Saturday, August 17, 2019

Tentang UAS dan Salib

Tentang UAS dan Salib
Ustad Abdul Somad (UAS) sedang ramai dibicarakan oleh sebab pernyataannya di Youtube yang dianggap menista agama lain. Kali ini, UAS berkomentar tentang salib yang di sana, katanya, ada jin kafir bersemayam dan menggoda manusia. Godaan tersebut, lanjut UAS, sangat berbahaya bagi akidah. Ia mencontohkan, jika lambang salib terpampang di rumah sakit yang mana di dalamnya ada seorang muslim yang menjelang ajal, maka segera tutup lambang salib tersebut karena jin kafir yang ada di dalamnya bisa membuat muslim tersebut menjadi su'ul khatimah (mati dalam keadaan tidak baik). Kabar terakhir, UAS dipolisikan karena dianggap memenuhi unsur penistaan agama. Ada beberapa pandangan saya di sini, terkait kasus tersebut. 

Pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagi saya, kesalahan juga ada pada penanya. Memang penanya bermaksud mendapat kejelasan dengan bertanya, "Apa sebabnya Ustad, jika saya melihat salib, menggigil hati saya?" Tapi pertanyaan semacam itu hampir retoris, yang menggiring pada jawaban yang tidak bisa tidak, dalam konteks mimbar keagamaan, harus memihak. Agaknya kurang meyakinkan kalau UAS menjawab dengan misalnya, "Mungkin Ibu sedang capek atau kedinginan, karena dalam salib tidak ada apa-apa kok." 

2. Memang UAS memperagakan beberapa kali pose Yesus yang disalib ketika di waktu bersamaan berbicara soal jin kafir - seolah-olah jin kafir yang dimaksud adalah Yesus -. Tapi bisa jadi ada versi lain, karena UAS juga menyebut soal patung di dalam rumah. Artinya, bukan Yesus sama dengan jin kafir, tapi mungkin saja maksudnya: patunglah yang menyebabkan ada jin kafir hinggap dan bersemayam di dalamnya. Ini berlaku untuk semua patung, dan di dalamnya tentu termasuk patung Yesus. 

3. Apakah lazim jika di hadapan massa sendiri seorang pemuka agama mengagungkan agamanya dengan cara salah satunya membandingkan dengan agama lain? Agaknya lumayan lazim, dan memang demikian cara yang sering dilakukan dari berabad-abad yang lalu. 

Saya tidak mengikuti banyak khotbah dari macam-macam agama, tapi saya asumsikan saja demikian, kecuali dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Misalnya, sukar bagi khotbah agama Buddha yang jumlahnya relatif sedikit di Indonesia (minoritas), untuk mengatakan sesuatu tentang agama Islam, misalnya. Karena posisi agama Buddha dengan demikian jadi agak terancam. 

Jadi, apa yang digembar-gemborkan UAS tentang agama lain adalah praktik lazim di hadapan massa sendiri dan semakin diperkuat oleh posisi agama Islam yang "mayoritas" sehingga punya posisi yang cukup kuat untuk membicarakan agama lain seolah-olah UAS dan jemaatnya ini lebih superior.

Memang pasti menjadi masalah jika hal yang tadinya dibicarakan secara "internal", kemudian jadi konsumsi "eksternal" oleh sebab pemuatannya di Youtube.  

4. Ini tidak bermaksud mensimplifikasi persoalan UAS di atas, tapi agaknya luka akibat polarisasi Pemilu 2019 kemarin masihlah tersisa. Maksudnya, UAS memang mengucap hal yang keliru dan menyinggung, tapi posisi politiknya kemarin mungkin sedikit banyak memengaruhi psikologi banyak orang untuk tidak begitu saja "melepas" UAS. Apalagi komentar warganet juga tidak sedikit yang membandingkan kasus UAS dengan kasus Ahok ketika juga dianggap menista agama. Kasarnya, ada semacam "balas dendam". Namun, sekali lagi, ini bukan dugaan yang mengarah pada reduksionisme, seolah-olah urusan kasus ini "hanya" urusan keberpihakan politik masa lalu. Unsur-unsur penistaan agama tetap ada, dan baiknya tetap dilanjut saja proses pemeriksaanya. 

5. Tapi di sisi lain, perlukah pasal tentang penistaan agama ini? Sekarang urusannya jadi saling melapor dan memenjarakan. Padahal apa yang dilaporkan seringkali "hanya" berupa penistaan terhadap simbol-simbol, yang notabene, semestinya, tidak memberi dampak apa-apa terhadap ketahanan iman dari jemaat suatu agama. Ini hampir mirip dengan pelaporan pada kasus sebelumnya, terhadap ibu yang membawa anjing ke dalam masjid. Pasal penistaan agama jadinya tidak lagi menelaah intensi dari si "penista", tapi hanya lebih berpihak pada aduan dari orang yang agamanya merasa "dinistakan". Artinya, bisa saja si "penista" tidak ada maksud ke arah sana, tapi ujungnya tetap dipenjara juga oleh sebab aduannya terlalu kuat.

Akhirul kata, UAS tetap harus diberi pelajaran. Semoga warganet yang merekamnya, sadar bahwa perbuatan merekam dan mengunggah yang ia lakukan, telah membuat ruang privat (dalam konteks agama dalam sistem tertutup) menjadi "ruang publik" yang ditonton oleh masyarakat secara bebas.  



Continue reading

Catatan Kuliah Filsafat #2: Tentang Bambang Sugiharto



Duduk manis di kelas Pengantar Filsafat yang diampu oleh Prof. Bambang Sugiharto, sebagai bagian dari persiapan mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR awal tahun depan. Waktu Pak Bambang bicara di depan tadi itu, pikiran saya melayang-layang karena masih ngantuk. 

Teringat di tahun 2003, kala baru lulus SMA, saya punya cita-cita masuk Fakultas Filsafat UNPAR. Saya sangat serius waktu itu, hingga suatu malam bapak berkata, "De, bapak sudah konsultasi sama teman, namanya Pak Bambang. Katanya jangan masuk situ, karena itu sekolah untuk calon pastur." 

