Senin, 26 Oktober 2009

Sex and The City The Movie: Upaya Menjadi Manusia Etis


Saya sudah melihat film ini sekira setahun yang lalu. Dan semalam saya menyaksikannya kembali di teve kabel. Oh, membuat saya ingat bahwa saya pernah menulis soal film tersebut di blog lama saya. Membuat saya ingin memindahkannya dari blog lama ke sini, untuk lalu diedit, dengan sudut pandang saya berdiri sekarang.



Melihat kuartet Carrie Bradshaw, Samantha Jones, Charlotte York, dan Miranda Hobbes, sulit dipungkiri bahwa kita juga sekaligus menyaksikan etalase fashion yang berkilau, budaya konsumerisme tak berujung, serta citra masyarakat New York yang hedonis dan teralienasi. Sama halnya dengan edisi serial, versi layar lebar ini masih mengedepankan identitas tersebut. Bedanya barangkali terletak pada upaya pengonklusian yang digambarkan lewat cerita pernikahan antara Carrie dan Big.

Keseluruhan film berdurasi sekitar dua jam lima belas menit ini (cukup panjang untuk ukuran film yang delapan puluh persennya berisi ngobrol-ngobrol), sebenarnya mengangkat isu yang tak pernah ketinggalan: cinta dan persahabatan. Hanya saja yang menarik bagi saya adalah tentang prosesi pencarian makna kedua isu tersebut, yang nampak begitu sulit diarungi jika berada di tengah lautan hedonisme dan konsumerisme ala kota besar. Ketika kota penuh hiruk pikuk seperti New York menyuguhkan suasana yang membuat manusia terasing dari dirinya, maka kuartet ini merupakan contoh manusia yang selalu bergulat dengan reflektivitas dan kontemplasi. Mereka berempat seolah paham bahwa citra permukaan yang ditawarkan New York berpotensi membunuh subjek, namun segala perlawanan dan pemaknaan itulah yang membuat film karya Michael Patrick King tersebut menjadi hidup. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya berikutnya adalah: mengapa pernikahan mesti jadi semacam konklusi bagi gaya hidup mereka (dalam hal ini Carrie)? Tidakkah eksterioritas kota sebesar New York telah menawarkan segalanya yang dianggap mampu mewakili setiap aspek hidup manusia? Tidakkah justru kebebasanlah yang dicari kuartet tersebut, mengingat hasrat keempatnya yang tak pernah berhenti menagih? Saya kemudian curiga, jangan-jangan manusia bisa saja bosan dengan kebebasan, yang hakikatnya malah ia tak pernah berhenti diperjuangkan.

Pernikahan adalah tentang cinta, itu lumrah, tapi bisa saja hal tersebut adalah bentuk kelelahan manusia dalam mengarungi kompleksitas berpikir dan berbuat bebas, hingga akhirnya "terpaksa" mencari dahan untuk berpegang. Setidaknya dengan menikah, kebebasan itu sendiri berubah bentuk, menjadi terorientasi, menjadi tidak melulu tentang pemenuhan hasrat yang tiada habisnya. Karena barangkali (karena saya belum menikah), kebebasan tersebut naik kelas, menjadi semacam "kebebasan bagi yang lain", atau kebebasan demi nilai-nilai tertentu. Yang mendadak saya ingat tiga tahapan manusia menurut Kierkegaard. Yang pertama adalah manusia semacam Don Juan (Kierkegaard menyebutnya manusia estetis), yang melakukan apa-apa demi hasrat. Yang bisa diibaratkan seperti kuartet tersebut jika berada dalam kegemerlapan New York. Kedua, Kierkegaard namakan dengan manusia etis, dan ia mencontohkan layaknya Socrates. Hidup demi apa yang dinamakan tanggung jawab. Bisa saja tanggung jawab itu bukanlah hasrat pribadi, dan malah tertekan ketika kau menanggungnya. Tapi begitu kau hidup baginya, entah kenapa terasa lebih bermakna. Yang membuat saya jadi setuju dengan utilitarianisme: yang baik adalah yang berguna bagi orang banyak. Yang ketiga adalah manusia religius, dan saya tak akan membahas disini karena sepertinya kurang relevan.

