Monday, October 12, 2020

Ulas Buku: Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21


Kata “politik” itu memang terdengar seperti sesuatu yang kotor, penuh intrik, dan urusannya selalu soal kekuasaan dan kekuasaan saja. Dengan citranya yang demikian buruk, ramai-ramai orang menghindari berurusan dengan politik, seolah-olah ada kehidupan manusia di luar sana yang tidak terhubung dengan politik. Padahal, Pericles, negarawan Yunani Kuno, sudah mengingatkan, “Hanya karena kita tidak punya minat dengan politik, bukan berarti politik tidak punya minat terhadap kita.” 

Prof. Budiono Kusumohamidjojo, lewat bukunya yang berjudul “Filsafat Politik dan Kotak Pandora Abad ke-21”, menunjukkan bahwa politik secara hakikat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban manusia. Bagaimana bisa menghindari politik, jika hidup dalam entitas bernama negara? Bagaimana bisa menghindari politik, jika membenci kekuasaan tertentu, tapi diam-diam mendambakan kekuasaan jenis lainnya? Bagaimana bisa menghindari politik, jika senantiasa membentuk ragam kategori dalam masyarakat, yang kemudian lewat kategori tersebut, kita bisa melihat bahwa masing-masingnya punya kepentingan yang berbeda? Dengan demikian, jelas mengapa Aristoteles menyebut manusia sebagai “zoon politikon”. 

Istilah “filsafat politik”, dalam buku ini, diuraikan dengan jelas – termasuk perbedaannya dengan ilmu politik -, yang seolah menjawab pertanyaan, “Politik kan ‘gitu-gitu aja’, untuk apa difilsafatkan lagi?” Filsafat politik menunjukkan bahwa politik tidak “gitu-gitu aja” dalam arti, mengandung kompleksitas yang menyertakan renungan tentang apa itu negara, apa itu kekuasaan, apa itu idelogi, apa itu konstitusi, hingga apa itu hak asasi manusia. Namun di sisi lain, filsafat politik juga ingin memperlihatkan bahwa di sisi lain, politik adalah “gitu-gitu aja” karena dalam rentang sejarah peradaban manusia, yang dibicarakan adalah perkara yang kurang lebih sama, namun dalam konteks historis yang berbeda – bukankah demikian hakikat mempelajari filsafat: mempelajari pemikiran lampau untuk dicari benang merahnya dengan masa sekarang? -. 

Ke-masa-sekarang-an tersebut ditunjukkan penulis dengan tidak hanya berusaha merangkum pemikiran politik dari masa Yunani Kuno hingga masa modern, melainkan juga meletakkan kontekstualisasinya dengan persoalan kontemporer di abad ke-21. Sehingga dengan demikian, buku ini terasa lengkap dan bergizi, oleh sebab kita tidak dibiarkan hidup dalam bayangan romantisme politik di masa silam (yang cukup komprehensif disajikan), melainkan ditarik untuk berdiskusi perihal hakikat masyarakat yang semakin tidak terikat secara spasial dan temporal, kemajuan teknologi informasi yang memberi keuntungan tapi sekaligus juga persoalan baru, serta kemungkinan berakhirnya globalisasi dalam waktu dekat. 

Meski demikian, dengan segala kelengkapan isinya yang memukau, buku yang diterbitkan bulan Agustus 2020 ini (yang dengan begitu, sedang berada di masa pandemi Covid-19), akan lebih dahsyat jika turut menyertakan sebuah analisis tentang kondisi politik dan masyarakat pasca pandemi, yang kemungkinan besar akan mengalami perubahan drastis pada kondisi yang sukar dibayangkan. Penulis beberapa kali menyebut perihal pandemi Covid-19 ini dalam beberapa kesempatan dalam buku, tapi kelihatannya tidak sempat membuat analisis tajam dan serius tentang kondisi yang diakibatkannya. Tentu saja, pemikiran yang bertalian dengan hal tersebut sangat dinanti, meski pada tulisan profesor Budiono yang lain.
Continue reading

SONTAK dan Harapan Bagi Ekosistem Perbunyian di Bandung

sontak
Poster SONTAK, diambil tanpa izin dari Facebook Page.


Mungkin sekitar delapan tahun yang lalu, seorang kawan pergi meninggalkan Bandung, namanya Diecky Kurniawan Indrapraja. Apa yang diwariskan Diecky ini cukup penting, hingga mengundang tanya bagi saya pribadi, “Adakah (orang di Bandung) yang sanggup menggantikan Diecky?” Mungkin yang membaca tulisan ini bertanya-tanya: Lah, Diecky ini memangnya siapa? Apa yang sudah ia lakukan? 

Diecky adalah komponis asal Surabaya yang lama tinggal di Bandung untuk studi. Saya tidak punya data akurat tentang berapa lama ia tinggal di Bandung, tapi jika dihitung dari kapan ia masuk kuliah, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Diecky tidak hanya mengomposisi karya, ia juga mengajar, baik formal maupun non-formal. Salah satu tempat mengajar non-formalnya adalah di garasi rumah saya, Garasi10. Di sana ia, di hadapan belasan muridnya (termasuk saya), menyebarkan suatu paham yang menurut kami semua begitu aneh, yaitu tentang musik kontemporer, avant-garde, dengan segala bebunyiannya yang begitu asing di kuping. 

Ada perasaan yang aneh setiap Diecky “berkhotbah” tentang avant-garde-isme ini. Kami kesal karena bebunyian tersebut terasa tidak enak, tapi kami bertahan mendengarkannya dari malam hingga adzan subuh, dan itu berlangsung berbulan-bulan. 

