Selasa, 21 Juli 2009

Agama, Oh, Agama

Agama, Oh, Agama
Saya tidak akan seberapa skeptiknya pada agama, jika bukan pengalaman yang berbicara. Maksudnya, ajaran agama pastinya bagus dan baik. Hanya soal apakah itu benar tidaknya, ujung-ujungnya pengalaman yang jadi pegangan. Bahkan dalam situasi tertentu, bagus dan baik dalam agama toh bisa dipertanyakan juga.
Sepengalaman saya, saya pernah lumayan beragama, entah istilahnya tepat atau tidak, tapi pernahlah saya rajin semua-muanya urusan ritual. Oh ya, saya dibesarkan dalam tradisi agama Islam. Saya menemukan banyak ayat yang menyuruh kita untuk 'berpikir' dalam Al-Qur'an. Tapi kenyataannya, dalam konstruksi sosial yang dibangun di kita, berpikir kadang-kadang disama artikan dengan melawan iman. Artinya, gausah banyak mikir lah, terima saja.
Awalnya begini, kala itu saya masih SMP. Dalam pelajaran agama Islam, saya ingat sekali nama gurunya, sama dengan saya: Syarif. Saat itu beliau sedang mengajarkan topik tentang iman. Di akhir pelajaran, sang guru menawarkan: siapa mau bertanya? Ngacunglah saya, lantas bertanya: Pak Guru, jika orang non-Muslim berbuat baik, masuk nerakakah mereka? Pak Syarif menjawab dengan lantang dan yakin: Ya, mereka masuk neraka, mengapa? karena mereka tidak beriman pada Islam. Oh, Pak, bagaimana jika mereka tidak tahu? Mereka tetap masuk neraka, karena mereka tak mau mempelajari Islam.
Itu satu, yang bikin saya heran, dan mengguncang iman, hingga sekarang. Bagaimana bisa, seorang guru agama Islam, memutuskan siapa neraka siapa surga? Barangkali, hanya demi memuaskan jawaban muridnya? Oh, ternyata, guruku sayang, lebih banyak nantinya saya temui, orang dengan pikiran macam itu.
Lalu dua, kejadiannya dini hari, sekira empat tahun lalu. Kala itu kakak saya mendadak jerit-jerit tak karuan. Berguling-guling ia bagaikan diatas panggangan. Katanya, terkena angin duduk. Dan itu, menurutnya, seperti mau mati. Di tengah kepanikan seluruh keluarga, ibu saya pamit dan berkata, mama solat dulu ya. Oh, ibuku, kakakku nampak sekarat, dan kau mau solat? Jika ia mati ketika kau solat, masuk surgakah engkau, wahai ibuku sayang? Atau jika kau memohon kesembuhan kakakku via shalat, tidakkah Tuhan menyuruh untuk berusaha lantas berdoa?
Lalu ada tiga, empat, sepuluh, hingga tak terhingga kejadian, yang lantas membuatku mantap bertanya: agama, tidakkah membuat hidup ini kaku adanya? agama, bolehkah ajaran-ajarannya, kuambil saja mana yang kusuka? Dan tak usah mengimani semuanya karena tak semua klop dengan apa yang dialami. Agama, bolehkah kubilang, jika dalam situasi umati yang massal, persis seperti kumpulan orang sakit jiwa, yang mana dirinya selalu merasa wajar, padahal kerjaannya mencaci, mencemoohi, menyakiti, hingga melenyapkan orang-orang di luar kewajaran yang ditetapkan oleh dirinya? Agama, untuk apa narsisme-mu itu? Membanggakan yang esa, yang satu, padahal Tuhan bukan bilangan ataupun bisa dihitung. Tidakkah, banyak perang besar dengan jutaan korban jiwa, adalah atas dasar agama, yang mana berangkat dari angka satu itu? Agama, tidakkah Marx benar, bahwa ia adalah candu -bikin ketagihan padahal nirmanfaat-, atau Freud mengatakannya sebagai: ilusi infantil dan neurosis kolektif? Agama, kaukah panduan itu? Atau bolehkah jika Nietzsche jadi panutanku, atau Rumi atau Gibran? Toh, mereka sama-sama revolusioner dan dicela semasa hidupnya, persis seperti cerita nabi-nabimu kan? Atau malah, Yesus, Muhammad, dan Siddhartha yang kuagungkan, mungkinkah semua ini cuma pengalaman pribadimu semata, pengalaman spiritual yang setiap orang pun punya. Lantas murid-muridmu jadi kagum, dan berambisi melembagakan pengalaman kalian. Dibikinlah aturan-aturan dan penyeragaman, tak lupa disisipkan semuanya via kekuasaan raja-raja atau kolonialisme, biar keren diberi nama: A-GA-MA. Bisakah hidup tanpa agama, jika kita percaya Tuhan mewartakan dirinya lewat apa saja? Boleh musik, film, seks, pengetahuan, filsafat, dan ateisme sekalipun. Lantas -terinspirasi slogan Extension Course Filsafat-, Tuhan, beragamakah engkau? Kalau ya, agamamu apa?


Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
(Imagine - John Lennon)
Continue reading

Jumat, 17 Juli 2009

Imam Samudra

Imam Samudra
Bom baru saja meledak lagi. Tak perlulah saya runut lagi kejadiannya jika sudah pada nonton tivi hari ini. Dugaan pelaku masih simpang siur. Dalam pernyataannya, SBY mengindikasikan pelakunya berkaitan dengan pilpres. Namun adapun, versi yang lebih banyak, ini adalah kegiatan terorisme, karena ditemukannya bukti bom bunuh diri. Bom bunuh diri, perlu diakui dengan menyedihkan, adalah cara bagi golongan tertentu untuk mati syahid. Mati syahid, konon, dalam agama Islam, masuk surga. Apapun alasannya, tentu sulit diterima bagi orang kebanyakan, termasuk kita, yang beragama dengan cara biasa-biasa saja. Meski demikian, barangkali, bisa saja karena kebanyakan dari kita yang kelewat emosi atas perbuatan mereka, maka sulit untuk berpikir jernih dan mencoba memahami apa yang ada di kepalanya. Bukti sudah jelas: mereka membunuh secara massal, dan tak penting lah tahu motifnya, apalagi jika tahu itu soal agama, semakin skeptislah.
Soal bom bunuh diri, -karena pelaku pemboman JW Marriott-Ritz Carlton belum terungkap hingga blog ini ditulis- maka bolehlah kita ingat-ingat Imam Samudra. Gembong Bom Bali itu sudah ditembak mati, tapi ide-idenya bagai tak ikut mati. Boleh juga lah, mengait-ngaitkan pelaku pemboman terbaru di Jakarta, -jika motifnya mati syahid- dengan mengasumsikan dia sepemikiran dengan sang imam. Saya akan coba, mengutip sedikit kata-kata Imam dalam autobiografinya: Aku Melawan Teroris, dalam rangka, bukan untuk memihak siapapun. Tapi hanya menampilkan apa yang sebenarnya ada di pikiran sang mujahid, atas perilakunya tersebut. Pada titik itu, jika kita berpikir objektif, dari sudut pandang yang beragam, maka akan terasa bahwa kebenaran sungguh punya banyak muka. Saya mencoba untuk mengutip paragraf secara utuh penuh, agar tidak merusak substansinya.

1. Tentang latar belakang penulisan autobiografi

Sedari awal telah kukatakan kepada segenap Tim Pengacara Muslim (TPM) bahwa tidaklah layak aku menulis autobiografi, karena memang tidak layak. Orang-orang yang ditakdirkan telah ditinggikan dan diharumkan namanya oleh Allah semisal Syaikh Usama bin Ladin, atau Syaikh Maulawi Mullah Umar, dan tokoh-tokoh mujahidin lainnya -hafizhahumullah- itulah yang patut ditulis dan dikenang biografi mereka.
Di sisi lain, kita punya kewajiban mematahkan street judgement yang selalu menyeret para mujahidin -dengan serangkaian aksi mereka jihad mereka- ke dalam satu posisi yang amat sangat terpojok. Serangkaian aksi jihad mereka selama ini dianggap terjadi karena faktor kemiskinan, kekumuhan, keterpinggiran, ketertutupan (eksklusif), ketertinggalan, keterbelakangan, ketidaktahuan, kebodohan, bahkan 'kesesatan' dalam memahami Dinul Islam. Maka berpadulah antara keengganan menulis autobiografi dan kewajiban memberika penjelasan dalail syar'i operasi jihad semisal Jihad Bom Bali kepada kaum Muslimin.
Hal lain, kemahsyuran adalah suatu perkara yang wajib dicurigai. Betapa naifnya seorang muslim yang dikaruniai Allah kemampuan beramal jihad, sementara pada akhir kehidupannya terdapat pernak-pernik sum'ah (popularitas) dalam hatinya. Ia mati dengan membawa syirik kecil -naudzu billahi min dzalik-. Inilah yang saya maksud dengan 'biografi setengah hati', biografi yang tak utuh, yang diiringi oleh kekhawatiran akan hari pertanggungjawaban kelak. Ada pula faktor-faktor lain yang tidak perlu kuceritakan di sini.
Alhamdulillah, di atas segalanya, hal yang bagi saya cukup penting dan bermakna ialah bahwa naskah asli buku ini ditulis dengan tinta yang halal, di atas kertas yang halal pula, dengan perantaraan Pak Wadar, Pak Michdan, dan saudara-saudara se-Islam di TPM. Bukan tinta dan kertas milik polisi atau negara. (hal 14-15)

