Tuesday, September 10, 2019

Filsafat Ngopi


(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Flaneur #1 - Filsafat Ngopi", 16 September 2019 di Jali Book Cafe, Karawang)



“Ngopi”, dalam kultur masyarakat kita, tidak selalu tentang minum kopi dalam artian sebenarnya. Istilah “Ngopi yuk” itu bisa saja ajakan untuk minum teh, merokok, atau bahkan makan gorengan! Tapi hal yang pasti, ngopi adalah ajakan untuk menghabiskan waktu luang, bersantai, dan keluar dari suasana formil.

Kata formil yang disebut terakhir tadi menarik untuk dibahas. Suasana formil adalah suasana yang serius dan baku. Untuk apa manusia menciptakan suasana formil? Mungkin, dalam suasana formil, segala sesuatu menjadi lebih kredibel dan bermartabat.

Misalnya, seorang dokter, ketika menyampaikan diagnosa, tidak bisa sambil merokok dan makan gorengan. Selain kontradiktif dengan keilmuan medisnya, hal demikian juga akan menurunkan tingkat kepercayaan pasien terhadap ucapan si dokter. Atau, lainnya, seorang hakim, saat membacakan putusan, apakah etis jika ia melakukannya sambil minum kopi dan cekikikan?  
Tapi manusia tidak bisa selalu dalam kondisi formil. Mungkin karena kenyataan bahwa kita tidak harus terus berusaha keras untuk menghayati profesi kita. Hakim adalah manusia, dokter adalah manusia, pebisnis juga manusia, dan seterusnya. Maka itu, manusia perlu untuk mencari momentum kapan ia melepaskan diri dari perannya yang formil, yang mana sesuai bahasan sekarang ini, adalah ketika ngopi.

Saat ngopi, orang melepaskan keformilannya. Ia menjadi manusia, dalam artian, menjadi dirinya sendiri, atau bahkan secara bebas melakukan eksplorasi untuk mencari dirinya sendiri. Pada saat-saat ngopi, orang tak perlu membicarakan sesuatu yang punya arah, tujuan, ataupun fungsi praktis. Orang melakukan sesuatu demi momentum itu sendiri.

Tapi tentu saja ada juga hal-hal serius yang dibicarakan sambil ngopi. Sambil ngopi, dua pebisnis bisa saja membicarakan perjanjian hingga ratusan milyar, atau sepuluh aktivis membicarakan bagaimana cara menyuarakan kemerdekaan suatu propinsi. Namun tetap, kopi, gorengan, teh, rokok, bir, atau apapun itu makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi sambil bicara dan menyimak, akan membuat ruang dan waktu terasa lebih rileks (tentu saja, susah membicarakan topik serius jika sambil makan sate, misalnya). Artinya, ngopi adalah kegiatan menyantap seperangkat makanan yang kurang lebih memerlukan waktu untuk menghabiskannya dan bisa dilakukan sambil berpikir.

Selain itu, juga sudah teruji dari zaman ke zaman, bahwa apa yang disebut di atas, bagi banyak orang, adalah stimulan peningkat konsentrasi. Jadi ngopi adalah juga santai, tapi merupakan momen dimana konsentrasi justru lebih baik. Banyak putusan-putusan besar lahir dari kegiatan ngopi, seperti Revolusi Prancis yang dimulai dari salon, hingga ide-ide kebangsaan Soekarno yang muncul mula-mula dari ngopi di Algemene Study Club. Dalam kegiatan ngopi, ada rangsangan untuk sampai pada ide-ide yang abstrak dan reflektif, yang sukar diperoleh dalam waktu-waktu formil – oleh sebab ikatannya pada peran yang sudah baku -.  

Ngopi adalah juga resolusi konflik. Mengapa bisa menjadi resolusi konflik? Karena mendudukkan pihak-pihak yang bertikai pada posisi yang lebih egaliter. Jika ada kelompok pemuda merampas buku berbau komunisme di sebuah toko buku, ajak mereka ngopi, dan beritahu secara baik-baik bahwa TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966 sudah kurang relevan. Jika ada mikro-fasisme di dalam kelas, ketika dosen mengajar sesuai kehendaknya dan mahasiswa harus nurut saja, maka mahasiswa sudah seyogianya mengajak dosen tersebut ngopi, agar diskusi keilmuan bisa lebih setara, dan mungkin saja dapat ditemukan ada gejala insecurity dalam diri dosen tersebut sehingga dia harus galak. Dalam ngopi, kita bisa menyinggung hal-hal personal secara lebih santai, dan menemukan bahwa pada dua pihak yang bertikai, bisa jadi ditemukan kesamaan yang indah, seperti misalnya anaknya sama-sama disekolahkan di SD yang sama.