Saya tidak banyak membantah. Karena mungkin, ada benarnya. Saya kubur saja cita-cita menjadi mahasiswa filsafat untuk masuk menjadi mahasiswa Hubungan Internasional. Tapi cinta saya pada filsafat selalu terpendam, sampai akhirnya bertemu dengan Pak Bambang di kelas Extension Course pada sekitar tahun 2006 atau 2007. 

Di pertemuan pertama dengan materi Antropologi Filsafat itu, Pak Bambang sudah mampu mengguncangkan pikiran dan iman saya. Kuliah lebih dari sepuluh tahun lalu itu masih segar dalam ingatan saya: Tentang konsep manusia dalam pandangan filsafat (secara spesifik, soal konsepsi tubuh dan jiwa). Ada kata Plato yang tubuh adalah penjara jiwa, ada kata Foucault yang jiwa adalah penjara tubuh, ada Lacan yang mengatakan tentang keinginan manusia yang selalu bercermin satu sama lain, ada kata Nietzsche yang mengatakan masing-masing anggota tubuh manusia punya kecerdasannya sendiri. Sejak malam itu, hidup saya tidak lagi sama. Filsafat adalah "one way ticket". 

Enam belas tahun sejak saya menerima kenyataan bahwa saya tidak akan menjadi mahasiswa filsafat, ternyata saya masih bisa mengejar cira-cita tersebut. Bersama para calon pastur angkatan 2019, saya ikut kelas secara sit-in, mendengarkan Pak Bambang bicara. 

Selama enam belas tahun itu juga saya membaca filsafat tanpa melalui jalur formal dan sering coba-coba mengajar juga, walau entah benar entah tidak. Namun mendengarkan Pak Bambang bicara, meski sudah keempatpuluhkalinya, tetap terasa baru dan membuat saya malu. Pak Bambang mengajar dengan suatu kecintaan yang aneh, seolah sudah menjadi tugas dia, untuk membuat para calon pastur ini deg-degan dengan iman yang terus dihantam-hantam. 

Tapi dari situlah saya belajar, jadi "filsuf profesional". Jadi filsuf yang tugas utamanya hanya satu: mengguncang apa yang telah mapan, tanpa harus secara terbuka menyebutkan posisinya ada di mana. Jika ia berhadapan dengan orang yang terlalu posmodernis, jadilah sedikit Kantian untuk mengimbangi. Jika ia berhadapan dengan orang agnostik, jadilah sedikit religius untuk mengimbangi. Itulah "profesionalisme filsafat": hal yang menjadi prinsip adalah denyut dan dinamika pemikiran itu sendiri, tanpa harus fanatik pada satu -isme. 

Lalu apa yang saya dapat dari kuliah barusan? Ya, pengantar filsafat. Mata kuliah yang bikin betah, bikin saya tidak mau beranjak: inginnya belajar pengantar saja, selama-lamanya. Karena belajar filsafat, sampai suatu titik, akan kembali tentang pengantar filsafat. Coba saja sendiri!
Continue reading

Thursday, August 15, 2019

Catatan Kuliah Filsafat #1

Sambil nunggu ngajar semester depan, duduk manis dulu di kelas Romo Hadrianus Tedjoworo yang membahas Protestantisme dan Ekumene. 

Ekumene, dari yang saya tangkap barusan, adalah berbagai kegiatan maupun tindakan untuk mencapai kesatuan Gereja-Gereja, yang lebih ke arah emosional dan spiritual, bukan secara liturgi. 
 Artinya, perbedaan tetap ada dan menjadi batasan satu sama lain, tapi tetap diupayakan suatu "bayangan tentang Gereja yang satu". 

Tentu saja, ekumene ini, dalam sejarahnya, tidak pernah seratus persen berhasil. Selalu ada pihak yang tidak terlalu sepakat bahwa segalanya harus ada dalam kesatuan yang serius. Namun sebagai sebuah proses, ekumene mesti dilakukan sebagai sebuah ikhtiar untuk sekurang-kurangnya saling memahami spirit dan cara pandang satu Gereja dengan Gereja lainnya. 

Misalnya, pendirian The World Council of Churces (WCC) tahun 1948 adalah semacam gerakan ekumene yang berpusat di Swiss dan melibatkan 349 gereja dari sekitar 150 negara. Tetap saja, tidak seluruh Gereja menyetujui perhimpunan semacam ini, termasuk umumnya Gereja Katolik. Gereja Katolik, pada versi tertentu, bahkan menganggap sebenar-benarnya ekumene adalah kembalinya Gereja-Gereja non-Katolik ke dalam Gereja Katolik (bisa dirunut ke sejarah reformasi). Tentu saja anggapan tersebut agak sukar diterima dalam perkembangan Gereja dewasa ini, yang kelihatannya semakin berkembang dan bercabang. 

Opini: Itulah sebabnya, dalam konteks Islam, Khilafah mungkin saja tidak akan pernah tegak sempurna (karena bayangannya yang selalu tentang kesatuan Islam dalam satu tatanan yang formal dan serius). Islam bisa dibayangkan satu, mungkin hanya dalam konteks emosional dan spiritual, dalam bahasa ukhuwah islamiyah saja.
Continue reading

Saturday, July 27, 2019

Manusia Paripurna dalam Perspektif Nietzsche

(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Manusia Paripurna", 28 Juli 2019 di Rumah Komuji) 



Ketika membicarakan tentang konsep "manusia paripurna", agaknya tidak banyak tokoh dalam filsafat Barat yang membicarakannya secara gamblang. Kebanyakan dari mereka menyisipkannya dalam suatu pemikiran tentang etika, mengenai nilai-nilai yang seyogianya dipegang oleh manusia. 

Misalnya, Aristippus menganggap bahwa kebaikan tertinggi dimulai dari kepuasan ragawi. Sementara Diogenes sebaliknya, kebaikan tertinggi adalah penolakan terhadap kemelekatan dan sikap sinis pada dunia. Atau jika melompat ke zaman Pencerahan di abad ke-18, Immanuel Kant mengatakan bahwa kebaikan tertinggi seyogianya mengandaikan bahwa apa yang kita lakukan punya maksim universal. 

