Saturday, September 26, 2009

Pangeran Kecil: Mari Tertawakan Diri Kita


"Bagiku, kau sekarang hanyalah seorang anak laki-laki kecil, sama seperti seratus ribu anak laki-laki lainnya. Dan aku tak membutuhkanmu. Dan kau juga tak membutuhkan aku. aku hanyalah seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tetapi jika kau menjinakkanku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kau akan unik di dunia ini. Bagimu, aku akan unik di dunia ini."

Jika kau lihat sampul buku ini lantas membaca isinya selewat-selewat saja, yakinlah ini adalah buku anak-anak. Ditambah lagi banyak gambar di dalamnya, gambar yang kurang-lebih seperti gambar anak-anak, atau setidaknya, ditujukan bagi anak-anak. Bagi saya yang sombong ini, yang rajin baca buku filsafat dan segala-gala yang dianggap "berat", maka tak menariklah sepertinya buku ini. Pastilah hanya akan berisikan imaji dan imaji, padahal hidup ini kan, mesti realistis. Namun setelah memaksakan diri untuk membacanya secara detil, akhirnya saya tutup buku itu dengan bengong. Bengong entah kenapa, bengong memikirkan apa. Satu hal yang saya ingat, sejauh ini baru ada tiga buku yang bikin saya bengong pasca-baca, pertama Sang Nabi-nya Kahlil Gibran, kedua Siddharta-nya Herman Hesse, dan ketiga, ya itu tadi, Pangeran Kecil dari Antoine de Saint-Exupéry.

Alkisah, seorang penerbang jatuh di Gurun Sahara. Di tengah padang pasir luas itu, ia hanya berbekal air minum yang nyaris tak akan cukup untuk seminggu. Kala sibuk membetulkan pesawatnya, mendadak datang seorang anak memintanya menggambar seekor biri-biri. Di tengah rasa kaget dan kesal karena sedang bergulat hidup-mati, bercampur heran, dipenuhinya juga permintaan si anak. Dari situ, dimulailah cerita, beralur flashback, berasal dari pertanyaan si penerbang tentang asal usul si anak, yang dinamainya pangeran kecil.
Pangeran kecil datang dari planet lain, planet yang ukurannya tak lebih besar dari rumah. Barangkali lebih tepat jika dibilang asteroid. Pangeran Kecil senang bertanya, dan ia akan terus bertanya hingga ia pikir jawabannya jelas. Kesukaannya itulah, yang membawa ia untuk berkunjung ke planet-planet lainnya. Di setiap planet yang ia singgahi, ia mengajukan pertanyaan macam-macam pada penduduknya. Ada planet yang didiami seorang raja, adapun yang didiami seorang pemabuk (pemabuk seorang tepatnya), ada yang cuma didiami seorang penyala lampu, dan iapun ke Bumi, setelah mendapat saran dari planet yang diisi oleh geografer seorang. Di Bumi, cerita buku ini sempat menjadi fabel, karena ia tak langsung bertemu manusia, melainkan ular dan rubah. Begitulah, sampai ia bertemu sang penerbang di tengah gurun mahaluas.

Sepertinya dari sekilas ceritanya pun, terasa kesederhanaannya. Namun yang membuat saya tersentak hingga bengong adalah: keseluruhan ceritanya, ternyata memang sangat anak-anak. Tapi justru itu, Saint-Exupéry sangat kuat dalam mengingatkan segala naluriah anak-anak, sehingga membawa saya pada kesadaran tentang absurdnya dunia orang dewasa. Isi ceritanya sebagian besar adalah tanya jawab, pertanyaan khas anak kecil dengan segala gayanya yang polos. Dan jawabannya, datang dari orang dewasa, dengan segala pernyataan yang distortif, ingin terlihat bijak, padahal seringkali labirin dan diwarnai berbagai kepentingan. Misalnya, dalam suatu kesempatan, ia bertemu pemabuk, ditanya oleh si pangeran, "Mengapa kau mabuk?" kata si peminum, "Untuk melupakan," "Melupakan apa?" "Melupakan bahwa aku malu," "Malu karena apa?" "Malu karena minum!". Tanya jawab tadi terasa kurang jelas, tapi terasa sekali memang demikianlah seringkali orang dewasa memutar fakta. Padahal anak kecil, dalam pertanyaannya, hanya butuh jawaban berupa logika sederhana dan dominasi imaji.
Naluri orang dewasa saya mendadak ingat Nietzsche dalam buku Birth of Tragedy. Buku itu bercerita soal bedanya Apollo dan Dyonisus. Orang kebanyakan, kata Nietzsche, melakukan segalanya seperti Dewa Apollo, serba dipikirkan. Padahal hidup itu, semestinya dirasakan, seperti sang Dewa Anggur, Dyonisus. Mabuklah, kata Nietzsche, agar kau bisa mencintai hidupmu, Amor Fati. Meskipun bukunya khas anak-anak, tapi bagi saya, terasa sekali aroma Nietzschean-nya. Ini buku betul-betul mengajak: bahwa hidup yang hakiki, adalah hidup dalam imajinasi anak-anak. Dan ketika kita mendadak berpikir dewasa -yang bergaya Apollonian itu- maka seketika itulah, hidup kehilangan banyak gelegaknya. Padahal, kata Bambang Sugiharto, filsafat pun (yang katanya pengetahuan milik orang dewasa), tak lebih dari ungkapan-ungkapan pertanyaan naluriah khas anak-anak.

