gibran: "Kenalilah dirimu, maka kau akan tahu siapa Ibumu". Ya, orangtua saya, yang belakangan saya berpikir mereka sebagai orang-orang yang sangat mulia, karena "menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencoba memahami anak yang secara tak adil tak pernah mencoba memahami orangtuanya". Tapi adakah bersitan dalam benak mereka, bahwa itu memang tak adil? Saya tak tahu perasaan mereka, tapi yang saya yakini: buat mereka, ini semua adil. Secara mengejutkan ini adil.

Maka itu, ya Allah. Berikanlah saya kekuatan di tahun 2010. Kekuatan untuk menjalani hidup yang, bukan benar ya Allah, tapi punya makna. Punya sesuatu yang bisa saya bagi untuk saya sendiri, orangtua saya, saudara saya, sahabat-sahabat saya, kekasih saya, dan orang lain. Karena saya, kita semua, berhutang pada semua manusia, seperti yang Gibran bilang.

Buatlah saya mengetahui banyak hal, hanya demi tujuan: bahwa nantinya saya jadi orang yang menyadari bahwa saya tak tahu apa-apa. Buatlah saya, ya Allah, menggunakan akal dan nalar, serta berbagai pertimbangan rasional dalam mempertimbangkan segala. Tapi di ujung keputusannya, tinggal hati nurani yang berbicara.

Buatlah saya, ya Allah, selalu disadarkan bahwa tak ada apapun yang saya terima ini kurang atau berlebihan. Karena segalanya cukup, hanya ketika saya bersyukur.

Buatlah saya, ya Allah, mencintai dunia ini. Bukan dalam rangka menafikan akhirat dan segala tetek bengek surgawi. Tapi karena sungguh, dunia ini menyimpan banyak keindahan dan misteri. Yang membuat saya sadar bahwa di dunia ini, ada surga itu sendiri.

Buatlah saya, ya Allah, sadar akan segala kesalahan. Dan memperbaikinya dalam tingkah laku perbuatan.

Buatlah saya, ya Allah, menyayangi kedua orangtua saya. Bukan semata-mata karena suatu hari barangkali saya jadi orangtua dan oleh karena itu saya takut hukum karma. Tapi karena, alasan apakah gerangan kita tidak menyayangi mereka?

Buatlah saya, ya Allah, berguna untuk dunia, berguna untuk semesta. Tidak harus dengan cara meluncurkan manusia ke Planet Venus atau memenangkan pemilu di Amerika atau menjadi aktivis Free Mason. Tapi dengan mencintai apa yang bisa dicintai dalam juluran tangan-tangan kecil yang saya punya. Dengan memberi apa yang bisa saya genggam dalam telapak tangan yang saya punya. Dan dengan berbuat lewat tubuh peluh yang kelak akan menua.

Buatlah saya, ya Allah, sering berdoa dan meminta kepadamu. Bukan karena saya tahu kau akan mengabulkannya. Tapi karena saya tahu, dengan berdoa, maka tak ada gunanya menganggap diri kita pusat semesta.

Buatlah saya, ya Allah, bertemu para personel Metallica. Karena sungguh, ya Allah, mereka keren.

Amin ya Rabbal Alamiin.
Selamat tahun baru semuanya. Selamat datang Januari: Janus si Muka Dua.
Continue reading