2. Tentang ayat Al-Qur'an dan hadits yang dikutip oleh Imam Samudera sebagai dasar pemikirannya

Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Dan jadilah Din (agama) ini semuanya milik Allah.
(Al Anfal: 39) [hal 94]

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah, Islam), (yaitu orang-orang) yang diberi kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sehingga mereka dalam keadaan kecil (tunduk). (At-Taubah: 29) [hal 95]

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
(Al-Baqarah: 190) [hal 98]

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kehidupan di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanya sedikit.
(At-Taubah: 38) [hal 99]

Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dengan kehidupan di akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan kami berikan kepadanya pahala yang besar.
(An Nisa: 74) [hal 100]

Perangilah mereka (orang-orang kafir itu), kelak Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan tangan-tangan kamu...
(At-Taubah: 14) [hal 103]

... Bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin, keras terhadap kaum kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela...
(Al-Ma'idah: 54) [hal 104]

...dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
(At-Taubah: 36) [hal 109]

Barangsiapa melampaui batas terhadap kami, maka balaslah serangan mereka seimbang dengan yang mereka lakukan terhadap kamu...
(Al-Baqarah: 194) [hal 116]

Telah diwajibkan berperang kepadamu, padahal perang itu sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
(Al-Baqarah: 216) [hal 118]

Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka.
(Al-Baqarah: 191) [hal 120]

Wahai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik.
(At-Taubah: 73) [hal 131]

Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah, dan supaya dien (agama) itu semata-mata dien (agama) Allah saja (yang unggul).
(Al Anfal: 39) [Hal 133]

Ketahulah, bahwa Jannah (surga) berada di bawah bayang-bayang pedang.
(HR. Bukhari-Muslim) [hal 132]

3. Tentang argumen Imam Samudera itu sendiri

Dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi saw. memang tidak terdapat kata-kata bom sebagaimana tidak pula terdapat kata-kata pesawat terbang atau visa atau paspor. Tetapi, itu tidak berarti mereka yang melaksanakan ibadah haji dengan memanfaatkan pesawat terbang untuk transpor adalah tidak boleh. Pesawat terbang adalah persoalan teknis, sekadar alat untuk menyampaikan kita ke tempat tujuan, contohnya Makkah Al-Mukarramah. Begitu halnya dengan bom, hanyalah sebagai salah satu alat atau bahan untuk berperang.
Meski demiikian, sebenarnya pada zaman Rasulullah saw. terdapat alat tempur yang sangat terkenal yang disebut manjaniq. Fungsi manjaniq menyerupai mortar di jaman sekarang ini. Daya rusak mortar jelas lebih tinggi daripada senjata-senjata sejenis senapan, apalagi pedang. Mortar memang tidak lain dari pada bom atau explosive.
Dalam pengepungan terhadap kaum Banu Hawazin dan sekutunya, Rasulullah saw. menggunakan mortar (baca: manjaniq) selama empat puluh hari
Al Khatib Asy Syarbini -seperti dikutip oleh Imam Asy-Syahid Ibnu Nuhas- menyebutkan,
"Diperbolehkan menembakkan mortar (manjaniq) terhadap kaum kafir, juga menghantamkan batu-batu dan api serta mengirim air bah pada mereka sekalipun diantara kaum kafirin itu terdapat kaum muslimin yang tertawan, karena hal ini merupakan kepentingan peperangan."
Kini telah jelas bagi anda bagaimana kedudukan bom dan sejenisnya dalam peperangan. (hal 150-151)

Karenanya, Jihad Bom Bali adalah salah satu bentuk ukhuwah Islamiyah. Sebagai pengejawantahan; satu jasad, laksana bangunan, pahit getir, derita sengsara. Apa yang dialami umat Islam di bumi Palestina, Afghanistan, Kashmir, Irak, dan lainnya, cukup menyentuh dan menggentarkan nurani seluruh kaum muslimin. Sinyal-sinyal kesakitan itu menjalar pula dalam diri kaum mukminin di belahan bumi manapun, dari bangsa manapun, dan bangsa apapun. Selama dia mukmin, selama itulah ia akan turut merasakan sakit atas derita saudara seakidahnya. Mereka yang pernah mengecap Ibtidaiyah (setingkat SD), pasti tidak akan lupa ayat ini, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara" (Al-Hujurat: 10) [hal 161]

