Friday, November 16, 2018

Tentang Pertentangan Jerinx SID versus Via Vallen

Tentang Pertentangan Jerinx SID versus Via Vallen
Pertama-tama, saya bukan penggemar Superman is Dead. Pun secara umum, saya bukan pendengar musik punk yang intens. Via Vallen apalagi, hanya karena dia populer, maka sering sekali secara tanpa sengaja mendengarkan beberapa lagu yang ia bawakan. Kemudian dari linimasa dua teman yang sering saya jadikan referensi konflik budaya pop terkini, saya mulai mengikuti konflik antara personil grup Superman Is Dead (berikutnya disingkat SID saja) bernama Jerinx (pemain drum) dengan penyanyi Via Vallen. Inti dari konfliknya adalah sebagai berikut:

Via Vallen pada tahun 2013, sebelum ia terkenal seperti sekarang ini, sering sekali membawakan lagu dari SID berjudul Sunset di Tanah Anarki dengan aransemen dangdut koplo. Jerinx tidak mempermasalahkannya saat itu karena mungkin bagian dari promosi gratis bagi SID sendiri. Namun seiring dengan popularitas Via Vallen saat ini, Jerinx kemudian menjadikan hal tersebut masalah oleh sebab pertama, album baru SID, kata Jerinx, berpotensi untuk diaransemen ulang dengan irama dangdut koplo yang menurutnya, menjadi rentan untuk memunculkan Via Vallen-Via Vallen berikutnya yang memainkan lagu tanpa menghormati hak cipta.

Kedua, menilik popularitas (dan kekayaan Via Vallen) saat ini, sudah seyogianya, menurut Jerinx, agar Via Vallen menyumbang bagi aktivisme yang selama ini digaungkan oleh SID, sebagai bentuk "terima kasih" atas lagu Sunset di Tanah Anarki yang ikut menaikkan nama Via Vallen. Ketiga, bahwa dalam "gugatan" Jerinx, lagu tersebut punya makna yang kuat dan mendalam, yang sepertinya menjadi terdegradasi oleh Via Vallen yang menyanyikannya dalam konteks interpretasi yang "tidak seharusnya".

Terkait konflik tersebut, yang sebenarnya tidak penting-penting amat untuk ditanggapi, maka inilah pendapat saya:

1. Problematika album baru SID yang bisa diaransemen ulang menjadi dangdut koplo adalah kekhawatiran yang aneh. Punk, terlepas dari latar belakang ideologisnya, secara musikal bukanlah bentuk musik yang sulit untuk diaransemen jadi apapun. Dangdut koplo juga, atas latar belakangnya yang lebih ditujukan pada "hiburan rakyat", agaknya hal yang lebih penting ada pada aransemennya hanyalah aspek iramanya yang mampu mengajak pendengarnya untuk goyang. Maka itu, musik apapun menjadi sahih untuk di-dangdut-koplo-kan dan agaknya punk, yang secara musikal tidak sulit, menjadi salah satu sasaran empuk - meski tidak dapat dikatakan bahwa dangdut koplo dan punk kerap bertalian secara musikal-.

2. Ini adalah pertentangan klasik tentang idealisme versus pasar, yang juga punya kaitan erat dengan komentar saya untuk sekaligus poin kedua dan poin ketiga dari Jerinx. Pasar, atau dalam hal ini saya sebut dengan kapitalisme, selalu punya tendensi untuk melakukan demistifikasi: upaya pereduksian makna yang tadinya luhur, menjadi dangkal, agar apa? Agar tentu saja, dikonsumsi publik seluasnya, dan menjadi material bernama uang. Inilah titik kontradiksi Jerinx. Bahwa di satu sisi, Via Vallen pada dasarnya telah membantu mengurai musik Jerinx sehingga terpapar ke sebanyak mungkin orang (seperti yang mungkin dicita-citakan SID tentang gerakan komunal), namun di sisi lain, Via Vallen dituduh telah melakukan demistifikasi besar-besaran terhadap makna lagu ini sehingga meski tersebar ke sebanyak mungkin orang, tapi penyebaran itu tidak sama dengan gerakan komunal yang diinginkan SID.

Inilah agaknya yang Jerinx lupa tentang bagaimana kekejaman demistifikasi kapitalisme bekerja dalam sejarah peradaban. Lebaran, misalnya, adalah korban demistifikasi, natal juga, sebagai sesuatu yang tadinya punya nilai luhur, menjadi disempitkan ke dalam konsumerisme yang membabi buta, apalagi ini, "cuma" lagu punk. Apakah lebaran dan natal boleh berterima kasih pada kapitalisme? Boleh. Berkat kapitalisme, aura keagamaan, meski setahun sekali, dapat dirasakan di berbagai ruang non-religius dan hawanya bisa sampai ke umat lain yang bukan pengikutnya. Itu contoh ekstrim soal keagamaan. Ada banyak contoh lain yang lebih terkait dengan budaya pop, seperti bagaimana kaos tye dye digunakan di masa sekarang tanpa paham spirit psikedelik, bagaimana world music menjadi suatu tren baru yang tanpa sadar ada unsur simplifikasi terhadap ragam musik timur, dan sebagainya. 