Hingga akhirnya waktu itu datang. Kalau tidak salah di bulan September 2012, Diecky pamit meninggalkan Bandung untuk mengadu nasib di Pontianak. Pertanyaan besar di atas adalah tentang siapa yang bisa menggantikan Diecky perihal militansinya dalam menjadi “misionaris avant-garde-isme” di kota ini, yang kelihatannya masih berputar di wilayah musik dalam konteks nada yang harmonis, performansi yang menghibur, dan soal yang ini, bolehlah, tentang relasinya dengan subkultur dan gaya hidup masyarakat urban. Pertanyaan tersebut benar-benar tidak terjawab, hingga hadirnya kegiatan bernama SONTAK. 
 
SONTAK adalah kegiatan musik yang digelar pada awal September lalu, yang diinisiasi oleh Robi Rusdiana, Dody Satya Ekagustdiman, dan Daniel Hueleflores. Namun kegiatan musik ini bukan kegiatan musik yang tipikal digelar di Kota Bandung. Ini adalah festival “improvisasi bebas” yang masuk hingga ke urusan musik sebagai bunyi, dan tidak melulu urusan nada-nada yang harmonis. 

Jujur, karena selalu bentrok dengan jadwal webinar dan agak khawatir juga berkumpul di keramaian di masa pandemi (karena SONTAK digelar secara luring), saya tidak hadir di satupun acara SONTAK. Meski demikian, saya rajin melihat video-videonya lewat media sosial dan sempat ngobrol-ngobrol dengan Robi dan beberapa pengisi acara yang tampil di sana. Maka dari itu, tulisan ini bukan hendak mendeskripsikan kegiatan secara detail dengan berbagai analisa fenomenologis, melainkan lebih ke melihatnya dari jauh, menempatkannya pada peta besar “perjalanan bebunyian” di Bandung. 

Sebenarnya sebelum ada SONTAK, fenomena sound art juga merebak di kota ini, dengan Bob Edrian sebagai salah satu punggawanya. Sependek pengetahuan saya, Bob bermain musik, tapi ia lebih memposisikan diri sebagai kurator dalam pergerakan sound art. Sound art adalah juga tentang bebunyian, namun inilah yang menarik: genealoginya lebih tepat dikatakan berasal dari jalur seni rupa. Mungkin agak usang juga membicarakan genealogi, karena toh, sejarah bisa diklaim siapa saja (mau seni rupa atau seni musik, sebenarnya tidak jadi soal). Tapi setidaknya begini, bahwa kelihatannya bagi medan sosial seni rupa, sound art bukanlah suatu eksperimen yang mengejutkan, karena dunia seni rupa sering tampak lebih unggul dalam merespons keadaan untuk dituangkan pada medium-medium “baru”. Dalam dunia seni rupa, beralih medium pada tingkat ekstrem itu lebih lumrah – misalnya, menjadikan tubuh sebagai medium, atau merespons kota dan lingkungan hidup dengan menjadikannya juga sebagai medium -. 

Sound art tentu bagian dari peta besar “perjalanan bebunyian” ini, yang masih eksis dan terus diperhitungkan. Tapi dari “jalur” seni musik, sependek pengamatan, kelihatannya memang belum ada terobosan dalam beberapa tahun belakangan. Saya bisa saja salah, karena misalnya, kurang bergaul. Saya akan mencoba berargumentasi sedikit: Sejauh ini ada nama yang bisa ditonjolkan seperti Haryo “Yose” Soejoto, seorang jenius yang punya pengalaman panjang dengan bebunyian dan tinggal di Bandung (dulunya di Yogyakarta, sarangnya musik eksperimental). Kemampuan musiknya tidak usah diragukan lagi, kapasitas mengomposisinya pun luar biasa. Beliau mendirikan dan memimpin sebuah orkestra yang cukup terkenal yaitu Anime String Orchestra. Dalam tahun-tahun belakangan, Anime pasti mengadakan konser rutin, biasanya lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu The Beatles dan sejumlah karya dari band rock progresif 70-an. Bagaimana aransemennya? Dahsyat sekali. Bagi yang paham teori musik dengan segala harmoninya, Yose adalah manusia istimewa. Bagi yang tidak paham teori-teori tersebut pun, musik yang dipresentasikan oleh Anime tetap menawan dan sedap didengarkan.

Persoalannya, jika ini dapat dikatakan persoalan, kemungkinan ada kompromi antara Yose dengan publik Bandung pada umumnya, yang belum tentu dapat menerima idealisme beliau tentang bebunyian. Saya yakin, Yose bisa saja mengeluarkan seluruh pengetahuan dan kemampuannya terkait bebunyian yang eksperimental dan penuh improvisasi bebas, tapi pertanyaannya, apakah pendengar di kota ini, yang notabene lebih sering “cari aman”, mau menerimanya? Selain Yose, tentu saja ada pendekar eksperimental lainnya, sebut saja, Iwan Gunawan dengan ensembel Kyai Fatahillah-nya, Ismet Ruchimat dengan Sambasunda-nya, Dodong Kodir dengan Lungsuran Daur-nya dan tentu saja, Robi Rusdiana sendiri dengan Ensembel Tikoro-nya. Jika melihat ke belakang lagi, pendekar eksperimental itu juga ada, meski tidak banyak, misalnya, dalam sosok Harry Roesli. 

