Sunday, August 30, 2009

Wajah











"Eh, ketemuan aja yuk? Gak enak nih ngobrolnya via telepon."


Sepertinya kita sering mengucapkan petikan kalimat tersebut, terutama jika menyoal urusan bisnis atau perumusan ide-ide tertentu. Meski secara teknis kesepakatan bisa diperoleh lewat kecanggihan teknologi belakangan, tapi sebuah pertemuan tetap punya kekuatan, yang intinya: saya ingin melihat wajahmu. Atau dalam konteks orang berkasih-kasihan, seringkali ada perasaan ingin jumpa ketika sekian lama SMS-an atau chatting. Bertemu berarti punya kesempatan merasa secara fisik, tapi juga berarti: saya ingin melihat wajahmu. Di koran, ada berita gempa di suatu daerah. Orang yang mengetahuinya dengan deskripsi keadaan dan angka-angka korban jiwa lewat teks berita, akan sangat berbeda dengan ia yang pergi ke daerah bencana, mendeskripsikan langsung lewat subjektivitasnya, lantas punya sedikit harapan pada para korban: saya ingin melihat wajahmu.
Dulu, saya tak pernah betul-betul memikirkan arti seraut wajah. Yang saya tahu, ia punya ukuran kualitas yang dinamakan ganteng dan cantik. Lalu secara lebih spesifik, wajah bisa dikonstruksi: ditato, ditumbuhi jerawat, dicukur jenggot serta kumisnya, atau dipotong rambutnya. Pemaknaan lebihnya paling sebatas, bahwa wajah adalah pembeda antar manusia, selain nama. Pada akhirnya, dalam sebuah kuliah Extension Course Filsafat di Unpar, sang pembicara, Romo Haryatmoko, mengungkapkan tema soal wajah, yang sukses merangsang saya untuk mengetahui lebih jauh. Pada saat kuliah yang berlangsung sekira tiga tahun lalu itu, saya memang tak paham betul apa yang diucap Romo. Tapi, ya itu tadi, setidaknya saya jadi tahu bahwa soal wajah pernah diperbincangkan secara filosofis. Salah satu sumbangsih penting kuliah tersebut adalah: saya jadi tahu seseorang bernama Emmanuel Levinas.
Tak lama setelah kuliah tersebut, kebetulan sekali ayah membelikan saya buku berjudul Antropologi Filsafat Manusia: Paradoks dan Seruan karya Adelbert Sneijders. Disana ada sub-bab tentang filsafat wajah Levinas, begini potongan kata-katanya:

"Terhadap wajah sesamaku, kebebasanku terikat secara etis. Aku menemukan sesamaku dalam "wajah yang telanjang" yang mengatakan "terimalah aku dan jangan membunuh aku". Aku tidak boleh menafsirkan sesamaku sebagai "alter ego" (aku yang lain). Diri sesama menampakkan diri sebagai sesuatu yang mutlak lain, fenomena yang serba baru. Dan ini tidak dapat direduksi menjadi suatu eksponen dari suatu keseluruhan dan kebersamaan. Segala usaha untuk memahaminya justru akan merendahkan diri sesama sebab "memahami" berarti meniadakan keunikan dan kekhasannya." (hal 49-50)

Paragraf diatas, meski lumayan jelas maksudnya, tapi bagi saya, tuturannya masih terlalu umum dan metafisis. Aplikasi baru terasa setelah saya membaca sebuah novel brilian karya Kobo Abe, judulnya Face of Another. Ini adalah kisah tentang seorang kepala institut terkemuka di Jepang yang mengalami ledakan ketika sedang melakukan percobaan kimia di laboratorium. Wajahnya menjadi hancur dan tak berbentuk. Kemana-mana ia mesti diperban karena wajahnya berubah mengerikan. Hubungannya dengan banyak orang menjadi terganggu dan yang terburuk: istrinya menolak diajak bercinta. Lalu dia mendendam, ternyata: orang menerima dirinya selama ini bukan karena kualitas intelektual dan caranya beretika, melainkan karena wajah. Akhirnya, untuk membalas dendam, kecerdasannya mendorong ia membuat topeng yang sempurna dan terlihat seperti wajah alami (catatan: detail Kobo Abe dalam menggambarkan pembuatan topeng wajah alaminya sungguh memukau dan saintifis). Cerita ini kemudian menuturkan tentang bagaimana dengan wajah barunya, ia menguji orang yang terlalu percaya wajah, termasuk istrinya. Dalam satu bagian, diceritakan sebuah adegan yang membuat saya berdecak kagum: yakni ketika sang suami berubah wajah (catatan: juga berubah identitas untuk menguji istrinya) lantas istrinya akhirnya mau diajak bercinta, tidakkah menjadi sebuah kisah perselingkuhan yang brilian?

