Wednesday, May 24, 2017

Mengajar dengan Cara Freire dan Sokrates

Dalam kegiatan belajar mengajar, sering kita dapati guru yang terus menerus mendikte muridnya. Guru diposisikan sebagai orang serba tahu dan murid sebagai kumpulan orang tidak tahu. Hal semacam ini disebut oleh pedagog Paulo Freire (1921 - 1997) sebagai "banking education" atau pendidikan a la bank. Artinya, murid-murid dianggap sebagai rekening kosong, dan guru pada posisi ini hanya berperan untuk melakukan deposit saja. Secara lebih jauh, Freire menganggap model pendidikan "banking education" hanya meneguhkan posisi guru sebagai "penindas" (oppressor) dan murid sebagai "yang ditindas" (oppressed).

Freire menyatakan dalam bukunya yang berjudul Pedagogy of The Oppressed (1970), bahwa murid-murid harus terbebaskan dari gaya pendidikan yang demikian. Tidak hanya "banking education" yang mesti dilawan, tapi juga "culture of silence". Menurut Freire, kebudayaan diam inilah yang menjadi dasar mengapa murid selalu ada di pihak yang didikte atau dalam bahasa Freire: ditindas. Apa yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam metode Freire adalah ini: berdialog, saling menghormati, mencintai kemanusiaan, dan membekali anak didiknya dengan suatu kemampuan praktis sekaligus reflektif untuk memecahkan persoalan sekitar.

Metode Freire tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
  • Tujuan pendidikan adalah membangun kesadaran kritis, bukan membiasakan murid dalam situasi tertindas. 
  • Guru dan murid punya hubungan sebagai partner diskusi, bukan guru mengambil kontrol atas seluruhnya dan menganggap murid hanya sebagai objek.
  • Guru harus mengajar dengan sebuah asumsi bahwa berbagai fenomena di dunia ini saling terkait satu sama lain dan tidak berdiri sendiri.
  • Latar belakang historis dari si murid penting untuk dibahas dan menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar. Dialog kemudian dilakukan untuk memancing murid berbagi tentang latar belakangnya.
  • Kata-kata yang digunakan mesti bermakna dan punya kekuatan, jangan sampai seorang guru teralienasi dari kata-katanya sendiri.
  • Pendidikan harus menjadi alat transformasi. Membuat baik guru dan murid keduanya saling memanusiakan.
  • Pendidikan harus terintegrasi dengan perubahan, bukan mengukuhkan situasi yang menindas. 
Dalam poin-poin di atas, Freire menekankan tentang pentingnya dialog, berdiskusi, dan saling memajukan satu sama lain sebagai elemen terpenting dalam pendidikan. Atas catatan tersebut, mungkin kita bisa mengoptimalkan pikiran Freire lewat pendekatan ala Sokrates. Sokrates adalah filsuf Yunani yang diperkirakan lahir pada tahun 470 / 469 SM dan meninggal pada tahun 399 SM karena dihukum mati dengan cara minum racun cemara. Sokrates terkenal justru karena dia tidak pernah menuliskan pikiran atau ajaran apapun. "Ajaran" Sokrates hanya bisa kita ketahui dari catatan-catatan muridnya, Plato. 

Sokrates memang tidak pernah benar-benar mengajar. Ia adalah orang yang percaya bahwa kebenaran sudah ada di dalam masing-masing orang dan tugasnya hanyalah sebagai "bidan" untuk membantu kelahirannya. Cara melahirkan kebenaran itu adalah dengan dialog. Namun dialog cara Sokrates ada kekhasan: Sokrates berdialog dengan bertindak seolah-olah ia adalah orang yang bodoh. Cara dialog yang demikian disebut dengan "ironi Sokrates". Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Sokrates diajukan sedemikian rupa sehingga kelihatan polos. Dengan demikian, orang-orang yang ditanya kemudian menjadi lebih percaya diri untuk menjawab dengan panjang lebar - karena tahu bahwa ia berhadapan dengan orang bodoh -.

Jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh orang yang ditanya itu kemudian selalu direspon oleh Sokrates dengan pertanyaan lain, sehingga kemudian tercipta dialog, dan orang yang ditanya tersebut menemukan suatu kebenaran yang berasal dari dirinya - yang kadang dihasilkan dari kontradiksi atas pernyataannya sendiri -. 

Contoh situasi kelas dengan metode mengajar Freire dan Sokrates:
Seorang dosen, sebut saja Amir, mengajar mata kuliah Kewarganegaraan. Ia berhadapan dengan sekitar empat puluh mahasiswa dengan latar belakang berbeda-beda. Kemudian ia masuk pada bab tentang pentingnya menjadi warga negara. Pada seorang mahasiswa berlatar belakang Papua, Amir memulai dialog: 

"Menurutmu, apakah menjadi warga negara itu penting?" 
"Penting, Pak."
"Mengapa?" 
"Karena dengan demikian, kita mempunyai hak-hak sebagai warga negara." 
"Apakah contoh hak-hak menjadi warga negara itu?" 
"Misalnya, mendapat perlindungan hukum."
"Kalau negara tidak ada, apakah kamu tidak akan mendapat perlindungan hukum?"
"Saya kira, tidak."
"Berarti kamu pikir, hukum bersumber dari negara?"
"Saya kira tidak, dalam masyarakat pun terdapat hukum."
"Berarti, perlindungan hukum bisa dilakukan tanpa harus ada negara?"
"Saya kira, Bapak benar."

Amir telah memulai suatu langkah penciptaan kesadaran kritis. Ia tidak berhenti pada suatu kata-kata yang teralienasi tentang pentingnya menjadi warga negara hanya lewat jargon belaka. Amir mencoba berdialog, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam, ia berhasil menemukan kontradiksi dalam pernyataan mahasiswa asal Papua tersebut. Dialog tersebut bisa dilanjutkan pada hal-hal yang lebih historis misalnya apa arti menjadi warga negara Indonesia bagi masyarakat Papua, dan seterusnya.

Daftar Pustaka:
Freire, Paulo. 1970. Pedagogy of The Oppressed. New York: Continuum
Pedagogy Of The Oppressed - What Is It and Why Its Still Relevant. 
http://www.practicingfreedom.org/pedagogy-of-the-oppressed-what-is-it-and-why-its-still-relevant/

Sumber gambar:
https://alchetron.com/Paulo-Freire-804547-W
http://filosofi.no/sokrates/




Continue reading

Tuesday, May 23, 2017

Musik Doa Sang Troubadour

*) Dimuat di Rubrik Opini Harian Umum Pikiran Rakyat, 1 September 2016 dalam rangka ulang tahun Iwan Abdurrahman. 

Dalam sebuah kesempatan ketika memberikan siraman rohani – atau juga semacam orasi budaya- di kampus Telkom University pada tahun 2014, Iwan Abdul Rahman (berikutnya disebut dengan Abah Iwan) mengatakan bahwa kurang tepat jika ada yang menyebut dirinya sebagai penyanyi folk atau balada. Ia lebih senang disebut sebagai troubadour, yang Abah Iwan definisikan sebagai “orang yang ngobrol dan bernyanyi, mengelilingi api unggun, di depan teman-temannya.” Pernyataan tersebut mungkin bisa dijadikan dasar mengapa musik Abah Iwan terdengar begitu akrab dan jujur. Karena itu tadi, ia selalu menekankan bahwa: Saya bernyanyi untuk teman-teman saya. 

Upaya membicarakan musik Abah Iwan barangkali malah bisa mereduksi kejujuran melodi dan iringannya. Ibarat membedah musik blues yang pada mulanya tampil sebagai sebuah ekspresi spontan dari kemurungan para pekerja Afro-Amerika yang tertekan di bawah perbudakan di sekitar abad ke-18 dan ke-19. Blues memang kemudian dapat diteoritisasi dengan misalnya penggunaan nada pentatonis dan skema dua belas bar yang terkenal itu. Tapi pemain blues yang hebat selalu dapat lepas dari teori-teori, dan menghayati kembali spontanitas dan kemurungan yang menjadi spirit kelahirannya. Artinya, boleh saja dalam tulisan ini kita melakukan teoritisasi atas musik Abah Iwan, tapi harus selalu ingat bahwa spirit bermusik Abah Iwan adalah yang seperti ia sudah tekankan: Saya bernyanyi untuk teman-teman saya. 

Gaya Bertutur 
Mari berimajinasi tentang apa yang dilakukan Abah Iwan dalam proses penciptaan lagu: Sebagai seorang pecinta alam, di tengah-tengah rehat pendakian gunung ataupun ekspedisi alam lainnya, Abah Iwan memetik gitar, dan bersenandung untuk menghibur teman-temannya. Lagu yang dimainkan, tidak selalu yang sudah pernah ditulisnya. Ada juga yang spontan, langsung tercipta di saat itu lewat gumaman-gumaman yang muncul dari refleksi atas alam yang sedang ia tadaburi. Akor iringannya tergolong sederhana. Bahkan lagu satu dengan lainnya bisa tidak terlalu berbeda. Mungkin hal tersebut dilakukan Abah Iwan agar ia fokus pada pengkomunikasian syair, bukan pada kerumitan akor iringan. 

