Saturday, September 5, 2020

Jika Kata "Anjay" Dilarang ...

Beberapa hari belakangan ini, netizen dihebohkan (iya, memang hanya netizen yang sering merasa heboh, orang di luar jaringan, kelihatannya, biasa-biasa saja tuh) oleh larangan kata "anjay" yang dikeluarkan oleh Komnas PA, berdasarkan "aduan masyarakat" - yang jika ditarik, bermula dari aduan Lutfi Agizal (semacam figur publik yang saya tidak tahu karena saya kurang gaul) -. Tentu saja, kritik muncul di mana-mana, karena, mengapa ucapan harus dilarang, meski katanya kasar? Jika ditilik-tilik, apakah memang iya, kata "anjay" itu kasar? Lalu, jika larangan tersebut benar-benar diberlakukan dan sifatnya mengikat secara hukum, kira-kira apa yang bakal terjadi pada masyarakat kita?

Gambar diambil dari sini.
Gambar diambil dari sini.


Saya tiba-tiba ingat film tahun 2010 berjudul The King's Speech yang bercerita tentang Raja George VI yang gagap. Kegagapannya ini tentu saja menjadi masalah bagi seorang raja yang harus sering bicara di hadapan publik. Apalagi, konteks Raja George VI adalah di masa Perang Dunia II, di mana ucapan-ucapan raja menjadi krusial untuk menenangkan rakyatnya. Raja George VI kemudian merekrut Lionel Logue, semacam pelatih bicara, untuk membantunya. Salah satu hal yang saya ingat dalam film itu adalah bagaimana Logue kemudian menggali masa kecil Raja George VI, untuk berusaha menemukan penyebab kegagapannya. Protokol kerajaan yang dianggap terlalu ketat adalah salah satu sumbernya. Raja George VI sebenarnya kidal, namun dipaksa untuk selalu menggunakan tangan kanan atas nama aturan kerajaan dan satu lagi, hampir sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diperbolehkan berkata kasar (karena tentu saja, dianggap tidak pantas di lingkungan kerajaan). 

Logue, sebagai seorang pelatih berpengalaman, menganggap hal terakhir tersebut sebagai salah satu penyebab yang cukup krusial, sehingga dalam satu sesi, ia mempersilakan raja untuk berkata-kata kasar sepuasnya. Dalam perkembangannya, sejak raja punya sesi untuk bebas berkata kasar, gagapnya semakin lama semakin berkurang dan ia semakin percaya diri untuk berpidato (gagapnya hanya muncul sesekali saja dan tidak sering seperti sebelumnya).

Berkata kasar mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan, apalagi untuk langsung dilarang-larang. Psikoanalis terkemuka, Sigmund Freud, mengajukan kemungkinan adanya wilayah bawah sadar kita yang gelap, dalam, dan sangat instingtif. Wilayah bawah sadar ini, bagi Freud, mengontrol tindakan kita lebih banyak ketimbang aspek sadar kita sendiri. Setiap orang, tanpa terkecuali, punya sisi bawah sadar yang dipenuhi hasrat ini, yang bedanya adalah ini: Ada yang tersalurkan dan ada yang tidak. Tersalurkan itu kira-kira maksudnya: dapat bertindak sesuai kehendak - meski tidak dalam segala kondisi - sebagai cara untuk menyalurkan keinstingtifan yang keberadaannya tak terhindarkan. Contohnya: ada momen untuk bisa marah-marah, menangis, mengumpat, curhat, dan ekspresi jujur lainnya. Sebaliknya, tidak tersalurkan itu kira-kira adalah ketiadaan kemungkinan untuk mengekspresikan hasrat bawah sadar karena terepresi oleh keadaan. Contohnya: Berlaku terlampau dingin, kaku, dan formal, seolah-olah terlalu ekspresif itu menjadi agak memalukan. 

Terjawab kemudian mengapa ada kaitan antara gagapnya Raja George VI dengan dilarangnya ia berkata kasar dari sejak kecil hingga dewasa. Ada hasrat yang tidak tersalurkan, dan menyebabkan sejumlah "keganjilan" yang mengganggu di masa dewasanya - yang oleh Freud dapat juga berupa perilaku seksual yang tidak wajar seperti senang mengintip (voyeur) atau senang mempertontokan diri (eksibisionis) -. 

Maka itu, bersyukurlah mereka yang masih punya kesempatan berkata-kata seperti "anjing" di berbagai saluran. Seketika kita mengeluarkan kata tersebut, kita bukan saja sedang berkata kasar, tapi mengatakan sesuatu dari dasar batin yang terdalam, tentang kemuakan terhadap segala hal yang normatif. Mengatakan "anjing" adalah kelegaan yang membuat kita merasa hal-hal yang hasrati itu tersalurkan. Mengatakan "anjing" adalah simbol runtuhnya segala yang formal, dan menghadapkan kita pada situasi yang lebih cair, dinamis, dengan relasi personal yang lebih terbuka. 

Namun kata "anjing", dalam kebudayaan tertentu, terlalu berbahaya untuk diungkapkan secara terang-terangan - mungkin karena anjing dianggap hewan yang najis juga oleh ajaran tertentu -. Dengan demikian, kata seperti "anjrit", "anjir", atau "anjay", digunakan sebagai alternatif untuk menengahi antara hasrat individual dan kebudayaan (sungguh ini suatu kecerdasan yang hakiki). Jika kata, yang sudah sengaja dibuat secara kompromistis ini, kemudian tetap dilarang, maka apakah orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal - yang entah siapa itu -, mau bertanggungjawab dengan kemungkinan terjadinya keganjilan dalam masyarakat akibat bawah sadar yang direpresi? Lantas, memangnya, orang-orang di Komnas PA, atau Lutfi Agizal sendiri, dalam kesehariannya, selalu bersikap sesuai norma-norma yang ada, baik di panggung depan (saat berelasi secara formal) maupun panggung belakang (saat berelasi secara lebih personal)? Jika iya, saya merasa kasihan sekali! Jangan-jangan, kalian ini psikopat.  