Kekaguman mendalam membawa saya pada wikipedia. Ternyata, buku yang terbit tahun 1943 ini merupakan salah satu literatur wajib bagi pelajaran Bahasa Prancis untuk pemula. Aslinya berjudul Le Petit Prince. Diterjemahkan ke lebih dari 180 bahasa dan terjual sebanyak 80 juta kopi. Jadi buku ini memang kelasnya sudah worldwide.
Penerjemahan ke Bahasa Indonesianya pun sangat enak dan jelas. Hampir tidak ada kalimat yang mengganggu, kalau boleh dibilang tidak ada sama sekali. Tentang isi apalagi, sungguh imajinatif dan brilian. Saya terkagum tentang bagaimana Saint-Exupéry secara konsisten mengungkapkan kebanalan orang dewasa lewat pernyataan-pernyataan Pangeran Kecil. Saya tidak akan mengutip banyak kalimat inspiratif disini, karena saking banyaknya, membuat saya mesti membolak-balik halamannya lagi. Sebaiknya kau beli saja buku ini, karena sangat disarankan.




Dan ketika aku menggeser pandangan ke kiri, ada kau. Ya, kau, pangeran kecilku. Baiklah, akan kugambar biri-biri itu di hatimu.


Continue reading

Friday, September 18, 2009

Lebaran dan Humanisme Artifisial


Kala kecil hingga SD, hari lebaran adalah soal kunjungan kesana kemari. Bersungkem-sungkeman, salam-salaman, saudara jauh pun dijabani. Lelah memang, tapi menyenangkan. Yah, karena masih kecil, tahulah senangnya disebabkan dapat uang. Tapi tidak, tidak cuma itu. Kumpul sama saudara, menikmati lengangnya jalanan kota, hingga makanan yang nikmat adanya -meskipun itu-itu aja tiap tahunnya-. Intinya, rasa intim. Lebaran adalah soal keintiman. Bersalaman adalah soal keintiman. Saling mengunjungi juga keintiman.
Masuk SMP, mulai ada yang namanya kartu lebaran (sepertinya dari dulu ada, tapi pas saya SMP baru marak). Menjelang akhir ramadhan adalah saat yang deg-degan di depan pintu, menunggui tukang pos mengantar surat. Yang mana salah satunya berpeluang berupa kartu lebaran untuk saya. Oh, menerima kartu lebaran, perasaannya tak terlukiskan. Rupanya sedari kecil sudah merasakan nikmatnya eksistensi. Senang bukan kepalang. Sepertinya ada perhatian tulus dari si pengirim, dan ia sungguh berniat mengucap maaf lebih cepat, meskipun nantinya akan ada acara halal bi halal pas masuk sekolah. Selain kartu itu, tradisi keliling-keliling pun masih terjaga. Pokoknya lengkaplah.
SMA, handphone mulai marak. Ah, SMS. Berkesan sekali. Ketika mendapat SMS, terasa sekali perhatiannya. Sungguh niat ia mengucap maaf, padahal kan pulsa mahal, padahal kan nanti juga ada halal bi halal. SMS menjadi berbalasan. Terjadilah maaf-maafan. Masih, masih, seingat saya, tradisi keliling masih oke, kartu lebaran pun belum tersingkirkan sepenuhnya.
Barulah pas kuliah, ada kenikmatan yang agaknya berkurang. Entahlah mungkin karena saya semakin besar, semakin mempertanyakan apa-apa yang dianggap mapan. Waktu itu saya tidak tahu tepatnya apa yang bikin lebaran semakin terkikis maknanya. Maka itu, ini adalah opini dari sudut pandang saya berdiri sekarang. Untuk mencoba tahu kenapa begitu?

Waktu kuliah itu, saya termasuk yang mengusahakan SMS lebaran orisinil. Biasalah, lagi doyan-doyannya Kahlil Gibran, mestilah SMS itu puitis adanya. Saking seringnya saya SMS yang berbau kalimat indah, setiap mau lebaran, ada beberapa teman yang sudah pesan, "Rip, ntar SMS lu SMS-in ke gua ya, biar gua forward-forward-in." Saya ingat satu SMS saya yang pernah digunakan dalam tiga lebaran berturut-turut, yakni: Manusia lahir lewat kesalahan (Adam), hidup bergelimang kesalahan, dan mati meninggalkan kesalahan. Apakah maaf bisa menghapus kesalahan? Tidak. Tapi maaf bisa mengingatkan, bahwa kita manusia. Minal Aidin Wal Faidzin. - Syarif Maulana -. Menurut saya itu keren.
Tapi begitulah, momen lebaran terkikis karena: saya, begitupun teman-teman, menjadi terbatas pada 'seni meminta maaf', bukan meminta maaf itu sendiri. Menjelang lebaran, saya jadi rajin baca-baca, buka kamus, atau apalah, biar menemukan inspirasi bagaimana menulis SMS lebaran yang keren dan orisinil. Sambil lupa pada siapa nantinya akan saya kirimkan, dan kepuasan apa yang saya dapat setelah orang membacanya: apakah perasaan bahwa saya dimaafkan, atau saya ini keren?
Semakin lama, saya mulai sadar orang-orang mulai latah dan standar dalam berbagi SMS-nya, Yang puitis macam saya pun semakin banyak. Malah sekarang ada yang pakai gambar segala. Fokus pada seni itu meluputkan orang pada satu hal yang lama-lama saya sadar itu tidak ada, yakni: sapaan. Mending mana? gambar ketupat berwarna plus puisi dahsyat tapi kau tahu itu dikirimkan send to all, atau SMS sederhana, berisikan kalimat sederhana, tapi, "Syarif, maafin gue ya, atas kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, semoga lebaran ini kita bisa bersuci kembali. Mohon maaf lahir dan batin." Mending mananya saya serahkan pada kau sajalah. Tapi yang pasti, buat saya, yang kedua jauh lebih enak dan humanistik. Yang pertama? mungkin saja kau bikin itu keren-keren, peras otak, download sana-sini. O, usaha yang luar biasa. Tapi ketika kau kirimkan, tak satupun kau lihat namanya. Dan setelah beres semuanya, kau sudah merasa kau telah meminta maaf pada seluruh manusia dalam phonebook-mu, begitukah?
Ah, tengok lagi itu spanduk, reklame, atau apa-apa yang terpampang raksasawi. Ucapan selamat Idul Fitri bertebaran dimana-mana, bikin polusi mata. Seolah-olah iya, mereka ini minta maaf sama kita, dan iya, kita ini memaafkan mereka dari lubuk hati yang paling dalam. Padahal, barangkali, mereka awalnya sibuk saja, cari desain yang bagus, cari harga yang miring, cari spot yang oke, cari kepentingannya apa jika dipampang disini, disitu, kenapa tidak disana, tanpa menyelami makna bermaafan itu sendiri. Belum lagi sekarang, ah, ada facebook. Bermaafan kala lebaran semakin latah dan tak lebih dari sekedar tradisi.