Senin, 21 Desember 2009

Siddhartha: Percikan Inspirasi Sang Buddha


Penganugerahan Nobel Sastra bagi Hermann Hesse pada tahun 1946 dibuktikannya dengan sangat baik dalam novel Siddhartha ini. Bagi saya, novel ini tidak hanya indah dan puitis, tapi juga inspiratif dan mencerahkan. Keunikannya terletak dari tidak adanya konflik antar orang, melainkan hanya konflik Siddhartha (sang tokoh utama) dengan dirinya. Ya, ini adalah karya sastra yang bercerita tentang pergulatan batin dan pencarian spiritual seorang Siddhartha, yang diceritakan hidup sejaman dengan Gotama, Sang Buddha (sekitar 600 SM). Penokohannya sendiri sebenarnya cukup menggelikan. Fakta historis mengatakan bahwa Sang Buddha bernama asli Siddhartha Gotama. Namun di novel itu, antara Siddhartha dan Gotama adalah dua tokoh yang sama sekali lain. Gotama adalah Sang Buddha yang ajarannya saat itu tengah naik daun dan sangat digandrungi masyarakat India, sementara Siddhartha justru menolak ajaran Gotama, yang diungkapkannya dalam kalimat yang inspiratif: "Tidak ada seorangpun yang mendapat pencerahan dari sebuah ajaran".
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Siddhartha pun pergi mengelana mencari jati diri, dan bertemu banyak orang-orang yang menstimulus pergolakan dalam dirinya. Mulai dari pelacur cantik bernama Kamala, Kamaswami sang pedagang, juru sampan bernama Vasudeva, hingga sahabatnya, Govinda. Setiap tokoh tersebut memberikan kesan tersendiri bagi perjalanan spiritual Siddhartha. Bagi saya, novel ini memberi kesadaran bahwa hidup itu memang penuh paradoks. Manusia menjadi "baik" tak selalu didorong oleh hal-hal dan gagasan yang "baik" pula, seringkali justru yang "tidak baik" itulah yang menstimulus segala kebaikan.
Siddhartha tidak melakukan demarkasi antara pengaruh Gotama Sang Buddha dengan Kamala sang pelacur. Baginya, kedua orang itu sama sucinya. Saya juga luar biasa terkesan dengan tokoh Vasudeva si juru sampan, yang sangat ahli dalam "mendengarkan". Setiap cerita yang diungkapkan panjang lebar olah Siddhartha, ditanggapi Vasudeva dengan penghayatan yang tinggi, tanpa kata-kata. Bahkan kadangkala Vasudeva memejamkan matanya, dan menganggap setiap kata yang keluar dari mulut Siddharta, seperti rembesan air hujan yang masuk ke akar pepohonan, sangat alami! Saya jadi terpikir, jangan-jangan ada alasan tertentu kenapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Jangan-jangan juga memang "mendengarkan" itu adalah pekerjaan tersulit yang bisa dilakukan manusia.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dikandung dalam novel ini, yang sejujurnya sangat merangsang saya untuk lebih memahami tentang apa dan bagaimana itu "Buddha". Saya tutup review ini dengan kalimat yang menyegarkan dari -siapa lagi kalau bukan-Siddhartha: "Pengetahuan dapat diungkapkan, tapi tidak kebijaksanaan. Kebijaksanaan, saat seorang bijak mencoba mengungkapkannya, selalu terdengar bagai kebodohan".



Terima kasih untuk Indra yang sudah merekomendasikan buku ini. Sangat sangat inspiratif.
Continue reading

Jumat, 18 Desember 2009

Untuk 30 November 2009

Untuk 30 November 2009
Sudah lebih dari dua puluh hari sejak saya terakhir mengupdate blog ini. Jika ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu. Daripada saya cari-cari alasan padahal intinya cuma malas.
Artinya, saya melewatkan juga hari ulang tahun saya untuk dituliskan. Maksudnya, dituliskan secara berdekatan dengan momennya. Padahal, ulang tahun saya tahun ini, terasa sangat bermakna. Bermakna karena banyak hal, yang akan saya ceritakan:


Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, bagi orangtua saya, itu adalah tanda: bahwa tepat dua puluh empat tahun lalu, saya lahir ke dunia. Lahir untuk entah apa, yang pasti awal mulanya, adalah untuk membahagiakan orangtua saya. Untuk meyakinkan sebenarnya mereka punya garis keturunan yang melanjutkan apa-apa yang pernah ia bangun dalam hidupnya. Yang lewat keturunan ini, seolah-olah orangtua saya disajikan, tentang nikmatnya menyaksikan rekaman ulang kejadian kehidupan.
Melanjutkan keturunan itu barangkali, memberi tahu dengan gamblang: bahwa, Subhanallah, hidup itu berputar adanya, hidup itu begitu-begitu saja. Dan oleh karena itu, kita, manusia, adalah satu-satunya pemberi dinamisasi: pemakna sejati. Dengan demikian kita punya perbedaan dari hewan, yang melanjutkan keturunan untuk semata-mata mempertahankan spesiesnya dari kepunahan. Secara lebih keren, melanjutkan keturunan adalah berarti memberi tahu secara lebih intim, bahwa kehidupan ini, seperti kata Yasraf Amir Piliang, adalah sebuah repetisi dinamis.
Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, saya cukup diajarkan sejak kecil, bahwa bolehlah itu dianggap spesial setiap tahunnya. Waktu SD, itu adalah hari dimana saya mentraktir teman-teman nonton bioskop. Waktu SMP juga. Beda lagi masa SMA, saya biasa mentraktir makan, yang berlanjut hingga kuliah. Hari yang seolah orangtua saya mau memberitahu saya, bahwa kau, Nak, sudah dua puluh empat tahun lamanya di dunia ini. Dua puluh empat tahun lalu kau membahagiakan kami dengan kehadiran. Maka dua puluh empat tahun kemudian kau membahagiakan kami juga dengan kehadiran. Kehadiran yang sedari dulu nyata dan ada, tapi rasanya tumbuh dan berbeda. Seperti kau sirami bibit mawar di halaman, dan kau menyaksikannya tumbuh merekah berbunga, dengan duri-durinya. Kau pasti pernah punya bayangan tentang bagaimana seharusnya mawar ini menjadi nantinya. Tapi ketika mawar tersebut berbeda dari yang kau bayangkan, misalnya: kelopaknya terlipat sebagian, merahnya tak merona, wanginya tak semerbak, atau durinya terlalu tajam, tidakkah yang masih penting, adalah kenyataan bahwa bunga itu masih disana, memberitahu bahwa ia, setidaknya bagi si mawar, ia tumbuh normal dan baik-baik saja?
Hari itu 30 November 2009, dan saya mengadakan acara makan-makan. Sederhana saja di rumah. Saya ajak teman-teman, ada teman SMA, teman KlabKlassik, teman bermusik, dan teman pascasarjana. Semuanya berkumpul, meski tak membaur semua. Tapi saya berbahagia menyaksikan semua. Mereka, di hadapan saya, adalah bagaikan menyaksikan juga repetisi dinamis. Karena lagi-lagi mereka hadir, lagi-lagi, yang harusnya bosan tapi tidak. Tidak karena dimaknai, tidak karena mereka membuat saya ada. Ada berada bukan dalam makna eksistensial, tapi esensial. Membuat saya selalu punya alasan kenapa saya ingin tetap di dunia.
Hari itu 30 November 2009 jam dua belas malam, dan saya sedang dalam jalur telepon. Berbincang. Mendengarkan suara nyanyian dari seberang sana, 180 kilometer katanya. Menyanyikan dendang yang, ah, metafor bidadari yang bernyanyi tak penting lagi. Persoalannya, kita tak pernah tahu apakah memang iya ada bidadari di kahyangan sana yang suaranya emas dan menggetarkan. Yang saya tahu pasti, ada bidadari disini, ya, aku menunjuk ulu hatiku. Dan iya, suaranya menggetarkan dawai-dawai batin yang pernah usang. Dawai-dawai batin yang resonansinya menggelegakkan darah di tubuh. Yang lagi-lagi saya suka metafor ini: seperti mawar yang ditetesi embun, seperti tenggakan dari anggur Dyonisus yang kemudian mengaliri kerongkongan. Yang membuat saya, sungguh-sungguh, mencintai dunia dan enggan meninggalkannya.


Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire...
Continue reading