Continue reading

Thursday, August 20, 2020

Tentang Diharamkannya Ilmu Filsafat dan Hal-Hal yang Mesti Diingat

 

Hampir sebulan yang lalu, seorang kawan tiba-tiba nyolek saya di Instagram, dan menunjukkan konten di atas. Saya tertawa geli saja, karena pemikiran semacam ini tentu saja sudah lumrah. Namun lama kelamaan, tergelitik juga, dan merasa penting untuk menuliskan tentang bagaimana posisi filsafat di abad pertengahan untuk sekadar mengimbangi pendapat tersebut. 

Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, bukanlah di Eropa (karena di Eropa masa itu, beberapa aliran filsafat juga "diharamkan", atau lebih halusnya diistilahkan dengan "philosophia ancilla theologiae" atau "filsafat adalah hamba bagi teologi"). Filsafat di abad pertengahan yang dimaksud, adalah filsafat di abad pertengahan dalam konteksnya dengan dunia Islam, yang terbentang dari sekitar abad ke-8 hingga abad ke-14 masehi. 

Imam Al-Ghazali pernah menulis buku berjudul Tahafut al-Falasifah atau diartikan sebagai Kerancuan Para Filosof, yang ia tujukan bagi para filsuf sebelumnya seperti Ibn Sina dan Al-Farabi. Sekilas, memang tampak Al-Ghazali sedang berusaha "mengharamkan" filsafat lewat bukunya tersebut, sehingga ini kerap dijadikan justifikasi posisi filsafat yang terpinggirkan dalam dunia Islam. Sebelum mengamini pendapat tersebut, mari mengingat hal-hal berikut ini:

1. Imam Al-Ghazali menunjuk "para filosof" dan bukan "ilmu filsafat" sebagai sasaran kritik, yang bisa diartikan bahwa yang bermasalah bisa jadi adalah pandangan orang per orang dan bukan konsep filsafat itu sendiri. Bedakan dengan konten di atas yang langsung mengharamkan ilmu filsafat. 

2. Sebelum menuliskan Tahafut Al-Falasifah, Al-Ghazali menulis karya lainnya yang berjudul Maqasid Al-Falasifah atau diartikan sebagai Maksud Para Filosof. Pada Maqasid, Al-Ghazali mengelompokkan fisika, logika, matematika, dan astronomi, juga sebagai bagian dari ilmu filsafat, dan tidak menemukan masalah sama sekali di dalamnya. Hal yang menurutnya bermasalah hanya bagian metafisika-nya saja, dan itu yang kemudian menjadi sasaran kritiknya di Tahafut. Namun intinya, di Maqasid, Al-Ghazali hendak menunjukkan bahwa sebelum memberikan kritik, seyogianya kita memahami dulu dengan sungguh-sungguh tentang maksud para filosof. 

3. Pada Tahafut, Al-Ghazali mengritik para filosof dalam beberapa poin. Namun ada tiga poin yang dititikberatkan karena menurut Al-Ghazali, poin-poin tersebut dapat membawa para filosof pada kekufuran. Poin yang dimaksud adalah terkait hal-hal berikut:

a. Tentang hubungan Tuhan dan alam semesta. Para filosof (yang dimaksud Al-Ghazali) memandang bahwa alam semesta ini qadim (tidak diciptakan) dan keberadaannya ada bersama Tuhan. Alasannya, jika Tuhan ada duluan lalu menciptakan alam semesta, berarti ada jarak antara pra-penciptaan dan penciptaan (vacuum), yang menurut para filosof, tidak mungkin. Karena kemudian kemungkinannya menjadi dua: Tuhan menciptakan alam semesta dengan suatu maksud (ini bermasalah, karena artinya Tuhan tunduk pada suatu kehendak) atau Tuhan menciptakan alam semesta tanpa maksud (ini juga bermasalah, karena artinya Tuhan menciptakan sesuatu atas dasar "keisengan"). Al-Ghazali menganggap argumentasi tersebut dapat membawa filosof pada kekufuran. Dalam pandangan Al-Ghazali, hanya Tuhan lah yang bersifat qadim dan Ia menciptakan alam semesta dan sekaligus mengakhirinya. Sementara Tuhan sendiri selalu abadi.

b. Tentang Tuhan yang hanya mengurusi hal-hal yang universal saja. Para filosof menganggap bahwa Tuhan hanya mengurusi hal-hal yang universal saja dan tidak sampai pada hal-hal yang partikular. Argumennya, jika Tuhan mengurusi hal-hal partikular, maka Tuhan tunduk pada ruang dan waktu yang diciptakan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan dunia dengan hukum-hukumnya, lalu Ia tidak lagi terlibat di dalamnya, begitu menurut para filosof. Al-Ghazali tidak sepakat, dan menganggap bahwa Tuhan mengetahui dan terlibat dalam segala sesuatu, sampai hal terkecil sekalipun.  

c. Tentang jasad dan ruh yang dibangkitkan di hari kiamat. Menurut para filosof, yang dibangkitkan di hari kiamat hanya ruh saja karena jasad sudah rusak. Al-Ghazali tidak setuju dan berpendapat bahwa yang dibangkitkan adalah keseluruhan wujud kita sekarang, termasuk jasad dan ruhnya. 