 Namun seorang filsuf di era antara romantik dan modern ada yang dengan berani bicara tentang "manusia paripurna". Namanya Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) dan ia bicara tentang konsep ├╝bermensch atau adimanusia. Gaya menulis Nietzsche sangat sastrawi, tapi bukan sastra yang nyaman dibaca dengan berbagai bunga-bunganya. Nietzsche menulis dengan gaya yang menghantam kita setiap saat, sehingga tulisannya sering dijuluki sebagai "martil". 

Bagi Nietzsche, manusia ada pada tegangan, antara hewan dan adimanusia. Berkelindan kita diantara keduanya, apakah tindak tanduk kita membawa kita menjadi budak atau menjadi tuan. Nietzsche menekankan bahwa bermental tuan adalah syarat utama menjadi adimanusia. Memang motif awal Nietzsche adalah mengritisi ajaran umat Nasrani, yang terlampau fatalis dan kurang berani. 

Nietzsche mengatakan bahwa yang terpenting adalah menjalani hidup dengan gagah berani, dan berdiri di atas kaki sendiri. Okelah Nietzsche tidak melibatkan Tuhan dalam hal ini. Memang ia dikenal sebagai filsuf "pembunuh Tuhan" (lewat pernyatannya yang terkenal: Tuhan telah mati) tapi bukan artinya secara literal konsepsi Tuhan ia tiadakan. Yang hendak ia maksudkan adalah untuk menjadi manusia paripurna, hal yang terpenting adalah membunuh segala dogma dan berhala yang mengekang kita. 

Dalam tafsir lain, dogma dan berhala itu tidak melulu agama, melainkan juga sains dan malah filsafat. Kemudian, pada bab lain ia mengatakan tentang tiga metamorfosa ruh, yaitu menjadi unta, singa, dan anak. Unta dianggap sebagai hewan yang menanggung beban. Manusia semacam ini menerima dan patuh saja pada apapun yang diberikan padanya. Sementara tahapan berikutnya adalah singa. Singa kerap memberontak, menginginkan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya. Manusia semacam ini kerap dinamis dan menginginkan perubahan. Namun metamorfosa final bukanlah menjadi singa, kata Nietzsche, melainkan menjadi anak. Mengapa anak? Mereka sangat imajinatif memandang dunia, dan hanya pikiran sendirinya saja yang menjadi tuan. Bagi seorang anak, bebas saja untuk membayangkan banjir sebagai arena bermain, atau orang terjatuh sebagai bahan tertawaan. Seorang anak menganggap hidup adalah "senda gurau belaka" dan ini dapat diterima dalam banyak konsepsi filosofi yang terdapat dalam agama-agama. 

Masih senada dengan pikiran Nietzsche tentang metamorfosa roh, satu lagi, ia menganggap bahwa ada dua cara memandang hidup, yaitu dengan gaya Apollonian atau Dyonisian. Apollonian berarti bertindak seperti Dewa Apollo, mengandalkan rasionalitas dan pencerahan. Sementara Dyonisian berasal dari Dewa Dyonisus yang bertanggung jawab pada anggur dan pesta perayaan. Hiduplah dengan gaya Dyonisian, kata Nietzsche, agar hidup terasa gelegaknya. Manusia paripurna adalah manusia yang hidup dengan gairah dan "mabuk"-nya, bukan pada akal pikirannya yang seringkali kurang luwes dan malah membosankan. 

Jadi terbayang kurang lebih bagaimana Nietzsche melihat konsep manusia paripurna. Tentu saja ada sejumlah kritik terhadap apa yang ia rumuskan. Misalnya, Nietzsche sendiri sebelas tahun terakhir dalam hidupnya, mengalami kegilaan secara harfiah. Artinya, dapat diasumsikan ia gagal menjadi manusia paripurna sebagaimana yang ia telah pikirkan (walau mungkin bisa jadi, kegilaan adalah bentuk paripurna?). 

Selain itu, pemikiran Nietzsche sering disalahtafsirkan sebagai bentuk arogansi karena terus menerus mengajak kita untuk hanya percaya pada diri sendiri. Padahal, ini sama sekali tidak bertentangan dengan konsep-konsep spiritualitas yang menjadikan Tuhan dan diri sebagai satu kesatuan. Nietzsche justru jengah dengan cara mengonsepsikan Tuhan yang selama ini terjadi, yang meminimalkan potensi dan gairah hidup kita sebagai manusia - itu sebabnya Nietzsche mengatakan bahwa ia hanya akan menyembah pada Tuhan yang bisa menari -. 

Artinya, dapat kita simpulkan bahwa konsepsi manusia paripurna menurut Nietzsche adalah manusia yang bermental tuan, mampu menjadikan hidup ini arena bermain layaknya seorang anak, punya sikap yang kuat terhadap gairah dan "kemabukan", serta membebaskan diri dari dogma dan berhala. 

 Mari membahasnya secara kritis.
Continue reading

Sunday, May 12, 2019

Penulis Seni, Pentingkah?

(Ditulis sebagai suplemen untuk Kelas Intensif Menulis Seni di Kaka Caf├ę, 13 Mei 2019)


Seni, Pada Mulanya 


Pada mulanya, seni bukanlah suatu kegiatan istimewa, oleh sebab fungsinya yang juga tidak bisa dilepaskan dari aspek-aspek keagamaan, sains, dan juga filsafat. Sebagai contoh, ketika puluhan ribu tahun silam, diketahui bahwa manusia melukis di dinding gua, maka itu tidak hanya kegiatan seni belaka, melainkan juga bentuk aktivitas religi (yang memerlukan bantuan dewa untuk menangkap hewan buruan) dan juga sains (dalam arti untuk menggambar itu sendiri, diperlukan penemuan saintifik dalam bentuk alat-alat).

Contoh lain yang lebih konkrit adalah patung Venus dari Willendorf yang ditemukan tahun 1908 oleh Josef Szombathy. Patung yang ditengarai berasal dari 30.000 tahun sebelum masehi tersebut, adalah perwujudan Dewi Venus sebagai dewi kesuburan, yang artinya juga bagi masyarakat setempat dianggap sebagai sesembahan.