Menyuruh Via Vallen menyumbangkan uangnya untuk aktivisme SID? Apakah SID rela ada orang kaya yang menyumbang bagi aktivisme (yang objeknya sangat spesifik), tapi orang tersebut tidak paham apa yang dibelanya? Jika Jerinx adalah seorang idealis, harusnya tidak mau. Iya, Jerinx konon dihormati karena idealismenya (atau dalam bahasa di laman Facebooknya: integritas). Kata teman saya, ia seorang anarkis, dan seorang anarkis, dalam pemahaman ideologi yang saya baca, harusnya tidak pusing dengan sebuah karya yang kemudian dikonsumsi secara seluas-luasnya. Karena jika tidak ada negara, harusnya juga tidak ada pengaturan macam hak cipta. Karya adalah dari rakyat dan untuk rakyat. 

Jadi, sudahlah, jadikan seni sebagai rahmat bagi seluruh alam.  

Continue reading

Sunday, September 2, 2018

Manusia dalam Kapsul



Lelah karena sampai terminal bis Bandar Tasik Selatan pada jam enam pagi, sementara pesawat baru tinggal landas pukul enam maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk mencari hotel transit. Katanya ada, hotel yang bayarnya jam-jaman.

Memang betul, ada yang namanya Rest & Go Motel. Bayarnya per jam lima belas Ringgit atau sekitar Rp. 55.000. Kami kira ini semacam kamar konvensional dengan kasur dan ruangan yang kita semua paham. Tapi kenyataannya, yang kami tempati adalah semacam kapsul, dengan panjang sekitar tiga meter, lebar satu meter, dan tinggi satu setengah meter (saya kurang baik soal geometri, ini perkiraan saja).

Di dalamnya sudah dilengkapi hal yang diperlukan manusia kontemporer yaitu sambungan listrik untuk menambah daya baterai ponsel atau laptop. Ukuran ranjang cukup untuk satu orang saja, dengan satu bantal dan satu selimut (konon kapsul besar bisa memuat dua orang).

Meski kebutuhan tidur lumayan tercukupi karena berhasil terlelap satu setengah jam dari total sewa dua jam, ada hal yang berulangkali mengganggu benak saya: Sudah sejauh inikah manusia, hingga sudah bisa menyediakan kapsul untuk tidur? Ini sudah menyerupai film-film distopia yang saya tonton sejak kecil, seperti Judge Dredd, 2001: A Space Odyssey, atau Blade Runner. Saya menyaksikan film-film tersebut tidak dalam semangat yang berapi-api menyaksikan masa depan peradaban, tapi dalam perasaan sepi yang mendalam (itu sebabnya disebut distopia dan bukan utopia).

Tapi apa arti yang lebih mendalam, dari keberadaan kapsul-kapsul itu? Bahwa dalam hidupnya yang kian pragmatis, tidur, bagi manusia, hanyalah kebutuhan fisiologis yang seyogianya bisa diatasi dengan singkat. Tidak ada yang serius tentang tidur kecuali sebuah aktivitas yang menjadi "rintangan" dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Maka berdasarkan fenomena manusia kapsul itu, berbahagialah mereka yang masih menjadikan tidur sebagai "ritual suci", yang masih menjadikan tidur sebagai kegiatan yang lebih inti dari seluruh kesibukan.

Namun lebih daripada itu, ada semacam persekongkolan yang membuat kita harus menuju kapsul itu, dan ini saya perhatikan tidak hanya di Bandar Tasik Selatan, tapi juga di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) alias bandara di Kuala Lumpur. Mereka juga punya hotel kapsul yang serupa dan kita, yang menunggu lama, nyaris tidak punya pilihan kecuali menyewa kapsul.

Sesekali perhatikan desain kursinya dan segala macam yang ada di bandara, yang seyogianya bisa digunakan untuk istirahat. Semua dibuat sedemikian rupa agar kita tidak nyaman terlelap. Duduk di sofa pijit tanpa membayar, akan ada alarm berbunyi; tiduran di kursi bandara adalah tidak mungkin nyaman karena antar kursi ada semacam lengan yang membuat kita kesakitan jika berbaring di atasnya; adapun duduk barang sejenak untuk istirahat di teras motel, kita dikenakan lima ringgit atau hampir dua puluh ribu Rupiah per jamnya.

Ini semua konspirasi mengerikan, yang mengarahkan kita menjadi si manusia dalam kapsul!



Continue reading

Saturday, August 25, 2018

Notasi Musik, Persoalan Kontemporer dan Kemerdekaan Bunyi

Ditulis dalam perjalanan di kereta, sebagai suplemen bedah buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 karya Septian Dwi Cahyo, Sabtu, 25 Agustus 2018 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta




Buku Notasi Musik Abad 20 dan 21 ini sudah lama saya lihat pengumumannya di linimasa media sosial teman-teman saya. Selintas, saya pikir buku ini menarik dan keren karena saya tiba-tiba teringat ucapan Dieter Mack pada sebuah seminar berjudul Komposer Masa Kini di Universitas Pendidikan Indonesia pada 11 Oktober 2016. Begini kira-kira ucapannya, "Meski cara memainkan musik sudah sangat beragam, tapi komposer tetap harus punya cara agar pemain dapat memainkan komposisinya dengan seratus persen sama (dengan apa yang dimaksud)." Lalu Dieter berjalan ke papan tulis dan menggambar notasi yang, saya yakin, nyaris sebagian besar audiens tidak mengenalnya.