Itu sebabnya lagu-lagu Abah Iwan selalu terasa seperti orang yang sedang bicara (baca: ngobrol). Jika Abah Iwan tampil live, terutama jika tampil hanya dengan iringan gitar (yang menjadi maksimal jika ia sendiri yang memainkannya dan bukan orang lain), tidak jarang melodi lagu tersebut ia nyanyikan secara lebih lepas –dengan tempo dan ketukan yang tidak terlalu mengikat-, agar efek ngobrolnya lebih terasa. Tentu saja, gaya bertutur ini erat kaitannya dengan lirik yang ia tulis, yang memang bersifat naratif – sebagaimana umumnya musik balada-. Meski tidak dapat dikatakan identik, namun dalam konteks musik seni Barat, gaya bertutur semacam itu dapat ditemukan dalam musik opera (khususnya opera jenis resitatif). Seorang aktor atau penyanyi mempraktikkan teknik bernama sprechgesang, yaitu teknik bernyanyi sambil bicara –atau sekaligus juga bicara sambil bernyanyi-.

Troubadour 
Dalam literatur yang penulis baca, tidak ditemukan kaitan antara troubadour dengan “menyanyi di depan api unggun, di depan teman-teman” seperti yang didefinisikan oleh Abah Iwan. Namun jika ditelusuri lebih jauh, akan ditemukan hal-hal menarik seputar troubadour, yang bisa sangat dikaitkan dengan musik Abah Iwan. Troubadour adalah orang yang berpuisi dengan menggunakan lagu di era Abad Pertengahan Akhir (sekitar tahun 1100 – 1350) yang umumnya menggunakan bahasa Occitan Lama (bahasa yang sekarang sudah hampir punah, yang dulu berkembang di kawasan Prancis bagian selatan, hingga ke Italia). Selain berpuisi dengan menggunakan lagu, fungsi seorang troubadour juga adalah untuk menyampaikan kabar terbaru kepada “les régions voisions” atau “daerah terdekat”. 

Kemudian, jika mendengarkan melodi dan iringannya secara seksama, justru musik troubadour inilah yang begitu dekat dengan gaya Abah Iwan. Musik troubadour –yang bisa kita temukan sedikit saja diantaranya, karena sebagian besar sudah punah- terdengar “puitik” dan juga “sunyi”; syair umumnya sekular (menampilkan hal-hal keseharian seperti semangat untuk prajurit yang hendak bertarung, atau suami yang cemburu karena istrinya terus menerus dipandangi oleh lelaki di sekitar rumahnya) tapi melodi terdengar “spiritual” – mungkin karena nada-nadanya yang panjang, cenderung monoton dan repetitif, yang terkesan seperti orang yang sedang memanjatkan doa-. Ditambah lagi, musik troubadour, yang dahulu ditujukan untuk menyampaikan pesan kepada “daerah terdekat”, oleh Abah Iwan ditafsirkan secara bebas sebagai pesan kepada “orang terdekat”, atau bisa juga: “pesan tentang sesuatu yang dekat”. 

Mengutip kalimat komposer asal Jerman, Ludwig van Beethoven, “Sup yang enak hanya bisa dibuat oleh mereka yang berhati bersih.” Musik memang bisa dibedah, dianalisis, dan dipikirkan secara mendalam, tapi ada yang lebih abstrak di balik itu semua, yang tidak bisa digali oleh teori manapun, yaitu niat dan ketulusan. Musik Abah Iwan bisa kita terima, mungkin bukan sekadar persoalan gaya bernyanyinya yang seperti orang bertutur, atau kesamaannya dengan musik troubadour. Musiknya bisa meresap ke dalam sanubari, karena ia juga menulis lagu dan menyanyikannya tanpa tendensi. Konon, Abah Iwan mendapat inspirasi lagu dari gunung-gunung yang ia daki, dan bunga-bunga yang sepanjang perjalanan ia temui. Semua mengalir begitu saja, seperti sungai yang ia arungi sepanjang ekpedisi. Mungkin Abah Iwan tidak peduli, apakah musiknya pada akhirnya bernilai rendah atau tinggi. Apakah musiknya bisa dianalisis atau tidak. Ia hanya menyanyi seperti apa adanya, seraya mendoakan seluruh alam raya.


Continue reading

Mengintip Asia Lewat Seni Rupa: Catatan Perjalanan di Guangzhou

Menginjak negeri Tirai Bambu adalah impian sejak lama. Dari dulu, saya mengagumi Tiongkok sebagai negeri dengan sejarah yang panjang, kebudayaan yang mendunia, filsafat yang luhur, serta masyarakat yang mau bekerja keras. Kesempatan itu datang ketika kami mendapat undangan dari Guangzhou Academy of Fine Arts untuk hadir dan berpartisipasi dalam Asian Silk Link Art Exhibition, sebuah pameran yang dihadiri oleh sejumlah negara di Asia. 

Perjalanan udara dari Jakarta ke Guangzhou membutuhkan waktu kurang lebih lima jam. Setibanya di Baiyun International Airport, kami langsung diantar oleh panitia menuju hotel yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan. Di sepanjang jalan tersebut, saya melewati gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampunya yang gemerlap dan Sungai Mutiara yang berlalu lalang kapal pesiar di atasnya. Secara reflek, saya mengambil beberapa foto dengan menggunakan kamera ponsel dan sudah membayangkan untuk mengunggahnya di media sosial dengan menggunakan wi-fi penginapan. Namun sesampainya di penginapan, saya mendapati sebuah mimpi buruk yang tidak terbayangkan oleh netizen manapun. 

Sensor Ketat Internet 

Di tengah keinginan untuk mengabadikan segala peristiwa dengan mengunggahnya di media sosial, ternyata saya harus berhadapan dengan fakta bahwa pemerintah Tiongkok punya sensor yang ketat terhadap beberapa laman di internet, media sosial, serta sejumlah aplikasi. Sepanjang kunjungan yang lamanya satu minggu tersebut, saya tidak bisa mengakses Google (termasuk juga Google Mail dan Google Maps), Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, Wikipedia, Blogspot, hingga aplikasi Line. Melalui laman Yahoo (yang tidak diblokir), saya berusaha mencari tahu tentang kebijakan tersebut dan menemukan sejumlah fakta menarik: Negeri Tiongkok sering dijuluki sebagai “penjara netizens terbesar di dunia”. Mereka tidak hanya memblokir hingga tiga ribu situs, melainkan juga mengawasi penggunaan yang dilakukan oleh individu. Dengan sekitar dua juta polisi internet yang dipunyai oleh pemerintahnya, mereka tidak segan-segan memenjarakan jurnalis dan pengguna internet yang dianggap melanggar aturan. 

Saya sempat berusaha untuk mencari jalan keluar dengan bertanya mulai pada resepsionis hingga orang-orang yang ditemui di jalan. Saya berharap ada orang-orang yang umumnya ada di Indonesia: Mempunyai kreativitas tinggi untuk “mengakali” hal-hal terkait teknologi informasi. Namun orang yang ditemui, umumnya bahkan sudah tidak peduli dengan media sosial dan aplikasi yang saya singgung di atas. “Google? Untuk apa Google? Line? Untuk apa Line?” begitu mereka pada umumnya menjawab pertanyaan. Ternyata hal tersebut lumrah, karena pemerintah setempat sudah menyiapkan sejumlah alternatif media sosial dan aplikasi seperti Baidu dan Wechat. Walhasil, saya pun menyerah. Ada baiknya seminggu selama saya di sini, ditinggalkan dulu segala hal terkait dunia maya. Saya pun mencoba menjejak bumi, dan menghayati segala realitas yang tersaji. 

Guangzhou, Seni Rupa, dan Asia 

Sebelum bercerita tentang Kota Guangzhou dengan segala kepeduliannya terhadap seni rupa, izinkan saya bercerita terlebih dahulu tentang acara yang kami hadiri, yaitu Asian Silk Link Art Exhibition. Acara yang diadakan di Guangzhou Academy of Fine Arts ini dihadiri oleh seniman-seniman dari berbagai negara di Asia, antara lain Jepang, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Indonesia, dan tentu saja, Tiongkok sendiri selaku tuan rumah. Partisipan Indonesia diwakili oleh Setiawan Sabana, Sarnadi Adam, Willy Himawan, Angga Aditia, dan saya sendiri. Sepanjang di sana, saya menikmati karya-karya rupa para partisipan dari negara lain dan menemukan suatu perasaan yang aneh: bahwa kita bisa mengintip suatu bangsa, tidak hanya dengan membaca buku panduan pariwisata, berselancar mencari informasi tentang mereka di Wikipedia, ataupun berkunjung langsung ke negaranya. Kita bisa mengintip suatu bangsa, dari ekspresi-ekspresi keseniannya. Meskipun perasaan bisa jadi sangat abstrak dan cenderung menggeneralisasi, tapi saya bisa merasakan ada semangat ke-Asia-an yang kental melalui pameran ini. 


