Sabtu, 22 April 2017

Pedagogi Literasi di Era Posmodernisme

PEDAGOGI LITERASI DI ERA POSMODERNISME 1) 
Syarif Maulana 2)

Pada tahun 1996, seorang profesor matematika bernama Alan Sokal dari New York University memublikasikan artikel berjudul “Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity” di jurnal ilmiah bernama Social Text yang fokus pada hal-hal terkait kajian budaya (cultural studies) dan posmodernisme. Setelah dipublikasikan, Sokal kemudian mengakui, “Artikel tersebut adalah mélange (percampuradukan) dari kebenaran, semi-kebenaran, seperempat-kebenaran, kebohongan, pernyataan-pernyataan tidak relevan, dan kalimat-kalimat tidak bermakna.” 3) Apa tujuan sang profesor melakukan hal tersebut? Katanya, kira-kira, sekadar menunjukkan bahwa posmodernisme menjadi istilah yang kerap menunjuk pada segala sesuatu yang tampak keren, tampak berbudaya, tampak ilmiah, padahal tidak ada maknanya sama sekali. Ia juga sekaligus menyerang para pemikir posmodern seperti Jacques Derrida, Jean-François Lyotard, Jean Baudrillard, atau Julia Kristeva, yang sering meminjam-minjam istilah sains tanpa bertanggungjawab dan bahkan menuduh sains itu sendiri sebagai konstruksi sosial belaka.4)  Intinya, Sokal hendak mengatakan bahwa posmodernisme adalah omong kosong. 

Selayang Pandang Posmodernisme

Sebelum membahas mengenai “pedagogi literasi di era posmodernisme”, terlebih dahulu kiranya penting untuk membahas apa itu era posmodernisme. Jean-François Lyotard (1924 – 1988) dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1979) – yang ia sebut sebagai salah satu bukunya yang kurang bagus-, menyebutkan bahwa ciri-ciri posmodernisme adalah matinya metanarasi. Metanarasi yang dimaksud adalah narasi besar yang mencakup diantaranya ide-ide tentang kemajuan, pencerahan, kebenaran universal, emansipasi, termasuk diantaranya –isme –isme unggulan seperti halnya marxisme ataupun eksistensialisme. Keseluruhan narasi besar tersebut, bagi Lyotard, adalah anasir utama pembentuk modernisme. Metanarasi runtuh karena faktor utamanya adalah perkembangan teknologi, terutama di bidang komunikasi, media massa, dan ilmu komputer. Metanarasi yang runtuh kemudian menjadi serpihan-serpihan narasi kecil, narasi lokal, ataupun narasi kontekstual. 

Pemikiran Lyotard tersebut barangkali bisa memberikan sedikit gambaran tentang situasi posmodernisme, terutama jika kita turut menyertakan beberapa pemikiran kaum posmodernis yang lain seperti Michel Foucault yang percaya bahwa segala bentuk kebenaran sangat bertalian dengan kekuasaan –meski ungkapan ini ia pinjam dari filsuf “modernisme”, Friedrich Nietzsche-. Hal tersebut termasuk diantaranya kegilaan, seksualitas, hingga ilmu pengetahuan. Foucault melacak, bahwa misalnya, kegilaan bukanlah satu bentuk gejala medis tertentu yang terkait dengan psikologis seseorang. Foucault lebih setuju bahwa kegilaan adalah sebentuk konstruksi sosial yang dibentuk sedemikian rupa untuk menciptakan zona nyaman tertentu bagi kekuasaan. Contohnya adalah penyakit lepra yang menurut Foucault, meski sudah hilang di akhir Abad Pertengahan, tapi kekuasaan untuk meminggirkan orang-orang dengan dalih penyakit lepra masih saja hidup hingga abad-abad berikutnya 6)  (mungkin seperti halnya tuduhan “komunis” di masa sekarang). Kemudian di bidang lain, seperti seni, ada Marcel Duchamp (seni rupa), kelompok Fluxus (seni rupa/ intermedia), John Cage (musik), Pierre Boulez (musik), Frank Gehry (arsitektur) dan sebagainya. Lalu di bidang sains, ada Paul Feyerabend dengan pemikiran anarki epistemologisnya yang menyatakan bahwa segalanya boleh dalam mengetahui kebenaran alias “anything goes”. Artinya, jika hendak dibuat penyederhanaan atas sejumlah pemikiran yang timbul dari para posmodernis, maka dapat ditarik intisari dari posmodernisme sebagai berikut: 
  • Klaim universal kebenaran sebenarnya tidak lain merupakan perpanjangan tangan kekuasaan sehingga sudah selayaknya kita menoleh ke klaim kebenaran yang lain yang selama ini terpinggirkan karena tak sanggup berkuasa. 
  • Subjek sebagai sesuatu yang sangat diagungkan pada masa modernisme, diinjak-injak oleh posmodernisme karena subjek tidak lain adalah konstruksi kekuasaan tertentu. 
  • Karena pijakan-pijakan sudah hancur diluluhlantakkan, maka kematian dari segala sesuatu pun digemakan dengan gembira, misalnya “end of history”, “end of art”, “end of science”, “end of philosophy” dan sebagainya. 
  • Kematian segala sesuatu itu, adalah perayaan bagi kemajemukan, perayaan bagi dibolehkannya segala sesuatu, perayaan bagi kehirukpikukan atau sekaligus perayaan bagi kekacauan. 