Meski deretan nama besar itu ada, namun SONTAK tetaplah kegiatan monumental yang patut dicatat dalam sejarah “perjalanan bebunyian” di kota ini. Penyelenggaraannya, dengar-dengar, memang mendapat sejumlah hambatan, terutama karena digelar di masa pandemi, yang menjadi rumit karena salah satunya, urusan perizinan. Namun ini bukanlah pokok persoalannya. Kita tidak sedang bicara apakah acara SONTAK itu berhasil atau tidak secara penyelenggaraan, melainkan soal keberanian trio Robi, Dody, dan Daniel, untuk menggelar suatu kegiatan yang aneh, yang bagi penikmat musik pun, belum tentu dapat diterima. Melalui keberadaan SONTAK, para pendekar eksperimental keluar dari laboratorium isolasinya, dan mempresentasikan karyanya dengan gembira – karena selain mendapat panggung, mereka juga punya hal yang tak kalah penting, yaitu jaringan -. Kemungkinannya, dari tadinya para komposer dan pemusik tersebut berjuang masing-masing, lewat SONTAK, mereka dikumpulkan, ditempatkan dalam satu medan sosial, yang bukan tidak mungkin, jika dilakukan secara konsisten, akan menumbuhkan suatu ekosistem penting dalam wacana perbunyian di Indonesia. 

Salut bagi trio penggagas yang menggelar kegiatan yang pastinya asing bagi orang-orang di Bandung. Untuk menggelar SONTAK, tidak hanya memerlukan pengetahuan dan pengalaman berkesenian saja, tapi juga semacam keimanan! Iman ini bukan dibangun dalam satu atau dua tahun, tapi melalui konsistensi berkarya yang tidak sebentar, yang mungkin melalui proses dikritik, digugat, dan dicela, akibat terlalu setia pada sebuah idealisme musik yang sunyi dan jauh dari hiruk pikuk pasar. Orang-orang di Bandung, terutama para apresiator seni, harus disuguhi musik yang sampai pada batas-batas terjauhnya, dan tidak berkutat pada wilayah-wilayah yang nyaman saja. Pada bebunyian eksperimental sebagaimana yang tersaji pada SONTAK, mungkin ada perasaan yang tidak nyaman ketika mengapresiasi, tapi bisa jadi membuat kita bertahan karena penasaran, persis seperti para murid Diecky saat sang guru berkhotbah. Semoga SONTAK dapat digelar secara rutin, untuk memberi wacana tandingan bagi dunia musik yang “itu-itu saja” dan terlalu membuai sampai tidak yakin bahwa di luar sana ada musik yang menjelajah hingga ke area sublim, mempertanyakan hakikat keindahan sampai ke dasar-dasarnya.
Continue reading

Thursday, September 24, 2020

Paku dan Hal-Hal yang Tidak Perlu Kita Ketahui Tentangnya

(Ditulis sebagai pengantar pameran Ridwan S. Iwonk di Festival Merawat Beda yang diselenggarakan oleh Komuji Indonesia, 22 September – 6 Oktober 2020 di Rumah Komuji, Bandung)




Mari membicarakan paku dari berbagai perspektif. Misalnya, kondisi negeri kita sekarang ini, punya andil benda bernama paku di dalamnya. Iya, kita mencoblos gambar para wakil rakyat, dengan paku yang tajam, seolah-olah kita tancapkan harapan ke dada mereka. Selain itu, jangan lupakan juga dunia klenik di Indonesia, yang menjadikan paku sebagai benda penting untuk dimasukkan pada tubuh orang yang disantet (kelihatannya belum ada perkakas lain yang lebih seram untuk menggantikan paku).

Lebih serius lagi, spiritualitas umat Kristiani dibangun salah satunya oleh benda bernama paku, yang digunakan sedemikian kejamnya, sehingga meneteskan begitu banyak darah Sang Mesias yang bersimbah di sepanjang Via Dolorosa. Darah itu bukan sembarang darah, melainkan darah yang menebus dosa umat manusia. 

Kita paksakan untuk membicarakannya di area yang lebih akademis juga bisa. Pada tahun 1950-an, pemikir dan peneliti asal Rumania, Mircea Eliade, mengajukan ide tentang axis mundi, yaitu semacam “pusat” yang menghubungkan dunia manusia dengan “surga” atau “dunia atas” atau apapun namanya yang sekiranya sepadan dengan wilayah transenden. Axis mundi ini dapat berupa gunung, pohon, atau produk-produk manusia seperti menara, pilar, totem, dan sebagainya. Kebudayaan manapun, kata pemikir lainnya, Claude Lévi-Strauss, selalu punya axis mundi ini, dalam berbagai bentuknya. 

Konsep axis mundi ini terlihat seperti sebuah paku, yang mana gunung dan pohon tidak hanya yang tampak pada permukaannya saja, melainkan juga tentang apa yang “menghujam ke bumi” untuk menghubungkan “dunia sini” dan “dunia sana”. Kapan-kapan bisa coba berselancar mencari kata kunci “Yggdrasil” dan melihat bahwa axis mundi yang dibayangkan oleh mitologi orang-orang Nordik, adalah begitu menyerupai paku. 

Mungkin tidak semua orang senang membicarakan ini, tapi harus dibayangkan bahwa Sigmund Freud pasti akan senang dengan pembicaraan tentang paku. Sebagai seorang psikoanalis yang menganggap bahwa segala tindakan kita dipengaruhi nyaris seluruhnya oleh alam bawah sadar – yang bernuansa hasrat dan insting seksual -, maka ia akan berteriak kencang dan yakin ketika kita berdiskusi tentang paku, “Itu phallus, paku itu phallus!” 