Ngopi adalah perayaan terhadap kemanusiaan. Aktivitas yang masih memberikan penghargaan terhadap eksistensi melalui tatap muka. Belum ada pertemuan dunia maya dikatakan ngopi, karena ngopi masihlah terasosiasikan dengan duduk bersama secara nyata. Dalam ngopi, kita saling menatap wajah. Wajah yang, kata Emmanuel Levinas, menjadi dasar bagi segala tindak tanduk etis kita. Dalam ngopi, segala komunikasi mikro menyampaikan pesan, dari mulai cara memegang gelas sampai cara membayar kopi. Semua punya penilaian tersendiri, jadi ukuran-ukuran kemanusiaan yang lebih hakiki daripada saat kita di “panggung utama”.

Terakhir, ngopi juga ilahiah. Mungkin di alam sana, Tuhan tidak senantiasa memerhatikan hidup kita sambil melotot dan memegang kalkulator dosa – pahala. Tuhan mungkin santai saja memandangi manusia, sambil ngopi, lalu berkata sesekali, “Oh, dia dipecat dari pekerjaannya, sudah kuduga. Tenang, nanti ada kebaikan mengikutinya.” Tuhan suka ngopi, dan maka itu Dia selalu punya waktu untuk menyayangi kita semua.


Continue reading

Friday, September 6, 2019

Neraka itu Tentang Segala Sesuatu yang Memudar

Catatan tentang Pertunjukan Hades Fading, NuArt Sculpture Park, 30 Agustus 2019 





Sebelum membicarakan pertunjukan Hades Fading, saya merasa harus mengekspresikan kekaguman pada kebudayaan "Barat" - atau bahasa ilmiahnya, Indo-Arya -, oleh sebab mitologinya yang begitu rumit dan sistematis. Mitologi Yunani adalah salah satu contohnya, selain yang saya tahu, Skandinavia, yang memperlihatkan suatu tesis asal muasal mengapa "Barat" kemudian menjadi punya cara pikir yang menuntut bangunan argumentasi yang jernih sekaligus kokoh. 

 Mitologi Yunani dibangun oleh cerita yang banyak dan bertalian satu sama lain. Cerita yang umumnya sampai ke kita, misalnya tentang Zeus, Hades, dan Poseidon, adalah bagian kecil dari semesta mahabesar yang salah duanya tertuang dalam tulisan Homer yang berjudul Iliad dan Odyssey. Kita bisa menemukan cerita lain seperti kisah para manusia setengah dewa macam Hercules, Perseus, Theseus, atau Achilles. Serta para raksasa (titan) macam Cronus dan Atlas. 

Pertunjukan kemarin, Hades Fading atau "Hades Memudar", jelas merupakan potongan kisah dalam mitologi Yunani, yang garis besarnya adalah kisah cinta Orpheus dan Eurydice. Kisah cinta tersebut melibatkan Hades, raja dunia bawah tanah atau neraka atau Tartarus, dengan istrinya, Persephone. 

Tidak ada yang diubah oleh sutradara asal Australia, Sandra Fiona Long, tentang kisah tersebut. Demikian ia tetap mengisahkan sebagaimana ditulis dalam mitologi: Kisah ratapan Orpheus yang begitu pedih akibat ditinggal istrinya, Eurydice, yang mati digigit ular di hari pernikahannya. Begitu sedihnya Orpheus hingga nyanyiannya terdengar hingga dunia bawah, pada Hades dan Persephone. Hades dan Persephone kemudian mengajukan syarat agar Eurydice dapat bangkit kembali, dan sisanya silakan dibaca sendiri di literatur tentang mitologi Yunani. 

Bedanya adalah, tentu saja, pertunjukan kemarin disajikan secara kontemporer. Tata cahaya, tata panggung, tata suara, semuanya tampak "baru" bagi saya, terlebih lagi ketika dileburkan dengan aspek-aspek digital. Tapi tentu saja, bukan cuma kemasan saja yang membuat cerita mitologi tersebut menjadi menarik, melainkan juga kontekstualisasi dari kisah Hades tersebut pada situasi sekarang. Agaknya, dengan term-term digital yang juga dilibatkan dalam pertunjukan tersebut, Sandra selaku sutradara ingin membawa penonton untuk merenungkan: Jika neraka Hades sudah tidak lagi menakutkan bagi dunia posmodern sekarang ini, maka ada neraka lain yang menanti, yang berupa memudarnya memori, dan diganti oleh interpretasi-interpretasi baru yang diproduksi oleh kesadaran massal yang digital. 

