Sunday, June 25, 2017

Masih Adakah Nuansa Personal Dalam Pusaran Digitalisasi Maaf-Maafan?

Lebaran tahun 1438 Hijriah ini, dunia digital masih dan semakin berkuasa. Nyaris setiap menit (atau bahkan detik), pesan demi pesan masuk ke Whatsapp saya, yang kadang saya baca, tapi umumnya tidak. Kenapa tidak dibaca? Tentu saja, karena pesan itu semua terlihat sama saja. Mungkin ada beberapa yang kreatif - yang menimbulkan senyum kecil, yang membuat saya ingin meneruskan pesan itu - tapi sayang sekali, tidak orisinil. Ia yang saya pikir kreatif itu, juga meniru dari yang lain. 

Tapi dalam dunia kontemporer ini, mungkin orisinalitas adalah isu yang ketinggalan. Semua memproduksi, semua mengonsumsi. Di masa lebaran, kita berada dalam pusaran "digitalisasi maaf-maafan" yang sangat masif, sehingga semua bisa kreatif, semua bisa inovatif, semua bisa merajut kata-kata indah, semua bisa menyuguhkan ragam visual yang estetis, tapi sekaligus: semua menjadi tidak bermakna.

Pada titik ini, kita sudah sulit berbicara "medium is the message"-nya Marshall McLuhan yang mungkin menjadi terlampau romantis. Kemarin-kemarin ini memang ada yang kirimi saya kartu lebaran dan rasanya sangat indah dan personal - meski pesannya sederhana, tidak dirangkai kata-kata manis-: hanya tulisan "Selamat Idul Fitri" dengan tertanda dari si pengirim dengan tulisan tangan. Tapi hampir tidak mungkin kita membudayakan kembali (atau menyuguhkan solusi berupa) kartu lebaran atas nama personalisasi maaf-maafan. Jika sudah ada yang praktis, tentu orang sudah tidak mau lagi kembali ke yang rumit (proses membeli kartu, menuliskan pesan, dan mengirimkan via pos atau gojek). 

Sisa-sisa makna yang masih tinggal di pusaran digital ini barangkali pesan-pesan sederhana yang masuk ke gawai saya, dengan bunyi-bunyi seperti:

"Rip, maaf lahir batinnya, urang rea salah."
"My bro, selamat hari raya Idul Fitri ya."
"Selamat idul fitri untuk Mr. Syarif, mami Aika, Aika dan family. Mohon maaf lahir dan batin."

Dan sebagainya yang punya nuansa personal yang kuat. Mungkin memang diantaranya hanya mengganti subjek yang disapa saja (sedangkan kata-kata berikutnya tinggal copy-paste saja), tapi toh, seperti kata pemikir Neo-Marxisme, Louis Althusser, perbuatan itu sedikitnya telah menciptakan suatu nilai interpelatif atau "keterpanggilan". Artinya, jangan dulu berpikir apakah ketika kita mengirimkan pesan lebaran, orang yang menerima akan memaafkan kita atau tidak. Jauh lebih dasariah daripada itu, patut kita pertanyakan terlebih dahulu: Apakah yang menerima pesan, merasa terpanggil (untuk membaca dan meresapinya) atau tidak.



Continue reading

Tuesday, June 13, 2017

Menunda Asumsi, Melesapi Peristiwa: Selayang Pandang Konsep Fenomenologi dalam Pandangan Husserl dan Caputo



Pada awal abad ke-20, muncul benih-benih perlawanan terhadap paradigma positivisme dalam ilmu pengetahuan. Cara pandang yang sudah sedemikian lekat sejak era Francis Bacon di abad akhir ke-16 tersebut dianggap tidak mampu menjawab sejumlah permasalahan. Protes mulai bermunculan ketika Auguste Comte, seorang sosiolog Prancis di abad ke-19, menyerukan dengan sangat yakin, bahwa sebagaimana halnya alam yang bisa diprediksi dan dikontrol, manusia pun akan sampai pada tahap yang demikian. Majunya ilmu pengetahuan, bagi Comte, akan membawa manusia keluar dari fase teologis dan metafisik, sehingga masuk ke suatu era yang paling cerah: era positif. Pada titik ini, sederhananya, segalanya menjadi jelas dan bisa dijelaskan, baik fenomena alam maupun fenomena manusia. 

Protes tersebut datang dari beberapa kubu. Wilhelm Dilthey misalnya (1833 – 1911), membedakan tegas antara ilmu-ilmu alam (naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu manusia (geisteswissenschahften). Ilmu-ilmu alam, menurut Dilthey, dipahami melalui penjelasan (erklären) sedangkan ilmu-ilmu sosial dipahami melalui pemahaman (verstehen). Artinya, pola penafsiran ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial mesti dibedakan dan tidak bisa dipukul rata seperti positivisme Conte. 

Edmund Husserl (1859 – 1938), di wilayah lain, mengajukan konsep fenomenologi untuk menambal lubang-lubang yang tidak bisa ditutup oleh positivisme. Menurut matematikawan Jerman tersebut, dunia pengalaman keseharian manusia yang muncul di dalam dunia-yang-ditinggalinya (lebenswelt) tidak bisa dijelaskan begitu saja oleh positivisme. Harus ada pendekatan baru yang sarat nilai (bukan bebas nilai), (inter) subyektif (bukan obyektif), dan penuh empati (bukan berdiri di luar). Konsep sentral dalam fenomenologi adalah epoché atau tanda kurung. Husserl selalu mengingatkan pentingnya memasukkan segala asumsi-asumsi ke dalam tanda kurung sebagai bentuk penundaan kesimpulan. Makna terdalam, kata Husserl, hanya akan timbul jika kita tidak melihat lewat kacamata yang sudah kita pakai sebelumnya. 

Fenomenologi Agama 

Pada ranah teologi, kemudian muncul juga istilah fenomenologi agama. Kata “fenomenologi” ini sebenarnya tidak mengacu pada Husserl, tapi pada G.W.F. Hegel yang sudah menggunakannya terlebih dahulu di periode Romantik Eropa. Fenomenologi agama dikembangkan awal mulanya oleh Pierre Daniël Chantepie de la Saussaye (1848-1920), William Brede Kristensen (1867-1953) dan Gerardus van der Leeuw (1890-1950). Inti fenomenologi agama adalah memahami keberbedaan dalam beragama berdasarkan pengalaman-pengalaman personal individu ataupun kelompok yang memeluknya. Meski tidak dilahirkan dari rahim yang sama, namun prinsip epoché tetap ada dalam fenomenologi agama: harus ada proses menunda asumsi dan meletakannya dalam tanda kurung, sehingga fenomena keberagamaan dapat dipahami secara empatik dan inter-subyektik. 

