Sunday, October 6, 2019

Rashomon dan Alih Wahana Sastra ke Teater

(Ditulis sebagai suplemen diskusi Maca #9 tentang "Teater Naskah Adaptasi", Bandung Creative Hub, 6 Oktober 2019)



Sudah lama saya merasa bahwa literatur Jepang adalah "sesuatu". Selain mahakarya Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa, yang menyuguhkan romantisme historis, Jepang juga melahirkan tulisan-tulisan gelap, absurd, psikologis dan eksistensialistik. Para penulisnya, sebut saja, Yukio Mishima, Ryonusuke Akutagawa, dan yang paling baru, Haruki Murakami. 

Mishima dan Murakami tentu saja menarik dan "aneh", tapi mari membahas lebih banyak tentang Akutagawa, sebagaimana topik tulisan ini yang akan membahas karyanya yang diadaptasi dengan unik oleh Zulfa Nasrulloh, seorang kawan penyair yang kemudian akan menjalani debutnya sebagai sutradara teater. 

Selain terpesona oleh tulisan Akutagawa yang gelap dan dalam, saya menduga Zulfa juga terinspirasi oleh sutradara film Jepang, Akira Kurosawa. Kurosawa menyutradarai film Rashomon (1950) yang sebenarnya merupakan interpretasi dari cerpen Akutagawa dengan judul yang sama. Apa yang diberi judul Rashomon dalam versi Kurosawa, sebenarnya merupakan adaptasi gabungan dari dua cerpen Akutagawa, yaitu In The Grove (dalam hal konten ceritanya) dan Rashomon (dalam hal latar peristiwanya). Kreativitas Kurosawa itu memberi jalan masuk bagi Zulfa untuk juga menggabungkan dua cerpen Akutagawa, yaitu Kesa and Morito dan Rashomon terutama dalam hal penokohan. 

Tentang Alih Wahana 

Pada pementasan teater ini, Zulfa memberi istilah "alih wahana" untuk upayanya memvisualisasikan teks-teks dalam cerpen Akutagawa menjadi sebuah pertunjukan. Teks dalam cerpen sangat dimungkinkan untuk pertama-tama menjadi naskah, karena yang paling dasar, tentu karena ada kesamaan aspek alur cerita, adegan, latar, dan penokohan. Tinggal bagaimana menjadikan unsur-unsur dalam teks, yang terhubung dengan imajinasi kita yang nyaris tak terbatas (atau sekaligus juga terbatas pada pengalaman-pengalaman indrawi), menjadi terealisasi dalam hal teknis dan juga tetap mempertimbangkan kapasitas psikologis penonton pertunjukan. 

Maksudnya, orang bisa menyelesaikan cerpen Rashomon dalam satu jam, tiga hari, atau satu bulan, dan tetap menangkap maknanya. Sementara pertunjukan teater harus bisa merangkum seluruhnya dalam maksimal tiga jam pertunjukan. Ini belum lagi mengatasi tantangan lain, yang itu tadi, terkait imajinasi penulis yang bebas dan bahkan merasa tidak punya kepentingan untuk "membumikan", menjadi sesuatu yang cukup bisa dipahami secara intelektual maupun empirik dalam sudut pandang apresiator pertunjukan. 

Sebelum membahas lebih jauh tentang alih wahana dari sastra ke teater, sebenarnya menarik untuk dibahas terlebih dahulu hal ikhwal alih wahana dari sastra ke film. Padahal, usia sastra dan film, sebagai seni yang "paling muda", tentu sangat berjauhan - karena film sangat erat kaitannya dengan keberadaan teknologi media rekam -. Mengapa menarik? Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya teknik-teknik dalam film, adalah juga meminjam sejumlah teknik dalam sastra. Misalnya, sebuah ungkapan dari tokoh utama bernama Pierre Bezukhov dalam novel War and Peace karya Leo Tolstoy kira-kira mengatakan begini (saya lupa persisnya), "Kaki-kaki ini sudah sangat lelah, tapi tubuh tetap memaksanya untuk terus diseret." Kita bisa membayangkan suatu adegan close-up dalam visualisasi benak kita, sebagaimana kita membaca tulisan, "Suatu pagi di Lembang, yang terlihat dari segala sudut, pemandangan Gunung Tangkuban Parahu," sebagai bayangan kita akan teknik extreme long shot

Jika kita memerhatikan secara seksama, alih wahana dari sastra ke film ini bisa lebih banyak, hingga ke teknik slow motion sampai flashback. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena film lebih mampu mengakomodasi prinsip berimajinasi kita yang "melompat-lompat" dan "bergerak liar mencari sudut pandang sendiri", yang kemudian dilaksanakan secara mendekati oleh teknik khas film: montage dan mise en scene

Apakah teater bisa melakukan hal yang sama? Bisa saja, tapi jelas ada perbedaan antara film dan teater. Mata penonton dalam konteks film (yang diwakili oleh kamera) dan teater adalah hal yang berbeda. Film menyuguhkan sajian visual yang melalui kamera, sudah dipilihkan untuk penonton, bahwa apa yang terlihat di layar, adalah memang yang harus dilihat. Sementara dalam teater, penonton bebas memilih melihat yang mana, meski kemudian ada "pengondisian" berupa fokus dan pembesaran, tapi jelas bahwa audiens teater diberi kebebasan lebih dalam melihat. 

