Tuesday, May 15, 2018

Catatan dari Gerilya Filsafat (1 dan 2 Mei 2018)

Pada tanggal 1 dan 2 Mei kemarin, saya datang ke dua kota secara berurutan yaitu ke Tangerang dan Jakarta. Adapun tujuan kedatangan tersebut adalah terkait keberadaan forum pengkaji filsafat di masing-masing kota: Di Tangerang ada forum Ngobrol Sambil Ngopi yang diselenggarakan di Agano Coffee, sementara itu di Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan, ada forum Diskusi Rabuan yang diinisiasi Gereja Komunitas Anugerah di Diskusi Kopi - Ruang Berbagi. 

Meski berasal dari dua undangan yang berbeda, namun akibat tanggal diskusi yang berdekatan, saya merangkumnya dalam satu kegiatan bernama "Gerilya Filsafat" - terinspirasi oleh Kang Ary Juliyant, musisi, yang menyebut proyek musik kelilingnya dengan istilah "Gerilya Musik" -. Atas gerilya dua hari yang menyenangkan tersebut, saya akan menuangkannya dalam catatan-catatan berikut ini:

Hari Pertama
Waktu: Selasa, 1 Mei 2018
Forum: Ngobrol Sambil Ngopi
Tema: Kita, Cita, dan Kota
Tempat: Agano Coffee, Jalan Daan Mogot no. 17, Kota Tangerang

Tangerang adalah kota yang agak asing bagi saya. Saya tidak pernah betul-betul ingat berapa kali pernah ke Tangerang. Tentu saja, kunjungan yang jarang itu semuanya tidak ada hubungannya dengan kegiatan filsafat. Maka itu agak mengejutkan ketika seorang kawan, Topik Mulyana, mengajak untuk datang ke Tangerang demi sebuah forum filsafat. Pikiran stereotip saya bertanya-tanya dengan kejam: "Mungkinkah di Tangerang, ada filsafat?"

Padahal pertanyaan tersebut, saya sadari, bodoh sekali. Sekitar tiga atau empat tahun silam di Pangkalpinang, saya meletupkan stereotip serupa dan ternyata salah. Ada satu kafe bernama Manifesto yang mana pemiliknya menyimpan buku-buku Sartre dan Nietzsche. Saya diperbolehkan untuk makan minum sepuasnya di sana sebagai bentuk "persahabatan filsafat" yang notabene jarang. 

Baiklah, itu intermezzo saja dan mari kembali ke Tangerang. Di sebuah tempat bernama Agano Coffee, ternyata sudah duduk sekitar lima belas sampai dua puluh orang ketika saya datang. Topik, yang bertindak sebagai moderator, tidak banyak basa-basi untuk langsung membuka forum dan menyengat para peserta untuk merenungkan kota dan segala isinya. 

Setelah itu ia menyerahkan forum pada saya agar memantik mereka lebih lanjut. Premis-premis saya tentang kota mungkin tidak terlalu aneh. Umumnya terkait dengan misalnya, kota memungkinkan warganya menjadi teralienasi oleh tujuan-tujuan yang dirumuskan secara ilusif seperti kesuksesan dan kemajuan; orang-orang kota yang begitu asing antara satu dengan yang lainnya sehingga muncul ungkapan "sendiri di tengah keramaian"; hingga kota yang pandai membuat apa yang profan menjadi sakral (misal: membuat mal menjadi "tempat ibadah") dan sebaliknya, sakral menjadi profan (misal: bioskop yang memutar film horor). Selain itu, kota juga punya ciri lain seperti dekat dengan kekuasaan dan pusat ekonomi, mempunyai ruang publik sebagai upaya meleburkan heterogenitas warga kota, serta lebih "visual" dalam arti artifisial - banyak objek gemerlap yang memanjakan mata -.

Diskusi yang dimulai agak larut (sekitar pukul 20) itu berlangsung hidup dan ramai. Hampir setiap yang hadir dipaksa bicara oleh sang moderator. Pendapat-pendapat bersilangan dan bermuara pada satu hal: Bahwa membicarakan kota, adalah juga membicarakan kapitalisme. Kota adalah uang dan segala penghambaan terhadapnya. Kota adalah surga bagi segala cita-cita - yang tidak peduli apakah kelak dapat dicapai atau tidak -. 

Sejujurnya, saya kagum sekaligus harus dengan forum tersebut. Topik, ketika ditanya mengapa forum ini dimulainya malam sekali, menjawab, "Kebanyakan dari kami harus menunggu jam pulang kantor. Pada jam pulang kantor tersebut, Tangerang akan sangat macet karena kita tahu, ini adalah kota industri. Paling realistis adalah memulai kegiatan pukul delapan." Betapa mereka sangat bersemangat untuk diskusi filsafat, meski forum semacam ini tidak punya tempat dalam konstelasi kapital. Untuk hadir ke diskusi, ada uang yang terbuang untuk bensin, ada tenaga yang terbuang yang harusnya dipakai untuk mencari uang, dan ada waktu yang terbuang yang harusnya dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat secara ekonomi. Hanya ada yang tidak dimengerti oleh kapitalisme dan antek-anteknya, bahwa manusia juga perlu menjalani hal-hal yang absurd dan "tidak berguna", dalam bentuk renungan dan refleksi tentang apakah hidup ini layak dijalani atau tidak. 

Saya pulang ketika jam sudah lewat pukul sepuluh. Harusnya saya menutup diskusi dengan permainan gitar klasik, tapi apa daya senar putus di tengah jalan. Mungkin oleh cuaca panas.

Hari Kedua 
Waktu: Rabu, 2 Mei 2018
Forum: Diskusi Rabuan
Tema: Kritik atas Mazhab Frankfurt
Tempat: Diskusi Kopi - Ruang Berbagi, Jalan Halimun Raya no. 11B, Setiabudi, Jakarta Selatan

Diskusi Rabuan yang diinisiasi oleh Gereja Komunitas Anugerah bukan forum yang asing bagi saya. Ini tahun ketiga saya terlibat, setelah sebelumnya mengisi di Thamrin Residence tentang filsafat Albert Camus (2016) dan di Kedai Tempo membahas hubungan Islam - Kristen di Indonesia dengan pendekatan fenomenologi agama (2017). Pada kesempatan ini, kawan baik saya, Suar Budaya, mengajak untuk mendiskusikan tentang kritik atas mazhab Frankfurt. Tentu saja, ini agak sulit karena kita tahu, mazhab Frankfurt adalah kelompok neo-marxisme yang justru lekat dengan predikat kritikus. Bagaimana agar kita bisa mengritik para pengritik?

Bertempat di Diskusi Kopi - Ruang Berbagi, Diskusi Rabuan kemarin dihadiri sekitar lima belas orang. Kata Suar, biasanya yang datang lebih banyak dari ini. Tapi berhubung hari sebelumnya mereka turun ke jalan untuk jadi bagian dari May Day, maka beberapa diantara mereka kemudian terlalu kelelahan untuk hadir ke Diskusi Rabuan. Diskusi tetap berjalan dengan direkam agar dapat ditayangkan secara langsung di saluran Facebook. 

