Sunday, August 23, 2009

Mitologi Yunani: Eros, The Graces, dan The Muses

Telah diceritakan sebelumnya, bahwa Dua Belas Dewa Olympus adalah yang utama dalam mitologi Yunani. Namun, hanyakah kedua belas itu? Tidak, tidak, masih amat banyak ragam dewa-dewi. Berikut ada beberapa lagi, yang sepertinya membuat manusia mencintai kehidupan dan ingin terus abadi:

Eros (Dewa Cinta): Biasa disebut Cupid dalam bahasa latin. Homer tak bercerita apa-apa tentangnya, tapi ini tertulis dalam tulisan Hesiod. Eros biasanya digambarkan buta atau ditutup matanya, kemungkinan karena analogi cinta yang membutakan. Biasanya, eksistensi kisah dalam mitologi diperkuat oleh puisi-puisi, namun soal Eros, filsuf Plato yang bercerita: "Eros membuat rumah dalam hati para pria, semuanya, kecuali mereka yang keras hatinya. Kehebatan Eros adalah, ia tak pernah salah. Wahai para pria, layanilah ia, maka sentuhan cinta membuatmu tak pernah berjalan dalam kegelapan." Meski demikian, puja puji Plato tak tepat benar dengan cerita Hesiod, malah sebaliknya:

Hatinya iblis, tapi lidahnya manis.
Tak ada kebenaran dalam dirinya. Dan ia kejam.
Tangannya mungil, namun mampu merentang panah hingga ambang ajal.
Anak panahnya itu, meski kecil, ta
pi membawa surga bersamanya.
Sentuhannya tak memberkati, karena terpendam dalam api.


The Graces (Dewi Rahmat): Dewi Rahmat terbelah tiga, yakni Aglaia (Dewi Kecemerlangan), Euphrosyne (Dewi Kebahagiaan), dan Thalia (Dewi Kegembiraan). Mereka bertiga adalah putri dari Zeus dan Eurynome. Meski demikian, ketiganya tak terpisah, melainkan trinitas, satu kesatuan. The Graces adalah penghibur sejati dan pemberi gelegak kehidupan. Pernah dalam suatu ketika mereka berdansa diiringi alat musik Apollo yang bernama lyra, pria seluruh dunia gembira ria melihatnya. Bersama dengan para Muse, The Graces dijuluki "the queen of song".


The Muses: Para Muse ada sembilan, mereka putri Zeus dan Mnemosyne, Dewi Memori. Seperti halnya The Graces, The Muses juga satu kesatuan. "Mereka adalah semua," kata Hesiod. Namun pada akhirnya, para Muse terbelah juga peran-perannya, ada Clio (Muse sejarah), Urania (Muse astronomi), Milpomene (Muse tragedi), Thalia (Muse komedi), Terpsichore (Muse dansa), Calliope (Muse puisi epik), Erato (Muse puisi cinta), Polyhimnia (Muse pujian pada ilahi), dan Euterpe (Muse lirik puisi). Menurut Hesiod, para Muse ini: "Jiwanya bebas, dan hatinya tak pernah berhenti mendendangkan lagu. Ketika pria manapun sedang gundah dulana dan jiwanya dinaungi kegelapan, maka nyanyian para Muse akan membebaskannya keluar menuju cahaya. Para Muse adalah berkat bagi para pria." Diceritakan pula, bahwa para Muse adalah pengiring musik tetap bagi Apollo dan para Grace. Instrumennya lyra, dan mainnya, konon, sebaik Apollo.

