Wednesday, November 25, 2009

Bunga untuk Dega

Bunga untuk Dega
Pulang mengantar kedua kawan, saya terhenti di Palasari. Sebuah kawasan pertokoan yang terkenal dengan buku-buku murah, pasar, dan kios-kios tempat menjual bunga. Hari itu hari minggu, jam sembilan malam. Toko itu masih buka, seperti yang sudah saya duga. Toko yang saya maksud adalah toko bunga, yang saya lebih senang menyebutnya dengan kios. Meski kios-kios itu terletak di pojok jalan, tapi cahayanya terang benderang. Cukup mencolok di tengah gelap gulita padamnya lampu dari pasar dan toko buku, yang telah menyetop perniagaan sejak sore.

Saya turun dari mobil, setelah parkir di pinggir jalan. Ada banyak kios, sekitar enam atau tujuh kalau tidak salah. Tapi entah dorongan darimana, saya memilih untuk masuk ke kios yang penjualnya berlogat Jawa. Sepertinya juga, karena mawar yang ia pajang merahnya menggoda. Dibanding yang lainnya, padahal sama-sama merah. Oke, saya mulai memilih-milih mawar yang disimpan dalam ember. Ada beberapa warna, tapi saya hanya ingin merah. Katanya sih, merah menandakan cinta sejati. Tapi, ah, tak usah dimaknai tidak apa-apa kan? Bunga sudah manis pada dirinya sendiri. Bunga sudah indah sebelum ia dikatakan indah. Saya akhirnya beli lima, ditawar sedikit, tapi saya tak mau berdebat banyak. Harga sepakat turun, dan saya minta dirangkaikan yang cantik, pakai pita merah.

Saya menyimpan dengan hati-hati si bunga, di jok di samping saya. Saya pandangi sesekali, di tengah perjalanan pulang yang cuma lima menit. Bunga ini untuk seorang wanita. Wanita yang sedang berada di rumah saya. Entah menantikan saya pulang atau tidak, tapi saya yakin ia akan senang melihat saya datang. Bunga ini untuknya, yang tidak boleh saya berikan karena alasan apapun kecuali satu: bahwa dia satu.

Mawar, entah itu cuma sekedar konstruksi atau hakiki, saya percayai memang punya daya magi. Barangkali karena hidupnya yang cuma sebentar. Yang saya ingat, hanya empat atau lima hari, ia kemudian layu lalu mati. Tidakkah sangat tidak merepresentasikan cinta sejati, yang mestinya lama dan tidak mati-mati? Memang kelihatannya demikian, tapi saya punya versi sendiri: Yang justru bagi saya, cinta sejati itu, sangat terepresentasikan lewat mawar. Ia tumbuh sebentar, menguncup lalu merekah. Menebar wangi yang tidak menyengat, tapi menelusup diam-diam ke lubang hidungmu. Bagai pencuri yang mengendap di malam gelap, memasuki rumah yang penghuninya sedang tidur lelap. Lalu pada momen ketika mawar berpindah tangan, dari pemberi ke penerima, itu seperti begini: seperti jika semesta ini punya wajah, maka ia sedang berpaling padamu. Berpaling lalu tersenyum. Tersenyum dengan garis bibir yang lebar dan tatapan mata yang berbinar. Lalu semesta, dengan wajahnya yang cerah dan agung, berkata cinta kepadamu. Tapi bukan dengan bahasa, melainkan lewat uraian kalbu yang membuat dunia hening sejenak. Hening barang sedetik dua detik. Dan yang terdengar hanya bunyi jantungmu yang degupnya terdengar jelas di telinga.

Setelah itu, semesta kembali memalingkan mukanya darimu, dan ia kembali bekerja mendenyutkan dunia. Momen tadi begitu pendek, sependek umur mawar dari dia ada hingga tiada. Tapi kau tak pernah lupa, takkan, bahwa semesta pernah menyapamu. Bahwa semesta pernah hadir, dan dengan kuasanya, ia berhenti mengurusi segala. Hanya untukmu ia berhenti, seperti ada kupu-kupu yang sengaja hinggap di hidungmu, karena semata-mata ia tak mau hinggap di hidung yang lain selain punyamu. Kau tak pernah lupa, takkan, bahwa mawar sejati bukan yang sedang kau terima dari si pemberi, tapi yang kuncupnya merekah perlahan di dalam hati. Tumbuh berkembang dan menebar wangi ke darah dan jantung. Yang tak pernah mati, lekang oleh waktu, bahkan jika sang hati terlukai. Mawar yang tumbuh di hati yang luka, tetap bernama mawar. Mawar yang itu-itu juga, yang harum dan menari.

Dan ketika bunga itu di tanganmu, Dega. Saya sedang tidak tahu apa yang kau pendam dalam diammu. Tapi akan kutanyakan, apakah itu, karena kau sedang tertegun melihat senyum semesta?
Continue reading

Tuesday, November 3, 2009

Garasiku


Garasi yang saya maksud disini, adalah garasi yang kau sebut dengan garasi juga. Bukan garasi yang memang sengaja kami bikin lebih luas, dengan dekorasi sana-sini, dengan lantai yang selalu bersih. Ini adalah garasi yang sebagaimana mestinya garasi: tempat menyimpan kendaraan, dan ukurannya hanya sedikit lebih luas dari kendaraan itu, dan pastilah lantainya hampir selalu kotor, tergilas ban yang membawa debu dan lumpur jalanan. Ini adalah garasi yang sama dengan yang kau maksud, yang menjadi ruangan kosong, jika mobil di dalamnya sedang digunakan oleh penghuni rumah.