Majunya teknologi memakan korban yang lain, yakni tradisi berkunjung keluarga saya yang semakin berkurang. Kau tahu, sekarang orangtua saya semakin sibuk mengirim SMS, facebook-an, dan menerima parsel, alih-alih merencanakan berkeliling seperti jaman itu. Kalau ditanya kenapa, mereka jawab, "Yah, sekarang kan sudah ada teknologi, kenapa harus repot-repot berkeliling lagi? kan saudara-saudara kita pada jauh." Oh, repotkah itu? Jika demikian, jangan-jangan, bukan jarak saudara yang jauh yang menyebabkan kita memanfaatkan teknologi, tapi teknologilah yang menyebabkan saudara kita terasa 'jauh'.

Oh, sungguh, maaf-maafan menjadi semakin sederhana. Dari tadinya butuh peluh keringat, air mata, dan kebesaran hati, sekarang urusannya jadi ibarat semudah menekan tombol.

Minal aidin wal faidzin. Sederhana kan?




Sumber gambar:
http://budimeeong.wordpress.com/2008/09/30/dari-tinta-untuk-lebaran/
Continue reading

Wednesday, September 16, 2009

Kisah Anak Penjual Ubi Cilembu

Kisah Anak Penjual Ubi Cilembu
Ini kisah nyata. Pengalaman saya. Baru saja, sekira pukul 10.30 dialaminya. Sebelum bergegas mengajar, saya tentunya mestinya melewati pagar rumah. Seketika itu, di depan gerbang, lewatlah seorang anak perempuan, usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Pakaiannya lusuh, pun tubuhnya. Ia membawa dua keresek besar berwarna hitam. Isinya apa entah tak kelihatan. Seketika ia datang menghampiri, bergumam apa tak jelas. Saya yang buru-buru, cepat-cepat berpikir bahwa ia anak yang minta shadaqah. Alah, biasa kan di kala mau lebaran. Anak-anak kecil sering keliling minta uang.

"Hui Cilembu-nya, A,"
"Apa? Hui?" saya bertanya balik.
"Iya, A, ini hui asli Cilembu. satu keresek lima ribu"
"Oh, oke oke sebentar," saya mengambil dompet di saku, mengintipnya, lalu melihat ada uang seratus tujuh puluh empat ribu. Karena saya pelit dan pecahan uangnya agak kurang enak, maka saya ambil si empat ribu. Saya sodorkan padanya, dan sadar uangnya kurang untuk beli satu keresek pun, maka saya bilang:
"Neng, ambil aja, hui-nya buat neng ya?"
Alih-alih senang, si anak malah terdiam lalu bilang:
"Empat ribu bisa buat tiga perempat keresek, A, saya ambilin ya?"
"Ga usah, neng, ambil aja yah uangnya, gak papa kok," ujar saya sambil masih memegang uang di tangan.
Si neng dengan cepat mengepak kereseknya, lalu berkata, "Pamit dulu ya, A."
Eh dia ngeloyor!
Saya kaget, "Neng, neng, tunggu sebentar, ini deh ini deh, saya beli dua-duanya, uangnya dua puluh ribu ya,"
"Saya ga ada kembalian, A,"
"Oh, gak papa, Neng, buat Neng aja kembaliannya. Tapi hui-nya tetep gakan saya ambil lagi ya? Buat neng jualan lagi aja."
"Saya gak mau, A. Aa, tetep harus ngambil hui-nya"

Waduh, jika kau menjadi saya. Sungguh sulit mengambil hui-nya. Kenapa? Karena di rumah saya belum tentu ada yang berminat, dan khawatir itu akan jadi mubazir. Saya sempat tertegun sejenak, sebelum ayah saya berseru dari pintu rumah, "De, ambil aja hui-nya." Ia memberi isyarat dengan mengatupkan mata perlahan sambil mengangguk, seolah berkata, "Ambil saja, dia akan lebih bahagia kalau kita mengambilnya." Oh, baiklah, akhirnya saya ambil itu dua keresek hitam yang bahkan saya belum lihat isinya. Si anak pergi sambil mengucap terima kasih. Saya tak menjawab karena tak bisa berhenti memandanginya.

***

Kau tahu, itu seperti pengalaman sepele. Tapi buat saya, maknanya banyak, barangkali setara Siddharta di Pohon Boddhi atau Muhammad di Gua Hira. Hehe. Saya jadi sadar, kesalahan pertama saya adalah: saya berprasangka negatif pada anak ini. Karena menyangka akan meminta shadaqah, saya lekas-lekas ingin menyelesaikan pertemuan tanpa mendengarkan ucapannya. Kau tahu lah, setiap dari kita mungkin punya kesadaran untuk berbagi harta, tapi kadang kita tak suka jika itu diminta. Kedua, saya pelit. Ia berjualan lima ribu, eh saya kasih empat ribu karena itu pecahan yang paling enak untuk 'dibuang'. Tapi ya itu, kepelitan saya juga berangkat dari keburukan prasangka. Karena saya pikir dia mau minta shadaqah, jadi alah, biar kelihatan berusaha, dia perhalus saja dengan berjualan. Yang mana entah terjual entah tidak, yang penting ia dapat uang.