Sepertinya ada hal menarik dalam kisah mitologi ini. Pertama, soal gender. Ketiga Dewa-Dewi diatas selalu ada kaitannya dengan pemuasan hasrat pria. Ini semakin memperkuat sentralitas pria sebagai subjek, dan wanita sebagai objek. Mitologi bukan satu-satunya pemikiran purba yang menyinggung kedigjayaan pria. Agama-agama pun begitu: Muhammad pria, Yesus pria, Siddharta pria, bahkan konon Tuhan pun berkelamin, dan Ia pria. Berarti, setiap kisah kepercayaan, masih sulit melepaskan diri dari netralitas gender. Bisa jadi ini tak lepas dari kaum penutur ceritanya, yang juga pria (Homer dan Hesiod). Kedua, masih soal distingsi ala Barat. Sudah jelas, mitologi membuat distingsi yang tajam, segmentasi yang kuat antara peran Dewa-Dewi terhadap alam semesta ini. Ditambah kasus The Graces dan The Muses, ada pemisahan yang lebih ekstrim lagi, yakni pemisahan karakter diri. The Graces dibagi tiga, The Muses dibagi sembilan. Konsep jiwa tripatrit Plato dan dualisme Cartesian bisa jadi diinspirasi oleh mitologi. Ini semakin menunjukan tipikal cara berpikir Barat yang senang memilah-milah. Baiknya, ia semakin mudah dipahami dan dipelajari. Kelemahannya, barangkali, mengutip Bambang Sugiharto, membuat kita lupa, bahwa realitas sejati adalah hidup itu sendiri, hidup yang tak dibingkai-bingkai (gastel), seperti kata Heidegger.

sumber foto:
- http://www.emblems.arts.gla.ac.uk/french/images/pic_l/FLPa081.jpg
- http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/84/Three_Graces.jpg
- http://www.intaglio-fine-art.com/prodimages/ghi/G120.JPG

sumber literatur:
- Hamilton, Edith. Mythology: Tales of Gods and Heroes. Mentor Book: 1953
- http://wikipedia.org/
Previous Post
Next Post

5 comments:

  1. "Realitas sejati adalah hidup itu sendiri, hidup yang tidak dibingkai-bingkai."

    Hidup yang dibingkai-bingkai akan menimbulkan pemahaman yang tidak sejati akan realitas?

    Terus dibilang, pemikiran ini a la Barat. Bagaimana perbandingannya dengan pemikiran timur, dengan tokoh-tokoh dalam pewayangan, misalnya?

    ReplyDelete
  2. Kesejatian memang sulit ditentukan apakah dari bingkai atau keseluruhan. Tapi dalam beberapa versi pemikiran, Heidegger misalnya, ia curiga bahwa realitas itu satu pada awalnya, apa yang ia namakan dengan Ada (dengan A besar). Lalu bahasa, memberi nama masing-masing realitas, sekaligus memisahkannya (bingkai itu). Jadi dulu yang namanya tanah, air, langit, barangkali satu saja, dan kita menyadari demarkasinya, setelah diberi nama. Lebih spesifik, Weber bilang, bahwa rasionalitas masyarakat modern, telah membentuk dunia menjadi instrumental, menjadi sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk mencapai kepentingan. Misal: rasio orang modern melihat tanah tidak selalu sebagai tanah itu sendiri, melainkan otomatis sebagai tempat bercocok tanam, dibangun fondasi, serta ladang usaha. Artinya, dengan pembingkaian, realitas itu tidak berdiri sendiri. Makanya, Nietzsche menganjurkan, hidup itu mestinya tidak dipikirkan, melainkan dirasakan. Ia menggunakan analogi Dewa Apollo sebagai dewa rasionalitas dan pencerahan. Katanya, jangan kaya Apollo, jadilah Dyonisus, dewa anggur, dimana pemahaman sejati akan kehidupan, hadir ketika kita mabuk di dalamnya. Orang mabuk kan, tak kenal batas-batas rasionalitas, tapi dia menikmati kehidupan sebagaimana adanya.