Kritik Al-Ghazali tersebut ternyata cukup fatal dan mempengaruhi pandangan dunia Islam terhadap filsafat. Meski dikritik balik oleh Ibn Rusyd sesudahnya, namun karya Al-Ghazali lebih dikenal secara luas ketimbang sanggahan Ibn Rusyd. Sering disinggung, bahwa Al-Ghazali dianggap "bertanggungjawab" terhadap kemandegan ilmu filsafat di dunia Islam, yang sangat mungkin menjadi landasan bagi konten di atas (meski tidak menyebut Al-Ghazali). Namun kembali pada poin-poin di atas, penting untuk mengingat hal-hal berikut: Pertama, Al-Ghazali mengritik filosof dan bukan ilmu filsafat. Kedua, Al-Ghazali menunjuk sisi baik filsafat dan mencoba menelusuri maksudnya, sebelum mencari celah yang dianggap bermasalah. Ketiga, dalam Tahafut, Al-Ghazali terlihat mengritik filsafat dengan filsafat. Keempat, meski ini berbau ad hominem, tapi bisa juga dijadikan acuan: Al-Ghazali menuliskan Tahafut pada usia yang relatif muda, dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mengritik. Pada perkembangannya, Al-Ghazali tidak lagi terlalu "keras" terhadap filsafat dan malah menjadikannya penting sebagai jalan untuk mencapai makrifat. 

Sebelum mengharamkan filsafat dan menyetujui bahwa filsafat itu haram, ada baiknya mengingat bahwa dunia Islam pernah begitu dekat dengan filsafat dan para filosof itu berdialektika dengan indah.        

Continue reading

Friday, July 31, 2020

Tentang Ta'aruf

Lewat sejumlah postingan teman-teman di postingan di FB, saya tertarik untuk membaca lebih jauh berita tentang pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Siapakah mereka? Saya sama sekali tidak tahu siapa mereka, namanya pun baru dengar - padahal mereka ini katanya orang sangat terkenal -. Apa yang menarik? Mereka (dan juga media, tentu saja) melabeli pernikahannya dilakukan dalam format ta'aruf, yang kira-kira menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuai syari'at Islam, yaitu "pacaran setelah menikah". 

Sumber gambar: Instagram @dindahw

Artinya, Rey dan Dinda, tidak seperti muda-mudi pada umumnya, yang terlebih dahulu menjalin hubungan dalam rangka saling mengenal - yang biasa disebut pacaran -. Mereka langsung menikah, bermodalkan pengetahuan satu sama lain yang "sedikit", dan lebih banyak berlandaskan keimanan. Pengenalan satu sama lain secara mendalam dilakukan dalam domain pernikahan, dan menjadi sesuai syari'at Islam karena sejalan dengan ajaran untuk "menghindari zina".

Pada sekitar bulan Februari lalu, saya menjadi moderator di acara berjudul Buka Tutup Kepala yang diadakan oleh Komuji Indonesia. Acara tersebut kebetulan mengangkat tema tentang ta'aruf dan narasumber yang dihadirkan merepresentasikan dua perspektif yang berbeda, yaitu Dian Siti Nurjannah (dosen, praktisi terapi) yang mengambil posisi pro ta'aruf dan Dede Muhammad Multazam (pengelola Yayasan Santri Progresif) yang mengambil posisi kontra ta'aruf. Dari diskusi tersebut saya mendapat pencerahan. Pertama, dari argumentasi Dian yang melihat bahwa pacaran itu lebih banyak menimbulkan masalah, dari mulai kemungkinan timbulnya kekerasan, potensi hubungan seksual yang kurang sehat, hingga menyebabkan konsentrasi terpecah dalam studi dan pekerjaan. Dian melihat bahwa dengan ta'aruf, hubungan menjadi lebih sehat dan "terlindungi", baik dari sisi negara maupun agama.

Dede punya pandangan yang berbeda, meski juga setuju bahwa agama memang menyuruh kita untuk menghindari zina. Namun, menurut Dede, sebagai dasar, Al-Qur'an sendiri menyebutkan istilah li-ta'arofu dalam konteks "saling mengenal", yang lengkapnya adalah sebagai berikut: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal." Jadi, tidak ada anjuran atau suruhan secara tegas untuk melakukan ta'aruf, setidaknya dari segi istilah, hal tersebut tidak disebutkan di Al-Qur'an dalam konteks yang dimaksud hari ini. Dede hendak mengatakan, ta'aruf mungkin baik, tapi dasar keagamaannya kurang kuat. Atau, bisa jadi, ta'aruf lebih erat kaitannya dengan kebudayaan tertentu saja, yang memang melihat pernikahan bukan berdasarkan kehendak pasangan yang menjalani saja, melainkan unsur-unsur eksternal lain yang dianggap "lebih paham" (dalam hal ini, misalnya, orangtua atau pemuka agama).

Pertanyaan yang lebih besar, terlepas dari dua pandangan yang berbeda di atas itu tadi, adalah ini: Apakah ta'aruf selalu menghasilkan pernikahan yang baik? Baik dalam artian, langgeng dan bahagia (meski soal bahagia, tentu sulit mengukurnya). Karena jikapun ada diantara pernikahan dengan format ta'aruf ini yang ternyata kurang bahagia dan malah berujung perceraian, apakah data atau informasinya akan kita publikasikan? Mungkin bisa jadi ada hambatan (untuk mempublikasikannya), karena jika sebuah pernikahan dengan format ta'aruf ini gagal, maka yang tercoreng bukan terkait pada pasangan yang mengalami perceraian, melainkan pada ideologi agama itu sendiri.