Pedagogi Literasi di Era Posmodernisme

Maka itu, atas dasar kecarutmarutan yang sudah diciptakan oleh posmodernisme, kita dihadapkan pada pertanyaan: Apa yang harus kita lakukan di atas puing-puing ini? Bisa saja, kita turut merayakannya dengan gembira: Seorang pembuat meme bisa lebih terkenal daripada seniman yang sekolah lima tahun untuk memeroleh gelar sarjana seni; seorang Awkarin atau Young Lex punya video yang ditonton lebih banyak orang daripada pianis jazz legendaris Chick Corea; orang ramai-ramai berdebat dengan pengetahuan berbasiskan data-data hoax (seperti Alan Sokal) dan tak peduli lagi referensi ilmiah –karena definisi “ilmiah” sudah hancur lebur oleh posmodernisme-; dan seterusnya dan seterusnya. Atau, kita bisa berpegang pada dahan yang kuat, sehingga tak mudah terombang-ambing oleh era yang begitu gamang ini. Dahan macam apa yang kita bisa pegang? 

Literasi didefinisikan secara sederhana sebagai “bisa membaca dan menulis”. Yang dibaca dan ditulis tentu saja bisa teks secara harafiah, ataupun teks dalam kehidupan ini secara umum (beserta simbol-simbolnya). Hanya saja intertekstualitas yang digadang-gadang oleh posmodernisme bisa menjebak aktivitas literasi. Intertekstualitas berarti apa yang kita baca, sesungguhnya tidak terhubung dengan dunia realitas. Apa yang kita baca, pada dasarnya, hanya berhubungan dengan teks lainnya saja. Namun jika posmodernisme sudah sedemikian destruktifnya sehingga literasi saja tak punya peluang untuk membangun di atas puing-puing, maka apa lagi dahan yang bisa kita pegang? Tentu saja, kita di sini, sebagai para pegiat literasi, tak boleh begitu saja menyerah pada posmodernisme (yang sudah diolok-olok habis oleh Alan Sokal). Kita bisa menyelamatkannya dengan menebalkan kembali pesona literasi lewat, mungkin saja, sejumlah anasir modernisme yang sudah usang. Amunisi tersebut sah-sah saja kita pakai, terutama jika posmodernisme sudah kian kebablasan: menciptakan metanarasi baru yang membuat ia tiada beda dari konsep modernisme yang ia kritisi. Anasir-anasir tersebut antara lain: 

  • Marxisme 

Mengapa marxisme tetap berharga untuk menghadapi kecarutmarutan posmodernisme? Kita lihat bagaimana marxisme selalu mampu menjadi musuh besar bagi kekuasaan –yang dalam terminologi marxisme sering disebut sebagai “kaum kapitalis”-. Bagi seorang marxis, titik berdiri harus jelas dan kuat. Posisi kritis, praksis, pro ke kaum yang termarjinalkan, anti hegemoni, progresif dan seringkali revolusioner merupakan sikap-sikap yang tidak bisa ditawar. Pada titik ini posmodernisme yang kerap bicara kekuasaan tanpa memberikan solusi, dapat dilawan dengan perangkat marxisme –setidaknya untuk mencapai emansipasi kesadaran-. Literatur-literatur bernuansa marxis ataupun neo-marxis penting untuk selalu dibaca dan diajarkan, demi menanamkan kesadaran kritis dan meneguhkan posisi di tengah puing-puing yang sudah dihancurkan posmodernisme. 