Saya mendadak teringat Nabi Muhammad SAW. Jika dalam versi filosofi di atas, wajah dianggap penting sebagai penanda "yang liyan" serta gerbang komunikasi menuju dunia, kenapa beliau dilarang untuk diwajahkan? Barangkali begini: Setiap kita mendengarkan sebuah ide (biasanya ide yang bagi kita brilian), keingintahuan kita seringkali mengusik; seperti apa gerangan wajah si pengungkap ide? Selalu ada upaya seperti itu, mencerap dunia fisik untuk "membuktikan" secara empiri akan "kebenaran" sebuah ide yang abstrak. Dalam contoh yang lebih keseharian, misal kita mendengar satu gosip atau omongan miring, sering ada ucapan terlontar, "eh, mana orang yang digosipin tuh? Pengen liat deh mukanya." Ini menunjukkan, bahwa sebenarnya masing-masing dari kita sungguh menganggap bahwa wajah adalah gerbang menuju eksistensi itu sendiri: ada wajah-ada manusia-ada ide-ada ungkapan ide. Maka ketika wajah Rasulullah dilarang, rasa-rasanya saya bisa bilang: bahwa ada ide, yang bisa terungkap tanpa wajah, tanpa manusia, tanpa eksistensi.
Saya bukan tidak mengimani eksistensi Rasulullah, hanya saja, keberadaannya itu sendiri rasanya bukan sesuatu yang penting, ketimbang ide-idenya. Ketika kita tahu bahwa sebuah ide muncul dari seraut wajah, maka otomatis ide itu sendiri mempunyai "kepemilikan", atau keunikan dalam bahasa Levinas. Ketika berandai, Rasulullah digambarkan wajahnya seperti si fulan, maka otomatis, sang ide menjadi milik wajah si fulan, atau setidaknya identik dengannya. Ini mungkin bisa menjawab juga, kenapa Tuhan sering digambarkan macam-macam, -padahal ia mungkin cuma sekedar ide abstrak- barangkali: karena keinginan untuk "memiliki". Jika berandai-andai kucing membuat simbolisasi tentang Tuhan, kemungkinan ia akan membuat kucing raksasa. Ketika Kristianitas membuat simbol tentang wajah Kristus, kemungkinan itu ada kaitannya dengan ras dan kekuasaan, kalau tidak, kenapa Kristus bukan seorang negro atau melayu? Saya tidak membela agama manapun, tapi saya lama-lama setuju dengan ketakberwajahan Rasulullah. Karena dengan demikian, ia tidak dimiliki siapa-siapa dan tidak eksis di tengah golongan tertentu yang menyerupai wajahnya. Meski ada asal usulnya dari bangsa mana ia dan lahir di daerah mana, tetap ketiadaan wajah membuatnya tak bisa dikenali secara indrawi. Orang tak bisa bilang dia "unik" karena tak mempunyai wajah. Namun lawan dari uniklah yang kemudian muncul, yakni universalitas. Ketika wajah tak dipertunjukkan, maka universalitas yang muncul ke permukaan. Ketika Tuhan disimbolkan, maka ia tak lebih dari kepemilikan lewat kekuasaan tertentu.