Jikalau demikian, maka manusia etis ala Sex and The City yang digambarkan via cerita pernikahan Carrie dan Big dalam film ini sah-sah saja dijadikan konklusi. Karena menunjukkan bahwa mereka, meski dengan susah payah, tetap menyimpan keinginan untuk lepas dari jeratan hedonisme dengan caranya sendiri. Agar, ya itu, tak selamanya menjadi manusia estetis Kierkegaardian.


Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sex_and_the_City_The_Movie.jpg
Continue reading

Jumat, 23 Oktober 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Dua)

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Dua)
Ketika kau pernah nge-band, memainkan lagu-lagu seperti Nirvana dan Black Sabbath. Lalu belajar gitar elektrik hingga sedikit-sedikit bisa menirukan Jimi Hendrix dan Ritchie Blackmore. Lalu keseharianmu yang kau dengar adalah Metallica, plus memajang posternya di kamar, di samping foto Eric Clapton. Tidakkah memutuskan menggeluti gitar klasik adalah hal yang kurang keren? Siapakah tokoh gitar klasik yang saya tahu, kecuali guru saya sendiri, Kwartato Prawoto?

Tapi demikianlah, akhirnya saya terpanggil oleh entah apa. Untuk menekuni gitar klasik, ranah yang sepi dan sunyi ini, secara lebih serius. Sejak konser di Aula Barat, orangtua saya sepakat untuk membelikan gitar yang lebih bagus. Lebih layak untuk dimainkan di konser klasik yang sangat mengedepankan kesempurnaan dan kemurnian bunyi. Saya berlatih lebih serius, dan porsi belajar gitar elektrik semakin dikurangi.

Hingga tiba akhirnya, hari itu, dua tahun setelah konser di Aula Barat. Suatu bulan Oktober di tahun 2003, saya konser yang ketiga kali. Nama konsernya, kalau tidak salah, "Konser Gitar Klasik Kwartato Prawoto dan Murid-Muridnya". Namanya sama seperti konser saya yang kedua, tempatnya pun sama, yakni di Auditorium CCF. Bedanya adalah jumlah lagu, sebelumnya tiga sekarang tujuh, saya ingat: Tango en Skaii dari Roland Dyens, Valse Venezolano no. 2 dari Antonio Lauro, Prelude no. 1, 2, dan 4 karya Heitor Villa-Lobos, Requerdos de la Alhambra karya Francisco Tarrega, dan Cancion y Danza no. 1 dari Antonio Ruiz-Pipo. Semua konser, selalu bermakna bagi saya, tapi saya selalu menandai, konser mana yang menjadi titik balik. Inilah salah satunya.

Akan saya ceritakan bagaimana semuanya bermula: Kwartato Prawoto, saya melabelinya sebagai seorang resitalis. Kenapa? karena ya itu, obsesinya dalam bermain gitar klasik adalah untuk resital, untuk tampil dalam sebuah konser yang diapresiasi orang banyak dalam suasana klasikal yang amat serius. Ini sungguh, menjadi sumbangsih terbesar darinya bagi perjalanan pergitaran klasik saya berikutnya. Bukan semata-mata saya ingin jadi resitalis juga, tapi kenyataan bahwa saya berkembang menjadi seorang yang sangat menginginkan tampil di depan umum. Sumbangsih Pak Prawoto yang berharga tersebut, pada suatu ketika, saya nodai.