Tokoh Hades, Persephone, Orpheus, dan Eurydice mungkin tidak lagi menarik di mata generasi masa kini, dan dalam pertunjukan tersebut tersirat suatu perasaan khawatir dari mereka-mereka, bahwa suatu saat dunia ke depan akan menafsir mereka secara sewenang-wenang. Inilah mungkin yang dimaksud dengan "memudar": berkurangnya pengaruh suatu literatur yang telah begitu agung menggerakkan peradaban selama ribuan tahun. Pada akhirnya tinggal kenangan, bagai kisah cinta Orpheus dan Eurydice itu sendiri. 

Secara keseluruhan, meski pertunjukan tersebut dapat dikatakan sangat filosofis (sehingga saya asumsikan tidak terlalu mudah dipahami, terutama bagi mereka yang belum membaca mitologi Yunani) namun agaknya penonton banyak terpukau oleh efek cahaya, musik, dan tentu saja akting dari para pemain teater kawakan seperti Godi Suwarna, Herliana Sinaga, Rinrin Candraresmi, dan Wawan Sofwan. 

Musik yang ditata oleh Ria Soemardjo juga menarik dan mengandalkan bebunyian, yang mendorong pemusik guzheng, Sisca Guzheng Harp, untuk bereksplorasi melampaui kebiasaan bermusik secara konvensional. Musik tersebut secara umum berhasil membuat 90 menit pertunjukan terasa singkat, karena begitu menghanyutkan penonton pada situasi "Tartarus" - saya belum pernah ke sana, tapi mungkin saja seperti itu-. 

Akhirul kata, sepertinya penting untuk menyajikan lebih banyak teater yang demikian ke hadapan khalayak kita, sebagai teater yang memprovokasi penonton untuk memikirkan sesuatu secara aktual, dengan menyuling cerita dari literatur yang sudah dikenal. 

Digitalisasi adalah isu kontemporer yang dibahas di setiap jengkal hidup kita. Seminar dan kuliah umum mungkin sudah terlalu banyak kita dengarkan sampai tidak ada lagi yang tersisa. Tapi teater adalah suguhan yang segar, yang menciptakan tegangan antara keharuan, kengerian, dan kekaguman dalam satu paket yang nyaris tidak berjarak, dan daripadanya kita merefleksikan kehidupan. 

Saya pulang dengan pertanyaan besar, pada Orpheus yang tidak sabaran, mengapa engkau terlalu cepat menoleh ke belakang?
Continue reading

Saturday, August 17, 2019

Tentang UAS dan Salib

Tentang UAS dan Salib
Ustad Abdul Somad (UAS) sedang ramai dibicarakan oleh sebab pernyataannya di Youtube yang dianggap menista agama lain. Kali ini, UAS berkomentar tentang salib yang di sana, katanya, ada jin kafir bersemayam dan menggoda manusia. Godaan tersebut, lanjut UAS, sangat berbahaya bagi akidah. Ia mencontohkan, jika lambang salib terpampang di rumah sakit yang mana di dalamnya ada seorang muslim yang menjelang ajal, maka segera tutup lambang salib tersebut karena jin kafir yang ada di dalamnya bisa membuat muslim tersebut menjadi su'ul khatimah (mati dalam keadaan tidak baik). Kabar terakhir, UAS dipolisikan karena dianggap memenuhi unsur penistaan agama. Ada beberapa pandangan saya di sini, terkait kasus tersebut. 

Pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagi saya, kesalahan juga ada pada penanya. Memang penanya bermaksud mendapat kejelasan dengan bertanya, "Apa sebabnya Ustad, jika saya melihat salib, menggigil hati saya?" Tapi pertanyaan semacam itu hampir retoris, yang menggiring pada jawaban yang tidak bisa tidak, dalam konteks mimbar keagamaan, harus memihak. Agaknya kurang meyakinkan kalau UAS menjawab dengan misalnya, "Mungkin Ibu sedang capek atau kedinginan, karena dalam salib tidak ada apa-apa kok." 

2. Memang UAS memperagakan beberapa kali pose Yesus yang disalib ketika di waktu bersamaan berbicara soal jin kafir - seolah-olah jin kafir yang dimaksud adalah Yesus -. Tapi bisa jadi ada versi lain, karena UAS juga menyebut soal patung di dalam rumah. Artinya, bukan Yesus sama dengan jin kafir, tapi mungkin saja maksudnya: patunglah yang menyebabkan ada jin kafir hinggap dan bersemayam di dalamnya. Ini berlaku untuk semua patung, dan di dalamnya tentu termasuk patung Yesus. 

3. Apakah lazim jika di hadapan massa sendiri seorang pemuka agama mengagungkan agamanya dengan cara salah satunya membandingkan dengan agama lain? Agaknya lumayan lazim, dan memang demikian cara yang sering dilakukan dari berabad-abad yang lalu. 

