Rabu, 15 Juli 2009

Mitologi Yunani: Dua Belas Dewa Olympus

Saya selalu mencintai mitologi Yunani (selanjutnya akan disebut mitologi saja). Kenapa? Karena cerita-cerita dalam mitologi seru dan asyik, itu saja. Saya akan senang berbagi tentang kisah-kisahnya di blog ini, karena dengan ikut serta bercerita, saya pun jadi memahaminya lebih. Tentu saja kisah ini hanya petikan semata. Karena, sungguh, mitologi dimuat dalam banyak versi, dan jika digabungkan, tebalnya bukan main. Saya coba bikin ini berseri, tak lain untuk merangsang diri saya sendiri. Mohon masukkan dan sarannya jika terjemahan saya ini termuat kesalahan. Untuk saya, yang penting keren.
---

"Mitologi tak percaya Dewa adalah pencipta alam semesta, melainkan sebaliknya. Alam semesta menciptakan Ouranus (langit) dan Gaia (bumi), dari sana lahirlah para raksasa yang dinamakan The Titans (terdengar seperti budaya pop). Dewa-dewa kemudian adalah anak para Titan, alias cucu Langit dan Bumi.

Titan jumlahnya sangat banyak. Namun yang sering diceritakan adalah berikut ini: Cronus, anak kandung Ouranus dan Gaia, penguasa para Titan, yang kelak melahirkan Zeus, Dewa yang paling terkenal di mitologi. Ada pun Oceanus, si sungai yang panjangnya mengelilingi dunia (ocean bukan definisi dari samudera pada awalnya). Oceanus punya istri, namanya Tethys, wanita yang disebut-sebut sebagai "ibu dari segala sungai yang bermuara ke Yunani". Hyperion, bapak dari matahari, bulan, dan fajar. Themis, yang diterjemahkan sebagai keadilan. Iapetus, yang terkenal karena kedua anaknya: Pertama bernama Atlas, yang menanggung bumi di pundaknya, serta Prometheus, yang kelak menciptakan manusia.

Cronus punya kebiasaan memakan anaknya segera setelah dilahirkan oleh Rhea, istrinya. Hanya saja, kala Zeus akan lahir, Rhea melindunginya, dan melahirkan di suatu tempat bernama Crete secara diam-diam. Untuk mengelabui Cronus, Rhea memberikan sebuah batu bernama omphalus untuk ditelan sang bapak. Singkat cerita, Zeus kemudian mendapat titah dari neneknya, Gaia, sang bumi, untuk menggulingkan ayahnya sendiri, Cronus. Mengapa? Cronus dianggap durhaka pada Ouranus karena memotong kelaminnya dan memenjarakannya di neraka bernama Tartarus.

Zeus kemudian mengumpulkan kekuatan, mengajak para Titan yakni Gigantes si raksasa, Cyclopses si mata satu (ingat Cyclops di komik X-men?), dan Hecatonchires si tangan seratus untuk menyerang Cronus. Ketiga Titan yang mendukung Zeus, tak lain merupakan saudara kandung Cronus sendiri. Pertarungan antara Zeus, para Titan, dan Cronus, disebut sebagai peristiwa Titanomachy, atau Battle of The Titans (istilah yang sering dipakai untuk menjual suatu big match di jaman sekarang, biasanya berkaitan dengan olahraga). Titanomachy berlangsung sepuluh tahun, dan menyisakan beberapa Titan saja pada akhirnya. Kebanyakan para Titan berakhir di Tartarus, sedangkan sisanya melanjutkan hidup di bawah kekuasaan Zeus, karena beliaulah pemenangnya. Kemenangan Zeus sekaligus mengakhiri jaman Titan, dan memulai jaman Dewa-Dewa, yang dinamakan The Twelve Olympians, atau Dua Belas Dewa Olympus. Apa itu Olympus? Nama gunung, konon.