Apakah dengan keberhasilan Rasulullah menularkan ide-idenya ke seluruh dunia, saya menganggap wajah tak penting dan menampik argumen Levinas dan Abe? Tidak, tidak, saya setuju sekali: wajah adalah gerbang komunikasi antara kita dan dunia. Tanpanya, sulit bagi kita untuk memahami dan dipahami orang lain. Wajah adalah simbolisasi humanisme yang paling mendasar dan tak lekang waktu, itu mengapa dalam dunia teks dan digital dewasa ini, orang tetap menghargai kewajahan lewat simbol-simbol emoticon. Hanya saja, bagi saya, gerbang menuju dunia bukanlah dunia itu sendiri. Wajah bagi saya cuma mengingatkan: bahwa kita berada dalam dunia manusia yang unik, paradoks, dan dipenuhi kehendak atas kuasa. Tapi ketiadaan wajah juga membuat saya waras: bahwa kita sekaligus berada dalam dunia abstrak yang mana manusia tak berkuasa di dalamnya.



Sumber foto:
http://farm2.static.flickr.com/1143/793002157_343721001a_o.jpg
Continue reading

Tuesday, August 25, 2009

Alienasi











"Neraka manusia modern, adalah saat ketika di tengah rutinitas ia bertanya: 'apa gerangan yang sedang saya lakukan?'" (Albert Camus)

Awalnya saya tidak tertarik isu ini, sebelum ada pengalaman eksistensial dengan seorang teman. Saat itu, kami dekat cukup lama: sering mengobrol bersama, soal ini itu, penuh canda tawa. Semua berubah, ketika ia dapat panggilan kerja di Jakarta. Gajinya bagus sekali untuk seorang yang baru lulus setahunan, yakni seribu dolar per bulan. Perusahaan apa itu tepatnya, entahlah, tapi katanya konsultan internasional. Kerjanya interpreter alias penerjemah. Jam kerjanya padat dari jam delapan pagi, dan bisa berakhir hingga sepuluh malam. Tapi katanya, gaji sebesar itu sepadan. Jadilah saya melepas kepergiannya dengan sederhana karena, ah, Jakarta kan cuma dua jam perjalanan.
Hari demi hari, bulan demi bulan, terasa ada yang berubah. Ia ditelpon tak bisa, disms tak dibalas, chatting di YM sempat sesekali, tapi selalu buru-buru. Saya merasa kehangatannya hilang entah kemana. Suatu hari akhirnya kami sempat kontak via telepon. Alih-alih bahagia, ia terdengar lebih merana, katanya: ah, uang berapa sama saja, saya masih miskin hahaha, biasalah, makin banyak uang, makin ingin ini itu; kemarin saja, saya sempat puasa demi sepatu seharga lima juta. Hahaha kami tertawa. Tapi saya tertawa miris. Dahulu, saya selalu dengar apa cita-citanya: jadi orang kaya. Agar apa wahai, temanku? agar bahagia, bisa beli apa aja, sehingga bahagia. Oh, baiklah, kudukung itu maumu.
Dengan gaji sejumlah itu, entahlah apakah cita-citanya sudah tercapai atau belum. Yang jelas, ia lebih kaya ketimbang masa-masa kuliah. Namun sedihnya mendengar ia tak bahagia, dan kalaupun ia tak mengungkapkannya, sangat jelas ini orang yang berbeda dari yang saya kenal di waktu silam: meski tak ada uang, terasa ada keceriaan dari hati yang paling dalam.