Dalam suatu kesempatan, beberapa bulan sebelum konser ketiga tersebut, saya disuruh tampil di acara kampus bernama INTREX (International Relations Expo). Saya diminta tampil dalam format solo. Di acara yang sama, ternyata tampil juga seorang solois gitar klasik, namanya saya ingat: Ivan Budihutama. Saya tertarik ketika tahu ada yang tampil dengan format yang mirip-mirip saya. Apalagi yang saya tahu, ia memainkan lagu berjudul Cancion y Danza no. 1, yang mana saya mainkan juga. Oh, tapi sungguh saya tak menyangka, bahwa ia akan begitu memukau. Saat memainkan bagian Danza, ia membuat seisi aula seolah ikut menari. Bagian yang saya tidak memainkannya seperti itu, tapi lebih gemulai dan melodius. Tapi firasat saya kuat, bahwa yang dimainkan Ivan itulah interpretasi yang seharusnya. Apa gerangan yang diajarkan oleh Pak Prawoto? Saat itu saya mulai ragu, dan akhirnya menyelidiki, darimana Ivan mendapatkan interpretasi macam itu. Ia kemudian menyebutkan nama gurunya, yakni Pak Ridwan. Ridwan Budiutama Tjiptahardja tepatnya, yang kemudian saya kontak ia. Setelah sepakat soal waktu dan harga, akhirnya saya pun resmi les privat kepadanya, beberapa bulan saja sebelum konser Oktober tersebut.

Dari sudut pandang saya sekarang, perbuatan tersebut kurang terpuji, karena saya punya dua guru sekaligus. Bukan soal itu, tapi kenyataan bahwa Pak Prawoto tidak mengetahui saya sedang les juga dengan Pak Ridwan. Pak Ridwan? tentu saja ia tahu bahwa saya tengah menyiapkan konser bersama Pak Prawoto. Secara profesional tentu saja sah, tapi secara etis, saya tahu itu tidak, terlebih setelah saya pun sekarang punya profesi sebagai pengajar. Tapi waktu itu saya, sebagai murid yang tengah bersemangat dan terobsesi, tak terlalu ambil pusing. Dampaknya, di tangan Pak Ridwan, saya mendapat banyak koreksi perihal lagu-lagu yang akan dikonserkan. Dampaknya lagi, lagu-lagu tersebut menjadi lebih berkualitas dan berbobot.

Dampaknya lagi, terasa ketika konser berlangsung. Pak Prawoto membawakan tiga belas lagu, semuanya karya J.S. Bach. Saya tujuh lagu, kesemuanya sudah dipoles Pak Ridwan selama kurang lebih dua bulan. Lalu entah kenapa, penampilan Pak Prawoto malam itu tak seperti biasanya. Ia banyak lupa not, mengulang dari awal, dan wajahnya merautkan ketegangan yang sangat. Kemudian, diantara permainannya yang underform, saya selalu muncul sebagai selingan. Waktu itu saya berumur tujuh belas, dengan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi, saya merasa telah merebut aura penonton yang seharusnya menjadi milik guru saya sendiri. Saya tahu itu, karena suara riuh penonton dan hangatnya apresiasi, tak pernah bisa dipungkiri. Kau akan tahu penonton memperhatikanmu dengan baik, karena mereka mengirimimu energi. Pak Prawoto? Saya mendapati pemandangan memilukan: Setiap ia naik panggung, banyak penonton yang keluar ruangan.

Konser diakhiri dengan Pak Prawoto sebagai penutup. Sisa penonton saya lupa tepatnya, tapi di bawah sepuluh orang. Itupun beberapa diantaranya dari pihak keluarga saya, yang sudah mengenal Pak Prawoto dengan baik. Saat ini, jika mengingatnya, saya malu dan sedih. Tapi saat itu, tak ada perasaan lain selain bangga dan digjaya. Seolah memang itulah perasaan seharusnya jika kau telah mempermalukan gurumu di atas panggung. Ia adalah Pak Prawoto, yang waktu itu saya lupa, bahwa dialah yang telah membimbing saya selama empat setengah tahun. Sejak itu, saya diliputi perasaan bangga tak terkira. Dan belakangan barulah saya tahu, bahwa itu perbuatan yang memalukan dan tak pantas ditiru.

Sejak saya punya perasaan malu itu, hampir di setiap konser, saya selalu mendedikasikan lagu pertama untuk Pak Prawoto. Padahal saya tahu, ia tak pernah hadir ketika saya tampil. Suudzon-nya, saya bahkan berpikir bahwa ia sedang mengutuki saya. Sebagai murid maha durhaka yang tak tahu diuntung. Dulu dibina, sekarang kemana?

