Kamis, 31 Desember 2009

Catatan Awal Tahun

Catatan Awal Tahun
Alhamdulillah, akhirnya tahun 2009 terlewati juga. Tahun yang bagi saya, salah satu yang berkesan. Berkesan dalam artian, di tahun ini, saya mendapatkan banyak pengalaman baru. Dan pemaknaan baru. Ada hal-hal yang dulunya saya tak paham, sekarang jadi paham. Atau entah saya merasa paham padahal sebenarnya belum, atau dari dulu sudah paham tapi sekarang tambah paham. Memangnya paham itu apa sih?

Yang pasti begini, apapun yang saya alami di tahun 2009 kemarin, ternyata sukses membuat saya sungguh-sungguh menatap 2010. Saya, untuk pertama kalinya, membuat daftar resolusi. Daftar resolusi yang bagi saya, terlampau rinci dan penuh perencanaan. Membuat tahun 2010 terasa dingin dan kaku, bagaikan angka-angka di microsoft excel. Membuat tahun 2010 terasa singkat dan padat, karena memang saya padatkan dalam perencanaan. Bukankah iya, segala perencanaan adalah seolah-olah menafikan bahwa hidup itu punya kejutan? Tidakkah jika Hume masih hidup, ia akan menertawakan daftar resolusi kita semua? Sambil berkata: "Bahkan kau tidak bisa menjawab apakah besok matahari masih terbit atau tidak."

Pertama, Alhamdulillah, Hume sudah lama tiada. Kedua, ini sepertinya klise, karena dulu prinsip saya tak begini. Ini baru-baru saja saya renungkan, dan rasanya naif sekali, bahwa: Coelho benar, bahwa jika kita sungguh-sungguh, alam semesta akan mendukung. Atau bahasa yang lebih religius: jika kita niat, maka akan terjadi. Kalau tidak terjadi? kurang niat namanya.

Saya kecewa sebenarnya mengatakan hal di atas. Rasanya percuma saja belakangan belajar filsafat serius, kalau ujung-ujungnya menyandarkan diri pada ungkapan klise yang berbau "iman". Tapi kekecewaan itu akhirnya berkurang sedikit-sedikit, ketika saya tahu, justru filsafatlah yang mengantarkan saya pada pemahaman lebih dalam terhadap ungkapan klise tersebut. Filsafat sukses meyakinkan seperti yang Kierkegaard bilang: "Nalar harus dipakai terus, agar kita tahu keterbatasannya". Dan wahai Kierkegaard, terlalu naif jika saya sudah mengatakan saya telah mencapai ujung nalar. Tapi bolehkah, sebagai manusia yang mana kebebasannya pun punya batas, saya menarik kesimpulan sementara, dengan melihat iman sebagai oase di tengah gurun. Untuk kemudian, sang nalar berhenti disana, minum air dan menggelar tenda. Sebelum melanjutkan perjalanan mencari batas entah dimana.

Tahun 2010, sudah siap saya tatap. Ditatap tak cukup, mestilah dihampiri dengan berani. Tahun yang menurut rencana saya, haruslah menjadi momen yang lebih baik untuk mengenal diri saya sendiri. Yang korelasinya mengarah pada apa yang kata Gibran: "Kenalilah dirimu, maka kau akan tahu siapa Ibumu". Ya, orangtua saya, yang belakangan saya berpikir mereka sebagai orang-orang yang sangat mulia, karena "menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencoba memahami anak yang secara tak adil tak pernah mencoba memahami orangtuanya". Tapi adakah bersitan dalam benak mereka, bahwa itu memang tak adil? Saya tak tahu perasaan mereka, tapi yang saya yakini: buat mereka, ini semua adil. Secara mengejutkan ini adil.

Maka itu, ya Allah. Berikanlah saya kekuatan di tahun 2010. Kekuatan untuk menjalani hidup yang, bukan benar ya Allah, tapi punya makna. Punya sesuatu yang bisa saya bagi untuk saya sendiri, orangtua saya, saudara saya, sahabat-sahabat saya, kekasih saya, dan orang lain. Karena saya, kita semua, berhutang pada semua manusia, seperti yang Gibran bilang.

Buatlah saya mengetahui banyak hal, hanya demi tujuan: bahwa nantinya saya jadi orang yang menyadari bahwa saya tak tahu apa-apa. Buatlah saya, ya Allah, menggunakan akal dan nalar, serta berbagai pertimbangan rasional dalam mempertimbangkan segala. Tapi di ujung keputusannya, tinggal hati nurani yang berbicara.

Buatlah saya, ya Allah, selalu disadarkan bahwa tak ada apapun yang saya terima ini kurang atau berlebihan. Karena segalanya cukup, hanya ketika saya bersyukur.

Buatlah saya, ya Allah, mencintai dunia ini. Bukan dalam rangka menafikan akhirat dan segala tetek bengek surgawi. Tapi karena sungguh, dunia ini menyimpan banyak keindahan dan misteri. Yang membuat saya sadar bahwa di dunia ini, ada surga itu sendiri.

Buatlah saya, ya Allah, sadar akan segala kesalahan. Dan memperbaikinya dalam tingkah laku perbuatan.

Buatlah saya, ya Allah, menyayangi kedua orangtua saya. Bukan semata-mata karena suatu hari barangkali saya jadi orangtua dan oleh karena itu saya takut hukum karma. Tapi karena, alasan apakah gerangan kita tidak menyayangi mereka?

Buatlah saya, ya Allah, berguna untuk dunia, berguna untuk semesta. Tidak harus dengan cara meluncurkan manusia ke Planet Venus atau memenangkan pemilu di Amerika atau menjadi aktivis Free Mason. Tapi dengan mencintai apa yang bisa dicintai dalam juluran tangan-tangan kecil yang saya punya. Dengan memberi apa yang bisa saya genggam dalam telapak tangan yang saya punya. Dan dengan berbuat lewat tubuh peluh yang kelak akan menua.

Buatlah saya, ya Allah, sering berdoa dan meminta kepadamu. Bukan karena saya tahu kau akan mengabulkannya. Tapi karena saya tahu, dengan berdoa, maka tak ada gunanya menganggap diri kita pusat semesta.

Buatlah saya, ya Allah, bertemu para personel Metallica. Karena sungguh, ya Allah, mereka keren.

Amin ya Rabbal Alamiin.
Selamat tahun baru semuanya. Selamat datang Januari: Janus si Muka Dua.
Continue reading

Senin, 21 Desember 2009

Siddhartha: Percikan Inspirasi Sang Buddha


Penganugerahan Nobel Sastra bagi Hermann Hesse pada tahun 1946 dibuktikannya dengan sangat baik dalam novel Siddhartha ini. Bagi saya, novel ini tidak hanya indah dan puitis, tapi juga inspiratif dan mencerahkan. Keunikannya terletak dari tidak adanya konflik antar orang, melainkan hanya konflik Siddhartha (sang tokoh utama) dengan dirinya. Ya, ini adalah karya sastra yang bercerita tentang pergulatan batin dan pencarian spiritual seorang Siddhartha, yang diceritakan hidup sejaman dengan Gotama, Sang Buddha (sekitar 600 SM). Penokohannya sendiri sebenarnya cukup menggelikan. Fakta historis mengatakan bahwa Sang Buddha bernama asli Siddhartha Gotama. Namun di novel itu, antara Siddhartha dan Gotama adalah dua tokoh yang sama sekali lain. Gotama adalah Sang Buddha yang ajarannya saat itu tengah naik daun dan sangat digandrungi masyarakat India, sementara Siddhartha justru menolak ajaran Gotama, yang diungkapkannya dalam kalimat yang inspiratif: "Tidak ada seorangpun yang mendapat pencerahan dari sebuah ajaran".
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Siddhartha pun pergi mengelana mencari jati diri, dan bertemu banyak orang-orang yang menstimulus pergolakan dalam dirinya. Mulai dari pelacur cantik bernama Kamala, Kamaswami sang pedagang, juru sampan bernama Vasudeva, hingga sahabatnya, Govinda. Setiap tokoh tersebut memberikan kesan tersendiri bagi perjalanan spiritual Siddhartha. Bagi saya, novel ini memberi kesadaran bahwa hidup itu memang penuh paradoks. Manusia menjadi "baik" tak selalu didorong oleh hal-hal dan gagasan yang "baik" pula, seringkali justru yang "tidak baik" itulah yang menstimulus segala kebaikan.
Siddhartha tidak melakukan demarkasi antara pengaruh Gotama Sang Buddha dengan Kamala sang pelacur. Baginya, kedua orang itu sama sucinya. Saya juga luar biasa terkesan dengan tokoh Vasudeva si juru sampan, yang sangat ahli dalam "mendengarkan". Setiap cerita yang diungkapkan panjang lebar olah Siddhartha, ditanggapi Vasudeva dengan penghayatan yang tinggi, tanpa kata-kata. Bahkan kadangkala Vasudeva memejamkan matanya, dan menganggap setiap kata yang keluar dari mulut Siddharta, seperti rembesan air hujan yang masuk ke akar pepohonan, sangat alami! Saya jadi terpikir, jangan-jangan ada alasan tertentu kenapa manusia diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Jangan-jangan juga memang "mendengarkan" itu adalah pekerjaan tersulit yang bisa dilakukan manusia.
Begitu banyak nilai-nilai moral yang dikandung dalam novel ini, yang sejujurnya sangat merangsang saya untuk lebih memahami tentang apa dan bagaimana itu "Buddha". Saya tutup review ini dengan kalimat yang menyegarkan dari -siapa lagi kalau bukan-Siddhartha: "Pengetahuan dapat diungkapkan, tapi tidak kebijaksanaan. Kebijaksanaan, saat seorang bijak mencoba mengungkapkannya, selalu terdengar bagai kebodohan".



Terima kasih untuk Indra yang sudah merekomendasikan buku ini. Sangat sangat inspiratif.
Continue reading

Jumat, 18 Desember 2009

Untuk 30 November 2009

Untuk 30 November 2009
Sudah lebih dari dua puluh hari sejak saya terakhir mengupdate blog ini. Jika ditanya alasannya kenapa, saya tidak tahu. Daripada saya cari-cari alasan padahal intinya cuma malas.
Artinya, saya melewatkan juga hari ulang tahun saya untuk dituliskan. Maksudnya, dituliskan secara berdekatan dengan momennya. Padahal, ulang tahun saya tahun ini, terasa sangat bermakna. Bermakna karena banyak hal, yang akan saya ceritakan:


Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, bagi orangtua saya, itu adalah tanda: bahwa tepat dua puluh empat tahun lalu, saya lahir ke dunia. Lahir untuk entah apa, yang pasti awal mulanya, adalah untuk membahagiakan orangtua saya. Untuk meyakinkan sebenarnya mereka punya garis keturunan yang melanjutkan apa-apa yang pernah ia bangun dalam hidupnya. Yang lewat keturunan ini, seolah-olah orangtua saya disajikan, tentang nikmatnya menyaksikan rekaman ulang kejadian kehidupan.
Melanjutkan keturunan itu barangkali, memberi tahu dengan gamblang: bahwa, Subhanallah, hidup itu berputar adanya, hidup itu begitu-begitu saja. Dan oleh karena itu, kita, manusia, adalah satu-satunya pemberi dinamisasi: pemakna sejati. Dengan demikian kita punya perbedaan dari hewan, yang melanjutkan keturunan untuk semata-mata mempertahankan spesiesnya dari kepunahan. Secara lebih keren, melanjutkan keturunan adalah berarti memberi tahu secara lebih intim, bahwa kehidupan ini, seperti kata Yasraf Amir Piliang, adalah sebuah repetisi dinamis.
Hari itu hari Senin, 30 November 2009. Hari yang artinya, saya cukup diajarkan sejak kecil, bahwa bolehlah itu dianggap spesial setiap tahunnya. Waktu SD, itu adalah hari dimana saya mentraktir teman-teman nonton bioskop. Waktu SMP juga. Beda lagi masa SMA, saya biasa mentraktir makan, yang berlanjut hingga kuliah. Hari yang seolah orangtua saya mau memberitahu saya, bahwa kau, Nak, sudah dua puluh empat tahun lamanya di dunia ini. Dua puluh empat tahun lalu kau membahagiakan kami dengan kehadiran. Maka dua puluh empat tahun kemudian kau membahagiakan kami juga dengan kehadiran. Kehadiran yang sedari dulu nyata dan ada, tapi rasanya tumbuh dan berbeda. Seperti kau sirami bibit mawar di halaman, dan kau menyaksikannya tumbuh merekah berbunga, dengan duri-durinya. Kau pasti pernah punya bayangan tentang bagaimana seharusnya mawar ini menjadi nantinya. Tapi ketika mawar tersebut berbeda dari yang kau bayangkan, misalnya: kelopaknya terlipat sebagian, merahnya tak merona, wanginya tak semerbak, atau durinya terlalu tajam, tidakkah yang masih penting, adalah kenyataan bahwa bunga itu masih disana, memberitahu bahwa ia, setidaknya bagi si mawar, ia tumbuh normal dan baik-baik saja?
Hari itu 30 November 2009, dan saya mengadakan acara makan-makan. Sederhana saja di rumah. Saya ajak teman-teman, ada teman SMA, teman KlabKlassik, teman bermusik, dan teman pascasarjana. Semuanya berkumpul, meski tak membaur semua. Tapi saya berbahagia menyaksikan semua. Mereka, di hadapan saya, adalah bagaikan menyaksikan juga repetisi dinamis. Karena lagi-lagi mereka hadir, lagi-lagi, yang harusnya bosan tapi tidak. Tidak karena dimaknai, tidak karena mereka membuat saya ada. Ada berada bukan dalam makna eksistensial, tapi esensial. Membuat saya selalu punya alasan kenapa saya ingin tetap di dunia.
Hari itu 30 November 2009 jam dua belas malam, dan saya sedang dalam jalur telepon. Berbincang. Mendengarkan suara nyanyian dari seberang sana, 180 kilometer katanya. Menyanyikan dendang yang, ah, metafor bidadari yang bernyanyi tak penting lagi. Persoalannya, kita tak pernah tahu apakah memang iya ada bidadari di kahyangan sana yang suaranya emas dan menggetarkan. Yang saya tahu pasti, ada bidadari disini, ya, aku menunjuk ulu hatiku. Dan iya, suaranya menggetarkan dawai-dawai batin yang pernah usang. Dawai-dawai batin yang resonansinya menggelegakkan darah di tubuh. Yang lagi-lagi saya suka metafor ini: seperti mawar yang ditetesi embun, seperti tenggakan dari anggur Dyonisus yang kemudian mengaliri kerongkongan. Yang membuat saya, sungguh-sungguh, mencintai dunia dan enggan meninggalkannya.


Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire,
Joyeux Anniversaire...
Continue reading

Rabu, 25 November 2009

Bunga untuk Dega

Bunga untuk Dega
Pulang mengantar kedua kawan, saya terhenti di Palasari. Sebuah kawasan pertokoan yang terkenal dengan buku-buku murah, pasar, dan kios-kios tempat menjual bunga. Hari itu hari minggu, jam sembilan malam. Toko itu masih buka, seperti yang sudah saya duga. Toko yang saya maksud adalah toko bunga, yang saya lebih senang menyebutnya dengan kios. Meski kios-kios itu terletak di pojok jalan, tapi cahayanya terang benderang. Cukup mencolok di tengah gelap gulita padamnya lampu dari pasar dan toko buku, yang telah menyetop perniagaan sejak sore.

Saya turun dari mobil, setelah parkir di pinggir jalan. Ada banyak kios, sekitar enam atau tujuh kalau tidak salah. Tapi entah dorongan darimana, saya memilih untuk masuk ke kios yang penjualnya berlogat Jawa. Sepertinya juga, karena mawar yang ia pajang merahnya menggoda. Dibanding yang lainnya, padahal sama-sama merah. Oke, saya mulai memilih-milih mawar yang disimpan dalam ember. Ada beberapa warna, tapi saya hanya ingin merah. Katanya sih, merah menandakan cinta sejati. Tapi, ah, tak usah dimaknai tidak apa-apa kan? Bunga sudah manis pada dirinya sendiri. Bunga sudah indah sebelum ia dikatakan indah. Saya akhirnya beli lima, ditawar sedikit, tapi saya tak mau berdebat banyak. Harga sepakat turun, dan saya minta dirangkaikan yang cantik, pakai pita merah.

Saya menyimpan dengan hati-hati si bunga, di jok di samping saya. Saya pandangi sesekali, di tengah perjalanan pulang yang cuma lima menit. Bunga ini untuk seorang wanita. Wanita yang sedang berada di rumah saya. Entah menantikan saya pulang atau tidak, tapi saya yakin ia akan senang melihat saya datang. Bunga ini untuknya, yang tidak boleh saya berikan karena alasan apapun kecuali satu: bahwa dia satu.

Mawar, entah itu cuma sekedar konstruksi atau hakiki, saya percayai memang punya daya magi. Barangkali karena hidupnya yang cuma sebentar. Yang saya ingat, hanya empat atau lima hari, ia kemudian layu lalu mati. Tidakkah sangat tidak merepresentasikan cinta sejati, yang mestinya lama dan tidak mati-mati? Memang kelihatannya demikian, tapi saya punya versi sendiri: Yang justru bagi saya, cinta sejati itu, sangat terepresentasikan lewat mawar. Ia tumbuh sebentar, menguncup lalu merekah. Menebar wangi yang tidak menyengat, tapi menelusup diam-diam ke lubang hidungmu. Bagai pencuri yang mengendap di malam gelap, memasuki rumah yang penghuninya sedang tidur lelap. Lalu pada momen ketika mawar berpindah tangan, dari pemberi ke penerima, itu seperti begini: seperti jika semesta ini punya wajah, maka ia sedang berpaling padamu. Berpaling lalu tersenyum. Tersenyum dengan garis bibir yang lebar dan tatapan mata yang berbinar. Lalu semesta, dengan wajahnya yang cerah dan agung, berkata cinta kepadamu. Tapi bukan dengan bahasa, melainkan lewat uraian kalbu yang membuat dunia hening sejenak. Hening barang sedetik dua detik. Dan yang terdengar hanya bunyi jantungmu yang degupnya terdengar jelas di telinga.

Setelah itu, semesta kembali memalingkan mukanya darimu, dan ia kembali bekerja mendenyutkan dunia. Momen tadi begitu pendek, sependek umur mawar dari dia ada hingga tiada. Tapi kau tak pernah lupa, takkan, bahwa semesta pernah menyapamu. Bahwa semesta pernah hadir, dan dengan kuasanya, ia berhenti mengurusi segala. Hanya untukmu ia berhenti, seperti ada kupu-kupu yang sengaja hinggap di hidungmu, karena semata-mata ia tak mau hinggap di hidung yang lain selain punyamu. Kau tak pernah lupa, takkan, bahwa mawar sejati bukan yang sedang kau terima dari si pemberi, tapi yang kuncupnya merekah perlahan di dalam hati. Tumbuh berkembang dan menebar wangi ke darah dan jantung. Yang tak pernah mati, lekang oleh waktu, bahkan jika sang hati terlukai. Mawar yang tumbuh di hati yang luka, tetap bernama mawar. Mawar yang itu-itu juga, yang harum dan menari.

Dan ketika bunga itu di tanganmu, Dega. Saya sedang tidak tahu apa yang kau pendam dalam diammu. Tapi akan kutanyakan, apakah itu, karena kau sedang tertegun melihat senyum semesta?
Continue reading

Selasa, 03 November 2009

Garasiku


Garasi yang saya maksud disini, adalah garasi yang kau sebut dengan garasi juga. Bukan garasi yang memang sengaja kami bikin lebih luas, dengan dekorasi sana-sini, dengan lantai yang selalu bersih. Ini adalah garasi yang sebagaimana mestinya garasi: tempat menyimpan kendaraan, dan ukurannya hanya sedikit lebih luas dari kendaraan itu, dan pastilah lantainya hampir selalu kotor, tergilas ban yang membawa debu dan lumpur jalanan. Ini adalah garasi yang sama dengan yang kau maksud, yang menjadi ruangan kosong, jika mobil di dalamnya sedang digunakan oleh penghuni rumah.

Kau pasti tahu, bahwa setiap kegiatan punya tempatnya sendiri, ruangannya sendiri. Tempat memasak adalah dapur, tempat untuk tidur adalah kamar tidur, tempat makan adalah di restoran, tempat menyimpan lukisan di galeri, tempat menyaksikan musik adalah di gedung konser, tempat menyaksikan musik klasik adalah di gedung konser berakustik, tempat rapat adalah di meja yang melingkar, dan lain-lain yang stereotip. Tapi darimanakah asalnya korelasi kegiatan dan tempat itu? Tidakkah tadinya, coba kita berandai-andai, bahwa ada semacam ruangan kosong, dengan berbataskan tembok, lalu si pemilik berkata, “Ruangan ini kosong, mari kita isi dengan sesuatu.”

Demikian, barangkali, pada mulanya, semua adalah ruang kosong. Ketika si pemilik mencanangkan bahwa sebuah ruangan difungsikan, menjadi sesuatu yang bisa digunakan, maka seiring dengan waktu, tercipta “nama ruang”. Memberi nama, kata Saussure, adalah sekaligus membedakan. Memberi nama kamar tidur, adalah sekaligus membedakan ia dari kamar mandi, restoran, gedung konser, dan galeri. Membedakan berdasarkan nama, maupun maknanya. Seolah-olah dengan itu, maka kegiatan saling menukar fungsi ruang menjadi perilaku yang kurang etis.

Dalam konteks tertentu, memang seringkali ada kegiatan “lintas-fungsi ruang”, seperti dalam restoran, ada juga musik klasik. Dalam tempat tidur, ada juga lukisan yang disimpan. Bahkan dalam kamar mandi pun, kadang ada lukisan. Dalam bis, mal, dan bioskop, juga seringkali ada sesuatu yang secara “nama ruang”, tidak seharusnya. Memang kombinasi tersebut menghasilkan estetika yang sangat memuaskan indrawi. Dalam bis yang penat, oh ada musik. Dalam restoran yang hiruk pikuk, musik membuat hangat, pun lukisan. Hanya saja, kegiatan lintas fungsi-ruang kurang menghasilkan kedalaman, akibat dikikisnya fungsi “profesional” ruangan. Masih terasa berbeda, ketika menyaksikan konser musik klasik di gedung akustik, dengan menyaksikannya sambil makan di restoran. Ada penyampaian emosi yang berbeda: yang pertama lebih fokus, intim, dan detail, karena indra kita dipaksa terpaku kesana. Yang kedua, saling melengkapi dan memberi kehangatan, tapi sebatas sensasi saja, tidak membuat kita menemukan makna yang betul-betul mendalam.

Yang terjadi sekarang adalah, dalam ranah ruang publik, profesionalisme ini menemui persoalan. Ketika dunia informasi semakin cepat, padat, dan nirbatas, maka membiarkan satu ruang untuk satu kegiatan, adalah dianggap kuno dan ketinggalan. Apalagi, profesionalisme ruangan, telah bergeser pada komersialisasi ruangan. Karena profesional, satu, eksklusif, dan berbeda dari yang lainnya, maka kapitalisme memberi harga. Harga tinggi, kemudian mengikis makna. Efeknya, profesionalisme ruangan menjadi semacam gaya hidup. Menjadi semacam cara orang mengaktualisasikan dirinya dengan cara berbeda. Galeri misalnya, yang tadinya menjadi tempat orang lebih fokus untuk mengapresiasi lukisan, sekarang menjadi tempat berkumpul eksekutif muda untuk sekedar menunjukkan bahwa mereka juga punya citarasa seni. Tanpa harus betul-betul memahami lukisan di dalamnya. Pun gedung konser akustik, misalnya, menjadi tempat orang-orang yang sangat mengedepankan citra, ketimbang apa yang tersaji di dalamnya. Kemana orang-orang yang memang mau dengan dalam mengapresiasi? Bisa jadi mereka tersingkir, akibat harga, akibat eksklusivitas, akibat perasaan minder, karena merasa “salah tempat”.

Mereka-mereka ini, kemudian, mencari ruang kosong yang baru. Berjuang menemukan kembali makna dari musik, lukisan, makanan, dan kegiatan lainnya. Menemukan kembali hakikat dan substansi terdalam, bahwa jangan-jangan: bukan soal ruangnya, bukan. Tapi soal pemahaman terhadap isi ruangan, yang hanya bisa didapat barangkali, dengan menyingkirkan profesionalisme dan komersialisasi. Artinya: ruangan, dimana saja boleh, asal kosong. “Nama ruang” yang pernah dielu-elukan, tak lagi penting. Bahkan kecenderungannya, ruangan itu harus kecil dan sama sekali tidak menyimbolkan stereotip kapitalisme. Harus sesederhana mungkin, seperti secara langsung mengejek ruang publik yang semakin tak dekat dengan publik.

Disinilah, disini. Kembali ke garasi yang saya maksud, yang kau maksud juga. Bahwa di garasi rumah ini, adalah ruangan juga, ruangan yang kosong jika mobil tidak ada di dalamnya. Ketika itu kosong, maka bolehlah, bagi orang yang peduli, untuk berkegiatan mencari makna. Makna yang telah terkikis oleh eksklusivitas ruang. Silakan pajang lukisan, menggelar konser musik klasik, memasak bersama, berorasi, rapat, atau syukuran tumpengan. Sepertinya berkegiatan disini, kau tak akan merasa keren karena tempatnya, oh saya tidak sedang merendah: kecil dan kotor. Tapi disini, ya disini, setidaknya yang saya yakini, kau akan menemukan hangat dan lenturnya pencarian makna, karena tidak sedang ditunggangi serakahnya pencitraan, yang dingin dan kaku.

Garasiku, 30 Agustus 2009: acara syukuran Resital Tiga Gitar Plus Satu

Continue reading

Senin, 26 Oktober 2009

Sex and The City The Movie: Upaya Menjadi Manusia Etis


Saya sudah melihat film ini sekira setahun yang lalu. Dan semalam saya menyaksikannya kembali di teve kabel. Oh, membuat saya ingat bahwa saya pernah menulis soal film tersebut di blog lama saya. Membuat saya ingin memindahkannya dari blog lama ke sini, untuk lalu diedit, dengan sudut pandang saya berdiri sekarang.



Melihat kuartet Carrie Bradshaw, Samantha Jones, Charlotte York, dan Miranda Hobbes, sulit dipungkiri bahwa kita juga sekaligus menyaksikan etalase fashion yang berkilau, budaya konsumerisme tak berujung, serta citra masyarakat New York yang hedonis dan teralienasi. Sama halnya dengan edisi serial, versi layar lebar ini masih mengedepankan identitas tersebut. Bedanya barangkali terletak pada upaya pengonklusian yang digambarkan lewat cerita pernikahan antara Carrie dan Big.