  • “Yang Lama Tetap Berharga” 

Kata Haruki Murakami, “Aku hanya membaca buku dari pengarang yang sudah meninggal lebih dari tiga puluh tahun. Aku hanya membaca buku yang sudah dibaptis oleh waktu.” Dengan berkembangnya literatur kontemporer yang demikian liar –yang mampu melambungkan “penulis” tertentu hanya dengan kemasan pemasaran yang baik alih-alih kualitas tulisan yang layak-, maka hanya pada literatur klasik saja kita bisa menyandarkan diri perkara formalisme estetika. Misalnya, -meski bukan berarti bisa lepas dari kritik- tapi kita harus mengakui literatur-literatur yang dituliskan oleh penulis semisal Anton Chekhov, Leo Tolstoy, Friedrich Nietzsche, Ernest Hemingway, hingga Pramoedya Ananta Toer sebagai literatur yang “sudah dibaptis oleh waktu”. Mereka yang membaca literatur “yang benar” dapat diasumsikan punya pandangan yang lebih bijak dalam melihat kecarutmarutan teks yang bertebaran di misalnya, media sosial –yang masing-masingnya punya klaim tentang kebenaran-. Dalam konteks yang lain, mereka yang rajin menulis esai atau puisi, misalnya, tentu punya ketebalan yang berbeda ketika menulis status di twitter atau di instagram, ketimbang mereka yang memang sudah terlalu terbiasa mengabdikan diri menulis pada koridor 140 karakter. Intinya, yang lama tetap berharga. Meski berbau romantisme akut, tapi hal-hal yang klasik tidak selalu kuno untuk ditinggalkan. 


  • Kemampuan dialektika 

Romantisme memang penting, tapi jangan berlama-lama atau bahkan berkubang di dalamnya. Bagaimanapun juga, zaman terus bergerak dan pada setiap pergerakan yang kian cepat itu, alangkah tidak bijaksananya jika terus menerus berpegang pada dahan literasi klasik. Perlu juga memahami zaman posmodernisme yang carut marut ini dan berdialog dengannya agar mencapai satu kesepahaman yang menyenangkan. Misalnya, dalam konteks seni, tidak ada salahnya melakukan eksperimentasi, meleburkan yang tradisi dan yang kontemporer; dalam konteks literasi, tidak ada salahnya menulis dengan gaya klasik namun dengan strategi promosi masa kini, dan sebagainya. Intinya, penyebaran literasi harus secara radikal, konvensional, tapi sekaligus juga mengadopsi nilai-nilai kekontemporeran. Seorang Awkarin dan Young Lex, yang sering dihina-hina para formalis estetika, bagaimanapun telah menyuarakan spirit zamannya secara keras, tentang bagaimana bersikap “kumaha aing, nu penting beunghar” sebagai bentuk ekspresi perayaan kemajemukan sekaligus pragmatisme ekonomi. 

Demikian. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Daftar Pustaka 
Foucault, Michel. 1988. Madness and Civilization: History of Insanity in The Age of Reason. Vintage. Lezard, Nicolas. 2010. Beyond the Hoax by Alan Sokal. https://www.theguardian.com/books/2010/feb/27/beyond-hoax-alan-sokal.
Lyotard, Jean-François. 1979. The Postmodern Condition: A Report on Knowledge. Manchester University Press.
Sim, Stuart & Van Loon, Borin. 2012. Critical Theory: A Graphic Guide. London: Icon Books Ltd.