Apa yang dinamakan dengan “ke-Asia-an” itu memang pernah menjadi renungan di sekitar tahun 1990-an melalui pemikiran Mahathir Mohamad (Perdana Menteri Malaysia 1981 – 2003) dan Lee Kuan Yew (Perdana Menteri Singapura 1959 – 1990). Pemikiran tersebut timbul sebagai bentuk perlawanan terhadap pemikiran Barat yang individualistik dan demokratis. Bagi para pemikir “Asian Values”, alih-alih mengadopsi pemikiran Barat, seharusnya bangsa Asia lebih mengadopsi prinsip-prinsip Konfusianisme yang cenderung komunitarian, meninggalkan kepentingan-kepentingan pribadi, serta hormat pada pemimpin. Memang, dalam kasus tertentu, nilai-nilai “ke-Asia-an” tersebut –yang pernah diadopsi oleh misalnya Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Indonesia- dapat mengalami penyimpangan semisal kepemimpinan yang cenderung otoriter dan mengutamakan kelompoknya sendiri. Namun tetap saja, -jika kita mengesampingkan penyimpangan-penyimpangan politik semacam itu- bangsa Asia tetap mempunyai keunikannya sendiri, yang membuat dirinya berbeda dari Barat. Perbedaan yang salah satunya bisa dirasakan, dengan melihat pelbagai ekspresi keseniannya. 

Pertumbuhan seni rupa di Guangzhou tidak hanya tercermin dari keberadaan Guangzhou Academy of Fine Arts saja. Kami juga diajak untuk mengunjungi semacam art district atau “kampung seni” bernama Redtory. Di sepanjang jalan, kami bisa menemukan seperti galeri seni kontemporer, toko cinderamata seni, studio seniman rumah produksi kerajinan, hingga ruang alternatif seni, yang semuanya merupakan modifikasi dari rumah-rumah tinggal penduduk setempat. Tidak jauh dari kampung seni Redtory, kami mengunjungi Guangdong Museum of Art. Museum dengan arsitektur unik tersebut mempunyai bervariasi karya yang dipajang mulai dari zaman kuno hingga modern – guci, patung, lukisan tradisional Tiongkok atau guóhuà, lukisan seniman Tiongkok modern, hingga instalasi dari para seniman kontemporer-. 

Kesan kuat kami tentang perhatian pemerintah Kota Guangzhou terhadap seni visual tidak berhenti sampai disitu. Selain keberadaan gedung opera Guangzhou yang didesain dengan sangat avant-garde oleh arsitek kenamaan Zaha Hadid, kami juga mendapati bahwa secara umum, kota ini sudah didesain sedemikian rupa agar menghasilkan satu sinergi visual yang kuat. Ini terlihat ketika di malam hari, -saat kami menyusuri Sungai Mutiara dengan kapal- sangat jelas terlihat bahwa gedung-gedung tinggi di Guangzhou memancarkan cahaya-cahaya dengan pengaturan artistik tertentu. Artinya, pemerintah kota setempat tidak ingin hanya tempat-tempat tertentu saja yang terlihat punya kepedulian terhadap kesenian. Mereka ingin agar seisi kota tersebut juga punya kesan seni –terutama seni visual- yang kuat. 

Guangzhou, dengan pelbagai kelebihan hal artistik yang sudah disinggung di atas, juga sebagaimana kota metropolitan besar pada umumnya: mengandung persoalan yang kompleks. Di pagi hari, saya mulai terbiasa melihat dari kamar di lantai 46, bahwa langit kota seolah berkabut. Padahal, belakangan saya tahu, bahwa itu bukanlah kabut, melainkan tumpukan polusi yang menempatkan Guangzhou sebagai salah satu kota di dunia yang mempunyai efek berbahaya bagi paru-paru masyarakatnya. Pun ketika menyusuri trotoar untuk sekadar melihat-lihat kota, bau tidak sedap seringkali menyeruak entah darimana. Meski demikian, bukan oleh-oleh persoalan yang harusnya kami bawa pulang ke tanah air, melainkan kesan mendalam tentang ekosistem seni rupa (dan seni visual pada umumnya) yang begitu hidup di kota yang dahulunya bernama Canton tersebut. Kota Guangzhou seolah tahu, bahwa mata adalah indera manusia yang paling cepat menangkap kesan. Seisi kota dimana-mana cahaya berpendaran, agar mereka yang datang langsung termanjakan.



Foto oleh Angga Aditia (Artmadilaga)
Continue reading

Monday, May 22, 2017

Kelas Logika: Pernyataan dan Proposisi



Setelah membahas tentang konsep dan definisi – yang merupakan bagian dari kegiatan akal budi tingkat pertama yaitu “pengertian”-, kita sekarang tiba pada pembahasan mengenai topik mengenai pernyataan dan proposisi. Pernyataan dan proposisi merupakan salah satu kegiatan akal budi tingkat kedua yaitu “keputusan” (judgement). lmu logika menggunakan istilah proposisi untuk menunjuk pernyataan yang sifatnya menghubungkan antara dua konsep (term). Proposisi bersifat deklaratif, yang artinya digunakan untuk menunjuk “kebenaran” (tentang kebenaran itu artinya apa, bisa dibahas nanti). Misalnya: Proposisi “Kucing adalah binatang” bersifat deklaratif karena ingin menunjukkan suatu kebenaran tentang kucing. Hal ini berbeda dengan pernyataan-pernyataan non deklaratif, misalnya interogatif (“Kucing itu apa?”), imperatif (“Kucing itu tolong dikasih makan”), eksklamatori (“Kucing punyamu lucu ya!), atau performatori, (“Aku menerima permintaan maafmu, Kucing.”). Proposisi dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu proposisi tradisional dan proposisi majemuk.

1. Proposisi Tradisional 
Proposisi tradisional adalah proposisi yang hanya memiliki satu subjek dan satu predikat. Untuk memahami proposisi tradisional, maka akan dibahas secara bertahap melalui poin-poin berikut ini:

1.1. Subjek dan Predikat 
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tentu kita sudah biasa dengan subjek dan predikat. Subjek diartikan sebagai “apa yang sedang kita dibicarakan” (what we are talking about) dan predikat diartikan sebagai “memang kenapa dia?” (what we say about it). Misalnya: “Semua manusia (subjek) akan mati (predikat)”; “Apel (subjek) adalah buah-buahan (predikat)”; “Asep (subjek) adalah pendidik (predikat)”.

1.2. Unsur-unsur dalam Proposisi 
Kalimat “Semua hewan adalah ciptaan Tuhan”, jika dibedah, mengandung beberapa unsur. Unsur-unsur itu adalah sebagai berikut:
a. Kata “semua” adalah quantifier, yang menunjukkan jumlah anggota. Selain “semua”, bisa juga “setiap”, “ada”, “beberapa”, “sejumlah”, dan lain-lain.
b. Kata “hewan” adalah subjek, yang nantinya disebut dengan istilah term subjek.
c. Kata “adalah” adalah kopula, yang menunjukkan hubungan antara term subjek dan term predikat, apakah menegasi atau mengafirmasi. Kata “adalah” menunjukkan afirmasi, yang mana lawannya adalah “adalah bukan”.
d. Kata “ciptaan Tuhan” adalah predikat, yang nantinya disebut dengan istilah term predikat.


1.3. Ragam Proposisi Tradisional 
Proposisi universal adalah proposisi yang mengandung quantifier yang bersifat seluruh untuk term subjek, seperti “Semua politisi…” atau “Setiap orang…”. 
Proposisi partikular adalah proposisi yang mengandung quantifier tidak semua untuk term subjek, seperti “Beberapa mahasiswi...”; “Sejumlah penyanyi…”; atau “Ada hansip…”. 
Proposisi positif adalah proposisi yang mengandung kopula mengiyakan atau mengafirmasi hubungan antara term subjek dan term predikat, seperti “… adalah racun”, atau “adalah ustad”. Proposisi negatif adalah proposisi yang mengandung kopula menolak atau menegasi hubungan antara term subjek dan term predikat, seperti “… adalah bukan besi”, atau “… adalah bukan permainan” 
Namun dalam kenyataannya, tidak ada proposisi yang hanya universal saja atau partikular saja, atau afirmatif saja atau negatif saja. Setiap proposisi selalu merupakan gabungan antara unsur-unsur di atas yang jika dijabarkan adalah sebagai berikut:


Jika melihat lambang nama, huruf A dan I diambil dari huruf hidup yang terdapat dalam Bahasa Latin “Affirmo” yang berarti “saya mengiyakan”, dan huruf-huruf E dan O diambil dari “Nego” yang berarti “saya menyangkal”.
Contoh proposisi A: Semua manusia adalah makhluk hidup; Semua kucing adalah mamalia
Contoh proposisi E: Semua tentara adalah bukan dokter; Tidak ada tanaman yang dapat melakukan pembicaraan.
Contoh proposisi I: Beberapa kucing adalah Persia; Ada pulpen yang berwarna hitam
Contoh proposisi O: Beberapa perempuan adalah bukan penyanyi; sejumlah massa adalah bukan pendukung Ahok.