Sambil menyetir menuju tempat tujuan, saya merenung takada habisnya. Saya kira anak tadi seorang agnostik. Tahu kenapa? ia tidak percaya bahwa lebaran adalah momen dimana Tuhan berbagi rejeki lewat belas kasihan. Ia hanya percaya, bahwa rejeki datang jika ia mau berusaha mencarinya. Itu tebakan ngasal sepertinya, tapi sebenarnya, rasa malu saya yang mendominasi. Kau tahu, ketika kau berpikir bahwa Tuhan mewahyukan dirinya lewat hal-hal hebat seperti Nabi, Rasul, Al-Quran, atau para ustadz yang rajin cari muka di televisi, ternyata saya mendapati hal yang lain sama sekali. Ia datang, berbicara sebagai anak yang menjual ubi: kecil, lusuh, tak berdaya, dan terbuka untuk ditindas siapa saja. Kau tahu, sungguh malu ketika siapa saja mereka yang status sosialnya ditinggikan, ternyata masih mau menerima uang tanpa mengeluarkan keringat, yang lantas membungkusnya dengan "rejeki Tuhan". Inilah ia, si anak penjual ubi Cilembu. Menyentuh kalbuku. Membuatku malu.

Neng, semoga kau menjadi presiden RI kelak nanti. Insya Allah negara ini akan jujur. Biarlah urusan gender jangan kau pikirkan.

Continue reading

Monday, September 14, 2009

Tiga Kritik terhadap Agama



Kau tahu, menulis posting ini tidaklah mudah. Pertama, tidak semua orang senang membicarakan agama sebagai bahan kritisi. Ini untuk mereka yang yakin betul bahwa agama berasal dari Tuhan, dan Tuhan adalah kebenaran yang tak terdebatkan. Kenapa? karena mereka menganggap Ia berada di luar wilayah pemahaman manusia, dan cuma bisa dicerap oleh rasa percaya alias iman. Kedua, tidak mudah juga mengkritisi agama, jika kau adalah bagian yang lekat darinya berpuluh tahun lamanya. Ini sama saja dengan mendadak berbicara lancang pada orangtuamu, -yang telah membesarkan dan menyekolahkanmu dari kecil- memberinya komentar dan saran tentang bagaimana cara membesarkan anak yang baik, padahal kau belum punya anak. Tapi kelancangan tak selalu soal benci, adapun justru karena kau sayang. Kau sekedar ingin menunjukkan pada orangtuamu:

Mah, Pah, ini aku, sudah kau sekolahkan, dan ini ilmunya kugunakan, untuk berbagi sesuatu yang mungkin saya tahu dan kalian tidak tahu, sebagaimana halnya kau sudah memberikan banyak hal yang kau tahu dan saya tidak tahu.
Karena, o, kendati kalian hidup lebih lama, tapi pengalaman indrawi kita berbeda.

Begitulah, meski ada niat saling memperkaya, tapi selalu saja ada tendensi yang berbeda. Tuduhan lancang, tak tahu diuntung, durhaka, atau bodoh, pastilah ada. Hanya saja, ini niat saya, bahwa saya mengajukan kritik ini karena rasa cinta saya terhadap agama, sebagaimana cinta saya pada kedua orangtua. Suatu cara pengejawantahan cinta yang tidak umum barangkali, karena cinta biasanya bertalian erat dengan "menerima apa adanya". Namun saya tak bisa serta merta demikian, setiap sadar saya dianugerahi nalar. Ketika Bambang Sugiharto di depan kelas mengajukan kritik-kritiknya terhadap agama, maka ia menujukan itu untuk "membongkar aspek ilusoris agama, agar kita semua dapat intinya". Keren.

Ada tiga kritisi yang akan saya ajukan. Dan saya tidak malu jika ada beberapanya merupakan kutipan (memangnya saya saja yang mengkritik agama?). Tapi pengambilan referensi itupun hanya akan dilakukan jika relevan dengan pengalaman. Perlu diingat, ketika berbicara agama, orang sering terjebak dan akhirnya membicarakan Tuhan. Menurut saya, keduanya entitas yang berbeda meskipun bisa berkaitan. Tulisan ini adalah soal agama, yang sengaja saya posting sebelum lebaran, agar jika terjadi hal yang kurang berkenan, bisa langsung maaf-maafan. =p

1. Narsis

Alkisah Narsisus, orang Boeotia yang dianugerahi wajah yang tampan, jatuh cinta kala melihat bayangannya sendiri di kolam. Ia tak tahan, lalu menerkam, lantas tenggelam. Untuk apa saya ceritakan itu? Karena kata narsis belakangan tak lagi jelas dan diucapkan dimana saja seolah tiada artinya. Ini sekedar mendudukkan kembali darimana kata Narsis berasal, dan dalam konteks apa ia sebaiknya digunakan.

Agama, seperti halnya Narsisus, punya kecenderungan mencintai diri sendiri. Ia seperti melihat ke cermin, dan terus-terusan berkata bahwa saya baik dan saya benar. Di satu sisi, ini bagus, dan menunjukkan kepercayaan diri. Ketika seseorang percaya diri, maka ia akan resisten dan berpotensi maju terus mengatasi rintangan. Namun ini menjadi berbahaya, ketika kepercayaan akan eksistensi diri tidak ditunjang dengan empati. Ini sama dengan oposisi biner modernitas: jika tidak satu, maka nol. Jika saya ganteng, maka yang lain diluar saya buruk rupa. Jika saya baik, maka yang lain diluar saya jahat. Dan ini, ini, justru kecenderungan agama kebanyakan.