1) Ditulis sebagai suplemen untuk sharing session di acara Pesta Literasi 2017 di Sunken Court ITB hari Minggu, 23 April 2017. 
2) Pegiat forum filsafat Café Philosophique dan pegiat ruang alternatif Garasi10. 
3) "My article," Sokal explained in an Afterword (which was rejected by ST "on the grounds that it did not meet their intellectual standards"), "is a mélange of truths, half-truths, quarter-truths, falsehoods, non sequiturs, and syntactically correct sentences that have no meaning whatsoever." - Nicolas Lezard, Beyond the Hoax by Alan Sokal https://www.theguardian.com/books/2010/feb/27/beyond-hoax-alan-sokal. 
4) “The hoax served to expose the pretentious and amateurish misuse of recent physics by leading French theorist, Derrida, Lyotard, Baudrillard and Kristeva. Sokal provided deadly ammunition to the fundamentalist of ‘Big Science’ who reject any hint that science might be ‘socially constructed’.” - Stuart Sim & Borin Van Loon, Critical Theory: A Graphic Guide 
5) “Simplifying to the extreme, I define postmodern as incredulity toward metanarratives[. ..] The narrative function is losing its functors, its great hero, its great dangers, its great voyages, its great goal. It is being dispersed in clouds of narrative language[...] Where, after the metanarratives, can legitimacy reside?” - Jean-François Lyotard,, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge 
6) “Once leprosy had gone, and the figure of the leper was no more than a distant memory, these structures still remained. The game of exclusion would be played again, often in these same places, in an oddly similar fashion two or three centuries later. The role of the leper was to be played by the poor and by the vagrant, by prisoners and by the 'alienated', and the sort of salvation at stake for both parties in this game of exclusion is the matter of this study.”― Michel Foucault, History of Madness


Continue reading

Selasa, 28 Februari 2017

Musik Klasik Bandung Pasca Mutia Dharma

Tanggal 27 Februari kemarin, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, di ruang ICU RS Santo Yusuf, seorang aktivis musik klasik berjuang meregang nyawa melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dalam setahun terakhir. Tubuh sang aktivis tersebut akhirnya menyerah dan memilih untuk melepas jiwa pada Sang Khalik. Mutia Dharma adalah aktivis musik klasik yang bisa dikatakan tidak tertandingi di Bandung. Entah berapa banyak konser dan workshop yang sudah ia adakan, baik level lokal maupun internasional. Jika berusaha dikira-kira, pada masa jayanya (sebelum beliau mulai sakit), konser yang diadakan Mutia -dengan Classicorp Indonesia sebagai benderanya- bisa sampai paling sedikit dua bulan sekali diadakan -frekuensi lebih dari cukup untuk musik yang tidak terlalu banyak penggemarnya-. Artinya, wafatnya Mutia bisa menjadi dampak serius. Jika tidak ada regenerasi yang kuat, maka ini sama juga dengan kematian penyelenggaraan musik klasik di Kota Bandung.

Mari mengulas sedikit saja apa yang sudah dilakukan oleh Mutia semasa hidupnya untuk musik klasik -disamping ia juga aktif sebagai guru piano dan pianis konser- dari sekian banyak kontribusinya. Dari sepuluh tahun pengabdiannya, saya akan coba memaparkan program-programnya dalam tiga atau empat tahun terakhir saja: Resital Piano Danang Dirhamsyah (2013), Resital Biola Tomislav Dimov (2013), Masterclass oleh Tomislav Dimov dan Sam Haywood (2013), French Piano Competition (2013), Piano Pedagogy Workshop (2013), Kuliah dan Masterclass oleh Toru Oyama (2013), Bandung Piano Festival (2013), Klasikfest (2013), Masterclass Piano oleh Patrick Zygmanowski (2013), Konser Love and Misadventure (2014), Wind Festival (2014), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2014), Resital Piano Elvira Kartikasari Budiman (2014), Frauenliebe (2014), Cello Class oleh Leslie Tan (2014), A Day at The Piano (2014), Resital Piano Leandro Christian (2014), Resital Vokal Catrina Poor (2014), Konser Ragazze Quartet (2014), Seminar Sehari Pedagogi Piano oleh Iswargia R. Sudarno (2014), Resital Biola dan Piano Finna Kurniawati dan Glenn Bagus (2014), Konser dan Festival Camp oleh Toru Oyama dan Dody Soetanto (2015), Resital Flute dan Piano oleh Marini Widyastari dan Harimada Kusuma (2015), Resital Piano Empat Tangan oleh Dr. Hyeesok Kim dan Dr. Mary Scanlan (2015), Resital Duo Victoria Audrey Saraswati dan Dainis Medjaniks (2015), Resital Biola Arya Pugala Kitti (2015), Bandung String Camp (2015), Ensemble Doulce Memoire (2015), Workshop "Basso Continuo" oleh Adhi Jacinth (2015), Kompetisi Piano untuk Pianis Muda Bandung (2015), Le Carnaval Des Animaux (2015), Chamber Concert (2015), dan Mozartfest (2015). Lalu sepertinya ketika mulai sakit, frekuensi konsernya menjadi turun drastis di tahun 2016 yaitu: Konser Domus String Quartet, Resital Duo Ardelia Padma Sawitri dan Felix Justin, dan terakhir Bandung String Camp.