Pak Prawoto, maafkan saya. Kau adalah guruku, selalu, selamanya. Semoga Allah membalas jasa-jasamu. Saya sadar sekarang, bahwa segala hal adalah guru, hanya jika kita mau merendahkan hati. Perkataan sopir angkot dan literasi Sartre adalah sama-sama memberikan pengetahuan jika kau mau merendahkan hatimu. Saya malu ketika kerendahan hati saya sering sirna, dan tak ada lagi yang saya anggap guru, sama seperti kejadian di konser itu. Saya harap Bapak mau memaafkan saya, biarpun saya tahu Bapak ingin mengutuk saya jadi batu. Tapi apa daya Bapak bukan Ibuku.
Continue reading

Rabu, 21 Oktober 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Satu)

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Satu)
Saya ingat kejadian itu, meski lupa tanggal, lupa hari. Kejadian dimana seorang bapak yang belum tua-tua amat memasuki kamar saya. Bawa gitar dan bawa penyangga partitur. Ia duduk di tempat yang saya sediakan, sedangkan saya, duduk santai di kasur. Saya tanya ia pertama kali, "Bapak, tahu Joe Satriani?" Lalu dia diam sejenak, keningnya mengkerut, lalu menjawab singkat, "Tahu." Entah kenapa, saya tidak percaya dia tahu. Karena toh ia sibuk sendiri menyiapkan materinya yang pertama. Materinya di hari pertama. Hari pertama ia mengajari saya. Mengajari saya gitar klasik.

Namanya Kwartato Prawoto. Saya waktu itu tahunya Pak Prawoto saja. Ia berkumis tebal, rambutnya pendek, tebal juga, dan kaku. Matanya sayu dan kulitnya menurut saya sih, hitam. Gayanya tidak luwes dan sepertinya ia agak canggung. Joe Satriani adalah nama gitaris elektrik asal Amerika, turunan imigran Italia. Saya menggemarinya, punya banyak kasetnya. Saya? Saya lupa umur saya berapa, tapi kitaran kelas dua SMP. Mungkin umur tiga belas atau empat belas. Hari itu bukan hari pertama saya mengenal gitar. Sebelumnya sudah, bahkan sudah bikin band. Band yang memainkan lagu-lagu Nirvana.

Saya temukan namanya di koran Pikiran Rakyat. Di kolom kecil yang terdiri dari sekitar empat baris. Tidak ada tulisan 'belajar gitar klasik', hanya ada 'belajar gitar'. Saya yang sedang gandrung nge-band, tak pikir dua kali untuk mengontak calon guru. Lalu itulah, harga lesnya saya ingat: Seratus ribu per bulan, per pertemuan lima puluh menit. Semuanya empat pertemuan.

Dan kami berdua di kamar itu. Kamar saya. Saya tak berhenti bertanya dengan perasaan berdebar sekaligus senang: Apa yang mau ia ajari untuk saya? Akhirnya dia mengambil bukunya, dan membuka halaman pertama. Disuguhinya saya gambar-gambar yang saya kenal sebagai not balok. Ia mengajari saya membaca notasi. Dari mulai senar pertama hingga ke enam. Oh, pikiran nakal saya mendadak redup. Saya pernah tahu dari teman, bahwa ketika ia les, ia diajari berbagai macam teknik dan improvisasi. Tapi oh, lihat ini, saya bermain dengan ketukan kaki, alih-alih drum yang keluar dari sound system. Lalu oh, lihat ini, ketika saya sudah bisa berbagai chord, ia mengajari saya lagi dua kunci saja: C dan G7. Lalu mana melodi dahsyat itu? Yang mengalir merambat bagai air. Yang petikannya cepat dan kilat. Dan bunyinya bagai gitar dipegang Santana. Erangannya seperti Satriani dengan whammy. Mana?

Tapi entah tenaga darimana, saya tak kuasa berhenti. Not demi not, chord demi chord, mulai dipahami dengan ikhlas dan tabah. Seolah memang gitar elektrik boleh tetap saya geluti, tanpa terganggu kenyataan bahwa saya sedang belajar musik klasik yang tekstual dan membosankan. Kehidupan belang-belang itu akhirnya pelan-pelan berakhir, setelah suatu kejadian di -saya ingat tanggalnya- 21 Agustus 2001.