Ketimbang dua nama lain, Van Der Leeuw dapat dikatakan sebagai peletak dasar fenomenologi agama yang lebih sistematis – dicurigai karena ia sudah kena terpaan dari Husserl -. Dalam bukunya yang berjudul Religion in Essence and Manifestation: A Study in Phenomenology of Religion, ia menyebutkan langkah-langkah penggalian makna keagamaan, dengan prinsip epoché sebagai sentral. Langkah-langkah itu antara lain: (1) Pengklasifikasian. Termasuk ke dalam apakah fenomena keagamaan yang hendak diketahui, apakah kurban, tempat suci, waktu suci, teks suci, festival, mitos, dan sebagainya. (2) Keterlibatan. Makna hanya bisa dikuak jika kita masuk ke dalam fenomena itu sendiri – menjadi bagian darinya –. (3) Epoché. Menahan asumsi dan menunda kesimpulan tentang fenomena tersebut jangan sampai kita terburu-buru – biarkan fenomena yang “berbicara” tentang dirinya sendiri -. (4) Mencari hubungan fenomena dengan struktur yang lebih besar agar pemahaman kita dapat lebih holistik. Misal: puasa adalah bentuk asketisme yang ada hampir di semua agama besar. (5) Melakukan pendekatan interdisiplin dengan melibatkan tradisi pemikiran lain seperti filsafat, psikologi, antropologi, hingga linguistik agar kompleksitas fenomena dapat diurai dengan jernih. 

Fenomenologi Agama John D. Caputo: Tuhan sebagai Yang Lemah dan “Membelum” 

John D. Caputo (lahir tahun 1940) adalah filsuf asal Amerika Serikat yang menggeluti teologi dari kacamata posmodernisme. Ia begitu dekat dengan pemikiran filsuf Prancis, Jacques Derrida, terutama mengenai dekonstruksi – beberapa kali juga mereka pernah tampil satu forum -. Pendekatan Caputo sangat erat dengan teologi negatif (apofatik) yang kuat kaitannya dengan prinsip epoché. Teologi negatif, pada dasarnya, merupakan teologi yang mendekati konsep Tuhan dengan “yang bukan” (lawannya adalah teologi positif atau teologi katafatik yang mendekati konsep Tuhan dengan “adalah”). 

Ini mungkin bisa kita bayangkan dengan bagaimana seorang peneliti fenomenologi, jika ia sedang berhadapan dengan fenomena, ia harus senantiasa menempatkan asumsi-asumsi ke dalam epoché sambil terus menegasi dengan berkata “yang bukan”. Misalnya, jika menjadikan sendal sebagai objek penelitian fenomenologi, maka peneliti tersebut harus senantiasa membuang asumsi, dan terus menegasi dengan mengatakan bahwa sendal adalah “bukan (semata-mata) alas kaki” dan “bukan (semata-mata) komoditi”. Sendal mungkin punya makna yang lebih daripada itu, jika diselami secara total, misal: ekspresi ritual shalat di Indonesia. 

Caputo menawarkan konsep weak theology sebagai implementasi dekonstruksi, teologi apofatik, sekaligus fenomenologi yang menjadi dasar pemikirannya. Ia ingin melihat Tuhan bukan lagi yang Maha Kuat, Maha Absolut, dan Maha Segalanya. Pandangan-pandangan tentang Tuhan harus didekonstruksi menjadi yang lemah, terbatas, dan hanya timbul dari pengalaman-pengalaman partikular – pada titik ini, Caputo mulai masuk pada fenomenologi -. Hanya konsep Tuhan dalam weak theology ini, menurut Caputo, yang bisa relevan dengan peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara. Kita akan melihat Tuhan selalu dalam proses “menjadi” dan “membelum” dan seolah-olah kian terdewasakan bersama peristiwa-peristiwa. 

Daftar Referensi 

Connolly, Peter. 1999. Aneka Pendekatan Studi Agama. Yogyakarta: LKIS
Heltzel, Peter Goodwin. 2006. The Weakness of God: A Review of John D. Caputo, Weakness of God: A Theology of The Event. http://www.jcrt.org/archives/07.2/heltzel.pdf
Media Stanford Encyclopedia of Philosophy. Phenomenology. https://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/
Van Der Leeuw, Gerardus. 2014. Religion in Essence and Manifestation. New Jersey: Princeton University Press
Continue reading

Sunday, June 11, 2017

Manusia di Hadapan Teknologi: Tuan atau Budak?

Kita sering menyebut abad ini sebagai abad teknologi. Nyaris tidak ada satu hal pun yang kita lakukan tanpa melibatkan bantuan teknologi. Teknologi juga telah membawa kita pada hal-hal yang sulit terbayangkan sebelumnya: Mengetahui berita lintas benua secara langsung, mempublikasikan sebuah pesan serentak ke seluruh dunia dalam waktu kurang dari sedetik, berkendara melampaui samudera, hingga menembus atmosfer dan melayang-layang di ruang hampa udara. Ketika Era Renaisans bermula pada sekitar tahun 1500-an, masyarakat Eropa mulai mempertimbangkan rasionalitas sebagai pusat dari kehidupan manusia dan mengembangkannya tanpa henti. Hingga abad-abad ke depannya, kredo “manusia mengendalikan alam” terus menjadi sandaran bagi setiap perkembangan teknologi. Umat manusia serta merta ada pada ledakan kegembiraan setiap ada penemuan baru. Mereka percaya bahwa kita semua, seperti kata Friedrich Hegel, berada pada suatu perjalanan menuju pencerahan. 

Namun menjelang abad ke-21, ketika teknologi menjadi semakin canggih, para pemikir tidak lagi fokus pada bagaimana teknologi dapat menaklukkan alam serta menunjukkan kedigjayaan manusia. Neil Postman, Martin Heidegger, Jurgen Habermas, Herbert Marcuse, John Zerzan, hingga Don Ihde, mulai merenungkan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang hilang akibat kemajuan teknologi ini. Pada tulisan ini, hanya akan dibahas sari-sari dari dua pemikir saja, yaitu Postman dan Heidegger. Dari pemikiran dua orang itu, mungkin kita bisa ikut merenungkan pertanyaan yang diajukan dalam judul esai ini, apakah manusia, jika berhadapan dengan teknologi, menjadi tuan atau malah menjadi budak?  