Di suatu buku yang isinya ditulis oleh kompilasi para pemikir di Indonesia, saya membaca bagian filsuf favorit saya, Bambang Sugiharto. Katanya, manusia itu terbagi tiga: tubuh, pikiran, dan ruh. Daripada saya kutip tapi tidak pas (buku saya itu hilang), lebih baik saya ambil intisari yang saya ingat: bahwa dalam manusia modern yang seringkali terjebak dalam rutinitas, tubuh dan pikiran menjadi yang utama untuk dipuaskan, sedangkan ruh? Bukannya mereka semua tak tahu ada semacam ruh yang minta dimanjakan, tapi mereka tak mau, dengan alasan takut. Bagaimana memanjakan ruh? Katanya, dengan merenung, berefleksi, pergi menghayati kesenian, budaya, serta agama. Bukan dalam artian ikutan maaf-maafan kala lebaran, atau pergi ke galeri cuma sekedar gaya hidup, melainkan betul-betul mengambil jarak dari keseharian dan histeria massa, lalu boleh dibilang menyendiri dan sering-sering mempertanyakan (seperti kata Camus), saya ini mau apa? Namun, ya itu, banyak dari manusia modern tahu, pertanyaan seperti itu pastilah ada, tapi tak mau dimunculkan: terlalu mengerikan, mari biarkan ia terbenam dalam segala keseharian.
Oke, lebih jauh lagi, mari dengarkan sabda sang Nabi Proletar, Karl Marx. Setelah Hegel, Marx banyak berbicara soal apa yang dinamakan alienasi atau keterasingan. Sebelumnya, dari mana istilah alienasi? menurut buku yang ditulis Richard Schacht yang berjudul Alienasi: Suatu Pengantar Komprehensif, disebutkan bahwa alienasi berasal dari bahasa Latin alienatio. Kata benda ini menderivasi maknanya dari kata kerja alienare (untuk menjadikan sesuatu milik orang lain, membawa pergi, melepaskan). Alienaer, pada gilirannya, diderivasi dari alienus (milik atau berkaitan dengan pihak atau orang lain). Dan alienus akhirnya diderivasi terutama dari kata alius (yang berarti 'other' [yang liyan] sebagai kata sifat, atau 'another' [yang lain] sebagai kata benda). Kembali, Apa kata Marx? "Saya melihat ada empat tipe alienasi dalam kerja buruh: pertama, alienasi buruh dengan esensi dirinya sebagai manusia, yang mana kapitalisme sukses membuatnya menjadi mesin yang bergerak statis; kedua, alienasi antar sesama buruh: kapitalisme membuat buruh menjadi komoditas untuk kepentingan pasar, alih-alih makhluk sosial; ketiga, alienasi buruh dengan produk yang dihasilkannya: karena buruh dianggap mesin, maka sentuhan buruh dalam kegiatan produksi tidak sama dengan kegiatan seni yang mana si produk adalah bagian dari si pembuat; keempat, alienasi buruh dari pekerjaannya, yakni ketika kerja itu sendiri menjadi sesuatu yang tidak bermakna, dan hanya dilakukan karena lingkaran rutinitas semata."

Jika memang benar apa yang dikatakan para filsuf diatas, sepertinya ini cocok dengan gejala yang dialami teman saya. Tapi apakah terlalu naif, menuduh teman saya mengalami keterasingan, sedangkan saya merasa diri saya ini sehat-sehat saja? Lalu kalau memang iya dia itu terasing, lalu kenapa? toh, selama dia tidak sadar dia terasing, atau toh dia baik-baik saja dengan keadaannya. Saya sempat dengan polos berdiskusi dengannya soal konsep-konsep keterasingan ini (dia teman diskusi filsafat yang baik, dulunya), tapi ketika obrolan ini menyerempet pada tendensi bahwa dia mengalami gejala alienasi, dia menolak keras, "ah, we're fine, pemikiran macam itu, it just between you and your gank." Tapi saya masih memaksakan bertanya meski situasi sudah sedikit tak enak, "Lantas, dalam bekerja, selain uang, apa yang membuatmu bahagia, Temanku?" Dia jawab: social life, teman kerja, bertemu klien baru, menemukan tantangan dan berhasil mengatasinya, dan sedikit bumbu-bumbu romantika. Oh, sepertinya saya tahu, teman, mari kita sudahi obrolannya sementara, tanpa mesti kita teruskan perdebatan.
Saya semakin setuju dengan para filsuf di atas, bahwa memang, terjebak dalam satu lingkaran rutinitas yang berulang-ulang, berpotensi membunuh kesadaran. Sundea, kawan saya, pernah berpendapat kritis soal ini, "Ini sama saja dengan kita pergi ke suatu tempat, sekolah misalnya, terus berulang-ulang setiap harinya, lalu ditanya sama teman: Eh, kau tahu tidak dimana letak Circle K di sekitar sini? Lalu kita kadang bisa jawab: tahu, tapi lupa dimana yaaa. Padahal, itu Circle K yang kita lewati setiap harinya." Dan apa yang kemudian membuat kita sadar, barang sejenak, dari semacam kesadaran mekanistik? barangkali: sebuah perbedaan. Ya, ketika kita pergi ke sekolah, lewat jalan yang sama, dalam jam yang sama, yang sampainya pun kita tak menikmati perjalanan, tahu-tahu sampai, maka sedikit dinamika kehidupan akan menyadarkan kita: misal, ada tabrakan di jalan, ban kita gembos, ada cewek cantik menyeberang di hadapan, atau bahkan baju yang kita kenakan berlainan, akan membantu kita sadar dari situasi robotik. Dan barangkali, ada unsur dalam kehidupan yang tak berhenti berdinamika selain kehidupan itu sendiri tentunya, yakni: kehidupan sosial dan kesenian. Sosialita selalu sebuah dinamika, kenapa? Karena itu adalah kumpulan pengalaman yang dibagi. Kenyataan bahwa pengalaman indrawi setiap individu berbeda dan selalu baru, akan menjadi dinamika yang berharga ketika para persona itu disatupadu. Kesenian? Sir Muhammad Iqbal berkata: agama, filsafat dan sains punya batas, hanya seni yang tidak. Saya tak mampu mendefinisikan seni, maka itu saya percaya ia tak berbatas juga. Ketidakterbatasannya itulah barangkali, yang sukses membuat seni menjadi instrumen kehidupan yang dinamis dan mampu menangkal segala elemen yang statis. Ketika kau, dalam rutinitasmu yang padat, sempat sejenak saja mendengarkan musik, menyaksikan sebuah pertunjukkan di sebuah gedung konser, bercumbu dengan kekasihmu, karaoke dengan teman-temanmu, atau mengunjungi galeri sejenak untuk merengut-rengut memandangi buratan warna tak tentu dalam lukisan, maka itulah saatnya, dalam kesadaran yang paling dalam, ada pernyataan: ini aku, manusia, pusat alam semesta.