Saat itu, adalah konser di Aula Barat ITB. Judulnya saya tidak ingat persis, tapi kira-kira begini: "Konser Gitar Klasik Prawoto, Ridwan, Krishnan, Ervin, dan Murid-Muridnya". Jadi ceritanya ada empat guru gitar yang cukup senior di Bandung, yakni nama-nama itu. Atas prakarsa Rotary Club, mereka semua dikonserkan beserta murid-muridnya. Semuanya tampil dengan format solo. Saya? itu konser debut saya di gitar klasik. Memainkan Fur Elise karya Ludwig van Beethoven. Saya ingat, waktu itu saya pakai ikat kepala. Yang lain tidak ada yang begitu. Saya juga entah dapat ide darimana. Di konser itu pula, saya berkenalan dengan Royke Ng. Ia adalah murid dari Pak Ridwan yang sudah terlebih dahulu malam melintang di dunia gitar klasik. Royke Ng dan Pak Ridwan yang kelak beberapa tahun kemudian, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan gitar klasik saya.

Malam itu saya naik panggung pertama kalinya. Pertama kalinya seorang diri, dengan menenteng gitar akustik di tangan kanan. Dengan berdiri, lalu hormat dengan cara membungkuk. Dengan foot stool di kaki kiri, dengan perasaan tegang akibat terlalu memikirkan kesempurnaan. Momen itu saya ingat, cahaya lampu hangat sekali. Ada lampu di panggung, semacam lampu taman. Bentuk kacanya bulat besar, seperti kau sering lihat di salon-salon. Penonton gelap dan tak terlihat. Mereka katanya, sih, tiga ratus orang. Lalu saya mulai bermain.

Pertamanya not E dan D#, saya ingat. Awalnya tegang, tapi setelah lebih dari dua puluh detik, saya mulai menikmati. Fret di tangan semakin jelas, dan saya tahu persis kemana harus berpindah-pindah posisi jari demi mendapatkan nada yang tepat. Akibat kenyamanan itu, saya merasa mesti bergaya sedikit untuk seolah-olah sedang menikmati. Saya goyangkan kepala sekenanya, seolah mengikuti jari yang berpindah sana-sini, seolah beriringan dengan nada yang turun naik. Dan itu, akhirnya saya merasakan perasaan yang sejak hari itu saya selalu merindukannya: Yakni ketika not terakhir selesai didentingkan. Sunyi, sepi.

Oh, tapi setelahnya, ada bunyi riuh. Riuh tepuk tangan para hadirin. Seperti kau sedang tidur pulas, lalu disiram air galonan demi membuatmu bangun. Rasanya sempat aneh dan asing, karena kau berada di perbatasan tidur dan jaga. Tapi setelah itu langsung segar dan cerah ceria. Lebih dari itu, ada perasaan lega dan bangga. Bangga karena sukses mengatasi tekanan atas hasrat kesempurnaan. Yang entah kenapa, selalu diinginkan oleh keklasikan.

Malam itu umur saya lima belas tahun. Turun dari panggung, saya menemui orangtua dan saudara yang menunggui. Saya meminta pendapat mereka, dan dibilangnya bagus. Tentu saja mereka bilang bagus, tidakkah harusnya begitu orangtua berkata? Dari malam itu, ya, malam itu, saya memutuskan untuk mencoba mencintai gitar klasik sepenuh hati. Gitar elektrik lambat laun akan saya kurangi porsinya. Saya sungguh merasakan nikmatnya membunyikan denting terakhir. Perasaan bagaimana mengatasi tekanan. Karena disana, di panggung sana, kau seorang diri, bertanggungjawab atas dirimu sendiri. Suara yang keluar, adalah suaramu. Gerak tubuh yang keluar, adalah gerak tubuhmu. Cinta yang dibagi, adalah cintamu. Terima kasih, Pak Prawoto.