Penting untuk diketahui: 
a. Dalam proposisi, lebih disarankan jika subjek dan predikat menjadi kata benda (noun) atau kata ganti orang (pronoun) alih-alih kata sifat atau kata kerja. Misalnya, jika ada kalimat “Udin mengajar” lebih baik diganti jadi “Udin adalah pengajar” atau “Burung terbang” menjadi “Burung adalah hewan yang terbang” atau “Burung adalah penerbang”. 
b. Proposisi singular termasuk ke dalam proposisi universal. Misalnya: Amir adalah astronot, Sokrates adalah manusia, termasuk ke dalam proposisi A meski tidak ada quantifier yang menunjukkan tentang jumlah Amir dan Sokrates.

1.4. Hubungan Antar Proposisi
Mari berangkat dari diagram berikut ini:


  • Hubungan kontraris artinya pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” tidak bisa sama-sama benar dengan pernyataan “Semua ekonom adalah bukan S.E.”. Jika “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “Semua ekonom adalah bukan S.E.” pasti salah, pun sebaliknya. 
  • Hubungan subalternasi artinya jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “beberapa ekonom adalah S.E.” juga benar. Tapi jika “beberapa ekonom adalah S.E.” adalah benar, belum tentu “Semua ekonom adalah S.E.” juga benar. Hal tersebut juga berlaku untuk hubungan proposisi E dan O. 
  • Hubungan subkontraris artinya jika pernyataan “Beberapa ekonom adalah S.E.” itu benar, maka belum tentu pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” itu benar. Tapi jika pernyataan “Beberapa ekonom adalah S.E.” itu salah, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” itu pasti benar. 
  • Hubungan kontradiksi artinya jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu benar, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” pasti salah. Sebaliknya, jika pernyataan “Semua ekonom adalah S.E.” itu salah, maka pernyataan “Beberapa ekonom adalah bukan S.E.” pasti bener. Hal tersebut juga berlaku untuk hubungan antara proposisi E dan I.

2. Proposisi Majemuk 
Proposisi majemuk atau compound proposition adalah proposisi yang tersusun atas dua atau lebih proposisi tradisional. Bentuk-bentuk proposisi majemuk adalah sebagai berikut:

2.1. Hipotetikal 
Proposisi hipotetikal adalah proposisi majemuk yang salah satu proposisinya (konsekuen) adalah akibat dari proposisi sebelumnya (anteseden). Biasanya dirumuskan dalam bentuk logikal: “Jika…, maka…” Misalnya: “Jika saya masuk kelas logika hari ini, maka saya tidak akan paham.” Proposisi antesedennya adalah “Jika saya masuk kelas logika hari ini,” sedangkan proposisi konsekuennya adalah “maka saya tidak akan paham.” 

2.2. Disjungtif 
Proposisi disjungtif adalah proposisi majemuk yang terdiri atas dua proposisi, dan salah satu dari proposisinya adalah benar, tanpa menutup kemungkinan keduanya benar. Bentuk logikalnya adalah: “Atau …, atau …” Misalnya: “Atau dia ini orang jahat atau orang baik.” Jika ingin memastikan bahwa hanya salah satu saja yang benar, maka digunakan kalimat “tapi tidak bisa keduanya”. Misalnya, “Atau dia ini orang jahat atau orang baik. Tapi tidak bisa keduanya.” Kalimat tersebut disebut dengan disjungtif kuat atau strong disjunction

2.3. Konjungtif 
Proposisi konjungtif adalah proposisi majemuk yang mengandung proposisi yang sama derajatnya. Masing-masing dapat dikemukakan secara mandiri tanpa berubah maksudnya. Bentuk logikal dari proposisi konjungtif adalah menggunakan kata “dan” sebagai penghubung. Misalnya: “Kelas logika ini ramai dan lancar.” Bisa berdiri sendiri jika kalimat tersebut dibagi dua menjadi “Kelas logika ini ramai.” dan “Kelas logika ini lancar.”

Daftar Pustaka 

  • Introduction to Compound Propositions. http://proofsfromthebook.com/2016/09/11/compound-propositions/ 
  • Kreeft, Peter. 2010. Socratic Logic. St. Augustine’s Press 
  • Sidharta, Arief. 2008. Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah. Bandung: Refika Aditama.  
  • Square of Opposition. http://www.iep.utm.edu/sqr-opp/

Continue reading

Sunday, May 21, 2017

Menjadi Manusia Merdeka di Hadapan Absurditas (Bahasan Eksistensialisme tentang Tokoh Meursault, Bernard Rieux, dan Sisifus)

*) Ditulis dalam rangka Diskusi Rabuan di Common Room Thamrin Residence Lantai 5, Jakarta, 20 Mei 2015.


Ada perasaan gembira dan juga cemas, ketika saya dihubungi untuk membicarakan hal ikhwal Albert Camus, dalam kesempatan kali ini. Mengapa? Gembira karena tentu saja, Camus adalah filsuf besar. Pikiran-pikiran dia begitu penting bagi perkembangan kehidupan Barat pada umumnya. Camus menawarkan solusi bagaimana untuk tetap hidup berbahagia di tengah kekosongan batin yang hadir akibat konsekuensi logis dari modernitas. Selain itu, tulisan-tulisannya juga amat memikat dan mempunyai nilai sastra tinggi –bandingkan dengan Descartes, Kant, atau Hegel, yang tulisannya begitu menyebalkan untuk dibaca-. 

Selain itu, ada perasaan cemas karena kenyataan bahwa membicarakan pemikiran seseorang adalah kegiatan yang tidak mudah. Kita tidak bisa begitu saja memeras pemikiran Camus lewat satu dua tagline yang sudah ia lontarkan. Mau tidak mau, saya mesti membaca hampir seluruh tulisannya, sebagai upaya untuk memahami jalan pikir filsuf Prancis-Aljazair ini. Tidak dapat dipungkiri pula, bahwa meski disampaikan dengan cara yang enak, tulisan Camus tetap saja berisi hal-hal “tidak enak”. Pikirannya terlampau muram, pesimistis, dan seperti tokoh Meursault dalam salah satu bukunya, L'Etranger, penuh dengan sikap masa bodoh. Artinya, saya cemas bahwa dengan membaca Camus secara lebih teliti, hari-hari saya, yang sudah nyaman dengan modernitas, menjadi keruh dan memuakkan. Tapi mungkin hanya dengan cara seperti ini, saya menjadi dengan serius memeriksa hidup saya kembali. 

Eksistensialisme: Obat Penawar Abad Ke-20 

Sebelum mulai berbicara tentang Albert Camus, ada baiknya kita membicarakan terlebih dahulu asal usul pemikiran eksistensialisme dalam peta filsafat Barat. Albert Camus sendiri menolak dengan label eksistensialisme pada dirinya –ada kemungkinan karena tidak mau disamakan dengan pemikir sejamannya yang sering tidak sejalan, yaitu Jean Paul Sartre?-. Meski demikian, dengan sangat terpaksa, kita mesti juga melekatkan suatu label pada dirinya (sematamata agar menjadi mudah bagi kita untuk memahaminya) dan label yang paling tepat adalah eksistensialisme. Mengapa? Pikiran-pikiran Camus secara umum mempertanyakan secara terus menerus hakikat keberadaan manusia. Tulisan-tulisannya juga dianggap sejalan dengan pemikiran eksistensialisme pada umumnya yang menganggap bahwa eksistensi mendahului esensi. Artinya kurang lebih yaitu bahwa nilai-nilai dalam hidup ini, sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan manusia. 

Eksistensialisme sendiri bisa dikatakan merupakan bentuk kritik terhadap filsafat idealisme, yang amat populer terutama di akhir abad ke-18 dan abad ke-19. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), tokoh yang banyak dikaitkan dengan filsafat idealisme, mengatakan bahwa alam semesta (Hegel membahasakannya dengan istilah “roh absolut”) bergerak lewat dialektika kesadaran manusia. Alam semesta akan semakin cerdas, seiring dengan manusia yang terus mengalami perubahan dan bergerak dalam sejarah. Dalam arti kata lain, alam semesta ini selalu bergerak menuju sesuatu yang lebih cerah dan lebih baru. 