Dalam tradisi agama saya, memang ada ayat yang menekankan pluralisme agama, tapi sedikit sekali, kalau tidak bisa dibilang satu ayat. Sisanya ada penekanan istilah kafir, sebagai orang yang tidak mau mengimani agama saya ini. Dan kafir dipastikan berdosa, masuk neraka, untuk disiksa akibat kesalahannya itu. Saya yakin ungkapan macam ini ada di agama-agama lainnya, meski detilnya saya tak paham benar. Jika urusannya masih terkait dengan pengerasan identitas barangkali masih bolehlah, tapi tak jarang kenarsisan ini malah destruktif. Perang Salib, Pemberontakan Taiping, Pemberontakan Sri Lanka, Pemberontakan Teratai Putih, serta Pemberontakan Syal Kuning, adalah buah narsisme agama yang menghasilkan jutaan korban jiwa.

Bisa saja memang pelbagai perang dan pemberontakan tersebut didasari rasa tertekan oleh penguasa. Tapi agama biasanya berandil besar untuk membentuk landasan pemersatu yang kuat dan mendadak membuat manusia mau mentransformasikan nilai-nilai kehidupannya ke hari kemudian, dalam arti kata lain: berani mati. Ada pemahaman yang bagus sekali dari Bilangan Fu-nya Ayu Utami, bahwa persoalan terjadi karena ada "angka satu". Ketika agama berandil merepresentasikan "Tuhan yang satu", maka itu sama dengan, oposisi biner itu tadi, "Tidak ada Tuhan yang lain" atau "Tuhan yang lain itu nol". Demikian kenarsisan itu bisa berbuah konflik.

2. Dogmatis

Jika soal ini, saya benar-benar terinspirasi dari kuliah Bambang Sugiharto: dogma itu begini, katanya; ia adalah pernyataan, yang seolah-olah menggambarkan suatu kenyataan. Dalam Islam, dogma terkandung dalam aqidah, yakni seperti iman kepada Allah, nabi dan rasul, kitab, malaikat, hari akhir, dan takdir baik-buruk. Persoalannya, kata Pak Bambang: pernyataan dogma selalu ingin dianggap sebagai kenyataan sejati yang tak terbantahkan. Padahal, realitas ilahi itu bisa tertangkap dengan common sense biasa-biasa saja, tak perlu pakai dogma segala. Yang jadi bahaya itu ketika, kita menganggap dogma sebagai kebenaran, tanpa lebih dulu menggunakan common sense.

Misalnya, ini barangkali yang terjadi dengan aksi terorisme: ketika dogma seolah-olah mengatakan "membalas orang kafir yang sudah menzalimi orang muslim itu wajib hukumnya, dan sama dengan jihad", maka barangkali mereka ini sudah lupa dengan hati nurani yang bagi saya, 'mudah didengarkan jika mereka mau', yakni: membunuh itu tidak boleh adanya. Pastilah, saya yakin, mereka mau capek-capek melaksanakan bom bunuh diri, dengan lebih dulu bergulat dengan hati nuraninya. Hati nuraninya itu kemudian diperlawankan dengan dogma yang sudah ditanamkan oleh para atasannya.

Pak Bambang, masih Pak Bambang, pernah dengan baik mencontohkan soal hati nurani, bahwa: kita semua tidak serta merta menerobos lampu merah, bukan semata-mata karena takut polisi; dan kita tidak membunuh sesama, bukan karena semata-mata takut dosa. Poinnya adalah, kita semua punya kesadaran alamiah, yang bertendensi menuju kebaikan, dan itu merupakan hal di luar reward-punishment yang ditawarkan dogma agama. Apakah dengan demikian kita bisa hidup tanpa agama dengan tetap baik, benar, dan normatif? Mungkin sekali bisa, jika hati nurani terus memandu, hati nurani yang kata Franz Magnis Suseno, adalah Allah itu sendiri.

3. Eskapis

Para atheis terkemuka dalam sejarah filsafat Barat, macam Feuerbach, Marx, Sartre, Freud, dan Nietzsche, secara garis besar sepakat bahwa agama tidak lebih daripada pelarian manusia dari kenyataan, kebebasan, dan keberdikarian. Marx cukup kencang menyuarakan ini, bahwa agama tak lebih daripada candu, ia merusak masyarakat dengan ajarannya yang kontraproduktif dengan semangat proletariat kaum komunis, seperti misalnya pesimis dan fatalis. Freud bilang, bahwa dalam penelitian psikoanalisisnya, orang beragama dan orang sakit jiwa punya gejala yang mirip, yakni, ya itu, eskapisme. Seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya ketika bermasalah, demikian halnya orang beragama, yang lari pada Tuhan alih-alih menyelesaikan persoalannya. Dengan tegas ia mengatakan agama tak lebih daripada: neurosis kolektif (sakit jiwa massal) dan ilusi infantil (halusinasi yang kekanak-kanakan).