    Pewayangan itu, sebenernya saya belum terlalu mendalami, dan berharap akan, karena filosofinya dalam juga, tak kalah dengan Nietzsche dkk. Saya pernah baca dalam Etika Jawa karya Franz Magnis Suseno, kisah menarik tentang Dewaruci. Alkisah Bima, mencari apa yang dinamakan Air Hidup. Airnya terletak di kedalaman samudera, dan untuk mencapainya, ia mesti menghadapi marabahaya. Nah ketika ia kelelahan dan istirahat sementara di tengah lautan, tiba-tiba datang Bima lainnya, persis seperti dia, tapi dalam ukuran yang jauh lebih kecil. Dimintanya Bima besar untuk masuk ke telinga kiri si Bima kecil. Bima besar awalnya ragu, namun ia mencoba. Akhirnya dengan keyakinan yang tinggi, Bima berhasil masuk ke telinga kiri Bima kecil. Dari situ, Bima mengalami hal yang lain sekali, ia melihat dunia secara terbalik. Terbalik artinya, ia melihat apa sebenarnya realitas, yang mana sebelumnya ini ia cuma melihat permukaannya saja. Seperti ia melihat empat warna, tiga daripadanya, yaitu kuning, merah, dan hitam melambangkan nafsu-nafsu yang berbahaya yang harus dijauhi. Warna keempat, putih, melambangkan ketenangan hati. Lantas Bima melihat boneka gading kecil yang melambangkan Pramana, prinsip hidup ilahi yang berada di dalam dirinya sendiri serta memberi hidup. Dalam kesadaran itu, Bima mencapai "kesatuan hamba dan Tuhan", kesatuan manusia dan Ilahi: dua-duanya adalah satu tak terpisahkan. Bima kecil itu tak lain adalah Sang Mahakuasa.

    Apa yang bisa dipetik dari Dewaruci, dan kaitannya dengan pemikiran ala Barat? Jelas, bahwa Barat terkontaminasi bahasa (ini konteks mitologi), yang menyebabkan adanya demarkasi ketat Dewa-manusia. Bahkan ada yang dinamakan setengah Dewa setengah manusia (contoh: Hercules). Dewa didefinisikan, manusia pun demikian. Sehingga terasa jelas masing-masing berdiri sendiri. Lewat Dewaruci, bisa ditarik generalisasi, bahwa Timur mengisyaratkan bahwa kedalaman realitas ada pada diri sendiri, termasuk persoalan Ilahi. Jadi Tuhan dan manusia, benar-benar soal bahasa. Demikian, semoga kurang puas. Amin.

    ReplyDelete
  3. Iya nih, kurang puas. Payah. Heidegger ini pernah dibahas di kuliahnya Mas Nur, ya?

    ReplyDelete
  4. Waduh, dik, saya jarang kuliah, absen bebas sih. Hihihi. Tapi sepertinya beliau tidak membahas Heidegger, karena itu sedikit metafisis. Kalo mau, baca aja bukunya Max Weber yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme (Ada di Togamas kalo ga salah). Itu nunjukkin banget apa yang dinamakan "rasio instrumental", jadi rasio yang memilah dunia untuk pemuas kepentingan semata. Terus soal Apollo-Dyonisus, itu ada di buku Nietzsche yang judulnya Birth of Tragedy (kalo ga salah pernah lihat di Potluck). Tapi ini saya copy paste dari wikipedia soal perbedaan Apollo-Dyonisus, ga saya terjemahin yah, namanya juga copy paste hehe.

    Apollo (Apollonian or Apollinian): the dream state or the wish to create order, principium individuationis (principle of individuation), plastic (visual) arts, beauty, clarity, stint to formed boundaries, individuality, celebration of appearance/illusion, human beings as artists (or media of art's manifestation), self-control, perfection, exhaustion of possibilities, creation, the rational/logical and reasonable.

    Dionysus (Dionysian): chaos, intoxication, celebration of nature, instinctual, intuitive, pertaining to the sensation of pleasure or pain, individuality dissolved and hence destroyed, wholeness of existence, orgiastic passion, dissolution of all boundaries, excess, human being(s) as the work and glorification of art, destruction, the irrational and non-logical.

    Kata Nietzche, untuk memahami dunia, berlagaklah seperti Dyonisus. Semoga tidak puas lagi.

    ReplyDelete
  5. gan...saya tertarik lebih lanjut tentang The Graces. ada literatur lebih lanjut ga nih?sy search2 susah dapat. silakan main ke sarang http://writerprenuer.blogspot.com

    ReplyDelete