Pada kesempatan ini, saya mencoba menyajikan satu pengalaman konkrit terkait kepanitiaan di festival kesenian kota bernama Seni Bandung #1. Apa relevansinya? Festival tersebut mengusung ide estetika partisipatoris yang membuat seniman tidak lagi menjadi kreator tapi lebih ke arah organisator sehingga karya yang dihasilkan kemudian menjadi karya bersama antara seniman dan juga publik atau partisipan. Rupanya, konsep partisipatoris (dan penyelenggaraan festival kota itu sendiri) mendapat kritik cukup keras dari sejumlah kelompok dan aktivis yang notabene menggunakan argumen marxisme dan neo-marxisme. Secara spesifik, kritik itu misalnya terkait dengan kecurigaan bahwa pemerintah, melalui para seniman yang ditunjuk jadi panitia, kemudian menjadi Ideological State Apparatuses (ISA) seperti yang dikatakan Louis Althusser. Acara festival ini, menurut kritik tersebut, adalah upaya pemerintah Kota Bandung untuk mengaburkan penggusuran yang waktu itu tengah marak terjadi, untuk diselubungkan atas nama estetika. 

Kritik tersebut kemudian direalisasikan dalam sebuah forum yang digelar di sebuah galeri seni rupa. Jawaban-jawaban saya terhadap kritik tersebut yang kemudian jadi bahan pemaparan di Diskusi Rabuan kemarin karena saya anggap itu, sedikit banyak, merupakan bentuk kritik terhadap marxisme dan juga neo-marxisme juga. Kritik itu antara lain adalah sebagai berikut: Marxisme ataupun neo-marxisme terlalu melihat segala sesuatu terpolarisasi, padahal ada jalinan rumit diantara borjuis itu sendiri, plus proletar itu juga; adanya reduksionis berlebihan bahwa segala sesuatunya "tidak lebih daripada" (dampaknya, fenomen A selalu dilihat tidak lebih daripada fenomen B dengan tidak melihat fenomen sebagai apa adanya ia); dan dalam konteks seni, terlalu melakukan simplifikasi dalam melihat mana seni untuk seni (art for art) dan seni untuk rakyat (dalam terminologi kiri biasa disebut dengan aliran realisme sosialis - meski tidak semua seni untuk rakyat dapat dikatakan sebagai realisme sosialis-).

Seperti biasanya, Diskusi Rabuan memang lebih memeras otak dan keringat karena pembicaraan dilakukan dengan term filsafat yang cukup ketat. Nama-nama seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, hingga Jurgen Habermas berseliweran dalam pembahasan. Berbeda dengan forum filsafat di Tangerang, Diskusi Rabuan memang, dalam pandangan saya, cukup ingin membawa filsafat dalam konteks yang lebih "kanonik" dalam arti menempatkan term pemikiran dan ketokohan, berdasarkan teks yang cukup ketat. Diskusi Rabuan ingin menekankan tidak sekadar "diskusi yang filosofis", tapi juga diskusi dengan melihat filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu juga. 

Sesi Diskusi Rabuan ditutup seperti biasa, dengan foto bersama. Berakhirlah dua hari gerilya filsafat ini. Rupanya demikian adanya, bahwa di kota, dengan segala kepenatannya, masih ada segelintir orang yang mau menyelamatkan akal sehat, dengan cara berfilsafat. Mereka mau untuk sejenak mengambil jarak dari keseharian untuk memeriksa ulang baik hidupnya sendiri maupun kehidupan secara keseluruhan. 



Continue reading

Thursday, April 12, 2018

Teks Musik: Suatu Pengantar

Ditulis sebagai Suplemen "Workshop Penulisan Musik" di Jendela Ide, Sabuga, 20 April 2018 


Mendefinisikan Musik 

Sebelum membahas literasi ataupun penulisan musik, agaknya tidak berlebihan jika kita membahas hal paling mendasar yaitu: apa itu musik? Kita bisa pertama-tama menyepakati hal ini: pada dasarnya, segala sesuatu dalam alam semesta ini bergerak dalam ritmik (orang berjalan, gerak awan, ikan berenang, dan sebagainya). Segala sesuatu juga punya keselarasan atau harmoni dengan lainnya, misalnya: matahari pagi dengan bangun manusia dari tidurnya, kehidupan ikan dan ekosistem di sekitarnya, dan sebagainya. Selain itu, melodi juga dapat kita dengar di alam semesta ini: cuitan burung, bunyi deru knalpot, sampai ke senandung orang di kamar mandi. Sebuah buku tahun 1963 berjudul ABC of Music karya Imogen Holst kira-kira merangkum seluruh deskripsi tersebut dan mendefinisikan musik sebagai "gabungan antara melodi, harmoni, dan ritmik". 

Apakah sudah selesai pendefinisian kita tentang musik? Pada perkembangannya, definisi musik ternyata lebih kompleks dari itu. John Cage, komposer Amerika Serikat awal abad ke-20, menyebutkan bahwa segala bunyi pada dasarnya bisa jadi musik. Artinya, mengacu pada paragraf di atas, maka dalam definisi Cage, deru knalpot saja bisa jadi musik, langkah kaki manusia saja bisa jadi musik, dan cuitan burung saja bisa jadi musik - bahkan, dalam karya Cage berjudul 4'33", diam saja bisa jadi musik -. 

Jika demikian, apa yang membedakan musik dengan bukan musik? Ini mulai rumit. Artinya, tukang nasi goreng yang memukuli ketelnya secara ritmis bisa disebut seorang musisi atau malah komposer? Artinya, suara air ketika dituangkan dari ceret ke gelas, dengan sendirinya adalah musik? 

Edgard Varése, komposer modern lain, mencoba mencari jalan tengah dengan mengatakan bahwa musik adalah "bunyi yang diorganisasikan". Dengan demikian, definisi Varése tersebut mencoba memisahkan antara "bunyi yang diorganisasikan" dengan "bunyi yang tidak diorganisasikan" atau diistilahkan dengan "noise". 

Belum habis. Kita akan bertanya lebih lanjut: lantas, bagaimana "bunyi yang diorganisasikan" itu? Apa batas terorganisasi dengan tidak? Bukankah tukang nasi goreng juga punya "kesadaran ritmis" ketika ia memukul ketel? Akan lebih rumit jika kita tahu bahwa berkembang juga belakangan ini genre yang terdengar mengandung contradictio in terminis yaitu "noise music". Luciano Berio, komposer Italia, kemudian tidak mau ambil pusing. Ia bergerak ke arah pendengar. Katanya: musik adalah apapun yang ingin kamu dengar sebagai musik. 

Jika kita setuju dengan Berio, maka mungkin kita bisa bergerak ke arah seberangnya: musik adalah apapun yang diinginkan musisi atau komposer sebagai musik. Tukang nasi goreng mencipta musik, tapi mungkin ia tidak dalam kesadaran penuh ketika melakukannya. Intensinya lebih ke arah memanggil pembeli, alih-alih membuat suatu komposisi. Mungkin kita bisa akhiri (atau angggap saja untuk sementara berakhir) pada definisi bahwa musik adalah tergantung niat atau intensinya, baik dari arah pendengar maupun produsen bunyi. 

Teks Musik

Demikian sulitnya kita mendefinisikan musik, justru menjadi alasan mengapa literasi dan penulisan musik berkembang. Musik, karena sifatnya yang "abstrak dan dalam", seringkali menimbulkan dorongan untuk diartikulasikan dalam bentuk teks, agar lebih "konkrit dan permukaan". Tentu saja, teks bukan musik itu sendiri. Tapi teks dapat banyak membantu kita untuk memahami kedalaman musik. 