Sumber foto:
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Alienation.jpg


Continue reading

Sunday, August 23, 2009

Mitologi Yunani: Eros, The Graces, dan The Muses

Telah diceritakan sebelumnya, bahwa Dua Belas Dewa Olympus adalah yang utama dalam mitologi Yunani. Namun, hanyakah kedua belas itu? Tidak, tidak, masih amat banyak ragam dewa-dewi. Berikut ada beberapa lagi, yang sepertinya membuat manusia mencintai kehidupan dan ingin terus abadi:

Eros (Dewa Cinta): Biasa disebut Cupid dalam bahasa latin. Homer tak bercerita apa-apa tentangnya, tapi ini tertulis dalam tulisan Hesiod. Eros biasanya digambarkan buta atau ditutup matanya, kemungkinan karena analogi cinta yang membutakan. Biasanya, eksistensi kisah dalam mitologi diperkuat oleh puisi-puisi, namun soal Eros, filsuf Plato yang bercerita: "Eros membuat rumah dalam hati para pria, semuanya, kecuali mereka yang keras hatinya. Kehebatan Eros adalah, ia tak pernah salah. Wahai para pria, layanilah ia, maka sentuhan cinta membuatmu tak pernah berjalan dalam kegelapan." Meski demikian, puja puji Plato tak tepat benar dengan cerita Hesiod, malah sebaliknya:

Hatinya iblis, tapi lidahnya manis.
Tak ada kebenaran dalam dirinya. Dan ia kejam.
Tangannya mungil, namun mampu merentang panah hingga ambang ajal.
Anak panahnya itu, meski kecil, ta
pi membawa surga bersamanya.
Sentuhannya tak memberkati, karena terpendam dalam api.


The Graces (Dewi Rahmat): Dewi Rahmat terbelah tiga, yakni Aglaia (Dewi Kecemerlangan), Euphrosyne (Dewi Kebahagiaan), dan Thalia (Dewi Kegembiraan). Mereka bertiga adalah putri dari Zeus dan Eurynome. Meski demikian, ketiganya tak terpisah, melainkan trinitas, satu kesatuan. The Graces adalah penghibur sejati dan pemberi gelegak kehidupan. Pernah dalam suatu ketika mereka berdansa diiringi alat musik Apollo yang bernama lyra, pria seluruh dunia gembira ria melihatnya. Bersama dengan para Muse, The Graces dijuluki "the queen of song".


