Friday, September 18, 2009

Lebaran dan Humanisme Artifisial


Kala kecil hingga SD, hari lebaran adalah soal kunjungan kesana kemari. Bersungkem-sungkeman, salam-salaman, saudara jauh pun dijabani. Lelah memang, tapi menyenangkan. Yah, karena masih kecil, tahulah senangnya disebabkan dapat uang. Tapi tidak, tidak cuma itu. Kumpul sama saudara, menikmati lengangnya jalanan kota, hingga makanan yang nikmat adanya -meskipun itu-itu aja tiap tahunnya-. Intinya, rasa intim. Lebaran adalah soal keintiman. Bersalaman adalah soal keintiman. Saling mengunjungi juga keintiman.
Masuk SMP, mulai ada yang namanya kartu lebaran (sepertinya dari dulu ada, tapi pas saya SMP baru marak). Menjelang akhir ramadhan adalah saat yang deg-degan di depan pintu, menunggui tukang pos mengantar surat. Yang mana salah satunya berpeluang berupa kartu lebaran untuk saya. Oh, menerima kartu lebaran, perasaannya tak terlukiskan. Rupanya sedari kecil sudah merasakan nikmatnya eksistensi. Senang bukan kepalang. Sepertinya ada perhatian tulus dari si pengirim, dan ia sungguh berniat mengucap maaf lebih cepat, meskipun nantinya akan ada acara halal bi halal pas masuk sekolah. Selain kartu itu, tradisi keliling-keliling pun masih terjaga. Pokoknya lengkaplah.
SMA, handphone mulai marak. Ah, SMS. Berkesan sekali. Ketika mendapat SMS, terasa sekali perhatiannya. Sungguh niat ia mengucap maaf, padahal kan pulsa mahal, padahal kan nanti juga ada halal bi halal. SMS menjadi berbalasan. Terjadilah maaf-maafan. Masih, masih, seingat saya, tradisi keliling masih oke, kartu lebaran pun belum tersingkirkan sepenuhnya.
Barulah pas kuliah, ada kenikmatan yang agaknya berkurang. Entahlah mungkin karena saya semakin besar, semakin mempertanyakan apa-apa yang dianggap mapan. Waktu itu saya tidak tahu tepatnya apa yang bikin lebaran semakin terkikis maknanya. Maka itu, ini adalah opini dari sudut pandang saya berdiri sekarang. Untuk mencoba tahu kenapa begitu?

Waktu kuliah itu, saya termasuk yang mengusahakan SMS lebaran orisinil. Biasalah, lagi doyan-doyannya Kahlil Gibran, mestilah SMS itu puitis adanya. Saking seringnya saya SMS yang berbau kalimat indah, setiap mau lebaran, ada beberapa teman yang sudah pesan, "Rip, ntar SMS lu SMS-in ke gua ya, biar gua forward-forward-in." Saya ingat satu SMS saya yang pernah digunakan dalam tiga lebaran berturut-turut, yakni: Manusia lahir lewat kesalahan (Adam), hidup bergelimang kesalahan, dan mati meninggalkan kesalahan. Apakah maaf bisa menghapus kesalahan? Tidak. Tapi maaf bisa mengingatkan, bahwa kita manusia. Minal Aidin Wal Faidzin. - Syarif Maulana -. Menurut saya itu keren.
Tapi begitulah, momen lebaran terkikis karena: saya, begitupun teman-teman, menjadi terbatas pada 'seni meminta maaf', bukan meminta maaf itu sendiri. Menjelang lebaran, saya jadi rajin baca-baca, buka kamus, atau apalah, biar menemukan inspirasi bagaimana menulis SMS lebaran yang keren dan orisinil. Sambil lupa pada siapa nantinya akan saya kirimkan, dan kepuasan apa yang saya dapat setelah orang membacanya: apakah perasaan bahwa saya dimaafkan, atau saya ini keren?
Semakin lama, saya mulai sadar orang-orang mulai latah dan standar dalam berbagi SMS-nya, Yang puitis macam saya pun semakin banyak. Malah sekarang ada yang pakai gambar segala. Fokus pada seni itu meluputkan orang pada satu hal yang lama-lama saya sadar itu tidak ada, yakni: sapaan. Mending mana? gambar ketupat berwarna plus puisi dahsyat tapi kau tahu itu dikirimkan send to all, atau SMS sederhana, berisikan kalimat sederhana, tapi, "Syarif, maafin gue ya, atas kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, semoga lebaran ini kita bisa bersuci kembali. Mohon maaf lahir dan batin." Mending mananya saya serahkan pada kau sajalah. Tapi yang pasti, buat saya, yang kedua jauh lebih enak dan humanistik. Yang pertama? mungkin saja kau bikin itu keren-keren, peras otak, download sana-sini. O, usaha yang luar biasa. Tapi ketika kau kirimkan, tak satupun kau lihat namanya. Dan setelah beres semuanya, kau sudah merasa kau telah meminta maaf pada seluruh manusia dalam phonebook-mu, begitukah?
Ah, tengok lagi itu spanduk, reklame, atau apa-apa yang terpampang raksasawi. Ucapan selamat Idul Fitri bertebaran dimana-mana, bikin polusi mata. Seolah-olah iya, mereka ini minta maaf sama kita, dan iya, kita ini memaafkan mereka dari lubuk hati yang paling dalam. Padahal, barangkali, mereka awalnya sibuk saja, cari desain yang bagus, cari harga yang miring, cari spot yang oke, cari kepentingannya apa jika dipampang disini, disitu, kenapa tidak disana, tanpa menyelami makna bermaafan itu sendiri. Belum lagi sekarang, ah, ada facebook. Bermaafan kala lebaran semakin latah dan tak lebih dari sekedar tradisi.

Majunya teknologi memakan korban yang lain, yakni tradisi berkunjung keluarga saya yang semakin berkurang. Kau tahu, sekarang orangtua saya semakin sibuk mengirim SMS, facebook-an, dan menerima parsel, alih-alih merencanakan berkeliling seperti jaman itu. Kalau ditanya kenapa, mereka jawab, "Yah, sekarang kan sudah ada teknologi, kenapa harus repot-repot berkeliling lagi? kan saudara-saudara kita pada jauh." Oh, repotkah itu? Jika demikian, jangan-jangan, bukan jarak saudara yang jauh yang menyebabkan kita memanfaatkan teknologi, tapi teknologilah yang menyebabkan saudara kita terasa 'jauh'.

Oh, sungguh, maaf-maafan menjadi semakin sederhana. Dari tadinya butuh peluh keringat, air mata, dan kebesaran hati, sekarang urusannya jadi ibarat semudah menekan tombol.

Minal aidin wal faidzin. Sederhana kan?




Sumber gambar:
http://budimeeong.wordpress.com/2008/09/30/dari-tinta-untuk-lebaran/
Previous Post
Next Post

0 comments: