Wednesday, January 10, 2018

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018.



Nietzsche dan Eksistensialisme 

Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-. 

Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam sekali teguk. Harus sering berhenti untuk menghela napas panjang dan istirahat-. Agaknya, tidak ada filsuf yang lebih emosional dari Nietzsche dalam menuliskan rasa jijiknya dalam sejarah pemikiran Barat - setidaknya, sependek pengalaman saya-. 

Kedua, saya akan ungkapkan dalam bahasa yang lebih gamblang: Nietzsche memang seorang jenius, tapi ia juga sekaligus “gila”. Mengapa gila? Mungkin kita bisa baca sedikit tulisan ini yang diambil dari bukunya yang berjudul Ecce Homo (asli tahun 1888, diterjemahkan tahun 1995): 

Dalam tulisan-tulisanku Zarathustra tegak sendiri. Aku telah, dengan menuliskan buku ini, memberi umat manusia hadiah terbesar yang pernah diberikan kepadanya. Dengan sebuah suara yang berbicara melintasi milenia, ia bukan hanya buku teragung yang ada, buku aktual tentang udara ketinggian - keseluruhan fakta yang ditaruh manusia dalam jarak yang luar biasa di baliknya- ia juga merupakan buku yang paling dalam, lahir dari kumpulan kebenaran yang paling dalam, sebuah sumur yang tak pernah kering, dari dalamnya tidak ada timba yang ditarik ke atas tanpa dipenuhi emas dan kebaikan.” (hlm. 5) 

Tidakkah tulisannya nampak seperti seorang megalomaniak yang sedang mengaku-aku sebagai nabi? Memang, secara medis, Nietzsche divonis tidak waras dalam sebelas tahun terakhir hidupnya, sebelum meninggal di tahun 1900. Tapi dari sebelum vonis tersebut, Nietzsche sudah dikenal sebagai dosen yang aneh bagi para mahasiswanya. Bagi kolega dan umumnya pemikir pada masa itu, Nietzsche juga dianggap tidak keren, mungkin juga oleh sebab sikap dan filsafatnya yang tidak lazim. Perjalanan pemikirannya begitu berliku hingga dapat kita katakan ia tidak konsisten, kontradiktif, dan menunjukkan instabilitas serius. 

Namun seluruh alasan itu juga yang membuat Nietzsche mempunyai peran penting dalam sejarah pemikiran Barat. Amukannya begitu kuat hingga banyak fondasi peradaban yang goyah, dari mulai agama, sejarah, sains, politik, sampai filsafat itu sendiri. Tulisannya, meski menjijikan, harus diakui: punya nilai sastra yang tinggi. Penerjemahan Also Sprach Zarathustra (1883 - 1881), misalnya, salah satunya, harus dilakukan oleh HB Jassin yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”. Franz Magnis Suseno dalam sebuah ceramah tentang bukunya yang berjudul Menalar Tuhan (2010) pernah menyebut Nietzsche sebagai ateis yang kerap terlampau meremehkan iman. Namun, lanjutnya, tidak ada keraguan soal kualitas sastranya yang adiluhung. 

Nietzsche membuka fajar baru hubungan antara sastra dan filsafat. Selama ini, tentu saja, karya sastra kerap mengandung sebuah pesan filosofis tertentu. Namun tidak semua karya filsafat, mengandung nilai kesusasteraan yang kuat. Kita bisa menggolongkan Nietzsche pada yang kedua, setelah tradisi pemikiran Barat terlalu banyak diwarnai oleh metoda yang ketat dan baku - macam Immanuel Kant, yang pemikirannya, oleh Nietzsche digolongkan sebagai gaya berpikir yang terlalu “Apollonian”-. 

Pertanyaannya kembali: Mengapa Nietzsche bisa “terpaksa” kita golongkan pada pemikir eksistensialisme? Tentunya sebelum menjawab itu, kita harus mengetahui dulu apa itu eksistensialisme. Eksistensialisme, secara garis besar, adalah aliran pemikiran yang lahir di akhir abad ke-19 dan populer hingga pertengahan abad ke-20. Inti pemikirannya bisa dirumuskan dalam kalimat yang diungkapkan oleh Jean Paul Sartre: eksistensi mendahului esensi. Artinya, eksistensi manusia harus dihayati terlebih dahulu, sebelum kemudian memaknai segala sesuatunya. Manusia sebagai pusat, iya, tapi bukan manusia sebagai pusat sebagaimana yang dipahami oleh antroposentrisme Renaisans (yang cenderung optimistik dan bergairah). Manusia di sini dipahami dalam konteks kegalauannya yang paling otentik, seperti rasa cemas, putus asa, ketakutan akan mati, mengapa kita lahir, tumbuhnya rasa cinta, dan sebagainya. 

Eksistensialisme diawali dari pemikiran Søren Kierkegaard yang mempertanyakan filsafat GWF Hegel yang terlalu membicarakan hal-hal yang besar seperti sejarah, negara, dan pencerahan. Mengapa tidak hal-hal yang paling mendasar saja, misalnya: tentang hakikat dari keberadaan manusia itu sendiri? Nietzsche dapat digolongkan pada pemikir eksistensialisme karena keberpihakannya pada manusia. Keberpihakannya itu seringkali malah terlalu angkuh - misal, dengan mengatakan, “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya”-. Ia juga menyarankan suatu transvaluasi nilai pada moralitas sehingga manusia tidak lagi menjadi manusia, tapi naik setahap menjadi adimanusia (übermensch). Dorongan-dorongannya untuk hidup dalam bahaya (“berlayarlah ke samudera luas dan bakar dermaga di belakangmu”) dan “mabuk” dalam segala tindak tanduk (menjadi seperti Dionysius, Dewa Anggur) adalah semacam jalan keluar bagi kegelisahan dan kekosongan batin manusia modern yang ia tuduh telah bangkrut, akibat terlampau tunduk pada peradaban. Tentang garis besar pemikiran Nietzsche ini, akan dibahas di bagian berikutnya. 