Tapi Ridwan S. Iwonk bukan sedang membicarakan paku seperti Eliade, Lévi-Strauss, Freud, atau pemaknaan kita tentang Yesus di Via Dolorosa. Iwonk – begitu ia biasa dipanggil – sebenarnya sedang mengembalikan paku pada dirinya sendiri, yang jika paku itu disuruh bicara, mungkin akan curhat seperti ini: “Selama ini aku dimaknai begitu mendalam oleh para filsuf, politisi, ahli sejarah, dan bahkan ahli nujum. Aku ingin dipandang sebagai diriku sendiri saja, boleh tidak?” 

Bahasa kerennya, Iwonk tengah melakukan suatu praktik intersubjektif, dengan melihat paku tidak lagi sebagai objek, melainkan subjek. Iwonk memandangi paku-paku itu setiap saat dan berdialog dengan mereka, “Kenapa kok kamu bentuknya agak bengkok?”, “Kenapa kok kamu agak karatan?”, “Kenapa kok kamu kelihatannya lebih kokoh dan tegar dibanding yang lain?”, dan seterusnya, yang mungkin bukan dilakukan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, melainkan tahunan! 

Begitu seringnya Iwonk bercengkerama dengan paku-paku ini, hingga ia merasa bahwa kita semua di sini, harus turut merasakan keintiman Iwonk, yang mungkin terasa ganjil tapi juga “sublim”. Untuk memahami kesubliman tersebut, mau tidak mau kita harus pinjam pemikiran orang lain lagi, yaitu Immanuel Kant. Kant, dalam tulisannya yang berjudul Observations on The Feeling of the Beautiful and Sublime, menggambarkan “yang sublim” sebagai sesuatu yang berbeda dengan “yang indah”. Perbedaan yang Kant berikan ini, mungkin bisa membantu kita untuk turut merasakan apa yang sedang dipresentasikan oleh Iwonk, “’Yang indah’ dirasakan sebagai sensasi menyenangkan yang membuat kita gembira dan tersenyum, sementara di sisi lain ‘yang sublim’ adalah sesuatu yang menimbulkan gairah, rangsangan, tapi mengandung semacam horor juga di dalamnya.” 

Iya, bagi yang berharap pameran karya rupa yang ditampilkan Iwonk ini akan menyenangkan hati dan menimbulkan kegembiraan, sebaiknya pergi saja ke taman dan melihat bunga-bunga, atau pergi ke gunung dan melihat kota dari kejauhan (itu juga kalau kotanya tidak tampak kumuh). Sekali lagi, Iwonk tidak mengajak kita pada keindahan, tapi pada kesubliman: Tentang paku yang berbahaya karena ujungnya begitu tajam, yang bentuknya aneh dan sering bengkok-bengkok, yang pada bagian tubuh tertentunya muncul karatan, yang sekaligus perannya begitu besar dalam sejarah, meski kerap dinihilkan, karena itu kan, cuma paku. Iwonk mengajak kita melihat lebih dalam: “Saudara-saudara, tidakkah paku ini indah? Tidakkah ia begitu mengagumkan? Tidakkah ia begitu kecil tapi krusial dalam kehidupan? Perhatikan betapa jeleknya wujud si paku, tapi bisa mengubah peradaban lebih besar daripada kalian yang rajin mematut-matut diri!” 

Kerja kesenian Iwonk tidak berupaya menyenangkan hati dan memanjakan mata kita – seni retinal, jika meminjam kata Marcel Duchamp -, tapi masuk pada upaya membangkitkan kesadaran. Iwonk bekerja di wilayah fenomenologis, dengan membangun konstitusi makna yang baru tentang paku, yang selama ini dianggap orang sebagai “ah, paku doang!”. Karya instalasinya juga tidak diposisikan sebagai altar penyembahan yang seolah mesti steril dari tangan manusia – karena terlalu ilahiah -. Kata Iwonk, “Silakan saja sentuh instalasi ini, jangan ragu-ragu, justru itulah yang diinginkan!” Bahkan jikapun ada orang yang merusak karya Iwonk ini, mungkin Iwonk tidak akan bete-bete amat, karena toh, selama ini, imej tentang paku memang sudah dipandang sebelah mata dalam peradaban, biarkan saja mereka yang masih berpendapat demikian.  

Namun pasti ada suatu maksud mengapa Iwonk berani memajang karya-karya pakunya ini di suatu tema berjudul “Merawat Beda” yang diusung oleh Komuji Indonesia. Memangnya nyambung? Bukankah konsepsi “Merawat Beda” akan lebih indah jika dipadupadankan dengan karya yang harmonis, cenderung matematis, dan menimbulkan perasaan damai? Pada titik ini, Iwonk secara jeli menempatkan “yang sublim” sebagai interpretasi terhadap “Merawat Beda”. Mungkin, hanya mungkin, perbedaan adalah keadaan yang secara bawah sadar, begitu mengerikan (karena harus selalu dimengerti). Tapi melalui paku-paku itu, kita tahu bahwa hal paling buruk rupa dan berbahaya sekalipun, punya bagiannya yang krusial bagi umat manusia.
Continue reading

Saturday, September 5, 2020

Jika Kata "Anjay" Dilarang ...