Bersambung
Continue reading

Rabu, 14 Oktober 2009

Ujian Oh Ujian

Ujian Oh Ujian
Biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk meng-update blog ini setiap minggunya (bahkan beberapa kali dalam seminggu). Tapi belakangan, saya terbentur fokus pada ujian. Ujian apa gerangan? Ujian gitar tepatnya. Gitar klasik. Sesuatu yang sudah saya geluti sepuluh tahun lamanya. Dan sekarang diujikan seolah-olah dengan itu saya bisa tahu, berapa, angka kemampuan gitar saya selama ini.
Ujian tersebut akan dilaksanakan 19 Oktober. Namanya ujian ABRSM, singkatan dari Association Board of Royal School of Music. Atau orang sini dengan singkat menyebutnya ujian Royal. Inggris punya. Ujian tersebut terdiri dari empat tes. Pertama adalah tes karya. Saya diminta memainkan tiga karya yang berasal dari tiga kelompok berbeda. Kelompok itu sepertinya dibedakan menurut periodisasi. Kelompok pertama adalah jaman Renaisans dan Barok. Kelompok dua adalah jaman Klasik dan Barok. Sedangkan kelompok tiga adalah musik Abad ke-20. Kedua adalah tes tangga nada. Saya diminta menghapal 27 tangga nada, yang mana hanya beberapa nanti yang akan ditanyakan.
Ketiga adalah apa yang dinamakan sight reading alias membaca langsung. Ada partitur berisi karya entah darimana, saya langsung baca dan memainkan, tanpa ada perkenalan panjang-panjang. Keempat adalah apa yang dinamakan aural test. Intinya, saya menanggalkan gitar dan kemudian mengaktivasi suara, telinga, dan akal pikiran. Tesnya ada menyanyikan nada, mendengarkan modulasi, progresi, dan kadens, serta berdiskusi soal karya dengan si penguji. Oh iya, pengujinya bule. Orang Inggris. Jadi saya mesti menggunakan bahasa Inggris kala mengobrol.
Ujian tersebut sungguh menguras pikiran. Saya mengambil tingkat delapan, atau tingkat terakhir dalam status elementary. Andai saya lulus nanti, statusnya setara SMA.

Ujian ini memusingkan, bukan semata-mata karena saya khawatir tidak lulus atau lulus dengan nilai rendah. Kalau itu, saya akui berkaitan erat dengan biaya pendaftaran keikutsertaan yang menurut saya, sih, mahal sekali. Saya lebih dipusingkan karena kenapa saya mendadak terdampar dalam situasi ujian yang menyebalkan. Yang mana keikutsertaan ini didorong oleh naluriah eksistensi saya yang menggebu-gebu sekira satu setengah tahun lalu. Saat itu, saya tertarik ikut Royal karena sepertinya trendi sekali. Dimana-mana orang membicarakan sertifikatnya. Sepertinya menjadi satu barometer terkini tentang bagaimana musikalitas seseorang dikuantifikasikan. Dan karena diberi angka itulah, maka mudah sekali menunjuk seorang lebih baik dari yang lainnya, sebagaimana peringkat dalam SD.
Saya, yang kala itu sudah belajar gitar klasik selama hampir sembilan tahun, merasa tertantang. Merasa perlu mencoba mengukur diri saya lewat ujian paling trendi di bumi pertiwi ini. Ikutlah saya, biayanya kala itu kalau tidak salah 1,25 juta. Saya ikut langsung yang grade delapan, karena merasa buang-buang uang kalau ikut bertahap dari enam atau tujuh. Modalnya, saya mengantongi sertifikasi Royal grade lima jalur teori. Jadi, sebelumnya saya mengenal Royal ini awalnya dari ujian teorinya. Saya ikut, karena saya merasa lemah dalam teori musik. Dan ternyata memang iya, setelah mempelajarinya, nyata sekali banyak hal dalam musik yang saya baru tahu. Untunglah saya lulus. Meski pas-pasan, tapi saya puas. Sertifikasi grade lima teori itu jadi syarat wajib untuk langsung mengambil ujian gitar performa grade delapan, yang saya akan ikuti ini.
Hanya saja, ternyata buruknya pola latihan saya karena sedang berbenturan dengan resital, membuat saya kala itu memutuskan untuk tidak siap mengikuti ujian. Akhirnya ditundalah satu tahun, hingga 19 Oktober yang akan saya hadapi nanti. Sekarang saya relatif lebih siap, meski optimisme dan pesimisme senantiasa bercampur aduk. Karena saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang asing. Ibarat berpetualang di hutan belantara: dalam tas saya sudah tersedia banyak perangkat yang mestinya bisa membantu dalam kondisi apapun. Tapi belantara tetap belantara, ia punya banyak kemungkinan.