The Muses: Para Muse ada sembilan, mereka putri Zeus dan Mnemosyne, Dewi Memori. Seperti halnya The Graces, The Muses juga satu kesatuan. "Mereka adalah semua," kata Hesiod. Namun pada akhirnya, para Muse terbelah juga peran-perannya, ada Clio (Muse sejarah), Urania (Muse astronomi), Milpomene (Muse tragedi), Thalia (Muse komedi), Terpsichore (Muse dansa), Calliope (Muse puisi epik), Erato (Muse puisi cinta), Polyhimnia (Muse pujian pada ilahi), dan Euterpe (Muse lirik puisi). Menurut Hesiod, para Muse ini: "Jiwanya bebas, dan hatinya tak pernah berhenti mendendangkan lagu. Ketika pria manapun sedang gundah dulana dan jiwanya dinaungi kegelapan, maka nyanyian para Muse akan membebaskannya keluar menuju cahaya. Para Muse adalah berkat bagi para pria." Diceritakan pula, bahwa para Muse adalah pengiring musik tetap bagi Apollo dan para Grace. Instrumennya lyra, dan mainnya, konon, sebaik Apollo.

Sepertinya ada hal menarik dalam kisah mitologi ini. Pertama, soal gender. Ketiga Dewa-Dewi diatas selalu ada kaitannya dengan pemuasan hasrat pria. Ini semakin memperkuat sentralitas pria sebagai subjek, dan wanita sebagai objek. Mitologi bukan satu-satunya pemikiran purba yang menyinggung kedigjayaan pria. Agama-agama pun begitu: Muhammad pria, Yesus pria, Siddharta pria, bahkan konon Tuhan pun berkelamin, dan Ia pria. Berarti, setiap kisah kepercayaan, masih sulit melepaskan diri dari netralitas gender. Bisa jadi ini tak lepas dari kaum penutur ceritanya, yang juga pria (Homer dan Hesiod). Kedua, masih soal distingsi ala Barat. Sudah jelas, mitologi membuat distingsi yang tajam, segmentasi yang kuat antara peran Dewa-Dewi terhadap alam semesta ini. Ditambah kasus The Graces dan The Muses, ada pemisahan yang lebih ekstrim lagi, yakni pemisahan karakter diri. The Graces dibagi tiga, The Muses dibagi sembilan. Konsep jiwa tripatrit Plato dan dualisme Cartesian bisa jadi diinspirasi oleh mitologi. Ini semakin menunjukan tipikal cara berpikir Barat yang senang memilah-milah. Baiknya, ia semakin mudah dipahami dan dipelajari. Kelemahannya, barangkali, mengutip Bambang Sugiharto, membuat kita lupa, bahwa realitas sejati adalah hidup itu sendiri, hidup yang tak dibingkai-bingkai (gastel), seperti kata Heidegger.

sumber foto:
- http://www.emblems.arts.gla.ac.uk/french/images/pic_l/FLPa081.jpg
- http://dic.academic.ru/pictures/enwiki/84/Three_Graces.jpg
- http://www.intaglio-fine-art.com/prodimages/ghi/G120.JPG

sumber literatur:
- Hamilton, Edith. Mythology: Tales of Gods and Heroes. Mentor Book: 1953
- http://wikipedia.org/
Continue reading