Namun artinya, memindahkan sastra ke film tampak lebih mudah, oleh sebab kesamaan aspek imajinatif yang diakomodir oleh teknologi, ketimbang teater yang hanya ditopang oleh mata penonton yang "telanjang". Dalam teater, aspek-aspek imajinatif mungkin lebih didukung oleh representasi-representasi yang mensyaratkan penonton untuk turut aktif melihat A tidak sekadar A, tapi juga A+ atau B atau bahkan X. Pada titik pembesaran imajinasi dan multi-interpretasi ini, penonton teater seringkali, secara stereotip, harus lebih terdidik daripada penonton film umumnya yang "tinggal duduk manis" (walau film pun banyak juga yang punya muatan intelektual tinggi). 

Tentang Morito dan Dua Pelayan di Rashomon 

Terkait karya Zulfa yang akan dipentaskan tanggal 19 Oktober ini, kelihatannya menjadi tantangan besar untuk menjodohkan sejumlah tokoh dari "alam yang berbeda". Namun hal yang sedikit menjadi keuntungan adalah cerpen Kesa and Morito, kelihatannya sudah dirancang oleh Akutagawa dengan latar yang sedemikian teatrikal, sehingga visual-visual khas teater langsung terbayang - dari baik monolog Morito maupun Kesa -. 

Sementara cerpen satunya, Rashomon, mengisi nilai-nilai dalam naskah ini agar juga memuat tentang dilema moral dan psikologis yang begitu kuat sebagaimana termuat pada tema-tema sastra Jepang modern. Situasi pada Rashomon, yang diwakili oleh para pelayan dalam kondisi pasca bencana, adalah situasi yang pelik, yang mengandaikan perumusan nilai-nilai moral yang baru, setelah yang lama luluh lantak bersama seluruh bangunan yang didirikan atas nama kemanusiaan. 

Namun asumsi saya, seorang Zulfa, agaknya tidak mungkin meminjam pikiran Akutagawa hanya untuk menumbuhkan romantisme ke-Jepang-an bagi penonton pertunjukannya kelak. Morito dan Dua Pelayan di Rashomon adalah juga tentang situasi kontemporer sebagaimana digambarkan dalam istilah yang diambil dari salah satu adegannya yaitu "Setiap Orang adalah Bencana". 

Literatur modern sudah sejak lama menggaungkan hal ini, sebagaimana Jean Paul Sartre menegaskan filsafatnya sebagai prinsip atas "Orang Lain adalah Neraka", dalam konteks bahwa kita senantiasa diobjekkan oleh tatapan-tatapan orang lain. Cerpen Anton Chekhov, Ward No. 6 juga secara tidak langsung membicarakan hal serupa, lewat tokoh Ivan Dimitrich Gromov yang selalu curiga pada gerak-gerik orang lain, sehingga kemudian dirinya divonis gila. 

Tentu ada semangat zaman yang mendasari kenapa timbul pemikiran-pemikiran semacam itu dari mulai abad ke-20 hingga era posmodern sebagaimana dialami oleh Zulfa saat ini. Kita adalah Morito sekaligus dua pelayan di Rashomon, yang mencurigai orang lain berdasarkan proyeksi-proyeksi pikiran kita sendiri. Dunia kontemporer adalah dunia yang lebih tenang jika orang lain adalah proyeksi, ketimbang kita menghadapinya sebagai subjek sebagai dirinya sendiri. Tidakkah ini merupakan dehumanisasi yang serius dan menyedihkan?
Continue reading

Menjadi Pimpro Harpa Nusantara







Tawaran untuk menjadi pimpinan produksi Harpa Nusantara itu saya ingat sekali, tanggal 1 Maret 2019. Waktu itu Sisca dan suami datang ke restoran Truno 58, karena saya sedang ada tampil di sana. Sisca bertanya apakah kira-kira yang bisa dilakukan untuk konsernya? Karena dia kurang sreg dengan konsep konser yang megah dan melibatkan banyak artis (komersil) - seperti yang katanya sudah dibicarakan dengan beberapa temannya -. 