Keseluruhan film berdurasi sekitar dua jam lima belas menit ini (cukup panjang untuk ukuran film yang delapan puluh persennya berisi ngobrol-ngobrol), sebenarnya mengangkat isu yang tak pernah ketinggalan: cinta dan persahabatan. Hanya saja yang menarik bagi saya adalah tentang prosesi pencarian makna kedua isu tersebut, yang nampak begitu sulit diarungi jika berada di tengah lautan hedonisme dan konsumerisme ala kota besar. Ketika kota penuh hiruk pikuk seperti New York menyuguhkan suasana yang membuat manusia terasing dari dirinya, maka kuartet ini merupakan contoh manusia yang selalu bergulat dengan reflektivitas dan kontemplasi. Mereka berempat seolah paham bahwa citra permukaan yang ditawarkan New York berpotensi membunuh subjek, namun segala perlawanan dan pemaknaan itulah yang membuat film karya Michael Patrick King tersebut menjadi hidup. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya berikutnya adalah: mengapa pernikahan mesti jadi semacam konklusi bagi gaya hidup mereka (dalam hal ini Carrie)? Tidakkah eksterioritas kota sebesar New York telah menawarkan segalanya yang dianggap mampu mewakili setiap aspek hidup manusia? Tidakkah justru kebebasanlah yang dicari kuartet tersebut, mengingat hasrat keempatnya yang tak pernah berhenti menagih? Saya kemudian curiga, jangan-jangan manusia bisa saja bosan dengan kebebasan, yang hakikatnya malah ia tak pernah berhenti diperjuangkan.

Pernikahan adalah tentang cinta, itu lumrah, tapi bisa saja hal tersebut adalah bentuk kelelahan manusia dalam mengarungi kompleksitas berpikir dan berbuat bebas, hingga akhirnya "terpaksa" mencari dahan untuk berpegang. Setidaknya dengan menikah, kebebasan itu sendiri berubah bentuk, menjadi terorientasi, menjadi tidak melulu tentang pemenuhan hasrat yang tiada habisnya. Karena barangkali (karena saya belum menikah), kebebasan tersebut naik kelas, menjadi semacam "kebebasan bagi yang lain", atau kebebasan demi nilai-nilai tertentu. Yang mendadak saya ingat tiga tahapan manusia menurut Kierkegaard. Yang pertama adalah manusia semacam Don Juan (Kierkegaard menyebutnya manusia estetis), yang melakukan apa-apa demi hasrat. Yang bisa diibaratkan seperti kuartet tersebut jika berada dalam kegemerlapan New York. Kedua, Kierkegaard namakan dengan manusia etis, dan ia mencontohkan layaknya Socrates. Hidup demi apa yang dinamakan tanggung jawab. Bisa saja tanggung jawab itu bukanlah hasrat pribadi, dan malah tertekan ketika kau menanggungnya. Tapi begitu kau hidup baginya, entah kenapa terasa lebih bermakna. Yang membuat saya jadi setuju dengan utilitarianisme: yang baik adalah yang berguna bagi orang banyak. Yang ketiga adalah manusia religius, dan saya tak akan membahas disini karena sepertinya kurang relevan.

Jikalau demikian, maka manusia etis ala Sex and The City yang digambarkan via cerita pernikahan Carrie dan Big dalam film ini sah-sah saja dijadikan konklusi. Karena menunjukkan bahwa mereka, meski dengan susah payah, tetap menyimpan keinginan untuk lepas dari jeratan hedonisme dengan caranya sendiri. Agar, ya itu, tak selamanya menjadi manusia estetis Kierkegaardian.


Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Sex_and_the_City_The_Movie.jpg
Continue reading

Jumat, 23 Oktober 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Dua)

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Dua)
Ketika kau pernah nge-band, memainkan lagu-lagu seperti Nirvana dan Black Sabbath. Lalu belajar gitar elektrik hingga sedikit-sedikit bisa menirukan Jimi Hendrix dan Ritchie Blackmore. Lalu keseharianmu yang kau dengar adalah Metallica, plus memajang posternya di kamar, di samping foto Eric Clapton. Tidakkah memutuskan menggeluti gitar klasik adalah hal yang kurang keren? Siapakah tokoh gitar klasik yang saya tahu, kecuali guru saya sendiri, Kwartato Prawoto?

Tapi demikianlah, akhirnya saya terpanggil oleh entah apa. Untuk menekuni gitar klasik, ranah yang sepi dan sunyi ini, secara lebih serius. Sejak konser di Aula Barat, orangtua saya sepakat untuk membelikan gitar yang lebih bagus. Lebih layak untuk dimainkan di konser klasik yang sangat mengedepankan kesempurnaan dan kemurnian bunyi. Saya berlatih lebih serius, dan porsi belajar gitar elektrik semakin dikurangi.

Hingga tiba akhirnya, hari itu, dua tahun setelah konser di Aula Barat. Suatu bulan Oktober di tahun 2003, saya konser yang ketiga kali. Nama konsernya, kalau tidak salah, "Konser Gitar Klasik Kwartato Prawoto dan Murid-Muridnya". Namanya sama seperti konser saya yang kedua, tempatnya pun sama, yakni di Auditorium CCF. Bedanya adalah jumlah lagu, sebelumnya tiga sekarang tujuh, saya ingat: Tango en Skaii dari Roland Dyens, Valse Venezolano no. 2 dari Antonio Lauro, Prelude no. 1, 2, dan 4 karya Heitor Villa-Lobos, Requerdos de la Alhambra karya Francisco Tarrega, dan Cancion y Danza no. 1 dari Antonio Ruiz-Pipo. Semua konser, selalu bermakna bagi saya, tapi saya selalu menandai, konser mana yang menjadi titik balik. Inilah salah satunya.

Akan saya ceritakan bagaimana semuanya bermula: Kwartato Prawoto, saya melabelinya sebagai seorang resitalis. Kenapa? karena ya itu, obsesinya dalam bermain gitar klasik adalah untuk resital, untuk tampil dalam sebuah konser yang diapresiasi orang banyak dalam suasana klasikal yang amat serius. Ini sungguh, menjadi sumbangsih terbesar darinya bagi perjalanan pergitaran klasik saya berikutnya. Bukan semata-mata saya ingin jadi resitalis juga, tapi kenyataan bahwa saya berkembang menjadi seorang yang sangat menginginkan tampil di depan umum. Sumbangsih Pak Prawoto yang berharga tersebut, pada suatu ketika, saya nodai.

Dalam suatu kesempatan, beberapa bulan sebelum konser ketiga tersebut, saya disuruh tampil di acara kampus bernama INTREX (International Relations Expo). Saya diminta tampil dalam format solo. Di acara yang sama, ternyata tampil juga seorang solois gitar klasik, namanya saya ingat: Ivan Budihutama. Saya tertarik ketika tahu ada yang tampil dengan format yang mirip-mirip saya. Apalagi yang saya tahu, ia memainkan lagu berjudul Cancion y Danza no. 1, yang mana saya mainkan juga. Oh, tapi sungguh saya tak menyangka, bahwa ia akan begitu memukau. Saat memainkan bagian Danza, ia membuat seisi aula seolah ikut menari. Bagian yang saya tidak memainkannya seperti itu, tapi lebih gemulai dan melodius. Tapi firasat saya kuat, bahwa yang dimainkan Ivan itulah interpretasi yang seharusnya. Apa gerangan yang diajarkan oleh Pak Prawoto? Saat itu saya mulai ragu, dan akhirnya menyelidiki, darimana Ivan mendapatkan interpretasi macam itu. Ia kemudian menyebutkan nama gurunya, yakni Pak Ridwan. Ridwan Budiutama Tjiptahardja tepatnya, yang kemudian saya kontak ia. Setelah sepakat soal waktu dan harga, akhirnya saya pun resmi les privat kepadanya, beberapa bulan saja sebelum konser Oktober tersebut.

Dari sudut pandang saya sekarang, perbuatan tersebut kurang terpuji, karena saya punya dua guru sekaligus. Bukan soal itu, tapi kenyataan bahwa Pak Prawoto tidak mengetahui saya sedang les juga dengan Pak Ridwan. Pak Ridwan? tentu saja ia tahu bahwa saya tengah menyiapkan konser bersama Pak Prawoto. Secara profesional tentu saja sah, tapi secara etis, saya tahu itu tidak, terlebih setelah saya pun sekarang punya profesi sebagai pengajar. Tapi waktu itu saya, sebagai murid yang tengah bersemangat dan terobsesi, tak terlalu ambil pusing. Dampaknya, di tangan Pak Ridwan, saya mendapat banyak koreksi perihal lagu-lagu yang akan dikonserkan. Dampaknya lagi, lagu-lagu tersebut menjadi lebih berkualitas dan berbobot.

Dampaknya lagi, terasa ketika konser berlangsung. Pak Prawoto membawakan tiga belas lagu, semuanya karya J.S. Bach. Saya tujuh lagu, kesemuanya sudah dipoles Pak Ridwan selama kurang lebih dua bulan. Lalu entah kenapa, penampilan Pak Prawoto malam itu tak seperti biasanya. Ia banyak lupa not, mengulang dari awal, dan wajahnya merautkan ketegangan yang sangat. Kemudian, diantara permainannya yang underform, saya selalu muncul sebagai selingan. Waktu itu saya berumur tujuh belas, dengan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi, saya merasa telah merebut aura penonton yang seharusnya menjadi milik guru saya sendiri. Saya tahu itu, karena suara riuh penonton dan hangatnya apresiasi, tak pernah bisa dipungkiri. Kau akan tahu penonton memperhatikanmu dengan baik, karena mereka mengirimimu energi. Pak Prawoto? Saya mendapati pemandangan memilukan: Setiap ia naik panggung, banyak penonton yang keluar ruangan.

Konser diakhiri dengan Pak Prawoto sebagai penutup. Sisa penonton saya lupa tepatnya, tapi di bawah sepuluh orang. Itupun beberapa diantaranya dari pihak keluarga saya, yang sudah mengenal Pak Prawoto dengan baik. Saat ini, jika mengingatnya, saya malu dan sedih. Tapi saat itu, tak ada perasaan lain selain bangga dan digjaya. Seolah memang itulah perasaan seharusnya jika kau telah mempermalukan gurumu di atas panggung. Ia adalah Pak Prawoto, yang waktu itu saya lupa, bahwa dialah yang telah membimbing saya selama empat setengah tahun. Sejak itu, saya diliputi perasaan bangga tak terkira. Dan belakangan barulah saya tahu, bahwa itu perbuatan yang memalukan dan tak pantas ditiru.

Sejak saya punya perasaan malu itu, hampir di setiap konser, saya selalu mendedikasikan lagu pertama untuk Pak Prawoto. Padahal saya tahu, ia tak pernah hadir ketika saya tampil. Suudzon-nya, saya bahkan berpikir bahwa ia sedang mengutuki saya. Sebagai murid maha durhaka yang tak tahu diuntung. Dulu dibina, sekarang kemana?

Pak Prawoto, maafkan saya. Kau adalah guruku, selalu, selamanya. Semoga Allah membalas jasa-jasamu. Saya sadar sekarang, bahwa segala hal adalah guru, hanya jika kita mau merendahkan hati. Perkataan sopir angkot dan literasi Sartre adalah sama-sama memberikan pengetahuan jika kau mau merendahkan hatimu. Saya malu ketika kerendahan hati saya sering sirna, dan tak ada lagi yang saya anggap guru, sama seperti kejadian di konser itu. Saya harap Bapak mau memaafkan saya, biarpun saya tahu Bapak ingin mengutuk saya jadi batu. Tapi apa daya Bapak bukan Ibuku.
Continue reading

Rabu, 21 Oktober 2009

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Satu)

Terima Kasih, Gitar Klasik (Bagian Satu)
Saya ingat kejadian itu, meski lupa tanggal, lupa hari. Kejadian dimana seorang bapak yang belum tua-tua amat memasuki kamar saya. Bawa gitar dan bawa penyangga partitur. Ia duduk di tempat yang saya sediakan, sedangkan saya, duduk santai di kasur. Saya tanya ia pertama kali, "Bapak, tahu Joe Satriani?" Lalu dia diam sejenak, keningnya mengkerut, lalu menjawab singkat, "Tahu." Entah kenapa, saya tidak percaya dia tahu. Karena toh ia sibuk sendiri menyiapkan materinya yang pertama. Materinya di hari pertama. Hari pertama ia mengajari saya. Mengajari saya gitar klasik.

Namanya Kwartato Prawoto. Saya waktu itu tahunya Pak Prawoto saja. Ia berkumis tebal, rambutnya pendek, tebal juga, dan kaku. Matanya sayu dan kulitnya menurut saya sih, hitam. Gayanya tidak luwes dan sepertinya ia agak canggung. Joe Satriani adalah nama gitaris elektrik asal Amerika, turunan imigran Italia. Saya menggemarinya, punya banyak kasetnya. Saya? Saya lupa umur saya berapa, tapi kitaran kelas dua SMP. Mungkin umur tiga belas atau empat belas. Hari itu bukan hari pertama saya mengenal gitar. Sebelumnya sudah, bahkan sudah bikin band. Band yang memainkan lagu-lagu Nirvana.

Saya temukan namanya di koran Pikiran Rakyat. Di kolom kecil yang terdiri dari sekitar empat baris. Tidak ada tulisan 'belajar gitar klasik', hanya ada 'belajar gitar'. Saya yang sedang gandrung nge-band, tak pikir dua kali untuk mengontak calon guru. Lalu itulah, harga lesnya saya ingat: Seratus ribu per bulan, per pertemuan lima puluh menit. Semuanya empat pertemuan.