Selain itu juga, faktor psikologis menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan atas dasar hasrat yang menggebu-gebu, dan tidak lewat pertimbangan yang lebih rasional? Bagaimana jika keputusan ta'aruf dilakukan dalam usia yang masih sangat muda, ketika masih dipenuhi ambisi terhadap suatu cita-cita, serta masih kurang matang dalam soal pengalaman hidup secara keseluruhan? Pada titik ini, ta'aruf juga mesti mempertimbangkan aspek-aspek keilmuan lainnya, yang ada di luar agama. Bisa saja, menikah dengan format ta'aruf, tapi kemudian mengalami ketidakbahagiaan karena masalah-masalah yang ditimbulkan oleh sebab kekurangmatangan berpikir dan hasrat-hasrat yang belum selesai. Menghindari zina, dengan menikah muda, di sisi lain, bisa jadi bumerang.

Jadi, kembali ke soal pernikahan Rey Mbayang dan Dinda Hauw. Itu urusan mereka untuk berta'aruf, meski kemudian berimplikasi pada konten Instagram yang menggelikan karena mengumbar adaptasi mereka satu sama lain (yang seolah-olah hendak mengatakan pada warganet: "Ta'aruf itu asyik loh! saling menyingkap misteri pelan-pelan!"). Tapi jika oleh sebab perilaku selebgram semacam itu, kemudian ta'aruf menjadi populer di kalangan anak muda, mohon pertimbangkan dulu tulisan singkat ini, karena ada bahaya mengintip di balik ta'aruf.


Continue reading

Sunday, July 12, 2020

Tekad Menyebarkan Demotivasi

Jaraknya sudah dua bulan dari pertama buku berjudul Kumpulan Kalimat Demotivasi, dengan tulisan di blog ini. Saya baru sempat menuliskannya, karena "terganggu" proses jual beli buku yang cukup sibuk dan juga beberapa acara bedah buku (yang sudah dan akan berlangsung). Memang sudah sejak akhir tahun 2019, saya mulai meletupkan ide-ide tentang demotivasi, baik lewat media sosial maupun obrolan-obrolan ringan dalam konteks diskusi santai.

Setelah menuliskan dan menerbitkannya ke Buruan and Co. (setelah sempat di-PHP oleh Mizan), saya merasa respons terhadap buku ini cukup baik. Penjualannya lebih baik dari buku-buku yang pernah saya tulis dan itu berlangsung dalam waktu relatif singkat. Tawaran diskusi dan bedah buku pun bermunculan - disertai review buku yang juga cukup ramai -, yang membuat saya berpikir bahwa Kumpulan Kalimat Demotivasi mungkin punya sesuatu yang "baru" untuk ditawarkan (pakai tanda kutip karena saya malu menyebut kata baru, dengan kenyataan bahwa tidak ada satupun yang baru di dunia ini).

Tapi mungkin ini benar, bahwa konsep demotivasi harus disebarluaskan. Kelihatannya porsi sinisme, pesimisme, skeptisisme, absurdisme, dan lain-lain filsafat "kurang antusias" yang ada dalam keranjang demotivasi, bagi saya, tidaklah terlalu besar di dalam buku tipis tersebut. Namun, meskipun sedikit-sedikit, demotivasi kelihatannya menjadi suatu jalan tersendiri menuju kebahagiaan (karena dari sejumlah pengakuan, buku ini malah menyenangkan untuk dibaca, meskipun isinya didominasi oleh ajakan menyelami kepahitan hidup). Tentu saja, ini bukan klaim pribadi, melainkan dari beberapa review yang sudah dibaca (mungkin yang tidak berkomentar, tidak merasa bahwa buku ini penting, jadi ya tidak apa-apa).

Jadi, intinya, saya akan coba untuk mengembangkan buku ini ke arah lain. Instagram sudah ada, mungkin ditambah lagi dengan Podcast, Youtube, dan kegiatan-kegiatan darat (tentu jika pandemi sudah selesai). Eh sebentar, malah kelihatan motivasional sekali ya? Sudah saya jelaskan di buku tersebut, bahwa paradoks semantik akan terus terjadi dalam konteks bahasa, sama halnya dengan kaum eksistensialis yang mengatakan bahwa hidup ini tidak ada nilainya. Tapi dengan mereka mengatakan hal tersebut, maka mereka sendiri telah menyebut bahwa sebenarnya ada nilai dalam hidup ini (yaitu bahwa hidup ini tidak ada nilainya). Sama halnya dengan saya yang ingin menyebarkan ide demotivasi, tentu dengan sendirinya saya perlu motivasi untuk melakukannya.

Perkara semantik ini tidak perlu kita larut pada perdebatan di dalamnya. Hal yang lebih penting, ke depannya, adalah istilah demotivasi tidak lagi dianggap sebagai musuh dari motivasi - seolah-olah orang yang terdemotivasi adalah orang beracun yang patut dijauhi -. Hal yang lebih penting adalah istilah demotivasi menjadi penyeimbang bagi motivasi berlebihan (atau kata Romo Setyo di kata pengantar: inflasi motivasi). Sekali lagi, ini bukan pemikiran yang sama sekali baru. Demotivasi, sebagaimana sudah disinggung di atas, adalah ramuan yang terdiri dari bahan dasar sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain, yang dimasukkan dalam brand baru bernama demotivasi, yang mungkin terdengar lebih populer, karena dihadapkan dengan konsep motivasi yang begitu dominan di dunia kontemporer ini.