Mendefinisikan Teknologi 

Teknologi tidak selalu terkait dengan hal-ikhwal penemuan abad modern. Pada dasarnya, segala benda yang membantu manusia dalam kehidupan, dapat dikatakan sebagai teknologi –atas dasar itu, teknologi juga dapat dikatakan sebagai “extension of men”-. Kata dasar dari teknologi itu sendiri adalah techne, yaitu istilah dalam bahasa Yunani yang berarti seni, keterampilan, atau kerajinan tangan –jika tangan kita sebut juga sebagai teknologi, apakah kita bisa katakan teknologi sebagai “extension of mind”?-. Atas dasar itu, maka sudah sejak zaman prasejarah, manusia menggunakan teknologi seperti batu, kayu, atau logam. Bahkan sebelum manusia prasejarah berkembang menuju spesies homo erectus (manusia yang berdiri tegak, seperti manusia hari ini), terlebih dahulu mereka mengalami fase homo habilis. Homo habilis diartikan sebagai manusia yang menggunakan alat. Artinya, teknologi, pada dasarnya, mendahului segala peradaban, bahkan kebudayaan.  

Kemudian bagaimana hubungan antara sains dan teknologi? Secara umum mungkin kita dapat menyebutkan bahwa sains ada terlebih dahulu, untuk kemudian lahir darinya sebuah teknologi. Namun tidak selalu seperti itu. Jika direnungkan lebih lanjut, maka sebenarnya teknologi itu sendiri mendorong sains. Kita bisa melihat bagaimana ilmu pengetahuan mengenai mikroba misalnya, hanya dimungkinkan jika sudah ditemukan teknologi mikroskop. Juga sulit untuk dibuktikan apakah manusia, pada awalnya, menemukan sains atau teknologi terlebih dahulu? Bisa saja ketika manusia prasejarah memburu binatang dengan menggunakan teknologi tombak, ia tidak dalam “kesadaran saintifik”, melainkan semata-mata berlandaskan insting untuk bertahan hidup saja. 

Neil Postman: “Pertukaran Faustian” 

Neil Postman (1931-2003) adalah pemikir yang cukup kritis dalam mengomentari keberadaan teknologi. Ia kerap berpikir bahwa teknologi baru tidak pernah mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah buku mengenai televisi berjudul Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business (1985). Dalam buku tersebut, ia mengatakan bahwa kehidupan masyarakat kontemporer adalah refleksi dari novel karya Aldous Huxley yang berjudul Brave New World (1931). Dalam novel tersebut, digambarkan bahwa kelak, masyarakat akan tertekan bukan oleh kontrol pemerintah – seperti yang dituliskan oleh George Orwell dalam 1984-, melainkan oleh kecanduan akan hiburan. Postman lantas menunjuk sumber candu akan hiburan itu adalah televisi. Meski demikian, yang dibahas dalam tulisan ini bukanlah bukunya mengenai televisi, melainkan esainya yang berjudul Five Things We Need to Know About Technological Change. Dalam esai tersebut, Postman melontarkan lima hal yang mungkin bermanfaat bagi para audiens: –ia membacakan esai tersebut dalam sebuah konferensi mengenai teknologi-.  


  • Pertama, keberadaan teknologi baru, oleh Postman, dikatakan sebagai “pertukaran Faustian”. Ketika teknologi baru datang, maka ada yang sekaligus dicerabut dari kehidupan manusia. Misalnya, kehadiran teknologi kendaraan bermotor, membawa dampak serius pada pencemaran udara dan keindahan kota; Teknologi medis memang menyembuhkan banyak orang, tapi juga sekaligus berdampak pada jenis penyakit yang juga bertambah; Keberadaan mesin cetak berpengaruh luar biasa. Ia bisa menyebarkan ide-ide seperti misalnya nasionalisme, secara serentak, pada masyarakat. Namun ingat bagaimana nasionalisme di era Romantik berkembang menjadi patriotisme yang merusak. Intinya, ada yang direnggut dari kehidupan kita, ketika teknologi baru hadir.  
  • Kedua, keuntungan yang didapat dari teknologi baru, tidak pernah merata untuk seluruh populasi. Selalu ada yang diuntungkan, ada yang dirugikan, bahkan tidak merasakan apapun. Postman kemudian memberi contoh dengan keberadaan televisi. Menurutnya, televisi tentu mendatangkan keuntungan dengan membuka lapangan kerja baru semisal teknisi, pembawa acara, penyiar berita, hingga para penghibur. Namun di sisi lain, keberadaan televisi menyebabkan, misalnya, –dalam jangka panjang- karir guru sekolah pelan-pelan berakhir. Keberadaan karir guru sekolah, tidak bisa tidak, merupakan efek dari kehadiran teknologi mesin cetak. Namun seiring dengan informasi yang ditebar melalui televisi (yang ia sekaligus juga perlahan menggantikan peran mesin cetak), peran guru sekolah menjadi minim dan informasi-informasi yang ia berikan menjadi kalah intensitas dengan yang diberikan oleh televisi.  
  • Ketiga, teknologi mengubah cara berpikir kita akan dunia. Misalnya, dulu, Raja Solomon disebut sebagai yang paling bijaksana karena mampu mengingat tiga ribu kalimat bijak. Kemudian muncul budaya tulis menulis yang membuat peran ingatan menjadi tidak sepenting sebelumnya. Orang yang suka menulis, ia lebih erat dengan logika dan analisis; orang yang terbiasa dengan telegraf, ia lebih erat dengan kecepatan; orang yang terbiasa dengan televisi, ia lebih erat dengan kesegeraan; orang yang terbiasa dengan komputer, ia lebih erat dengan informasi. Artinya, teknologi mengubah cara kita dalam menggunakan pikiran. Kemana perginya konsep kebijaksanaan Raja Solomon? Mungkin semakin kemari, hal semacam itu semakin mustahil.  
  • Keempat, perubahan yang disebabkan oleh teknologi, adalah perubahan yang bersifat ekologis. Sebagai analogi, apa yang terjadi jika air sebelanga ditetesi tinta merah? Apakah yang terjadi adalah air sebelanga plus tinta merah semata-mata? Tidak, yang terjadi adalah air dalam belanga tersebut keseluruhannya berubah menjadi merah. Artinya –jika dikembalikan pada konteks teknologi-, perubahan yang disebabkan oleh teknologi selalu mengubah lingkungan secara keseluruhan. Ketika mesin cetak ditemukan pada sekitar tahun 1500-an, maka yang terjadi bukanlah wajah Eropa plus mesin cetak, melainkan mesin cetak yang merubah wajah Eropa secara keseluruhan. Ketika Amerika menemukan televisi, maka yang terjadi bukanlah wajah Amerika plus mesin cetak, melainkan seluruh Amerika yang berubah dari berbagai aspek.  
  • Kelima, teknologi dapat berkembang menjadi mitos tersendiri. Tidak semua orang dapat menerima bahwa, misalnya, alfabet, adalah sesuatu yang ditemukan. Mereka menganggap bahwa alfabet memang ada dengan sendirinya. Lebih gawat lagi, kemudian orang juga mulai berpikiran bahwa hal-hal seperti mobil, pesawat, televisi, film, dan koran, adalah hal-hal yang ahistoris dan ada begitu saja. Mereka lupa bahwa keberadaan teknologi, tidak bisa lepas sedikitpun dari konteks politik, ekonomi, budaya, dan sejarah. Selain itu, jika tiba-tiba terdapat usul bahwa sebaiknya televisi tidak perlu lagi ada iklan, maka serta merta orang akan protes. Mengapa? Karena sudah seperti mitos bahwa keberadaan televisi pasti juga sepaket dengan keberadaan iklan.  


