Kamis, 16 Juli 2009

The Curious Case of Benjamin Button: Memuda itu Biasa

Film ini sungguh absurd, non-sensical, dan menggelitik kesadaran. Alkisah, seorang wanita berumur 81 tahun bernama Daisy sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Nenek itu bercerita lirih pada putrinya yang berusia 37 tahun, bernama Caroline. Flashback pun dimulai. 11 November 1918, di saat bersamaan kala orang-orang di New Orleans merayakan berakhirnya PD I, lahirlah bayi yang digambarkan tak wajar dan buruk rupa. Ayahnya, Thomas Button, enggan mengurusnya dan menyimpannya di sembarang tempat. Akhirnya bayi itu dipungut oleh seorang perawat kulit hitam bernama Queenie. Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi bayi yang kelak dinamai Benjamin itu, persis seperti kakek berusia 85 tahun.

Ketaklaziman pun dimulai, tak seperti makhluk hidup umumnya yang bertumbuh menjadi tua, Benjamin justru tumbuh muda. Baginya, waktu berjalan mundur. Dalam perjalanan menjadi muda itu, ia bertemu dengan seorang pelaut bernama Captain Mike. Oleh Mike, diajarilah Benjamin, orangtua itu, bekerja di kapal, minum alkohol, dan berhubungan seks dengan pelacur. Ada percakapan yang menggelikan disana, kala Mike bertanya, "Ben, berapa kali kau berhubungan dengan wanita sepanjang hidupmu?" Benjamin, yang kala itu berusia sekitar 15 tahun, -tentu saja baginya waktu mundur, sehingga nampak seperti 70 tahun- menjawab, "Belum pernah," "Ben, ini hal yang paling menyedihkan yang pernah saya dengar, kau, seorang kakek, belum pernah berhubungan dengan wanita seorang pun?" Tentu saja ini hanya sebagian kecil keganjilan yang ditampilkan sepanjang film berdurasi dua jam setengah itu. Masih banyak lainnya, terutama kisah cintanya dengan Daisy, yang mana ia temui kala dirinya berusia 73, dan Daisy baru dua belas. Perbedaan alur waktu keduanya menjadikan kisah cinta itu menarik. Ben semakin muda dan gagah perkasa, Daisy bertambah tua lagi renta. Lebih jauh lagi, kala Daisy sudah jadi nenek, Ben adalah seorang anak yang baru jerawatan. Akhirnya, Ben meninggal di ayoman Daisy dalam keadaan bayi. Kesan Daisy kala itu, yang menarik, "Bahkan dalam tatapan seorang bayi, Ben masih mengenalku."

Tulisan ini bukan tentang review film, sebenarnya. Ini bukan persoalan rekomendasi. Karena jujur, alur film itu agak membosankan dan terlalu panjang. Saya sedang mencoba memaknai saja, tidakkah kasus Ben tak seberapa curious? Maksudnya, secara fisik, tentu iya, tapi tidakkah kita semua selalu rindu menjadi muda, rindu untuk grow younger? Tidakkah juga, banyak dari kita yang sesungguhnya takut menjadi tua, meski itu alamiah? Tapi tak hanya soal kerinduan semata, seringkali faktanya, memang banyak unsur dari kita yang selalu dijaga untuk secara konsisten memuda. Mungkin oh mungkin, penuaan justru membuat kita semakin canggih untuk memaknai pemudaan. Seorang kakek akan lebih mudah berlagak bak bocah ingusan ketimbang anak remaja menirukan jompo mengisap cangklong. Persoalannya barangkali cuma etika dan kepantasan. Oh, bayangkan jika itu tiada, menggelegaklah mereka, para kakek. Dirgahayu. Panjang umurmu.

Previous Post
Next Post

3 komentar:

  1. Untung sekarang produk komestik anti-aging udah banyak y..wkkk

    "I want to Grow Old with the woman I Loved"
    :)

    BalasHapus
  2. gw malah ngarep2 kapan jadi dewasa dan nggak rindu masa abg gw sama sekali, rif. hahahaha. i'm not afraid to grow older.

    BalasHapus
  3. @pointlessmind: Kerinduan mungkin bukan dipikirkan, sar, tapi dia akan datang menyelinap tanpa lu sadari. Memuda itu ga selalu ke fase abg kali yah, bisa juga ke fase TK, SD, bayi atau bahkan tak dilahirkan sekalipun!

    BalasHapus