Beberapa hari belakangan ini, netizen dihebohkan (iya, memang hanya netizen yang sering merasa heboh, orang di luar jaringan, kelihatannya, biasa-biasa saja tuh) oleh larangan kata "anjay" yang dikeluarkan oleh Komnas PA, berdasarkan "aduan masyarakat" - yang jika ditarik, bermula dari aduan Lutfi Agizal (semacam figur publik yang saya tidak tahu karena saya kurang gaul) -. Tentu saja, kritik muncul di mana-mana, karena, mengapa ucapan harus dilarang, meski katanya kasar? Jika ditilik-tilik, apakah memang iya, kata "anjay" itu kasar? Lalu, jika larangan tersebut benar-benar diberlakukan dan sifatnya mengikat secara hukum, kira-kira apa yang bakal terjadi pada masyarakat kita?

Gambar diambil dari sini.
Gambar diambil dari sini.


Saya tiba-tiba ingat film tahun 2010 berjudul The King's Speech yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap. Kegagapannya ini tentu saja menjadi masalah bagi seorang raja yang harus sering bicara di hadapan publik. Apalagi, konteks Raja George VI adalah di masa Perang Dunia II, di mana ucapan-ucapan raja menjadi krusial untuk menenangkan rakyatnya. Raja George VI kemudian merekrut Lionel Logue, semacam pelatih bicara, untuk membantunya. Salah satu hal yang saya ingat dalam film itu adalah bagaimana Logue kemudian menggali masa kecil Raja George VI, untuk berusaha menemukan penyebab kegagapannya. Protokol kerajaan yang dianggap terlalu ketat adalah salah satu sumbernya. Raja George VI sebenarnya kidal, namun dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan atas nama aturan kerajaan dan satu lagi, hampir sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperbolehkan berkata kasar (karena tentu saja, dianggap tidak pantas di lingkungan kerajaan). 

Logue, sebagai seorang pelatih berpengalaman, menganggap hal terakhir tersebut sebagai salah satu penyebab yang cukup krusial, sehingga dalam satu sesi, ia mempersilakan raja untuk berkata-kata kasar sepuasnya. Dalam perkembangannya, sejak raja punya sesi untuk bebas berkata kasar, gagapnya semakin lama semakin berkurang dan ia semakin percaya diri untuk berpidato (gagapnya hanya muncul sesekali saja dan tidak sering seperti sebelumnya).

Berkata kasar mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan, apalagi untuk langsung dilarang-larang. Psikoanalis terkemuka, Sigmund Freud, mengajukan kemungkinan adanya wilayah bawah sadar kita yang gelap, dalam, dan sangat instingtif. Wilayah bawah sadar ini, bagi Freud, mengontrol tindakan kita lebih banyak ketimbang aspek sadar kita sendiri. Setiap orang, tanpa terkecuali, punya sisi bawah sadar yang dipenuhi hasrat ini, yang bedanya adalah ini: Ada yang tersalurkan dan ada yang tidak. Tersalurkan itu kira-kira maksudnya: dapat bertindak sesuai kehendak - meski tidak dalam segala kondisi - sebagai cara untuk menyalurkan keinstingtifan yang keberadaannya tak terhindarkan. Contohnya: ada momen untuk bisa marah-marah, menangis, mengumpat, curhat, dan ekspresi jujur lainnya. Sebaliknya, tidak tersalurkan itu kira-kira adalah ketiadaan kemungkinan untuk mengekspresikan hasrat bawah sadar karena terepresi oleh keadaan. Contohnya: Berlaku terlampau dingin, kaku, dan formal, seolah-olah terlalu ekspresif itu menjadi agak memalukan. 

Terjawab kemudian mengapa ada kaitan antara gagapnya Raja George VI dengan dilarangnya ia berkata kasar dari sejak kecil hingga dewasa. Ada hasrat yang tidak tersalurkan, dan menyebabkan sejumlah "keganjilan" yang mengganggu di masa dewasanya - yang oleh Freud dapat juga berupa perilaku seksual yang tidak wajar seperti senang mengintip (voyeur) atau senang mempertontokan diri (eksibisionis) -. 

Maka itu, bersyukurlah mereka yang masih punya kesempatan berkata-kata seperti "anjing" di berbagai saluran. Seketika kita mengeluarkan kata tersebut, kita bukan saja sedang berkata kasar, tapi mengatakan sesuatu dari dasar batin yang terdalam, tentang kemuakan terhadap segala hal yang normatif. Mengatakan "anjing" adalah kelegaan yang membuat kita merasa hal-hal yang hasrati itu tersalurkan. Mengatakan "anjing" adalah simbol runtuhnya segala yang formal, dan menghadapkan kita pada situasi yang lebih cair, dinamis, dengan relasi personal yang lebih terbuka. 

Namun kata "anjing", dalam kebudayaan tertentu, terlalu berbahaya untuk diungkapkan secara terang-terangan - mungkin karena anjing dianggap hewan yang najis juga oleh ajaran tertentu -. Dengan demikian, kata seperti "anjrit", "anjir", atau "anjay", digunakan sebagai alternatif untuk menengahi antara hasrat individual dan kebudayaan (sungguh ini suatu kecerdasan yang hakiki). Jika kata, yang sudah sengaja dibuat secara kompromistis ini, kemudian tetap dilarang, maka apakah orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal - yang entah siapa itu -, mau bertanggungjawab dengan kemungkinan terjadinya keganjilan dalam masyarakat akibat bawah sadar yang direpresi? Lantas, memangnya, orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal sendiri, dalam kesehariannya, selalu bersikap sesuai norma-norma yang ada, baik di panggung depan (saat berelasi secara formal) maupun panggung belakang (saat berelasi secara lebih personal)? Jika iya, saya merasa kasihan sekali! Jangan-jangan, kalian ini psikopat.  