Di sisi lain, seandainya saat ini tidak ada seorang pun orang Islam yang dibantai oleh bangsa-bangsa penjajah, Yahudi dan Nasrani, di bawah pimpinan Amerika dan Israel, maka kewajiban jihad akan tetap berlangsung. Hal itu dilakukan oleh Rasulullah saw., para sahabat r.a. serta tabi'in dan generasi sesudah mereka. Di mana, Khilafah Islamiyah waktu itu mengadakan ekspansi jihad terhadap negara-negara kafir dan musyrik. Tujuannya, seperti disebutkan dalam marhalah jihad ke-empat; agar tidak ada lagi kesyirikan, agar hanya dienullah saja yang menang dan berkuasa atas dunia ini, karena Islam adalah rahmatan lil-alamin. (hal 162)

Dalam prinsip perang, aspek morality menempati urutan nomor satu di antara parameter-parameter lain. Jika sebuah operasi bom syahid bertujuan untuk merobek-robek moral tempur musuh, dan pada saat yang sama dapat mengatrol semangat jihad kaum muslimin, maka operasi seperti itu sangat dianjurkan. (hal 182)

Sebab yang kulakukan memang bukan kejahatan, artinya "di luar kejahatan". Apa yang Aku dan kawan-kawan lakukan adalah kebaikan yang sesungguhnya dan didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Dan itu semua disebut Jihad Fi Sabillillah.
Ancaman hukum mati tidak menambah apa-apa kecuali semakin mantap keyakinanku akan janji Allah, bahwa dalam transaksi untuk memperoleh surga Allah, akan diperoleh dengan berperang di jalan Allah, dan otomatis ada proses "membunuh dan terbunuh" (lihat At-Taubah: 111)
Dengan segala keyakinan, aku dan kawan-kawan telah memerangi, membunuh segelintir bangsa-bangsa penjajah, bangsa drakula bin monster. Kalaupun kemudian aku terbunuh, baik seketika ataupun melalui proses, maka hal itu adalah wajar. Itu adalah resiko. Bukankah Allah berfirman dalam ayat di atas, "...maka mereka membunuh atau terbunuh...", dan bukankah Allah memerintahkan kita untuk bergembira dengan transaksi tersebut, "Maka bergembiralah kamu dengan transaksi (jual beli) yang telah kamu lakukan itu..." Dan seterusnya Allah menyebutkan, "...Dan itulah kemenangan yang besar..."
So? No chance for sad! Bergembiralah... bergembiralah... Ahlan wa sahlan hukum mati, welcome, welcome, dan itulah kemenangan yang besar! (hal 192)


Sedikit catatan

Mestilah beli bukunya untuk tahu lebih dalam. Yang di atas hanya segelintir saja, dan bikin lelah juga untuk mengutip lebih banyak. Tapi sebenarnya, argumentasi Imam tak sederhana, dan paparannya tergolong luar biasa. Berdasarkan tulisannya, dia seorang yang cerdas dan terdidik dalam pandangan saya. Adapun Imam punya selera humor yang lumayan. Dalam beberapa tulisannya, saya sering tertawa geli, termasuk dalam baris terakhir argumentasi Imam di atas, bahwa ia sering memasukkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang kadang membuat saya lupa dia adalah seorang peledak. Singkat saja, tidakkah Imam, dalam menerjemahkan beberapa ayat tersebut, menggunakan metode penafsiran yang mirip dengan semua orang kala menafsirkan apapun? Dan selalu, penafsiran adalah urusan latar belakang seseorang dan kontekstualitas lingkungan kala itu. Tidak ada kebenaran, yang ada penafsiran tentang kebenaran. Saya pikir, pada titik ini, jika membaca latar belakang Imam, maka tak heran jika ia menerjemahkan ayat-ayat di atas sebagai legalisasi kekerasan. Namun jika saya mesti mengambil sikap, maka kekecewaan saya terhadap Imam adalah bagaimana ia selalu meng-esa-kan Tuhannya. Ketika Tuhan dianggap esa, maka artinya satu, dan ini adalah sumber narsisme yang mendasar. Dampak ekstrimnya, Tuhan yang lain mesti dibasmi. Saya sebenarnya setuju pada kata-kata Goenawan Mohamad, "Tidak bisa mengatakan Tuhan esa, karena jika demikian, maka Dia bisa dihitung". Maka, lanjut kata Mas Goenawan lagi, dalam konsep Buddha, Tuhan itu dianggap nol, nothing. Di kaum sufi pun, Tuhan tak terbahasakan, tak bernama, masih kata Mas Goenawan. Jadi, Mas, semua ini urusan penamaan dan matematika, sepertinya begitu ya?