Wednesday, August 12, 2009

Merayakan Tubuh

Merayakan Tubuh
Resital yang digalaukan berakhir jua. Saya takkan membahas hasil atau review si acara, apalagi analisis. Ini tulisan tentang bagaimana keadaan tubuh saya pra dan pasca konser, yang mana terasa bedanya. Mulai dari sebulan sebelum acara, saya bersikap keras pada tubuh. Ia didisiplinkan terus menerus lewat jadwal latihan nan ketat. Tidur malam seringkali kurang akibat latihan, dan esoknya mesti bangun pagi sekali, juga untuk latihan. Oh, saya sedang membicarakan latihan dalam format trio dan kuartet, ini belum latihan sendiri sebelum latihan. Ah pokoknya latihan dan latihan. Pada titik kelelahan yang amat sangat, tersadar ada benarnya mensana in corporesano: Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat, atau jika dibalik: Kala tubuh luluh lantak, jiwa kehilangan tempat berpijak.
Dalam konteks tertentu, tetek bengek dualisme (Cartesian terutama), bahwa tubuh dan jiwa adalah berbeda, bisa benar juga. Namun, bagi saya, itu semata-mata untuk keperluan praktis. Ketika saya sakit demam, maka mudah untuk mengatakan tubuhku sakit. Ketika saya diputus cinta, maka akan mudah mengatakan jiwaku yang sakit. Memudahkan pergaulan bukan? Padahal, saya setuju pada Marleau-Ponty, bahwa manusia adalah tubuh yang merruh (beliau tak memakai istilah jiwa) dan sekaligus ruh yang menubuh. Dalam satu artikel Bambang Sugiharto, saya pun setuju, ketika ia bilang, bahwa filsafat seolah memenuhi keingintahuan nalar, padahal ia mencoba memuaskan dahaga batin yang terdalam. Nietzsche menambahkan, bahwa setiap organ tubuh punya kecerdasannya masing-masing, otak hanya salah satunya saja. Jari punya, mata punya, hidung punya, dan lain-lainnya, juga punya. Foucault mengkritik Plato yang mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa. Terbalik, Plato: jiwalah penjara tubuh.
Argumen saya sepertinya kacau dan comot sana-sini sembarangan, tapi intinya begini: demarkasi tubuh-jiwa, jangan-jangan cuma soal bahasa. Aslinya tak ada beda antara keduanya. Kau makan, masuk ke tubuh, hatimu senang. Kau lapar, tubuh tak bernutrisi, kau mudah marah. Kau berdzikir mengingat Tuhan, agar jiwamu tenang, sadar tak sadar jantung dan nadimu pun ikut tenang. Kau memberikan sebagian jiwa untuk seseorang, mendadak tubuh menjelma jadi sebagian jiwamu yang lain. Kau kehilangan sebagian tubuhmu, jiwamu sejenak meratapi, tapi jadilah ia menubuh di kemudian hari. Kau menahan lapar dan haus kala puasa, maka cuma jiwa yang mampu jadi pemuas dahaga.
Hari ini kubiarkan ia, tubuhku, begadang semalaman, untuk kemudian bangun agak siang. Ia layak mendapat perayaan, karena sukses mengatasi disiplin dan tempaan. Kau layak mendapat apapun sesuka hasrat. Amor Fati: Cintailah kehidupan. Tenggak anggur Dyonisus, dan mabuklah bersama malam dan bintang. Kala kau terbangun kemudian, berkacalah ke air di danau, seperti Narsissus memandangi dirinya. Disana akan kau dapati, oh tubuh, bahwa bayanganmu tak lain adalah jiwamu jua.

Terima kasih untuk yang telah sengaja datang dan mendukung resital kami, semoga Bach memberkati.
Continue reading