Martin Heidegger: “Menjauhkan dari Poiesis” 

Martin Heidegger (1889 – 1976) adalah filsuf Jerman yang banyak membicarakan tentang fenomenologi dan eksistensialisme. Meski demikian, terdapat salah satu karyanya berjudul The Question Concerning Technology (1954) yang membahas mengenai esensi dari teknologi. Menurut Heidegger, teknologi, pada dasarnya melakukan pembingkaian (enframing; gestell) terhadap pandangan kita akan dunia. Melalui teknologi, kita serta merta melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikuasai dan dimanipulasi. Heidegger mengakui, dengan keberadaan teknologi, manusia berhasil menyibak sesuatu dari yang tadinya gelap menjadi terang. Namun harus diakui, lanjutnya, ketersibakan ini adalah sekaligus juga ketertutupan di sisi yang lain. Dalam bukunya tersebut, Heidegger memberi contoh bagaimana keberadaan pembangkit listrik di Sungai Rhine telah mengubah fungsi dari sungai tersebut menjadi sebuah energi untuk kehidupan manusia. Namun di sisi lain, sungai sebagai sebuah penampakkan alam yang utuh, menjadi tersembunyi di waktu yang sama. 

Pada mulanya, lanjut Heidegger, teknologi bersifat erat dengan alam. Penciptaan teknologi baru tidak bersinggungan dengan alam. Para pengrajin di Yunani Kuno misalnya, dianggap sebagai orang-orang yang mampu merepresentasikan keindahan alam lewat karya-karyanya seperti kursi, patung, lukisan, dan lain-lain. Namun semakin modern, teknologi menghilangkan kemungkinan alam untuk menampilkan pesona dirinya (bringing forth; poiesis). Dalam arti kata lain, teknologi semakin melepaskan diri dari hakikat ke-alamiah-an. Kita akan selalu melihat teknologi sebagai sesuatu yang bertentangan dengan alam. 

Komentar 

Pemikiran-pemikiran mengenai teknologi tersebut sangat mungkin tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap kemajuan teknologi itu sendiri. Kita bisa melontarkan tuduhan bahwa renungan-renungan yang disampaikan oleh Postman dan Heidegger, adalah sebuah aktivitas tidak populer ketika dunia sains semakin maju dengan penemuan demi penemuan yang membantu kehidupan manusia. Namun tanpa perlu membaca pemikiran para filsuf tersebut, pada dasarnya kita mulai sadar bahwa teknologi itu mempunyai dampak negatif bagi nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, kita sering sekali menemukan orang-orang yang duduk semeja tapi tidak berbincang satu sama lain karena sibuk dengan gadget-nya –ada istilah bagus untuk fenomena ini, yaitu “end of conversation”-; ada orang-orang yang pandai bergaul di media sosial, namun ternyata pendiam di dunia nyata; ada orang-orang yang merasa sudah pandai dengan berdebat menggunakan link-link dunia maya, ketimbang referensi dari buku, guru, atau dosen mereka; ada anak-anak yang tumbuh berkembang dengan ucapan dan tindakan yang berada di luar kontrol orangtua, akibat akses terhadap internet yang terlalu terbuka; dan sebagainya. Hal yang dipaparkan di atas masih berupa problem kemanusiaan, belum masuk pada problem ekologis seperti kerusakan lingkungan.  

Satu-satunya jalan terkait teknologi ini barangkali adalah “hubungan bebas”. Hubungan bebas merupakan suatu sikap menjaga jarak dengan teknologi agar tidak terjadi suatu ketergantungan yang akut. Keberadaan teknologi, secanggih apapun, mesti tetap disikapi dengan kesadaran penuh sehingga jika teknologi itu mengalami kerusakan –seperti yang diramalkan oleh Heidegger bahwa teknologi, ketika rusak, maka ia tergeletak tidak berdaya dan kita baru sadar bahwa teknologi hanyalah benda, bukan “extension of man” apalagi “extension of mind”-, maka kehidupan kita tetap baik-baik saja. 

Juga harus disadari bahwa ada hal-hal tertentu yang memang tidak bisa digantikan oleh teknologi apapun. Seperti kata Heidegger, kita tetap harus membiarkan poiesis melingkupi hidup kita, seperti misalnya: Senyum yang mengembang, bunga yang mekar di pekarangan, buku tua dengan segala wewangiannya yang khas, serta kicau burung dari atas pohon. Hal-hal semacam itu adalah bentuk ketersingkapan alam yang paling sejati. Kita tidak bisa mencerap sepenuhnya melalui teknologi, secanggih apapun.  

Daftar Referensi  

  • Haviland, William A. 2004. Cultural Anthropology: The Human Challenge. The Thomson Corporation.   
  • Heidegger, Martin. 1982. The Question Concerning Technology. HarperCollins.  
  • Huxley, Aldous. 2010. Brave New World. Rosetta Books.  
  • Postman, Neil. 1986. Amusing Ourselves to Death: Public Discourse in The Age of Show Business. Penguin Books.  
  • Postman, Neil. 1998. Five Things We Need to Know About Technological Change.

Continue reading

Friday, June 9, 2017

Menahan Diri dari Berbelanja, Bisakah?

Bulan Ramadhan telah datang, dan umat Muslim di Indonesia pada umumnya berpuasa – atau setidaknya, begitulah kelihatannya-. Seperti kita ketahui secara umum, puasa berarti menahan diri dari segala kenikmatan badani seperti makan, minum, dan seks. Tidak hanya itu, puasa juga menekan nafsu-nafsu negatif lainnya seperti membicarakan kejelekan orang lain, menghina, melihat hal-hal tidak senonoh, atau mungkin juga, menyebarkan hoax (untuk yang terakhir ini, belum kelihatan buktinya). 

Namun ada hal yang tidak pernah dibahas sebagai bagian dari nafsu “negatif” yang faktanya terjadi saat bulan puasa hingga nanti lebaran, yaitu nafsu berbelanja. Menjadi konsumtif adalah salah satu tren yang umum terjadi di Indonesia pada periode ini. Misalnya, yang biasanya makan di rumah, karena sekarang makan menjadi momen istimewa, maka lebih indah jika makan itu beli jadi, atau sekalian di restoran, sambil reuni. Menjelang lebaran nanti, apalagi. Baju baru menjadi tujuan hidup yang utama, karena seolah menjadi simbol bagi sebuah hidup baru yang penuh kesucian. Kadang tidak hanya baju baru, tapi bisa juga mobil baru atau bahkan rumah baru. 

