Wednesday, October 21, 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Satu)

Saya ingat kejadian itu, meski lupa tanggal, lupa hari. Kejadian dimana seorang bapak yang belum tua-tua amat memasuki kamar saya. Bawa gitar dan bawa penyangga partitur. Ia duduk di tempat yang saya sediakan, sedangkan saya, duduk santai di kasur. Saya tanya ia pertama kali, "Bapak, tahu Joe Satriani?" Lalu dia diam sejenak, keningnya mengkerut, lalu menjawab singkat, "Tahu." Entah kenapa, saya tidak percaya dia tahu. Karena toh ia sibuk sendiri menyiapkan materinya yang pertama. Materinya di hari pertama. Hari pertama ia mengajari saya. Mengajari saya gitar klasik.

Namanya Kwartato Prawoto. Saya waktu itu tahunya Pak Prawoto saja. Ia berkumis tebal, rambutnya pendek, tebal juga, dan kaku. Matanya sayu dan kulitnya menurut saya sih, hitam. Gayanya tidak luwes dan sepertinya ia agak canggung. Joe Satriani adalah nama gitaris elektrik asal Amerika, turunan imigran Italia. Saya menggemarinya, punya banyak kasetnya. Saya? Saya lupa umur saya berapa, tapi kitaran kelas dua SMP. Mungkin umur tiga belas atau empat belas. Hari itu bukan hari pertama saya mengenal gitar. Sebelumnya sudah, bahkan sudah bikin band. Band yang memainkan lagu-lagu Nirvana.

Saya temukan namanya di koran Pikiran Rakyat. Di kolom kecil yang terdiri dari sekitar empat baris. Tidak ada tulisan 'belajar gitar klasik', hanya ada 'belajar gitar'. Saya yang sedang gandrung nge-band, tak pikir dua kali untuk mengontak calon guru. Lalu itulah, harga lesnya saya ingat: Seratus ribu per bulan, per pertemuan lima puluh menit. Semuanya empat pertemuan.

Dan kami berdua di kamar itu. Kamar saya. Saya tak berhenti bertanya dengan perasaan berdebar sekaligus senang: Apa yang mau ia ajari untuk saya? Akhirnya dia mengambil bukunya, dan membuka halaman pertama. Disuguhinya saya gambar-gambar yang saya kenal sebagai not balok. Ia mengajari saya membaca notasi. Dari mulai senar pertama hingga ke enam. Oh, pikiran nakal saya mendadak redup. Saya pernah tahu dari teman, bahwa ketika ia les, ia diajari berbagai macam teknik dan improvisasi. Tapi oh, lihat ini, saya bermain dengan ketukan kaki, alih-alih drum yang keluar dari sound system. Lalu oh, lihat ini, ketika saya sudah bisa berbagai chord, ia mengajari saya lagi dua kunci saja: C dan G7. Lalu mana melodi dahsyat itu? Yang mengalir merambat bagai air. Yang petikannya cepat dan kilat. Dan bunyinya bagai gitar dipegang Santana. Erangannya seperti Satriani dengan whammy. Mana?

Tapi entah tenaga darimana, saya tak kuasa berhenti. Not demi not, chord demi chord, mulai dipahami dengan ikhlas dan tabah. Seolah memang gitar elektrik boleh tetap saya geluti, tanpa terganggu kenyataan bahwa saya sedang belajar musik klasik yang tekstual dan membosankan. Kehidupan belang-belang itu akhirnya pelan-pelan berakhir, setelah suatu kejadian di -saya ingat tanggalnya- 21 Agustus 2001.

Saat itu, adalah konser di Aula Barat ITB. Judulnya saya tidak ingat persis, tapi kira-kira begini: "Konser Gitar Klasik Prawoto, Ridwan, Krishnan, Ervin, dan Murid-Muridnya". Jadi ceritanya ada empat guru gitar yang cukup senior di Bandung, yakni nama-nama itu. Atas prakarsa Rotary Club, mereka semua dikonserkan beserta murid-muridnya. Semuanya tampil dengan format solo. Saya? itu konser debut saya di gitar klasik. Memainkan Fur Elise karya Ludwig van Beethoven. Saya ingat, waktu itu saya pakai ikat kepala. Yang lain tidak ada yang begitu. Saya juga entah dapat ide darimana. Di konser itu pula, saya berkenalan dengan Royke Ng. Ia adalah murid dari Pak Ridwan yang sudah terlebih dahulu malam melintang di dunia gitar klasik. Royke Ng dan Pak Ridwan yang kelak beberapa tahun kemudian, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan gitar klasik saya.