Saya sedang dalam kondisi rajin latihan ketika menuliskan ini. Kondisi yang memang semestinya ketika siapapun mau mengikuti ujian. Hanya saja, tidakkah, manusia, dari dulu, menciptakan pelbagai ujian dan tes, adalah semata-mata demi kepentingan praktis. Semata-mata agar ia punya predikat yang melekat, yang memudahkannya bergerak dalam sistem pencipta ujian itu sendiri. Sekolah adalah lembaga yang rajin menciptakan ujian. Ujian yang kemudian didoktrinasi sedemikian rupa agar inilah, tujuan akhir kalian. Inilah, tolok ukur satu-satunya jerih payah kalian. Inilah, yang akan membuat kependidikan kalian tak berarti apa-apa jika gagal melampauinya.
Saya sekarang dalam kondisi serupa. Kondisi yang seolah-olah mempertaruhkan pelajaran musik yang sudah saya terima sepuluh tahun belakangan. Seolah-olah dengan nantinya saya lulus, maka saya akan punya predikat sebagai seorang musisi yang berhasil. Musisi yang di kepalanya penuh dengan akal pikiran brilian dan performa yang menunjang. Dalam sudut pandang tertentu, iya. Iya saya setuju bahwa dengan mudah ujian bisa jadi barometer musikalitas. Tapi jika saya adalah orang yang mencintai proses, maka ujian tak lebih dari sekedar perhentian. Perhentian dimana saya punya waktu untuk merenungi apa-apa yang sudah terjadi. Sesuatu yang jika saya sukses melampauinya, maka itu tak lebih dari pit stop yang membuat saya mesti melaju lebih kencang lagi.

Terima kasih Royal. Saya sungguh mencintai proses dimana saya berlatih semua dan mempelajari semua. Saya akan mengucap terima kasih sekarang, pada semua pihak yang telah membantu saya menghadapi ujian. Karena memang ini, inilah "hasil ujian" yang hakiki bagi saya. Bukan hasil ujian legal nantinya. Berterima kasih atas kenyataan bahwa persiapan ini membuat saya tahu banyak. Tahu bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa (Socrates).
Continue reading

Minggu, 04 Oktober 2009

Pengalaman Mental

Minggu, 8 Februari 2009

Hari itu aku duduk sendiri
Malam-malam lampu dimatikan
Mata terpejam pekat menerkam
Yang tersisa tinggal bunyi-bunyian
Datang dari si gila Zappa
Lalu cahaya itu datang
Membingkai pekatku segi empat
Setiap gebuk drum ada ledakan gemintang di sana
Ya, ya, disana
Kau tidak akan melihatnya
Raungan gitar mengilatkan cahaya
Tipis
di sudut kiri bawah
Betotan bas melahirkan kunang-kunang
Terbang melayang terbebas tanpa berkedip
Beethoven sekarang ambil bagian
Memainkan simfoni nomor sembilan
Jayalah ia sang mahakarya
Memainkan Ode a La Allegria
Dari bintang ia turun ke bumi
Mencari tempat yang pas untuk melihat angkasa
Angkasa angkasa dimanakah kamu
Aku disini mencari kebermaknaan dari hal-ikhwal
Dahulu mungkin semuanya satu
Tapi pikiran membelah semuanya
Menjadi lemah dan terpecah
Maka biarkan aku meleburkannya kembali
Menjadi cinta dan rindu yang tak bernama
Tubuhku bergetar hebat
Lalu jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat

Land of Psychedelic Illumination
(Brian Exton)
Continue reading