Terkait teks ini, kita bisa mencoba memilah berbagai jenis teks penulisan musik. Pembagian ini sangat mungkin keliru ataupun sempit, karena teks penulisan musik benar-benar nyaris tidak punya batas: 

1. Penulisan notasi 
Penulisan notasi mungkin merupakan bentuk penulisan musik dalam arti yang paling harafiah. Penulisan ini bisa dalam bentuk not balok, not angka, atau sistem apapun yang kira-kira membuat musik, yang sejatinya merupakan pengalaman yang sifatnya "momentum" (tidak seperti seni rupa atau seni patung yang dibuat dalam wujud yang diintensikan untuk abadi) menjadi terdokumentasikan dan dapat diwariskan dari masa ke masa. Selain pendokumentasian, penulisan notasi juga dapat berupa komposisi (penciptaan karya) ataupun aransemen (penggubahan karya). Apapun itu, intinya agar teks yang ditulis, dapat dibunyikan kembali menjadi musik. 

2. Penulisan musikologi 
Bentuk penulisan ini mensyaratkan pengetahuan tentang musik secara "an sich". Maksudnya, bentuk penulisan ini agaknya sekurang-kurangnya mesti punya bekal sejumlah terminologi dan secara umum, disiplin yang khusus mengenai musik sebagai sebuah ilmu. Penulisan ini, sekurang-kurangnya, mesti berbicara musik dari ranah dirinya sendiri. Misalnya: Penulisan tentang bagian tema Donna Lee karya Charlie Parker, penulisan tentang pergerakan akor Watermelon in Easter Hay karya Frank Zappa dan sebagainya. Namun musikologi juga dapat berkembang menjadi tulisan sejarah ataupun sosial budaya, seperti misalnya buku Dangdut Stories yang ditulis oleh musikolog asal Pittsburgh, Andrew Weintraub. Perbedaannya, sebagai musikolog (tepatnya etnomusikolog), Weintraub tetap mengambil titik analisisnya dari musik itu sendiri (instrumentasi, struktur kalimat, progresi, harmoni, dan sebagainya) sebelum meluas membicarakan hal-hal lain. Musikologi sebenarnya bidang yang sangat luas. Kata kuncinya mungkin ada pada riset. Agaknya, setiap penulisan musik, jika disertai riset yang mendalam, dengan sendirinya bisa dikatakan sebagai penulisan musikologi. Termasuk misalnya, menulis tentang sejarah gitar dari masa ke masa, atau sejarah perkembangan musik blues. 

3. Penulisan kritis 
Penulisan kritis biasanya mengaitkan musik dengan aspek-aspek yang lebih luas di luar dirinya sendiri. Misalnya, menulis tentang bagaimana kondisi gedung pertunjukkan hari ini di Bandung, kondisi musik di Indonesia sejak meninggalnya Denny Sakrie, ataupun pengaruh musik nasyid bagi generasi muda. Penulis kritis biasanya memosisikan diri sebagai orang yang memandang fenomena dari kejauhan. Dengan demikian, menjadi mudah bagi dirinya untuk mengaitkan musik tersebut dengan aspek-aspek seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. 

4. Penulisan kuratorial 
Penulisan kuratorial ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai "bingkai intelektual" untuk membantu publik memahami musik. Dalam penulisan kuratorial, biasanya ada unsur pleidoi ataupun pertanggungjawaban terhadap musik yang ditulis. Misalnya, terkait dengan acara festival musik akustik, maka para kurator mengumumkan pada publik mengapa band A, B, dan C yang dipilih melalui sebuah tulisan. Bentuknya, misalnya: "Nissan Fortz ambil bagian dalam festival ini karena konsistensinya yang luar biasa sejak empat atau lima tahun terakhir ini. Ia bermain dengan eksploratif dan tidak kenal takut untuk usianya yang relatif masih muda". Kita juga bisa membaca ini, meski jarang, di bagian kata pengantar buku program musik klasik. Ada semacam pertanggungjawaban tentang mengapa ia konser, apa yang akan dimainkan, dan sebagainya (bisa ditulis orang lain ataupun dirinya sendiri). Meski demikian, bentuk tulisan semacam ini agaknya masih belum umum atau setidaknya, belum banyak tersosialisasikan, kecuali dalam pertunjukan musik yang lebih bersifat kontemporer ataupun "serius". 

5. Penulisan jurnalistik 
Penulisan musik semacam ini memang sekilas tampak seperti peliputan biasa. Kita nampaknya sudah sering membaca liputan konser artis ini, wawancara dengan artis itu, dan sebagainya. Tapi penulisan jurnalistik tertentu kadang juga bersifat feature sehingga punya aspek-aspek yang tidak luntur oleh waktu. Pada titik itu, antara penulisan kritis dan penulisan jurnalistik menjadi agak sulit untuk dibedakan. 

6. Penulisan Multidisiplin 
Bagian ini sebenarnya ditambahkan dalam rangka mencoba mengategorisasi penulisan musik yang kian rumit dan berkembang. Setiap bidang keilmuan, pada dasarnya, sah-sah saja untuk turut bersinggungan dengan wilayah musik. Dengan adanya musik terapi misalnya, musik menjadi bisa dipandang dari ilmu psikologi dan ilmu medis secara umum. Ilmu antropologi juga bisa serius membicarakan musik, seperti halnya Sam Dunn yang meneliti musik metal ke seluruh dunia dengan kacamata keilmuannya. Belum lagi jika kita bicara musik sebagai seni pertunjukan, sehingga pada ranah itu aspek-aspek ilmu komunikasi dan fenomenologi mulai masuk. Ilmu sejarah bahkan bisa masuk, untuk memetakan periodisasi musik dan juga menulis biografi musisi atau kelompok musik. Belum lagi, ilmu sastra kemudian bisa bergabung jika mulai membicarakan lirik. Apakah matematika, ilmu fisika, hingga ilmu manajemen bisa membicarakan musik? Tentu saja. Dalam level riset yang mendalam, hal-hal terkait disiplin yang beragam itu pada akhirnya bisa dilebur bersama musikologi dan membentuk berbagai kemungkinan baru yang menarik.

Dapat dipastikan, di luar tulisan ini, ada banyak jenis penulisan lain yang belum terdeskripsikan. Kita boleh memilih mau menjadi penulis seperti apa, untuk setidaknya membuat musik menjadi tidak hanya momentum, tapi juga penggerak bagi peradaban.
Continue reading

Saturday, April 7, 2018

Membaca (Kembali) Media Baru dan Sangkut Pautnya dengan Etika

Ditulis untuk kegiatan diskusi Moro Referensi di UNISBA, 9 April 2018.





Masifnya perkembangan media baru (new media) dalam satu hingga dua dekade belakangan ini, telah membuat ketergantungan baru bagi kehidupan manusia kontemporer. Demikian tergantungnya, hingga sudah menjadi semacam kebutuhan primer (anak “zaman now” pernah mengibaratkan kebutuhan itu dalam ekspresi “sandang, pangan, colokan” alih-alih ekspresi lama yaitu “sandang, pangan, papan” - menunjukkan bahwa keterhubungan daring lebih penting dari mempunyai tempat tinggal -). 

Demikian tergantungnya, hingga masyarakat hari ini menganggapnya sebagai apa yang dikatakan Martin Heidegger sebagai “perpanjangan tubuh” kita sendiri. Misalnya, Kita sudah menganggap media sosial sebagai dunia sosial kita yang hakiki, kita sudah menganggap obrolan melalui Whatsapp sebagai obrolan yang hakiki, kita sudah menganggap menyaksikan representasi pertunjukan via Youtube adalah pengalaman menghadiri live performance secara hakiki. 

Mungkin perasaan-perasaan itu ada benarnya dan menunjukkan suatu fenomena kontemporer yang tak terbantahkan. Namun ada baiknya juga untuk sejenak mengambil jarak dari apa yang sudah terlanjur mundan ini, agar persoalan media baru dapat kembali terpetakan. 