Inilah yang membuat saya senang mendengarnya. Sisca, si pemain guzheng dan harpa yang nyaris lekat dengan dunia "weddingan" tersebut, ternyata sedang mencari bentuk pertunjukan yang kiranya lebih relevan dengan renungan dan pencariannya. Saya bisa membayangkan apa yang ada di benaknya: Tidakkah harus ada hal yang lebih agung, yang mesti dicapai lewat seni, yang tentunya sekaligus lebih ugahari daripada panggung nikahan ke nikahan? Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat pada panggung nikahan, tapi seni, bagaimanapun, punya fungsi-fungsi lain yang tak kalah sakral, spiritual, dan bersifat katarsis. 

Sebenarnya Sisca, dan suaminya, Pak Sugih, adalah duet yang sangat rinci dalam mengurusi banyak hal. Artinya, saya tidak bisa dikatakan mengorganisasi seluruh produksi karena mereka pun begitu aktif dalam bergerak mengatasi satu demi satu persoalan (yang sangat banyak). Namun persiapan hampir enam bulan ini - mungkin bagi Sisca satu tahun karena juga terkait pembuatan empat harpanya yang lumayan rumit - adalah persiapan yang lebih dari sekadar produksi. Obrolan kami nyaris tiap hari via WA, adalah juga tentang bagaimana membuat kami sendiri yakin, bahwa Harpa Nusantara adalah konser yang penting, brilian, dan punya nilai lebih di kemudian hari. Jadi obrolan kami tidak seperti dua orang yang berbisnis: hanya tegur sapa bicara pembayaran dan ceklis persiapan, tapi juga masuk pada wilayah kultural dan filosofis. Mungkin saja, tanpa bermaksud ge-er, dan tentu saja tanpa mengabaikan keajaiban musik Iman Ulle dan tata artistik dahsyat dari Aji Sangiaji, konser Harpa Nusantara tadi malam begitu terasa sekali sebagaimana pepatah bersahaja mengatakan: "Apa yang dari hati, akan sampai juga ke hati". 

Konser Harpa Nusantara berakhir. Kelihatannya apa yang kami cita-citakan sejak semula, tidak jauh berbeda dengan kenyataannya. Tentu saja, ada kekurangan sana sini, itu pasti, karena harus jujur dikata, persiapan Harpa Nusantara secara teknis begitu rumit dan berdarah. Namun setelah tirai pertunjukan ditutup dan penonton melakukan "standing applause", kami sadari sesuatu, tentang bagaimana seni dapat mengubah hidup manusia: rasa haru yang timbul dari merasakan suatu keindahan, akan berdenyut senantiasa, dan memanggil-manggil, ketika kita, siapapun itu, berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan. Di situlah letak seni yang menyucikan. 

Selamat untuk Sisca Guzheng Harp, jangan kapok! 

Kredit foto: Agus Bebeng
Continue reading

Perayaan Kebudayaan dalam Harpa Nusantara

(Tulisan sambutan untuk konser Harpa Nusantara dari Sisca Guzheng Harp, Gedung Kesenian Rumentang Siang, 30 September 2019)


Sisca Guzheng Harp adalah musisi yang cukup lama saya kenal. Dulu, sekitar delapan tahun lalu, kami bersama-sama menjadi pemain reguler di Hilton, dengan dia menjadi pianis dan saya menjadi gitaris. Tak lama kemudian saya tahu juga bahwa dia ternyata lebih memfokuskan penguasaan instrumennya pada guzheng (kecapi Tiongkok) dan harpa - yang kemudian kita ketahui dari mana asal muasal nama panggungnya -. 

Hal yang baru saya ketahui belakangan adalah ini: Sisca ternyata punya perhatian lebih pada tradisi dan sekaligus juga kemasakinian. Tentu masa kini ini ada dua aspek, yaitu aspek populer dan aspek kontemporer dalam arti "new movement". Ini terlihat sekurang-kurangnya dari aktivitas Sisca yang selain bermain untuk dimensi hiburan (baca: "weddingan"), juga untuk acara-acara apresiatif seperti teater, puisi, dan musik yang "tidak biasa". Misalnya, terakhir, saya melihat sendiri bagaimana Sisca dengan lihainya melakukan eksplorasi musik dalam pertunjukan Hades Fading karya Sandra Fiona Long, dengan memperlakukan guzheng-nya secara tidak konvensional. Rupanya, rekam jejaknya pun menunjukkan bahwa Sisca, meski sebentar, pernah bersentuhan dengan legenda "musik baru" Indonesia, Slamet Abdul Sjukur. 

Maka itu bukanlah hal yang datang dari ruang hampa ketika Sisca merancang konser Harpa Nusantara. Pemikirannya agaknya timbul dari elaborasi yang manis antara pikirannya yang ke depan, kecintaannya pada tradisi Nusantara, tanpa mengabaikan peluang bahwa konsep ini bisa dilanjutkan secara komersil karena kelihatannya belum ada yang serius menggarapnya selain Sisca. 