Dan kami berdua di kamar itu. Kamar saya. Saya tak berhenti bertanya dengan perasaan berdebar sekaligus senang: Apa yang mau ia ajari untuk saya? Akhirnya dia mengambil bukunya, dan membuka halaman pertama. Disuguhinya saya gambar-gambar yang saya kenal sebagai not balok. Ia mengajari saya membaca notasi. Dari mulai senar pertama hingga ke enam. Oh, pikiran nakal saya mendadak redup. Saya pernah tahu dari teman, bahwa ketika ia les, ia diajari berbagai macam teknik dan improvisasi. Tapi oh, lihat ini, saya bermain dengan ketukan kaki, alih-alih drum yang keluar dari sound system. Lalu oh, lihat ini, ketika saya sudah bisa berbagai chord, ia mengajari saya lagi dua kunci saja: C dan G7. Lalu mana melodi dahsyat itu? Yang mengalir merambat bagai air. Yang petikannya cepat dan kilat. Dan bunyinya bagai gitar dipegang Santana. Erangannya seperti Satriani dengan whammy. Mana?

Tapi entah tenaga darimana, saya tak kuasa berhenti. Not demi not, chord demi chord, mulai dipahami dengan ikhlas dan tabah. Seolah memang gitar elektrik boleh tetap saya geluti, tanpa terganggu kenyataan bahwa saya sedang belajar musik klasik yang tekstual dan membosankan. Kehidupan belang-belang itu akhirnya pelan-pelan berakhir, setelah suatu kejadian di -saya ingat tanggalnya- 21 Agustus 2001.

Saat itu, adalah konser di Aula Barat ITB. Judulnya saya tidak ingat persis, tapi kira-kira begini: "Konser Gitar Klasik Prawoto, Ridwan, Krishnan, Ervin, dan Murid-Muridnya". Jadi ceritanya ada empat guru gitar yang cukup senior di Bandung, yakni nama-nama itu. Atas prakarsa Rotary Club, mereka semua dikonserkan beserta murid-muridnya. Semuanya tampil dengan format solo. Saya? itu konser debut saya di gitar klasik. Memainkan Fur Elise karya Ludwig van Beethoven. Saya ingat, waktu itu saya pakai ikat kepala. Yang lain tidak ada yang begitu. Saya juga entah dapat ide darimana. Di konser itu pula, saya berkenalan dengan Royke Ng. Ia adalah murid dari Pak Ridwan yang sudah terlebih dahulu malam melintang di dunia gitar klasik. Royke Ng dan Pak Ridwan yang kelak beberapa tahun kemudian, menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan gitar klasik saya.

Malam itu saya naik panggung pertama kalinya. Pertama kalinya seorang diri, dengan menenteng gitar akustik di tangan kanan. Dengan berdiri, lalu hormat dengan cara membungkuk. Dengan foot stool di kaki kiri, dengan perasaan tegang akibat terlalu memikirkan kesempurnaan. Momen itu saya ingat, cahaya lampu hangat sekali. Ada lampu di panggung, semacam lampu taman. Bentuk kacanya bulat besar, seperti kau sering lihat di salon-salon. Penonton gelap dan tak terlihat. Mereka katanya, sih, tiga ratus orang. Lalu saya mulai bermain.

Pertamanya not E dan D#, saya ingat. Awalnya tegang, tapi setelah lebih dari dua puluh detik, saya mulai menikmati. Fret di tangan semakin jelas, dan saya tahu persis kemana harus berpindah-pindah posisi jari demi mendapatkan nada yang tepat. Akibat kenyamanan itu, saya merasa mesti bergaya sedikit untuk seolah-olah sedang menikmati. Saya goyangkan kepala sekenanya, seolah mengikuti jari yang berpindah sana-sini, seolah beriringan dengan nada yang turun naik. Dan itu, akhirnya saya merasakan perasaan yang sejak hari itu saya selalu merindukannya: Yakni ketika not terakhir selesai didentingkan. Sunyi, sepi.

Oh, tapi setelahnya, ada bunyi riuh. Riuh tepuk tangan para hadirin. Seperti kau sedang tidur pulas, lalu disiram air galonan demi membuatmu bangun. Rasanya sempat aneh dan asing, karena kau berada di perbatasan tidur dan jaga. Tapi setelah itu langsung segar dan cerah ceria. Lebih dari itu, ada perasaan lega dan bangga. Bangga karena sukses mengatasi tekanan atas hasrat kesempurnaan. Yang entah kenapa, selalu diinginkan oleh keklasikan.

Malam itu umur saya lima belas tahun. Turun dari panggung, saya menemui orangtua dan saudara yang menunggui. Saya meminta pendapat mereka, dan dibilangnya bagus. Tentu saja mereka bilang bagus, tidakkah harusnya begitu orangtua berkata? Dari malam itu, ya, malam itu, saya memutuskan untuk mencoba mencintai gitar klasik sepenuh hati. Gitar elektrik lambat laun akan saya kurangi porsinya. Saya sungguh merasakan nikmatnya membunyikan denting terakhir. Perasaan bagaimana mengatasi tekanan. Karena disana, di panggung sana, kau seorang diri, bertanggungjawab atas dirimu sendiri. Suara yang keluar, adalah suaramu. Gerak tubuh yang keluar, adalah gerak tubuhmu. Cinta yang dibagi, adalah cintamu. Terima kasih, Pak Prawoto.


Bersambung
Continue reading

Rabu, 14 Oktober 2009

Ujian Oh Ujian

Ujian Oh Ujian
Biasanya saya selalu menyempatkan diri untuk meng-update blog ini setiap minggunya (bahkan beberapa kali dalam seminggu). Tapi belakangan, saya terbentur fokus pada ujian. Ujian apa gerangan? Ujian gitar tepatnya. Gitar klasik. Sesuatu yang sudah saya geluti sepuluh tahun lamanya. Dan sekarang diujikan seolah-olah dengan itu saya bisa tahu, berapa, angka kemampuan gitar saya selama ini.
Ujian tersebut akan dilaksanakan 19 Oktober. Namanya ujian ABRSM, singkatan dari Association Board of Royal School of Music. Atau orang sini dengan singkat menyebutnya ujian Royal. Inggris punya. Ujian tersebut terdiri dari empat tes. Pertama adalah tes karya. Saya diminta memainkan tiga karya yang berasal dari tiga kelompok berbeda. Kelompok itu sepertinya dibedakan menurut periodisasi. Kelompok pertama adalah jaman Renaisans dan Barok. Kelompok dua adalah jaman Klasik dan Barok. Sedangkan kelompok tiga adalah musik Abad ke-20. Kedua adalah tes tangga nada. Saya diminta menghapal 27 tangga nada, yang mana hanya beberapa nanti yang akan ditanyakan.
Ketiga adalah apa yang dinamakan sight reading alias membaca langsung. Ada partitur berisi karya entah darimana, saya langsung baca dan memainkan, tanpa ada perkenalan panjang-panjang. Keempat adalah apa yang dinamakan aural test. Intinya, saya menanggalkan gitar dan kemudian mengaktivasi suara, telinga, dan akal pikiran. Tesnya ada menyanyikan nada, mendengarkan modulasi, progresi, dan kadens, serta berdiskusi soal karya dengan si penguji. Oh iya, pengujinya bule. Orang Inggris. Jadi saya mesti menggunakan bahasa Inggris kala mengobrol.
Ujian tersebut sungguh menguras pikiran. Saya mengambil tingkat delapan, atau tingkat terakhir dalam status elementary. Andai saya lulus nanti, statusnya setara SMA.

Ujian ini memusingkan, bukan semata-mata karena saya khawatir tidak lulus atau lulus dengan nilai rendah. Kalau itu, saya akui berkaitan erat dengan biaya pendaftaran keikutsertaan yang menurut saya, sih, mahal sekali. Saya lebih dipusingkan karena kenapa saya mendadak terdampar dalam situasi ujian yang menyebalkan. Yang mana keikutsertaan ini didorong oleh naluriah eksistensi saya yang menggebu-gebu sekira satu setengah tahun lalu. Saat itu, saya tertarik ikut Royal karena sepertinya trendi sekali. Dimana-mana orang membicarakan sertifikatnya. Sepertinya menjadi satu barometer terkini tentang bagaimana musikalitas seseorang dikuantifikasikan. Dan karena diberi angka itulah, maka mudah sekali menunjuk seorang lebih baik dari yang lainnya, sebagaimana peringkat dalam SD.
Saya, yang kala itu sudah belajar gitar klasik selama hampir sembilan tahun, merasa tertantang. Merasa perlu mencoba mengukur diri saya lewat ujian paling trendi di bumi pertiwi ini. Ikutlah saya, biayanya kala itu kalau tidak salah 1,25 juta. Saya ikut langsung yang grade delapan, karena merasa buang-buang uang kalau ikut bertahap dari enam atau tujuh. Modalnya, saya mengantongi sertifikasi Royal grade lima jalur teori. Jadi, sebelumnya saya mengenal Royal ini awalnya dari ujian teorinya. Saya ikut, karena saya merasa lemah dalam teori musik. Dan ternyata memang iya, setelah mempelajarinya, nyata sekali banyak hal dalam musik yang saya baru tahu. Untunglah saya lulus. Meski pas-pasan, tapi saya puas. Sertifikasi grade lima teori itu jadi syarat wajib untuk langsung mengambil ujian gitar performa grade delapan, yang saya akan ikuti ini.
Hanya saja, ternyata buruknya pola latihan saya karena sedang berbenturan dengan resital, membuat saya kala itu memutuskan untuk tidak siap mengikuti ujian. Akhirnya ditundalah satu tahun, hingga 19 Oktober yang akan saya hadapi nanti. Sekarang saya relatif lebih siap, meski optimisme dan pesimisme senantiasa bercampur aduk. Karena saya sedang berhadapan dengan sesuatu yang asing. Ibarat berpetualang di hutan belantara: dalam tas saya sudah tersedia banyak perangkat yang mestinya bisa membantu dalam kondisi apapun. Tapi belantara tetap belantara, ia punya banyak kemungkinan.

Saya sedang dalam kondisi rajin latihan ketika menuliskan ini. Kondisi yang memang semestinya ketika siapapun mau mengikuti ujian. Hanya saja, tidakkah, manusia, dari dulu, menciptakan pelbagai ujian dan tes, adalah semata-mata demi kepentingan praktis. Semata-mata agar ia punya predikat yang melekat, yang memudahkannya bergerak dalam sistem pencipta ujian itu sendiri. Sekolah adalah lembaga yang rajin menciptakan ujian. Ujian yang kemudian didoktrinasi sedemikian rupa agar inilah, tujuan akhir kalian. Inilah, tolok ukur satu-satunya jerih payah kalian. Inilah, yang akan membuat kependidikan kalian tak berarti apa-apa jika gagal melampauinya.
Saya sekarang dalam kondisi serupa. Kondisi yang seolah-olah mempertaruhkan pelajaran musik yang sudah saya terima sepuluh tahun belakangan. Seolah-olah dengan nantinya saya lulus, maka saya akan punya predikat sebagai seorang musisi yang berhasil. Musisi yang di kepalanya penuh dengan akal pikiran brilian dan performa yang menunjang. Dalam sudut pandang tertentu, iya. Iya saya setuju bahwa dengan mudah ujian bisa jadi barometer musikalitas. Tapi jika saya adalah orang yang mencintai proses, maka ujian tak lebih dari sekedar perhentian. Perhentian dimana saya punya waktu untuk merenungi apa-apa yang sudah terjadi. Sesuatu yang jika saya sukses melampauinya, maka itu tak lebih dari pit stop yang membuat saya mesti melaju lebih kencang lagi.

Terima kasih Royal. Saya sungguh mencintai proses dimana saya berlatih semua dan mempelajari semua. Saya akan mengucap terima kasih sekarang, pada semua pihak yang telah membantu saya menghadapi ujian. Karena memang ini, inilah "hasil ujian" yang hakiki bagi saya. Bukan hasil ujian legal nantinya. Berterima kasih atas kenyataan bahwa persiapan ini membuat saya tahu banyak. Tahu bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa (Socrates).
Continue reading

Minggu, 04 Oktober 2009

Pengalaman Mental

Minggu, 8 Februari 2009

Hari itu aku duduk sendiri
Malam-malam lampu dimatikan
Mata terpejam pekat menerkam
Yang tersisa tinggal bunyi-bunyian
Datang dari si gila Zappa
Lalu cahaya itu datang
Membingkai pekatku segi empat
Setiap gebuk drum ada ledakan gemintang di sana
Ya, ya, disana
Kau tidak akan melihatnya
Raungan gitar mengilatkan cahaya
Tipis
di sudut kiri bawah
Betotan bas melahirkan kunang-kunang
Terbang melayang terbebas tanpa berkedip
Beethoven sekarang ambil bagian
Memainkan simfoni nomor sembilan
Jayalah ia sang mahakarya
Memainkan Ode a La Allegria
Dari bintang ia turun ke bumi
Mencari tempat yang pas untuk melihat angkasa
Angkasa angkasa dimanakah kamu
Aku disini mencari kebermaknaan dari hal-ikhwal
Dahulu mungkin semuanya satu
Tapi pikiran membelah semuanya
Menjadi lemah dan terpecah
Maka biarkan aku meleburkannya kembali
Menjadi cinta dan rindu yang tak bernama
Tubuhku bergetar hebat
Lalu jatuh lunglai dalam kegilaan yang nikmat

Land of Psychedelic Illumination
(Brian Exton)
Continue reading

Sabtu, 26 September 2009

Pangeran Kecil: Mari Tertawakan Diri Kita


"Bagiku, kau sekarang hanyalah seorang anak laki-laki kecil, sama seperti seratus ribu anak laki-laki lainnya. Dan aku tak membutuhkanmu. Dan kau juga tak membutuhkan aku. aku hanyalah seekor rubah seperti seratus ribu rubah lainnya. Tetapi jika kau menjinakkanku, kita akan saling membutuhkan. Bagiku, kau akan unik di dunia ini. Bagimu, aku akan unik di dunia ini."