Berikut adalah butir-butir yang dapat penulis sampaikan terkait pembacaan terhadap fenomena media baru. Butir-butir ini merupakan kombinasi dari pengalaman konkrit dan juga abstraksi pemikiran atas apa yang terjadi hari-hari ini: 

1.Youtuber dan “Monetisasi Moral” 

Seiring dengan berkembangnya media baru, telah muncul juga “cita-cita baru” seperti menjadi youtuber atau orang yang menjadi populer dan mempunyai uang dari mengisi konten di Youtube. Di Indonesia, kita bisa menemukan contoh terbaiknya pada sosok Awkarin, Anya Geraldine, dan Younglex yang mencapai popularitasnya lewat konten di Youtube dan Instagram. Persoalannya, Awkarin, Anya Geraldine, dan Younglex mendapat viewers yang banyak tidak melulu lewat konten yang positif dalam ukuran moral masyarakat “kebanyakan” - terutama di Indonesia -. Tiga orang tersebut mencitrakan diri sebagai remaja “apa adanya” yang kemudian mencitrakan diri dalam kebebasan bertindak berupa keterbukaan terhadap seks bebas dan umpatan kasar. 

Ada sejumlah karya musik yang mereka hasilkan (terutama untuk Awkarin dan Young Lex) tapi kira-kira dengan produksi dan kualitas seadanya. Namun hal-hal terkait proses serta luaran tidak terlalu jadi bahan pertimbangan bagi mereka-mereka ini. Hal yang lebih penting adalah total jumlah viewers yang kemudian dapat dimonetisasi - dan ini tidak ada kaitannya dengan jumlah dislike yang lebih besar dari like -. Dapat dikatakan bahwa para youtuber tersebut mendapat puluhan juta (bukan per bulan, konon, per hari!) melalui hal-hal yang sifatnya sensasional, menarik perhatian, dan malah mengundang hujatan. Dalam bahasa yang lebih pragmatik, mereka sukses mengonversi hujatan menjadi uang. 

Pertanyaan: Masih adakah moral baik - buruk yang relevan dalam konteks monetisasi via media sosial? Atau segala sesuatunya akhirnya diukur secara pragmatik saja lewat seberapa besar uang yang bisa diraup lewat jumlah viewers? Tidak adakah semacam upaya untuk mengatur konten agar setidaknya jumlah viewers diperoleh secara “halal”? Atau konten yang “baik” akan selamanya tidak menarik jumlah penonton? 

Dalam bulan-bulan belakangan ini, popularitas Awkarin mulai menarik merk-merk besar untuk dipromosikan. Kemudian terjadi perubahan serius dalam konten media sosial miliknya terutama di instagram. Awkarin menjadi lebih santun dan menjaga sekali sikapnya (berbeda sekali dari tahun-tahun sebelumnya). Hal tersebut diduga disebabkan oleh menempelnya ia dengan merk besar sehingga harus mencitrakan diri secara lebih baik dan tidak demikian bertentangan dengan moral umumnya masyarakat. Apa artinya konten kemudian bisa ditertibkan lewat monetisasi yang lain? 

2.Whatsapp dan Dunia Akademik 

Whatsapp menjadi media percakapan yang cukup marak dalam tiga sampai lima tahun belakangan ini menggantikan era SMS yang juga sempat merajai komunikasi ponsel. Dalam dunia akademik, komunikasi dosen dan mahasiswa melalui Whatsapp menjadi tidak terhindarkan. Komunikasi dengan menggunakan teks, bagaimanapun, kerap menimbulkan tafsir hermeneutik yang beragam. Maka itu, di sebuah kampus, terdapat standing banner yang berisi tentang “etika mengirimkan Whatsapp pada dosen (bagi mahasiswa)” yang fotonya cukup menjadi viral. Beberapa butir dalam banner tersebut antara lain adalah sebagai berikut: ucapkan salam pembuka, ingat waktu dalam mengirim pesan, ucapkan terima kasih, perkenalkan diri kembali, jangan menyingkat kata, dan sebagainya. Akibat keviralan foto tersebut, berbagai reaksi kemudian timbul (terutama di kalangan dosen). Ada yang menganggap hal demikian bagus sekali untuk menjaga kesopanan namun ada juga yang melihat hal tersebut sebagai bentuk “feodalisme digital”. 

Pertanyaan: Jika ditarik ke wilayah yang lebih abstrak, apakah benar etika semacam itu diperlukan dalam menjaga hubungan sosial dalam konteks digital? Apakah pengaturan dalam dunia digital artinya bertentangan dengan prinsip dunia digital itu sendiri yang konon lebih terbuka, egaliter, dan bahkan anonim? Kembali ke konteks akademik di atas, bagaimana jika mahasiswa kemudian menerapkan secara seragam etika tersebut? Tidakkah hubungan sosial kemudian malah menjadi kaku dan menghindarkan hubungan dosen dan mahasiswa dari perkenalan yang lebih natural? Tapi bagaimana jika etika tidak diatur sama sekali, apakah secara “anarki” akan terbentuk etika secara mandiri yang disuling dari dinamika dunia digital itu sendiri? 

3.Instagram dan Kreasi Konten 

Instagram menjadi salah satu media sosial yang digemari belakangan ini. Alasannya mungkin karena fokusnya yang langsung pada visual (baca: foto dan video) sehingga dengan mudah memeroleh atensi. Belakangan pengguna instagram kian menunjukkan kreativitasnya misalnya dengan fitur grids (berbagai foto kecil disambung menjadi besar), pemanfaatan video satu menit dengan berbagai konten yang disesuaikan, sampai fitur instastory untuk kegiatan promosi hingga bisnis. 

Pertanyaan: Apakah para penemu dan tim pengembang Instagram sudah memikirkan tentang kreativitas tersebut atau hal-hal berikut murni merupakan kreasi para pengguna? 

Jika ternyata yang kedua, maka betapa menarik bagaimana para pengguna dapat melakukan sesuatu melebihi dari fungsi yang ditentukan oleh para kreator. Ini menunjukan bahwa ekspresi dari para pengguna pada dasarnya tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat yang disediakan oleh fitur dalam media sosial itu sendiri. Sebagai contoh, pada Twitter yang sudah membatasi diri pada 140 karakter, ternyata terdapat sejumlah pengguna yang dengan kreatif menyampaikan ide melalui “kultwit” atau “kuliah Twitter”. Dengan demikian, Twitter yang semestinya hanya untuk ungkapan-ungkapan singkat, menjadi dapat digunakan untuk ide-ide panjang. 

Sempat terdapat perdebatan kecil apakah hal demikian tersebut dibolehkan atau tidak. Ada kubu yang mengatakan bahwa seyogianya setiap media sosial sudah mempunyai peruntukannya sendiri, misal: Twitter untuk ungkapan singkat, Instagram untuk gambar-gambar, E-mail untuk konten yang agak serius, Blog untuk catatan panjang, dan sebagainya. Namun ada juga kubu yang mengatakan bahwa sekat-sekat itu sama sekali tidak ada. Justru hal yang menarik adalah seluruh media sosial bisa saling tukar peruntukkan secara bebas tanpa ada keharusan. 

4. Fenomena Start-Up 

Penulis sempat mencari apa padanan start-up dalam bahasa Indonesia. Ternyata, tidak bisa begitu saja diterjemahkan dengan kata wirausaha. Start-up berbeda dengan “wirausaha biasa” karena melekat di dalamnya sejumlah stereotip yang terkait dengan fenomena kontemporer. Misalnya, start-up terkait dengan jumlah orang yang sedikit, generasi cenderung dari kalangan milenial, gaya berpakaian yang santai, jam kerja yang fleksibel, modal yang relatif kecil, kantor yang fleksibel dengan dekorasi yang lebih berwarna hingga pola organisasi yang cenderung egaliter. Selain itu, yang paling menjadi kunci adalah kenyataan bahwa start-up umumnya beririsan dengan dunia digital. 