Sisca memang seorang keturunan Tionghoa, dan maka itu mungkin diantara kita timbul pertanyaan sejauh mana kelekatan dia pada aspek-aspek tradisi Nusantara. Untuk konser ini, ke-Nusantara-an "masih" sebatas pada aspek-aspek motif dan visual yang melekat pada harpa, yaitu empat prototipe dengan motif lokal yaitu Toraja, Kawung, Dewi Sri, dan Mega Mendung. Eksperimen ini bukannya tidak terbuka pada kemungkinan kritik, seperti misalnya: mengapa aspek-aspek tidak pada riset terhadap kekhasan alat petik Nusantara saja, yang karakteristiknya seperti harpa? 

Namun agaknya kita tidak bisa merta membebankan idealisme semacam itu secara langsung, pada seniman yang tengah berjuang membumikan latar belakang ke-Tionghoa-an nya pada dimensi ke-Nusantara-an yang begitu luas dan juga masih dinamis. Singkat kata: Sisca memulainya, dan membuka wacana penting bagi kita semua, tentang betapa Nusantara kita disuling dari berbagai kebudayaan besar, dan kebudayaan Tiongkok juga berkontribusi di dalamnya. Ini adalah tawaran wacana antar budaya yang penting dan menarik, apalagi jika ditambah dengan kenyataan bahwa harpa identik dengan instrumen "musik klasik Barat". Dalam arti kata lain, konser Harpa Nusantara adalah perayaan budaya yang megah sekaligus bersahaja. Kita akan semakin merasakannya ketika menginderai musik garapan Iman Ulle, yang memang merangkul dua karakter barusan. 

Walhasil, saya tidak berpikir panjang ketika Sisca menawari untuk menjadi produser, ketua panitia, pimpro atau apapun itu pada sekitar bulan Maret kemarin. Bukan pekerjaan yang mudah, karena tantangan idealisme yang ditawarkannya. Namun mudah-mudahan, konser Harpa Nusantara tidak hanya menghibur, tapi juga menawarkan hal-hal yang membuka pikiran kita lebih luas. 

Selamat mengapresiasi!
Continue reading

Bidadari Merah Putih: "Brecht Sa-Brecht-Brecht-Na"

Analisis Pertunjukan sebagai Penonton (Padahal aslinya Penata Musik) 


Kita bisa mulai menganalisis teater Bidadari Merah Putih (selanjutnya disebut dengan BMP) dari sudut pandang estetikanya. Pertama, BMP menyajikan cukup banyak adegan, dengan hubungan yang seringkali tidak terlalu linear - atau ada distraksi-distraksi yang membuat penonton bertanya-tanya, untuk apa ada adegan ini? -. Kedua, dalam pertunjukan ini, kita bisa melihat aktor memerankan beberapa peran, mulai dari tokoh utama sampai menjadi properti seperti "bunga" dan "putri malu". Ketiga, BMP juga sering sekali melakukan "breaking the fourth wall" atau teknik berbicara pada penonton seperti dialog tokoh Jaya Mugiri berikut ini: 

"Eh penonton, tingalikeun, maenya rek mabok wae meni Demi Alloh." 

Ketiga hal tersebut merupakan ciri kuat dari bentuk teater Brechtian yang digagas oleh Bertolt Brecht. Misalnya, kaitannya dengan "breaking the fourth wall", gagasannya adalah seperti dituliskan oleh John Willet dalam Brecht on Theatre (1964): 

"The use of direct audience-address is one way of disrupting stage illusion and generating the distancing effect." 

Sementara perubahan-perubahan peran juga adalah sebagai suatu metode dari Brecht untuk menghindari empati berlebihan dari penonton pada tokoh tertentu saja (sebagaimana terjadi pada umumnya pertunjukan yang mengedepankan gaya akting Stanislavskian). Ini dilakukan Brecht sebagai cara untuk menumbuhkan empati-intelektual, bukan empati-emosional, sebagaimana dituliskan oleh Fredric Jameson dalam Brecht and Method (1998): 

"By being thus 'distanced' emotionally from the characters and the action on stage, the audience could be able to reach such an intellectual level of understanding (or intellectual empathy).

Jadi kita bisa katakan bahwa BMP, dalam permainannya di atas panggung, selalu berusaha menjaga jarak dengan penonton lewat teknik-teknik di atas. Misalnya, narator muncul secara bergantian, yang tidak hanya menyapa penonton, tapi juga menyapa sesama aktor. Belum lagi aktor longser, Ari Jon, juga sering dimasukkan secara tiba-tiba oleh sutradara, sebagai cara untuk menginterupsi seluruh pertunjukan, baik dari sudut pandang penonton maupun pemain itu sendiri. Kehadirannya menyeruak begitu saja, dalam momen-momen yang tidak terprediksi, membuat aktor lain harus cukup siap untuk mengantisipasi dan meresponsnya. 