Zaman Yunani Kuno mungkin sudah mulai ada pemikiran tentang seni sebagai suatu entitas yang terpisah, meski Aristoteles menekankan bahwa seni adalah aktivitas yang rasional sekaligus matematis, yang mana keindahan jadinya adalah tentang hal-hal yang simetris (seni dalam hal ini sudah dipisahkan dari agama, tapi ada bau sains dan filsafat). Sementara gurunya, Plato, berpikir transendental, meski tidak berbasiskan ajaran agama, dengan mengatakan bahwa seni adalah imitasi tidak sempurna dari objek yang sudah ada di dunia ide (dunia pra-eksistensi). Pada zaman Yunani Kuno tersebut, setidaknya seni mulai “independen” untuk dibicarakan secara tersendiri.

Namun posisi seni juga mengalami “naik-turun”. Pada Abad Pertengahan, perkembangan seni berlangsung sangat pesat, namun biasanya dilandasi oleh semangat-semangat keagamaan, karena pada saat itu Gereja sedang begitu dominan di Eropa. Puncak dari seni di Eropa ini dapat dikatakan berlangsung pada masa Renaisans, yaitu masa ketika Abad Pertengahan mulai tidak disukai dan semangat-semangat ketuhanan pelan-pelan diganti oleh spirit humanisme. Kita bisa menyebut nama-nama seniman besar di masa Renaisans, seperti Michaelangelo Buonarotti, Leonardo da Vinci, Raffaello Sanzia da Urbino, dan Gian Lorenzo Bernini.

Pada Abad Pencerahan, Immanuel Kant punya peran dalam membuat seni menjadi eksklusif dari fungsi-fungsi non-estetik. Menurut Kant, keindahan haruslah lepas dari segala fungsi dan kepentingan (disinterestedness), baru bisa dikatakan seni (tinggi). Jadi, bisa dikatakan, jika sebuah tangga digunakan untuk memanjat, maka tangga itu bukan seni. Tapi jika tangga itu tidak dipakai untuk apapun dan disimpan begitu saja di galeri, maka tangga tersebut jadi karya seni.

Pemikiran Kant tersebut menjadi semakin lekat dengan apa yang kita sebut sebagai seni modern, yang diperkuat dengan kredo yang diletupkan oleh Theophile Gautier yaitu “L’art pour l’art” atau “seni untuk seni itu sendiri”. Pada titik ini lengkaplah keistimewaan seni sebagai suatu entitas yang berdiri sendiri, yaitu ketika seniman tidak memikirkan fungsi-fungsi lain kecuali estetika itu sendiri. 

Memang terdapat pertentangan-pertentangan dari, misalnya, aliran realisme sosialis, yang menginginkan seni harus punya fungsi bagi perubahan-perubahan sosial dan idealisme masyarakat yang komunal (baca: sesuai dengan prinsip komunisme).

Namun kredo seni modern perkembangannya tidak tertahankan, hingga seorang Prancis bernama Marcel Duchamp, di awal abad ke-20, mengajak kita berpikir ulang tentang estetika, dengan memajang tempat kencing (urinoir) di galeri. Menurutnya, pertama, keindahan bisa jadi sangat bergantung dari persepsi si apresiator, dan tidak melulu terkandung secara an sich dalam karya seni. Kedua, estetika tidak semata-mata sesuatu yang retinal atau memuaskan mata, melainkan juga, pada titik tertentu, memberikan suatu gagasan baru, mendobrak pemikiran lama, dan memprovokasi suatu pandangan yang visioner. Pernyataan tersebut bisa jadi jalan masuk bagi kita untuk memahami posisi penulis seni.

Tentang Penulis Seni 

Apa hubungannya sejarah singkat seni yang dipaparkan di atas dengan posisi penulis seni yang akan kita bahas di pertemuan sekarang ini? Kita bisa membayangkan, ketika seni masih ada kait kelindannya dengan fungsi-fungsi lain di luar estetika, maka tidak perlu kita memikirkannya panjang lebar untuk menjadi “penyambung lidah” bagi para apresiator.

Atau, ketika seni, dalam dirinya sendiri, sudah mengandung keindahan – yang sifatnya retinal, jika meminjam istilah dari Duchamp -, maka pemikiran yang berlebihan pun tidak diperlukan, karena biarkan objek itu sendiri yang “berbicara” pada si penikmat. Misalnya, kita tidak terlalu membutuhkan penulis seni, untuk memikirkan dan menjelaskan tentang apa makna, interpretasi, serta proses kreatif musik-musik di gereja, atau mozaik di jendela kaca gereja. Tentu saja bukannya tidak bisa, tapi tanpa penulis seni pun, musik dan karya rupa tersebut, akan tetap berjalan dalam fungsinya sebagai estetika yang mendukung kegiatan keagamaan.

Sementara itu, pada seni-seni yang “indah pada dirinya sendiri”, kita juga bisa mengatakan penulis seni bisa diperlukan bisa tidak. Misalnya, pada karya-karya realis, kemungkinan kita akan langsung terpesona jika sebuah lukisan mirip dengan kenyataan aslinya, tanpa harus bertele-tele dengan penjelasan. Namun tidak serta merta peran penulis seni dapat disingkirkan sepenuhnya dalam hal-hal yang disebutkan di atas. Ingat bahwa lukisan karya Da Vinci, Mona Lisa, dihargai tinggi disebabkan oleh salah satunya, senyum misteriusnya? Kita tidak bisa tahu persis apakah senyumnya benar-benar misterius atau tidak. Bisa saja, terdapat mistifikasi, yang diembuskan secara turun temurun, masif, dan akhirnya dipercaya sebagai sesuatu yang benar tentang senyum Mona Lisa.

Dalam upaya mistifikasi tersebut, mungkin saja ada peran penulis seni di dalamnya. Artinya, pertama, terdapat asumsi bahwa keindahan seni, tidak lepas dari konteks ruang dan waktu. Seni yang indah pada dirinya sendiri, sebenarnya terlepas dari aspek keterampilan si seniman, juga punya unsur eksternal lain, yaitu kontekstualisasi, yang dalam hal ini bisa “diciptakan” oleh penulis seni.

