Friday, September 4, 2009

Surga di Telapak Kaki Kapitalisme

Konon, surga itu ada di atas sana. Tempat dimana semua-muanya ada. Semua yang menyenangkan dan membahagiakan tubuh dan jiwa, tinggal minta langsung tersedia.
Jujur, takut masuk neraka itu pasti, tapi saya juga takut masuk surga. Terbayang jika memang ia kekal, berarti betapa tidak menariknya berada di surga: ketika apa-apa hadir dengan sendirinya tanpa perlu berusaha. Tidakkah terkadang hidup menjadi menarik, karena adanya istilah "mengejar bahagia"? Artinya, bahagia adalah manifestasi dari sebuah usaha. Tanpa usaha, bahagia tak pernah ada dengan sendirinya. Karena jangan-jangan, kebahagiaan adalah usaha itu sendiri. Sekian berfilosofinya, karena saya sesekali ingin berbagi pengalaman kongkrit juga.

Alkisah, setiap Jumat malam, saya bekerja di hotel Hilton Bandung. Pekerjaan saya adalah menghibur para tamu lewat musik dan senyum. Hilton, barangkali hotel yang cukup dikenal, reputasinya internasional. Setidaknya orang mengenalnya lewat sosialita Paris Hilton yang rajin bikin heboh lewat reality-show serta sex tape-nya. Untungnya bukan Paris lah penyebab Hilton berdiri. Hotel itu awalnya bikinan Conrad Hilton di tahun 1919 (Conrad itu entah kakek atau buyutnya Paris). Sejak itu, bisnisnya berkembang pesat, buka cabang dimana-mana, dan menjadi salah satu hotel terdepan di dunia. Jika mau dikaitkan dengan budaya pop, hotel Hilton di Amsterdam pernah ditiduri oleh John Lennon dan Yoko Ono, ketika mereka sedang melancarkan protes bernama Bed in-for Peace selama seminggu (25 Maret-31 Maret 1969). Protes yang dilancarkan terhadap Perang Vietnam itu, menunjukkan aksi tidur bersama John dan Yoko tanpa bercinta, dan melahirkan slogan terkenal: "Make Love not War".
Bohong jika saya tidak bangga dan bahagia ketika direkrut menjadi bagian dari Hilton. Hanya jika saya seorang Marxis dan terorislah barangkali yang bisa membuat saya benci perekrutan ini. Reputasi global, upah layak, perlakuan istimewa, dan satu lagi, saat jeda diantara performa, saya disuruh beristirahat untuk merasakan seserpih surga di dunia. Jika surga bercerita soal makanan yang tiada habisnya, yang dengan leha-leha boleh kita minta yang manapun juga tanpa berusaha, maka tak berlebihan memang inilah serpihannya, di resto (hampir seperti aula sebenarnya saking besarnya) bernama Purnawarman itu. Benar-benar beragam makanannya, dan saya boleh ambil manapun yang saya suka. Setelah diambil, tak lupa si pelayan memberikan senyumnya, membukakan serbet, menuangkan air, dan menawarkan menu-menu lainnya.

Itu tempat saya makan di jam istirahat. Tempat saya tampil, adalah restoran bernama Fresco, di lantai enam. Tempatnya romantis dan remang-remang, temanya Italia. Di pinggir restonya, terdapat kolam renang tak beratap, sehingga airnya memantulkan cahaya bintang dan bulan. Suasana tempatnya hangat dan damai. Cukup apresiatif untuk diterpa bebunyian gitar klasik. Meja-mejanya juga dipenuhi lilin, sehingga wajah para tamu berkedut-kedut oleh cahaya yang mungil. Latar belakang yang serba temaram itu dilengkapi oleh suara-suara ramah berbunyi: Malam Pak, Malam Bu, yang intinya menyambut para tamu. Amboi, mendadak ada gadis lewat, pakai bikini. Tak perlu ditanya, kami toh sudah tahu, ia mau berenang. Berkecipak-kecipak dalam dinginnya kolam kala malam.

Saya bukan anti-Marx. Saya mengagumi pemikirannya, dan saya tahu ia punya surga versinya. Cerita tentang kondisi sama rata sama rasa, dimana para manusia berderajat setara soal kepemilikan, tanpa ada kelas-kelas sosial yang merintangi. Bagus, Marx, dan luar biasa jika itu kelak bisa kejadian. Dengan cerita surganya, ia menyimbahi dunia ini dengan darah, lewat pertarungannya melawan surga para kapitalis, yang mengisyaratkan: surga hanya ada dalam kelas sosial tertentu, mereka yang dibilang para pemilik modal. Hilton jelas masuk dalam kategori kapitalis menurut Marxian. Ia memiliki modal, alat produksi, dan mempekerjakan buruh, yang salah satunya adalah saya. Maka menurut Marx, seyogianya saya mesti bersatu dengan buruh-buruh sedunia untuk lalu menggalang revolusi proletariat dan menggulingkan tampuk kekuasaan borjuis sehingga akhirnya modal dimiliki bersama.

Tapi tolong Marx, itu keren, tapi tidak sekarang, izinkan saya menahan keinginan itu, karena di hadapanku ini, terhidang waffle dan crepes yang dilumuri saus maple, mangga dan vanila, dan didampingi eskrim rum raisin. Saya tidak tahu apakah di jamanmu para buruh disuguhi hal semacam ini? izinkan saya rehat sejenak, mencicipi surga musuhmu, untuk kemudian kelak ikut denganmu, menjadikannya surgamu. Sebelumnya, saya turut menyesal pada para teroris, karena sungguh saya tak yakin surga kalian lebih indah dari yang saya punya. Di mejaku ini, ada surga, yang meski tak menyediakan semuanya, tapi diperoleh dari kerja keras, usaha, dan tak perlu melenyapkan nyawa.







Previous Post
Next Post

8 comments:

  1. sepertinya surga di akhirat itu membosankan y :) kita bebas memakan dan meminum hidangan terlezat disana tapi kita tidak dikarunia nafsu...bercinta sepuasnya dengan bidadari bidadari swarga tapi kita tidak merasa birahi..
    what a wonderful world :)

    ReplyDelete
  2. Sepertinya bener, membosankan.. kalo ga masuk surga dan neraka, jadi masuk apa dong yah kita sebaiknya?

    ReplyDelete
  3. Keren, nih ... ngajak mikir lebih jauh. Hidup "Imagine"-nya John Lennon !

    ReplyDelete
  4. Hidup "Imagine"-nya Opik: Imagine tidak ada Tombo Ati..

    ReplyDelete
  5. kenapa ya surga itu isinya makanan, minuman, dan bidadari pemuas birahi.
    kenapa ga berisi buku2, lukisan, alat musik dsb?

    ReplyDelete
  6. @G4reela: Iya yah hehe selalu berkaitan dengan pemuas kebutuhan tubuh, bukan kebutuhan hati dan jiwa. Emang sih yang aneh dari orang yang meminta surga dan segala tetek bengek di dalamnya, sepertinya adalah orang yang kesulitan memenuhi hasrat tubuhnya di dunia. Saya paling geli sebenarnya dengan pernyataan-pernyataan Imam Samudera dkk pasca divonis mati, katanya: "Tidak apa-apa kami mati, kami tak sabar untuk bercinta dengan bidadari di surga". Hehehe.

    ReplyDelete