Pertanyaan besarnya, apa yang diharapkan dari sebuah pertunjukan dengan gaya Brecht? Brecht menyatakannya sambil melayangkan kritik pada gaya Stanislavsky, yang menurutnya "mengilusi penonton pada level empati yang seringkali menjadikan mereka lupa pada keadaan sekitar". Brecht ingin agar pertunjukan teater adalah pertunjukan santai seperti halnya menonton tinju. Dengan demikian pesan-pesan moral ataupun kritik sosial justru lebih tersampaikan karena penonton senantiasa dalam kondisi sadar ketika menyaksikan pertunjukan. 

Ini diperlukan tentu saja, dalam konteks BMP karena sang sutradara, Yusef Muldiana, memang begitu kental menyajikan kritik sosial. Ini pertunjukan tentang dua tokoh politisi yang berpoligami, yang satu istrinya dua, satu lagi istrinya empat. Keduanya memperebutkan kursi kekuasaan, dan dalam kapasitasnya yang belum jadi pemimpin pun, mereka digambarkan sudah berani melakukan pemberangusan terhadap kebebasan. Imbasnya jadi meluas pada kisah cinta anak-anak mereka. Cinta jadi terbatas pada aspek-aspek transaksional ekonomi maupun politik yang tidak lepas dari ambisi para orangtua. 

Selain disampaikan melalui komedi yang segar sekaligus satir, bisa jadi dengan suguhan teater yang "Brecht Sa-Brecht-Brecht-na" saja, kritik sosial dalam BMP menjadi lebih mengena.
Continue reading

Tuesday, September 10, 2019

Filsafat Ngopi


(Ditulis sebagai suplemen diskusi "Flaneur #1 - Filsafat Ngopi", 16 September 2019 di Jali Book Cafe, Karawang)



“Ngopi”, dalam kultur masyarakat kita, tidak selalu tentang minum kopi dalam artian sebenarnya. Istilah “Ngopi yuk” itu bisa saja ajakan untuk minum teh, merokok, atau bahkan makan gorengan! Tapi hal yang pasti, ngopi adalah ajakan untuk menghabiskan waktu luang, bersantai, dan keluar dari suasana formil.

Kata formil yang disebut terakhir tadi menarik untuk dibahas. Suasana formil adalah suasana yang serius dan baku. Untuk apa manusia menciptakan suasana formil? Mungkin, dalam suasana formil, segala sesuatu menjadi lebih kredibel dan bermartabat.

Misalnya, seorang dokter, ketika menyampaikan diagnosa, tidak bisa sambil merokok dan makan gorengan. Selain kontradiktif dengan keilmuan medisnya, hal demikian juga akan menurunkan tingkat kepercayaan pasien terhadap ucapan si dokter. Atau, lainnya, seorang hakim, saat membacakan putusan, apakah etis jika ia melakukannya sambil minum kopi dan cekikikan?  
Tapi manusia tidak bisa selalu dalam kondisi formil. Mungkin karena kenyataan bahwa kita tidak harus terus berusaha keras untuk menghayati profesi kita. Hakim adalah manusia, dokter adalah manusia, pebisnis juga manusia, dan seterusnya. Maka itu, manusia perlu untuk mencari momentum kapan ia melepaskan diri dari perannya yang formil, yang mana sesuai bahasan sekarang ini, adalah ketika ngopi.

Saat ngopi, orang melepaskan keformilannya. Ia menjadi manusia, dalam artian, menjadi dirinya sendiri, atau bahkan secara bebas melakukan eksplorasi untuk mencari dirinya sendiri. Pada saat-saat ngopi, orang tak perlu membicarakan sesuatu yang punya arah, tujuan, ataupun fungsi praktis. Orang melakukan sesuatu demi momentum itu sendiri.

Tapi tentu saja ada juga hal-hal serius yang dibicarakan sambil ngopi. Sambil ngopi, dua pebisnis bisa saja membicarakan perjanjian hingga ratusan milyar, atau sepuluh aktivis membicarakan bagaimana cara menyuarakan kemerdekaan suatu propinsi. Namun tetap, kopi, gorengan, teh, rokok, bir, atau apapun itu makanan dan minuman yang bisa dikonsumsi sambil bicara dan menyimak, akan membuat ruang dan waktu terasa lebih rileks (tentu saja, susah membicarakan topik serius jika sambil makan sate, misalnya). Artinya, ngopi adalah kegiatan menyantap seperangkat makanan yang kurang lebih memerlukan waktu untuk menghabiskannya dan bisa dilakukan sambil berpikir.