Berbelanja memang bukan suatu “dosa”. Malah perniagaan itu sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad. Menjadi konsumtif berarti juga menggerakkan roda ekonomi dan menjadikan pihak-pihak tertentu merasa diuntungkan. Namun mari berpikir sejenak dan menjauhkan diri dari keriuhan: Apakah berbelanja sekarang ini lebih sentral dan lebih esensial dari ibadah puasa itu sendiri? Mari juga merenungkan: Sebenarnya, puasa itu, untuk apa, sih

Puasa tidak hanya milik umat Muslim. Tradisi-tradisi keagamaan lain juga punya puasanya sendiri. Misalnya, kepercayaan Baha’i punya periode puasa sembilan belas hari di bulan Maret yang disebut sebagai bulan ‘Ala’; Buddhisme pun demikian adanya. Puasa dijadikan bagian dari meditasi demi mencapai kesehatan jasmani dan rohani; Belum lagi kaum Nasrani punya versi puasanya yang lain -yang berbeda juga dengan Yudaisme, Jainisme, Sikhisme, dan sebagainya-. 

Puasa, walaupun berbeda-beda asupannya, atau juga waktunya, tapi intinya tetap satu: Menahan diri. Puasa mungkin semacam latihan agar tubuh ini tidak “nakal” dan malah menjadi terlatih senantiasa -tidak sedikit-sedikit tunduk pada hawa nafsu-. Asumsinya, jika tubuh ini berhasil dijinakkan, maka jiwa manusia akan lebih sampai untuk memahami sang khalik. Seperti kata Plato: Tubuh adalah penjara jiwa. 

Maka itulah, jika puasa adalah latihan, maka mungkin tujuannya kira-kira: mengerem segala sesuatu agar nafsu dan tindakan tidak selalu bertalian. Belanja, harus diakui, adalah sebuah kegiatan yang tidak jarang, didasari juga oleh nafsu. Misalnya, nafsu ingin memiliki, nafsu mendapat pengakuan, ataupun nafsu untuk menjustifikasi bahwa kita harus membeli ini karena kita sudah “menderita” sepanjang hari. “Saya kan, sudah menahan lapar dan haus selama satu bulan. Apa salahnya, sih, setelah itu, makan bermewah-mewah dengan baju-baju indah,” ujar seseorang, mungkin. 

Jadi, apakah kita masih ingat dengan tujuan berpuasa? Atau jangan-jangan, puasa telah dikomodifikasi secara sistematis sehingga orang-orang menjadi lupa akan tujuan utamanya? Belum apa-apa, di televisi, sudah muncul iklan sirup yang menyatakan bahwa berbuka puasa bagusnya dengan sirup tersebut; belum apa-apa, sudah muncul iklan baju koko dan sarung apa yang tepat untuk kita nanti solat Idul Fitri; belum apa-apa, lagu-lagu Islami sudah diputar di berbagai toko ataupun restoran sehingga kita merasa berpahala ketika tengah mengonsumsi; belum apa-apa, tiket kereta sudah diborong karena keharusan untuk mudik; belum apa-apa, sudah memilih barang mana yang harus digadaikan agar bisa pulang kampung nanti. 

Dunia yang kian kapitalistik memang telah mengaburkan batas antara yang profan dan yang sakral. Misalnya, ketika natal di Prancis, orang tidak lagi saling menyapa dengan “Selamat Natal!” tapi “Bonne fĕte!” yang jika diartikan kurang lebih: “Selamat berpesta!”. Tapi hal yang semacam itu tidak terlalu salah juga. Agama dan kapitalisme memang punya hubungan mesra sudah sejak lama. Orang tidak akan merasa keberatan keluar uang banyak asalkan itu punya motif agama – sama halnya dengan hubungan kapitalisme dengan anak-anak, yang orangtua manapun kelihatannya susah menolak jika harus membeli sesuatu untuk kepentingan anaknya-. 

Suka tidak suka, fenomena di Indonesia juga sudah mulai seperti itu, meski orang masih malu-malu. Inginnya, sih, saling menyapa seperti ini, “Selamat menunaikan ibadah berbelanja. Mohon maaf lahir dan batin, karena saya, tahun ini, akan mengonsumsi lebih banyak dari tahun kemarin.”

Sumber gambar: http://www.zerohedge.com/news/2014-05-27/religion-cosnumerism

Continue reading

Kelas Logika: Berpikir Induktif

Berpikir induktif berarti berpikir dari kejadian khusus ke kesimpulan yang bersifat umum. Pada dasarnya, cara berpikir kita memang demikian adanya, termasuk pada saat berpikir deduktif sekalipun. Misalnya, pada silogisme yang paling umum seperti: 

Semua manusia akan mati 
Sokrates adalah manusia 
Sokrates akan mati

Premis “semua manusia akan mati” sebenarnya hanya abstraksi dari pengalaman-pengalaman kita akan matinya beberapa manusia. Pada dasarnya, secara epistemologi, kita tidak bisa mengetahui apakah semua manusia itu mati atau tidak. 

1. Argumen Kausal Mill 

Pada abad ke-19, seorang pemikir Inggris, John Stuart Mill merumuskan lima argumen kausal. Argumen kausal dengan berpikir induktif adalah saling bertalian. Hal tersebut sesuai dengan definisi Aristoteles tentang sains, yaitu, “Penjelasan atas segala sesuatu dengan menelusuri sebab-sebabnya.” Penelusuran sebab-sebab tersebut oleh Mill dibagi ke dalam lima bagian. 

1.1. Metode Kesamaan 

Metode kesamaan dapat ditunjukkan lewat sebuah contoh penemuan fluoride dan hubungannya dengan penurunan tingkat kerusakan pada gigi di pertengahan abad ke-20. Daerah yang orang-orangnya mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, setelah diteliti, adalah daerah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya. Setelah membandingkan ke beberapa wilayah yang mempunyai kandungan fluoride yang tinggi di sumber airnya dan ternyata benar orang-orang di tempat tersebut mempunyai tingkat kerusakan gigi yang rendah, maka disimpulkan berdasarkan metode kesamaan bahwa fluoride adalah zat yang mampu menurunkan tingkat kerusakan gigi. Contoh lainnya, seorang guru hendak mengetahui mengapa empat siswanya mengalami keracunan. Setelah diselidiki, siswa 1 memakan sup, roti, salad, dan apel kalengan; siswa 2 memakan sup, roti, sayur, dan apel kalengan; siswa 3 memakan roti, sayur, salad, dan apel kalengan; siswa 4 memakan sup, salad, sayur, dan apel kalengan. Berdasarkan data tersebut maka dapat diperoleh hasil bahwa keempat siswa tersebut sama-sama memakan apel kalengan. Maka itu dapat disimpulkan bahwa apel kalengan adalah penyebab para siswa keracunan. 