Bagi saya yang bukan komposer, saya baru mengerti secara yakin: inilah notasi musik "masa kini", yang oleh Septian Dwi Cahyo dikategorikan ke masa abad 20 dan 21. Sebelumnya, saya pernah diperkenalkan secara sekilas oleh seorang kawan, Diecky Kurniawan Indrapradja, berbagai bentuk penulisan partitur kontemporer, dalam sebuah kelas komposisi. Dikesempatan lain, komposer Hery Budiawan juga pernah membuatkan saya sebuah komposisi dengan gaya penulisan yang sangat tidak lazim dengan judul Naon?  untuk solo gitar yang hingga sekarang belum sempat saya mainkan (dan saya masih merasa bersalah karenanya).

Artinya, meski tidak secara getol menggeluti dunia penulisan partitur ini (apalagi yang kontemporer), ada beberapa fragmen memori yang melekat, yang bisa jadi landasan untuk saya berbicara dalam forum ini.

Pertama, ini buku yang penting. Sangat penting. Memang Septian sudah sangat hati-hati dengan mengatakan bahwa ini bukanlah upaya standardisasi notasi seolah-olah semuanya mutlak seperti yang ia tuliskan. Bagaimanapun, Dieter sendiri yang mengatakan: bahwa sejak abad ke-20, ekspresi musik para komposer sudah semakin individual dan tidak bisa dikelompokkan dalam suatu gaya yang serupa seperti halnya di zaman-zaman sebelumnya (e.g.: Barok, Klasik, Romantik).

Jadi, Septian telah melakukan sedikit keberanian yang penuh nuansa perjudian: Ia mendokumentasikan sesuatu yang spektrumnya sangat luas dan tidak terbatas. Yang ia sendiri sadari bahwa upaya ini cukup rumit karena komposer tertentu sangat senang bermain mana-suka dengan tanda-tanda dan mungkin hanya dipahami oleh pemain yang pernah bekerjasama dengannya.

Namun kenapa penting? Karena pertama, buku ini bukan untuk diikuti sedemikian rupa tanda-tandanya oleh komposer manapun yang membaca. Tapi untuk memberi inspirasi bahwa notasi merupakan sebentuk kendaraan atas gagasan musik kita dan itu artinya ikatan-ikatannya sebenarnya tidak baku selama musisi bisa paham apa yang diinginkan. Artinya, komposer yang membaca buku ini bisa terbebaskan dan bahkan tercerahkan dari belenggu aturan konvensional dan mungkin segera bisa menuliskan gagasan-gagasan baru yang sudah lama terpendam.

Kedua, ini bukan buku yang mendeskripsikan ragam notasi masa kini saja. Lebih daripada itu, ini adalah buku yang kurang lebih menceritakan tentang situasi musik kontemporer. Membaca ini, saya merasa miskin sekali. Bahwa ternyata musik sudah sejauh ini, estetika sudah sangat jauh beragam dan apa yang saya dengarkan belakangan, ekplorasinya ternyata masih di situ-situ juga.

Perasaan miskin ini mungkin bukan hanya jadi milik saya secara pribadi, tapi juga umumnya komposer, musisi, dan apresiator di kota tempat saya tinggal, Kota Bandung. Panitia menuliskan nama saya sebagai " founder KlabKlassik Bandung" dan itu punya banyak makna bagi saya.

Sejak KlabKlassik Bandung berdiri tahun 2005, saya merasa bahwa komunitas ini mungkin sedikit banyak punya peran dalam mendorong gairah musik klasik di Kota Bandung (dengan kontribusi kelompok lainnya tentu, semisal Classicorp Indonesia dan Bandung Philharmonic). Tapi kami juga sedih karena perkembangan musik klasik di Bandung ini pada titik tertentu menjadi semacam klangenan belaka. Jarang sekali ada satu sikap bermusik yang kuat seperti yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta (atau sekarang mulai berkembang di Pontianak) yang menunjukkan kepekaan terhadap situasi kontemporer. Memang ada komposer garda depan yang baik sekali seperti Iwan Gunawan, Haryo Yose Sujoto, Dedy Satya Hadianda, atau Fauzie Wiriadisastra, tapi lain daripada itu, sangatlah minim. Pernah ada komposer berani sekali, yang sudah saya sebut di paragraf sebelumnya, Diecky. Tapi ia pindah domisili, setelah sebelumnya sukses meracuni sejumlah orang untuk mengikuti "jalan sunyi"-nya (para pengikutnya itu, macam Adrian Benn dan Bilawa Ade Respati, sekarang berkiprah di Eropa).