Motivasi menjadi agama baru, spiritualitas baru, dan para motivator menjadi nabi baru, spiritualis baru, yang kita tahu, selama mereka ini adalah manusia biasa, tentu saja bisa didekonstruksi dengan segala pendekatan. Tapi banyak dari kita khawatir mengritik mereka, karena ya itu, pengikutnya terlalu banyak, terlalu militan, terlalu fanatik, dan belum apa-apa muncul vonis bagi diri kita, yaitu minimal, sebutan "toxic" . Tentu sinisme, pesimisme, skeptisisme, dan lain-lain itu, bukan pemikiran yang hanya jadi jargon semata. Pemikiran mereka hadir atas suatu renungan panjang atas dunia yang tidak bisa disikapi dengan cara terlalu antusias dan motivasional. Pemikiran mereka, bagaimanapun, tetap bertujuan mulia, yaitu, sekali lagi, kebahagiaan.

Dengan demikian, saya akan terus mengabari dan menyebarkan ide ini, dengan segala cara, dan mungkin akan jadi proyek filsafat saya yang dominan. Saya sudah siapkan ide untuk tulisan mendatang, semacam sekuel dari Kumpulan Kalimat Demotivasi ini, yaitu Sop Kikil, sebagai pelesetan dari buku motivasi yang berjilid-jilid dengan judul Chicken Soup for the Soul. Mungkin banyak orang sukar menerima ide ini pada awalnya, karena terdengar memuakkan. Percayalah, ini memang pahit, tapi mungkin obat manjur abad ke-21, bagi jiwamu yang kering kerontang (penulis harus pede!).
 

Continue reading

Kelas Isolasi, Kiprahnya Sejauh Ini



Kelas Isolasi adalah proyek yang dibuat oleh Al Nino Utomo, mahasiswa semester tujuh di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, dengan saya, yang diinisiasi di sebuah tempat di wilayah BKR, Bandung, pada 19 Maret 2020. Waktu itu idenya adalah kelas filsafat daring sebagai respons terhadap situasi pandemi yang mulai masuk ke Indonesia pada pertengahan bulan Maret 2020. Tidak banyak yang kami bicarakan saat itu, selain bahwa proyek ini harus segera dimulai, karena di tengah kepanikan orang di masa pandemi, kami harus membuat suatu kelas yang mungkin dapat mengalihkan orang dari kepanikan itu. 

Kebetulan, saya memang sudah lama berpikir tentang kelas filsafat daring. Bahkan sudah pernah dengan lengkap membuat skemanya, hingga terpikir dinamai dengan "kelas insom". Mengapa "kelas insom"? Karena waktu belajarnya yang di atas jam sembilan, yang sedemikian rupa sehingga mereka yang mahasiswa kemudian menjadi telat untuk bangun pagi dan masuk kuliah. Tapi mereka tidak ketinggalan pelajaran, mereka tidak menjadi bodoh, karena sebenarnya mereka telat bangun pagi karena belajar di "kelas insom" di malam sebelumnya.

Sehingga memang, ide untuk membuat kelas daring ini bukan ide baru, meski eksekusinya terkesan buru-buru. Namun karena pernah dipikirkan sebelumnya, Kelas Isolasi, bagi saya, berjalan cukup baik, setidaknya sampai waktu saya menulis tulisan ini, yang sedang akan memasuki edisi ke-74 dan masih bertahan dalam hampir empat bulan. Dalam catatan data kami, Kelas Isolasi bahkan punya data hingga hampir tiga ribu peserta (per Juni, sekitar 2800-an) dari seluruh propinsi di Indonesia dan belasan negara lainnya. Bagi saya, dan mungkin juga bagi kami, ini kurang lebih menunjukkan bahwa sistem pengajaran ini berjalan dan peminat filsafat di luar sana banyak sekali - membuat kami bertanya-tanya, bahwa jangan-jangan selama ini memang banyak, tapi mereka tidak punya akses saja -.

Hingga hari ini, Kelas Isolasi didominasi oleh kelas yang diampu oleh Nino dan saya, dari mulai filsafat Yunani, epistemologi, eksistensialisme, metafisika, etika, sampai psikoanalisis. Namun dalam perjalanannya, Kelas Isolasi juga berhasil mengundang pembicara luar, yang beberapa diantaranya sudah memiliki reputasi tinggi seperti Budiman Sudjatmiko, Martin Suryajaya, Reza A. Wattimena, Soe Tjen Marching, Bhima Yudhistira, Erie Setiawan dan teman-teman yang juga sudah malang melintang berkiprah di bidangnya, seperti Deni Rachman (perbukuan), Adrian Benn (teknologi), Maradita Sutantio (fesyen), Jasiaman Damanik (logika), dan banyak lagi.