Saya tidak mengikuti banyak khotbah dari macam-macam agama, tapi saya asumsikan saja demikian, kecuali dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Misalnya, sukar bagi khotbah agama Buddha yang jumlahnya relatif sedikit di Indonesia (minoritas), untuk mengatakan sesuatu tentang agama Islam, misalnya. Karena posisi agama Buddha dengan demikian jadi agak terancam. 

Jadi, apa yang digembar-gemborkan UAS tentang agama lain adalah praktik lazim di hadapan massa sendiri dan semakin diperkuat oleh posisi agama Islam yang "mayoritas" sehingga punya posisi yang cukup kuat untuk membicarakan agama lain seolah-olah UAS dan jemaatnya ini lebih superior.

Memang pasti menjadi masalah jika hal yang tadinya dibicarakan secara "internal", kemudian jadi konsumsi "eksternal" oleh sebab pemuatannya di Youtube.  

4. Ini tidak bermaksud mensimplifikasi persoalan UAS di atas, tapi agaknya luka akibat polarisasi Pemilu 2019 kemarin masihlah tersisa. Maksudnya, UAS memang mengucap hal yang keliru dan menyinggung, tapi posisi politiknya kemarin mungkin sedikit banyak memengaruhi psikologi banyak orang untuk tidak begitu saja "melepas" UAS. Apalagi komentar warganet juga tidak sedikit yang membandingkan kasus UAS dengan kasus Ahok ketika juga dianggap menista agama. Kasarnya, ada semacam "balas dendam". Namun, sekali lagi, ini bukan dugaan yang mengarah pada reduksionisme, seolah-olah urusan kasus ini "hanya" urusan keberpihakan politik masa lalu. Unsur-unsur penistaan agama tetap ada, dan baiknya tetap dilanjut saja proses pemeriksaanya. 

5. Tapi di sisi lain, perlukah pasal tentang penistaan agama ini? Sekarang urusannya jadi saling melapor dan memenjarakan. Padahal apa yang dilaporkan seringkali "hanya" berupa penistaan terhadap simbol-simbol, yang notabene, semestinya, tidak memberi dampak apa-apa terhadap ketahanan iman dari jemaat suatu agama. Ini hampir mirip dengan pelaporan pada kasus sebelumnya, terhadap ibu yang membawa anjing ke dalam masjid. Pasal penistaan agama jadinya tidak lagi menelaah intensi dari si "penista", tapi hanya lebih berpihak pada aduan dari orang yang agamanya merasa "dinistakan". Artinya, bisa saja si "penista" tidak ada maksud ke arah sana, tapi ujungnya tetap dipenjara juga oleh sebab aduannya terlalu kuat.

Akhirul kata, UAS tetap harus diberi pelajaran. Semoga warganet yang merekamnya, sadar bahwa perbuatan merekam dan mengunggah yang ia lakukan, telah membuat ruang privat (dalam konteks agama dalam sistem tertutup) menjadi "ruang publik" yang ditonton oleh masyarakat secara bebas.  



Continue reading

Catatan Kuliah Filsafat #2: Tentang Bambang Sugiharto



Duduk manis di kelas Pengantar Filsafat yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto, sebagai bagian dari persiapan mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR awal tahun depan. Waktu Pak Bambang bicara di depan tadi itu, pikiran saya melayang-layang karena masih ngantuk. 

Teringat di tahun 2003, kala baru lulus SMA, saya punya cita-cita masuk Fakultas Filsafat UNPAR. Saya sangat serius waktu itu, hingga suatu malam bapak berkata, "De, bapak sudah konsultasi sama teman, namanya Pak Bambang. Katanya jangan masuk situ, karena itu sekolah untuk calon pastur." 

Saya tidak banyak membantah. Karena mungkin, ada benarnya. Saya kubur saja cita-cita menjadi mahasiswa filsafat untuk masuk menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Tapi cinta saya pada filsafat selalu terpendam, sampai akhirnya bertemu dengan Pak Bambang di kelas Extension Course pada sekitar tahun 2006 atau 2007. 

Di pertemuan pertama dengan materi Antropologi Filsafat itu, Pak Bambang sudah mampu mengguncangkan pikiran dan iman saya. Kuliah lebih dari sepuluh tahun lalu itu masih segar dalam ingatan saya: Tentang konsep manusia dalam pandangan filsafat (secara spesifik, soal konsepsi tubuh dan jiwa). Ada kata Plato yang tubuh adalah penjara jiwa, ada kata Foucault yang jiwa adalah penjara tubuh, ada Lacan yang mengatakan tentang keinginan manusia yang selalu bercermin satu sama lain, ada kata Nietzsche yang mengatakan masing-masing anggota tubuh manusia punya kecerdasannya sendiri. Sejak malam itu, hidup saya tidak lagi sama. Filsafat adalah "one way ticket". 