Soren Kierkegaard (1813-1855), filsuf Denmark, adalah orang yang dengan terangterangan menolak pikiran-pikiran Hegel yang menurutnya terlalu abstrak dan mengawangawang. Kata Kierkegaard, dengan filsafat Hegel, manusia sebagai makhluk yang konkrit justru tidak dihargai keberadaannya. Manusia hanya merupakan perwujudan dari alam semesta yang baginya, bukan sesuatu yang nyata atau perlu dibahas panjang lebar. Justru eksistensi manusia dengan segala persoalannya seperti cinta, tragedi, kemarahan, kebencian, nestapa, dan kepercayaannya akan Tuhan (bukan Tuhan itu sendiri) adalah hal yang patut dijadikan pusat filsafat yang baru. Manusia harus dipikirkan mula-mula tentang keberadaan dia sendiri di dunia (eksistensi) sebelum bagaimana ia memaknai semuanya (esensi). Eksistensi manusia sendiri, dalam pandangan Kierkegaard, tidak diragukan lagi, adalah sesuatu yang menyedihkan. Oleh sebab pemikirannya yang berpusat pada eksistensi manusia, maka aliran filsafat ini disebut dengan eksistensialisme. 

Tidak sulit untuk kemudian dunia Barat dapat menyerap ide-ide dari pemikiran Kierkegaard –yang juga mendapat pengembangan dalam versi yang lebih ateistik lewat Jean Paul Sartre dan Albert Camus-. Pemikiran Friedrich Nietzsche, yang tadinya tidak terlalu populer, diangkat kembali karena dianggap senafas dengan eksistensialisme. Pertanyaannya, mengapa eksistensialisme dapat diterima dengan cepat? Filsafat idealisme, yang dicetuskan Hegel, memang berhasil menciptakan optimisme besar tentang dunia yang lebih cerah, lebih baru, dan lebih rasional. Optimisme ini pertama-tama menimbulkan kemajuan di segala bidang seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi optimisme tersebut juga punya andil terhadap sikap patriotisme berlebihan dan semangat untuk menguasai yang lain. Itu sebabnya, eksistensialisme pada akhirnya mengritik kekosongan batin yang ditimbulkan akibat penderitaan perang (PD I dan PD II) dan kemajuan peradaban manusia. Kata eksistensialisme, idealisme Hegel tidak menghargai manusia sebagai dirinya sendiri, sebagai subjek, sebagai individu. 

Eksistensialisme mungkin memang punya karakter gelap, muram, dan pada titik tertentu, memuakkan. Namun filsafat ini berusaha jujur dengan memotret kondisi sebenar-benarnya manusia modern tanpa suatu iming-iming pencerahan yang semu. Camus termasuk orang yang tidak hanya menyadari situasi memuakkan eksistensi manusia modern ini, melainkan berusaha, dengan perjuangan yang keras, untuk mencarikan jalan keluar tentang bagaimana sebaiknya manusia bersikap dan memandang dunia yang katanya, sia-sia ini. 

Pemikiran Albert Camus dalam La Peste, L’Etranger, dan Le Mythe de Sisyphe 

Sebelum memasuki alam pikirnya, ada baiknya untuk membahas secara sangat singkat tentang latar belakang kehidupan dari Albert Camus. Camus lahir pada tanggal 7 November 1913 di Aljazair –negara Afrika Utara yang merupakan jajahan dari Prancis-. Masa kecilnya terbilang miskin karena salah satunya, ayahnya gugur akibat PD I ketika Camus baru berusia satu tahun. Sepanjang hidupnya, selain aktif berpolitik (Camus adalah seorang aktivis partai komunis dan juga anarkis), gemar olahraga sepakbola (pernah menjadi kiper untuk klub sepakbola junior, Racing Universitaire d’Alger), Camus adalah seorang penulis yang produktif. Ia banyak menulis sejumlah novel, cerpen, dan esai. Tema dari tulisan-tulisannya sendiri, jika disarikan, banyak berbicara tentang absurdisme (akan dibahas kemudian). Camus meninggal pada tahun 1946 akibat kecelakaan mobil di sebuah kota kecil bernama Villeblevin. 

Pemikiran Camus yang paling inti adalah tentang absurdisme. Absurdisme dapat dikatakan sebagai aliran pemikiran yang menganggap bahwa ada upaya terus menerus dalam diri manusia untuk mencari makna sejati dalam kehidupan. Namun di sisi lain, upaya tersebut selalu menemui kegagalan. Mengapa, karena selain dari kemungkinan bahwa kehidupan itu sendiri pada dasarnya tidak mempunyai makna, tapi juga karena keterbatasan manusia dalam mencapai makna tersebut. Artinya, absurd bisa dimaknai sebagai ketegangan antara dua situasi yang ideal: Manusia yang selalu ingin, dan kenyataan yang tidak mungkin. 

Kita bisa memahami absurdisme ini misalnya dari salah satu novelnya yang berjudul La Peste (1947). Dalam novel tersebut, kota Oran diserang wabah pes yang menyebabkan kematian bagi banyak warganya. Wabah tersebut membuat orang-orang mencoba mengerti dan memaknai apa arti kehidupan ini. Ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang murni melihatnya sebagai sesuatu yang rasional –persoalan medis semata-, ada yang menganggapnya sebagai berkah –karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya-. Namun diantara upaya-upaya memaknai yang berseliweran tersebut, Camus seolah mau berkata lewat tokoh dokter bernama Bernard Rieux, bahwa sikap yang benar adalah menerima ketidakmampuan manusia untuk memaknai tersebut dengan sejujur-jujurnya, dan mencoba untuk hidup berbahagia saja. 

Absurdisme dengan karakteristik sedikit lain dapat ditemukan dalam novelnya yang pertama, yang ditulis sebelum La Peste, berjudul L’Etranger (1942). Dalam novel tersebut, tokoh utama yang bernama Meursault, adalah orang yang terkesan masa bodoh dengan situasi di sekitarnya. Di bagian pembuka, langsung ditunjukkan bagaimana ia sedemikian tidak tersentuh sedikit pun oleh kematian ibunya. Ia enggan membuka tutup mati untuk melihat wajah ibunya untuk terakhir kali dan bahkan tidak ada perasaan untuk ingin menangis. Esoknya, Meursault malah langsung menjalin hubungan romantika dengan seorang perempuan bernama Marie – seolah tidak ada waktu sedikitpun untuk berkabung-. Lewat sebuah perjalanan yang rumit – awalnya berupa solidaritas untuk membantu temannya yang bernama Raymond-, Meursault diadili karena membunuh seorang Arab dengan pistol. Ia divonis hukuman mati dengan cara dipenggal oleh guillotine

Sepanjang kejadian tersebut, Meursault menyikapinya dengan seolah masa bodoh. Ia sendiri tidak bisa mengerti mengapa ia tidak menangisi kematian ibunya, ia sendiri tidak mampu menjelaskan apakah perasaannya pada Marie adalah cinta atau apa –ia mengatakan, “Kalau kamu mau menikah, maka saya akan mau, walau saya tidak tahu untuk apa.”-, ia sendiri tidak punya penyesalan serius ketika selesai membunuh dan kemudian divonis mati, ia sendiri enggan menerima Tuhan meski sudah didatangi pendeta berulang kali pada momen-momen terakhir menjelang eksekusi. 

Ada banyak tafsir tentang mengapa Meursault bersikap sedingin itu terhadap kehidupan. Namun agaknya, label “masa bodoh” dan “dingin” bukanlah kata yang tepat disematkan pada Meursault jika ditilik dari konteks filsafat Camus. Lebih tepat dikatakan bahwa Meursault menerima dengan sepenuhnya makna absurd dalam kehidupan. Ia dengan jujur mengakui bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti –hidup bahkan, katanya, tidak layak untuk dijalani-. Namun meski hidup ini begitu sia-sia, Camus menolak dua jalan keluar untuk menyelesaikannya: bunuh diri dan percaya pada Tuhan. Kedua hal tersebut, dianggapnya, merupakan penolakan keras terhadap hidup itu sendiri. Justru sikap yang benar adalah menerima dengan terbuka, meski dengan perjuangan yang perih, untuk kemudian meraih kemenangan hidup lewat kematian yang wajar –Meursault berbahagia dengan kisah akhir hidupnya yang diselesaikan lewat pisau guillotine yang katanya jauh lebih baik daripada “mati” oleh ucapan pendeta tentang Tuhan-. Dalam L’Etranger, disebutkan bahwa satu-satunya cara bagi Meursault untuk mengisi batinnya adalah dengan mengingat kenangan-kenangan lama yang indah dan pernah mewarnai kehidupannya. Bahkan kemudian ia menganggap bahwa harapan-harapan yang akan datang pun akan menjauhkannya dari hidup yang jujur dan paripurna. 