Garis Besar Pemikiran Nietzsche 

Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, sebenarnya agak sulit menuliskan garis besar pemikiran Nietzsche mengingat tulisan-tulisannya yang tidak konsisten, cenderung kontradiktif, dan menunjukan suatu gejala instabilitas yang serius. 

Misalnya, ia seorang filolog (ahli naskah kuno) yang juga sekaligus merelatifkan kebenaran sejarah; Ia menghancurkan (jika tidak bisa dibilang, menihilkan) segala klaim kebenaran tapi juga secara tidak langsung menunjuk literatur Yunani Kuno sebagai sebuah “kebenaran” yang stabil dan tetap - maklum, Nietzsche adalah seorang penghapal mitologi Yunani yang luar biasa-, dan meski ini berbau argumentum ad hominem, tapi Magnis Suseno memukulnya dengan telak: Nietzsche mengajak kita menyingkirkan Tuhan dengan gembira, tapi ia sendiri mengakhiri hidupnya dalam keadaan murung dan gila - tidak gembira seperti yang dicontohkannya-. 

Selain itu, kesulitan lain berasal dari kenyataan bahwa Nietzsche mengungkapkan pikirannya dalam gaya bahasa yang lebih seperti “letupan”. Kadang sukar membedakan, apakah kalimat yang ditulisnya merupakan filsafat atau hanya ada demi kepentingan estetika semata - misal, “Pesona adalah prasyarat bagi semua seni dramatis. Dalam pesona ini orang Dionysian yang berpesta pora melihat dirinya sebagai seorang satir, dan sebagai seorang satirlah ia menatap pada sang dewa”-. Artinya, kemungkinan multitafsir begitu besar - bandingkan dengan Kant atau Sartre yang menuliskan pemikirannya dengan demikian runut sehingga pemahaman pembaca lebih mungkin untuk seragam-. Namun lepas dari segala kesulitannya, mungkin itu adalah sebuah ciri khas: Nietzsche ya Nietzsche. 

Beberapa sari pemikiran yang bisa kita ambil, misalnya, tentang konsep Apollonian dan Dionysian yang ia tuangkan dalam buku pertamanya yang berjudul Lahirnya Tragedi (1886, 2015). Apollo adalah dewa kebenaran, matahari, pencerahan, musik, dan penyembuhan, yang menjadi simbol bagi rasionalitas Barat yang diserang habis oleh Nietzsche. Menurutnya, lebih penting jika peradaban lebih bercermin pada Dionysus, dewa anggur, pesta, ritual, dan kesuburan, yang menghasilkan daya kreatif, estetik, memabukkan, alamiah, dan sedikit anarkis. Secara keseluruhan, sikap Apollonian dan Dionysian ini lebih tepat dinamakan sebagai “manifestasi daya hidup”. Tapi Nietzsche mengungkapkan semangat Dionysian sebagai yang mesti diutamakan karena berkaitan dengan keadaan di mana masing-masing perspektif dari setiap orang adalah unik, atau tidak ada peraturan yang membatasi pikiran dan tindakan (bayangkan sebuah pesta di mana setiap orangnya mengalami mabuk berat). 


Moralitas, dalam pandangan Nietzsche, digambarkan dalam polarisasi tuan dan budak. Moralitas budak adalah satu kritiknya pada Kristianitas yang demikian fatalis dan bersandar pada Tuhan, sehingga dituduh gagal menciptakan sikap berdikari yang seharusnya menjadi elemen dasar moralitas tuan. Namun berhenti pada satu ketetapan moral adalah juga sebuah kegagalan, sebagaimana yang ia gambarkan dalam transformasi ruh: dari unta, menjadi singa, lalu menjadi anak. Awalnya, manusia menanggung nilai kehidupan sebagaimana unta, ditempatkan di punuknya dan ia hanya bisa menerima tanpa kuasa. Lebih tinggi daripada itu, ia harus menjadi singa: melawan dan menerkam pada setiap nilai, dalam pemberontakan besar-besaran. Namun itu belum ada di tahap teratas, sebelum mampu melihat kehidupan sebagaimana cara pandang seorang anak: melihat segalanya sebagai sebuah nilai yang selalu baru, segar, dinamis, dan tidak bertendensi untuk menjadi “rasional”.  
Jargonnya yang terkenal, yang dituangkan dalam bukunya, Sabda Zarathustra (1883 - 1891, 2010), adalah manifestasi dari segala moralitas yang ia serang: “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya.” Mungkin ia tidak sedang benar-benar mengungkapkan kredo ateisme sebagaimana umumnya kalimat tersebut ditafsirkan. Justru ia tengah mengumumkan suatu seruan paling eksistensial: Karena Tuhan telah mati, maka tinggal manusia yang mampu merumuskan nilai-nilai baru secara kreatif, dengan segala manifestasi daya hidup yang Dionysian dan “kekanak-kanakan”. Bahkan, kalimat “kita semua yang membunuhnya” juga mengacu pada segala bentuk moralitas yang tetap, seperti agama dan sains, misalnya. Dalam tahap kesadaran itulah, manusia akan sukses melakukan transvaluasi nilai, memenuhi nalurinya yang paling dasar yaitu kehendak untuk berkuasa (will to power), dan bertransformasi menjadi adimanusia (übermensch). Sebelum mulai bertualang bersama pemikiran Nietzsche yang liar dan ganas, izinkan saya menuliskan sebuah apa ya, mungkin cocok dikatakan: “letupan” tentang pemikiran beliau: 

Apakah kamu berani, melepas beban di punuk untamu, dan melawan segala nilai sebagai singa yang lapar? 