Enam belas tahun sejak saya menerima kenyataan bahwa saya tidak akan menjadi mahasiswa filsafat, ternyata saya masih bisa mengejar cira-cita tersebut. Bersama para calon pastur angkatan 2019, saya ikut kelas secara sit-in, mendengarkan Pak Bambang bicara. 

Selama enam belas tahun itu juga saya membaca filsafat tanpa melalui jalur formal dan sering coba-coba mengajar juga, walau entah benar entah tidak. Namun mendengarkan Pak Bambang bicara, meski sudah keempatpuluhkalinya, tetap terasa baru dan membuat saya malu. Pak Bambang mengajar dengan suatu kecintaan yang aneh, seolah sudah menjadi tugas dia, untuk membuat para calon pastur ini deg-degan dengan iman yang terus dihantam-hantam. 

Tapi dari situlah saya belajar, jadi "filsuf profesional". Jadi filsuf yang tugas utamanya hanya satu: mengguncang apa yang telah mapan, tanpa harus secara terbuka menyebutkan posisinya ada di mana. Jika ia berhadapan dengan orang yang terlalu posmodernis, jadilah sedikit Kantian untuk mengimbangi. Jika ia berhadapan dengan orang agnostik, jadilah sedikit religius untuk mengimbangi. Itulah "profesionalisme filsafat": hal yang menjadi prinsip adalah denyut dan dinamika pemikiran itu sendiri, tanpa harus fanatik pada satu -isme. 

Lalu apa yang saya dapat dari kuliah barusan? Ya, pengantar filsafat. Mata kuliah yang bikin betah, bikin saya tidak mau beranjak: inginnya belajar pengantar saja, selama-lamanya. Karena belajar filsafat, sampai suatu titik, akan kembali tentang pengantar filsafat. Coba saja sendiri!
Continue reading

Thursday, August 15, 2019

Catatan Kuliah Filsafat #1

Sambil nunggu ngajar semester depan, duduk manis dulu di kelas Romo Hadrianus Tedjoworo yang membahas Protestantisme dan Ekumene. 

Ekumene, dari yang saya tangkap barusan, adalah berbagai kegiatan maupun tindakan untuk mencapai kesatuan Gereja-Gereja, yang lebih ke arah emosional dan spiritual, bukan secara liturgi. 
 Artinya, perbedaan tetap ada dan menjadi batasan satu sama lain, tapi tetap diupayakan suatu "bayangan tentang Gereja yang satu". 

Tentu saja, ekumene ini, dalam sejarahnya, tidak pernah seratus persen berhasil. Selalu ada pihak yang tidak terlalu sepakat bahwa segalanya harus ada dalam kesatuan yang serius. Namun sebagai sebuah proses, ekumene mesti dilakukan sebagai sebuah ikhtiar untuk sekurang-kurangnya saling memahami spirit dan cara pandang satu Gereja dengan Gereja lainnya. 

Misalnya, pendirian The World Council of Churces (WCC) tahun 1948 adalah semacam gerakan ekumene yang berpusat di Swiss dan melibatkan 349 gereja dari sekitar 150 negara. Tetap saja, tidak seluruh Gereja menyetujui perhimpunan semacam ini, termasuk umumnya Gereja Katolik. Gereja Katolik, pada versi tertentu, bahkan menganggap sebenar-benarnya ekumene adalah kembalinya Gereja-Gereja non-Katolik ke dalam Gereja Katolik (bisa dirunut ke sejarah reformasi). Tentu saja anggapan tersebut agak sukar diterima dalam perkembangan Gereja dewasa ini, yang kelihatannya semakin berkembang dan bercabang. 

Opini: Itulah sebabnya, dalam konteks Islam, Khilafah mungkin saja tidak akan pernah tegak sempurna (karena bayangannya yang selalu tentang kesatuan Islam dalam satu tatanan yang formal dan serius). Islam bisa dibayangkan satu, mungkin hanya dalam konteks emosional dan spiritual, dalam bahasa ukhuwah islamiyah saja.
Continue reading

Saturday, July 27, 2019

Manusia Paripurna dalam Perspektif Nietzsche

(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) 



Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. 

Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. 

 Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep ├╝bermensch atau adimanusia. Gaya menulis Nietzsche sangat sastrawi, tapi bukan sastra yang nyaman dibaca dengan berbagai bunga-bunganya. Nietzsche menulis dengan gaya yang menghantam kita setiap saat, sehingga tulisannya sering dijuluki sebagai "martil". 

Bagi Nietzsche, manusia ada pada tegangan, antara hewan dan adimanusia. Berkelindan kita diantara keduanya, apakah tindak tanduk kita membawa kita menjadi budak atau menjadi tuan. Nietzsche menekankan bahwa bermental tuan adalah syarat utama menjadi adimanusia. Memang motif awal Nietzsche adalah mengritisi ajaran umat Nasrani, yang terlampau fatalis dan kurang berani. 