Kelas Isolasi, sebagaimana terlihat dari awal pembentukannya, tidak didanai oleh siapapun di luar dan hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan materi berupa artikel, power point, dan audio rekaman kelas, serta sertifikat elektronik. Semua itu dijual di kisaran 10 - 25 ribu saja per materi. Kelasnya sendiri gratis dan kelihatannya akan selalu begitu. Diantara materi tersebut, paling sulit tentu saja membuat artikel. Nino dan saya cukup disibukkan dengan penulisan artikel sekitar dua sampai tiga halaman yang walaupun sedikit, tapi kami lakukan hampir setiap hari. Memang kalaupun tanpa artikel, para peserta sudah diuntungkan dengan kelas gratis dan materi dalam bentuk power point serta audio. Tapi saya katakan pada Nino, kalau tanpa artikel, maka kelas ini akan jadi kelas "bicara bebas" dan "ngalor ngidul" yang tidak ada beda dengan kelas pada umumnya yang mengatasnamakan "bincang santai". Untuk pembicaraan filsafat begini, diharapkan ada pertanggungjawaban ilmiah dan referensialnya, meski kecil-kecilan.

Lantas, bagaimana Kelas Isolasi ini ke depannya? Dengan hampir 2500 followers di Instagram dalam waktu kurang dari empat bulan, kelihatannya animo terhadap kelas ini masih baik - meskipun di beberapa tempat, aktivitas sudah mulai berjalan normal dan maka demikian jumlah peserta tidak sebanyak dulu, saat masih serba dikarantina -.  Maka dari itu, kelihatannya kelas ini juga akan dilanjutkan sampai entah kapan, dengan frekuensi yang mungkin sedikit disesuaikan (jika pandemi sudah selesai, mungkin dua atau tiga kali seminggu saja cukup). Terpikir juga untuk melakukan lintas kanal seperti siaran di Youtube dan Podcast, tapi masih belum terealisasi karena sibuk menulis artikel :p.

Pandemi masih akan berlangsung lama di republik ini, dan maka itu kelihatannya Kelas Isolasi masih akan dilanjutkan. Menarik karena kami mengamati, bahwa kelas daring menciptakan kebebasan tertentu yang tidak ada di kelas filsafat luring. Misalnya, di kelas luring, ada semacam sikap malu, segan, khawatir pertanyaan kita konyol, pernyataan kita kurang berbobot, sementara itu, di kelas daring, hal-hal semacam itu luntur karena kita mengakses dari ruang masing-masing, bisa anonim, dan bisa melempar pertanyaan begitu saja tanpa khawatir (bisa saja pertanyaan tersebut konyol, tapi video bisa dimatikan, agar tidak malu). Dengan gerakan ini, semoga semakin banyak orang gemar berfilsafat, yang kemudian berdampak pada berkurangnya pernyataan konyol dan medioker di negeri ini. Amin. 
Continue reading

Tuesday, June 23, 2020

Kala Tuhan Memvisualisasikan Dirinya

Visualisasi Kalamullah adalah buku, namun bukan buku yang dipasarkan secara bebas di toko-toko buku - setidaknya belum -. Penulisnya, kawan saya, Arden Swandjaja, adalah orang yang nampak kurang percaya diri untuk mempublikasikan karya-karyanya (berbeda dengan saya, yang berbasiskan kepercayaan diri, meski tulisan ala kadarnya). Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku Arden. Sebelumnya, buku berjudul Buka Tutup Botol, adalah buku yang karakteristiknya sama: Dibaca oleh kalangan terbatas saja.



Apa sebenarnya yang ditulis oleh Arden? Topik yang dipilih Arden, memang, jika disebarluaskan, besar kemungkinan publik kita, yang ingin serba praktis dan langsung mencari apa manfaatnya, akan kesulitan mencerna. Arden dapat dikatakan menulis tema-tema sufistik. Tapi, bukankah tema-tema sufistik disukai oleh pembaca kita? Ya, jika sufisme terbatas pada puisi cinta, atau "spiritualitas awam", tentu banyak penggemarnya - meski kemudian hanya dibaca dan tidak diselami, tidak merasa harus mencapainya secara makrifat -. Inilah yang menjadi perbedaan pada Arden, yang membuat saya memahami kekhawatirannya: Arden mungkin sudah "sampai" pada apa yang dinamakan kemakrifatan itu. Pada ketinggian pemahamannya itu, ia gelisah ingin membagikan renungannya, tapi takut sekali orang gagal paham tentang apa yang ia pikirkan dan rasakan. 

Padahal, sejarah mencatat bagaimana ketinggian spiritual seseorang, selalu membuatnya gagal dipahami oleh banyak orang, dan bahkan dituduh sesat. Al Hallaj misalnya, sufi dari abad ke-9, pada akhirnya dihukum mati, salah duanya karena ungkapan "Ana Al Haqq" (aku adalah kebenaran) dan menempatkan iblis sebagai tauhid sejati, sejajar dengan Muhammad, karena menolak untuk bersujud pada selain Allah. Pada abad ke-12, Ibn Tufail menulis karya fiksi berjudul Hayy Ibn Yaqzhan atau dalam bahasa Latin disebut juga sebagai Philosophus Autodidactus. Dalam novel itu, dikisahkan seorang anak bernama Hayy yang tumbuh sendirian di pulau terpencil. Ia belajar dari alam sekitar dan akhirnya memahami Tuhan serta menemukan spiritualitasnya sendiri. Singkat cerita, renungan Hayy tersebut sampai ke pulau lain yang berpenghuni. Hayy menjelaskan spiritualitasnya di hadapan khalayak, tapi tiada satupun yang mengerti. Satu per satu pulang dari forum dan menganggap Hayy sebagai "orang aneh". 

Cerita tentang Al-Hallaj dan Hayy Ibn Yaqzhan itu adalah representasi ekstrim dari kegelisahan Arden. Ia tahu ia ada dalam sebuah posisi tertentu dalam spiritualitas, dan ia berusaha sebisa mungkin menyampaikannya dalam bentuk buku, agar orang lain juga dapat turut memahami apa yang dipikirkannya. Iya, sekali lagi, ia khawatir bukunya sukar dipahami, dan maka itu meminta beberapa orang dulu untuk membacanya, memberi masukan, dan mungkin suatu saat ia akan berani untuk mempublikasikan buku ini secara luas.