Jika kau lihat sampul buku ini lantas membaca isinya selewat-selewat saja, yakinlah ini adalah buku anak-anak. Ditambah lagi banyak gambar di dalamnya, gambar yang kurang-lebih seperti gambar anak-anak, atau setidaknya, ditujukan bagi anak-anak. Bagi saya yang sombong ini, yang rajin baca buku filsafat dan segala-gala yang dianggap "berat", maka tak menariklah sepertinya buku ini. Pastilah hanya akan berisikan imaji dan imaji, padahal hidup ini kan, mesti realistis. Namun setelah memaksakan diri untuk membacanya secara detil, akhirnya saya tutup buku itu dengan bengong. Bengong entah kenapa, bengong memikirkan apa. Satu hal yang saya ingat, sejauh ini baru ada tiga buku yang bikin saya bengong pasca-baca, pertama Sang Nabi-nya Kahlil Gibran, kedua Siddharta-nya Herman Hesse, dan ketiga, ya itu tadi, Pangeran Kecil dari Antoine de Saint-Exupéry.

Alkisah, seorang penerbang jatuh di Gurun Sahara. Di tengah padang pasir luas itu, ia hanya berbekal air minum yang nyaris tak akan cukup untuk seminggu. Kala sibuk membetulkan pesawatnya, mendadak datang seorang anak memintanya menggambar seekor biri-biri. Di tengah rasa kaget dan kesal karena sedang bergulat hidup-mati, bercampur heran, dipenuhinya juga permintaan si anak. Dari situ, dimulailah cerita, beralur flashback, berasal dari pertanyaan si penerbang tentang asal usul si anak, yang dinamainya pangeran kecil.
Pangeran kecil datang dari planet lain, planet yang ukurannya tak lebih besar dari rumah. Barangkali lebih tepat jika dibilang asteroid. Pangeran Kecil senang bertanya, dan ia akan terus bertanya hingga ia pikir jawabannya jelas. Kesukaannya itulah, yang membawa ia untuk berkunjung ke planet-planet lainnya. Di setiap planet yang ia singgahi, ia mengajukan pertanyaan macam-macam pada penduduknya. Ada planet yang didiami seorang raja, adapun yang didiami seorang pemabuk (pemabuk seorang tepatnya), ada yang cuma didiami seorang penyala lampu, dan iapun ke Bumi, setelah mendapat saran dari planet yang diisi oleh geografer seorang. Di Bumi, cerita buku ini sempat menjadi fabel, karena ia tak langsung bertemu manusia, melainkan ular dan rubah. Begitulah, sampai ia bertemu sang penerbang di tengah gurun mahaluas.

Sepertinya dari sekilas ceritanya pun, terasa kesederhanaannya. Namun yang membuat saya tersentak hingga bengong adalah: keseluruhan ceritanya, ternyata memang sangat anak-anak. Tapi justru itu, Saint-Exupéry sangat kuat dalam mengingatkan segala naluriah anak-anak, sehingga membawa saya pada kesadaran tentang absurdnya dunia orang dewasa. Isi ceritanya sebagian besar adalah tanya jawab, pertanyaan khas anak kecil dengan segala gayanya yang polos. Dan jawabannya, datang dari orang dewasa, dengan segala pernyataan yang distortif, ingin terlihat bijak, padahal seringkali labirin dan diwarnai berbagai kepentingan. Misalnya, dalam suatu kesempatan, ia bertemu pemabuk, ditanya oleh si pangeran, "Mengapa kau mabuk?" kata si peminum, "Untuk melupakan," "Melupakan apa?" "Melupakan bahwa aku malu," "Malu karena apa?" "Malu karena minum!". Tanya jawab tadi terasa kurang jelas, tapi terasa sekali memang demikianlah seringkali orang dewasa memutar fakta. Padahal anak kecil, dalam pertanyaannya, hanya butuh jawaban berupa logika sederhana dan dominasi imaji.
Naluri orang dewasa saya mendadak ingat Nietzsche dalam buku Birth of Tragedy. Buku itu bercerita soal bedanya Apollo dan Dyonisus. Orang kebanyakan, kata Nietzsche, melakukan segalanya seperti Dewa Apollo, serba dipikirkan. Padahal hidup itu, semestinya dirasakan, seperti sang Dewa Anggur, Dyonisus. Mabuklah, kata Nietzsche, agar kau bisa mencintai hidupmu, Amor Fati. Meskipun bukunya khas anak-anak, tapi bagi saya, terasa sekali aroma Nietzschean-nya. Ini buku betul-betul mengajak: bahwa hidup yang hakiki, adalah hidup dalam imajinasi anak-anak. Dan ketika kita mendadak berpikir dewasa -yang bergaya Apollonian itu- maka seketika itulah, hidup kehilangan banyak gelegaknya. Padahal, kata Bambang Sugiharto, filsafat pun (yang katanya pengetahuan milik orang dewasa), tak lebih dari ungkapan-ungkapan pertanyaan naluriah khas anak-anak.

Kekaguman mendalam membawa saya pada wikipedia. Ternyata, buku yang terbit tahun 1943 ini merupakan salah satu literatur wajib bagi pelajaran Bahasa Prancis untuk pemula. Aslinya berjudul Le Petit Prince. Diterjemahkan ke lebih dari 180 bahasa dan terjual sebanyak 80 juta kopi. Jadi buku ini memang kelasnya sudah worldwide.
Penerjemahan ke Bahasa Indonesianya pun sangat enak dan jelas. Hampir tidak ada kalimat yang mengganggu, kalau boleh dibilang tidak ada sama sekali. Tentang isi apalagi, sungguh imajinatif dan brilian. Saya terkagum tentang bagaimana Saint-Exupéry secara konsisten mengungkapkan kebanalan orang dewasa lewat pernyataan-pernyataan Pangeran Kecil. Saya tidak akan mengutip banyak kalimat inspiratif disini, karena saking banyaknya, membuat saya mesti membolak-balik halamannya lagi. Sebaiknya kau beli saja buku ini, karena sangat disarankan.




Dan ketika aku menggeser pandangan ke kiri, ada kau. Ya, kau, pangeran kecilku. Baiklah, akan kugambar biri-biri itu di hatimu.


Continue reading

Jumat, 18 September 2009

Lebaran dan Humanisme Artifisial


Kala kecil hingga SD, hari lebaran adalah soal kunjungan kesana kemari. Bersungkem-sungkeman, salam-salaman, saudara jauh pun dijabani. Lelah memang, tapi menyenangkan. Yah, karena masih kecil, tahulah senangnya disebabkan dapat uang. Tapi tidak, tidak cuma itu. Kumpul sama saudara, menikmati lengangnya jalanan kota, hingga makanan yang nikmat adanya -meskipun itu-itu aja tiap tahunnya-. Intinya, rasa intim. Lebaran adalah soal keintiman. Bersalaman adalah soal keintiman. Saling mengunjungi juga keintiman.
Masuk SMP, mulai ada yang namanya kartu lebaran (sepertinya dari dulu ada, tapi pas saya SMP baru marak). Menjelang akhir ramadhan adalah saat yang deg-degan di depan pintu, menunggui tukang pos mengantar surat. Yang mana salah satunya berpeluang berupa kartu lebaran untuk saya. Oh, menerima kartu lebaran, perasaannya tak terlukiskan. Rupanya sedari kecil sudah merasakan nikmatnya eksistensi. Senang bukan kepalang. Sepertinya ada perhatian tulus dari si pengirim, dan ia sungguh berniat mengucap maaf lebih cepat, meskipun nantinya akan ada acara halal bi halal pas masuk sekolah. Selain kartu itu, tradisi keliling-keliling pun masih terjaga. Pokoknya lengkaplah.
SMA, handphone mulai marak. Ah, SMS. Berkesan sekali. Ketika mendapat SMS, terasa sekali perhatiannya. Sungguh niat ia mengucap maaf, padahal kan pulsa mahal, padahal kan nanti juga ada halal bi halal. SMS menjadi berbalasan. Terjadilah maaf-maafan. Masih, masih, seingat saya, tradisi keliling masih oke, kartu lebaran pun belum tersingkirkan sepenuhnya.
Barulah pas kuliah, ada kenikmatan yang agaknya berkurang. Entahlah mungkin karena saya semakin besar, semakin mempertanyakan apa-apa yang dianggap mapan. Waktu itu saya tidak tahu tepatnya apa yang bikin lebaran semakin terkikis maknanya. Maka itu, ini adalah opini dari sudut pandang saya berdiri sekarang. Untuk mencoba tahu kenapa begitu?

Waktu kuliah itu, saya termasuk yang mengusahakan SMS lebaran orisinil. Biasalah, lagi doyan-doyannya Kahlil Gibran, mestilah SMS itu puitis adanya. Saking seringnya saya SMS yang berbau kalimat indah, setiap mau lebaran, ada beberapa teman yang sudah pesan, "Rip, ntar SMS lu SMS-in ke gua ya, biar gua forward-forward-in." Saya ingat satu SMS saya yang pernah digunakan dalam tiga lebaran berturut-turut, yakni: Manusia lahir lewat kesalahan (Adam), hidup bergelimang kesalahan, dan mati meninggalkan kesalahan. Apakah maaf bisa menghapus kesalahan? Tidak. Tapi maaf bisa mengingatkan, bahwa kita manusia. Minal Aidin Wal Faidzin. - Syarif Maulana -. Menurut saya itu keren.
Tapi begitulah, momen lebaran terkikis karena: saya, begitupun teman-teman, menjadi terbatas pada 'seni meminta maaf', bukan meminta maaf itu sendiri. Menjelang lebaran, saya jadi rajin baca-baca, buka kamus, atau apalah, biar menemukan inspirasi bagaimana menulis SMS lebaran yang keren dan orisinil. Sambil lupa pada siapa nantinya akan saya kirimkan, dan kepuasan apa yang saya dapat setelah orang membacanya: apakah perasaan bahwa saya dimaafkan, atau saya ini keren?
Semakin lama, saya mulai sadar orang-orang mulai latah dan standar dalam berbagi SMS-nya, Yang puitis macam saya pun semakin banyak. Malah sekarang ada yang pakai gambar segala. Fokus pada seni itu meluputkan orang pada satu hal yang lama-lama saya sadar itu tidak ada, yakni: sapaan. Mending mana? gambar ketupat berwarna plus puisi dahsyat tapi kau tahu itu dikirimkan send to all, atau SMS sederhana, berisikan kalimat sederhana, tapi, "Syarif, maafin gue ya, atas kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja, semoga lebaran ini kita bisa bersuci kembali. Mohon maaf lahir dan batin." Mending mananya saya serahkan pada kau sajalah. Tapi yang pasti, buat saya, yang kedua jauh lebih enak dan humanistik. Yang pertama? mungkin saja kau bikin itu keren-keren, peras otak, download sana-sini. O, usaha yang luar biasa. Tapi ketika kau kirimkan, tak satupun kau lihat namanya. Dan setelah beres semuanya, kau sudah merasa kau telah meminta maaf pada seluruh manusia dalam phonebook-mu, begitukah?
Ah, tengok lagi itu spanduk, reklame, atau apa-apa yang terpampang raksasawi. Ucapan selamat Idul Fitri bertebaran dimana-mana, bikin polusi mata. Seolah-olah iya, mereka ini minta maaf sama kita, dan iya, kita ini memaafkan mereka dari lubuk hati yang paling dalam. Padahal, barangkali, mereka awalnya sibuk saja, cari desain yang bagus, cari harga yang miring, cari spot yang oke, cari kepentingannya apa jika dipampang disini, disitu, kenapa tidak disana, tanpa menyelami makna bermaafan itu sendiri. Belum lagi sekarang, ah, ada facebook. Bermaafan kala lebaran semakin latah dan tak lebih dari sekedar tradisi.

Majunya teknologi memakan korban yang lain, yakni tradisi berkunjung keluarga saya yang semakin berkurang. Kau tahu, sekarang orangtua saya semakin sibuk mengirim SMS, facebook-an, dan menerima parsel, alih-alih merencanakan berkeliling seperti jaman itu. Kalau ditanya kenapa, mereka jawab, "Yah, sekarang kan sudah ada teknologi, kenapa harus repot-repot berkeliling lagi? kan saudara-saudara kita pada jauh." Oh, repotkah itu? Jika demikian, jangan-jangan, bukan jarak saudara yang jauh yang menyebabkan kita memanfaatkan teknologi, tapi teknologilah yang menyebabkan saudara kita terasa 'jauh'.

Oh, sungguh, maaf-maafan menjadi semakin sederhana. Dari tadinya butuh peluh keringat, air mata, dan kebesaran hati, sekarang urusannya jadi ibarat semudah menekan tombol.

Minal aidin wal faidzin. Sederhana kan?