Thursday, August 6, 2009

Resital, Oh, Resital

Resital, Oh, Resital
Lusa nanti saya resital. Tulisan ini bukan soal promosi, karena lama-lama saya sadar juga, tak cuma info resital itu saja yang mesti dibagi, -agar penonton berdatangan- melainkan perasaan-perasaan menjelang resital. Oh, apa itu resital? Saya sering dengar, tapi juga tak tahu jelas apa artinya. Tapi yang pasti, resital itu pertunjukkan musik, seringnya klasik. Dan katanya, mesti sendiri, serius, pokoknya levelnya diatas istilah "konser". Entahlah mengapa saya menamainya resital, mungkin agar keren saja. Resital nanti formatnya ensembel gitar, ada trio ada kuartet. Kami telah mempersiapkannya sekitar enam bulan. Saya bersama Bilawa, Pak Widjaja dan Royke. Suka duka sudah dilalui, dan tinggal dua hari, saya bertanya: akan berakhir di mana suka duka ini? suka atau duka?
Sombongnya, ini resital saya yang keempat dalam empat tahun terakhir. Kenapa boleh sombong? Karena penyelenggaraan resital sungguh tak mudah. Kau mesti menyiapkan minimal enam tujuh repertoar untuk durasi sekitar satu setengah jam. Butuh mental, stamina, dan konsentrasi yang baik, salah sedikit apalagi banyak, fatal di musik klasik yang mencintai detil. Tapi saya tak mesti sombong juga, karena keempat resitalnya saya lakukan di Bandung, yang mana membuat saya kelihatan bagai jago kandang. Lainnya, pastinya banyak yang telah melakukan resital lebih banyak dari ini -ke berbagai kota pula-, dan memulainya dengan lebih muda. Dan tentunya, kualitas resital yang jauh lebih baik, ketimbang saya yang -saya akui- sebagian besar bermodalkan nekat.
Hanya saja, yang mau dicurhatkan, yakni perasaannya, yang ternyata tak berubah meski telah dilalui berulang kali. Ini perasaan yang boleh saya simpulkan, sungguh buruk dan tidak enak. Kau tahu, seperti ketika selesai mengerjakan SPMB, UMPTN atau apalah namanya, lantas ada jeda sebulan sebelum tiba saat pengumuman. Nah begitu, tak ada yang bisa disusahsenangkan, semuanya bimbang bukan kepalang: galau dalam istilah saya. Mau makan, makan apapun, rasanya sama. Mau tidur, jam berapapun, bangun rasanya sama. Punya pacar, seindah apapun, bisa jadi pengisi waktu luang semata.
Resital, sebagaimana SPMB dkk, adalah pilihan pribadi. Ini sama saja dengan memilih untuk galau dan bimbang, alih-alih memilih yang nyaman dan bahagia. Kita semua tahu, bahwa di ujung segala pilihan, ada konsekuensi, bahagia-tidak bahagia, bisa sama kuatnya. Namun jangan-jangan, yang terpenting bukanlah hasil dari segala pilihan. Ketika kau memilih, maka memilih sendiri sudah merupakan hal baik, tak terkecuali memilih penderitaan sekalipun. Bahkan tidak memilih itu pilihan juga, kan? Seperti kata Sartre. Jadi, adakah yang buruk di dunia ini? Atau yang ada, hanyalah kebaikan. Atau sekurang-kurangnya, tendensi menuju kebaikan.
Tulisan ini mulai melebar kemana-mana. Baiklah, kembali ke resital. Apa yang saya lakukan kala mengatasi konsekuensi atas pilihan ini? Pertama, saya mesti yakin, bahwa apa yang saya pilih adalah baik. Suka dan duka adalah semata-mata bungkus dari segala kebaikan. Kedua, saya mesti jujur. Tegang dan galau, itu pasti, namanya juga akan tampil dan bertanggungjawab memberi kesan pada masyarakat yang melihat. Tapi saya selalu belajar untuk berkata pada diri sendiri, "ya, saya tegang dan galau," demikian berulang-ulang, tanpa sedikitpun mencoba memungkiri, apalagi pura-pura besar hati, "ah, santai aja, begini doank masa tegang." Percaya atau tidak, tapi saya percaya, bahwa tegang dan galau, semakin sering diakui secara jujur, akan mentransformasi dirinya. Kemana? ke apa yang dinamakan pasrah. Oh, pasrah, terdengar seperti menyerah? Tidak, tidak, pasrah bagi saya, adalah momen kebebasan yang hakiki. Gibran berkata, keinginan untuk bebas adalah penjara tersendiri. Dan itu ada benarnya. Kala kita tak ingin bebas lagi, melepaskan hasrat, maka barangkali itulah namanya bebas. Pasrah barangkali semacam menyerahkan diri pada hal-hal "suprakondisi", macam "keadaan", "Tuhan", "nasib", dsb. Ini jelas tak disukai Nietzsche, yang ingin manusia berdiri di atas kakinya sendiri. Tapi bagi saya, pasrah adalah sepenuhnya bebas, asalkan: pilihan sudah diambil, konsekuensi sudah dijalani. Tahapan bimbang dan galau pun telah diakui berulangkali secara jujur. Kepasrahan memang selalu datang belakangan, biasanya ketika beberapa menit saja sebelum kau naik panggung. Di saat itu, jiwamu hilang terbang, bebas bersama suhu ruangan. Yang tersisa tinggal tubuhmu, ya, tubuhmu, yang telah kau latih dan kau tempa untuk menghadapi konsekuensi pilihan ini. Jiwamu akan kembali secepatnya, bersama bahana sorak sorai penonton yang mengagumi permainan, baju, merem-melekmu, atau apapun yang membuatmu kelihatan keren di atas panggung. Kalaupun tak ada tepuk tangan dan sorak kekaguman, yakinlah, jiwa yang terbang bebas akan tetap menemukan kebahagiannya di luar sana.
Continue reading