Pertanyaan: Apakah digitalisasi hanya sebatas pergeseran dalam teknologi, atau bahkan lebih daripada itu, juga pergeseran dalam hal kebudayaan sampai ke pandangan dunia (world view)? Benarkah digitalisasi telah menciptakan suatu etika-etika baru dalam bisnis sehingga terjadi diferensiasi serius antara bisnis konvensional dan start-up

5. Tiongkok dan Tembok Besar Digital 

Penulis pernah berkunjung ke Guangzhou, Tiongkok pada akhir tahun 2016 dalam rangka kegiatan seni rupa. Pada kedatangan tersebut, penulis sadar bahwa di Tiongkok, Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, Line, dan Google (termasuk Gmail dan Gmap) sama sekali tidak bisa diakses. Begitu sulitnya diakses hingga pertahanan sistem TIongkok dijuluki dengan “The Great Firewall of China”. Namun apakah masyarakatnya menjadi sengsara oleh sebab ketidakmampuan mengakses segala itu? Tidak juga dan bahkan terlihat lebih maju dari masyarakat kita secara umum - setidaknya dari segi ekonomi -. 

Pemerintah Tiongkok sendiri menyediakan sejumlah fitur pengganti seperti Baidu untuk menggantikan Google dan WeChat untuk menggantikan Line. Masyarakat Tiongkok - setidaknya dari yang penulis temui - tampak puas-puas saja dengan aplikasi-aplikasi tersebut dan tidak terlalu kelihatan upaya untuk mencari celah agar bisa mengakses Instagram, Twitter, dan lain-lain. Intinya, kebebasan akses digital dan media baru di Tiongkok jauh di bawah negara kita. Tapi bagaimana kita melihat hasil akhirnya? Tentunya ada perbedaan yang kelihatan jelas oleh mata dari segi pembangunan ekonomi maupun pembangunan manusia. 

Pertanyaannya: Apakah akses digital dan media baru yang terlampau terbuka seperti di Indonesia justru akan menciptakan komparasi tiada henti dan malah menimbulkan dampak inferioritas? Sebaliknya, apakah akses digital dan media baru yang tertutup seperti di Tiongkok justru mampu membuat masyarakatnya fokus saja dalam berkontribusi secara internal? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut juga bisa jadi membawa kita pada renungan tentang muatan informasi yang berlebihan bisa jadi malah membuat penerimanya tidak mampu memutuskan apa-apa secara krusial. Berkaca dari kasus Tiongkok, pelbagai hakikat tentang media baru dapat kita pertanyakan ulang terutama terkait dengan etika dan kebebasan.
Continue reading

Sunday, February 25, 2018

Jumat Apresiasi Musik: Bereksplorasi Bersama Tesla Manaf


Pada hari Jumat, 16 Februari itu, saya diminta oleh Kang Djaelani untuk mengisi forum bernama Jurasik atau Jumat Apresiasi Musik. Acara yang katanya diadakan setiap bulan di minggu ketiga tersebut diadakan di Jendela Ide, Sasana Budaya Ganesha. Secara umum, Jurasik merupakan forum yang menampilkan berbagai musisi atau kelompok musik untuk kemudian diapresiasi sekaligus ditanggapi. 

Pada Jurasik kemarin itu, yang tampil adalah musisi yang lebih dikenal sebagai gitaris jazz, Tesla Manaf. Acara dimulai cukup ngaret karena seperti biasa, menunggu lebih banyak audiens untuk hadir. Setelah acara dibuka oleh Kang Djaelani selaku inisiator dan juga salah satu penanggap, Tesla langsung tampil memainkan bebunyian, berduet dengan pemain drum Rio Abror. 

Iya, Tesla tidak bermain gitar. Ia memainkan seperangkat alat yang menghasilkan bunyi-bunyi yang jauh dari kenyamanan. Kita bisa katakan, Tesla tengah memainkan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Dari seperangkat alat yang diletakkan di atas meja tersebut, Tesla mengotak-atiknya seperti seorang Disc Jockey. Namun bukan musik diskotek yang muncul, melainkan ragam bunyi raungan, tangisan, jeritan, dentuman, erangan, desahan, dan macam-macam lainnya. Suara-suara tersebut kemudian ditingkahi oleh permainan drum Rio Abror yang begitu responsif terhadap berbagai kejutan yang muncul. 

Dari pengakuannya sendiri, kita tahu, memang dia sedang memasuki tahap ekplorasi terhadap bebunyian. “Di kepala saya ini penuh dengan suara, dan gitar tidak cukup untuk menyalurkannya. Maka itu saya berusaha mengumpulkan alat-alat ini, demi menghasilkan bunyi yang lebih sesuai keinginan,” ucapnya. 

Tesla, yang saya pribadi kenal dari sekitar dua belas tahun silam, memang tidak pernah merasa nyaman dengan keadaan. Memulai karir sebagai gitaris klasik, Tesla kemudian merambah musik jazz. Namun jazz yang ia presentasikan bukan jazz yang standar, umum, dan bertendensi menghibur (catatan: sebagai barometer, sependek pengetahuan saya, Tesla tidak pernah menerima tawaran main di kawinan atau kafe). Jazz yang ia hadirkan acapkali mengacu pada sikap Methenian yang amat luas, eksploratif, dan tidak tabu dengan persilangan berbagai kemungkinan. 

Itu sebabnya, ketika ia tiba-tiba meletakkan gitarnya dan bermain dengan alat-alat yang “aneh”, saya pribadi tidak kaget. Itu memang sudah sikapnya dari dulu, untuk “konsisten di inkonsistensi”. Tentu saja inkonsistensi di sini tidak bersifat peyoratif. Inkonsistensi Tesla adalah terkait dengan medium dan eksplorasi yang berupaya jujur dengan perkembangan jiwa maupun pendengarannya. Sikap semacam ini bisa dituding “tidak jelas” pada mereka yang hanya mampu bersikap sinis. Tapi diam-diam di kedalaman batinnya, ada sebersit rasa iri pada setiap seniman yang teguh pada idealismenya.
Continue reading

Sunday, February 4, 2018

Definisi Seni yang Kubaca dan Kudengar

Definisi Seni yang Kubaca dan Kudengar

Kata manusia yang tinggal di gua, seni adalah gambaran dan harapan tentang cuaca dan hewan buruan.

Kata dramawan Yunani, seni adalah ketika orang kaya memainkan tragedi, dan orang miskin memainkan komedi.

Kata Plato, seni adalah ekspresi yang diturunkan dari dunia ide, tempat kita pernah hidup, sebelum lahir ke alam eksistensi ini.

Kata Aristoteles, seni adalah segala yang simetris, yang bentuk-bentuknya bisa diukur secara matematis.

Kata orang-orang Persia, seni adalah cara untuk mengagungkan kekuasaan sang raja.

Kata peradaban Islam, seni adalah kerendahan hati agar ciptaanmu tidak menandingi ciptaan-Nya.

Kata Gian Lorenzo Bernini, seni adalah bagaimana kamu bisa memuaskan selera keluarga Medici.

Kata Immanuel Kant, seni adalah segala sesuatu yang tidak punya fungsi dan kepentingan.

Kata Arthur Schopenhauer, seni adalah cara untuk menyadari, bahwa eksistensi manusia adalah begitu menyedihkan.

Kata Friedrich Nietzsche, seni adalah gejolak Dyonisian, yang dalam mabuknya itu, manusia menemukan kedalaman.