Sumber gambar:
http://budimeeong.wordpress.com/2008/09/30/dari-tinta-untuk-lebaran/
Continue reading

Rabu, 16 September 2009

Kisah Anak Penjual Ubi Cilembu

Kisah Anak Penjual Ubi Cilembu
Ini kisah nyata. Pengalaman saya. Baru saja, sekira pukul 10.30 dialaminya. Sebelum bergegas mengajar, saya tentunya mestinya melewati pagar rumah. Seketika itu, di depan gerbang, lewatlah seorang anak perempuan, usianya sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Pakaiannya lusuh, pun tubuhnya. Ia membawa dua keresek besar berwarna hitam. Isinya apa entah tak kelihatan. Seketika ia datang menghampiri, bergumam apa tak jelas. Saya yang buru-buru, cepat-cepat berpikir bahwa ia anak yang minta shadaqah. Alah, biasa kan di kala mau lebaran. Anak-anak kecil sering keliling minta uang.

"Hui Cilembu-nya, A,"
"Apa? Hui?" saya bertanya balik.
"Iya, A, ini hui asli Cilembu. satu keresek lima ribu"
"Oh, oke oke sebentar," saya mengambil dompet di saku, mengintipnya, lalu melihat ada uang seratus tujuh puluh empat ribu. Karena saya pelit dan pecahan uangnya agak kurang enak, maka saya ambil si empat ribu. Saya sodorkan padanya, dan sadar uangnya kurang untuk beli satu keresek pun, maka saya bilang:
"Neng, ambil aja, hui-nya buat neng ya?"
Alih-alih senang, si anak malah terdiam lalu bilang:
"Empat ribu bisa buat tiga perempat keresek, A, saya ambilin ya?"
"Ga usah, neng, ambil aja yah uangnya, gak papa kok," ujar saya sambil masih memegang uang di tangan.
Si neng dengan cepat mengepak kereseknya, lalu berkata, "Pamit dulu ya, A."
Eh dia ngeloyor!
Saya kaget, "Neng, neng, tunggu sebentar, ini deh ini deh, saya beli dua-duanya, uangnya dua puluh ribu ya,"
"Saya ga ada kembalian, A,"
"Oh, gak papa, Neng, buat Neng aja kembaliannya. Tapi hui-nya tetep gakan saya ambil lagi ya? Buat neng jualan lagi aja."
"Saya gak mau, A. Aa, tetep harus ngambil hui-nya"

Waduh, jika kau menjadi saya. Sungguh sulit mengambil hui-nya. Kenapa? Karena di rumah saya belum tentu ada yang berminat, dan khawatir itu akan jadi mubazir. Saya sempat tertegun sejenak, sebelum ayah saya berseru dari pintu rumah, "De, ambil aja hui-nya." Ia memberi isyarat dengan mengatupkan mata perlahan sambil mengangguk, seolah berkata, "Ambil saja, dia akan lebih bahagia kalau kita mengambilnya." Oh, baiklah, akhirnya saya ambil itu dua keresek hitam yang bahkan saya belum lihat isinya. Si anak pergi sambil mengucap terima kasih. Saya tak menjawab karena tak bisa berhenti memandanginya.

***

Kau tahu, itu seperti pengalaman sepele. Tapi buat saya, maknanya banyak, barangkali setara Siddharta di Pohon Boddhi atau Muhammad di Gua Hira. Hehe. Saya jadi sadar, kesalahan pertama saya adalah: saya berprasangka negatif pada anak ini. Karena menyangka akan meminta shadaqah, saya lekas-lekas ingin menyelesaikan pertemuan tanpa mendengarkan ucapannya. Kau tahu lah, setiap dari kita mungkin punya kesadaran untuk berbagi harta, tapi kadang kita tak suka jika itu diminta. Kedua, saya pelit. Ia berjualan lima ribu, eh saya kasih empat ribu karena itu pecahan yang paling enak untuk 'dibuang'. Tapi ya itu, kepelitan saya juga berangkat dari keburukan prasangka. Karena saya pikir dia mau minta shadaqah, jadi alah, biar kelihatan berusaha, dia perhalus saja dengan berjualan. Yang mana entah terjual entah tidak, yang penting ia dapat uang.

Sambil menyetir menuju tempat tujuan, saya merenung takada habisnya. Saya kira anak tadi seorang agnostik. Tahu kenapa? ia tidak percaya bahwa lebaran adalah momen dimana Tuhan berbagi rejeki lewat belas kasihan. Ia hanya percaya, bahwa rejeki datang jika ia mau berusaha mencarinya. Itu tebakan ngasal sepertinya, tapi sebenarnya, rasa malu saya yang mendominasi. Kau tahu, ketika kau berpikir bahwa Tuhan mewahyukan dirinya lewat hal-hal hebat seperti Nabi, Rasul, Al-Quran, atau para ustadz yang rajin cari muka di televisi, ternyata saya mendapati hal yang lain sama sekali. Ia datang, berbicara sebagai anak yang menjual ubi: kecil, lusuh, tak berdaya, dan terbuka untuk ditindas siapa saja. Kau tahu, sungguh malu ketika siapa saja mereka yang status sosialnya ditinggikan, ternyata masih mau menerima uang tanpa mengeluarkan keringat, yang lantas membungkusnya dengan "rejeki Tuhan". Inilah ia, si anak penjual ubi Cilembu. Menyentuh kalbuku. Membuatku malu.

Neng, semoga kau menjadi presiden RI kelak nanti. Insya Allah negara ini akan jujur. Biarlah urusan gender jangan kau pikirkan.

Continue reading

Senin, 14 September 2009

Tiga Kritik terhadap Agama



Kau tahu, menulis posting ini tidaklah mudah. Pertama, tidak semua orang senang membicarakan agama sebagai bahan kritisi. Ini untuk mereka yang yakin betul bahwa agama berasal dari Tuhan, dan Tuhan adalah kebenaran yang tak terdebatkan. Kenapa? karena mereka menganggap Ia berada di luar wilayah pemahaman manusia, dan cuma bisa dicerap oleh rasa percaya alias iman. Kedua, tidak mudah juga mengkritisi agama, jika kau adalah bagian yang lekat darinya berpuluh tahun lamanya. Ini sama saja dengan mendadak berbicara lancang pada orangtuamu, -yang telah membesarkan dan menyekolahkanmu dari kecil- memberinya komentar dan saran tentang bagaimana cara membesarkan anak yang baik, padahal kau belum punya anak. Tapi kelancangan tak selalu soal benci, adapun justru karena kau sayang. Kau sekedar ingin menunjukkan pada orangtuamu:

Mah, Pah, ini aku, sudah kau sekolahkan, dan ini ilmunya kugunakan, untuk berbagi sesuatu yang mungkin saya tahu dan kalian tidak tahu, sebagaimana halnya kau sudah memberikan banyak hal yang kau tahu dan saya tidak tahu.
Karena, o, kendati kalian hidup lebih lama, tapi pengalaman indrawi kita berbeda.

Begitulah, meski ada niat saling memperkaya, tapi selalu saja ada tendensi yang berbeda. Tuduhan lancang, tak tahu diuntung, durhaka, atau bodoh, pastilah ada. Hanya saja, ini niat saya, bahwa saya mengajukan kritik ini karena rasa cinta saya terhadap agama, sebagaimana cinta saya pada kedua orangtua. Suatu cara pengejawantahan cinta yang tidak umum barangkali, karena cinta biasanya bertalian erat dengan "menerima apa adanya". Namun saya tak bisa serta merta demikian, setiap sadar saya dianugerahi nalar. Ketika Bambang Sugiharto di depan kelas mengajukan kritik-kritiknya terhadap agama, maka ia menujukan itu untuk "membongkar aspek ilusoris agama, agar kita semua dapat intinya". Keren.

Ada tiga kritisi yang akan saya ajukan. Dan saya tidak malu jika ada beberapanya merupakan kutipan (memangnya saya saja yang mengkritik agama?). Tapi pengambilan referensi itupun hanya akan dilakukan jika relevan dengan pengalaman. Perlu diingat, ketika berbicara agama, orang sering terjebak dan akhirnya membicarakan Tuhan. Menurut saya, keduanya entitas yang berbeda meskipun bisa berkaitan. Tulisan ini adalah soal agama, yang sengaja saya posting sebelum lebaran, agar jika terjadi hal yang kurang berkenan, bisa langsung maaf-maafan. =p

1. Narsis

Alkisah Narsisus, orang Boeotia yang dianugerahi wajah yang tampan, jatuh cinta kala melihat bayangannya sendiri di kolam. Ia tak tahan, lalu menerkam, lantas tenggelam. Untuk apa saya ceritakan itu? Karena kata narsis belakangan tak lagi jelas dan diucapkan dimana saja seolah tiada artinya. Ini sekedar mendudukkan kembali darimana kata Narsis berasal, dan dalam konteks apa ia sebaiknya digunakan.

Agama, seperti halnya Narsisus, punya kecenderungan mencintai diri sendiri. Ia seperti melihat ke cermin, dan terus-terusan berkata bahwa saya baik dan saya benar. Di satu sisi, ini bagus, dan menunjukkan kepercayaan diri. Ketika seseorang percaya diri, maka ia akan resisten dan berpotensi maju terus mengatasi rintangan. Namun ini menjadi berbahaya, ketika kepercayaan akan eksistensi diri tidak ditunjang dengan empati. Ini sama dengan oposisi biner modernitas: jika tidak satu, maka nol. Jika saya ganteng, maka yang lain diluar saya buruk rupa. Jika saya baik, maka yang lain diluar saya jahat. Dan ini, ini, justru kecenderungan agama kebanyakan.

Dalam tradisi agama saya, memang ada ayat yang menekankan pluralisme agama, tapi sedikit sekali, kalau tidak bisa dibilang satu ayat. Sisanya ada penekanan istilah kafir, sebagai orang yang tidak mau mengimani agama saya ini. Dan kafir dipastikan berdosa, masuk neraka, untuk disiksa akibat kesalahannya itu. Saya yakin ungkapan macam ini ada di agama-agama lainnya, meski detilnya saya tak paham benar. Jika urusannya masih terkait dengan pengerasan identitas barangkali masih bolehlah, tapi tak jarang kenarsisan ini malah destruktif. Perang Salib, Pemberontakan Taiping, Pemberontakan Sri Lanka, Pemberontakan Teratai Putih, serta Pemberontakan Syal Kuning, adalah buah narsisme agama yang menghasilkan jutaan korban jiwa.

Bisa saja memang pelbagai perang dan pemberontakan tersebut didasari rasa tertekan oleh penguasa. Tapi agama biasanya berandil besar untuk membentuk landasan pemersatu yang kuat dan mendadak membuat manusia mau mentransformasikan nilai-nilai kehidupannya ke hari kemudian, dalam arti kata lain: berani mati. Ada pemahaman yang bagus sekali dari Bilangan Fu-nya Ayu Utami, bahwa persoalan terjadi karena ada "angka satu". Ketika agama berandil merepresentasikan "Tuhan yang satu", maka itu sama dengan, oposisi biner itu tadi, "Tidak ada Tuhan yang lain" atau "Tuhan yang lain itu nol". Demikian kenarsisan itu bisa berbuah konflik.

2. Dogmatis

Jika soal ini, saya benar-benar terinspirasi dari kuliah Bambang Sugiharto: dogma itu begini, katanya; ia adalah pernyataan, yang seolah-olah menggambarkan suatu kenyataan. Dalam Islam, dogma terkandung dalam aqidah, yakni seperti iman kepada Allah, nabi dan rasul, kitab, malaikat, hari akhir, dan takdir baik-buruk. Persoalannya, kata Pak Bambang: pernyataan dogma selalu ingin dianggap sebagai kenyataan sejati yang tak terbantahkan. Padahal, realitas ilahi itu bisa tertangkap dengan common sense biasa-biasa saja, tak perlu pakai dogma segala. Yang jadi bahaya itu ketika, kita menganggap dogma sebagai kebenaran, tanpa lebih dulu menggunakan common sense.

Misalnya, ini barangkali yang terjadi dengan aksi terorisme: ketika dogma seolah-olah mengatakan "membalas orang kafir yang sudah menzalimi orang muslim itu wajib hukumnya, dan sama dengan jihad", maka barangkali mereka ini sudah lupa dengan hati nurani yang bagi saya, 'mudah didengarkan jika mereka mau', yakni: membunuh itu tidak boleh adanya. Pastilah, saya yakin, mereka mau capek-capek melaksanakan bom bunuh diri, dengan lebih dulu bergulat dengan hati nuraninya. Hati nuraninya itu kemudian diperlawankan dengan dogma yang sudah ditanamkan oleh para atasannya.

Pak Bambang, masih Pak Bambang, pernah dengan baik mencontohkan soal hati nurani, bahwa: kita semua tidak serta merta menerobos lampu merah, bukan semata-mata karena takut polisi; dan kita tidak membunuh sesama, bukan karena semata-mata takut dosa. Poinnya adalah, kita semua punya kesadaran alamiah, yang bertendensi menuju kebaikan, dan itu merupakan hal di luar reward-punishment yang ditawarkan dogma agama. Apakah dengan demikian kita bisa hidup tanpa agama dengan tetap baik, benar, dan normatif? Mungkin sekali bisa, jika hati nurani terus memandu, hati nurani yang kata Franz Magnis Suseno, adalah Allah itu sendiri.