Apakah kamu berani, menjadi anak kecil yang melihat segala peristiwa, sebagai senda gurau belaka? 

Apakah kamu berani, menjauhkan diri dari terangnya nalar, menuju pandangan buram hasil tegukan anggur kehidupan? 

Apakah kamu berani, meneriakkan "Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya", sambil tutup hidung karena bau busuknya tercium? 

Apakah kamu berani, menekankan "kita semua yang membunuhnya", pada mereka, yang juga beragama? 

Apakah kamu berani, menertawakan moral dunia, meledakannya hingga menjadi puing tak bernama? 

Apakah kamu berani, membaca Nietzsche, dengan risiko perutmu mual, dan dadamu dihantam di sepanjang kata? 

Tidak ada jalan pulang. Ingat. Dermaga sudah dibakar.

Sumber Referensi

- Levine, Peter. (2012). Nietzsche, Potret Besar Sang Filsuf . Yogyakarta: IRCiSoD.
- Nietzche, Friedrich. (1995). Ecce Homo/ Lihatlah Dia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 - Nietzsche, Friedrich. (2001). Genealogi Moral. Yogyakarta: Jalasutra.
- Nietzsche, Friedrich. (2010). Sabda Zarathustra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Nietzsche, Friedrich. (2015). Lahirnya Tragedi. Yogyakarta: Narasi.
- Friedrich Nietzsche dari http://www.iep.utm.edu/nietzsch/
- Friedrich Netzsche: God is Dead dari http://www.philosophy-index.com/nietzsche/god-is-dead/
Continue reading

Friday, December 29, 2017

Anies Baswedan dan Akechi Mitsuhide

Anies Baswedan dan Akechi Mitsuhide
Masa kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta memang baru sebentar. Namun kritik tajam yang dialamatkan tidak kunjung berhenti. Anies seperti bingung bagaimana cara memimpin Jakarta, terlebih lagi dibayang-bayangi oleh pemerintahan sebelumnya yang cukup keras, tegas, dan memberikan sejumlah perubahan signifikan. Kebingungan Anies memang sedikit banyak sudah diprediksi dari sebelum naik jabatan. Anies, tanpa punya latar belakang birokrasi yang cukup, tiba-tiba mencalonkan diri menjadi gubernur setelah sebelumnya lebih dikenal berkecimpung di dunia pendidikan. Naiknya Anies juga ditandai oleh sejumlah isu intoleran yang menyerang calon gubernur incumbent, Ahok. Ahok - yang berlatarbelakang Tionghoa dan Kristen -, diserang habis-habisan lewat mobilisasi massa besar-besaran yang lebih terlihat sebagai sebuah aksi politik daripada agama. 

Detail kejadian itu, kita semua sudah tahu. Tidak perlu dipaparkan lebih lanjut. Hanya saja telikung politik semacam ini sebenarnya sangat klasik. Begitu klasiknya hingga saya ingat sebuah bab dalam buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang berjudul Lima Puluh Tahun di Bawah Langit. Novel sejarah yang bercerita tentang Jepang di abad ke-16 ini, salah satunya mengisahkan tentang sosok Oda Nobunaga, daimyo (pemimpin samurai) yang masa itu sangat berkuasa - dikenal dengan karakternya yang tegas sekaligus brutal -. Kematian Nobunaga dapat dikatakan tragis: Ia dikhianati oleh salah seorang anak buah terbaiknya, Akechi Mitsuhide, yang sebelumnya ia andalkan sebagai sosok yang cerdas dan penuh perhitungan. 

Mengapa Mitsuhide membelot? Ada banyak versi. Namun versi yang paling umum adalah alasan sakit hati. Mitsuhide tersinggung oleh kata-kata Nobunaga dalam suatu peristiwa, hingga merasa suatu hari harus membunuhnya. Tidak sulit bagi Mitsuhide untuk menyerang Nobunaga di pagi hari, ketika majikannya tersebut masih tertidur dan tiada seorangpun pengawalnya yang curiga. Singkat cerita, Mitsuhide bersama pasukannya berhasil membunuh Nobunaga dan membuat Kuil Honno - kediaman Nobunaga - terbakar hebat. Keberhasilan ini membuat Mitsuhide dielu-elukan pasukannya. Mereka meneriakkan nama Mitsuhide sebagai suksesor Nobunaga dalam memimpin negeri. Namun puja puji itu ia tanggapi dengan suara hati yang sangat menyedihkan:

"Apa yang kauinginkan? Berkali-kali Mitsuhide mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya. Memimpin negeri! terngiang-ngiang di telinganya, tapi bunyinya sungguh hampa. Ia terpaksa mengakui bahwa ia tak pernah memeluk harapan sedemikian tinggi, karena tidak memiliki ambisi maupun kemampuan untuk itu. Sejak semula ia hanya mempunyai satu tujuan: membunuh Nobunaga. Keinginan Mitsuhide telah terpuaskan oleh kobaran api di Kuil Honno, dan yang tersisa kini hanyalah nafsu tanpa keyakinan."

"... Begitu Nobunaga berubah menjadi abu, kebencian yang membekukan hati Mitsuhide pun larut seperti salju mencair."