Kedua, seperti telah diungkap di atas terkait seni modern sejak abad ke-20, peran penulis seni kian diperlukan seiring dengan ekpresi seni yang semakin individual dan berorientasi pada gejolak pribadi si seniman (dulu juga bisa jadi seperti itu, tapi dulu sikap individualis tidak seperti sekarang). Penulis seni menjadi elemen penting dalam medan sosial seni sebagai elemen penting untuk, pertama, “menjembatani” ekpresi seniman dengan cakrawala pengetahuan apresiator, agar karya seni tersebut tidak hanya dapat dirasakan, tapi juga “dipahami” (tanda kutip digunakan karena pemahaman estetis kadang berbeda dengan pemahaman kognitif yang umum).

Kedua, jika “jembatan” terasa sebagai peran yang terlalu dangkal, maka penulis seni, lebih daripada itu, berperan membangun wacana-wacana yang baru dan segar, sehingga setiap bagian dari ekosistem seni, memikirkannya sebagai sesuatu yang menarik. Misalnya, kawan saya, Bob Edrian, kurator, sangat rajin menulis tentang sound art sebagai fenomena seni rupa yang “baru”, setidaknya di ranah seni rupa di Bandung. Bob secara konsisten menawarkan bunyi sebagai medium seni rupa, dan itu direnungkan tidak hanya oleh apresiator, tapi juga oleh seniman. Penulis seni semacam ini perlu dipahami sebagai bagian tidak terpisahkan dari ekosistem kesenian, dan ketiadaannya justru membuat seni menjadi kering dari dinamika pemahaman yang baru. Penulis seni tidak hanya memetakan, menawarkan, tapi juga “menyengat”.

 Penulis seni yang saya sebutkan di sini bisa jadi penulis seni dalam konteks apapun, baik kurator, peneliti, jurnalis, ataupun kritikus. Memang ada perbedaan-perbedaan peran dan titik berat antara empat contoh sub-penulis seni tersebut, misalnya, kurator lebih ada “di dalam” mekanisme seniman, karya, pameran, dan kolektor, sementara kritikus ada “di luar” dan tidak ada kepentingan dengan mekanisme tersebut. Sementara peneliti bisa “di dalam” atau “di luar”, tapi bisa jadi orientasinya tidak ke publik, melainkan pada perkembangan seni di wilayah akademik. Jurnalis, kita tahu, berorientasi ke publik, tapi kepentingannya untuk mendalami terminologi-terminologi dalam seni, beserta makna dan interpretasinya, bisa jadi tidak terlalu harus mendalam (meski tidak semua jurnalis seperti itu).

Apapun itu, menulis seni tetap mesti melalui satu disiplin dan kemauan tertentu, untuk tidak hanya mempunyai kemampuan menulis yang mumpuni, melainkan juga punya sensibilitas dan pemahaman yang kuat mengenai seni dan dunianya. Jika kita percaya seni sebagai salah satu pilar penting bagi peradaban, maka secara otomatis, penulis seni merupakan bagian di dalamnya.


Continue reading

Saturday, April 13, 2019

Tentang Toko Buku Bernama Akasa




Namanya Akasa. Toko buku ini milik kawan saya, Ucrit, Bonil, Alfi dan Widay. Hal yang menarik pertama adalah toko buku ini terletak di sebuah pasar tradisional. Memang konsep semacam ini tidak aneh-aneh amat. Di Pasar Palasari misalnya, ada blok yang khusus jual sayuran, daging, bumbu, sembako, dan semacamnya, tapi ada juga blok khusus yang menjual buku-buku saja. Tapi di Pasar Cihapit, tempat Akasa berada, sedikit berbeda. Tidak ada perbedaan blok antara buku dan non-buku. Mereka dilebur begitu saja, sehingga datang ke Akasa adalah sekaligus juga terjun ke tengah suasana pasar tradisional. 

Hal menarik lain, selain menjual buku, yang khas dari Akasa adalah teh. Ini adalah anomali di tengah tren minum kopi. Akasa tidak ada kopi, hanya teh, dan hanya teh panas. Harganya pun sangat aneh, yaitu lima ribu rupiah saja dengan jumlah isi ulang tidak terbatas. Suatu hari saya berkelakar tentang harga super murah ini, "Ini bagus, karena harga tinggi cenderung menuntut pelayanan yang baik. Akasa tidak menganggap perlu biaya pelayanan ini, sehingga keramahan apapun yang hadir dari penjaga Akasa, adalah ketulusan, bukan karena menerima service tax." 

Ucrit setuju, dan ini yang membuat Akasa menarik untuk didatangi, karena para pengunjung berjuang untuk mencari kenyamanannya sendiri. Tidak ada sofa yang empuk, tidak ada tempat yang luas, dan tidak ada suasana cozy dengan musik jazz yang membuat rileks. Maka itu pengunjung yang datang harus dengan sigap merespons ruang. Ini juga mengherankan, karena kenyataannya, Akasa cukup dominan dihadiri oleh mahasiswa yang datang untuk belajar, berdiskusi, dan tidak sedikit yang mengerjakan skripsi. 

Artinya, ada tesis baru yang bisa dikemukakan: bukan fasilitas yang membuat orang tinggal, melainkan tawaran untuk menciptakan kenyamanan sendiri. Dugaan lain adalah kemungkinan bahwa energi sebuah tempat tidak berdasarkan benda-benda yang diletakkan berdasarkan ilmu interior tertentu, melainkan pada ketulusan sang pengelola. Saya kenal Ucrit cukup lama, dan paham betul bahwa Akasa tidak dibangun dengan motif bisnis semata. Akasa dibuat atas kegelisahannya untuk terus bergerak dan berbuat, sebagai bagian dari kerja estetiknya yang mewujud menjadi sebuah kemaslahatan sosial. 