3. Eskapis

Para atheis terkemuka dalam sejarah filsafat Barat, macam Feuerbach, Marx, Sartre, Freud, dan Nietzsche, secara garis besar sepakat bahwa agama tidak lebih daripada pelarian manusia dari kenyataan, kebebasan, dan keberdikarian. Marx cukup kencang menyuarakan ini, bahwa agama tak lebih daripada candu, ia merusak masyarakat dengan ajarannya yang kontraproduktif dengan semangat proletariat kaum komunis, seperti misalnya pesimis dan fatalis. Freud bilang, bahwa dalam penelitian psikoanalisisnya, orang beragama dan orang sakit jiwa punya gejala yang mirip, yakni, ya itu, eskapisme. Seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya ketika bermasalah, demikian halnya orang beragama, yang lari pada Tuhan alih-alih menyelesaikan persoalannya. Dengan tegas ia mengatakan agama tak lebih daripada: neurosis kolektif (sakit jiwa massal) dan ilusi infantil (halusinasi yang kekanak-kanakan).

Saya pernah, dalam penelitian saya tentang Konfusianisme, eskapisme itu sebenarnya tergantung. Tergantung apa? tergantung: bagaimana tingkat kedetilan agamamu bercerita tentang hidup setelah mati. Dalam Islam, jelas bahwa soal akhirat ini menjadi salah satu tema utama. Meskipun dalam pemahaman saya, Islam sering menekankan keseimbangan dunia-akhirat, tapi bagaimana kau bisa percaya itu seimbang, jika akhirat dikatakan kekal? Maka itu, dampaknya, ketika hari akhir diceritakan secara detil, kau akan kehilangan banyak makna di dunia, karena pikiranmu selalu mengeskapiskan diri ke alam sana. Dalam Konfusianisme, beda lagi (ini dengan asumsi Konfusianisme adalah agama, meskipun banyak yang bilang bukan), ketika Konfusius mendapat pertanyaan dari muridnya, "Guru, apakah kematian itu?", dijawab sang saga: "Kau tidak akan paham kematian, sebelum paham kehidupan." Dan ini signifikan terhadap pandangan dunia (world view) masyarakat Tionghoa. Orang Tionghoa mencari nilai-nilai akhirat dengan mengeksternalisasikan nilai-nilai keduniawiannya. Misalnya, mencari uang di dunia, adalah sama dengan memperkaya diri di akhirat; punya rumah bagus di dunia, adalah sama dengan yang ia dapatkan nantinya di akhirat. Jadi eskapisme ini tidak bisa dipukul rata. Eskapisme dalam Buddha bahkan menekankan untuk melepaskan diri dari dunia sepenuhnya, karena dunia adalah samsara, penderitaan dan kesengsaraan.

***

Tadinya, biar keren, saya ingin mencantumkan lima, yakni dua poin tambahan: statis dan paradoks. Statis berarti agama adalah produk lama, dan sulit menyesuaikan diri dalam hiruk pikuk kehidupan jaman sekarang, sedangkan paradoks berarti berbagai kontradiksi dalam agama, misal: diajarkan untuk berpikir, tapi kenyataannya lahan untuk berpikir dalam agama itu sering tergerus oleh iman. Namun saya sadar, kedua poin tersebut sangat erat kaitannya dengan interpretasi manusia. Memang, tiga poin awal juga pastinya berkaitan dengan interpretasi, namanya juga teks. Tapi, tiga awal itu setidaknya, tanpa campur tangan manusia, kelihatannya memang begitu adanya. Narsis tertulis, dogma tertulis, eskapisme juga ada. Kalau statis dan paradoks saya cantumkan juga, pastilah ada komentar klise: gimana orangnya itu mah.

Semoga posting ini memang menunjukkan kecintaan saya. Amin.


Sumber gambar:
http://www.motifake.com/image/demotivational-poster/0807/religion-demotivational-poster-1216727967.jpg
Continue reading

Kamis, 10 September 2009

Cin(T)a: Polemik Akut yang Akhirnya Diangkat

Tadinya saya ragu menonton film tersebut. Sungguh, selalu ada perasaan skeptik tentang film Indonesia, apalagi yang berbau cinta-cinta-an. Biasanya ceritanya klise dan cenderung cengeng. Ingin terkesan mendalam, tapi malah melankolik brutal. Apalagi ini judulnya "vulgar" sekali, semakin saja menunjukkan minimnya kreativitas sineas kita. Meski demikian, ada tiga alasan yang akhirnya mendorong saya untuk coba-coba: Pertama, poster filmnya cukup unik. Ia ditulis "Cin(T)a". Bikin lumayan penasaran. Kenapa ada huruf "T" dikurung begitu? Kedua, katanya ini tentang pacaran beda agama, yang mana saya sempat mengalaminya. Boleh lah saya lihat demi merefleksikan pandangan-pandangan saya waktu itu. Ketiga, ini paling kurang penting, tapi justru jadi pemicu terbesar kenapa saya mesti nonton: kakak saya jadi figuran, meski cuma beberapa detik.
Film ini durasinya cukup pendek, dan isinya didominasi oleh dialog kedua insan beda agama itu, namanya Cina (diperankan Sunny Soon) dan Annisa (Saira Jihan). Cina adalah seorang Kristen dan keturunan Tionghoa. Sedangkan Annisa seorang Jawa yang Islam. Keduanya terlibat jalinan percintaan yang diawali dari pertemuan intens berkaitan dengan tugas akhir Annisa. Cina hadir di saat yang tepat dan banyak membantunya. Akhirnya, keduanya memutuskan pacaran berkat bantuan seorang tukang baso (ini menurut pandangan saya, tapi pasti sutradara tak sependapat). Ketika Annisa memanggil Cina dengan sebutan "Cin", tukang baso (yang gerobaknya sedang mereka tongkrongi) menginterpretasi panggilan itu sebagai kependekan dari "Cinta". Sehingga tukang baso bertanya iseng pada Cina, "Itu pacarnya ya? Kok manggilnya Cin?" Si Cina menolak karena memang bukan pacarnya. Namun setelah diceritakan kejadian tersebut pada Annisa, mereka tertawa kecil, lalu berpegangan tangan untuk pertama kalinya, yang bolehlah disimbolkan sebagai bentuk pacaran. Benarkah berkat si tukang baso?
Kelanjutan ceritanya, ya begitulah, seperti dugaan orang Indonesia kebanyakan, bahwa cintanya sulit direstui. Perbedaan agama menjadi jurang utama. Pergulatan pemaknaan atas perbedaan itulah yang menjadi bobot film tersebut. Dialog antara Cina dan Annisa, perlu diakui, cukup punya nilai filosofis dan tidak cengeng serta klise seperti film cinta-cinta-an Indonesia kebanyakan. Memang karena terlalu filosofis dan serius, dialognya menjadi kurang cair dan berkesan terlalu dramatik, macam Romeo and Juliet.

Pertama, ini sebuah terobosan yang, tapi, tak tepat juga disebut terobosan. Maksudnya, isu cinta beda agama sudah sering terdengar dalam realitas keseharian, namun baru ada yang mau mengangkatnya. Entah kenapa, apakah karena orang Indonesia jika sudah berbicara agama sudah seperti orang sakit jiwa kah? Apapun itu, saya salut dengan sineasnya, yang mau mendudukkan sebuah topik lama ke dalam wacana baru. Wacana baru, karena ketika itu sudah difilmkan, maka lebih banyaklah orang mau mendiskusikannya dalam forum, blog, facebook, atau workshop. Sehingga lama kelamaan isu tersebut bisa jadi semacam wacana pengetahuan dan tidak punya unsur-unsur ketabuan yang kurang jelas. Ini Bagus.
Hanya saja, hanya saja, begini, ini sayangnya. Ketika sutradara punya ide yang bagus, segar, antusias, dan mendalam, adalah penting untuk mengemasnya agar pesan itu sampai. Banyak sekali karya seni yang punya ide brilian, tapi tak punya cara yang baik untuk mengomunikasikannya, sehingga mentah di jalan. Ini terasa, pertama, dari kualitas gambar film itu sendiri. Jujur saja, terasa kurang bagus dan seadanya. Kuat sekali imej film indie-nya. Tidak dibangun melalui jaringan rumah produksi raksasa seperti Punjabi dkk contohnya. Kedua, bagaimanapun, ini debut film Sunny Soon dan Saira Jihan, yang mana tak bisa dibohongi dari aktingnya yang kikuk dan kurang mengajak saya untuk ikut hanyut bersama emosinya. Ketiga, pesan soal Ketuhanan dan perbedaan agama, sungguh padat dalam keseluruhan film. Padahal, sepertinya, pertanyaan-pertanyaan macam "Kenapa Ia ciptakan kita berbeda-beda, jika ia ingin disembah dengan satu nama?" adalah hal yang common sense saja, tidak perlu diangkat secara berlebihan. Barangkali jika diceritakan pengalaman religius yang lebih "tidak terlalu direct", mungkin saya bisa lebih merasakan kedalaman isi cerita.

Tak perlu saya bahas banyak-banyak sepertinya tentang si film, karena saya pun tak bisa memberi masukan bagaimana baiknya. Hanya saja soal cinta beda agama ini, memang pelik sekaligus lucu. Dan pertanyaan yang sering saya ajukan adalah seperti ini, "Jika Tuhan tahu apa yang dia lakukan, pasti dia juga tahu kenapa ia memberikan cinta untuk para pasangan." Artinya, cinta beda agama adalah rencana Tuhan juga. Itu paling mudah jadi argumentasi logis pertama. Yang kedua, yang paling asyik, adalah: Tuhan itu sama aja lah, satu, esa, yang bikin beda adalah manusia, yakni si pencipta agama itu. Jadilah jika kedua argumentasi itu bisa diyakinkan dalam keteguhan hati, maka seterusnya barangkali tinggal menghadapi batu besar bernama administrasi, protokol, dan kultur, yang mana di Indonesia tak memihak cinta beda agama. Entahlah, Indonesia itu paradoks sepertinya, plural tapi membenci perbedaan.
Yang saya simpulkan sementara ini adalah: bahwa Tuhan, dalam agama dan argumentasi apapun, selalu dikonstruksi manusia untuk kepentingan pragmatis manusia itu sendiri. Artinya, kerahasiaan dzat Tuhan, adalah ruang multitafsir mahabesar. Dan tafsir manusia, sejauh pengamatan saya, adalah tafsir yang selalu berkaitan dengan pemuasan kepentingan dirinya. Misal: Tuhan adalah ayah, maka itu ditujukan demi memenuhi figur ayah dalam dirinya. Tuhan adalah tempat curhat, maka ya, dia berguna sebagai ruang tempat mengadu. Tuhan itu senang perang, maka menangkanlah aku, kaumku, karena Kau membenci mereka. Maka ketika aku menang, Ya Tuhan, kekuasaan ini milikku, dan kusebarkan agama-Mu.
Termasuk ketika argumentasi dua insan untuk membenarkan cinta beda agamanya. Dia pilih lah Tuhan mana yang bisa mendukung dirinya, ketika dalam agamanya masing-masing, Tuhan satu tak kenal Tuhan lainnya. Ia pilih Tuhan plural, Tuhan fleksibel, atau apapun lah namanya.


Continue reading

Senin, 07 September 2009

Romance of The Babel


The Confession of Tongues (Gustave Dore)


Voor Mijn Vlinder


Jij altijd in mijn hart
Tot nieuw huis dat wordt gebouwd
Na dat
Ga weg van mijn hart, o, vlinder
Vlieg altijd aan mijn oogleden

Fuer mein Schmetterling

Du bleibst fuer immer und ewig in meinem herzen
Bis ein neues haus erschaffen wuerde
Danach
Geh von Herzen, o, schmetterling!
Flieg immer zu meinen augen

为了我的蝴蝶

你永远在我心中
直到有一个新的家
然后
请远离我的心,哦,蝴蝶!
飞来向我的眼睑。。。总是

Pour mon Papillon

T'es dans mon coeur pour toujours
jusqu'à ce qu'il créerai la nouvelle maison
après ça
dégage-toi de mon coeur, o, papillon!
vole toujours à ma popillère

Watashi no Chocho ni Tsutaete Koto O

Kimi ga watashi no kokoro ni itsu made mo iru
Atarashii uchi o tsukutta ato mo iru
Sono ato
Kokoro no naka kara itte, o, chocho!
Mayu made itsumo tondeiru

나의 나비에게

영원히 나의 마음 속에
새로운 그 집을 생길 때까지
그리고, 나비야..
나의 마음에서 떠나와
나의 눈 앞으로 훨 훨 날아와

Untuk Kupu-Kupuku

Selamanya kau di hatiku
Hingga tercipta itu rumah baru
Setelah itu
Pergilah dari hati, o, kupu!
Terbang menuju pelupuk mataku selalu
Continue reading

Jumat, 04 September 2009

Surga di Telapak Kaki Kapitalisme

Konon, surga itu ada di atas sana. Tempat dimana semua-muanya ada. Semua yang menyenangkan dan membahagiakan tubuh dan jiwa, tinggal minta langsung tersedia.
Jujur, takut masuk neraka itu pasti, tapi saya juga takut masuk surga. Terbayang jika memang ia kekal, berarti betapa tidak menariknya berada di surga: ketika apa-apa hadir dengan sendirinya tanpa perlu berusaha. Tidakkah terkadang hidup menjadi menarik, karena adanya istilah "mengejar bahagia"? Artinya, bahagia adalah manifestasi dari sebuah usaha. Tanpa usaha, bahagia tak pernah ada dengan sendirinya. Karena jangan-jangan, kebahagiaan adalah usaha itu sendiri. Sekian berfilosofinya, karena saya sesekali ingin berbagi pengalaman kongkrit juga.