Memang, Bandung belakangan ini mulai menggeliat "gerakan bunyi" yang diinisiasi salah satunya oleh seorang kawan, namanya Bob Edrian, lulusan Seni Rupa ITB. Dia getol sekali berkampanye tentang sound art, sonic philosophy , dan yang menarik adalah dia ini bukan orang musik, melainkan orang seni rupa. Beberapa komposer musik sempat berang dengan Bob yang secara serampangan mencatut nama Cage dan Xenakis menjadi bagian dari perkembangan seni rupa. Tapi saya pribadi tidak peduli dengan catut mencatut sejarah karena sejarah ya sejarah, tidak ada istilah catut mencatut. Justru Bob (mudah-mudahan) telah membangunkan komposer musik di Bandung dari tidur panjangnya akibat keasyikan memelihara musik klasik sebagai sebuah klangenan belaka. Orang-orang di seni rupa telah memasuki wilayah bunyi sebagai "medium rupa yang baru" dan mungkin banyak diantara mereka sama sekali tidak menguasai (atau tidak merasakan pentingnya) notasi masa kini.

Jadi, kembali lagi ke buku Septian. Buku ini begitu punya banyak arti bagi saya khususnya, dan berharap bagi para pegiat musik di Kota Bandung juga pada umumnya. Kawan saya, Ismet Ruchimat, komposer grup fusion ethnic Sambasunda, titip satu eksemplar buku ini. Lalu sebuah kafe bernama Kaka Café yang sering mengadakan kegiatan filsafat dan kebudayaan, juga minta saya membawa beberapa eksemplar untuk dipajang. Artinya, memang buku ini lebih dari sekadar tentang notasi. Ini buku tentang situasi kekinian yang kerap dilupakan orang. Nigel Spivey pernah mengatakan bahwa memang seni disukai karena membawa kita pada situasi yang tidak realistis. Musik kontemporer sukar untuk disukai, karena mungkin bebunyiannya terlalu mengingatkan kita pada situasi "sekarang" dan itu terasa memilukan karena begitulah fakta yang terhadirkan setiap hari yang dicandrai oleh kita.

Jika (umumnya) publik Kota Bandung tidak bisa langsung dijejali musik kontemporer, maka buku Septian akan menjadi menu pembuka yang asyik. Kita harus senantiasa mendiskusikan dan membicarakannya, agar semakin terbiasalah kita dengan musik masa kini, dan terbebaslah telinga kita dari apa yang disebut Jacques Ranciére sebagai "rezim estetik". Adakah kebebasan yang lebih luhur dari kebebasan sensori pendengaran?
Continue reading

Sunday, August 12, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Sembilan - Habis): Mencari Oleh-Oleh yang Tepat untuk Dibawa ke Bandung

12 Agustus 2018

Hari keempat di Surakarta, adalah artinya hari terakhir saya berada di sini. Festival masih akan berlangsung hingga tanggal 16 Agustus, tapi apa daya saya hanya ditugaskan hingga tanggal 12. Panitia sudah menyiapkan tiket pesawat kepulangan untuk jam 14.15 dan itu artinya saya punya cukup waktu dari pagi hingga siang hari untuk mencari oleh-oleh. 

Membawa pulang oleh-oleh memang seolah sudah menjadi budaya kita. Setiap kita akan pergi ke suatu tempat, kita sering diteriaki, "Jangan lupa oleh-olehnya, ya!" Padahal, kita semua juga tahu, tidak semua kepergian ke luar kota atau luar negeri, punya cukup waktu dan uang untuk membeli oleh-oleh. Namun demi keharmonisan dengan semesta, kadang kita harus memaksakan diri untuk mencari oleh-oleh, agar setidaknya tidak dicap sombong, mentang-mentang, dan sebagainya. 

Meski waktu sempit, saya menyempatkan diri untuk mampir di tempat menjual Serabi Notosuman yang terkenal itu. Saya membeli tiga dus untuk teman-teman di kostan dan dua instansi Perguruan Tinggi tempat saya bekerja. Setelah itu, saya mencari sosis Solo untuk beberapa kawan dan tidak menemukan dimana-mana (dalam perjalanan ke Bandara) kecuali di Bandara Adi Sumarmo itu sendiri. Walhasil, satu gulung sosis berukuran dua kali gigit itu harus ditebus dengan harga sepuluh ribu Rupiah. Ini tentu saja, kita tahu, akibat dari membeli di Bandara. 

Namun inti artikel ini ternyata bukan tentang oleh-oleh makanan yang saya tulis di atas. Oleh-oleh bisa saja bermakna luas, bisa berupa makanan dan cenderamata, bisa juga terkait pengetahuan dan pengalaman. Saya tidak mampu membawa pulang makanan dan cenderamata yang banyak oleh sebab keterbatasan waktu dan uang, tapi saya punya oleh-oleh lebih besar dalam seluruh tubuh saya, untuk diceritakan dan diaplikasikan di kota kelahiran saya, Bandung. 

International Gamelan Festival (IGF) 2018 adalah festival yang sangat luar biasa. Tentu saya melontarkan pujian ini bukan karena saya diundang oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan RI sebagai payung penyelenggara. Bukan. Kalaupun memang iya begitu, saya hadir sebagai blogger yang tidak menginduk pada media manapun. Saya hadir sebagai orang bebas, yang bisa berkomentar apapun karena saya hanya akan mengunggahnya di kanal milik pribadi. 