Kata Martin Heidegger, seni adalah kegelisahan manusia yang takut akan mati.

Kata Joseph Goebbels, seni adalah propaganda agar bangsa Aria semakin bangga akan dirinya.

Kata Vladimir Lenin, seni adalah sesuatu yang harus kita arahkan kepentingannya pada rakyat, dan tidak malah menjadi ilusi bagi kesadaran mereka.

Kata Andrei Zdhanov, seni adalah glorifikasi bagi ideologi. Pemujaan terhadap komunisme yang pasti akan jaya.

Kata Pablo Picasso, seni adalah segala yang tertanam pada diri anak-anak, sebelum hilang pelan-pelan ketika masuk fase kedewasaan.

Kata Vincent Van Gogh, seni itu barang tidak laku. Bikin frustrasi sampai harus potong kuping sendiri.

Kata Jean Michel Basquiat, seni adalah ketika Andy Warhol mengatakan itu adalah seni.

Kata Andy Warhol, seni bisa jadi adalah makanan kalengmu sendiri

Kata Museum Louvre, seni adalah Monalisa yang dipajang, yang membuatmu merasa terhormat berdiri di depannya.

Kata Oscar Wilde, bukan seni yang mengimitasi hidup, tapi hiduplah yang mengimitasi seni.

Kata Marcel Duchamp, seni adalah apapun yang dipajang di galeri, termasuk tempat kencingmu sendiri.

Kata Bertolt Brecht, seni tidak mungkin terjadi, tanpa sebelumnya kenyang oleh roti.

Kata Augusto Boal, seni adalah forum tempat rakyat menyuarakan pendapatnya.

Kata Jackson Pollock, seni adalah coretan ngasal yang harganya bisa bermiliar-miliar.

Kata Arthur Danto, seni sudah mati.

Kata pelukis Mooi Indie, seni adalah kemolekan alam nusantara, untuk kita jual itu pada pihak kolonial.

Kata Sudjojono, seni adalah jiwa kethok.

Kata Fabianus Heatubun, seni adalah produk seniman yang posisinya dalam masyarakat adalah selayaknya begawan.

Kata Arief Yudi, seni adalah partisipasi warga Jatiwangi, yang jikapun partisipasi ini menjadi masalah, maka ia tinggal pulang ke rumah ibunya sendiri.

Kata Mohamad Sonjaya, seni adalah cara untuk menghaluskan perasaan.

Kata Tisna Sanjaya, seni adalah doa.

Kata tim sukses pilwalkot, seni adalah bagaimana membuat warga ingat wajah dan nomor mana yang harus dicoblos di kemudian hari.

Kata Jalu Rohanda, seni adalah bukan main di televisi di acara Uya Kuya.

Kata Opik Bape, seni adalah segala harmoni yang ditimbulkan dari keakraban di Ruang Putih.

Kata Dwi Cahya Yuniman, seni adalah jazz.

Kata Yampan, pegawai di rumah, seni adalah membantu Bapak mengerjakan karya.

Kata Bapakku, seni adalah tai.

Tapi tanpa tai, manusia tidak dapat hidup.

Continue reading

Friday, January 26, 2018

Mengapresiasi Mercusuar Merah: Ikhtiar akan Teater Perubahan




Di sebuah acara bernama Malam Ide yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan Prancis di Bandung, saya dengan semangat mengundang Mercusuar Merah untuk mengisi salah satu mata acara dengan menampilkan teater. Teaternya seperti apa, saya tidak benar-benar tahu. Saya hanya kenal baik sosok di baliknya: Mohamad Chandra Irfan, pribadi yang progresif, revolusioner, dan kritis terhadap bentuk-bentuk teater yang terlampau konvensional. 

Lalu saya, kami semua, pengunjung Malam Ide, benar-benar menantikan apa yang akan ditampilkan Chandra dan kawan-kawan. Properti mereka sederhana sekali: hanya kursi-kursi yang memang sudah ada, baju-baju yang digantung, serta mikrofon. Lalu lagu berjudul Internationale diputar pertanda pertunjukan dimulai. Para pemain tidak langsung tampil di atas panggung. Mereka menyalami semua hadirin dulu dengan berkeliling seperti sedang halal bi halal. 

Chandra kemudian mengendalikan mikrofon. Ia bicara tidak dengan dramatisasi vokal yang biasa kita temukan dalam teater umumnya. Ia bicara biasa saja seperti moderator seminar dan memanggil beberapa orang untuk bicara. Yang pertama ada anak berpakaian SMA yang bicara tentang bagaimana ia direpresi di sekolahnya yang diajar oleh para tentara. Yang kedua ada orang yang pernah dipukul oleh ormas intoleran. Lalu yang ketiga, ada orang yang berbicara lucu dengan logat Sunda. Sayang, saya tidak bisa menangkap isu apa yang dia bawa. 

Tiba-tiba maju ke depan sosok perempuan. Ia memimpin senam aerobik! Para hadirin mengikuti gerakannya dengan antusias sekaligus bertanya-tanya, "Ini kok jadi senam?" Setelah senam, suasana menjadi kembali seperti forum seminar. Chandra berusaha mengajak orang-orang untuk bertanya, namun hanya satu yang merespon. 

Pertanyaan besarnya: Sebelah mana teaternya? Aktornya tampak tidak terlatih, suasananya tidak dramatik, dan latarnya tidak estetik. Namun pertanyaan "sebelah mana teaternya?" hanyalah dimungkinkan jika teater itu dikotakkan pada teater Stanislavskian yang memang dibuat sedemikian rupa agar dramatis dan menggugah. Persepsi penonton yang menginginkan teater Brechtian pun kemungkinan gagal memahami Mercusuar Merah. Karena meski sama-sama mengangkat teater realis yang dengan demikian para penonton menjadi tidak terpisah dari kenyataan, tetap teater Chandra kemarin terlalu "tawar" untuk dapat digolongkan Brechtian - dalam arti kata lain, Mercusuar Merah terlalu terlihat tanpa latihan -. 

Namun saya kemudian menerka-nerka. Dalam beberapa kesempatan, seperti misalnya dalam diskusi ringan, Chandra kerap menyebut-nyebut nama dramawan, aktor, penyair, dan aktivis Augusto Boal. Saya membaca Boal bolak balik tapi tidak pernah benar-benar paham sampai melihatnya sendiri via Mercusuar Merah. Boal menjadikan teater sebagai panggung untuk latihan revolusi. Teater a la Boal adalah semacam forum yang membuat setiap orang bisa bicara dengan panduan seorang moderator (dalam pertunjukan kemarin, diperankan oleh Chandra) yang dilarang mengintervensi konten. Boal agaknya terinspirasi kompatriotnya asal Brasil, Paulo Freire, yang menegaskan bahwa tujuan pendidikan adalah membuat siswa mengerti dari dalam dirinya sendiri. Guru adalah fasilitator saja dan ia dilarang melakukan dogmatisasi ilmu pengetahuan.  

Para aktor yang kemarin tampil, saya duga, memang menceritakan sesuatu yang benar-benar menjadi pengalamannya. Dalam arti kata lain, mereka tidak sedang berakting. Mereka justru menjadi dirinya sendiri. Mereka menyuguhkan persoalan ke hadapan audiens yang ironisnya, barangkali berharap dapat melarikan diri dari persoalan dengan menonton teater. Seni dilarang menjadi ilusi dan membuat audiens melupakan kenyataan di sekelilingnya. 