Suara hati Mitsuhide mungkin mewakili suara hati Anies (mungkin saja, jika menggali sangat dalam). Ia melakukan telikung politik tidak dalam rangka yakin akan kapabilitas dirinya dalam menjadi gubernur. Motifnya (atau motif partainya) adalah hanya dalam rangka membuat Ahok tidak bisa menang di pemilihan. Saat Ahok tumbang, mungkin ada sebersit nuraninya yang bertanya-tanya: Apakah iya ini keinginan saya? Apakah iya saya pantas menjadi gubernur menggantikan Ahok?  Ada kesamaan cukup penting antara karakter Anies dan Mitsuhide. Keduanya sama-sama orang cakap dan cerdas. Namun itu bukan berarti ia punya karakter memimpin. Terkadang seorang pemimpin bukan perkara ia cakap atau cerdas, tapi juga punya kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tegas. 

Balas dendam dan motif kebencian memang seringkali mengaburkan hubungan antara kompetensi dan posisi. Hal-hal sangat personal semacam ini pada akhirnya dapat merugikan orang banyak.

Continue reading

Thursday, December 28, 2017

Akademisi dan Bigotri

Akademisi dan Bigotri
Awal mula saya menuliskan ini, pertama-tama yang saya cari adalah asal kata "bigot". Wiktionary menyebut bigot sebagai kata yang berasal dari Bahasa Prancis Kuno yang disematkan pada orang yang mempunyai pandangan religius yang hipokrit. Bigot juga diartikan sebagai orang dengan sikap intoleran dan berpandangan penuh kebencian pada kubu yang berseberangan dengannya secara ideologis. Bigot, dalam Bahasa Indonesia, sinonimnya sangat sederhana: fanatik.

Lalu sebuah status yang ditulis oleh dosen Fakultas Ilmu Budaya UNPAD kemarin, Aquarini Priyatna, menggelitik benak saya. Isi status tersebut kira-kira menyebutkan tentang bahaya orang-orang berpendidikan tinggi yang terjangkiti bigotri (ke-bigot-an). Status tersebut juga ternyata menjadi pertanyaan saya sudah sejak lama: Mengapa pendidikan yang tinggi tidak menjadi jaminan seseorang untuk berpikiran lebih terbuka? Dalam pengamatan saya yang sederhana, setidaknya dari kampus yang pernah saya gauli, bigotri itu tidak kenal level pendidikan. Bahkan penyandang gelar doktor pun bisa sangat tertutup pola pikirnya dan menghalalkan segala argumen demi melegitimasi kebenciannya pada kaum selain dirinya.  

Semestinya, akademisi bisa tidak terjangkiti bigotri. Saya tidak tahu apakah ilmu logika masih diajarkan dengan baik di kampus-kampus di Indonesia saat ini, tapi seharusnya ilmu logika bisa menjadi pertahanan pertama anti-bigotri. Dengan pola penarikan kesimpulan yang hati-hati, baik deduktif maupun induktif, bigotri, yang biasanya ditandai dengan pengambilan kesimpulan yang terburu-buru dan cenderung hitam putih, harusnya dapat dihindari. Misalnya, saya pernah berdebat dengan seorang doktor dari suatu kampus, yang mengatakan bahwa, "Kemerdekaan Indonesia diusahakan oleh orang-orang Islam. Bukan oleh orang-orang non Islam, apalagi ateis dan komunis." Pernyataan ini agak sesat pikir dan ahistoris, karena dalam literatur manapun kerap disebutkan peran PKI dalam kemerdekaan, plus tidak sedikit daftar para pejuang yang bukan beragama Islam - perjuangan di Bali dan Sumatra Utara, misalnya -. Pertanyaannya: Mengapa ia bisa berkesimpulan seperti itu? Premis apa yang mendasarinya? Apakah karena di Indonesia banyak Muslim lalu ia berkesimpulan dengan yakin bahwa orang Islam lah yang mengusahakan kemerdekaan?

Belum lagi, sesaat setelah Ibu Aquarini mengeluarkan status tersebut, saya langsung bersemangat menginventarisasi kerancuan berpikir apa yang sering muncul dalam perdebatan dengan topik agama. Rupanya cukup banyak, dan ini saya ragu sudah semua disebutkan: 

  • Argumentum ad hominem (menyerang pribadi): "Ngapain ngomongin agama, anakmu saja gak pake penutup kepala."; 
  • Argumentum ad populum (mengacu pada orang banyak): "Ini suara mayoritas, harus ikut."; 
  • Arguing in a circle ("mbulet"): "Pernyataan ini benar karena tertuang dalam kitab suci. Kitab suci pasti benar karena mengandung kata-kata Tuhan. Kata-kata Tuhan pasti benar karena iman saya kepadanya." 
  • Non sequitur (kesimpulan tidak mengikuti premis): "Dia sekolah di Kanada, pasti dia benci pada agama saya." 
  • Post hoc ergo propter hoc (menyimpulkan berdasarkan urutan kejadian): "Setelah PM Inggris datang, terjadi gempa bumi di Padang." 
  • Stereotyping (menyimpulkan secara terburu-buru berdasarkan pengetahuan sepintas): "Rambutnya pirang, pantas dia dukung LGBT." 
  • Strawman fallacy (mengulang argumen lawan dalam versi keliru): "Oke, saya mengerti. Argumenmu tentang larangan pengeras suara hanya menunjukan kebencianmu pada agama kami kan?" 
  • The black and white fallacy (melihat sesuatu secara hitam putih): "Kamu tidak sembahyang? Berarti kamu sudah keluar dari agamamu!" 
  • To quoque (melakukan sesuatu atas dasar pembalasan): "Kalian duluan yang menyerang umat kami sehingga kami boleh dong menyerang umat kalian."
Itu baru dalam pandangan sebuah mata kuliah mendasar yang biasanya diajarkan di semester awal tingkat strata satu. Biasanya di level magister dan doktoral, ada mata kuliah lain yang harus ditempuh dan ini sangat penting sebagai landasan berpikir keilmuan kita: filsafat ilmu - di beberapa kampus malah mata kuliah ini sudah diajarkan di strata satu -. Filsafat ilmu mengajarkan asal usul keilmuan dan landasan epistemologi kita. Misalnya, bagaimana kita dapat tahu sesuatu? Apakah berdasarkan pengamatan empirik, intuisi, atau rasionalitas? Bagaimana posisi teori dalam keilmuan, apakah untuk membuktikan atau memaknai? Bagaimana dengan ilmu kritis atau teori kritis, apakah dapat dikatakan ilmiah atau tidak? Dalam konteks ilmu sosial, manakah yang lebih mencerminkan realitas masyarakat, penelitian dengan metode kuantitatif atau kualitatif? 