Visualisasi Kalamullah adalah tafsir Arden tentang ayat-ayat dalam Al-Qur'an, yang menurutnya punya simbolisasi tertentu. Al-Qur'an, bagi Arden, bukanlah "book of science" atau buku berisi penjelasan ilmiah, tapi lebih pada "book of sign" atau buku berisi kumpulan tanda. Arden melihat bahwa ekspresi tertentu dalam ayat-ayat Allah ini, seringkali terasosiasikan dalam gambar, yang menurutnya merupakan hasil leburan antara pengalaman subjektifnya sebagai pegiat di bidang rupa, dan renungannya tentang universalitas bahasa Al-Qur'an.

Arden juga, dalam buku ini, melengkapi penafsirannya melalui pembacaan lintas teks seperti fisika Newtonian, Tao Te Ching, hingga Masaru Emoto dan Eckhart Tolle. Buku ini juga, tentu saja, berisi gambar-gambar, dari mulai yang sederhana hingga yang kompleks. Misalnya, ayat yang potongannya berbunyi, ".. maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam..", oleh Arden, ungkapan "empat puluh" tidak dibaca dalam konteks bilangan, melainkan bahasa rupa, yaitu empat bulatan. Empat bulatan ini ditafsirkan sebagai empat kekosongan, yang dalam budaya Sunda disebut "papat kalima pancer". Arden memahaminya dengan sangat menarik: "Ketika empat persepsi dikosongkan, barulah akan muncul 'kesadaran kelima', yaitu 'kesadaran akan Yang Ilahi' itu." 

Buku ini memang agak rentan dengan tuduhan "cocoklogi" dan "over-analysis". Pembaca yang menuduh demikian, kemungkinan adalah pembaca yang sama dengan yang juga menuduh Zakir Naik, Agus Mustofa, hingga Deepak Chopra. Memang, pembahasan antara kitab suci yang dikaitkan dengan keilmiahan, masih dianggap alergi oleh pihak tertentu, yang secara fanatik memandang kedua hal tersebut harus dipisahkan dalam kerangka berpikirnya masing-masing. Kita boleh setuju, boleh juga tidak. Saya pribadi menganggap bahwa pada mulanya, sains, agama, seni, dan filsafat, tidak ada bedanya sama sekali dan keseluruhannya bergerak dalam satu kesadaran - sampai dunia modern memisahkannya secara ketat dan malah membuat keempatnya sering berkelahi satu sama lain -. Sehingga bagi saya, apa yang dipikirkan oleh Arden, tentu sah-sah saja, dan bahkan sangat menarik: kian menunjukkan kekayaan Al-Qur'an, yang justru menarik dibahas dari berbagai perspektif. 

Namun kembali ke premis awal mengapa tulisan Arden adalah juga tulisan yang bersifat sufistik. Ada hal yang tidak dapat dipungkiri, bahwa Arden, dalam buku ini, juga mengajukan permohonan maaf bahwa apa yang ia tulis bukan berdasarkan pada pemahaman agamanya (yang ia sebut sendiri sebagai dangkal). Tulisannya ini adalah bentuk kecintaannya pada Allah dan ayat-ayatnya. Apa yang mendasari Arden lebih dari sekadar keilmuan, melainkan sebentuk kerinduan yang sangat besar, yang mewujud menjadi sebuah tulisan yang bersahaja dan terbuka terhadap berbagai pendapat, termasuk ketidaksetujuan (terlihat dari bagaimana Arden membuat 10 halaman kosong di bab 5 untuk menampung berbagai makna yang mungkin). Di sinilah sufisirme Arden terasa, yaitu nuansa cinta, rindu, dan sekaligus kekaguman yang luar biasa terhadap kalam Tuhan, yang baginya, merupakan wajah yang dualistik: antara transenden dan imanen, antara dapat dibaca secara literal dan alegoris, dan antara tidak tervisualkan dan tervisualkan. 

Akhirul kata, Visualisasi Kalamullah ini kelihatannya tidak masalah untuk dikonsumsi lebih luas. Hanya saja, di tengah kepungan informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, diperlukan kemasan yang lebih akrab dengan pembaca awam. Soal kemasan, tentu saja, Arden, sebagai pegiat visual, seharusnya lebih paham. 
Continue reading

Wednesday, March 25, 2020

Pandemi dari Sudut Pandang Filsafat

(Ditulis untuk rubrik Opini Pikiran Rakyat, tapi ditolak)

Dalam sejarah peradaban manusia, wabah yang menyerang manusia dalam jumlah banyak semacam pandemi yang sedang kita alami ini tentu bukan yang pertama kali. Misalnya, yang paling terkenal, tentu saja wabah yang menyerang Eropa di abad ke-14, yang diakibatkan oleh bakteri yersinia pestis atau disebut juga dengan pes. Wabah yang berlangsung sekitar tujuh tahun tersebut, membunuh 75 hingga 200 juta orang dan masih dianggap sebagai pandemi terburuk sepanjang sejarah. Pandemi lain, yang muncul dalam dua ratus tahun terakhir, adalah kolera. Pandemi kolera diketahui muncul tujuh kali (salah satunya di Indonesia tahun 1961) dan dianggap masih mengancam hingga hari ini.