Selain itu, juga sudah teruji dari zaman ke zaman, bahwa apa yang disebut di atas, bagi banyak orang, adalah stimulan peningkat konsentrasi. Jadi ngopi adalah juga santai, tapi merupakan momen dimana konsentrasi justru lebih baik. Banyak putusan-putusan besar lahir dari kegiatan ngopi, seperti Revolusi Prancis yang dimulai dari salon, hingga ide-ide kebangsaan Soekarno yang muncul mula-mula dari ngopi di Algemene Study Club. Dalam kegiatan ngopi, ada rangsangan untuk sampai pada ide-ide yang abstrak dan reflektif, yang sukar diperoleh dalam waktu-waktu formil – oleh sebab ikatannya pada peran yang sudah baku -.  

Ngopi adalah juga resolusi konflik. Mengapa bisa menjadi resolusi konflik? Karena mendudukkan pihak-pihak yang bertikai pada posisi yang lebih egaliter. Jika ada kelompok pemuda merampas buku berbau komunisme di sebuah toko buku, ajak mereka ngopi, dan beritahu secara baik-baik bahwa TAP MPRS Nomor XXV tahun 1966 sudah kurang relevan. Jika ada mikro-fasisme di dalam kelas, ketika dosen mengajar sesuai kehendaknya dan mahasiswa harus nurut saja, maka mahasiswa sudah seyogianya mengajak dosen tersebut ngopi, agar diskusi keilmuan bisa lebih setara, dan mungkin saja dapat ditemukan ada gejala insecurity dalam diri dosen tersebut sehingga dia harus galak. Dalam ngopi, kita bisa menyinggung hal-hal personal secara lebih santai, dan menemukan bahwa pada dua pihak yang bertikai, bisa jadi ditemukan kesamaan yang indah, seperti misalnya anaknya sama-sama disekolahkan di SD yang sama.

Ngopi adalah perayaan terhadap kemanusiaan. Aktivitas yang masih memberikan penghargaan terhadap eksistensi melalui tatap muka. Belum ada pertemuan dunia maya dikatakan ngopi, karena ngopi masihlah terasosiasikan dengan duduk bersama secara nyata. Dalam ngopi, kita saling menatap wajah. Wajah yang, kata Emmanuel Levinas, menjadi dasar bagi segala tindak tanduk etis kita. Dalam ngopi, segala komunikasi mikro menyampaikan pesan, dari mulai cara memegang gelas sampai cara membayar kopi. Semua punya penilaian tersendiri, jadi ukuran-ukuran kemanusiaan yang lebih hakiki daripada saat kita di “panggung utama”.

Terakhir, ngopi juga ilahiah. Mungkin di alam sana, Tuhan tidak senantiasa memerhatikan hidup kita sambil melotot dan memegang kalkulator dosa – pahala. Tuhan mungkin santai saja memandangi manusia, sambil ngopi, lalu berkata sesekali, “Oh, dia dipecat dari pekerjaannya, sudah kuduga. Tenang, nanti ada kebaikan mengikutinya.” Tuhan suka ngopi, dan maka itu Dia selalu punya waktu untuk menyayangi kita semua.


Continue reading

Friday, September 6, 2019

Neraka itu Tentang Segala Sesuatu yang Memudar

Catatan tentang Pertunjukan Hades Fading, NuArt Sculpture Park, 30 Agustus 2019 





Sebelum membicarakan pertunjukan Hades Fading, saya merasa harus mengekspresikan kekaguman pada kebudayaan "Barat" - atau bahasa ilmiahnya, Indo-Arya -, oleh sebab mitologinya yang begitu rumit dan sistematis. Mitologi Yunani adalah salah satu contohnya, selain yang saya tahu, Skandinavia, yang memperlihatkan suatu tesis asal muasal mengapa "Barat" kemudian menjadi punya cara pikir yang menuntut bangunan argumentasi yang jernih sekaligus kokoh. 

 Mitologi Yunani dibangun oleh cerita yang banyak dan bertalian satu sama lain. Cerita yang umumnya sampai ke kita, misalnya tentang Zeus, Hades, dan Poseidon, adalah bagian kecil dari semesta mahabesar yang salah duanya tertuang dalam tulisan Homer yang berjudul Iliad dan Odyssey. Kita bisa menemukan cerita lain seperti kisah para manusia setengah dewa macam Hercules, Perseus, Theseus, atau Achilles. Serta para raksasa (titan) macam Cronus dan Atlas. 

Pertunjukan kemarin, Hades Fading atau "Hades Memudar", jelas merupakan potongan kisah dalam mitologi Yunani, yang garis besarnya adalah kisah cinta Orpheus dan Eurydice. Kisah cinta tersebut melibatkan Hades, raja dunia bawah tanah atau neraka atau Tartarus, dengan istrinya, Persephone. 