Segala pertanyaan yang diungkapkan tersebut setidaknya (atau seharusnya), menciptakan sikap hati-hati dalam diri seorang akademisi, karena bagaimanapun, ilmu pengetahuan, yang seolah begitu konkrit dalam menyelesaikan persoalan umat manusia, ternyata juga mesti berhadapan dengan sejumlah perdebatan metodologis. Seharusnya dengan demikian, seorang akademisi juga seyogianya lebih rendah hati melihat agama yang dalam kacamata Kant, ada di wilayah noumena (tidak terjangkau oleh kategori-kategori pengetahuan manusia dan hanya ada di tataran keimanan dengan fungsinya sebagai postulat). 

Pun agak sukar membayangkannya: Ketika ia menulis tesis atau disertasi. Ia menyusun latar belakang, merumuskan masalah, menyusun teori, membandingkan dengan penelitian sebelumnya, mengobservasi dan mewawancarai objek penelitian, dan kemudian menyimpulkan dengan rendah hati (seperti kata Popper, penelitian yang baik adalah yang cukup rendah hati untuk disempurnakan oleh penelitian lain di kemudian hari). Adakah celah untuk bigotri? Harusnya tidak. Saya tidak menyalahkan siapapun yang ingin membela agamanya, tapi bagi seorang akademisi, harusnya apologia berlaku dengan lebih teliti dan argumentatif. 

Penyebab lain, yang tidak bisa dianggap sepele, adalah kemungkinan jika seorang akademisi kuliah di luar negeri. Meski negara tempat ia kuliah sangat sekuler, namun biasanya ada upaya pengerasan identitas dengan tetap berkumpul bersama yang sepaham. Selain itu, skenario terburuknya: pendidikan yang tinggi menciptakan superiority complex yang cukup serius. Seseorang bisa merasa punya otoritas untuk berbicara, meski dasarnya lebih kepada iman ketimbang kemasukakalan - hal yang seyogianya bertentangan dengan prinsip keilmiahan yang membutuhkan eksplanasi sebaik-baiknya agar dapat diterima secara "objektif" -. 

Tiba-tiba saya ingat seorang ilmuwan besar dalam dunia Islam, namanya Al-Ghazali. Ia adalah orang yang begitu kuat menentang filsafat. Sekilas mungkin ia tampak seperti bigot yang pikirannya tertutup dan intoleran. Namun coba baca tulisan anti-filsafat-nya di Tahafut Al Falasifah (kerancuan para filosof). Tulisan anti-filsafatnya, begitu filosofis! Menunjukan kebesaran pengetahuannya dalam hal mantiq (logika). Ia membela akidah dengan apologia yang bukan main, cantiknya. Tidakkah kita merindukan, akademisi yang demikian? 

Pun demikian saat Romo Franz Magnis Suseno menulis buku Menalar Tuhan dengan pesan yang jelas: Ketika semakin marak ateisme oleh sebab nalar modern yang seolah kian tidak sejalan dengan nalar keagamaan, maka membela Tuhan dengan nalar yang baik adalah hal yang mendesak. Romo Magnis adalah seorang pastur, keberpihakannya pada Katolik sudah jelas. Tapi tengok bagaimana ia melakukan pembelaan dan serangan balik terhadap argumen lima ateis besar sepanjang sejarah: Nietzsche, Sartre, Marx, Freud, dan Feurbach. Memang ujung-ujungnya kembali pada iman, tapi argumentasinya tidak patut disepelekan. 

Alangkah indahnya jika para akademisi yang pendidikannya sudah tinggi-tinggi, ingat dengan apa yang sudah dipelajarinya selama ini. Dengan demikian, mungkin, sikap bigotri bisa dihindari. Tapi seorang teman berpesan, "Bigotri itu penyakit, kadang tidak bisa disembuhkan, meski ia kuliah S3 sampai ke negara paling sekuler sekalipun." 
Continue reading

Wednesday, December 27, 2017

Terima Kasih, 2017!

Terima Kasih, 2017!
Tahun 2017 adalah tahun yang akan saya ingat untuk selamanya. Tahun ini memberikan banyak pengalaman dan pelajaran. Dimulai dari tanggal 12 Maret, saat itu saya dan keluarga sedang enak-enak makan di Sushi Tei. Muncul pesan via line yang berisi berita bahwa sejumlah mahasiswa sedang berdemonstrasi terkait kasus perampasan buku oleh rektorat yang berujung pada skorsing. Saya tinggalkan acara hedonistik itu dan bergegas ke Jalan Japati. Di sana sudah berkumpul puluhan mahasiswa yang memrotes skorsing. Niat saya hanya lihat-lihat, tapi akhirnya terlibat. Turut melakukan orasi, meski isinya cuma standar dan begitu-begitu saja. Besoknya foto saya pegang toa muncul di media daring dengan tajuk provokatif Dosen Telkom Pimpin Komunisme. Saya telpon redaksi karena merasa keberatan. Dengan dibantu Bilven Sandalista, akhirnya redaksi mengerti dan membuat berita klarifikasi dengan judul Dosen Telkom University Bukan Pendukung Komunis (masih ada jika digoogling). Sementara itu, berita sebelumnya telah dihapus.