Pada setiap wabah yang terjadi, tentu saja setiap manusia berhak menafsirnya dari berbagai sudut pandang. Albert Camus (1913 – 1960), filsuf asal Prancis, menuliskan pemikirannya tentang wabah dalam bukunya berjudul La Peste (1947), yang menggambarkan situasi di Kota Oran yang diserang oleh wabah pes. 

Dalam kondisi ancaman wabah mengerikan tersebut, Camus dapat melihat bagaimana reaksi yang beragam, yang dalam novel digambarkan sebagai berikut: ada yang melihatnya sebagai kutukan Tuhan, ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang rasional – persoalan medis semata -, dan ada juga yang menganggapnya sebagai berkah – karena katanya, sebuah penderitaan, menghindarkan kita dari penderitaan yang lainnya -. 

Camus kemudian mengajukan pertanyaan yang barangkali menantang kita semua: Pada titik di mana manusia ada di bawah situasi yang mematikan seperti wabah, apa yang kira-kira akan kita lakukan? Di sini lah pemikiran Camus tujuh puluh tahun silam dan situasi kita hari ini menemukan hubungannya. Pada situasi semacam ini, insting dasar manusia untuk bertahan hidup kemudian ditampakkan, dengan misalnya, memborong bahan makanan, dan melihat orang lain sebagai ancaman. 

Berdasarkan dua premis di atas yang diambil dari novel La Peste karya Albert Camus tersebut, maka pandemi dalam hal ini, pertama, mencerabut kita untuk sementara dari rutinitas keseharian yang normal dan tertib, untuk kemudian sejenak merenungkan keseluruhan kehidupan. Kedua, kita, di sisi lain, diajak untuk mengenali insting purba yang oleh Thomas Hobbes disinggung sebagai homo homini lupus atau diartikan sebagai “manusia adalah serigala bagi sesamanya”. 

Teodise 

Sebagaimana ditulis oleh Camus di atas, perkembangan virus Corona menimbulkan reaksi juga dari kalangan agamawan. Sebelum virus ini mewabah di Indonesia seperti sekarang ini, ada yang sempat menyebut virus ini sebagai tentara Tuhan untuk menghukum suatu kaum (maksudnya, orang-orang Tiongkok), dan ada juga yang mengatakan bahwa Indonesia tidak mungkin terjangkiti Corona karena banyaknya orang yang berwudhu.

Pernyataan-pernyataan semacam itu menjadi semacam ditantang, ketika fakta yang terjadi justru tidak sesuai. Masalah ini, dalam tradisi filsafat disebut dengan teodise – sebuah istilah yang diangkat pertama kali oleh pemikir asal Jerman, Gottfried Leibniz (1646 – 1716) -.

Pada teodise, dibahas masalah terkait hubungan antara Tuhan yang Maha Sempurna, dengan kenyataan dunia yang serba tidak sempurna. Pertanyaannya, jika Tuhan Maha Sempurna, bagaimana bisa, di dunia ini ada kejahatan dan penderitaan – termasuk juga, wabah -? Mengapa Tuhan, dengan segala kuasanya, tidak menghentikannya? Apalagi, melihat korelasinya dengan contoh di atas, Tuhan ternyata juga membiarkan wabah tersebut menyerang orang-orang beragama.

Terhadap pertanyaan tersebut, berbagai respons diajukan dalam sejarah pemikiran, yang mungkin dapat menjadi acuan dalam bagaimana kita melihat virus Corona ini, dalam kacamata yang lebih filosofis. John Hick (1922 – 2012), teolog asal Inggris, mencoba menjawab hal tersebut dengan mengatakan bahwa pada dasarnya, Tuhan menciptakan dunia ini tanpa kejahatan dan penderitaan. Iblis kemudian masuk ke dunia melalui “dosa asal” Adam dan Hawa. Ini hampir senada dengan pernyataan ulama besar dalam sejarah Islam, yaitu Imam Al-Ghazali (1058 – 1111) yang mengatakan bahwa apa yang diciptakan dan terjadi di dunia, merupakan hal yang sudah demikian sempurna adanya (perfect world).

Tentu tidak ada jawaban yang bisa benar-benar memuaskan kita, terlebih dari bagaimana karakter pertanyaan filosofis memang bukan untuk dijawab secara pasti. Hal yang lebih penting adalah kegiatan mengajukan pertanyaan itu sendiri, yang menimbulkan refleksi dan kesadaran yang lebih mendalam pada cara kita memandang sesuatu.

Bagaimanapun, situasi pandemi adalah situasi yang serba tidak pasti. Kita bahkan juga tidak tahu kapan wabah ini berakhir dan akan berkembang hingga seberapa luas. Selain tetap menjaga kesehatan, kita bisa memilih untuk tetap hidup tenang dan berbahagia, tanpa harus larut dalam ledakan kepanikan.

Camus memberi contoh dengan baik, masih dari novelnya berjudul La Peste. Melalui tokoh dr. Bernard Rieux, Camus mengajak kita untuk mementahkan beragam tafsir yang berseliweran. Di tengah wabah yang mematikan sekaligus membingungkan, ia berpendapat bahwa sikap yang benar adalah menerima dengan lapang dada segala ketidakmampuan manusia untuk memaknai kejadian tersebut, dan mencoba hidup berbahagia saja. Pada akhirnya, virus ini menyadarkan kita, bahwa realitas selalu lebih besar dari pikiran kita, dan bahkan dari tafsir agama sekalipun.

Sampul buku La Peste karya Albert Camus

Continue reading