Sumber: Samudra, Imam. Aku Melawan Teroris. Jazera: 2004.

Continue reading

Kamis, 16 Juli 2009

The Curious Case of Benjamin Button: Memuda itu Biasa

Film ini sungguh absurd, non-sensical, dan menggelitik kesadaran. Alkisah, seorang wanita berumur 81 tahun bernama Daisy sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Nenek itu bercerita lirih pada putrinya yang berusia 37 tahun, bernama Caroline. Flashback pun dimulai. 11 November 1918, di saat bersamaan kala orang-orang di New Orleans merayakan berakhirnya PD I, lahirlah bayi yang digambarkan tak wajar dan buruk rupa. Ayahnya, Thomas Button, enggan mengurusnya dan menyimpannya di sembarang tempat. Akhirnya bayi itu dipungut oleh seorang perawat kulit hitam bernama Queenie. Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi bayi yang kelak dinamai Benjamin itu, persis seperti kakek berusia 85 tahun.

Ketaklaziman pun dimulai, tak seperti makhluk hidup umumnya yang bertumbuh menjadi tua, Benjamin justru tumbuh muda. Baginya, waktu berjalan mundur. Dalam perjalanan menjadi muda itu, ia bertemu dengan seorang pelaut bernama Captain Mike. Oleh Mike, diajarilah Benjamin, orangtua itu, bekerja di kapal, minum alkohol, dan berhubungan seks dengan pelacur. Ada percakapan yang menggelikan disana, kala Mike bertanya, "Ben, berapa kali kau berhubungan dengan wanita sepanjang hidupmu?" Benjamin, yang kala itu berusia sekitar 15 tahun, -tentu saja baginya waktu mundur, sehingga nampak seperti 70 tahun- menjawab, "Belum pernah," "Ben, ini hal yang paling menyedihkan yang pernah saya dengar, kau, seorang kakek, belum pernah berhubungan dengan wanita seorang pun?" Tentu saja ini hanya sebagian kecil keganjilan yang ditampilkan sepanjang film berdurasi dua jam setengah itu. Masih banyak lainnya, terutama kisah cintanya dengan Daisy, yang mana ia temui kala dirinya berusia 73, dan Daisy baru dua belas. Perbedaan alur waktu keduanya menjadikan kisah cinta itu menarik. Ben semakin muda dan gagah perkasa, Daisy bertambah tua lagi renta. Lebih jauh lagi, kala Daisy sudah jadi nenek, Ben adalah seorang anak yang baru jerawatan. Akhirnya, Ben meninggal di ayoman Daisy dalam keadaan bayi. Kesan Daisy kala itu, yang menarik, "Bahkan dalam tatapan seorang bayi, Ben masih mengenalku."

Tulisan ini bukan tentang review film, sebenarnya. Ini bukan persoalan rekomendasi. Karena jujur, alur film itu agak membosankan dan terlalu panjang. Saya sedang mencoba memaknai saja, tidakkah kasus Ben tak seberapa curious? Maksudnya, secara fisik, tentu iya, tapi tidakkah kita semua selalu rindu menjadi muda, rindu untuk grow younger? Tidakkah juga, banyak dari kita yang sesungguhnya takut menjadi tua, meski itu alamiah? Tapi tak hanya soal kerinduan semata, seringkali faktanya, memang banyak unsur dari kita yang selalu dijaga untuk secara konsisten memuda. Mungkin oh mungkin, penuaan justru membuat kita semakin canggih untuk memaknai pemudaan. Seorang kakek akan lebih mudah berlagak bak bocah ingusan ketimbang anak remaja menirukan jompo mengisap cangklong. Persoalannya barangkali cuma etika dan kepantasan. Oh, bayangkan jika itu tiada, menggelegaklah mereka, para kakek. Dirgahayu. Panjang umurmu.