Ini alasan mengapa saya memuji IGF 2018 sebagai festival yang bagus: 

1. Festival ini dengan cantik melibatkan banyak pihak untuk berkolaborasi, dari mulai Kemendikbud, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Indonesiana (tentang ini, akan dijelaskan di poin berikutnya), Pemerintah Kota Surakarta, swasta, seniman, hingga ke pedagang kaki lima. Festival ini membuat segala sesuatunya menjadi milik bersama. 

2. Sistem informasi begitu rapi dan memadai. Meski festival berlangsung di banyak titik, tapi informasi tersedia secara komprehensif baik lewat situs, media sosial, hingga dibagi lewat selebaran, umbul-umbul dan terpampang di reklame. Sehingga para pengunjung tidak merasa tersesat untuk memilih mana kegiatan yang mereka sukai dari IGF 2018 ini. Sistem informasi yang bagus ini juga membuat IGF 2018 terasa mengubah atmosfer kota Solo. 

3. Keterlibatan para ahli di festival seperti Rahayu Supanggah dan Garin Nugroho, menambah bobot kegiatan ini. Tidak semua festival mempunyai aktor intelektual dan kultural di belakang penyelenggaraannya. Dengan keberadaan sosok-sosok itu, terasa sekali IGF 2018 tidak hanya festival hura-hura, tapi juga punya dasar filosofis yang kuat. 

4. Kelompok gamelan yang tampil sangat beragam, dari mulai para pemain mancanegara hingga siswa SD, dari pemain profesional hingga amatir. Kegiatan yang dimunculkan juga sangat bervariasi dari mulai panggung musik (tentunya), konferensi akademik, pameran hingga pasar makanan. Keterlibatan pedagang kaki lima di festival juga menjadi pertimbangan yang luar biasa. 

5. Ini saya baru ketahui. Di festival ini ada kepanitiaan yang unik bernama knowledge management. Bagian ini khusus mengurusi hal ikhwal pengetahuan dan sejarah tentang gamelan. Ini adalah ide luar biasa karena selama ini festival cenderung terjebak pada keriaan (saja) dan minim aspek edukasi. Ternyata hasilnya lain jika aspek edukasi ini memang diniatkan ada dan diurusi secara independen. 

6. Keberadaan Indonesiana selaku perpanjangan tangan Dirjen Kebudayaan dalam hal penyelenggaraan dan pendampingan, berfungsi sangat baik. Tugas Indonesiana secara umum adalah berkoordinasi dengan pihak panitia lokal dan terus memberi masukan serta mengawasi jalannya festival agar luarannya tetap berada dalam jalur UU no. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ada sembilan festival inti dan empat festival pendukung di Indonesia tahun ini dan Indonesiana berupaya menjadikan seluruh festival tersebut lebih terintegrasi sehingga dampaknya menjadi terasa bagi masyarakat secara luas. Indonesiana, sejauh ini, berhasil mengisi "jurang" yang selama ini menganga antara panitia lokal dengan pemerintah pusat. 

Kesan mendalam saya tentang IGF 2018 seyogianya menjadi oleh-oleh paling nikmat bagi warga Bandung yang tidak kunjung punya festival yang membanggakan. Saya tentu tidak berharap oleh-oleh ini tersimpan hanya sebagai pengetahuan dan pengalaman saja. Semoga suatu saat bisa teraplikasikan entah dengan cara bagaimana, bisa kecil maupun besar. 

Akhirul kata, pesawat pulang sudah menunggu. Bandung, kota tempat saya lahir dan besar, sudah menanti untuk dicumbui. Terima kasih, IGF 2018, Indonesiana, dan Dirjen Kebudayaan, sampai jumpa di lain kesempatan. Salam budaya!



Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Delapan): Gema Swaratyagita dan Musik Masa Kini

Hari itu, entah kenapa, saya sedang tidak semangat untuk bepergian. Tentu saja, sikap semacam itu tidak diperbolehkan di tengah kewajiban untuk meliput ini itu. Hanya saja, saya harus berpikir lebih strategis: saya akan beristirahat seharian, sebelum pergi mengunjungi Balai Soedjatmoko di waktu malam yang jaraknya hanya satu kilometer saja dari hotel tempat saya tinggal. Artinya, hari itu, saya tidak menghadiri panggung utama di Benteng Vastenburg, yang secara jarak, memang lebih jauh. 

Datang ke Balai Soedjatmoko dengan biaya transportasi empat ribu Rupiah saja (saking dekatnya), seperti sudah ditulis di surat sebelumnya, saya menyaksikan dan mewawancarai terlebih dahulu Peter Szilagyi, pentolan dari grup Surya Kencana A. Setelah itu, kemudian, saya menyaksikan dengan khusyu penampilan dari komposer asal Jakarta, Gema Swaratyagita dan Laring Project, bersama dalang muda, Woro Mustika Siwi. 