Malam itu saya naik panggung pertama kalinya. Pertama kalinya seorang diri, dengan menenteng gitar akustik di tangan kanan. Dengan berdiri, lalu hormat dengan cara membungkuk. Dengan foot stool di kaki kiri, dengan perasaan tegang akibat terlalu memikirkan kesempurnaan. Momen itu saya ingat, cahaya lampu hangat sekali. Ada lampu di panggung, semacam lampu taman. Bentuk kacanya bulat besar, seperti kau sering lihat di salon-salon. Penonton gelap dan tak terlihat. Mereka katanya, sih, tiga ratus orang. Lalu saya mulai bermain.

Pertamanya not E dan D#, saya ingat. Awalnya tegang, tapi setelah lebih dari dua puluh detik, saya mulai menikmati. Fret di tangan semakin jelas, dan saya tahu persis kemana harus berpindah-pindah posisi jari demi mendapatkan nada yang tepat. Akibat kenyamanan itu, saya merasa mesti bergaya sedikit untuk seolah-olah sedang menikmati. Saya goyangkan kepala sekenanya, seolah mengikuti jari yang berpindah sana-sini, seolah beriringan dengan nada yang turun naik. Dan itu, akhirnya saya merasakan perasaan yang sejak hari itu saya selalu merindukannya: Yakni ketika not terakhir selesai didentingkan. Sunyi, sepi.

Oh, tapi setelahnya, ada bunyi riuh. Riuh tepuk tangan para hadirin. Seperti kau sedang tidur pulas, lalu disiram air galonan demi membuatmu bangun. Rasanya sempat aneh dan asing, karena kau berada di perbatasan tidur dan jaga. Tapi setelah itu langsung segar dan cerah ceria. Lebih dari itu, ada perasaan lega dan bangga. Bangga karena sukses mengatasi tekanan atas hasrat kesempurnaan. Yang entah kenapa, selalu diinginkan oleh keklasikan.

Malam itu umur saya lima belas tahun. Turun dari panggung, saya menemui orangtua dan saudara yang menunggui. Saya meminta pendapat mereka, dan dibilangnya bagus. Tentu saja mereka bilang bagus, tidakkah harusnya begitu orangtua berkata? Dari malam itu, ya, malam itu, saya memutuskan untuk mencoba mencintai gitar klasik sepenuh hati. Gitar elektrik lambat laun akan saya kurangi porsinya. Saya sungguh merasakan nikmatnya membunyikan denting terakhir. Perasaan bagaimana mengatasi tekanan. Karena disana, di panggung sana, kau seorang diri, bertanggungjawab atas dirimu sendiri. Suara yang keluar, adalah suaramu. Gerak tubuh yang keluar, adalah gerak tubuhmu. Cinta yang dibagi, adalah cintamu. Terima kasih, Pak Prawoto.


Bersambung
Previous Post
Next Post

4 comments:

  1. Rupanya kecebur ya. Kenapa sekarang menulis awal mula belajar gitar klasik?

    ReplyDelete
  2. Karena setelah mengikuti ujian senin kemarin, gw merasa harus mulai membuka lebar-lebar mata dan telinga. Mulai harus mencoba sesuatu di luar klasik. Dulu suka coba-coba, tapi belum dikatakan memilih. Ujian udah, kompetisi udah, resital udah, jadi saat yang tepat untuk melepas gitar klasik dengan perasaan kangen yang dalam, tapi tidak cukup penasaran untuk kembali kesana (setidaknya untuk sementara). Mungkin ujian, kompetisi, dan resital itu, tidak secemerlang para klasikus yang lain. Tapi setidaknya buat gw, itu bermakna. Dan ketika dituliskan, gw sadar betul bahwa gitar klasik udah memberikan banyak buat gw, kalau tidak bisa dibilang segala-galanya. Dan hasrat gw dalam membangun klabklassik, adalah bagian dari balas budi gw terhadap musik klasik, khususnya gitar klasik.

    ReplyDelete
  3. debut resitalnya pake ikat kepala y..wah wah bener2 pendekar gitar klasik nie ^_^
    n bener lho mas, mengalahkan atau menguasai atau mengontrol atau mengatasi diri sendiri itw......
    sangat menyenangkan ^_^

    ReplyDelete
  4. wkk.. entah kenapa bisa mampir ke blog ini..
    btw.. sy ex murid pak prawoto juga
    dan pas konser itu sy juga ada di sana, sebagai penonton tapinya.
    sy juga inget tuh ada yg naik panggung pakai iket kepala..

    ReplyDelete