Dalam pandangan Camus, bagaimana cara hidup yang dipraktikkan oleh Rieux ataupun Meursault, akan membawa manusia pada suatu kemerdekaan. Sebelum membahas lebih jauh tentang kemerdekaan yang dimaksud, kita singgung secara singkat tentang bagian keempat dari esai Camus yang berjudul Le Mythe de Sisyphe (1942). Pada tulisannya tersebut, ia memberi contoh sebuah legenda dari Yunani, tentang seseorang bernama Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu besar hingga ke atas bukit, untuk kemudian batu tersebut menggelinding ke bawah lagi, dan Sisifus harus mendorongnya kembali ke atas –berlaku ad infinitum-. Kehidupan manusia modern, kata Camus, adalah persis seperti Sisifus. Mereka menjalani sesuatu yang berulang-ulang, tanpa makna, dan pada akhirnya akan kembali ke titik nol. Lantas, jika memang benar demikian adanya, apa yang harus dilakukan? Camus berkata dengan pasti, “Seseorang harus membayangkan bahwa Sisifus bahagia (dengan apa yang dilakukannya).” 

Pada tiga tokoh tersebut (Rieux, Meursault, dan Sisifus), kita bisa menemukan satu kebebasan tersendiri. Kebebasan tersebut adalah kebebasan karena penderitaan, kebebasan karena ketiadaan harapan, dan yang terpenting: kebebasan yang hadir karena kesadaran penuh bahwa hidup ini, pada dasarnya, adalah kesia-siaan belaka. Namun sekali lagi, ketiga tokoh itu tidak putus asa dan berserah diri. Mereka terus menerus melakukan perlawanan –dalam terminologi Camus, kita harus terus melakukan revolusi melawan keabsurdan-. Hanya dengan demikian, kebahagiaan dan kemerdekaan bisa tampil paripurna. 

Saya sendiri menemukan sikap a la Rieux, Mersault, dan Sisifus ini, pada sebuah percakapan dengan seorang tukang gorengan di dekat rumah. Tukang gorengan tersebut mempunyai lima orang anak dengan istri yang tinggal di rumah (demi mengurusi anak-anaknya). Namun tukang gorengan tersebut hidup tanpa rasa takut. Dengan tetap bertahan pada berdagang gorengan, ia mengatakan dengan tegas bahwa, “Hidup ini dijalani saja dengan santai. Toh pada akhirnya juga kita akan mati.” Dalam pandangan saya, tukang gorengan ini lebih mengerti Camus daripada saya sendiri. Saya takut mati, dan juga takut untuk hidup.
Continue reading

Thursday, May 18, 2017

Bioskop Alternatif Berjasa Lahirkan Pemikir Film

*) Diambil dari artikel yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Rubrik Teropong, 13 Februari 2017.

Sutradara yang kesulitan mendapat tempat di layar lebar, mempunyai kesempatan agar filmnya diputar di bioskop alternatif. Di Bandung, kesempatan itu salah satunya datang dari satu komunitas bernama Warung Film (sub-divisi dari komunitas Ruang Film Bandung) yang mengelola sebuah tempat di Jalan Banda, bernama Indi Sinema –terletak di gedung Bale Motekar lantai tiga-. Bekerjasama dengan UNPAD dan DILo (Digital Innovation Lounge), mereka kerap menjadi penyelenggara bagi pemutaran film dari para sutradara muda yang filmnya belum berhasil menembus pasar bioskop umum. 

Indi Sinema ingin agar tempat tersebut menjadi satu persinggahan bagi para sutradara yang menginginkan alternatif tempat pemutaran film yang tidak membutuhkan persyaratan serta perjanjian yang rumit. Menurut Rhisa, humas Indi Sinema, “Keberadaan kami adalah dalam rangka memberi ruang pemutaran film bagi para sutradara, sehingga setidaknya mereka menjadi lebih percaya diri sebelum memasuki respon pasar yang lebih luas.” Indi Sinema sendiri dibuat sedemikian rupa agar suasananya seperti bioskop pada umumnya: ada pendingin, layar lebar dan ruangan nyaris tanpa cahaya, serta tempat duduk nyaman. Hanya saja, kapasitasnya relatif kecil yaitu hanya terbatas sekitar lima puluh orang. Mereka mempunyai jadwal pemutaran rutin hampir sehari tiga kali dan hanya libur pada hari Senin. “Pemutaran akan terus dilakukan, meski tidak ada penonton,” kata Rhisa. Untuk beberapa pemutaran tertentu, Indi Sinema menarik semacam donasi bagi mereka yang menonton –donasi tersebut hanya kisaran sepuluh hingga lima belas ribu-. Dengan cara tersebut, selain menjadi jalan untuk menghidupi bioskop alternatif itu sendiri, mereka juga dapat memberikan separuhnya pada pembuat film. 

Beberapa film yang pernah diputar di Indi Sinema antara lain Urbanis Apartementus (2013), Karbon dalam Ransel (2014), Pulau Bintang (2014), Jelaga Asa Belantara (2016), dan Bendera (2016). Meski umumnya Indi Sinema memutar film-film yang belum mendapat kesempatan di gedung bioskop umum, tapi ada pula beberapa film yang statusnya “turun layar” atau pernah diputar di bioskop umum dan kemudian sudah selesai masa penayangannya. Mereka juga menerima pemutaran film untuk kategori lain, seperti film dokumenter panjang, film fiksi panjang, film edukatif, dan kompilasi film pendek. 

Namun secara umum, Indi Sinema menunjukkan dukungan serius terutama bagi perkembangan film-film dalam negeri yang menurut Rhisa, “Sangat berlimpah dan potensial, namun seringkali terhambat regulasi serta seleksi pasar yang terlampau ketat.” Dengan menggeliatnya bioskop alternatif seperti Indi Sinema ini, maka boleh kita berharap: Sutradara dalam negeri semakin produktif berkarya dan semakin tidak gentar dengan momok bernama pasar. Ketika film tersebut diapresiasi, maka konsekuensi positif akan datang dengan sendirinya, dan memberikan satu kepuasan tak ternilai bagi sang pembuat film. 

Ruang Film Bandung 
Indi Sinema dengan Warung Film sebagai pengelolanya, mungkin hanya sebagian kecil dari program komunitas Ruang Film Bandung yang memang sangat memberi perhatian bagi perkembangan film, khususnya film lokal. Selain pengelolaan bioskop alternatif, Ruang Film Bandung juga cukup rutin berkolaborasi dengan pihak-pihak lain untuk menyelenggarakan kegiatan. Misalnya, kerjasama dengan Telkom University untuk membuat kelas film pendek dengan durasi delapan pertemuan. Di akhir pertemuan, harus ada hasil berupa film yang kemudian diapresiasi secara bersama-sama. Selain itu, ada juga pelatihan produser film yang merupakan kerjasama dengan Dinas KUKM dan Perindag Kota Bandung serta even Bandung Youth Short Film Competitions (ajang penghargaan film untuk pemuda atau komunitas film di Bandung) yang bekerjasama dengan Dispora Kota Bandung. 

Mereka juga menggelar sebuah program bernama Klinik Film. Pada Klinik Film tersebut, diputar sekitar tiga film pendek untuk kemudian dikomentari dan dianalisis oleh tiga orang akademisi, pengamat, atau penikmat film yang sudah dipilih oleh panitia. Misalnya, bulan Oktober 2016 lalu, diputar tiga film pendek berjudul Senyum Sempit, Salam dari Anak-Anak Tergenang, dan Fashion Syndrome, dengan menghadirkan tiga analis yaitu Esa Hari Akbar, Vanny Rantini, dan Harry Reinaldi. 

Ina Khuzaimah, salah seorang pendiri Ruang Film Bandung, menyebutkan tentang visi misi komunitas ini, “Kami ingin membangun ekosistem sinema lokal, khususnya Bandung, agar terus menggeliat dan dapat bersaing dengan perfilman nasional atau bahkan mancanegara.” Ikhtiar semacam itu memang tidak pernah mudah dan kerap membutuhkan napas panjang. Kita, selaku masyarakat, turut andil dalam mendukung –termasuk mengawasi- sepak terjang Ruang Film Bandung agar terus konsisten memajukan ekosistem sinema lokal. Salah satu bentuk dukungannya bisa dimulai dengan mendatangi bioskop alternatifnya dan menjadi penonton yang tidak hanya apresiatif, tapi juga kritis.


Continue reading

Ateisme Sebagai Sikap Kemanusiaan Baru

*) Ditulis sebagai suplemen diskusi mengenai ateisme di Gallery Cafe, Taman Ismail Marzuki, atas prakarsa Lembaga Bhinneka hari Sabtu, 30 Agustus 2014.