Lalu apa arti keberadaan perempuan yang memimpin aerobik? Soal ini, Chandra menjelaskannya sendiri: "Ini juga persoalan, yaitu objektivikasi perempuan. Kita ikut senam aerobik bukan karena kesehatan, tapi bisa jadi karena melihat perempuan yang menarik secara fisik." 

Mercusuar Merah mengakhiri penampilan dengan menyisakan hal-hal yang mengganggu di benak para hadirinnya. Saya yakin ada saja diantara mereka yang menilai teater tersebut tidak bagus dan tidak jelas. Namun tidak apa-apa, karena Chandra pasti tidak sedang menghamba pada tepuk tangan yang panjang dan puja puji yang berhamburan. Ia sedang mengikhtiarkan suatu bentuk teater yang masih jarang: teater untuk perubahan.

Informasi nama-nama aktor:
Abdul Azis
Ridwan Kamaludin
Ugi 
Haadiriot
Dhe
Fajar Bintang
Continue reading

Wednesday, January 10, 2018

Kelas Kajian Eksistensialisme: Nietzsche Ya Nietzsche

*) Ditulis sebagai pengantar Kelas Kajian Eksistensialisme: Friedrich Nietzsche di Garasi10, 8 Januari 2018.



Nietzsche dan Eksistensialisme 

Ketika membicarakan para pemikir eksistensialisme, nama Friedrich Nietzsche (1844 - 1900) tidak selalu secara otomatis dikait-kaitkan. Alasannya, kemungkinan, selain dia tidak sering membawa-bawa kata “eksistensi” dalam tulisan-tulisannya, Nietzsche juga tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari di tengah sejarah pemikiran - artinya, ia tidak mudah digolongkan pada “isme-isme” apapun. Nietzsche ya Nietzche-. 

Pertanyaannya, mengapa ia tampak sebagai pemikir yang soliter dan berdikari? Ada beberapa penyebab: Pertama, Nietzsche benar-benar otentik. Ia menulis dalam suatu rasa muak yang kuat terhadap zaman, sehingga kita yang membacanya, turut merasakan mual di perut. Tulisannya benar-benar mencerminkan suatu kemarahan yang hebat dan merusak - yang membuat siapapun rasanya tidak mungkin membaca Nietzsche dalam sekali teguk. Harus sering berhenti untuk menghela napas panjang dan istirahat-. Agaknya, tidak ada filsuf yang lebih emosional dari Nietzsche dalam menuliskan rasa jijiknya dalam sejarah pemikiran Barat - setidaknya, sependek pengalaman saya-. 

Kedua, saya akan ungkapkan dalam bahasa yang lebih gamblang: Nietzsche memang seorang jenius, tapi ia juga sekaligus “gila”. Mengapa gila? Mungkin kita bisa baca sedikit tulisan ini yang diambil dari bukunya yang berjudul Ecce Homo (asli tahun 1888, diterjemahkan tahun 1995): 

Dalam tulisan-tulisanku Zarathustra tegak sendiri. Aku telah, dengan menuliskan buku ini, memberi umat manusia hadiah terbesar yang pernah diberikan kepadanya. Dengan sebuah suara yang berbicara melintasi milenia, ia bukan hanya buku teragung yang ada, buku aktual tentang udara ketinggian - keseluruhan fakta yang ditaruh manusia dalam jarak yang luar biasa di baliknya- ia juga merupakan buku yang paling dalam, lahir dari kumpulan kebenaran yang paling dalam, sebuah sumur yang tak pernah kering, dari dalamnya tidak ada timba yang ditarik ke atas tanpa dipenuhi emas dan kebaikan.” (hlm. 5) 

Tidakkah tulisannya nampak seperti seorang megalomaniak yang sedang mengaku-aku sebagai nabi? Memang, secara medis, Nietzsche divonis tidak waras dalam sebelas tahun terakhir hidupnya, sebelum meninggal di tahun 1900. Tapi dari sebelum vonis tersebut, Nietzsche sudah dikenal sebagai dosen yang aneh bagi para mahasiswanya. Bagi kolega dan umumnya pemikir pada masa itu, Nietzsche juga dianggap tidak keren, mungkin juga oleh sebab sikap dan filsafatnya yang tidak lazim. Perjalanan pemikirannya begitu berliku hingga dapat kita katakan ia tidak konsisten, kontradiktif, dan menunjukkan instabilitas serius. 

Namun seluruh alasan itu juga yang membuat Nietzsche mempunyai peran penting dalam sejarah pemikiran Barat. Amukannya begitu kuat hingga banyak fondasi peradaban yang goyah, dari mulai agama, sejarah, sains, politik, sampai filsafat itu sendiri. Tulisannya, meski menjijikan, harus diakui: punya nilai sastra yang tinggi. Penerjemahan Also Sprach Zarathustra (1883 - 1881), misalnya, salah satunya, harus dilakukan oleh HB Jassin yang dijuluki “Paus Sastra Indonesia”. Franz Magnis Suseno dalam sebuah ceramah tentang bukunya yang berjudul Menalar Tuhan (2010) pernah menyebut Nietzsche sebagai ateis yang kerap terlampau meremehkan iman. Namun, lanjutnya, tidak ada keraguan soal kualitas sastranya yang adiluhung. 

Nietzsche membuka fajar baru hubungan antara sastra dan filsafat. Selama ini, tentu saja, karya sastra kerap mengandung sebuah pesan filosofis tertentu. Namun tidak semua karya filsafat, mengandung nilai kesusasteraan yang kuat. Kita bisa menggolongkan Nietzsche pada yang kedua, setelah tradisi pemikiran Barat terlalu banyak diwarnai oleh metoda yang ketat dan baku - macam Immanuel Kant, yang pemikirannya, oleh Nietzsche digolongkan sebagai gaya berpikir yang terlalu “Apollonian”-. 

Pertanyaannya kembali: Mengapa Nietzsche bisa “terpaksa” kita golongkan pada pemikir eksistensialisme? Tentunya sebelum menjawab itu, kita harus mengetahui dulu apa itu eksistensialisme. Eksistensialisme, secara garis besar, adalah aliran pemikiran yang lahir di akhir abad ke-19 dan populer hingga pertengahan abad ke-20. Inti pemikirannya bisa dirumuskan dalam kalimat yang diungkapkan oleh Jean Paul Sartre: eksistensi mendahului esensi. Artinya, eksistensi manusia harus dihayati terlebih dahulu, sebelum kemudian memaknai segala sesuatunya. Manusia sebagai pusat, iya, tapi bukan manusia sebagai pusat sebagaimana yang dipahami oleh antroposentrisme Renaisans (yang cenderung optimistik dan bergairah). Manusia di sini dipahami dalam konteks kegalauannya yang paling otentik, seperti rasa cemas, putus asa, ketakutan akan mati, mengapa kita lahir, tumbuhnya rasa cinta, dan sebagainya. 

Eksistensialisme diawali dari pemikiran Søren Kierkegaard yang mempertanyakan filsafat GWF Hegel yang terlalu membicarakan hal-hal yang besar seperti sejarah, negara, dan pencerahan. Mengapa tidak hal-hal yang paling mendasar saja, misalnya: tentang hakikat dari keberadaan manusia itu sendiri? Nietzsche dapat digolongkan pada pemikir eksistensialisme karena keberpihakannya pada manusia. Keberpihakannya itu seringkali malah terlalu angkuh - misal, dengan mengatakan, “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya”-. Ia juga menyarankan suatu transvaluasi nilai pada moralitas sehingga manusia tidak lagi menjadi manusia, tapi naik setahap menjadi adimanusia (übermensch). Dorongan-dorongannya untuk hidup dalam bahaya (“berlayarlah ke samudera luas dan bakar dermaga di belakangmu”) dan “mabuk” dalam segala tindak tanduk (menjadi seperti Dionysius, Dewa Anggur) adalah semacam jalan keluar bagi kegelisahan dan kekosongan batin manusia modern yang ia tuduh telah bangkrut, akibat terlampau tunduk pada peradaban. Tentang garis besar pemikiran Nietzsche ini, akan dibahas di bagian berikutnya. 