Saya pernah, dalam penelitian saya tentang Konfusianisme, eskapisme itu sebenarnya tergantung. Tergantung apa? tergantung: bagaimana tingkat kedetilan agamamu bercerita tentang hidup setelah mati. Dalam Islam, jelas bahwa soal akhirat ini menjadi salah satu tema utama. Meskipun dalam pemahaman saya, Islam sering menekankan keseimbangan dunia-akhirat, tapi bagaimana kau bisa percaya itu seimbang, jika akhirat dikatakan kekal? Maka itu, dampaknya, ketika hari akhir diceritakan secara detil, kau akan kehilangan banyak makna di dunia, karena pikiranmu selalu mengeskapiskan diri ke alam sana. Dalam Konfusianisme, beda lagi (ini dengan asumsi Konfusianisme adalah agama, meskipun banyak yang bilang bukan), ketika Konfusius mendapat pertanyaan dari muridnya, "Guru, apakah kematian itu?", dijawab sang saga: "Kau tidak akan paham kematian, sebelum paham kehidupan." Dan ini signifikan terhadap pandangan dunia (world view) masyarakat Tionghoa. Orang Tionghoa mencari nilai-nilai akhirat dengan mengeksternalisasikan nilai-nilai keduniawiannya. Misalnya, mencari uang di dunia, adalah sama dengan memperkaya diri di akhirat; punya rumah bagus di dunia, adalah sama dengan yang ia dapatkan nantinya di akhirat. Jadi eskapisme ini tidak bisa dipukul rata. Eskapisme dalam Buddha bahkan menekankan untuk melepaskan diri dari dunia sepenuhnya, karena dunia adalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.

***

Tadinya, biar keren, saya ingin mencantumkan lima, yakni dua poin tambahan: statis dan paradoks. Statis berarti agama adalah produk lama, dan sulit menyesuaikan diri dalam hiruk pikuk kehidupan jaman sekarang, sedangkan paradoks berarti berbagai kontradiksi dalam agama, misal: diajarkan untuk berpikir, tapi kenyataannya lahan untuk berpikir dalam agama itu sering tergerus oleh iman. Namun saya sadar, kedua poin tersebut sangat erat kaitannya dengan interpretasi manusia. Memang, tiga poin awal juga pastinya berkaitan dengan interpretasi, namanya juga teks. Tapi, tiga awal itu setidaknya, tanpa campur tangan manusia, kelihatannya memang begitu adanya. Narsis tertulis, dogma tertulis, eskapisme juga ada. Kalau statis dan paradoks saya cantumkan juga, pastilah ada komentar klise: gimana orangnya itu mah.

Semoga posting ini memang menunjukkan kecintaan saya. Amin.


Sumber gambar:
http://www.motifake.com/image/demotivational-poster/0807/religion-demotivational-poster-1216727967.jpg
Continue reading

Thursday, September 10, 2009

Cin(T)a: Polemik Akut yang Akhirnya Diangkat

Tadinya saya ragu menonton film tersebut. Sungguh, selalu ada perasaan skeptik tentang film Indonesia, apalagi yang berbau cinta-cinta-an. Biasanya ceritanya klise dan cenderung cengeng. Ingin terkesan mendalam, tapi malah melankolik brutal. Apalagi ini judulnya "vulgar" sekali, semakin saja menunjukkan minimnya kreativitas sineas kita. Meski demikian, ada tiga alasan yang akhirnya mendorong saya untuk coba-coba: Pertama, poster filmnya cukup unik. Ia ditulis "Cin(T)a". Bikin lumayan penasaran. Kenapa ada huruf "T" dikurung begitu? Kedua, katanya ini tentang pacaran beda agama, yang mana saya sempat mengalaminya. Boleh lah saya lihat demi merefleksikan pandangan-pandangan saya waktu itu. Ketiga, ini paling kurang penting, tapi justru jadi pemicu terbesar kenapa saya mesti nonton: kakak saya jadi figuran, meski cuma beberapa detik.
Film ini durasinya cukup pendek, dan isinya didominasi oleh dialog kedua insan beda agama itu, namanya Cina (diperankan Sunny Soon) dan Annisa (Saira Jihan). Cina adalah seorang Kristen dan keturunan Tionghoa. Sedangkan Annisa seorang Jawa yang Islam. Keduanya terlibat jalinan percintaan yang diawali dari pertemuan intens berkaitan dengan tugas akhir Annisa. Cina hadir di saat yang tepat dan banyak membantunya. Akhirnya, keduanya memutuskan pacaran berkat bantuan seorang tukang baso (ini menurut pandangan saya, tapi pasti sutradara tak sependapat). Ketika Annisa memanggil Cina dengan sebutan "Cin", tukang baso (yang gerobaknya sedang mereka tongkrongi) menginterpretasi panggilan itu sebagai kependekan dari "Cinta". Sehingga tukang baso bertanya iseng pada Cina, "Itu pacarnya ya? Kok manggilnya Cin?" Si Cina menolak karena memang bukan pacarnya. Namun setelah diceritakan kejadian tersebut pada Annisa, mereka tertawa kecil, lalu berpegangan tangan untuk pertama kalinya, yang bolehlah disimbolkan sebagai bentuk pacaran. Benarkah berkat si tukang baso?
Kelanjutan ceritanya, ya begitulah, seperti dugaan orang Indonesia kebanyakan, bahwa cintanya sulit direstui. Perbedaan agama menjadi jurang utama. Pergulatan pemaknaan atas perbedaan itulah yang menjadi bobot film tersebut. Dialog antara Cina dan Annisa, perlu diakui, cukup punya nilai filosofis dan tidak cengeng serta klise seperti film cinta-cinta-an Indonesia kebanyakan. Memang karena terlalu filosofis dan serius, dialognya menjadi kurang cair dan berkesan terlalu dramatik, macam Romeo and Juliet.