Sejak itu nasib saya berubah. Gerak-gerik terasa tidak enak. Tidak perlu saya paparkan detailnya tapi per 25 April akhirnya saya mengajukan pengunduran diri yang disambut oleh surat pemberhentian dengan hormat pada 19 Juni. Hidup sempat agak limbung karena terbiasa dengan gaji lumayan. Akhirnya saya mengambil pekerjaan menulis di media olahraga dengan honor Rp. 4.000 per artikel dan melamar jadi supir Go Car agar tetap bisa punya uang.

Sambil melamar ke sejumlah kampus, saya diundang bicara ke beberapa forum. Forum yang menurut saya penting adalah pada tanggal 14 Juni. Saya diundang oleh Gereja Kristen Anugerah untuk bicara di Kedai Tempo bersama salah satunya Ulil Abshar Abdalla, tokoh liberal yang berkali-kali diancam bom dan darahnya difatwa halal. Bukan, saya bukan penggemar Ulil. Tapi saya sedang bersemangat mengacaukan citra kampus lama saya: bahwa saya bukan komunis, tapi liberal (bagi yang paham, tentu komunis dan liberal adalah paham yang bertolak belakang). Sebelumnya, 1 Juni, saya diundang ke Museum Konperensi Asia Afrika untuk bicara tentang Pancasila. Agar citra saya tidak seperti yang pernah dituduhkan: anti Pancasila. Saya sendiri tidak peduli apakah saya ini komunis, liberal, ateis, anarkis, atau apalah. Motif saya waktu itu hanyalah: bikin kampus lama saya bingung, "Si Sarip teh, naon sih?"

Jawaban dari kampus lain akhirnya datang. Untungnya, dari almamater tercinta, Unpar. Saya begitu gembira sampai membuat foto makan cilok di depan kampus Ciumbuleuit yang dijepret dengan sangat baik oleh Mardohar Simanjuntak. Kesempatan lain kemudian datang sebulan setengah kemudian, ketika Dicky Munaf, Ketua Kelompok Keahlian Ilmu-Ilmu Kemanusiaan di ITB, menawari saya untuk terlibat dalam persiapan fakultas baru. Hingga hari ini, saya masih berkelindan di dua kampus favorit saya itu.

Tantangan terus datang. Di sepertiga akhir tahun, saya terlibat di acara "super rujit" bernama Seni Bandung #1. Festival kota selama satu bulan yang diinisiasi pemerintah itu penuh hantaman luar dan dalam. Namun sekali lagi, saya bertahan. Festival diselesaikan dengan baik, meski luka dimana-mana. Belum sempat istirahat, saya dapat tawaran main di Rusia bersama Behind The Actor's. Tawaran menyenangkan tapi juga sekaligus menegangkan. Menyenangkan karena saya belum pernah ke Eropa, menegangkan karena dana yang digadang-gadang akan turun dari Pemprov, tidak kunjung mencair. Akhirnya kami pergi, tampil di Moskow, dan mendapat penghargaan "Best Puppet Maker".
Saya pulang dengan lega karena yakin sudah menyelesaikan seluruh tantangan di tahun 2017. Namun Tuhan tahu bagaimana membumikan hamba-Nya yang terlalu cepat puas dan jumawa: dihantamnya saya dengan persoalan internal, yang tak disangka-sangka, kegalauannya jauh di atas pengalaman-pengalaman sebelumnya. Jatuhlah saya ke bumi. Menjadi fana segala yang saya anggap sudah keren itu.

Namun segalanya tetap saya syukuri. Sebelum tahun ini saya sering mengeluh, "Kok hidup saya terlalu tenang ya?" Rupanya Tuhan mendengar, dan menganggapnya doa. Adrenalin tak pernah berhenti dipompa. Senang sedih bulak balik hadir kadang tanpa jeda. Sekarang saya lebih kuat, dan siap menyambut 2018 tanpa rasa takut. Tiada yang dapat membunuh saya, kecuali kehidupan itu sendiri. Terima kasih 2017, atas segala kebaikannya!
Continue reading

Saturday, December 23, 2017

Pertaruhan dan Hukuman Seumur Hidup

Pertaruhan dan Hukuman Seumur Hidup
Perdebatan tentang mana yang lebih baik antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup memang kerap pelik. Ada versi yang mengatakan bahwa hukuman mati lebih manusiawi karena tidak memperlama penderitaan dan menimbulkan efek jera bagi yang mengetahuinya. Sementara itu hukuman seumur hidup, di sisi lain, dianggap lebih baik karena negara sebenarnya tidak mempunyai wewenang mencabut nyawa warga negara. Akhirnya saya cukup tercerahkan tentang perdebatan ini setelah membaca cerpen Anton Chekhov yang berjudul Pertaruhan

Cerpen yang ditulis tahun 1889 tersebut berkisah tentang perdebatan antara bankir dan yuris (ahli hukum). Kata bankir, "Hukuman mati langsung membunuh, sedangkan hukuman kurungan selama hidup membunuh secara perlahan-lahan. Manakah algojo yang lebih berperikemanusiaan? Yang membunuh dalam beberapa menit, atau yang menarik-ulur nyawa Tuan selama bertahun-tahun?" Yuris berpendapat lain, "Hukuman mati dan hukuman kurungan seumur hidup sama-sama tidak bermoral, tapi bila saya disuruh memilih antara hukuman mati dan hukuman seumur hidup, tentu saya memilih yang kedua. Hidup, bagaimanapun, lebih baik daripada tidak sama sekali."