Continue reading

Thursday, August 20, 2020

Tentang Diharamkannya Ilmu Filsafat dan Hal-Hal yang Mesti Diingat

 

Hampir sebulan yang lalu, seorang kawan tiba-tiba nyolek saya di Instagram, dan menunjukkan konten di atas. Saya tertawa geli saja, karena pemikiran semacam ini tentu saja sudah lumrah. Namun lama kelamaan, tergelitik juga, dan merasa penting untuk menuliskan tentang bagaimana posisi filsafat di abad pertengahan untuk sekadar mengimbangi pendapat tersebut. 

Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, bukanlah di Eropa (karena di Eropa masa itu, beberapa aliran filsafat juga "diharamkan", atau lebih halusnya diistilahkan dengan "philosophia ancilla theologiae" atau "filsafat adalah hamba bagi teologi"). Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, adalah filsafat di abad pertengahan dalam konteksnya dengan dunia Islam, yang terbentang dari sekitar abad ke-8 hingga abad ke-14 masehi. 

Imam Al-Ghazali pernah menulis buku berjudul Tahafut al-Falasifah atau diartikan sebagai Kerancuan Para Filosof, yang ia tujukan bagi para filsuf sebelumnya seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Sekilas, memang tampak Al-Ghazali sedang berusaha "mengharamkan" filsafat lewat bukunya tersebut, sehingga ini kerap dijadikan justifikasi posisi filsafat yang terpinggirkan dalam dunia Islam. Sebelum mengamini pendapat tersebut, mari mengingat hal-hal berikut ini:

1. Imam Al-Ghazali menunjuk "para filosof" dan bukan "ilmu filsafat" sebagai sasaran kritik, yang bisa diartikan bahwa yang bermasalah bisa jadi adalah pandangan orang per orang dan bukan konsep filsafat itu sendiri. Bedakan dengan konten di atas yang langsung mengharamkan ilmu filsafat. 

2. Sebelum menuliskan Tahafut Al-Falasifah, Al-Ghazali menulis karya lainnya yang berjudul Maqasid Al-Falasifah atau diartikan sebagai Maksud Para Filosof. Pada Maqasid, Al-Ghazali mengelompokkan fisika, logika, matematika, dan astronomi, juga sebagai bagian dari ilmu filsafat, dan tidak menemukan masalah sama sekali di dalamnya. Hal yang menurutnya bermasalah hanya bagian metafisika-nya saja, dan itu yang kemudian menjadi sasaran kritiknya di Tahafut. Namun intinya, di Maqasid, Al-Ghazali hendak menunjukkan bahwa sebelum memberikan kritik, seyogianya kita memahami dulu dengan sungguh-sungguh tentang maksud para filosof. 

3. Pada Tahafut, Al-Ghazali mengritik para filosof dalam beberapa poin. Namun ada tiga poin yang dititikberatkan karena menurut Al-Ghazali, poin-poin tersebut dapat membawa para filosof pada kekufuran. Poin yang dimaksud adalah terkait hal-hal berikut:

a. Tentang hubungan Tuhan dan alam semesta. Para filosof (yang dimaksud Al-Ghazali) memandang bahwa alam semesta ini qadim (tidak diciptakan) dan keberadaannya ada bersama Tuhan. Alasannya, jika Tuhan ada duluan lalu menciptakan alam semesta, berarti ada jarak antara pra-penciptaan dan penciptaan (vacuum), yang menurut para filosof, tidak mungkin. Karena kemudian kemungkinannya menjadi dua: Tuhan menciptakan alam semesta dengan suatu maksud (ini bermasalah, karena artinya Tuhan tunduk pada suatu kehendak) atau Tuhan menciptakan alam semesta tanpa maksud (ini juga bermasalah, karena artinya Tuhan menciptakan sesuatu atas dasar "keisengan"). Al-Ghazali menganggap argumentasi tersebut dapat membawa filosof pada kekufuran. Dalam pandangan Al-Ghazali, hanya Tuhan lah yang bersifat qadim dan Ia menciptakan alam semesta dan sekaligus mengakhirinya. Sementara Tuhan sendiri selalu abadi.

b. Tentang Tuhan yang hanya mengurusi hal-hal yang universal saja. Para filosof menganggap bahwa Tuhan hanya mengurusi hal-hal yang universal saja dan tidak sampai pada hal-hal yang partikular. Argumennya, jika Tuhan mengurusi hal-hal partikular, maka Tuhan tunduk pada ruang dan waktu yang diciptakan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan dunia dengan hukum-hukumnya, lalu Ia tidak lagi terlibat di dalamnya, begitu menurut para filosof. Al-Ghazali tidak sepakat, dan menganggap bahwa Tuhan mengetahui dan terlibat dalam segala sesuatu, sampai hal terkecil sekalipun.  

c. Tentang jasad dan ruh yang dibangkitkan di hari kiamat. Menurut para filosof, yang dibangkitkan di hari kiamat hanya ruh saja karena jasad sudah rusak. Al-Ghazali tidak setuju dan berpendapat bahwa yang dibangkitkan adalah keseluruhan wujud kita sekarang, termasuk jasad dan ruhnya. 