Tidak ada yang diubah oleh sutradara asal Australia, Sandra Fiona Long, tentang kisah tersebut. Demikian ia tetap mengisahkan sebagaimana ditulis dalam mitologi: Kisah ratapan Orpheus yang begitu pedih akibat ditinggal istrinya, Eurydice, yang mati digigit ular di hari pernikahannya. Begitu sedihnya Orpheus hingga nyanyiannya terdengar hingga dunia bawah, pada Hades dan Persephone. Hades dan Persephone kemudian mengajukan syarat agar Eurydice dapat bangkit kembali, dan sisanya silakan dibaca sendiri di literatur tentang mitologi Yunani. 

Bedanya adalah, tentu saja, pertunjukan kemarin disajikan secara kontemporer. Tata cahaya, tata panggung, tata suara, semuanya tampak "baru" bagi saya, terlebih lagi ketika dileburkan dengan aspek-aspek digital. Tapi tentu saja, bukan cuma kemasan saja yang membuat cerita mitologi tersebut menjadi menarik, melainkan juga kontekstualisasi dari kisah Hades tersebut pada situasi sekarang. Agaknya, dengan term-term digital yang juga dilibatkan dalam pertunjukan tersebut, Sandra selaku sutradara ingin membawa penonton untuk merenungkan: Jika neraka Hades sudah tidak lagi menakutkan bagi dunia posmodern sekarang ini, maka ada neraka lain yang menanti, yang berupa memudarnya memori, dan diganti oleh interpretasi-interpretasi baru yang diproduksi oleh kesadaran massal yang digital. 

Tokoh Hades, Persephone, Orpheus, dan Eurydice mungkin tidak lagi menarik di mata generasi masa kini, dan dalam pertunjukan tersebut tersirat suatu perasaan khawatir dari mereka-mereka, bahwa suatu saat dunia ke depan akan menafsir mereka secara sewenang-wenang. Inilah mungkin yang dimaksud dengan "memudar": berkurangnya pengaruh suatu literatur yang telah begitu agung menggerakkan peradaban selama ribuan tahun. Pada akhirnya tinggal kenangan, bagai kisah cinta Orpheus dan Eurydice itu sendiri. 

Secara keseluruhan, meski pertunjukan tersebut dapat dikatakan sangat filosofis (sehingga saya asumsikan tidak terlalu mudah dipahami, terutama bagi mereka yang belum membaca mitologi Yunani) namun agaknya penonton banyak terpukau oleh efek cahaya, musik, dan tentu saja akting dari para pemain teater kawakan seperti Godi Suwarna, Herliana Sinaga, Rinrin Candraresmi, dan Wawan Sofwan. 

Musik yang ditata oleh Ria Soemardjo juga menarik dan mengandalkan bebunyian, yang mendorong pemusik guzheng, Sisca Guzheng Harp, untuk bereksplorasi melampaui kebiasaan bermusik secara konvensional. Musik tersebut secara umum berhasil membuat 90 menit pertunjukan terasa singkat, karena begitu menghanyutkan penonton pada situasi "Tartarus" - saya belum pernah ke sana, tapi mungkin saja seperti itu-. 

Akhirul kata, sepertinya penting untuk menyajikan lebih banyak teater yang demikian ke hadapan khalayak kita, sebagai teater yang memprovokasi penonton untuk memikirkan sesuatu secara aktual, dengan menyuling cerita dari literatur yang sudah dikenal. 

Digitalisasi adalah isu kontemporer yang dibahas di setiap jengkal hidup kita. Seminar dan kuliah umum mungkin sudah terlalu banyak kita dengarkan sampai tidak ada lagi yang tersisa. Tapi teater adalah suguhan yang segar, yang menciptakan tegangan antara keharuan, kengerian, dan kekaguman dalam satu paket yang nyaris tidak berjarak, dan daripadanya kita merefleksikan kehidupan. 

Saya pulang dengan pertanyaan besar, pada Orpheus yang tidak sabaran, mengapa engkau terlalu cepat menoleh ke belakang?
Continue reading

Saturday, August 17, 2019

Tentang UAS dan Salib

Tentang UAS dan Salib
Ustad Abdul Somad (UAS) sedang ramai dibicarakan oleh sebab pernyataannya di Youtube yang dianggap menista agama lain. Kali ini, UAS berkomentar tentang salib yang di sana, katanya, ada jin kafir bersemayam dan menggoda manusia. Godaan tersebut, lanjut UAS, sangat berbahaya bagi akidah. Ia mencontohkan, jika lambang salib terpampang di rumah sakit yang mana di dalamnya ada seorang muslim yang menjelang ajal, maka segera tutup lambang salib tersebut karena jin kafir yang ada di dalamnya bisa membuat muslim tersebut menjadi su'ul khatimah (mati dalam keadaan tidak baik). Kabar terakhir, UAS dipolisikan karena dianggap memenuhi unsur penistaan agama. Ada beberapa pandangan saya di sini, terkait kasus tersebut. 