Nietzsche mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjalani hidup dengan gagah berani, dan berdiri di atas kaki sendiri. Okelah Nietzsche tidak melibatkan Tuhan dalam hal ini. Memang ia dikenal sebagai filsuf "pembunuh Tuhan" (lewat pernyatannya yang terkenal: Tuhan telah mati) tapi bukan artinya secara literal konsepsi Tuhan ia tiadakan. Yang hendak ia maksudkan adalah untuk menjadi manusia paripurna, hal yang terpenting adalah membunuh segala dogma dan berhala yang mengekang kita. 

Dalam tafsir lain, dogma dan berhala itu tidak melulu agama, melainkan juga sains dan malah filsafat. Kemudian, pada bab lain ia mengatakan tentang tiga metamorfosa ruh, yaitu menjadi unta, singa, dan anak. Unta dianggap sebagai hewan yang menanggung beban. Manusia semacam ini menerima dan patuh saja pada apapun yang diberikan padanya. Sementara tahapan berikutnya adalah singa. Singa kerap memberontak, menginginkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Manusia semacam ini kerap dinamis dan menginginkan perubahan. Namun metamorfosa final bukanlah menjadi singa, kata Nietzsche, melainkan menjadi anak. Mengapa anak? Mereka sangat imajinatif memandang dunia, dan hanya pikiran sendirinya saja yang menjadi tuan. Bagi seorang anak, bebas saja untuk membayangkan banjir sebagai arena bermain, atau orang terjatuh sebagai bahan tertawaan. Seorang anak menganggap hidup adalah "senda gurau belaka" dan ini dapat diterima dalam banyak konsepsi filosofi yang terdapat dalam agama-agama. 

Masih senada dengan pikiran Nietzsche tentang metamorfosa roh, satu lagi, ia menganggap bahwa ada dua cara memandang hidup, yaitu dengan gaya Apollonian atau Dyonisian. Apollonian berarti bertindak seperti Dewa Apollo, mengandalkan rasionalitas dan pencerahan. Sementara Dyonisian berasal dari Dewa Dyonisus yang bertanggung jawab pada anggur dan pesta perayaan. Hiduplah dengan gaya Dyonisian, kata Nietzsche, agar hidup terasa gelegaknya. Manusia paripurna adalah manusia yang hidup dengan gairah dan "mabuk"-nya, bukan pada akal pikirannya yang seringkali kurang luwes dan malah membosankan. 

Jadi terbayang kurang lebih bagaimana Nietzsche melihat konsep manusia paripurna. Tentu saja ada sejumlah kritik terhadap apa yang ia rumuskan. Misalnya, Nietzsche sendiri sebelas tahun terakhir dalam hidupnya, mengalami kegilaan secara harfiah. Artinya, dapat diasumsikan ia gagal menjadi manusia paripurna sebagaimana yang ia telah pikirkan (walau mungkin bisa jadi, kegilaan adalah bentuk paripurna?). 

Selain itu, pemikiran Nietzsche sering disalahtafsirkan sebagai bentuk arogansi karena terus menerus mengajak kita untuk hanya percaya pada diri sendiri. Padahal, ini sama sekali tidak bertentangan dengan konsep-konsep spiritualitas yang menjadikan Tuhan dan diri sebagai satu kesatuan. Nietzsche justru jengah dengan cara mengonsepsikan Tuhan yang selama ini terjadi, yang meminimalkan potensi dan gairah hidup kita sebagai manusia - itu sebabnya Nietzsche mengatakan bahwa ia hanya akan menyembah pada Tuhan yang bisa menari -. 

Artinya, dapat kita simpulkan bahwa konsepsi manusia paripurna menurut Nietzsche adalah manusia yang bermental tuan, mampu menjadikan hidup ini arena bermain layaknya seorang anak, punya sikap yang kuat terhadap gairah dan "kemabukan", serta membebaskan diri dari dogma dan berhala. 

 Mari membahasnya secara kritis.
Continue reading

Sunday, May 12, 2019

Penulis Seni, Pentingkah?

(Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Intensif Menulis Seni di Kaka Caf├ę, 13 Mei 2019)


Seni, Pada Mulanya 


Pada mulanya, seni bukanlah suatu kegiatan istimewa, oleh sebab fungsinya yang juga tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek keagamaan, sains, dan juga filsafat. Sebagai contoh, ketika puluhan ribu tahun silam, diketahui bahwa manusia melukis di dinding gua, maka itu tidak hanya kegiatan seni belaka, melainkan juga bentuk aktivitas religi (yang memerlukan bantuan dewa untuk menangkap hewan buruan) dan juga sains (dalam arti untuk menggambar itu sendiri, diperlukan penemuan saintifik dalam bentuk alat-alat).