Lalu atas perdebatan itu, mereka bertaruh dua juta Rubel: Yuris limas belas tahun akan tinggal di dalam penjara dari pukul 12 tanggal 14 November 1870 sampai pukul 12 tanggal 14 November 1885. Kalaupun yuris keluar dua menit sebelum waktu yang ditentukan, maka ia tetap kalah dan bankir tidak perlu membayar uang dua juta Rubel. Di dalam penjara, yuris masih boleh surat menyurat lewat jendela kecil. Ia juga disediakan buku, partitur, anggur, dan piano. 

Awalnya, yuris merasa bosan dan menderita. Namun di tahun-tahun berikutnya, yuris mengisi waktu dengan membaca. Bacaannya terus bertambah dan ia selalu memesan buku-buku baru lewat sipir. Berbagai jenis pengetahuan dilahap oleh yuris, mulai dari bahasa, filsafat, sejarah, roman, kedokteran, ilmu-ilmu alam, hingga Injil. 

Singkat cerita, yuris menikmati kegiatannya tersebut hingga tak terasa lima belas tahun hampir berlalu. Bankir mulai panik dan yakin ia akan kalah dalam waktu dekat. Bankir tidak punya uang sebanyak dua juta Rubel dan ia mulai menyusun rencana jahat untuk membunuh yuris diam-diam. Di tengah perwujudan rencana tersebut, bankir menemukan secarik surat yang ditulis oleh yuris. Penggalan isi surat tersebut adalah sebagai berikut:

"Besok pukul 12 saya memperoleh kebebasan saya dan hak untuk bergaul dengan orang banyak. Tapi sebelum meninggalkan kamar ini dan melihat matahari, saya anggap perlu untuk mengatakan beberapa patah kata kepada Tuan. Sesuai hati nurani yang bersih dan di hadapan Tuhan yang melihat diri saya, saya nyatakan kepada Tuan bahwa saya memandang rendah kebebasan, hidup, kesehatan, dan semua yang di dalam buku-buku Tuan dinamakan maslahat dunia."

".. di dalam buku-buku Tuan saya membubung ke puncak Elbrus dan Mont Blanc, dan dari sana memandang bagaimana saban pagi terbit matahari dan saban petang ia mewarnai langit, samudra, dan puncak gunung dengan emas merah jingga; dari sana saya melihat bagaimana di atas saya kilat menyambar menembus awan; saya melihat bentangan hutan yang hijau, sungai-sungai, danau-danau, kota-kota, mendengar kicau burung sirene dan permainan seruling penggembala, meraba sayap-sayap setan indah yang terbang mendatangi saya untuk bertukar pikiran tentang Tuhan... Dengan buku-buku Tuan saya menceburkan diri ke jurang tanpa dasar, menciptakan keajaiban, membunuh, membakari kota-kota, mengkhotbahkan agama-agama baru. menaklukkan kerajaan-kerajaan besar.."

"Buku-buku Tuan memberikan kepada saya kebijaksanaan. Semua yang selama berabad-abad diciptakan oleh akal manusia yang tidak kenal lelah, di dalam tengkorak saya menggumpal dalam satu gumpalan kecil. Saya tahu bahwa saya lebih pandai dari tuan-tuan sekalian."

"Untuk menunjukkan secara nyata bahwa saya memandang rendah cara hidup Tuan-Tuan, saya menolak menerima uang dua juta yang dahulu pernah saya impikan sebagai surga, yang kini saya anggap rendah. Untuk meniadakan hak atas uang itu, saya akan keluar dari sini lima jam sebelum jangka waktu yang disyaratkan dan dengan demikian saya melanggar persetujuan.."

Bankir menangis dan merasa kalah. Digambarkan, "Belum pernah, bahkan sesudah mengalami kekalahan besar di pasar bursa, dia merasa demikian benci kepada diri sendiri seperti sekarang." 

Bagaimana melihat cerita tersebut sebagai pernyataan bahwa hukuman seumur hidup lebih baik dari hukuman mati? Pak Awal Uzhara adalah orang yang menjelaskan saya tentang ini. Katanya, "Hukuman seumur hidup memberi peluang seseorang untuk berubah. Dalam perjalanannya menuju kematian, orang diberi kesempatan untuk bermakna, setidaknya bagi dirinya sendiri." 

Continue reading

Friday, December 22, 2017

Rahim dan Alam Semesta

Rahim dan Alam Semesta
Ditulis tahun 2013 untuk buku bunga rampai berjudul Mom, The First God that I Knew.

Istri, saat saya tengah menuliskan ini, sedang dalam perjalanannya untuk menjadi seorang ibu. Ia tengah dalam masa hamil dan memasuki bulan ke sembilan. Namun jika ditanya, sudah siapkah menjadi ibu? Ia selalu menjawab sudah, karena saya sudah menjadi ibu. Sejak kapan? Anaknya saja belum lahir. Oh, tidak, kamu salah, saya sudah jadi ibu sejak anak itu berada dalam kandungan.
 