Continue reading

Rabu, 15 Juli 2009

Mitologi Yunani: Dua Belas Dewa Olympus

Saya selalu mencintai mitologi Yunani (selanjutnya akan disebut mitologi saja). Kenapa? Karena cerita-cerita dalam mitologi seru dan asyik, itu saja. Saya akan senang berbagi tentang kisah-kisahnya di blog ini, karena dengan ikut serta bercerita, saya pun jadi memahaminya lebih. Tentu saja kisah ini hanya petikan semata. Karena, sungguh, mitologi dimuat dalam banyak versi, dan jika digabungkan, tebalnya bukan main. Saya coba bikin ini berseri, tak lain untuk merangsang diri saya sendiri. Mohon masukkan dan sarannya jika terjemahan saya ini termuat kesalahan. Untuk saya, yang penting keren.
---

"Mitologi tak percaya Dewa adalah pencipta alam semesta, melainkan sebaliknya. Alam semesta menciptakan Ouranus (langit) dan Gaia (bumi), dari sana lahirlah para raksasa yang dinamakan The Titans (terdengar seperti budaya pop). Dewa-dewa kemudian adalah anak para Titan, alias cucu Langit dan Bumi.

Titan jumlahnya sangat banyak. Namun yang sering diceritakan adalah berikut ini: Cronus, anak kandung Ouranus dan Gaia, penguasa para Titan, yang kelak melahirkan Zeus, Dewa yang paling terkenal di mitologi. Ada pun Oceanus, si sungai yang panjangnya mengelilingi dunia (ocean bukan definisi dari samudera pada awalnya). Oceanus punya istri, namanya Tethys, wanita yang disebut-sebut sebagai "ibu dari segala sungai yang bermuara ke Yunani". Hyperion, bapak dari matahari, bulan, dan fajar. Themis, yang diterjemahkan sebagai keadilan. Iapetus, yang terkenal karena kedua anaknya: Pertama bernama Atlas, yang menanggung bumi di pundaknya, serta Prometheus, yang kelak menciptakan manusia.

Cronus punya kebiasaan memakan anaknya segera setelah dilahirkan oleh Rhea, istrinya. Hanya saja, kala Zeus akan lahir, Rhea melindunginya, dan melahirkan di suatu tempat bernama Crete secara diam-diam. Untuk mengelabui Cronus, Rhea memberikan sebuah batu bernama omphalus untuk ditelan sang bapak. Singkat cerita, Zeus kemudian mendapat titah dari neneknya, Gaia, sang bumi, untuk menggulingkan ayahnya sendiri, Cronus. Mengapa? Cronus dianggap durhaka pada Ouranus karena memotong kelaminnya dan memenjarakannya di neraka bernama Tartarus.

Zeus kemudian mengumpulkan kekuatan, mengajak para Titan yakni Gigantes si raksasa, Cyclopses si mata satu (ingat Cyclops di komik X-men?), dan Hecatonchires si tangan seratus untuk menyerang Cronus. Ketiga Titan yang mendukung Zeus, tak lain merupakan saudara kandung Cronus sendiri. Pertarungan antara Zeus, para Titan, dan Cronus, disebut sebagai peristiwa Titanomachy, atau Battle of The Titans (istilah yang sering dipakai untuk menjual suatu big match di jaman sekarang, biasanya berkaitan dengan olahraga). Titanomachy berlangsung sepuluh tahun, dan menyisakan beberapa Titan saja pada akhirnya. Kebanyakan para Titan berakhir di Tartarus, sedangkan sisanya melanjutkan hidup di bawah kekuasaan Zeus, karena beliaulah pemenangnya. Kemenangan Zeus sekaligus mengakhiri jaman Titan, dan memulai jaman Dewa-Dewa, yang dinamakan The Twelve Olympians, atau Dua Belas Dewa Olympus. Apa itu Olympus? Nama gunung, konon.