Contoh lain yang lebih konkrit adalah patung Venus dari Willendorf yang ditemukan tahun 1908 oleh Josef Szombathy. Patung yang ditengarai berasal dari 30.000 tahun sebelum masehi tersebut, adalah perwujudan Dewi Venus sebagai dewi kesuburan, yang artinya juga bagi masyarakat setempat dianggap sebagai sesembahan.

Zaman Yunani Kuno mungkin sudah mulai ada pemikiran tentang seni sebagai suatu entitas yang terpisah, meski Aristoteles menekankan bahwa seni adalah aktivitas yang rasional sekaligus matematis, yang mana keindahan jadinya adalah tentang hal-hal yang simetris (seni dalam hal ini sudah dipisahkan dari agama, tapi ada bau sains dan filsafat). Sementara gurunya, Plato, berpikir transendental, meski tidak berbasiskan ajaran agama, dengan mengatakan bahwa seni adalah imitasi tidak sempurna dari objek yang sudah ada di dunia ide (dunia pra-eksistensi). Pada zaman Yunani Kuno tersebut, setidaknya seni mulai “independen” untuk dibicarakan secara tersendiri.

Namun posisi seni juga mengalami “naik-turun”. Pada Abad Pertengahan, perkembangan seni berlangsung sangat pesat, namun biasanya dilandasi oleh semangat-semangat keagamaan, karena pada saat itu Gereja sedang begitu dominan di Eropa. Puncak dari seni di Eropa ini dapat dikatakan berlangsung pada masa Renaisans, yaitu masa ketika Abad Pertengahan mulai tidak disukai dan semangat-semangat ketuhanan pelan-pelan diganti oleh spirit humanisme. Kita bisa menyebut nama-nama seniman besar di masa Renaisans, seperti Michaelangelo Buonarotti, Leonardo da Vinci, Raffaello Sanzia da Urbino, dan Gian Lorenzo Bernini.

Pada Abad Pencerahan, Immanuel Kant punya peran dalam membuat seni menjadi eksklusif dari fungsi-fungsi non-estetik. Menurut Kant, keindahan haruslah lepas dari segala fungsi dan kepentingan (disinterestedness), baru bisa dikatakan seni (tinggi). Jadi, bisa dikatakan, jika sebuah tangga digunakan untuk memanjat, maka tangga itu bukan seni. Tapi jika tangga itu tidak dipakai untuk apapun dan disimpan begitu saja di galeri, maka tangga tersebut jadi karya seni.

Pemikiran Kant tersebut menjadi semakin lekat dengan apa yang kita sebut sebagai seni modern, yang diperkuat dengan kredo yang diletupkan oleh Theophile Gautier yaitu “L’art pour l’art” atau “seni untuk seni itu sendiri”. Pada titik ini lengkaplah keistimewaan seni sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri, yaitu ketika seniman tidak memikirkan fungsi-fungsi lain kecuali estetika itu sendiri. 

Memang terdapat pertentangan-pertentangan dari, misalnya, aliran realisme sosialis, yang menginginkan seni harus punya fungsi bagi perubahan-perubahan sosial dan idealisme masyarakat yang komunal (baca: sesuai dengan prinsip komunisme).

Namun kredo seni modern perkembangannya tidak tertahankan, hingga seorang Prancis bernama Marcel Duchamp, di awal abad ke-20, mengajak kita berpikir ulang tentang estetika, dengan memajang tempat kencing (urinoir) di galeri. Menurutnya, pertama, keindahan bisa jadi sangat bergantung dari persepsi si apresiator, dan tidak melulu terkandung secara an sich dalam karya seni. Kedua, estetika tidak semata-mata sesuatu yang retinal atau memuaskan mata, melainkan juga, pada titik tertentu, memberikan suatu gagasan baru, mendobrak pemikiran lama, dan memprovokasi suatu pandangan yang visioner. Pernyataan tersebut bisa jadi jalan masuk bagi kita untuk memahami posisi penulis seni.

Tentang Penulis Seni 

Apa hubungannya sejarah singkat seni yang dipaparkan di atas dengan posisi penulis seni yang akan kita bahas di pertemuan sekarang ini? Kita bisa membayangkan, ketika seni masih ada kait kelindannya dengan fungsi-fungsi lain di luar estetika, maka tidak perlu kita memikirkannya panjang lebar untuk menjadi “penyambung lidah” bagi para apresiator.

Atau, ketika seni, dalam dirinya sendiri, sudah mengandung keindahan – yang sifatnya retinal, jika meminjam istilah dari Duchamp -, maka pemikiran yang berlebihan pun tidak diperlukan, karena biarkan objek itu sendiri yang “berbicara” pada si penikmat. Misalnya, kita tidak terlalu membutuhkan penulis seni, untuk memikirkan dan menjelaskan tentang apa makna, interpretasi, serta proses kreatif musik-musik di gereja, atau mozaik di jendela kaca gereja. Tentu saja bukannya tidak bisa, tapi tanpa penulis seni pun, musik dan karya rupa tersebut, akan tetap berjalan dalam fungsinya sebagai estetika yang mendukung kegiatan keagamaan.