Mungkin tidak rasional sama sekali jika saya jelaskan pada kamu bagaimana istri saya selalu bicara dengan jabang bayi di perutnya hampir dalam setiap gerak-geriknya. Ia bicara dengan nada suara penuh kasih sayang yang biasa kita dengarkan dari seorang ibu pada anaknya. Meski belum bertemu, ia sering mengusapi perutnya dengan halus dan berkata, Mami kangen, ingin jumpa.  Saya kadang-kadang sering ketus dengannya dengan mengatakan, Memang dia bisa dengar?


Tapi dunia ini menjadi bengis oleh berbagai rasionalitas laki-laki. Karena ketika kita memahami lebih dekat, lebih intim, sungguh apa yang dilakukan oleh istri saya terhadap jabang bayi di perutnya adalah melampaui rasionalitas. Ucapan seorang ibu terhadap anaknya adalah energi damai yang menjadi inti dari kehidupan alam semesta. Seolah-olah seluruh galaksi dan segala keteraturannya ada dalam rahim seorang perempuan ketika dia mengandung. Semuanya baik, semuanya harmoni, sebelum nalar dan ambisi seorang laki-laki menjadikan dunia ini penuh agresi.

Suatu hari Gibran pernah berkata, Jika kamu memahami perempuan, kamu akan lebih paham alam semesta. Saya tidak mengerti arti perkataan ini sampai akhirnya berulangkali mendengarkan tiada henti bagaimana sang istri berbicara pada anaknya di dalam kandungan. Sekarang mungkin saya mengerti ucapan Gibran, bahwa dunia ini ditata oleh cinta. Cinta membuat segala sesuatu bertindak sesuai fitrahnya. Mungkin kamu tahu bagaimana nasihat-nasihat seorang ibu seringkali ditolak oleh jiwa muda kita karena tidak masuk akal sama sekali dan terlalu berlebihan. Tapi seorang ibu bicara atas nama alam semesta, ia tidak bicara oleh nalarnya. Ia tahu mana yang baik dan benar oleh sebab rahimnya pernah terhubung dengan dada sang bumi. Namun yang membuatnya miskin adalah kata-kata dan pikiran, yang oleh laki-laki diagung-agungkan.

Sekarang saya katakan kepada kamu sebagai seorang laki-laki kepada seorang laki-laki: Kamu tidak perlu susah-susah mencari kesana kemari untuk memahami arti dunia ini. Cukup pahami perempuan, satu orang saja, secara baik. Disana kamu akan menemukan siapa Tuhan, siapa kebenaran, dan siapa itu diri.
Continue reading

Thursday, December 21, 2017

Karena Agama, Perlu Manusia

Mengapa saya baca buku ini? Karena teringat dulu waktu zaman masih twitteran, ada akun bigot yang mengaku-ngaku kristolog, namanya @hafidz_ary. Dia sering mensimplifikasi Kristen dengan pemahamannya yang sangat menghakimi. Saya baca ini, karena tidak yakin sejarah Gereja, yang telah bertahan ribuan tahun ini, sesimpel apa yang dipikirkan oleh sebuah akun kemarin sore.

Agama dan manusia adalah hal yang saling bertautan. Agama kerap bermuatan "kata-kata Tuhan" yang seringkali multitafsir dan bahkan paradoks. Tapi itulah cara Tuhan berbicara: agar kita semua, manusia, kemudian berpikir dengan keras tentang bagaimana mengurai hal-hal yang multitafsir dan paradoks itu. Harus diakui, betapa besar dan tegarnya, peradaban yang dibangun atas "kata-kata Tuhan". Manusia tidak pernah berhenti untuk merindukan Tuhan yang "turun ke dunia". Itu sebabnya muncul berbagai aliran pemikiran, rumah ibadah, kidung pujian, seni visual, dan lain-lainnya sebagai bentuk pengejawantahan "kata-kata Tuhan".

Setelah baca buku ini, saya kian menyadari: pelbagai tuduhan akan Gereja yang segala-gala yang tumbuh darinya tidak melulu datang dari kitab sucinya (baik PL maupun PB) - dan maka itu kerap dituding terlalu banyak campur tangan manusia -, adalah tuduhan yang menafikan pertautan antara agama dan manusia itu sendiri. Agama tidak bisa dibiarkan melangit terus menerus, ia harus dibumikan oleh manusia yang alam pikirannya secara otomatis diwarnai oleh konteks dan semangat zaman - bahkan sikap puritan sendiri bisa jadi adalah bentuk pembacaan atas zaman yang sedang dialami -.

Misal, dalam buku tersebut: Tahun 1891, Paus Leo XIII mengumumkan surat edaran yang isinya adalah dukungan terhadap buruh agar mendapat upah yang cukup dan mereka juga berhak membentuk serikat buruh - kebijakan ini ditengarai punya kait-kelindan dengan ide marxisme yang tengah marak -. Lalu pada Konsili Vatikan II, terdapat dekrit yang mengumumkan bahwa Gereja memberikan dukungan penuh terhadap kebebasan beragama sekaligus pepatah kuno yang berbunyi extra ecclesiam nulla salus ("di luar Gereja tidak ada keselamatan") tidak lagi berlaku.

Mengapa saya baca buku ini? Karena sadar, berasumsi sebenarnya menuntut pembuktian - kecuali jika asumsi ingin selamanya jadi asumsi -. Apa yang saya pikirkan tentang Gereja, seyogianya tidak diungkapkan semena-mena, sebelum membaca dan memahami secara "cukup". Namun setelah (merasa) membaca dan memahami pun, kata "cukup" itu sebenarnya tidak pernah lega untuk diucapkan.

Terima kasih, Romo Magnis, atas tulisannya yang mencerahkan. Pasti habis ini, saya dituduh liberal dan pluralis. Harusnya label itu tidak mengkhawatirkan, bagi saya, yang sudah biasa dituduh komunis.

Continue reading