Alkisah, setiap Jumat malam, saya bekerja di hotel Hilton Bandung. Pekerjaan saya adalah menghibur para tamu lewat musik dan senyum. Hilton, barangkali hotel yang cukup dikenal, reputasinya internasional. Setidaknya orang mengenalnya lewat sosialita Paris Hilton yang rajin bikin heboh lewat reality-show serta sex tape-nya. Untungnya bukan Paris lah penyebab Hilton berdiri. Hotel itu awalnya bikinan Conrad Hilton di tahun 1919 (Conrad itu entah kakek atau buyutnya Paris). Sejak itu, bisnisnya berkembang pesat, buka cabang dimana-mana, dan menjadi salah satu hotel terdepan di dunia. Jika mau dikaitkan dengan budaya pop, hotel Hilton di Amsterdam pernah ditiduri oleh John Lennon dan Yoko Ono, ketika mereka sedang melancarkan protes bernama Bed in-for Peace selama seminggu (25 Maret-31 Maret 1969). Protes yang dilancarkan terhadap Perang Vietnam itu, menunjukkan aksi tidur bersama John dan Yoko tanpa bercinta, dan melahirkan slogan terkenal: "Make Love not War".
Bohong jika saya tidak bangga dan bahagia ketika direkrut menjadi bagian dari Hilton. Hanya jika saya seorang Marxis dan terorislah barangkali yang bisa membuat saya benci perekrutan ini. Reputasi global, upah layak, perlakuan istimewa, dan satu lagi, saat jeda diantara performa, saya disuruh beristirahat untuk merasakan seserpih surga di dunia. Jika surga bercerita soal makanan yang tiada habisnya, yang dengan leha-leha boleh kita minta yang manapun juga tanpa berusaha, maka tak berlebihan memang inilah serpihannya, di resto (hampir seperti aula sebenarnya saking besarnya) bernama Purnawarman itu. Benar-benar beragam makanannya, dan saya boleh ambil manapun yang saya suka. Setelah diambil, tak lupa si pelayan memberikan senyumnya, membukakan serbet, menuangkan air, dan menawarkan menu-menu lainnya.

Itu tempat saya makan di jam istirahat. Tempat saya tampil, adalah restoran bernama Fresco, di lantai enam. Tempatnya romantis dan remang-remang, temanya Italia. Di pinggir restonya, terdapat kolam renang tak beratap, sehingga airnya memantulkan cahaya bintang dan bulan. Suasana tempatnya hangat dan damai. Cukup apresiatif untuk diterpa bebunyian gitar klasik. Meja-mejanya juga dipenuhi lilin, sehingga wajah para tamu berkedut-kedut oleh cahaya yang mungil. Latar belakang yang serba temaram itu dilengkapi oleh suara-suara ramah berbunyi: Malam Pak, Malam Bu, yang intinya menyambut para tamu. Amboi, mendadak ada gadis lewat, pakai bikini. Tak perlu ditanya, kami toh sudah tahu, ia mau berenang. Berkecipak-kecipak dalam dinginnya kolam kala malam.

Saya bukan anti-Marx. Saya mengagumi pemikirannya, dan saya tahu ia punya surga versinya. Cerita tentang kondisi sama rata sama rasa, dimana para manusia berderajat setara soal kepemilikan, tanpa ada kelas-kelas sosial yang merintangi. Bagus, Marx, dan luar biasa jika itu kelak bisa kejadian. Dengan cerita surganya, ia menyimbahi dunia ini dengan darah, lewat pertarungannya melawan surga para kapitalis, yang mengisyaratkan: surga hanya ada dalam kelas sosial tertentu, mereka yang dibilang para pemilik modal. Hilton jelas masuk dalam kategori kapitalis menurut Marxian. Ia memiliki modal, alat produksi, dan mempekerjakan buruh, yang salah satunya adalah saya. Maka menurut Marx, seyogianya saya mesti bersatu dengan buruh-buruh sedunia untuk lalu menggalang revolusi proletariat dan menggulingkan tampuk kekuasaan borjuis sehingga akhirnya modal dimiliki bersama.

Tapi tolong Marx, itu keren, tapi tidak sekarang, izinkan saya menahan keinginan itu, karena di hadapanku ini, terhidang waffle dan crepes yang dilumuri saus maple, mangga dan vanila, dan didampingi eskrim rum raisin. Saya tidak tahu apakah di jamanmu para buruh disuguhi hal semacam ini? izinkan saya rehat sejenak, mencicipi surga musuhmu, untuk kemudian kelak ikut denganmu, menjadikannya surgamu. Sebelumnya, saya turut menyesal pada para teroris, karena sungguh saya tak yakin surga kalian lebih indah dari yang saya punya. Di mejaku ini, ada surga, yang meski tak menyediakan semuanya, tapi diperoleh dari kerja keras, usaha, dan tak perlu melenyapkan nyawa.







Continue reading

Minggu, 30 Agustus 2009

Wajah











"Eh, ketemuan aja yuk? Gak enak nih ngobrolnya via telepon."


Sepertinya kita sering mengucapkan petikan kalimat tersebut, terutama jika menyoal urusan bisnis atau perumusan ide-ide tertentu. Meski secara teknis kesepakatan bisa diperoleh lewat kecanggihan teknologi belakangan, tapi sebuah pertemuan tetap punya kekuatan, yang intinya: saya ingin melihat wajahmu. Atau dalam konteks orang berkasih-kasihan, seringkali ada perasaan ingin jumpa ketika sekian lama SMS-an atau chatting. Bertemu berarti punya kesempatan merasa secara fisik, tapi juga berarti: saya ingin melihat wajahmu. Di koran, ada berita gempa di suatu daerah. Orang yang mengetahuinya dengan deskripsi keadaan dan angka-angka korban jiwa lewat teks berita, akan sangat berbeda dengan ia yang pergi ke daerah bencana, mendeskripsikan langsung lewat subjektivitasnya, lantas punya sedikit harapan pada para korban: saya ingin melihat wajahmu.
Dulu, saya tak pernah betul-betul memikirkan arti seraut wajah. Yang saya tahu, ia punya ukuran kualitas yang dinamakan ganteng dan cantik. Lalu secara lebih spesifik, wajah bisa dikonstruksi: ditato, ditumbuhi jerawat, dicukur jenggot serta kumisnya, atau dipotong rambutnya. Pemaknaan lebihnya paling sebatas, bahwa wajah adalah pembeda antar manusia, selain nama. Pada akhirnya, dalam sebuah kuliah Extension Course Filsafat di Unpar, sang pembicara, Romo Haryatmoko, mengungkapkan tema soal wajah, yang sukses merangsang saya untuk mengetahui lebih jauh. Pada saat kuliah yang berlangsung sekira tiga tahun lalu itu, saya memang tak paham betul apa yang diucap Romo. Tapi, ya itu tadi, setidaknya saya jadi tahu bahwa soal wajah pernah diperbincangkan secara filosofis. Salah satu sumbangsih penting kuliah tersebut adalah: saya jadi tahu seseorang bernama Emmanuel Levinas.
Tak lama setelah kuliah tersebut, kebetulan sekali ayah membelikan saya buku berjudul Antropologi Filsafat Manusia: Paradoks dan Seruan karya Adelbert Sneijders. Disana ada sub-bab tentang filsafat wajah Levinas, begini potongan kata-katanya:

"Terhadap wajah sesamaku, kebebasanku terikat secara etis. Aku menemukan sesamaku dalam "wajah yang telanjang" yang mengatakan "terimalah aku dan jangan membunuh aku". Aku tidak boleh menafsirkan sesamaku sebagai "alter ego" (aku yang lain). Diri sesama menampakkan diri sebagai sesuatu yang mutlak lain, fenomena yang serba baru. Dan ini tidak dapat direduksi menjadi suatu eksponen dari suatu keseluruhan dan kebersamaan. Segala usaha untuk memahaminya justru akan merendahkan diri sesama sebab "memahami" berarti meniadakan keunikan dan kekhasannya." (hal 49-50)

Paragraf diatas, meski lumayan jelas maksudnya, tapi bagi saya, tuturannya masih terlalu umum dan metafisis. Aplikasi baru terasa setelah saya membaca sebuah novel brilian karya Kobo Abe, judulnya Face of Another. Ini adalah kisah tentang seorang kepala institut terkemuka di Jepang yang mengalami ledakan ketika sedang melakukan percobaan kimia di laboratorium. Wajahnya menjadi hancur dan tak berbentuk. Kemana-mana ia mesti diperban karena wajahnya berubah mengerikan. Hubungannya dengan banyak orang menjadi terganggu dan yang terburuk: istrinya menolak diajak bercinta. Lalu dia mendendam, ternyata: orang menerima dirinya selama ini bukan karena kualitas intelektual dan caranya beretika, melainkan karena wajah. Akhirnya, untuk membalas dendam, kecerdasannya mendorong ia membuat topeng yang sempurna dan terlihat seperti wajah alami (catatan: detail Kobo Abe dalam menggambarkan pembuatan topeng wajah alaminya sungguh memukau dan saintifis). Cerita ini kemudian menuturkan tentang bagaimana dengan wajah barunya, ia menguji orang yang terlalu percaya wajah, termasuk istrinya. Dalam satu bagian, diceritakan sebuah adegan yang membuat saya berdecak kagum: yakni ketika sang suami berubah wajah (catatan: juga berubah identitas untuk menguji istrinya) lantas istrinya akhirnya mau diajak bercinta, tidakkah menjadi sebuah kisah perselingkuhan yang brilian?

Saya mendadak teringat Nabi Muhammad SAW. Jika dalam versi filosofi di atas, wajah dianggap penting sebagai penanda "yang liyan" serta gerbang komunikasi menuju dunia, kenapa beliau dilarang untuk diwajahkan? Barangkali begini: Setiap kita mendengarkan sebuah ide (biasanya ide yang bagi kita brilian), keingintahuan kita seringkali mengusik; seperti apa gerangan wajah si pengungkap ide? Selalu ada upaya seperti itu, mencerap dunia fisik untuk "membuktikan" secara empiri akan "kebenaran" sebuah ide yang abstrak. Dalam contoh yang lebih keseharian, misal kita mendengar satu gosip atau omongan miring, sering ada ucapan terlontar, "eh, mana orang yang digosipin tuh? Pengen liat deh mukanya." Ini menunjukkan, bahwa sebenarnya masing-masing dari kita sungguh menganggap bahwa wajah adalah gerbang menuju eksistensi itu sendiri: ada wajah-ada manusia-ada ide-ada ungkapan ide. Maka ketika wajah Rasulullah dilarang, rasa-rasanya saya bisa bilang: bahwa ada ide, yang bisa terungkap tanpa wajah, tanpa manusia, tanpa eksistensi.
Saya bukan tidak mengimani eksistensi Rasulullah, hanya saja, keberadaannya itu sendiri rasanya bukan sesuatu yang penting, ketimbang ide-idenya. Ketika kita tahu bahwa sebuah ide muncul dari seraut wajah, maka otomatis ide itu sendiri mempunyai "kepemilikan", atau keunikan dalam bahasa Levinas. Ketika berandai, Rasulullah digambarkan wajahnya seperti si fulan, maka otomatis, sang ide menjadi milik wajah si fulan, atau setidaknya identik dengannya. Ini mungkin bisa menjawab juga, kenapa Tuhan sering digambarkan macam-macam, -padahal ia mungkin cuma sekedar ide abstrak- barangkali: karena keinginan untuk "memiliki". Jika berandai-andai kucing membuat simbolisasi tentang Tuhan, kemungkinan ia akan membuat kucing raksasa. Ketika Kristianitas membuat simbol tentang wajah Kristus, kemungkinan itu ada kaitannya dengan ras dan kekuasaan, kalau tidak, kenapa Kristus bukan seorang negro atau melayu? Saya tidak membela agama manapun, tapi saya lama-lama setuju dengan ketakberwajahan Rasulullah. Karena dengan demikian, ia tidak dimiliki siapa-siapa dan tidak eksis di tengah golongan tertentu yang menyerupai wajahnya. Meski ada asal usulnya dari bangsa mana ia dan lahir di daerah mana, tetap ketiadaan wajah membuatnya tak bisa dikenali secara indrawi. Orang tak bisa bilang dia "unik" karena tak mempunyai wajah. Namun lawan dari uniklah yang kemudian muncul, yakni universalitas. Ketika wajah tak dipertunjukkan, maka universalitas yang muncul ke permukaan. Ketika Tuhan disimbolkan, maka ia tak lebih dari kepemilikan lewat kekuasaan tertentu.

Apakah dengan keberhasilan Rasulullah menularkan ide-idenya ke seluruh dunia, saya menganggap wajah tak penting dan menampik argumen Levinas dan Abe? Tidak, tidak, saya setuju sekali: wajah adalah gerbang komunikasi antara kita dan dunia. Tanpanya, sulit bagi kita untuk memahami dan dipahami orang lain. Wajah adalah simbolisasi humanisme yang paling mendasar dan tak lekang waktu, itu mengapa dalam dunia teks dan digital dewasa ini, orang tetap menghargai kewajahan lewat simbol-simbol emoticon. Hanya saja, bagi saya, gerbang menuju dunia bukanlah dunia itu sendiri. Wajah bagi saya cuma mengingatkan: bahwa kita berada dalam dunia manusia yang unik, paradoks, dan dipenuhi kehendak atas kuasa. Tapi ketiadaan wajah juga membuat saya waras: bahwa kita sekaligus berada dalam dunia abstrak yang mana manusia tak berkuasa di dalamnya.



Sumber foto:
http://farm2.static.flickr.com/1143/793002157_343721001a_o.jpg
Continue reading