1.2. Metode Perbedaan 

Metode perbedaan dapat ditunjukkan lewat contoh tentang separuh penumpang pesawat yang mendadak sakit perut. Maskapai penerbangan menawarkan dua jenis makanan pada penumpang, yaitu ayam atau lasagna untuk makan malam. Mereka yang sakit perut adalah yang memilih ayam untuk makan malam sedangkan mereka yang tidak sakit perut adalah yang memilih lasagna untuk makan malam. Maka itu dapat disimpulkan bahwa ayam adalah penyebab sakit perut tersebut. Contoh lainnya, misalnya, dalam sebuah lomba gitar klasik, juri memutuskan bahwa juaranya adalah bernama Asep. Ketika Asep menaiki podium, ia mengatakan bahwa kuncinya mendapatkan gelar juara adalah latihan delapan jam sehari. Hal ini tentu menjadi pembeda dengan peserta lain yang latihan kurang dari lima jam per hari. Maka itu, kesimpulannya, berdasarkan metode perbedaan, latihan delapan jam sehari adalah penyebab mengapa Asep menjadi juara. 

1.3. Metode Perbedaan dan Kesamaan 

Antara metode perbedaan dan kesamaan, keduanya bisa digabungkan untuk mendapatkan kesimpulan induktif yang lebih meyakinkan. Misalnya, seorang analis sepakbola ingin mengetahui mengapa Real Madrid dapat menang melawan Juventus di final Liga Champions musim kompetisi 2016 / 2017. Pertama-tama, ia menggunakan metode kesamaan dengan melihat musim sebelumnya ketika Real Madrid menang melawan Atletico Madrid di final Liga Champions. Dua musim berturut-turut, Real Madrid selalu menggunakan formasi lini depan Cristiano Ronaldo – Gareth Bale – Gonzalo Higuain, sehingga analis sepakbola tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan trisula itulah yang membuat Real Madrid selalu juara Liga Champions. Kemudian analis sepakbola melihat faktor lain yang berbeda dari Real Madrid, yaitu kekalahan Juventus itu sendiri. Juventus kalah, kata analis, karena mereka tidak menguasai lini tengah dan kalah cepat di sektor sayap. Artinya, dapat disimpulkan, kemenangan Real Madrid melawan Juventus yang membuat mereka berturut-turut menjuarai Liga Champions adalah tetap menggunakan trisula Ronaldo – Bale – Higuain (metode kesamaan dengan formasi di musim sebelumnya) serta penguasaan lini tengah dan sayap yang cepat (metode perbedaan dengan strategi Juventus). 

1.4. Metode Residu 

Metode residu artinya mencari penyebab bukan berangkat dari konsekuennya, melainkan antesedennya (lihat bagian proposisi majemuk sub bagian hipotetikal). Perlu diketahui bahwa metode residu ini agak berbau deduktif karena diturunkan dari sebuah asumsi umum. Misalnya, seorang guru fisika mendapati dirinya mengidap hipertensi setelah melakukan pengecekan tekanan darah. Menurut dokter, setelah dicek, ia tidak menemukan kesalahan pada gejala-gejala yang memungkinkan terjadinya tekanan darah: ginjal bagus, asam urat bagus, kolesterol bagus, dan trigliserida bagus. Akhirnya dokter tersebut mengasumsikan bahwa hipertensi yang diidap guru fisika tersebut berasal dari faktor genetis (turunan). Dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa metode residu adalah metode induksi yang bergerak dengan mengeliminasi berbagai sebab-sebab yang mungkin lewat keadaan anteseden yang akibat-akibatnya sudah ditegakkan (dibuktikan) oleh induksi-induksi terdahulu. 

1.5. Metode Variasi Keseiringan 

Metode variasi keseiringan merupakan metode yang digunakan secara cukup luas. Kita bisa memahaminya lewat contoh-contoh berikut ini: Seorang petani membuktikan bahwa terdapat hubungan kausal antara penggunaan rabuk (fertilizer) dengan hasil panen. Ia mencatat bahwa bagian-bagian yang terhadapnya digunakan lebih banyak rabuk akan menghasilkan panen yang lebih melimpah. Kemudian di contoh lain, seorang pengusaha membuktikan bahwa semakin sering produknya diiklankan, maka semakin laku usahanya. Artinya, gejala-gejala itu berubah (bervariasi) secara langsung antara yang satu dengan yang lainnya, yakni, jika yang satu meningkat, yang lainnya juga meningkat. Namun tidak berarti bahwa segala sesuatu itu harus berbanding lurus. Metode variasi keseiringan juga menerima hubungan kausal antara gejala-gejala yang berubah secara berbanding terbalik, yakni, antara gejala-gejala yang sedemikian rupa hingga jika yang satu meningkat, maka yang lainnya menurun. 

2. Argumen Analogikal 

Sebagian besar penalaran dalam kehidupan kita sehari-hari berlangsung berdasarkan analogi. Misalnya, saya berpendapat bahwa sepasang sepatu baru akan mempunyai daya tahan lama berdasarkan pengalaman saya bahwa sepatu terdahulu yang dibeli dari toko yang sama mempunyai daya tahan yang sama; dosen itu akan terlambat datang lagi karena minggu lalu pun ia datang terlambat. Secara sederhana, dapat diartikan bahwa analogi adalah landasan dari semua penalaran sehari-hari kita dari pengalaman di masa lampau ke yang akan terjadi di kemudian hari. Argumen analogikal tidak dimaksudkan untuk memberikan kepastian. Argumen analogikal tidak dapat dinilai dan diklasifikasikan sebagai valid atau tidak valid. Argumen analogikal hanya dapat dinilai atau dikualifikasikan berdasarkan tingkat dan derajat probabilitasnya. Misalnya, terdapat dua orang yang sama-sama berpendapat bahwa makanan di Bandung adalah enak. Orang pertama, yang tinggal di Bandung baru satu bulan, tentu pernyataannya tersebut lebih tidak kuat dibanding orang kedua, yang tinggal di Bandung selama satu tahun. 

Daftar Pustaka  

  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press  
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Causal Reasoning. http://www.philosophypages.com/lg/e14.htm


Continue reading

Monday, June 5, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Membahanakan Ide dari Ruang Kecil (5 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Komunitas kebangsaan yang menjadi fenomena belakangan ini seperti Asian African Reading Club (AARC) dan Api Bandung, sebenarnya bukanlah suatu hal yang baru. Jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, para Bapak Bangsa sudah mendirikan komunitas kebangsaan. Sejarah Republik kita mengenal Budi Utomo, suatu organisasi pemuda yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa-mahasiswa kedokteran di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Batavia. Pendirian Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 itu sampai sekarang diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski dianggap sebagai tonggak kebangkitan –salah satunya melahirkan Indische Partij, organisasi politik yang cukup vokal menuntut kemerdekaan Indonesia-, keberadaan Budi Utomo tidak lepas dari tudingan-tudingan miring. 