Sumber gambar: http://bsnscb.com/atheism-wallpapers/27216671.html


1. Mengapa Ateisme Muncul? 
Tentu saja kita bisa mengira bahwa sebelum abad ke-20, sudah terdapat orang-orang yang dalam hidupnya tidak meyakini keberadaan Tuhan. Namun perlu diakui bahwa sikap semacam itu baru disuarakan secara lantang ketika dunia memasuki abad ke-20. Paham ateisme, atau sebuah aliran yang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, menjadi tren yang berkembang di era modern. Perkembangannya sangat ditopang oleh berbagai hal yang akan kita bahas bersama-sama. 

a. Perkembangan Sains dan Teknologi 
Ketika Eropa memasuki periode Zaman Pencerahan pada sekitar abad ke-17 dan abad ke-18, terdapat sikap percaya Tuhan yang berbeda sama sekali. Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, Tuhan yang dipercayai oleh –umumnya- para ilmuwan masa itu adalah Tuhan yang bersifat Deisme. Apa itu Tuhan Deisme? Dianggapnya, Tuhan mencipta seperti seorang pembuat jam. Ketika jam itu sendiri sudah selesai dibuat, maka tidak perlu lagi campur tangan sang pembuat jam. Jam itu dibiarkannya berjalan sendiri sesuai dengan mekanisme yang ada. Demikian halnya dengan pandangan terhadap Tuhan. Tuhan membuat dunia dan seisinya, untuk kemudian berhenti bekerja dan membiarkan segalanya berjalan apa adanya. Katanya, tugas para ilmuwan adalah menelaah cara kerja “jam semesta” tersebut tanpa melibatkan keberadaan Tuhan di dalamnya. Hanya dengan demikian, menurut mereka, sains dan teknologi dapat berkembang tidak hanya pesat, melainkan juga objektif serta bebas nilai. 
Kepercayaan Deistik tersebut menjadi cikal bakal ateisme modern yang menolak keberadaan Tuhan seluruhnya. Deisme memulai suatu cara berpikir yang memisahkan secara tegas antara Tuhan dan ciptaannya. Bahkan dengan berani ia mengatakan bahwa antara Tuhan dan ciptaannya sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa. Pada sejumlah pemikiran ateisme modern, kelak akan diketahui bahwa tidak perlu ada Tuhan lagi sebagai premis sebelum adanya alam semesta. Lebih baik kita andaikan saja bahwa alam semesta tersebut ada dengan sendirinya tanpa sebuah proses penciptaan. 
Kemudian August Comte, seorang pemikir Prancis di abad ke-19, memberi sumbangsih bagi cikal bakal ateisme modern. Ia mengatakan bahwa tahap perkembangan manusia terbagi tiga, yaitu tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positif. Tahap teologis adalah ketika manusia mempercayai bahwa ada suatu entitas tunggal yang supranatural di balik segala kejadian di alam semesta ini. Tahap metafisis dianggap Comte lebih maju dari tahap teologis. Tahap metafisis berarti manusia mempercayai bahwa memang ada suatu entitas tunggal, tapi sifatnya tidak supranatural. Entitas tersebut berasal dari unsur-unsur yang ada dalam alam semesta itu sendiri. Misalnya, percaya bahwa alam semesta ini terbuat dari air, dianggap Comte, jauh lebih maju daripada percaya bahwa alam semesta ini dibuat oleh Tuhan. Yang ketiga, tahap positif, yaitu tahap ketika manusia sudah tidak lagi mencari-cari sebab musabab dari seluruh kejadian dari hal-hal di luar alam semesta itu sendiri. Tidak hanya itu, kata Comte, manusia di tahap ini dapat menjelaskan seluruh kejadian secara gamblang dan bahkan mampu mengontrolnya. 
Pemikiran Comte tersebut juga memberikan landasan bahwa seolah-olah kemajuan ilmu pengetahuan tidak boleh diiringi dengan kemajuan sikap terhadap yang non-material. Artinya, jika sains dan teknologi semakin maju, maka orang harus pelan-pelan meninggalkan Tuhan, agama, dan kepercayaan-kepercayaan lama. 

b. Berkurangnya Reputasi Agama-Agama Besar 
Periode Abad Pertengahan agaknya menimbulkan trauma serius bagi perkembangan sikap keagamaan orang-orang Eropa. Pada periode tersebut, ke-Kristen-an memegang peran utama dalam segala aspek kehidupan -posisinya berada di atas seni, filsafat, maupun sains-. Meski posisinya sangat sentral, namun banyak pihak menganggap bahwa justru periode tersebut lebih cocok disebut dengan Abad Kegelapan karena dominasi gereja yang amat memberangus kebebasan berpikir. Perbedaan sikap dalam hal sains misalnya (seperti mengatakan bahwa bumi ini bulat atau bumi ini bergerak mengelilingi matahari), akan berujung pada hukuman mati. Selain itu, kenyataan bahwa sikap para pengikut keagamaan yang tidak mencerminkan suatu moralitas yang luhur pun membuat banyak orang merasa tidak lagi simpatik terhadap agama. Misalnya, kenyataan bahwa gereja pada masa itu menjual surat pengakuan dosa dengan harga tinggi menjadi alasan yang dianggap cukup untuk menyuarakan ateisme di kemudian hari. 
Di samping ke-Kristen-an, secara umum konsep agama tampak tidak menjelma menjadi suatu contoh tentang perdamaian bagi umat manusia. Slogan agama sebagai penunjuk jalan, pencari solusi, atau pemberi rahmat, justru menjadi kontradiktif ketika mereka malah menjadi sumber problematika seperti perang dan terorisme. Hal tersebut semakin menjadi-jadi ketika disandingkan dengan perkembangan sains dan teknologi yang semakin maju. Agama seolah berbicara tentang hal-hal yang lampau dan terlalu teknis seperti tata cara peribadatan, ketimbang berbuat sesuatu untuk kepentingan umum. Secara umum, Tuhan yang diagungkan oleh agama-agama pun dianggap sudah ketinggalan dan tidak mampu lagi menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut membuat orang merasa tidak perlu lagi untuk beragama atau bahkan ber-Tuhan, jika segala persoalan bisa diselesaikan tanpa hal-hal tersebut. 

2. Para Pendekar Ateisme 
Dalam sejarah filsafat Barat, terdapat sejumlah filsuf yang lantang menyuarakan ateisme. Para filsuf tersebut rata-rata meniadakan Tuhan tidak melulu secara rasional. Mereka merasa konsep Tuhan harus tidak ada demi kebaikan umat manusia. Itu sebabnya kita dapat menyebut ateisme sebagai sikap kemanusiaan baru. Berikut akan dipaparkan lima orang diantaranya, beserta pemikiran masing-masing mengenai Tuhan. 

a. Ludwig Feuerbach 
Ludwig Feuerbach dianggap sebagai filsuf paling mula-mula yang menyuarakan ateisme secara lantang. Ia terkenal dengan pernyataan bahwa Tuhan adalah proyeksi. Proyeksi dari apa? Proyeksi dari ketidakmampuan manusia untuk menjadi maha. Kata Feuerbach, manusia mempunyai sifat baik dan ingin menjadi mahabaik. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa, maka diciptakanlah Tuhan yang mahabaik. Manusia mempunyai sifat adil dan ingin menjadi mahaadil. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa, maka diciptakanlah Tuhan yang mahaadil. Artinya, Tuhan tidak lebih daripada proyeksi dari keinginan-keinginan manusia saja. Sifat-sifat Tuhan adalah sekaligus sifat-sifat manusia. Maka itu, menurut Feuerbach, jika Tuhan tidak ada, maka akan lebih baik bagi manusia. Mengapa? Karena dengan demikian, manusia dapat merealisasikan kemampuannya secara total tanpa memproyeksikannya pada sesuatu yang ia ciptakan sendiri. 