Garis Besar Pemikiran Nietzsche 

Seperti yang sudah diungkap sebelumnya, sebenarnya agak sulit menuliskan garis besar pemikiran Nietzsche mengingat tulisan-tulisannya yang tidak konsisten, cenderung kontradiktif, dan menunjukan suatu gejala instabilitas yang serius. 

Misalnya, ia seorang filolog (ahli naskah kuno) yang juga sekaligus merelatifkan kebenaran sejarah; Ia menghancurkan (jika tidak bisa dibilang, menihilkan) segala klaim kebenaran tapi juga secara tidak langsung menunjuk literatur Yunani Kuno sebagai sebuah “kebenaran” yang stabil dan tetap - maklum, Nietzsche adalah seorang penghapal mitologi Yunani yang luar biasa-, dan meski ini berbau argumentum ad hominem, tapi Magnis Suseno memukulnya dengan telak: Nietzsche mengajak kita menyingkirkan Tuhan dengan gembira, tapi ia sendiri mengakhiri hidupnya dalam keadaan murung dan gila - tidak gembira seperti yang dicontohkannya-. 

Selain itu, kesulitan lain berasal dari kenyataan bahwa Nietzsche mengungkapkan pikirannya dalam gaya bahasa yang lebih seperti “letupan”. Kadang sukar membedakan, apakah kalimat yang ditulisnya merupakan filsafat atau hanya ada demi kepentingan estetika semata - misal, “Pesona adalah prasyarat bagi semua seni dramatis. Dalam pesona ini orang Dionysian yang berpesta pora melihat dirinya sebagai seorang satir, dan sebagai seorang satirlah ia menatap pada sang dewa”-. Artinya, kemungkinan multitafsir begitu besar - bandingkan dengan Kant atau Sartre yang menuliskan pemikirannya dengan demikian runut sehingga pemahaman pembaca lebih mungkin untuk seragam-. Namun lepas dari segala kesulitannya, mungkin itu adalah sebuah ciri khas: Nietzsche ya Nietzsche. 

Beberapa sari pemikiran yang bisa kita ambil, misalnya, tentang konsep Apollonian dan Dionysian yang ia tuangkan dalam buku pertamanya yang berjudul Lahirnya Tragedi (1886, 2015). Apollo adalah dewa kebenaran, matahari, pencerahan, musik, dan penyembuhan, yang menjadi simbol bagi rasionalitas Barat yang diserang habis oleh Nietzsche. Menurutnya, lebih penting jika peradaban lebih bercermin pada Dionysus, dewa anggur, pesta, ritual, dan kesuburan, yang menghasilkan daya kreatif, estetik, memabukkan, alamiah, dan sedikit anarkis. Secara keseluruhan, sikap Apollonian dan Dionysian ini lebih tepat dinamakan sebagai “manifestasi daya hidup”. Tapi Nietzsche mengungkapkan semangat Dionysian sebagai yang mesti diutamakan karena berkaitan dengan keadaan di mana masing-masing perspektif dari setiap orang adalah unik, atau tidak ada peraturan yang membatasi pikiran dan tindakan (bayangkan sebuah pesta di mana setiap orangnya mengalami mabuk berat). 


Moralitas, dalam pandangan Nietzsche, digambarkan dalam polarisasi tuan dan budak. Moralitas budak adalah satu kritiknya pada Kristianitas yang demikian fatalis dan bersandar pada Tuhan, sehingga dituduh gagal menciptakan sikap berdikari yang seharusnya menjadi elemen dasar moralitas tuan. Namun berhenti pada satu ketetapan moral adalah juga sebuah kegagalan, sebagaimana yang ia gambarkan dalam transformasi ruh: dari unta, menjadi singa, lalu menjadi anak. Awalnya, manusia menanggung nilai kehidupan sebagaimana unta, ditempatkan di punuknya dan ia hanya bisa menerima tanpa kuasa. Lebih tinggi daripada itu, ia harus menjadi singa: melawan dan menerkam pada setiap nilai, dalam pemberontakan besar-besaran. Namun itu belum ada di tahap teratas, sebelum mampu melihat kehidupan sebagaimana cara pandang seorang anak: melihat segalanya sebagai sebuah nilai yang selalu baru, segar, dinamis, dan tidak bertendensi untuk menjadi “rasional”.  
Jargonnya yang terkenal, yang dituangkan dalam bukunya, Sabda Zarathustra (1883 - 1891, 2010), adalah manifestasi dari segala moralitas yang ia serang: “Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya.” Mungkin ia tidak sedang benar-benar mengungkapkan kredo ateisme sebagaimana umumnya kalimat tersebut ditafsirkan. Justru ia tengah mengumumkan suatu seruan paling eksistensial: Karena Tuhan telah mati, maka tinggal manusia yang mampu merumuskan nilai-nilai baru secara kreatif, dengan segala manifestasi daya hidup yang Dionysian dan “kekanak-kanakan”. Bahkan, kalimat “kita semua yang membunuhnya” juga mengacu pada segala bentuk moralitas yang tetap, seperti agama dan sains, misalnya. Dalam tahap kesadaran itulah, manusia akan sukses melakukan transvaluasi nilai, memenuhi nalurinya yang paling dasar yaitu kehendak untuk berkuasa (will to power), dan bertransformasi menjadi adimanusia (übermensch). Sebelum mulai bertualang bersama pemikiran Nietzsche yang liar dan ganas, izinkan saya menuliskan sebuah apa ya, mungkin cocok dikatakan: “letupan” tentang pemikiran beliau: 

Apakah kamu berani, melepas beban di punuk untamu, dan melawan segala nilai sebagai singa yang lapar? 

Apakah kamu berani, menjadi anak kecil yang melihat segala peristiwa, sebagai senda gurau belaka? 

Apakah kamu berani, menjauhkan diri dari terangnya nalar, menuju pandangan buram hasil tegukan anggur kehidupan? 

Apakah kamu berani, meneriakkan "Tuhan telah mati, kita semua yang membunuhnya", sambil tutup hidung karena bau busuknya tercium? 

Apakah kamu berani, menekankan "kita semua yang membunuhnya", pada mereka, yang juga beragama? 

Apakah kamu berani, menertawakan moral dunia, meledakannya hingga menjadi puing tak bernama? 

Apakah kamu berani, membaca Nietzsche, dengan risiko perutmu mual, dan dadamu dihantam di sepanjang kata? 

Tidak ada jalan pulang. Ingat. Dermaga sudah dibakar.

Sumber Referensi

- Levine, Peter. (2012). Nietzsche, Potret Besar Sang Filsuf . Yogyakarta: IRCiSoD.
- Nietzche, Friedrich. (1995). Ecce Homo/ Lihatlah Dia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
 - Nietzsche, Friedrich. (2001). Genealogi Moral. Yogyakarta: Jalasutra.
- Nietzsche, Friedrich. (2010). Sabda Zarathustra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Nietzsche, Friedrich. (2015). Lahirnya Tragedi. Yogyakarta: Narasi.
- Friedrich Nietzsche dari http://www.iep.utm.edu/nietzsch/
- Friedrich Netzsche: God is Dead dari http://www.philosophy-index.com/nietzsche/god-is-dead/
Continue reading