Kau pasti tahu, bahwa setiap kegiatan punya tempatnya sendiri, ruangannya sendiri. Tempat memasak adalah dapur, tempat untuk tidur adalah kamar tidur, tempat makan adalah di restoran, tempat menyimpan lukisan di galeri, tempat menyaksikan musik adalah di gedung konser, tempat menyaksikan musik klasik adalah di gedung konser berakustik, tempat rapat adalah di meja yang melingkar, dan lain-lain yang stereotip. Tapi darimanakah asalnya korelasi kegiatan dan tempat itu? Tidakkah tadinya, coba kita berandai-andai, bahwa ada semacam ruangan kosong, dengan berbataskan tembok, lalu si pemilik berkata, “Ruangan ini kosong, mari kita isi dengan sesuatu.”

Demikian, barangkali, pada mulanya, semua adalah ruang kosong. Ketika si pemilik mencanangkan bahwa sebuah ruangan difungsikan, menjadi sesuatu yang bisa digunakan, maka seiring dengan waktu, tercipta “nama ruang”. Memberi nama, kata Saussure, adalah sekaligus membedakan. Memberi nama kamar tidur, adalah sekaligus membedakan ia dari kamar mandi, restoran, gedung konser, dan galeri. Membedakan berdasarkan nama, maupun maknanya. Seolah-olah dengan itu, maka kegiatan saling menukar fungsi ruang menjadi perilaku yang kurang etis.

Dalam konteks tertentu, memang seringkali ada kegiatan “lintas-fungsi ruang”, seperti dalam restoran, ada juga musik klasik. Dalam tempat tidur, ada juga lukisan yang disimpan. Bahkan dalam kamar mandi pun, kadang ada lukisan. Dalam bis, mal, dan bioskop, juga seringkali ada sesuatu yang secara “nama ruang”, tidak seharusnya. Memang kombinasi tersebut menghasilkan estetika yang sangat memuaskan indrawi. Dalam bis yang penat, oh ada musik. Dalam restoran yang hiruk pikuk, musik membuat hangat, pun lukisan. Hanya saja, kegiatan lintas fungsi-ruang kurang menghasilkan kedalaman, akibat dikikisnya fungsi “profesional” ruangan. Masih terasa berbeda, ketika menyaksikan konser musik klasik di gedung akustik, dengan menyaksikannya sambil makan di restoran. Ada penyampaian emosi yang berbeda: yang pertama lebih fokus, intim, dan detail, karena indra kita dipaksa terpaku kesana. Yang kedua, saling melengkapi dan memberi kehangatan, tapi sebatas sensasi saja, tidak membuat kita menemukan makna yang betul-betul mendalam.

Yang terjadi sekarang adalah, dalam ranah ruang publik, profesionalisme ini menemui persoalan. Ketika dunia informasi semakin cepat, padat, dan nirbatas, maka membiarkan satu ruang untuk satu kegiatan, adalah dianggap kuno dan ketinggalan. Apalagi, profesionalisme ruangan, telah bergeser pada komersialisasi ruangan. Karena profesional, satu, eksklusif, dan berbeda dari yang lainnya, maka kapitalisme memberi harga. Harga tinggi, kemudian mengikis makna. Efeknya, profesionalisme ruangan menjadi semacam gaya hidup. Menjadi semacam cara orang mengaktualisasikan dirinya dengan cara berbeda. Galeri misalnya, yang tadinya menjadi tempat orang lebih fokus untuk mengapresiasi lukisan, sekarang menjadi tempat berkumpul eksekutif muda untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka juga punya citarasa seni. Tanpa harus betul-betul memahami lukisan di dalamnya. Pun gedung konser akustik, misalnya, menjadi tempat orang-orang yang sangat mengedepankan citra, ketimbang apa yang tersaji di dalamnya. Kemana orang-orang yang memang mau dengan dalam mengapresiasi? Bisa jadi mereka tersingkir, akibat harga, akibat eksklusivitas, akibat perasaan minder, karena merasa “salah tempat”.

Mereka-mereka ini, kemudian, mencari ruang kosong yang baru. Berjuang menemukan kembali makna dari musik, lukisan, makanan, dan kegiatan lainnya. Menemukan kembali hakikat dan substansi terdalam, bahwa jangan-jangan: bukan soal ruangnya, bukan. Tapi soal pemahaman terhadap isi ruangan, yang hanya bisa didapat barangkali, dengan menyingkirkan profesionalisme dan komersialisasi. Artinya: ruangan, dimana saja boleh, asal kosong. “Nama ruang” yang pernah dielu-elukan, tak lagi penting. Bahkan kecenderungannya, ruangan itu harus kecil dan sama sekali tidak menyimbolkan stereotip kapitalisme. Harus sesederhana mungkin, seperti secara langsung mengejek ruang publik yang semakin tak dekat dengan publik.

Disinilah, disini. Kembali ke garasi yang saya maksud, yang kau maksud juga. Bahwa di garasi rumah ini, adalah ruangan juga, ruangan yang kosong jika mobil tidak ada di dalamnya. Ketika itu kosong, maka bolehlah, bagi orang yang peduli, untuk berkegiatan mencari makna. Makna yang telah terkikis oleh eksklusivitas ruang. Silakan pajang lukisan, menggelar konser musik klasik, memasak bersama, berorasi, rapat, atau syukuran tumpengan. Sepertinya berkegiatan disini, kau tak akan merasa keren karena tempatnya, oh saya tidak sedang merendah: kecil dan kotor. Tapi disini, ya disini, setidaknya yang saya yakini, kau akan menemukan hangat dan lenturnya pencarian makna, karena tidak sedang ditunggangi serakahnya pencitraan, yang dingin dan kaku.

Garasiku, 30 Agustus 2009: acara syukuran Resital Tiga Gitar Plus Satu

Continue reading