The Twelve Olympians
terdiri dari: Zeus (bahasa latin: Jupiter) itu sendiri, Dewa Langit, Hujan, dan Awan; Hera (Juno), istri sekaligus saudara perempuan dari Zeus, anak dari Oceanus dan Tethys, disebut sebagai Dewi Pernikahan; Poseidon (Neptune), penguasa laut dan samudera, selalu membawa semacam tombak bermata tiga; Hades (Pluto), penguasa alam kematian, tapi juga disebut Dewa Kemakmuran, karena wewenangnya juga mencakup bagian-bagian tersembunyi di perut bumi, yang mengandung banyak sumber daya alam. Pallas Athena (Minerva), anak dari Zeus sendiri (tidak dilahirkan oleh ibu), disebut sebagai Dewi Kota, pelindung dari kehidupan beradab, semacam kerajinan dan agrikultur, serta penjaga ternak-ternak; Phoebus Apollo, anak dari Zeus dan Leto (perlu diketahui bahwa Zeus senang beranak tidak hanya dari istri resminya, Hera). Apollo disebut sebagai "the most Greek of all the gods", predikatnya pun amat banyak, mulai dari musisi agung, Dewa Panah, Sang Penyembuh, Dewa Cahaya, hingga Dewa Kebenaran, tidak ada sekalipun kesalahan keluar dari mulutnya. Artemis (Diana), adalah saudara kembar Apollo, disebut sebagai Wanita dari Segala yang Liar. Susah mendefinisikannya, tapi kira-kira, Artemis adalah Dewi bagi segala perburuan. Maka banyak binatang hasil buruan sering dipersembahkan baginya, terutama kijang; Aphrodite (Venus), Dewi Cinta dan Kecantikan, anak dari Zeus dan Dione, hanya saja, Aphrodite ini digambarkan sebagai dewi yang lemah. Hermes (Mercury), anak dari Zeus dan Maia, disebut sebagai pengantar pesan Zeus. Hermes muncul sangat sering dalam mitologi, terkenal dengan sayap di sandal dan kepalanya. Ares (Mars), Dewa Perang, anak dari Zeus dan Hera, dewa yang berdarah dingin dan senang membunuh. Hephaestus (Vulcan), Dewa Api, kadang disebut sebagai anak Zeus dan Hera, kadang disebut juga anak dari Hera seorang. Hephaestus dewa yang mencintai perdamaian, bersama Athena, ia bekerjasama untuk menentramkan sebuah kota. Setiap upacara-upacara yang berlangsung di sebuah kota, konon diberkati oleh Hephaestus. Hestia (Vesta), adik dari Zeus, Dewi Rumah dan pelindung keluarga sakinah. Setiap bayi yang lahir di Yunani, mesti diberkati dahulu oleh Hestia sebelum diberikan pada keluarganya."

---
Apa gerangan sementara yang bisa dimaknai dari kisah Dua Belas Dewa Olympus? Bagi saya, ini menunjukkan awal mula cara Barat memaksimalkan logika dikotomi. Ya, Barat terkenal dengan distingsinya dalam segala sesuatu, katanya, untuk memudahkan pemahaman. Ilmu-ilmu seperti sosiologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, dan sebagainya, adalah produk pemilahan ala Barat. Ini jangan-jangan diilhami dari bagaimana The Twelve Olympians berbagi peran. Barat, berbeda dengan Timur, seolah tak percaya akan adanya ke-esa-an yang mencakup segala. Dalam Dewa-Dewi pun, mestilah terdapat unsur "profesionalisme". Selain itu, pemaksaan logikanya pun terasa sekali. Setiap Dewa-Dewi mestilah dilahirkan, mestilah saudara dari siapa, anak dari si ini dan si itu. Mestilah ada kemaluan yang bisa dipotong (kasus Cronus). Dalam kepercayaan Timur, wilayah ke-Tuhan-an seringkali digambarkan sudah tidak masuk akal dan hanya dapat diimani. Terlepas dari benar-tidaknya, mitos Yunani punya peran besar dalam membentuk peradaban Barat nan gemilang. Yang terasa, bagi saya, adalah soal dokumentasi literatur. Sumber literatur mitologi, yakni Hesiod, Theogony, Illiad dan Odyssey karya Homer dibuat sekira 800 SM, namun teknik penulisannya sudah benar-benar rapi dan tertata. Bandingkan dengan di Timur, yang masih menggunakan simbol-simbol dan prasasti untuk membekukan momen. Barangkali, salah satu yang membuat Barat maju dalam beberapa segi, yakni tradisi tulis-menulis yang kental. Tulisan dianggap Barat sebagai sesuatu yang signifikan dan punya peran penting memajukan jaman, dimulai dari karya-karya Homer tersebut. Marilah kita mulai menuliskan apapun, agar kelak, kelak nanti, apa yang kita tuliskan dimaknai macam-macam, dan dengan demikian dunia tak berhenti berputar. Panggul terus, Atlas!