Pertama, ini sebuah terobosan yang, tapi, tak tepat juga disebut terobosan. Maksudnya, isu cinta beda agama sudah sering terdengar dalam realitas keseharian, namun baru ada yang mau mengangkatnya. Entah kenapa, apakah karena orang Indonesia jika sudah berbicara agama sudah seperti orang sakit jiwa kah? Apapun itu, saya salut dengan sineasnya, yang mau mendudukkan sebuah topik lama ke dalam wacana baru. Wacana baru, karena ketika itu sudah difilmkan, maka lebih banyaklah orang mau mendiskusikannya dalam forum, blog, facebook, atau workshop. Sehingga lama kelamaan isu tersebut bisa jadi semacam wacana pengetahuan dan tidak punya unsur-unsur ketabuan yang kurang jelas. Ini Bagus.
Hanya saja, hanya saja, begini, ini sayangnya. Ketika sutradara punya ide yang bagus, segar, antusias, dan mendalam, adalah penting untuk mengemasnya agar pesan itu sampai. Banyak sekali karya seni yang punya ide brilian, tapi tak punya cara yang baik untuk mengomunikasikannya, sehingga mentah di jalan. Ini terasa, pertama, dari kualitas gambar film itu sendiri. Jujur saja, terasa kurang bagus dan seadanya. Kuat sekali imej film indie-nya. Tidak dibangun melalui jaringan rumah produksi raksasa seperti Punjabi dkk contohnya. Kedua, bagaimanapun, ini debut film Sunny Soon dan Saira Jihan, yang mana tak bisa dibohongi dari aktingnya yang kikuk dan kurang mengajak saya untuk ikut hanyut bersama emosinya. Ketiga, pesan soal Ketuhanan dan perbedaan agama, sungguh padat dalam keseluruhan film. Padahal, sepertinya, pertanyaan-pertanyaan macam "Kenapa Ia ciptakan kita berbeda-beda, jika ia ingin disembah dengan satu nama?" adalah hal yang common sense saja, tidak perlu diangkat secara berlebihan. Barangkali jika diceritakan pengalaman religius yang lebih "tidak terlalu direct", mungkin saya bisa lebih merasakan kedalaman isi cerita.

Tak perlu saya bahas banyak-banyak sepertinya tentang si film, karena saya pun tak bisa memberi masukan bagaimana baiknya. Hanya saja soal cinta beda agama ini, memang pelik sekaligus lucu. Dan pertanyaan yang sering saya ajukan adalah seperti ini, "Jika Tuhan tahu apa yang dia lakukan, pasti dia juga tahu kenapa ia memberikan cinta untuk para pasangan." Artinya, cinta beda agama adalah rencana Tuhan juga. Itu paling mudah jadi argumentasi logis pertama. Yang kedua, yang paling asyik, adalah: Tuhan itu sama aja lah, satu, esa, yang bikin beda adalah manusia, yakni si pencipta agama itu. Jadilah jika kedua argumentasi itu bisa diyakinkan dalam keteguhan hati, maka seterusnya barangkali tinggal menghadapi batu besar bernama administrasi, protokol, dan kultur, yang mana di Indonesia tak memihak cinta beda agama. Entahlah, Indonesia itu paradoks sepertinya, plural tapi membenci perbedaan.
Yang saya simpulkan sementara ini adalah: bahwa Tuhan, dalam agama dan argumentasi apapun, selalu dikonstruksi manusia untuk kepentingan pragmatis manusia itu sendiri. Artinya, kerahasiaan dzat Tuhan, adalah ruang multitafsir mahabesar. Dan tafsir manusia, sejauh pengamatan saya, adalah tafsir yang selalu berkaitan dengan pemuasan kepentingan dirinya. Misal: Tuhan adalah ayah, maka itu ditujukan demi memenuhi figur ayah dalam dirinya. Tuhan adalah tempat curhat, maka ya, dia berguna sebagai ruang tempat mengadu. Tuhan itu senang perang, maka menangkanlah aku, kaumku, karena Kau membenci mereka. Maka ketika aku menang, Ya Tuhan, kekuasaan ini milikku, dan kusebarkan agama-Mu.
Termasuk ketika argumentasi dua insan untuk membenarkan cinta beda agamanya. Dia pilih lah Tuhan mana yang bisa mendukung dirinya, ketika dalam agamanya masing-masing, Tuhan satu tak kenal Tuhan lainnya. Ia pilih Tuhan plural, Tuhan fleksibel, atau apapun lah namanya.


Continue reading

Monday, September 7, 2009

Romance of The Babel


The Confession of Tongues (Gustave Dore)


Voor Mijn Vlinder


Jij altijd in mijn hart
Tot nieuw huis dat wordt gebouwd
Na dat
Ga weg van mijn hart, o, vlinder
Vlieg altijd aan mijn oogleden

Fuer mein Schmetterling

Du bleibst fuer immer und ewig in meinem herzen
Bis ein neues haus erschaffen wuerde
Danach
Geh von Herzen, o, schmetterling!
Flieg immer zu meinen augen

为了我的蝴蝶

你永远在我心中
直到有一个新的家
然后
请远离我的心,哦,蝴蝶!
飞来向我的眼睑。。。总是

Pour mon Papillon

T'es dans mon coeur pour toujours
jusqu'à ce qu'il créerai la nouvelle maison
après ça
dégage-toi de mon coeur, o, papillon!
vole toujours à ma popillère

Watashi no Chocho ni Tsutaete Koto O

Kimi ga watashi no kokoro ni itsu made mo iru
Atarashii uchi o tsukutta ato mo iru
Sono ato
Kokoro no naka kara itte, o, chocho!
Mayu made itsumo tondeiru

나의 나비에게

영원히 나의 마음 속에
새로운 그 집을 생길 때까지
그리고, 나비야..
나의 마음에서 떠나와
나의 눈 앞으로 훨 훨 날아와

Untuk Kupu-Kupuku

Selamanya kau di hatiku
Hingga tercipta itu rumah baru
Setelah itu
Pergilah dari hati, o, kupu!
Terbang menuju pelupuk mataku selalu
Continue reading