Meski cukup banyak dikunjungi orang-orang yang kritis dan senang diskusi, Ucrit bersikeras untuk tidak membuat Akasa menjadi tempat diskusi formal dengan tema yang spesifik dan pengumuman untuk publik. Biar saja obrolan-obrolan tumbuh secara organik dan massa yang berkumpul tidak dalam suatu rencana. Saya setuju dengan ini, meski sebuah putusan yang tidak populer di tengah semakin kuatnya keterkaitan antara kafe dan restoran dengan kumpul-kumpul komunitas. Sebenarnya komunitas mempunyai efek samping, yaitu berpotensi menciptakan zona nyaman kawanan yang kontraproduktif. Dari awalnya dipersatukan oleh hobi atau pemikiran, lama-lama menjadi persahabatan. Tentu bukan hal yang buruk, hanya saja hal yang menjadi niat awal, yaitu kesamaan hobi dan pemikiran, menjadi kurang diperhatikan lagi dan bertahan di suatu kenyamanan tertentu. 

Akasa ingin dinamis, dan ingin agar tidak ada semacam komunitas yang berkembang menjadi "geng" yang kadang membuat demarkasi antara "orang dalam" dan "orang luar". Cita-cita yang baik, untuk senantiasa menjaga kesan egaliter, walau mustahil seratus persen tercapai. 

Terakhir, soal buku. Bagaimanapun, lapak Akasa tidak terlalu luas jika tidak bisa dikatakan sempit. Namun sang pengelola tidak kehabisan akal, dibuatlah sejumlah rak tambahan dan beberapa diantaranya disimpan di gantungan-gantungan atau bahkan di bawah kursi. Soal buku mungkin variannya cukup luas, dari mulai buku Iqro dan panduan salat, majalah Mangle hingga filsafat ada di sini. Buku-buku di Akasa nampaknya tidak eksklusif untuk kalangan pembaca serius yang memang kutu buku saja, melainkan juga menyediakan bacaan yang praktis dan santai sehingga lebih aksesibel terhadap publik yang lebih luas. Namun apapun itu, sekali lagi, buku fisik belum tergantikan oleh buku elektronik, salah satunya karena itu: dapat menciptakan atmosfer intelektual. Jajaran buku di rak dapat menarik minat untuk orang berdiskusi di hadapannya, ketimbang bergiga-giga buku elektronik di dalam hard disk eksternal. 

Mari mengikuti kiprah Akasa lebih jauh, yang berpotensi menjadi suatu gerakan yang mampu mempersempit jurang antara eksklusivisme intelektualitas dengan publik secara luas. Hal yang mempersatukannya tidak lain oleh ruang apa adanya, teh isi ulang, buku Iqro dan ragamnya, serta sikap "anti komunitas" sebagai cara untuk mempertahankan dinamika dan dialektika.
Continue reading

Friday, April 12, 2019

Uang dan Nilai Keindahan

Uang dan Nilai Keindahan
Perihal uang, kita kurang lebih bisa memahaminya jika dipertukarkan dengan sesuatu yang fungsional. Misalnya, kurang lebih kita bisa paham mengapa kopi harganya sekian, diukur dari biaya produksi, distribusi dan penyajiannya – meski dalam konteks tertentu, kopi bisa sangat mahal ketika masuk suatu pertambahan nilai yang dinamakan “gaya hidup”-. 

Kita bisa mengerti mengapa sebuah mobil harganya sekian, karena misalnya, kenyamanan, dan fasilitasnya dibandingkan dengan mobil yang lain. Kebaruan juga penting, bahwasanya mobil tersebut baru keluar dari pabrik tidak lebih dari setahun terakhir dan belum pernah digunakan oleh orang lain. 

Kita bisa mengerti juga kurang lebih mengapa rumah harganya sekian, karena bahan bangunan, lokasi, akses, dan nilai tanah yang memang punya kecenderungan untuk terus meningkat. 

Namun bagaimana dengan keindahan? 

Keindahan konon sering dikatakan sebagai sesuatu yang subjektif. Ukurannya berbeda-beda bagi setiap orang. Beda dengan mobil atau rumah. Setiap orang kurang lebih setuju bahwa ada rumah yang mewah dan mudah akses, sementara ada juga rumah yang sederhana dengan akses yang sulit. Rasa makanan juga memang subjektif, tapi ada nilai-nilai lain yang menjadikannya objektif, seperti kemewahan dan kenyamanan sebuah restoran, sehingga sebuah makanan menjadi lebih mahal. 

Tapi bagaimana bisa masuk di akal, jika lukisan Salvador Mundi-nya Leonardo Da Vinci, terjual seharga 450 juta dollar atau sekitar 6,4 triliun Rupiah? Apa fungsi lukisan tersebut bagi kehidupan kita? Jika urusannya hanya keindahan, di Jalan Braga juga banyak lukisan-lukisan yang kualitas estetikanya “tidak jauh berbeda”. Tapi coba datang dan cari lukisan terbagus yang dibuat oleh pelukis di Jalan Braga. Tanpa bermaksud merendahkan, mungkin harganya juga tidak ada yang sampai miliaran, atau mendekati ratusan juta sekalipun. 

Pertanyaannya, mengapa? Toh sama-sama lukisan, toh sama-sama bagus. 

Ini baru membahas karya rupa. Yang notabene bisa dilihat dan diraba. Bagaimana dengan musik? Atau karya sastra? Hal ini lebih rumit lagi, dan ada problematikanya sendiri-sendiri. 

Sekarang mari membahas tentang seni rupa terlebih dahulu – yang lebih mudah, tapi paling absurd -. Heru Hikayat, kurator asal Bandung, menyebutkan bahwa otentisitas menjadi kunci harga karya seni rupa yang bisa melambung melampaui akal sehat. Misalnya, Monalisa-nya Leonardo Da Vinci yang otentik hanya ada satu di dunia, yaitu yang dipajang di Museum Louvre, Paris. Kita bisa lihat Monalisa dari beberapa sumber, bisa dari internet, bisa dari lukisan poster yang dipajang di hotel-hotel, tapi bagaimanapun, itu bukanlah Monalisa. Itu semua hanya replikasi saja. 