Kritik Al-Ghazali tersebut ternyata cukup fatal dan mempengaruhi pandangan dunia Islam terhadap filsafat. Meski dikritik balik oleh Ibn Rusyd sesudahnya, namun karya Al-Ghazali lebih dikenal secara luas ketimbang sanggahan Ibn Rusyd. Sering disinggung, bahwa Al-Ghazali dianggap "bertanggungjawab" terhadap kemandegan ilmu filsafat di dunia Islam, yang sangat mungkin menjadi landasan bagi konten di atas (meski tidak menyebut Al-Ghazali). Namun kembali pada poin-poin di atas, penting untuk mengingat hal-hal berikut: Pertama, Al-Ghazali mengritik filosof dan bukan ilmu filsafat. Kedua, Al-Ghazali menunjuk sisi baik filsafat dan mencoba menelusuri maksudnya, sebelum mencari celah yang dianggap bermasalah. Ketiga, dalam Tahafut, Al-Ghazali terlihat mengritik filsafat dengan filsafat. Keempat, meski ini berbau ad hominem, tapi bisa juga dijadikan acuan: Al-Ghazali menuliskan Tahafut pada usia yang relatif muda, dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengritik. Pada perkembangannya, Al-Ghazali tidak lagi terlalu "keras" terhadap filsafat dan malah menjadikannya penting sebagai jalan untuk mencapai makrifat. 

Sebelum mengharamkan filsafat dan menyetujui bahwa filsafat itu haram, ada baiknya mengingat bahwa dunia Islam pernah begitu dekat dengan filsafat dan para filosof itu berdialektika dengan indah.        

Continue reading

Friday, July 31, 2020

Tentang Ta'aruf

Lewat sejumlah postingan teman-teman di postingan di FB, saya tertarik untuk membaca lebih jauh berita tentang pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Siapakah mereka? Saya sama sekali tidak tahu siapa mereka, namanya pun baru dengar - padahal mereka ini katanya orang sangat terkenal -. Apa yang menarik? Mereka (dan juga media, tentu saja) melabeli pernikahannya dilakukan dalam format ta'aruf, yang kira-kira menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuai syari'at Islam, yaitu "pacaran setelah menikah". 

Sumber gambar: Instagram @dindahw

Artinya, Rey dan Dinda, tidak seperti muda-mudi pada umumnya, yang terlebih dahulu menjalin hubungan dalam rangka saling mengenal - yang biasa disebut pacaran -. Mereka langsung menikah, bermodalkan pengetahuan satu sama lain yang "sedikit", dan lebih banyak berlandaskan keimanan. Pengenalan satu sama lain secara mendalam dilakukan dalam domain pernikahan, dan menjadi sesuai syari'at Islam karena sejalan dengan ajaran untuk "menghindari zina".

Pada sekitar bulan Februari lalu, saya menjadi moderator di acara berjudul Buka Tutup Kepala yang diadakan oleh Komuji Indonesia. Acara tersebut kebetulan mengangkat tema tentang ta'aruf dan narasumber yang dihadirkan merepresentasikan dua perspektif yang berbeda, yaitu Dian Siti Nurjannah (dosen, praktisi terapi) yang mengambil posisi pro ta'aruf dan Dede Muhammad Multazam (pengelola Yayasan Santri Progresif) yang mengambil posisi kontra ta'aruf. Dari diskusi tersebut saya mendapat pencerahan. Pertama, dari argumentasi Dian yang melihat bahwa pacaran itu lebih banyak menimbulkan masalah, dari mulai kemungkinan timbulnya kekerasan, potensi hubungan seksual yang kurang sehat, hingga menyebabkan konsentrasi terpecah dalam studi dan pekerjaan. Dian melihat bahwa dengan ta'aruf, hubungan menjadi lebih sehat dan "terlindungi", baik dari sisi negara maupun agama.

Dede punya pandangan yang berbeda, meski juga setuju bahwa agama memang menyuruh kita untuk menghindari zina. Namun, menurut Dede, sebagai dasar, Al-Qur'an sendiri menyebutkan istilah li-ta'arofu dalam konteks "saling mengenal", yang lengkapnya adalah sebagai berikut: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." Jadi, tidak ada anjuran atau suruhan secara tegas untuk melakukan ta'aruf, setidaknya dari segi istilah, hal tersebut tidak disebutkan di Al-Qur'an dalam konteks yang dimaksud hari ini. Dede hendak mengatakan, ta'aruf mungkin baik, tapi dasar keagamaannya kurang kuat. Atau, bisa jadi, ta'aruf lebih erat kaitannya dengan kebudayaan tertentu saja, yang memang melihat pernikahan bukan berdasarkan kehendak pasangan yang menjalani saja, melainkan unsur-unsur eksternal lain yang dianggap "lebih paham" (dalam hal ini, misalnya, orangtua atau pemuka agama).

Pertanyaan yang lebih besar, terlepas dari dua pandangan yang berbeda di atas itu tadi, adalah ini: Apakah ta'aruf selalu menghasilkan pernikahan yang baik? Baik dalam artian, langgeng dan bahagia (meski soal bahagia, tentu sulit mengukurnya). Karena jikapun ada diantara pernikahan dengan format ta'aruf ini yang ternyata kurang bahagia dan malah berujung perceraian, apakah data atau informasinya akan kita publikasikan? Mungkin bisa jadi ada hambatan (untuk mempublikasikannya), karena jika sebuah pernikahan dengan format ta'aruf ini gagal, maka yang tercoreng bukan terkait pada pasangan yang mengalami perceraian, melainkan pada ideologi agama itu sendiri.

Selain itu juga, faktor psikologis menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan atas dasar hasrat yang menggebu-gebu, dan tidak lewat pertimbangan yang lebih rasional? Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan dalam usia yang masih sangat muda, ketika masih dipenuhi ambisi terhadap suatu cita-cita, serta masih kurang matang dalam soal pengalaman hidup secara keseluruhan? Pada titik ini, ta'aruf juga mesti mempertimbangkan aspek-aspek keilmuan lainnya, yang ada di luar agama. Bisa saja, menikah dengan format ta'aruf, tapi kemudian mengalami ketidakbahagiaan karena masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sebab kekurangmatangan berpikir dan hasrat-hasrat yang belum selesai. Menghindari zina, dengan menikah muda, di sisi lain, bisa jadi bumerang.

Jadi, kembali ke soal pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Itu urusan mereka untuk berta'aruf, meski kemudian berimplikasi pada konten Instagram yang menggelikan karena mengumbar adaptasi mereka satu sama lain (yang seolah-olah hendak mengatakan pada warganet: "Ta'aruf itu asyik loh! saling menyingkap misteri pelan-pelan!"). Tapi jika oleh sebab perilaku selebgram semacam itu, kemudian ta'aruf menjadi populer di kalangan anak muda, mohon pertimbangkan dulu tulisan singkat ini, karena ada bahaya mengintip di balik ta'aruf.


Continue reading

Sunday, July 12, 2020

Tekad Menyebarkan Demotivasi

Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi, dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai.

Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan bahwa tidak ada satupun yang baru di dunia ini).

Tapi mungkin ini benar, bahwa konsep demotivasi harus disebarluaskan. Kelihatannya porsi sinisme, pesimisme, skeptisisme, absurdisme, dan lain-lain filsafat "kurang antusias" yang ada dalam keranjang demotivasi, bagi saya, tidaklah terlalu besar di dalam buku tipis tersebut. Namun, meskipun sedikit-sedikit, demotivasi kelihatannya menjadi suatu jalan tersendiri menuju kebahagiaan (karena dari sejumlah pengakuan, buku ini malah menyenangkan untuk dibaca, meskipun isinya didominasi oleh ajakan menyelami kepahitan hidup). Tentu saja, ini bukan klaim pribadi, melainkan dari beberapa review yang sudah dibaca (mungkin yang tidak berkomentar, tidak merasa bahwa buku ini penting, jadi ya tidak apa-apa).

Jadi, intinya, saya akan coba untuk mengembangkan buku ini ke arah lain. Instagram sudah ada, mungkin ditambah lagi dengan Podcast, Youtube, dan kegiatan-kegiatan darat (tentu jika pandemi sudah selesai). Eh sebentar, malah kelihatan motivasional sekali ya? Sudah saya jelaskan di buku tersebut, bahwa paradoks semantik akan terus terjadi dalam konteks bahasa, sama halnya dengan kaum eksistensialis yang mengatakan bahwa hidup ini tidak ada nilainya. Tapi dengan mereka mengatakan hal tersebut, maka mereka sendiri telah menyebut bahwa sebenarnya ada nilai dalam hidup ini (yaitu bahwa hidup ini tidak ada nilainya). Sama halnya dengan saya yang ingin menyebarkan ide demotivasi, tentu dengan sendirinya saya perlu motivasi untuk melakukannya.

Perkara semantik ini tidak perlu kita larut pada perdebatan di dalamnya. Hal yang lebih penting, ke depannya, adalah istilah demotivasi tidak lagi dianggap sebagai musuh dari motivasi - seolah-olah orang yang terdemotivasi adalah orang beracun yang patut dijauhi -. Hal yang lebih penting adalah istilah demotivasi menjadi penyeimbang bagi motivasi berlebihan (atau kata Romo Setyo di kata pengantar: inflasi motivasi). Sekali lagi, ini bukan pemikiran yang sama sekali baru. Demotivasi, sebagaimana sudah disinggung di atas, adalah ramuan yang terdiri dari bahan dasar sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain, yang dimasukkan dalam brand baru bernama demotivasi, yang mungkin terdengar lebih populer, karena dihadapkan dengan konsep motivasi yang begitu dominan di dunia kontemporer ini.

Motivasi menjadi agama baru, spiritualitas baru, dan para motivator menjadi nabi baru, spiritualis baru, yang kita tahu, selama mereka ini adalah manusia biasa, tentu saja bisa didekonstruksi dengan segala pendekatan. Tapi banyak dari kita khawatir mengritik mereka, karena ya itu, pengikutnya terlalu banyak, terlalu militan, terlalu fanatik, dan belum apa-apa muncul vonis bagi diri kita, yaitu minimal, sebutan "toxic" . Tentu sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain itu, bukan pemikiran yang hanya jadi jargon semata. Pemikiran mereka hadir atas suatu renungan panjang atas dunia yang tidak bisa disikapi dengan cara terlalu antusias dan motivasional. Pemikiran mereka, bagaimanapun, tetap bertujuan mulia, yaitu, sekali lagi, kebahagiaan.

Dengan demikian, saya akan terus mengabari dan menyebarkan ide ini, dengan segala cara, dan mungkin akan jadi proyek filsafat saya yang dominan. Saya sudah siapkan ide untuk tulisan mendatang, semacam sekuel dari Kumpulan Kalimat Demotivasi ini, yaitu Sop Kikil, sebagai pelesetan dari buku motivasi yang berjilid-jilid dengan judul Chicken Soup for the Soul. Mungkin banyak orang sukar menerima ide ini pada awalnya, karena terdengar memuakkan. Percayalah, ini memang pahit, tapi mungkin obat manjur abad ke-21, bagi jiwamu yang kering kerontang (penulis harus pede!).
 

Continue reading