Friday, September 4, 2009

Surga di Telapak Kaki Kapitalisme

Konon, surga itu ada di atas sana. Tempat dimana semua-muanya ada. Semua yang menyenangkan dan membahagiakan tubuh dan jiwa, tinggal minta langsung tersedia.
Jujur, takut masuk neraka itu pasti, tapi saya juga takut masuk surga. Terbayang jika memang ia kekal, berarti betapa tidak menariknya berada di surga: ketika apa-apa hadir dengan sendirinya tanpa perlu berusaha. Tidakkah terkadang hidup menjadi menarik, karena adanya istilah "mengejar bahagia"? Artinya, bahagia adalah manifestasi dari sebuah usaha. Tanpa usaha, bahagia tak pernah ada dengan sendirinya. Karena jangan-jangan, kebahagiaan adalah usaha itu sendiri. Sekian berfilosofinya, karena saya sesekali ingin berbagi pengalaman kongkrit juga.

Alkisah, setiap Jumat malam, saya bekerja di hotel Hilton Bandung. Pekerjaan saya adalah menghibur para tamu lewat musik dan senyum. Hilton, barangkali hotel yang cukup dikenal, reputasinya internasional. Setidaknya orang mengenalnya lewat sosialita Paris Hilton yang rajin bikin heboh lewat reality-show serta sex tape-nya. Untungnya bukan Paris lah penyebab Hilton berdiri. Hotel itu awalnya bikinan Conrad Hilton di tahun 1919 (Conrad itu entah kakek atau buyutnya Paris). Sejak itu, bisnisnya berkembang pesat, buka cabang dimana-mana, dan menjadi salah satu hotel terdepan di dunia. Jika mau dikaitkan dengan budaya pop, hotel Hilton di Amsterdam pernah ditiduri oleh John Lennon dan Yoko Ono, ketika mereka sedang melancarkan protes bernama Bed in-for Peace selama seminggu (25 Maret-31 Maret 1969). Protes yang dilancarkan terhadap Perang Vietnam itu, menunjukkan aksi tidur bersama John dan Yoko tanpa bercinta, dan melahirkan slogan terkenal: "Make Love not War".
Bohong jika saya tidak bangga dan bahagia ketika direkrut menjadi bagian dari Hilton. Hanya jika saya seorang Marxis dan terorislah barangkali yang bisa membuat saya benci perekrutan ini. Reputasi global, upah layak, perlakuan istimewa, dan satu lagi, saat jeda diantara performa, saya disuruh beristirahat untuk merasakan seserpih surga di dunia. Jika surga bercerita soal makanan yang tiada habisnya, yang dengan leha-leha boleh kita minta yang manapun juga tanpa berusaha, maka tak berlebihan memang inilah serpihannya, di resto (hampir seperti aula sebenarnya saking besarnya) bernama Purnawarman itu. Benar-benar beragam makanannya, dan saya boleh ambil manapun yang saya suka. Setelah diambil, tak lupa si pelayan memberikan senyumnya, membukakan serbet, menuangkan air, dan menawarkan menu-menu lainnya.

Itu tempat saya makan di jam istirahat. Tempat saya tampil, adalah restoran bernama Fresco, di lantai enam. Tempatnya romantis dan remang-remang, temanya Italia. Di pinggir restonya, terdapat kolam renang tak beratap, sehingga airnya memantulkan cahaya bintang dan bulan. Suasana tempatnya hangat dan damai. Cukup apresiatif untuk diterpa bebunyian gitar klasik. Meja-mejanya juga dipenuhi lilin, sehingga wajah para tamu berkedut-kedut oleh cahaya yang mungil. Latar belakang yang serba temaram itu dilengkapi oleh suara-suara ramah berbunyi: Malam Pak, Malam Bu, yang intinya menyambut para tamu. Amboi, mendadak ada gadis lewat, pakai bikini. Tak perlu ditanya, kami toh sudah tahu, ia mau berenang. Berkecipak-kecipak dalam dinginnya kolam kala malam.

Saya bukan anti-Marx. Saya mengagumi pemikirannya, dan saya tahu ia punya surga versinya. Cerita tentang kondisi sama rata sama rasa, dimana para manusia berderajat setara soal kepemilikan, tanpa ada kelas-kelas sosial yang merintangi. Bagus, Marx, dan luar biasa jika itu kelak bisa kejadian. Dengan cerita surganya, ia menyimbahi dunia ini dengan darah, lewat pertarungannya melawan surga para kapitalis, yang mengisyaratkan: surga hanya ada dalam kelas sosial tertentu, mereka yang dibilang para pemilik modal. Hilton jelas masuk dalam kategori kapitalis menurut Marxian. Ia memiliki modal, alat produksi, dan mempekerjakan buruh, yang salah satunya adalah saya. Maka menurut Marx, seyogianya saya mesti bersatu dengan buruh-buruh sedunia untuk lalu menggalang revolusi proletariat dan menggulingkan tampuk kekuasaan borjuis sehingga akhirnya modal dimiliki bersama.

Tapi tolong Marx, itu keren, tapi tidak sekarang, izinkan saya menahan keinginan itu, karena di hadapanku ini, terhidang waffle dan crepes yang dilumuri saus maple, mangga dan vanila, dan didampingi eskrim rum raisin. Saya tidak tahu apakah di jamanmu para buruh disuguhi hal semacam ini? izinkan saya rehat sejenak, mencicipi surga musuhmu, untuk kemudian kelak ikut denganmu, menjadikannya surgamu. Sebelumnya, saya turut menyesal pada para teroris, karena sungguh saya tak yakin surga kalian lebih indah dari yang saya punya. Di mejaku ini, ada surga, yang meski tak menyediakan semuanya, tapi diperoleh dari kerja keras, usaha, dan tak perlu melenyapkan nyawa.







Continue reading