Sementara itu, pada seni-seni yang “indah pada dirinya sendiri”, kita juga bisa mengatakan penulis seni bisa diperlukan bisa tidak. Misalnya, pada karya-karya realis, kemungkinan kita akan langsung terpesona jika sebuah lukisan mirip dengan kenyataan aslinya, tanpa harus bertele-tele dengan penjelasan. Namun tidak serta merta peran penulis seni dapat disingkirkan sepenuhnya dalam hal-hal yang disebutkan di atas. Ingat bahwa lukisan karya Da Vinci, Mona Lisa, dihargai tinggi disebabkan oleh salah satunya, senyum misteriusnya? Kita tidak bisa tahu persis apakah senyumnya benar-benar misterius atau tidak. Bisa saja, terdapat mistifikasi, yang diembuskan secara turun temurun, masif, dan akhirnya dipercaya sebagai sesuatu yang benar tentang senyum Mona Lisa.

Dalam upaya mistifikasi tersebut, mungkin saja ada peran penulis seni di dalamnya. Artinya, pertama, terdapat asumsi bahwa keindahan seni, tidak lepas dari konteks ruang dan waktu. Seni yang indah pada dirinya sendiri, sebenarnya terlepas dari aspek keterampilan si seniman, juga punya unsur eksternal lain, yaitu kontekstualisasi, yang dalam hal ini bisa “diciptakan” oleh penulis seni.

Kedua, seperti telah diungkap di atas terkait seni modern sejak abad ke-20, peran penulis seni kian diperlukan seiring dengan ekpresi seni yang semakin individual dan berorientasi pada gejolak pribadi si seniman (dulu juga bisa jadi seperti itu, tapi dulu sikap individualis tidak seperti sekarang). Penulis seni menjadi elemen penting dalam medan sosial seni sebagai elemen penting untuk, pertama, “menjembatani” ekpresi seniman dengan cakrawala pengetahuan apresiator, agar karya seni tersebut tidak hanya dapat dirasakan, tapi juga “dipahami” (tanda kutip digunakan karena pemahaman estetis kadang berbeda dengan pemahaman kognitif yang umum).

Kedua, jika “jembatan” terasa sebagai peran yang terlalu dangkal, maka penulis seni, lebih daripada itu, berperan membangun wacana-wacana yang baru dan segar, sehingga setiap bagian dari ekosistem seni, memikirkannya sebagai sesuatu yang menarik. Misalnya, kawan saya, Bob Edrian, kurator, sangat rajin menulis tentang sound art sebagai fenomena seni rupa yang “baru”, setidaknya di ranah seni rupa di Bandung. Bob secara konsisten menawarkan bunyi sebagai medium seni rupa, dan itu direnungkan tidak hanya oleh apresiator, tapi juga oleh seniman. Penulis seni semacam ini perlu dipahami sebagai bagian tidak terpisahkan dari ekosistem kesenian, dan ketiadaannya justru membuat seni menjadi kering dari dinamika pemahaman yang baru. Penulis seni tidak hanya memetakan, menawarkan, tapi juga “menyengat”.

 Penulis seni yang saya sebutkan di sini bisa jadi penulis seni dalam konteks apapun, baik kurator, peneliti, jurnalis, ataupun kritikus. Memang ada perbedaan-perbedaan peran dan titik berat antara empat contoh sub-penulis seni tersebut, misalnya, kurator lebih ada “di dalam” mekanisme seniman, karya, pameran, dan kolektor, sementara kritikus ada “di luar” dan tidak ada kepentingan dengan mekanisme tersebut. Sementara peneliti bisa “di dalam” atau “di luar”, tapi bisa jadi orientasinya tidak ke publik, melainkan pada perkembangan seni di wilayah akademik. Jurnalis, kita tahu, berorientasi ke publik, tapi kepentingannya untuk mendalami terminologi-terminologi dalam seni, beserta makna dan interpretasinya, bisa jadi tidak terlalu harus mendalam (meski tidak semua jurnalis seperti itu).

Apapun itu, menulis seni tetap mesti melalui satu disiplin dan kemauan tertentu, untuk tidak hanya mempunyai kemampuan menulis yang mumpuni, melainkan juga punya sensibilitas dan pemahaman yang kuat mengenai seni dan dunianya. Jika kita percaya seni sebagai salah satu pilar penting bagi peradaban, maka secara otomatis, penulis seni merupakan bagian di dalamnya.


Continue reading