Saya katakan khusyu karena pertama, saya sudah menyelesaikan makan malam angkringan saya dan sekarang bisa fokus ke pertunjukkan dan yang kedua, penampilan Gema, sejauh yang saya lihat di sepanjang festival ini, termasuk yang berbeda. 

Penonton memadati pertunjukkan dari Gema Swaratyagita. Foto oleh Resti Noelya.
Berbeda yang dimaksud adalah dari segi estetika: Gema tidak menggunakan set alat gamelan konvensional, melainkan hanya instrumen gong ageng dan gong kempul yang dimainkan oleh Didit Alamsyah dan Ronal Lisand. Bunyi lainnya kemudian dihasilkan dari tiga suara manusia yang diproduksi oleh Tessa Prianka, Monica Dyah, dan Yanthi Rumian, serta “monolog” Semar yang ditirukan oleh Woro Mustiko Siwi sebagai dalang (yang baru berusia enam belas tahun!). 

Deskripsi tentang musik yang diusung Gema, mungkin akan langsung terbayang jika menyebut Slamet Abdul Syukur (SAS) sebagai sumber inspirasi terbesarnya. Perempuan kelahiran Jakarta tahun 1984 itu memang pernah berguru pada maestro musik kontemporer Indonesia tersebut sejak sekitar tahun 2007. Gema mengaku, sebelum “diracuni” SAS, ia begitu asing dengan nama musisi-musisi garda depan seperti Igor Stravinsky, John Cage, hingga Frank Zappa. “Namun,” ujar Gema, saat diwawancarai pasca pertunjukkan, “SAS tidak hanya menjadi guru komposisi semata, ia merangsang saya untuk membuka cakrawala lebih lebar tentang dunia musik.” 

Sekarang, Gema tak tertahankan. Di usianya yang relatif muda, ia telah menjadi salah satu komposer muda yang diperhitungkan di Indonesia jika berbicara tentang “musik masa kini”. Istilah “musik masa kini” tentu saja mengundang pertanyaan, jika mengasosiasikan musik masa kini sebagai “musik kekinian” atau “musik pop industri”. “Masa kini” yang diusung Gema adalah terjemahan dari musik kontemporer yang secara literal diartikan sebagai “bersama waktu” atau bisa juga artinya “sedang terjadi sekarang”. 

Maksudnya, Gema adalah komposer yang menggunakan segala sensibilitasnya untuk menangkap estetika yang hadir hari ini, namun lepas dari godaan estetika musik yang sudah hadir sebelumnya, atau mainstream. Masa kini yang dimaksud, adalah kebaruan yang membuka jalan bagi estetika lain, agar juga turut terprovokasi untuk meperbarui dirinya. 

Sikap semacam itu tercermin dari karyanya kemarin, yang menciptakan ruang apresiasi yang bisa jadi baru bagi publik Internasional Gamelan Festival (IGF) 2018, yang hingga hari ketiga terbiasa disuguhi musik gamelan yang memang indah dan estetis, tapi masih dalam pakem estetika yang “dalam jalur”. 

Sebagai komposer musik kontemporer, tentu saja Gema sudah lebih tahan banting. “Saya sudah biasa, merasakan aura penonton yang mulai bosan atau tidak fokus, saat sedang menyaksikan pertunjukkan saya. Hal yang lebih ekstrem adalah ketika saya dituduh merusak pita suara para penyanyi akibat komposisi saya yang barangkali terlalu menantang,” tambahnya sembari tersenyum. 

Ini memang sudah jalur yang dipilih oleh Gema. Estetika “musik masa kini” akan selalu mendapat macam-macam reaksi. “Saya sempat khawatir ketika memasukkan komposisi ini di IGF 2018. Tapi sudah kebiasaan saya, menjadikan riset sebagai bagian dari proses kerja. Sebelum saya mulai latihan, saya menghubungi kawan-kawan yang sudah lebih paham soal gamelan dan pedalangan, agar bisa setidaknya memberi masukan,” ujar Gema. Artinya, Gema tidak benar-benar nekat. Di balik keberaniannya menampilkan komposisi yang berbeda, ia telah melakukan sejumlah riset yang dapat dikatakan cukup mendalam. 

Pada komposisinya kemarin, “kenakalan” khas SAS muncul dalam sajiannya. Meski terdengar seperti rapalan teks Jawa kuno, namun yang sebenarnya disampaikan oleh dalang maupun vokal diambil dari teks yang bermuatan perkataan SAS sendiri yang dicuplik Gema dari berbagai sumber. Tiga puluh menit penampilan bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah karya. Namun Gema kemarin berhasil menyudahinya dalam keadaan penonton yang tetap bertahan. Tentang ini, ia kembali berbagi tips dari sang guru, “SAS berpesan, untuk terus memberikan sesuatu yang baru dalam sebuah komposisi yang panjang. Apresiator harus diberi kejutan senantiasa, hingga ia kemudian menunggu-nunggu apa yang akan muncul berikutnya.” 

Gema, selain aktif sebagai komposer, juga turut mengorganisasi Pertemuan Musik yang rutin berlangsung di Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, dan Bogor. Pertemuan Musik adalah semacam organisasi nirlaba yang fokus pada komunitas dan edukasi musik. 