b. Karl Marx 
Karl Marx dikenal sebagai nabi kaum komunis. Ia adalah orang yang dengan sungguh-sungguh memberikan landasan filosofis bagi para buruh untuk merubah nasibnya dengan cara menggulingkan kaum borjuis. Tidak hanya itu, setelah menggulingkan, kata Marx, kaum buruh tersebut harus mampu mengatur sumber daya secara merata sehingga kesejahteraan menjadi milik bersama. Lantas, apa hubungan pemikiran Marx, yang lebih condong pada ekonomi, terhadap ateisme? 
Pertama, Marx mengatakan bahwa agama adalah candu rakyat. Ia menyebut agama adalah semacam ilusi yang memabukkan, yang membuat para buruh yang harusnya memberontak, menjadi tenggelam dalam sikap pasrah dan fatalis. Kata Marx, agama sebaiknya tidak usah ada agar buruh dapat berkonsentrasi terhadap revolusi. 
Kedua, pemikiran Marx khas disebut dengan materialisme dialektik. Ia memikirkan sesuatu yang persis kebalikan dari apa yang dipikirkan oleh Hegel. Kata Hegel, alam semesta ini adalah eksternalisasi dari roh absolut. Artinya, segala fenomena-fenomena material hanyalah turunan dari roh absolut yang sifatnya melingkupi dan mendasari segala sesuatu (agar mudah, kita bisa ibaratkan roh absolut sebagai Tuhan). Sebaliknya, Marx berpikir bahwa justru fenomena-fenomena material adalah hal yang lebih utama dan melihat roh absolut sebagai turunannya. Artinya, bagi Marx, dunia ini justru merupakan pertarungan dari hal-hal material, yang ia sebut secara spesifik sebagai pertarungan antar kelas -antara yang borjuis dan yang proletar-. 
Dari pemaparan panjang di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pemikiran Marx tidak berpihak sama sekali pada hal-hal non-material (yang sangat mungkin Tuhan termasuk di dalam kategori tersebut). Ia menganggap bahwa kepercayaan terhadap dunia material secara utuh adalah kunci kesejahteraan masyarakat. Pada titik ini kita dapat memahami bahwa Marx meniadakan Tuhan maupun agama demi sebuah kebaikan ekonomi. 

c. Friedrich Nietzsche 
Friedrich Nietzsche adalah orang yang amat tegas dalam menolak Tuhan. Dalam bukunya yang berjudul Also Sprach Zarathustra, Nietzsche mengatakan bahwa “Tuhan telah mati”. Kematian Tuhan itu ia deklarasikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap manusia yang semakin hari semakin mempunyai mentalitas seperti budak. Budak yang ia maksud adalah budak dari agama, budak dari Tuhan, dan budak dari peradaban modern secara keseluruhan. Nietzsche mengatakan bahwa manusia harus bermental tuan, yaitu mental sebagai seorang yang ia sebut sebagai “manusia atas” atau uebermensch
Lebih rumit lagi, untuk menjadi uebermensch tersebut, Nietzsche mengajukan syarat yaitu membunuh Tuhan terlebih dahulu. Mengapa Tuhan harus dibunuh? Kata Nietzsche, jika tidak ada Tuhan, memang pada mulanya akan terjadi semacam kekosongan besar yang terbentang selama dua ribu tahun. Tapi setelah itu, manusia menjadi leluasa sekaligus berdikari. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang berani merumuskan nilai-nilai secara mandiri tanpa harus tergantung dari keberadaan Tuhan yang sudah sejak lama membayangi. Kata Nietzsche, hanya dengan menyingkirkan Tuhan, umat manusia menjadi gembira sepenuhnya sekaligus berkembang melampaui dirinya sendiri. 

d. Sigmund Freud 
Sigmund Freud dikenal sebagai bapak psikoanalisis. Ia mengatakan bahwa segala tindak-tanduk manusia tidak bisa dilepaskan dari alam bawah sadarnya. Kesadaran manusia, kata Freud, adalah seperti gunung es: Bagian puncaknya memang kelihatan, tapi sedikit sekali. Yang tidak kelihatan itulah bagian yang lebih besar, gelap, dan dalam. Sebagai seorang ahli kejiwaan, Freud menyebut bahwa agama adalah semacam neurosis kolektif, atau dalam bahasa yang lebih lepas dapat diartikan sebagai kegilaan massal. Menurut Freud, tidak ada perbedaan antara orang yang mengalami gangguan kejiwaan dengan orang yang beragama. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa konsep Tuhan adalah sebentuk ilusi infantil. Jika seorang anak merasa ketakutan, maka wajar jika ia mengadu pada ayahnya. Namun seorang dewasa tidak pantas jika ia ketakutan, mengadu pada apa yang ia anggap sebagai ayah, yaitu Tuhan. Seorang dewasa sudah sepantasnya untuk menghadapi setiap persoalan sendirian tanpa mengadu. Ia yang masih mengadu, berarti masih kekanak-kanakkan. 

e. Jean Paul Sartre 
Jean Paul Sartre adalah filsuf Prancis beraliran eksistensialisme. Secara umum, eksistensialisme mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Apa arti pernyataan tersebut? Artinya, manusia eksis terlebih dahulu, baru ia merumuskan apa makna dari kehidupannya. Apa yang unik dari pemikiran semacam itu? Tentu saja unik jika dibandingkan dengan konsep manusia menurut agama pada umumnya. Dalam perspektif agama, esensi manusia sudah dirumuskan sebelum kelahirannya. Misalnya, dalam Islam, tujuan manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi. Para filsus eksistensialis menolak dengan keras konsep semacam itu. Sartre misalnya, mengatakan bahwa manusia ada sebagai causa prima. Ia hadir begitu saja tanpa tedeng aling-aling. Ia muncul seperti sebuah keterlemparan. Perjalanan hidupnya ke depan kemudian menentukan siapa dirinya, apa makna kelahirannya, dan apa sesungguhnya kehidupan ini. Sartre menyuarakan kebebasan manusia dalam segala aspek. Saking bebasnya, Sartre menyebut manusia sebagai makhluk yang dikutuk untuk bebas. Atas dasar itu, Sartre berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin ada dan tidak boleh ada. Tidak mungkin ada karena kata Sartre, jika Tuhan ada, maka manusia pasti tidak bebas. Tapi kenyataannya, lanjutnya, manusia adalah makhluk yang bebas, maka itu dengan sendirinya Tuhan tidak mungkin ada. Lantas, Tuhan pun tidak boleh ada. Karena kalau dia ada, kata Sartre, maka manusia akan kehilangan kebebasannya. 

3. Menjadi Ateis = Menjadi Humanis?
Kita bisa saja setuju bahwa soal ada atau tidaknya Tuhan adalah di luar batas epistemologi manusia. Ia bisa saja diadakan untuk mempermudah manusia menjelaskan berbagai hal terkait causa prima, atau ia bisa saja ditiadakan dan hidup ini akan terasa baik-baik saja. Namun sudah jelas bagi para filsuf yang pemikirannya sudah dijelaskan di atas, meniadakan Tuhan harus didasari oleh kebaikan bagi umat manusia. Menjadi seorang ateis adalah pilihan yang tidak mudah. Kita harus menyingkirkan dengan tegas sebuah konsep yang barangkali tertanam secara a priori dalam diri manusia. Upaya penyingkiran tersebut adalah sulit, bahkan bagi seorang Sartre sekalipun. Ia mengumpamakan bahwa menjadi ateis adalah seperti menaiki kereta tanpa karcis. “Saya berupaya menghindar dari kondektur sebisa mungkin, tapi sebenarnya di ujung perjalanan tidak ada seorangpun yang menanti saya di stasiun,” ujarnya. 
Menjadi ateis berarti menolak segala moralitas yang sudah dibebankan padanya melalui ajaran agama-agama. Seorang ateis harus merumuskan sendiri kebaikan demi kebaikan berdasarkan pengalaman, kenyataan masyarakat, hingga suara hati. Selain itu, bagi seorang ateis, ketiadaan Tuhan menjadikan hidup ini absurd dan bergerak menuju kekosongan belaka. Bisa jadi untuk menutupi perasaan gelisah akan kematian tersebut, seorang ateis tidak menggantungkan hidup pada kehidupan nanti, melainkan berusaha berbuat sebaik-baiknya di kehidupan sekarang. Ateisme, dengan segala konsekuensi kekosongan batin yang dihasilkannya, tetap berfungsi melahirkan suatu sikap moral yang matang dan penuh kesadaran. 
Selain itu, ateisme tidak berarti menolak segala bentuk spiritualitas. Ateisme bisa jadi hanya sebatas mengritik konsep religiusitas serta Tuhan yang bersifat personal. Tapi tidak bisa tidak bahwa seseorang bisa mempunyai perasaan akan sesuatu yang agung, yang lebih besar dari dirinya -meski para ateis tidak menamai sesuatu itu dengan konsep-konsep yang sudah ada sebelumnya-. Sikap penerimaan akan sesuatu yang spiritual tersebut justru menciptakan renungan-renungan pribadi yang amat reflektif. Kita harus ingat bagaimana orang-orang besar yang identik dengan bidang keagamaan seperti Muhammad, Yesus, Buddha, ataupun Konfusius, pada mulanya adalah orang yang jarang sekali membicarakan Tuhan. Mereka mendapat sejumlah pencerahan setelah mula-mula mempertahankan sikap keragu-raguan akan sesuatu. Barangkali sebelum pemikiran-pemikiran segar dan progresif mereka diinstitusikan menjadi agama, orang-orang tersebut berjuang mencari kebenaran dalam kondisi gelisah dan penuh kekosongan batin. Pada titik ini, ateisme bisa menjadi suatu fondasi terkuat untuk menemukan spiritualitas yang sejati.
Continue reading