Beda dengan karya seni lain seperti musik atau sastra, misalnya. Adakah perbedaan antara mendengarkan karya simfoni Beethoven dari piringan hitam dengan dari Spotify? Ada perbedaan kualitas tentu saja. Tapi kita tidak akan meributkan mana yang lebih otentik dan mana yang replikasi. Harga berbeda karena medium berbeda, tapi tidak ada persoalan dengan “nilai intrinsik” dari kekaryaannya. Meski dari dua sumber yang berbeda kualitas, kita tetap akan sama-sama mengaku sudah mendengarkan simfoni Beethoven yang “otentik”. 

Juga dengan karya sastra. Adakah perbedaan antara membaca buku Pramoedya Ananta Toer yang asli dengan yang fotokopi? Rasanya tidak ada. Seperti halnya musik, tentu saja ada perbedaan antara medium satu dengan yang lain. Tapi baik asli maupun fotokopian, mereka yang sudah membaca, tetap akan mengaku sudah membaca yang “otentik”. Tidak ada masalah dengan konten dan “nilai intrinsik”-nya. 

Intinya, semahal apapun kita punya piringan hitam rekaman simfoni Beethoven atau cetakan pertama buku Pramoedya, secara konten tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripada yang punya bajakan atau replikasinya. Beda dengan mereka yang telah melihat atau bahkan memiliki lukisan yang otentik. Marwahnya jelas lebih tinggi daripada penikmat dan pemilik replika karya rupa. 

Dalam sebuah film dokumenter di Youtube, nilai sebuah karya rupa ditentukan oleh sepuluh faktor yaitu authenticity, condition, rarity, provenance, historical importance, size, subject matter, medium, fashion, dan quality. Atau, jika diterjemahkan secara bebas, sepuluh faktor ini terkait dengan hal sebagai berikut: 

1. Keaslian suatu karya. Semakin benar terbukti bahwa karya tersebut otentik dibuat oleh pelukisnya langsung, tentu saja harganya semakin mahal. 

2. Kondisi suatu karya. Jika karyanya masih dalam kondisi bagus dan prima, tentu saja harganya lebih baik ketimbang yang sudah rusak. 

3. Kejarangan suatu karya. Jika karyanya tersebut terbukti adalah karya yang jarang dan tidak dibuat secara masif, maka harganya lebih mahal ketimbang karya yang dibuat banyak. 

4. Kepemilikan suatu karya. Jika karya tersebut pernah dimiliki oleh seseorang dengan reputasi yang tinggi, tentu saja harganya semakin baik. 

5. Konteks kesejarahan suatu karya. Setiap karya tentu bertalian dengan konteks historis dan semangat zamannya. Semakin punya kekuatan historis dan merepresentasikan semangat zaman, semakin tinggi juga harganya. 

6. Ukuran suatu karya. Semakin besar ukurannya, secara langsung mengandaikan bahwa bahan-bahan untuk membuatnya pun semakin banyak, dan maka itu secara otomatis meninggikan harga karyanya. 

7. Topik suatu karya. Terkait ini memang agak sukar untuk dinilai, tapi kira-kira mirip dengan nomor lima, bahwa suatu karya harus punya topik yang menarik, relevan dengan zaman, tapi sekaligus tidak lekang oleh waktu. Jika hal-hal demikian dipenuhi, maka harganya semakin tinggi. 

8. Medium yang digunakan pada suatu karya. Ini agak jelas dan “logis”. Semakin mahal material yang digunakan oleh karya tersebut, tentu saja karyanya juga semakin tinggi harganya. 

9. Bagaimana suatu karya dapat tetap trendi. Maksud dari fashion dalam hal ini adalah bahwa karya tersebut tetap menarik di berbagai situasi yang paling kontemporer sekalipun. 

10. Kualitas suatu karya. Hal terakhir ini tentu saja mencakup banyak faktor, dan nyaris merangkum segala, termasuk yang bersifat material, teknis pembuatan, hingga rekam jejak seniman. 

Penjelasan-penjelasan semacam itu tetap tidak bisa seratus persen dapat dimengerti tentang mengapa suatu karya bisa mencapai triliunan. Apalagi jika penjelasan di atas justru semakin menegaskan bahwa karya seni bukan sekadar urusan estetika saja. Bahkan estetika menjadi hal yang paling nomor sekian dan yang paling penting justru berupa mistifikasi-mistifikasi di sekitarnya. Misalnya: Konteks kesejarahan, sebagaimana disebutkan dalam nomor lima adalah perkara intertekstualitas, termasuk juga rekam jejak seniman. Bagaimana jika aspek sejarah dalam lukisan telah dibesar-besarkan? Bagaimana jika karir seniman juga dituliskan secara hiperbolik? Seniman yang dekat dengan kekuasaan dengan yang tidak tentu akan punya pengaruh yang berbeda terhadap imejnya di masyarakat. 

Seniman asal Bandung, R.E. Hartanto, pernah membagikan kiat-kiat memberi harga untuk pelukis pemula. Menurutnya, harga lukisan (untuk pemula) adalah biaya material ditambah biaya ide (yang jumlahnya tiga sampai lima kali biaya material). Jadi jika biaya material dari lukisan kita adalah Rp. 100.000, maka lukisan bisa dijual dengan harga Rp. 400.000 sampai Rp. 600.000. Nampak mudah, tapi tidak bagi pelukis-pelukis sekaliber Van Gogh, Picasso, atau Warhol, yang meski harga materialnya (misalnya) hanya Rp. 100.000, tapi biaya ide nya, bisa seribu kali lipat, oleh hal-hal yang sifatnya “tidak rasional”. 

Artinya, tidak ada karya seni yang lepas dari konteks ruang dan waktu. Marcel Duchamp, seniman Prancis-Amerika di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, pernah memamerkan tempat kencing di sebuah galeri. Duchamp telah membuka cara pandang terhadap seni yang selama ini “retinal” (memuaskan mata), pada sesuatu yang lebih ke arah mengusik pikiran. Dalam arti kata lain, seni adalah tergantung persepsi penikmat itu sendiri. Jika tempat kencing, apa adanya, ditempatkan dalam konteks kesenian, yang dalam hal ini galeri, maka dengan sendirinya ia menjadi karya seni. Dengan demikian, Duchamp telah menambahkan situasi yang lebih rumit dalam kaitannya dengan nilai sebuah karya seni – karena ternyata, apa itu seni, juga berdasarkan pada perspektif yang dibentuk oleh faktor eksternal dan bukan nilai intrinsik suatu karya -. 