The Twelve Olympians
terdiri dari: Zeus (bahasa latin: Jupiter) itu sendiri, Dewa Langit, Hujan, dan Awan; Hera (Juno), istri sekaligus saudara perempuan dari Zeus, anak dari Oceanus dan Tethys, disebut sebagai Dewi Pernikahan; Poseidon (Neptune), penguasa laut dan samudera, selalu membawa semacam tombak bermata tiga; Hades (Pluto), penguasa alam kematian, tapi juga disebut Dewa Kemakmuran, karena wewenangnya juga mencakup bagian-bagian tersembunyi di perut bumi, yang mengandung banyak sumber daya alam. Pallas Athena (Minerva), anak dari Zeus sendiri (tidak dilahirkan oleh ibu), disebut sebagai Dewi Kota, pelindung dari kehidupan beradab, semacam kerajinan dan agrikultur, serta penjaga ternak-ternak; Phoebus Apollo, anak dari Zeus dan Leto (perlu diketahui bahwa Zeus senang beranak tidak hanya dari istri resminya, Hera). Apollo disebut sebagai "the most Greek of all the gods", predikatnya pun amat banyak, mulai dari musisi agung, Dewa Panah, Sang Penyembuh, Dewa Cahaya, hingga Dewa Kebenaran, tidak ada sekalipun kesalahan keluar dari mulutnya. Artemis (Diana), adalah saudara kembar Apollo, disebut sebagai Wanita dari Segala yang Liar. Susah mendefinisikannya, tapi kira-kira, Artemis adalah Dewi bagi segala perburuan. Maka banyak binatang hasil buruan sering dipersembahkan baginya, terutama kijang; Aphrodite (Venus), Dewi Cinta dan Kecantikan, anak dari Zeus dan Dione, hanya saja, Aphrodite ini digambarkan sebagai dewi yang lemah. Hermes (Mercury), anak dari Zeus dan Maia, disebut sebagai pengantar pesan Zeus. Hermes muncul sangat sering dalam mitologi, terkenal dengan sayap di sandal dan kepalanya. Ares (Mars), Dewa Perang, anak dari Zeus dan Hera, dewa yang berdarah dingin dan senang membunuh. Hephaestus (Vulcan), Dewa Api, kadang disebut sebagai anak Zeus dan Hera, kadang disebut juga anak dari Hera seorang. Hephaestus dewa yang mencintai perdamaian, bersama Athena, ia bekerjasama untuk menentramkan sebuah kota. Setiap upacara-upacara yang berlangsung di sebuah kota, konon diberkati oleh Hephaestus. Hestia (Vesta), adik dari Zeus, Dewi Rumah dan pelindung keluarga sakinah. Setiap bayi yang lahir di Yunani, mesti diberkati dahulu oleh Hestia sebelum diberikan pada keluarganya."

---
Apa gerangan sementara yang bisa dimaknai dari kisah Dua Belas Dewa Olympus? Bagi saya, ini menunjukkan awal mula cara Barat memaksimalkan logika dikotomi. Ya, Barat terkenal dengan distingsinya dalam segala sesuatu, katanya, untuk memudahkan pemahaman. Ilmu-ilmu seperti sosiologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, dan sebagainya, adalah produk pemilahan ala Barat. Ini jangan-jangan diilhami dari bagaimana The Twelve Olympians berbagi peran. Barat, berbeda dengan Timur, seolah tak percaya akan adanya ke-esa-an yang mencakup segala. Dalam Dewa-Dewi pun, mestilah terdapat unsur "profesionalisme". Selain itu, pemaksaan logikanya pun terasa sekali. Setiap Dewa-Dewi mestilah dilahirkan, mestilah saudara dari siapa, anak dari si ini dan si itu. Mestilah ada kemaluan yang bisa dipotong (kasus Cronus). Dalam kepercayaan Timur, wilayah ke-Tuhan-an seringkali digambarkan sudah tidak masuk akal dan hanya dapat diimani. Terlepas dari benar-tidaknya, mitos Yunani punya peran besar dalam membentuk peradaban Barat nan gemilang. Yang terasa, bagi saya, adalah soal dokumentasi literatur. Sumber literatur mitologi, yakni Hesiod, Theogony, Illiad dan Odyssey karya Homer dibuat sekira 800 SM, namun teknik penulisannya sudah benar-benar rapi dan tertata. Bandingkan dengan di Timur, yang masih menggunakan simbol-simbol dan prasasti untuk membekukan momen. Barangkali, salah satu yang membuat Barat maju dalam beberapa segi, yakni tradisi tulis-menulis yang kental. Tulisan dianggap Barat sebagai sesuatu yang signifikan dan punya peran penting memajukan jaman, dimulai dari karya-karya Homer tersebut. Marilah kita mulai menuliskan apapun, agar kelak, kelak nanti, apa yang kita tuliskan dimaknai macam-macam, dan dengan demikian dunia tak berhenti berputar. Panggul terus, Atlas!