Sumber:
- Hamilton, Edith. Mythology: Tales of Gods and Heroes. Mentor Book: 1953.
Previous Post
Next Post

9 komentar:

  1. mungkin orang-orang Yunani dulu berfikir sanggupkah satu figur penguasa yang Esa...bisa mengatur seluruh dunia yang begitu luas, beraneka dan kompleks?..sehingga terciptalah dewa2 dan dewi2 (kecuali dewa19..:)jika dilihat dari sudut pandang ini, bangsa Yunani, dulu kayaknya terlalu rasionalis

    BalasHapus
  2. Bisa jadi, bahkan dalam konsep Yunani, dewa dewi itu tidak abstrak seperti tuhan ala timur. Tapi bentuk mereka meminjam tubuh manusia. Ini barangkali awal mula antroposentris (pusat ada pada manusia), yang kemudian digali oleh semangat renaissans untuk melawan abad kegelapan yang apa-apa serba tuhan.

    BalasHapus
  3. benda yunani adalah benda sejak lama d'temukan sejak ribuan tahun silam..

    BalasHapus
  4. JIKA benar mitos itu. selepas abad itu. allah berseru dan mengirim kepada umat manusia.tertulis dalam firman nya,,TIADA TIHAN SELAIN ALLAH.TIADA DEWA DEWI SELAIN DIA.sembahlah aku kerana aku tuhanmu.... sebagai islam akhir zaman, kita tidak seharusnya percaya itu semua. itu lah tuhan tuhan manusia dulu dulu yang mindanya masih di selubungi kegelapan.malah menjadi permainan sang lucifer dan pengikutnya yang memutar belitkan cerita dan minda manusia, setelah lahirnya islam, ajaran sebenar mengenal sang pencipta. allah taala.semua tertulis di dalam.kitab nya

    BalasHapus
  5. Saya rasa mitologi bukanlah suatu hal yang bisa mengalihkan keimanan manusia beragama karena mitologi adalah bentuk penalaran supra rasional. Dan saya rasa mitologi adalah suatu konsep sastra yunani yang diangkat dari kebudayaan historis atau dalam bahasa yang lebih ringan disebut ceritera atau dongeng. Dan dalam mitologi tidak ada unsur persuasif untuk menyembah tokoh-tokoh yang ada di dalamnya apalagi mengandung unsur satanis. Orang yang cerdas pasti memiliki kemampuan filtrasi otak dan tidak menutup diri.

    Al-quran tidak hanya dibaca, dihafalkan, dipahami, dan diamalkan. Silahkan telaah lebih dalam mengenai penafsiran Al-quran secara menyeluruh. Saya muslim yang open minded.

    BalasHapus
  6. Jujur saja. Dari semua mitologi yang ada, saya paling suka mitologi yunani :)
    Tapi suka bukan berarti beralih. Saya islam dan saya masih beriman. Saya suka dengan mitologi ini tapi bukan berarti saya menduakan Allah, saya selamanya tidak akan menyembah dewa-dewi mereka.

    BalasHapus
  7. Jujur saja. Dari semua mitologi yang ada, saya paling suka mitologi yunani :)
    Tapi suka bukan berarti beralih. Saya islam dan saya masih beriman. Saya suka dengan mitologi ini tapi bukan berarti saya menduakan Allah, saya selamanya tidak akan menyembah dewa-dewi mereka.

    BalasHapus