Mari kita tutup hal ikhwal harga dalam seni rupa, dan menambah rumit dengan kasus-kasus dari karya seni yang lainnya. Musik adalah contoh yang absurd. Bagaimana kita menghargai sebuah karya musik, sungguh sukar dikaitkan dengan harga materialnya. Apakah orang yang bermain musik dengan harpa senilai dua ratus juta Rupiah, akan lebih pantas dihargai tinggi, ketimbang orang yang bermain gitar dengan harga dua juta Rupiah? Ini tidak bisa dipastikan. Tidak ada harga material yang mendasari, meski musik itu dibuat dengan produksi yang mahal. 

Dulu sempat ada diskusi, terkait dengan musik klasik, ketika membahas: berapa harga yang layak untuk sebuah tiket pertunjukkan? Ada yang menjawab: Tidak ada harga yang pantas untuk membayar kerja keras seorang musisi, dari belasan hingga puluhan tahun dia belajar musik, sampai kemudian ia membeli instrumen seharga belasan, puluhan, bahkan ratusan juta. Pantaskah jika kita membayar tiket seharga Rp. 50.000 untuk menonton dia memainkan sederet lagu klasik bercita rasa tinggi? 

Tentu saja, kita akan mudah menjawab tidak pantas. Tapi jika seluruh musik dihargai semacam itu, tentu tidak ada harga musik yang mampu dijangkau. Bahkan konser John Mayer seharga empat juta Rupiah saja dianggap sebagai sebuah penghinaan. Pada titik ini, musik menjadi karya seni yang paling sukar diukur dengan uang. Konser yang serba otentik, punya nilai historis, punya topik yang relevan di segala zaman, sampai bermuatan kualitas teknis yang tinggi, seperti konser orkestra yang memainkan musik Mozart, bisa kalah harganya dengan musik yang menampilkan bintang pop Korea.

Kasus-kasus tertentu bahkan bisa sangat menarik, seperti musik The Beatles, yang bisa sangat populer dan membuat para personelnya menerima royalti tanpa henti. Hal semacam ini masih berkelindan antara memang musik itu punya nilai pada dirinya sendiri, atau bantuan industri yang secara tanpa henti membuat musik-musik tersebut menjadi diterima oleh masyarakat tanpa perlawanan. 

Bagaimanapun, hal ikhwal hubungan seni dan uang, akan menjadi perkara ketika kita dihadapkan pada keindahan intrinsik dan keindahan ekstrinsik. Ada yang bilang keindahan intrinsik itu ilusi belaka, yang sebenarnya dibentuk oleh mekanisme pasar yang dikuasai segelintir orang. Ada benarnya, dan itu menyebabkan musik-musik yang diproduksi oleh orang yang tidak punya latar belakang musik yang kuat, menjadi bisa laku di pasaran. Namun di sisi lain, apakah keindahan intrinsik itu benar-benar nihil di hadapan pasar? 

Kita bisa berdebat panjang lebar terkait ini. Terutama terkait kepercayaan orang-orang yang masih beriman pada adanya keindahan intrinsik yang seharusnya lebih sejalan jika dinilai dengan uang. Ada musik yang panjang umurnya, ada karya rupa yang panjang umurnya, ada karya sastra yang panjang umurnya – yang oleh Haruki Murakami dikatakan, bahwa ia tidak mau membaca karya yang belum dibaptis oleh waktu -, apakah itu semata-mata karena ada kuasa yang melanggengkan karya tersebut untuk tetap bertahan? Mungkin saja, tidak semata-mata itu. Ada hal bagus dalam diri karya tersebut, yang membuat orang merasa perlu untuk menjaga dan memeliharanya secara turun temurun. Hal yang boleh saja dibilang gaib dan mistik, yang menunjukkan seni punya beda dengan produk kehidupan yang lainnya. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa karya Bach bisa bertahan ratusan tahun dan kita tidak yakin bahwa karya JKT48 bahkan masih dibahas di lima tahun mendatang. Karya film 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick tahun 1968 sinematografinya masih dibahas hingga hari ini secara akademik, tapi yakinlah bahwa karya sinetron Putri yang Tertukar tidak akan terlalu diurai secara intelektual, kecuali yang dibahas hanyalah aspek-aspek dampak sosial yang ditimbulkannya. 

Tentang aspek intrinsik ini, akan selalu jadi persoalan bahwa yang demikian hanya eksklusif di mata orang-orang tertentu (yang dianggap sebagai penganut “seni tinggi”) saja. Biasanya, ada pandangan lain yang menganggap bahwa seni yang baik, justru adalah seni yang “menghasilkan” dan justru populis karena dengan demikian seni tidak berdiri pada ketinggian yang tidak terjangkau, melainkan justru bisa dekat dengan masyarakat dan malah sangat fungsional (dan ini bagus). 

Tegangan-tegangan tentang nilai dalam seni tidak akan bisa selesai dalam waktu dekat dan malah akan terus relevan dibahas sepanjang zaman. Terlebih lagi jika kita juga ingat, bahwa seni adalah sesuatu yang “sakral”, yang seringkali nilai-nilainya lebih subliminal ketimbang uang. Keindahan mampu menggerakkan, keindahan juga mampu mengukuhkan suatu kuasa, dan ini akses-akses yang berharga kemudian.

Bahkan kita bisa curiga, bahwa kerucut dari segala uang, adalah pengalaman melihat dan sentuhan yang membuat segala yang mistik menjadi realistik. Konser John Mayer lebih mahal dari rekaman musiknya, karena kita menonton dan mungkin kalau beruntung, bisa menyentuhnya. Sementara rekaman musik masihlah sesuatu yang "gaib" karena tidak terlihat. Sebuah buku bisa mahal, bukan karena kata-kata sastrawi di dalamnya, tapi karena desain sampul dan bahan book paper yang khas jika diraba. Kata-kata saja, mungkin absurd jika dihargai demikian tinggi. Kata-kata baru bernilai uang, ketika ia mewujud dalam visual dan sentuhan. Mungkin.


Continue reading