Pandangan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bagi saya, kesalahan juga ada pada penanya. Memang penanya bermaksud mendapat kejelasan dengan bertanya, "Apa sebabnya Ustad, jika saya melihat salib, menggigil hati saya?" Tapi pertanyaan semacam itu hampir retoris, yang menggiring pada jawaban yang tidak bisa tidak, dalam konteks mimbar keagamaan, harus memihak. Agaknya kurang meyakinkan kalau UAS menjawab dengan misalnya, "Mungkin Ibu sedang capek atau kedinginan, karena dalam salib tidak ada apa-apa kok." 

2. Memang UAS memperagakan beberapa kali pose Yesus yang disalib ketika di waktu bersamaan berbicara soal jin kafir - seolah-olah jin kafir yang dimaksud adalah Yesus -. Tapi bisa jadi ada versi lain, karena UAS juga menyebut soal patung di dalam rumah. Artinya, bukan Yesus sama dengan jin kafir, tapi mungkin saja maksudnya: patunglah yang menyebabkan ada jin kafir hinggap dan bersemayam di dalamnya. Ini berlaku untuk semua patung, dan di dalamnya tentu termasuk patung Yesus. 

3. Apakah lazim jika di hadapan massa sendiri seorang pemuka agama mengagungkan agamanya dengan cara salah satunya membandingkan dengan agama lain? Agaknya lumayan lazim, dan memang demikian cara yang sering dilakukan dari berabad-abad yang lalu. 

Saya tidak mengikuti banyak khotbah dari macam-macam agama, tapi saya asumsikan saja demikian, kecuali dalam kondisi sosial masyarakat yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Misalnya, sukar bagi khotbah agama Buddha yang jumlahnya relatif sedikit di Indonesia (minoritas), untuk mengatakan sesuatu tentang agama Islam, misalnya. Karena posisi agama Buddha dengan demikian jadi agak terancam. 

Jadi, apa yang digembar-gemborkan UAS tentang agama lain adalah praktik lazim di hadapan massa sendiri dan semakin diperkuat oleh posisi agama Islam yang "mayoritas" sehingga punya posisi yang cukup kuat untuk membicarakan agama lain seolah-olah UAS dan jemaatnya ini lebih superior.

Memang pasti menjadi masalah jika hal yang tadinya dibicarakan secara "internal", kemudian jadi konsumsi "eksternal" oleh sebab pemuatannya di Youtube.  

4. Ini tidak bermaksud mensimplifikasi persoalan UAS di atas, tapi agaknya luka akibat polarisasi Pemilu 2019 kemarin masihlah tersisa. Maksudnya, UAS memang mengucap hal yang keliru dan menyinggung, tapi posisi politiknya kemarin mungkin sedikit banyak memengaruhi psikologi banyak orang untuk tidak begitu saja "melepas" UAS. Apalagi komentar warganet juga tidak sedikit yang membandingkan kasus UAS dengan kasus Ahok ketika juga dianggap menista agama. Kasarnya, ada semacam "balas dendam". Namun, sekali lagi, ini bukan dugaan yang mengarah pada reduksionisme, seolah-olah urusan kasus ini "hanya" urusan keberpihakan politik masa lalu. Unsur-unsur penistaan agama tetap ada, dan baiknya tetap dilanjut saja proses pemeriksaanya. 

5. Tapi di sisi lain, perlukah pasal tentang penistaan agama ini? Sekarang urusannya jadi saling melapor dan memenjarakan. Padahal apa yang dilaporkan seringkali "hanya" berupa penistaan terhadap simbol-simbol, yang notabene, semestinya, tidak memberi dampak apa-apa terhadap ketahanan iman dari jemaat suatu agama. Ini hampir mirip dengan pelaporan pada kasus sebelumnya, terhadap ibu yang membawa anjing ke dalam masjid. Pasal penistaan agama jadinya tidak lagi menelaah intensi dari si "penista", tapi hanya lebih berpihak pada aduan dari orang yang agamanya merasa "dinistakan". Artinya, bisa saja si "penista" tidak ada maksud ke arah sana, tapi ujungnya tetap dipenjara juga oleh sebab aduannya terlalu kuat.

Akhirul kata, UAS tetap harus diberi pelajaran. Semoga warganet yang merekamnya, sadar bahwa perbuatan merekam dan mengunggah yang ia lakukan, telah membuat ruang privat (dalam konteks agama dalam sistem tertutup) menjadi "ruang publik" yang ditonton oleh masyarakat secara bebas.  



Continue reading