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Saya memilih pulang dengan berjalan kaki untuk merasakan udara malam Surakarta sebelum keesokan harinya pulang ke Bandung. Di benak saya masih terngiang, suara magis Woro Mustiko Siwi.
Continue reading

Saturday, August 11, 2018

Surat dari Surakarta (Bagian Tujuh): Jumpa Ligeti di Slamet Riyadi

11 Agustus 2018

"Waktu, itulah bedanya," ujar Peter Szilagyi ketika ditanya kesulitannya ketika awal memainkan gamelan. Dalam gamelan, cara pandang para pemain terhadap waktu sangat berbeda dan cenderung fleksibel ketimbang di musik Barat. "Pada musik Barat, kami mempunyai ukuran-ukuran yang kurang lebih pasti sehingga kami punya bayangan berapa lama lagu ini akan dimainkan," kata pimpinan kelompok gamelan Surya Kencana A tersebut. 

Surya Kencana A adalah kelompok asal Budapest, Hungaria, yang didirikan sejak tahun 2006. Kehadiran kelompok ini adalah bentuk kerinduan Szilagyi terhadap gamelan, ketika ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada tahun 1996 hingga 2002 sebagai penerima beasiswa Darmasiswa. Atas dasar itu, bersama kawan-kawan yang juga pernah belajar gamelan (terutama sesama jebolan Darmasiswa), ia membentuk kelompok tersebut.

Surya Kencana A. Foto oleh Bekti Sunyoto

Szilagyi sendiri "nekat" pergi ke Surakarta semata-mata ketertarikannya dengan bebunyian baru. Padahal, tahun 1996 itu, dia baru saja lulus SMA di Budapest. Namun sebenarnya, ia sebelumnya sudah punya dasar bermusik karena sudah tekun memainkan musik tradisional Hungaria. Tidak ada kesulitan serius ketika pindah memainkan gamelan kecuali yang ia sebutkan tadi itu: tentang waktu. 

Malam itu memang saya tidak memilih untuk larut dalam keriaan di Benteng Vastenburg - yang notabene panggung utama -. Saya memilih untuk menyaksikan pertunjukkan yang berlangsung di Balai Soedjatmoko (Jalan Slamet Riyadi), yang kebetulan jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari hotel tempat saya tinggal. Di gedung dengan kapasitas sekitar lima puluh orang itu, tampil dua kelompok yaitu Surya Kencana A dan Gema Swaratyagita bersama Laring Project. 

Karena terlalu penuh, saya memilih untuk menyaksikan Surya Kencana A dari luar gedung. Panitia International Gamelan Festival (IGF) 2018 seperti biasa, cukup sigap dengan memasang layar dan speaker di pelataran parkir, sehingga para pengunjung tetap dapat mendengar dan melihat, sembari nongkrong di angkringan (gratis loh!). 

Apa yang dimainkan oleh Surya Kencana A tampak seperti musik gamelan Jawa pada umumnya. Namun sebenarnya mereka melakukan transkripsi terhadap komposisi karya György Ligeti (1923 - 2006) yang berjudul Musica Ricertata. Musica Ricertata sendiri merupakan karya untuk piano yang terdiri dari sebelas bagian. Pada penampilannya kemarin, Surya Kencana A memainkan bagian dua dan tiga yang berjudul Mesto, Rigudo e Ceremoniale dan Allegro con Spirito. 

Meski berbasis di Hungaria, para penampil yang kemarin tampil tidak ada yang didatangkan khusus dari Hungaria. Semua yang tampil adalah musisi yang memang sedang atau sudah berada di Indonesia. Szilagyi sendiri menikah dengan orang Indonesia dan menetap (kembali) sejak tahun 2014. 

"A," potong Szilagyi, "Jangan lupa, Surya Kencana A, bukan Surya Kencana saja." Ini membuat saya heran dan otomatis bertanya, kenapa? Memang ada Surya Kencana B? Szilagyi, yang fasih berbahasa Indonesia ini, menjawab, "Itu adalah nama angkutan kota yang kami gunakan selama menjadi mahasiswa di Solo. Peran angkutan tersebut mungkin terasa sentimentil bagi kami, sehingga kami mengabadikannya." 

Sewaktu mereka tampil, saya sambil makan nasi kucing di angkringan. Saya mendengar dengan seksama, bagaimana mereka memainkan karya komposer favorit saya, Ligeti. Saya membayangkan, Ligeti, sang penulis musik avant garde tersebut, di hadapan saya, mencoba meredakan pedas karena membuka nasi kucing yang isinya rica.

Bersama Surya Kencana A. Foto oleh Resti Noelya.
Continue reading

Surat dari Surakarta (Bagian Enam): Sambasunda, Bukan Sekadar Kelompok Musik


10 Agustus 2018 

Sebagai orang Bandung yang lebih dari tiga puluh tahun hanya tinggal di sana, maka baru dua hari di Surakarta saja, rasanya sudah rindu pada tempat kelahiran. Namun saya tidak sedang ingin melankolik, apalagi di Surakarta ini, saya, seperti berulang kali diekspresikan, sangat kerasan dengan suasana International Gamelan Festival (IGF) 2018 yang hangat tapi sekaligus juga gempita ini.