Sumber:
- Hamilton, Edith. Mythology: Tales of Gods and Heroes. Mentor Book: 1953.
Continue reading

Selasa, 14 Juli 2009

Michael Jackson

Michael Jackson
Michael Jackson mustahil tercipta lagi. Secara harafiah, iya, tapi iyapun secara metafor. Mengapa? Saya ingat, ingat betul; di suatu kelas, kala mengajar, saya bertanya pada murid-murid tersayang:
"Muridku, apakah musik pop itu?"
(Terdiam mereka semua)
"Jika begitu, sebutkan ciri-ciri musik pop!"
"Enak!"
"Mudah dicerna!"
"Cinta!"
"Mudah dimainkan!"
"Oke, muridku, Jadi apa pop itu?"
(Tetap terdiam)
"Tahukah kalian, kelompok musik bernama Prodigy?"
"Tahuuuuuuuuuu, Kaaaaak!"
"Kalau berbicara aliran musik, masuk manakah mereka?"
"Techno, Kak!"
"Oh, Andika, apa itu techno?"
"Adalah, musik yang menggunakan efek-efek elektronik."
"Pintar! Lantas, muridku, pastilah semua tahu Britney Spears kan?"
(Serentak menjawab tahu)
"Adakah unsur techno di dalamnya?"
"Adaaaaa, Kaaaaak!"
"Lalu, saya bertanya, mengapa Britney Spears disebut pop, sedangkan Prodigy dibilang techno. Padahal, keduanya mengandung efek elektronis?"
(Terdiam lagi)

Barangkali oh barangkali, begini muridku: bahwa pop itu jangan-jangan bukanlah sejenis aliran yang terdefinisikan. Bahkan saya curiga pop itu bukan suatu musik. Lantas apa? Mungkin itu bersinonim dengan keterkenalan semata. Britney dan Prodigy, tak ada beda di telinga, tapi di mata, mereka beda kasta. Lantas bolehlah kita tarik kembali lebih jauh, muridku. Bahwa, di balik keterkenalan itu, ada unsur kekuasaan. Yah, itu mereka, produser televisi, radio, dan media-media lainnya. Maka, ketika berbicara keterkenalan, urusan prestasi sungguh seringnya kita ditipu. Saya teringat lagi, kala makan malam satu meja dengan Ananda Sukarlan, seorang pianis. Di tengah makan, ia terhenti sejenak, kala mendengar lagu You're Beautiful-nya James Blunt. Katanya, "Pantas saja musik pop itu sampah, dengarkan saja lagu ini, hanya tiga not diulang-ulang sepanjang lagunya." Terima kasih, Ananda, telingamu menggalaukan saya. Bahwa sepertinya benar, bahwa lagu-lagu pop (terutama dewasa ini) jarang melampaui tiga atau empat not per lagunya, -sungguh sederhana dan bisa bikin miris komposer jazz serta klasik yang keranjingan harmoni beribetan-. Hanya faktor kekuasaanlah, dari para produser itu, yang sukses membiasakan telinga kita akan "kesahajaan" notasi. Diputar puluhan kali sehari, siapa yang tak sukses beradaptasi?
Lantas, apa hubungannya dengan raja pop yang baru saja berpulang itu? MJ, bagi saya, barangkali adalah bintang pop yang terakhir. Yang sungguh, ia bekerja keras untuk keterkenalan itu, dan menjadi kuasa atas dirinya sendiri. Media dan kekuasaannya tentu saja berandil, tapi ia tak sentral dalam kasus MJ. Mengapa? bandingkan dengan sentralitas media saat ini, rasa-rasanya, siapapun yang diinginkan media untuk terkenal, maka jadilah ia, kun fayakuun. Bintang pop dewasa ini, hadir bukan akibat prestasi dan kemampuan istimewa, melainkan soal kedekatannya dengan media, atau urusan visualisasi yang menyedapkan mata. Belum lagi acara-acara pencarian bakat massal itu, yang barangkali di lubuk hatinya, tertanam rasa "mencari Michael Jackson yang baru". Tapi, dalam opini saya, tak akan lagi MJ baru. Ia tinggal kenangan, tentang bagaimana seorang figur sukses dalam hal pencitraan yang dibentuk dirinya sendiri, oleh prestasi, kegigihan, dan kerja keras yang mandiri. Media tentu penting, sebagai corong semata, jembatan antara artis dan penggemarnya.
Oh, muridku, tak ada musik yang buruk. Semuanya sama, dan cuma urusan selera. Jika mesti membenci musik, maka bencilah pop, karena ia bukan musik. Tapi jangan benci MJ, karena dia idolaku.
Selamat jalan, MJ. Tak usah dengarkan orang-orang yang ribut ke Tuhan mana kau berpulang, apakah patut ditahlilkan atau tidak. Yang penting adalah, ketika mendengar musikmu, mereka toh bergoyang pula. Selamat jalan, bintang pop, yang terakhir.

She was more like a beauty queen from a movie scene
I said don't mind, but what do you mean i am the one
Who will dance on the floor in the round
She said I am the one
Who will dance on the floor in the round

(Billie Jean-Michael Jackson)

Continue reading