Misalnya, Pramoedya Ananta Toer berkata bahwa Budi Utomo sebenarnya tidak lebih daripada organisasi elitis yang ditujukan untuk orang-orang bersuku Jawa saja. Versi yang lain mengatakan bahwa sejarah pergerakan nasional lebih tepat jika dimulai dari Sarekat Islam –didirikan tahun 1912 oleh H.O.S Tjokroaminoto- daripada Budi Utomo. 

Namun agaknya tidak akan banyak terjadi perdebatan, jika dikatakan bahwa Indonesia adalah buah perjuangan dari orang yang kemudian menjadi presiden kita yang pertama, Soekarno. Soekarno adalah orang yang beririsan baik dengan Indische Partij maupun Sarekat Islam. Dalam sejumlah tulisannya, ia mengakui bahwa Ernst Douwes Dekker (Indische Partij) dan H.O.S. Tjokroaminoto (Sarekat Islam) adalah dua guru politik yang termasuk paling banyak memengaruhi pola pikir dan arah perjuangannya. Lalu, jalan apa yang ditempuh Soekarno untuk mencapai kemerdekaan? Tentu kita sama-sama tahu bahwa ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang amat berperan dalam perjuangan. 

Namun sebelum PNI, ada embrio yang kerap dilupakan orang, namanya Algemene Studie Club. Kelompok belajar yang didirikan oleh Soekarno semasa ia belajar di Technische Hoogeschool (sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1925 ini, lebih bisa disamakan dengan spirit yang diusung oleh komunitas kebangsaan yang kita kenal sekarang. Melalui kegiatan diskusi dan belajar bersama yang terbuka untuk umum, Algemene Studie Club berperan besar dalam melahirkan tokoh-tokoh yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. 

Teori Ruang Publik Habermas 

Dalam bukunya yang berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere (1962), pemikir Jerman, Jurgen Habermas, menulis tentang perubahan-perubahan besar dalam sejarah yang dimulai dari ruang publik. Pertama-tama, Habermas mendefinisikan ruang publik sebagai tempat bertemunya orang-orang dari berbagai golongan untuk berdiskusi dan berdebat secara egaliter. Habermas mencontohkan fenomena salon di Prancis -ruang publik yang muncul sejak awal abad ke-16 dan dijadikan tempat diskusi intelektual-. Terjadinya Revolusi Prancis di abad ke-18 –yang menggulingkan kekuasaan monarki absolut dan menggantinya dengan republik- sedikit banyak dipengaruhi oleh pertemuan-pertemuan di salon. Menurut Habermas, situasi santai, non-formal, dan egaliter, justru lebih bisa melahirkan ide-ide besar, ketimbang situasi yang sebaliknya. Sama dengan salon di Prancis, Habermas juga mencontohkan coffeehouses serta tischgesellschaften di Jerman pada abad ke-17 dan abad ke-18 sebagai tempat lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang merubah situasi di Eropa secara keseluruhan. 

Pemikiran Habermas tersebut barangkali bisa dikaitkan tentang kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran komunitas kebangsaan yang sifatnya santai, non-formal, dan egaliter. Sebelum Algemene Studie Club, di Surabaya terlebih dahulu berdiri Indonesische Studie Club pada tahun 1924 oleh Dr. Sutomo. Meski kemudian muncul komunitas yang serupa di berbagai kota di Indonesia (seperti Solo, Yogya, Semarang, dan Bogor), namun Algemene Studie Club tetap merupakan komunitas yang terdepan dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia –terutama karena keberadaan Soekarno di dalamnya-. 

Algemene Studie Club 

Kegiatan yang dilakukan oleh Algemene Studie Club mungkin dapat sama-sama kita bayangkan. Menurut buku berjudul Ir. Martinus Putuhena (Martinus Putuhena adalah Menteri Pekerjaan Umum di Masa Revolusi yang pernah mengikuti kegiatan diskusi di sana) yang ditulis oleh Putuwati, Algemene Studie Club adalah komunitas yang berisikan para intelektual, yang tidak hanya membicarakan kegiatan akademik secara umum, tapi juga hal-ikhwal politik dan kebangsaan. Martinus menyebutkan bahwa meski berisikan orang-orang berkedudukan cukup baik dan terpelajar –yang seharusnya tidak menimbulkan kecurigaan pemerintah kolonial masa itu-, Algemene Studie Club tidak lepas dari pengawasan mata-mata. Maklum, selain belajar bersama di lingkungan tertutup, Algemene Studie Club tersebut juga perlahan-lahan mulai membangkitkan kesadaran orang-orang di luar komunitas lewat majalah bulanan Suluh Indonesia Muda. 

Lewat majalah tersebut, Soekarno menyuarakan pemikiran-pemikirannya yang paling dalam tentang negara dan bangsa. Dalam satu artikelnya yang berjudul Nasionalisme, Islam, dan Marxisme yang terbit di Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Soekarno mengatakan, “Masa dimana kita harus puas dengan keadaan kita sendiri telah lewat. Era baru, era para pemuda, kita songsong bagai fajar yang merekah. Teori konservatif yang mengatakan bahwa ‘Orang kecil harus puas dengan keadaannya. Harus senang berada di balik tirai sejarah dan menawarkan bantuan untuk keagungan mereka yang berada di panggung depan’ tidak boleh lagi diterima oleh orang-orang Asia.” Dengan pergerakan intelektual yang dimulai dari komunitas kecil-kecilan dan majalah yang bersifat indie, Algemene Studie Club bertransformasi menjadi PNI –ketika situasi sudah semakin memungkinkan untuk total di jalur politik-. Cerita setelah itu, kita semua tahu: Indonesia lambat laun mencapai kemerdekaannya. Komunitas kebangsaan dulu dengan sekarang tentu ada perbedaan. Sudah jelas bahwa Algemene Studie Club berada di masa penjajahan sedangkan komunitas kebangsaan yang tumbuh di periode ini sudah menikmati alam kemerdekaan. Namun seperti yang Soekarno katakan, perjuangan kita, para penerus, akan lebih sulit karena berhadapan dengan bangsa sendiri. Tujuan komunitas kebangsaan hari ini tidak lagi melawan belenggu penjajahan yang mengambil tanah dan hak-hak politik, tapi melawan belenggu penjajahan yang menyerang kesadaran.