Namun memang, ketika memilih siapa yang ingin disaksikan di Benteng Vastenburg pada perhelatan hari pertama, saya menunjuk Sambasunda, kelompok musik asal Bandung yang dibesut oleh kawan sekaligus guru saya, Kang Ismet Ruchimat. Ini cara untuk sedikit mengobati kerinduan pada Bandung, dengan minimal berbicara bahasa Sunda. 

Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan. Sudah sejak lama, jauh sebelum mengenal Kang Ismet, saya memang diam-diam menikmati musik Sambasunda. Ketika mengenal Kang Ismet pada pertengahan tahun 2017, malah ada perasaan bias yang sukar dihindarkan: Bahwa kekaguman saya pada figur Kang Ismet, membuat saya sukar untuk memandang musik dari kelompok yang berdiri tahun 1993 tersebut, secara “objektif” (diberi kutip karena objektif bukanlah kata yang tepat dalam apresiasi musik). 

Sambasunda. Foto oleh Adjie Dunston Iriana.

Sambasunda naik panggung sekitar pukul setengah sebelas malam, atau terlambat satu setengah jam dari jadwal semula. Urutan mereka ditukar dengan Sanggar Manik Galih (Amerika Serikat) dan Gamelan Group Lambangsari (Jepang) entah oleh pertimbangan apa. Tapi, tanpa mengecilkan dua kelompok luar negeri tersebut, penampilan Sambasunda memang tepat ketika disimpan sebagai puncak. Penampilannya, seperti biasa, kompak, progresif, dan bergairah. Mengusung fusion - etnik, Sambasunda kuat oleh sebab roh bermusiknya yang “sampai” - Kang Ismet menyebutkan bahwa ini adalah pengaruh latihan yang rutin setiap minggu selama berpuluh tahun, serta kunci lain, yaitu bermain tanpa membaca partitur -. Sambasunda, seperti biasa, sukses menyihir penonton - setidaknya, penonton dibuat menari dengan gembira -. 

Lagu-lagu yang menjadi andalannya, seperti Bangbung Hideung dan Taraja, secara umum mengubah atmosfer Benteng Vastenburg, dari yang tadinya mistis dan khusyu, menjadi tampak membumi dan merakyat. Sambasunda menampilkan formasi yang ramai, dari mulai kendang, saron, bonang, angklung, hingga instrumen modern Barat seperti keyboard, drum, bas, gitar akustik, gitar elektrik, dan flute. Kelompok musik yang sebagian besar personilnya berasal dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini, juga menampilkan vokalis Mayang Krismayanti yang sangat baik dalam memprovokasi penonton untuk terus berinteraksi. 

Sambasunda memang fenomenal. Mereka besar oleh sebab pertama, keberaniannya mengawinkan gaya musik Barat dan kesenian tradisional, yang pada masa itu, tahun 1990-an, belum seberapa marak (sekarang mungkin yang seperti ini sudah sering kita lihat). Kang Ismet mengaku bahwa pada mulanya, ide tersebut menuai kecaman terutama dari para pegiat tradisi yang sudah senior. Kira-kira, menurut mereka, Kang Ismet telah mengobrak-abrik tradisi yang sudah luhur dan sakral, dengan meleburkannya bersama musik yang “asing”. 

Namun konsistensinya membuahkan hasil. Sambasunda kian dikenal publik secara luas, yang tidak terbatas pada apresiator dalam negeri saja, melainkan juga luar negeri. Penampilan di Amerika dan Eropa sudah dilakoninya hingga berkali-kali. Kang Ismet sendiri, yang bergelar Doktor ini, beberapa kali diundang untuk memberikan kuliah tamu tentang musik tradisi di Pittsburgh, Amerika Serikat dan Oslo, Norwegia. 

Ismet Ruchimat. Foto oleh Adjie Dunston Iriana. 

Namun di samping musiknya yang memang dipenuhi “silaturahmi budaya”, apa yang saya kagumi dari Kang Ismet adalah kebesaran hatinya untuk terus melakukan regenerasi. Iya, Sambasunda sekarang mempunyai “Sambasunda junior” yang diisi oleh anak-anak yang lebih muda. Beberapa diantaranya mulai juga ikut tampil bersama pemain senior, hingga sesekali, dalam kesempatan tertentu, Kang Ismet mempercayakan seluruh panggung untuk para penerus. 

Sambasunda telah berkembang lebih dari sekadar kelompok musik. Mereka adalah komunitas yang merawat musik tradisi dalam konstelasi permusikan dunia. Mereka punya caranya sendiri: Dengan tidak henti-henti melakukan fusi, agar terus sesuai dengan derap perkembangan zaman. Kang Ismet sendiri patut ditiru oleh sebab kebesaran hatinya untuk sedikit demi sedikit melunturkan patronase. Ia ingin agar Sambasunda tidak terus menerus bergantung pada dirinya. 

Kiprah Kang Ismet ini, membuat saya tiba-tiba ingat pepatah Bapak, “Jika ingin jadi orang besar, besarkanlah orang lain.”
Continue reading