Continue reading

Saturday, June 3, 2017

(Komunitas Kebangsaan) Jalan Sunyi Para Penjual Buku (4 dari 5)

*) Diambil dari Artikel yang Dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Selisik, 7 September 2015

Jika ada beberapa dari kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui lebih jauh hal-ikhwal pemikiran dari para Bapak Bangsa maupun pergerakan nasional Indonesia, tentu di zaman sekarang ini, internet menyediakan semuanya. Ketersediaan yang cukup lengkap di internet tersebut bisa jadi menyurutkan semangat sebagian orang untuk mencari sumber dari buku. Alasannya, tentu saja, selain lebih membutuhkan tempat untuk menyimpannya, buku-buku juga harus dibeli (bandingkan dengan informasi dari internet yang bisa didapat secara gratis). 

Maka itu, jika melihat ada sebagian kecil lapak yang masih mau berjualan buku-buku tua bertema kebangsaan, tentu kita bisa menyebut bahwa jalan yang mereka tempuh, adalah jalan yang sunyi. Salah satu penempuh jalan sunyi itu adalah Lawangbuku yang bertempat di Balubur Town Square. Lapak berukuran sekitar dua kali tiga meter milik Deni Rachman tersebut memang menitikberatkan penjualan buku-bukunya sebagian besar di wilayah sejarah Indonesia. Buku-buku berjudul Di Bawah Bendera Revolusi dan Sarinah karya Soekarno; Dari Penjara ke Penjara dan Madilog karya Tan Malaka, Kumpulan Karangan karya Moh. Hatta, buku seputar Konperensi Asia Afrika 1955, sejarah Bandung, dan lain-lain, tampak mendominasi, disamping buku-buku bertemakan lain seperti sastra dan filsafat (contohnya karya Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Hamka, dan Alan Paton). Sekali lagi muncul pertanyaan, di tengah-tengah kecenderungan masyarakat kontemporer yang lebih senang mencari informasi lewat internet, tidakkah menjual buku –terutama buku-buku tua seperti yang dijajakannya-, membuat LawangBuku menjadi terasing? 

Semangat Mendidik Masyarakat 

Menurut Deni, keputusannya menjual buku-buku bertema tidak populer tersebut, bukan hanya sekadar ingin terlihat unik atau berbeda. Ada alasan yang lebih bersifat edukatif. “Saya tidak yakin bahwa segala yang dicantumkan di internet, diambil dari sumber-sumber primer. Artinya, bisa saja hoax. Untuk mengimbangi informasi, saya mencoba untuk konsisten berjualan buku yang banyak diantaranya ditulis langsung oleh Bapak Bangsa itu sendiri,” ujar Deni. Harapannya, semakin banyak orang membaca dari sumber primer, semakin sedikit peredaran informasi yang bersifat palsu dan menyesatkan. 

Keberadaan toko buku yang menjual literatur bertema kebangsaan, lambat laun dapat membuat publik menjadi lebih dekat dengan tema-tema tersebut. Maklum, sebelumnya, buku-buku semacam itu mungkin hanya bisa ditemui di perpustakaan kota ataupun museum –yang secara umum lebih berjarak dengan publik, ketimbang toko buku umum-. Deni sendiri secara konkrit melakukan upaya “jemput bola” agar literatur kebangsaan ini semakin diminati. Misalnya, lewat aktivitasnya di Museum Konperensi Asia Afrika. Selain turut ambil bagian dalam pendirian kelompok diskusi Asian African Reading Club (AARC) di museum tersebut, Deni juga turut memasok buku-buku yang digunakan untuk diskusi. Misalnya, buku Renungan Indonesia (1946) karya Syahrazad (nama pena Sutan Syahrir) merupakan literatur yang pernah ambil bagian dalam komunitas AARC yang keanggotaannya terbuka untuk umum itu. Dengan berkontribusi secara maksimal sejak awal berdirinya AARC (tahun 2009) dan konsisten berjualan buku di lapak yang berlokasi cukup strategis di tengah Kota Bandung, Deni merasa optimis bahwa buku-buku bertema kebangsaan akan kian terjangkau oleh masyarakat secara luas. 

Populer lewat Jalur Online 

Mungkin tidak banyak juga diantara kita yang mengira, bahwa apa yang dilakukan Deni, di sisi lain, ternyata merupakan hal yang semakin hari, semakin digandrungi. Sebagai contoh, di media sosial seperti Facebook, bertebaran puluhan akun yang menjual buku-buku tua bertema kebangsaan secara online. Akun-akun tersebut menjanjikan proses transaksi yang cepat dan mudah. Setelah pembayaran melalui transfer ke nomor rekening tertentu, beberapa hari kemudian, buku yang kita pesan sudah sampai di rumah. Artinya, kita bisa mendapatkan buku tanpa mesti repot meluangkan waktu dan tenaga untuk pergi ke toko buku. 

Namun tidak semua hal harus berubah seiring waktu. Ada sikap-sikap dasariah, yang barangkali terlihat konvensional, tapi sebenarnya masih penting. Deni misalnya, meski ikut menjajakan buku via online, ia merasa tetap penting untuk berjualan buku-buku tua di lapak offline. Mengapa? “Mereka yang mencari buku-buku tua, biasanya merupakan pembaca kritis dan serius. Mereka bukan hanya mau mencari dan membeli, tapi ingin juga mendapatkan informasi tambahan mengenai buku yang akan dibaca,” kata Deni. Itu sebabnya, lapak offline tetap diperlukan. Pertama, untuk mereka yang ingin memastikan bahwa toko buku tersebut benar-benar ada –karena mungkin saja, penjajaan yang dilakukan oleh akun- di media sosial malah berujung pada penipuan akibat tidak adanya pertemuan tatap muka yang lebih membangun sisi trust-. Kedua, lapak offline memberikan kesempatan bagi pembeli, untuk berbincang langsung dengan penjual, demi memperoleh informasi tambahan mengenai buku yang dijajakan. 

Tentunya, pengalaman Deni dalam berkomunitas bersama AARC membuat ia punya pengetahuan tambahan mengenai buku-buku yang dijajakannya. Katanya, selalu ada poin plus bagi penjual buku yang juga merupakan seorang pembaca buku. Kenyataannya, untuk memaksa orang-orang agar membaca, kadang tidak bisa hanya dengan berjualan dan berpromosi saja. Harus ada semacam perjuangan untuk menyadarkan pentingnya literasi bagi masyarakat. Perjuangan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Deni, bisa melalui pendirian komunitas baca yang secara rutin menjalankan agenda diskusi buku. Kata Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah kerja untuk keabadian. Tapi bagi para pejuang literasi, mungkin mereka berpikir, bahwa menyadarkan orang untuk tetap membaca, adalah juga kerja untuk keabadian.

Continue reading