Dengan produktifitas setinggi itu, rasanya mustahil bagi penyelenggara manapun untuk mampu menyaingi. Sebagai contoh, komunitas yang saya koordinir, KlabKlassik, meski usianya tidak jauh berbeda (sekitar sepuluh tahun), bisa menyelenggarakan lima atau enam konser setahun saja sudah bagus. Memang, fokus kami sedikit berbeda. Jika Classicorp memang mengabdikan diri pada konser-konser dan masterclass, KlabKlassik lebih pada pemberdayaan apresiator melalui komunitas (temu rutin mingguan). Namun poinnya adalah: Tidak ada yang benar-benar bisa menggantikan peran Mutia, setidaknya dalam waktu dekat ini. Celakanya lagi, sudah menjadi rahasia umum, bahwa Mutia adalah seorang petarung: Ia hampir mengerjakan semua konser itu seorang diri. Memang kemudian di hari-H, ia akan merekrut sejumlah orang untuk memberi bantuan, tapi sekali lagi, secara konseptual dan bahkan sejumlah teknis persiapan (seperti desain poster, tiket, booklet, hingga kontak musisi) dilakukannya secara solo. Artinya, bisa jadi, tidak ada suksesor, -yang bahkan dari Classicorp itu sendiri- yang berpotensi melanjutkan jalan pikiran beliau. 

Pasca era Mutia, mungkin penyelenggaraan musik klasik untuk sementara waktu akan jalan sendiri-sendiri. Dalam arti kata, setiap komunitas, setiap musisi, setiap sekolah musik, akan membuat konser dengan kelompoknya sendiri sebagai penyelenggara. Ini tentu saja tidak terlalu menjadi persoalan karena saya yakin setiap kelompok pasti ingin menonjolkan dirinya masing-masing. Hanya saja, dari kacamata publik, kerapatan penyelenggaraan mungkin tampak kurang jelas. Jika di masa Classicorp berjaya, kita bisa dengan mudah menemukan konser hampir sebulan sekali, maka mungkin nantinya -sebagai dampak dari penyelenggaraan masing-masing tersebut- frekuensi konser bisa menjadi tidak jelas: Bisa sebulan ada dua atau tiga konser, atau tidak ada konser sama sekali dalam periode yang lama. Pun hal tersebut bisa juga berdampak pada harga tiket. Setiap kelompok tentu punya persepsinya sendiri mengenai harga tiket, sehingga akhirnya tidak ada standar atau minimal range yang umum (bisa sangat mahal atau bisa juga tidak bayar sama sekali). Pada akhirnya, apresiator menjadi kian tersegmentasi (karena tidak sedikit penonton dari suatu kelompok tidak mau menonton pertunjukkan dari kelompok lain oleh sebab mulai dari harga tiket atau hal macam-macam lainnya). Dampak lebih jauhnya, nasib musisi muda bisa menjadi kurang berkembang karena tidak dihadapkan pada publik yang "sebenarnya" (karena itu tadi, yang menonton mungkin sebagian besar hanya dari kelompoknya sendiri).

Classicorp bukannya murni netral. Ia juga punya medan sosialnya sendiri: tempat penyelenggaraan yang itu-itu juga, sekolah musik yang diajak yang kurang lebih itu-itu juga, sampai musisi yang kurang lebih itu-itu lagi (terutama yang lokal). Tapi jangan lupa, Classicorp punya jejaring internasional yang luas sehingga ketika musisi-musisi luar negeri sukses didatangkan, dampaknya sangat baik bagi bersatunya seluruh apresiator dan musisi tanpa memandang sekat-sekat kelompok. Pertanyaannya: Siapa yang bisa melanjutkan jejaring internasional Mutia? KlabKlassik pernah beberapa kali mengadakan konser dengan penampil asing (Moritz Ernst, Bruno Procoppio, Urs Bruegger, Alessio Nebiolo, dan sebagainya). Tapi tetap, urusan frekuensi, masih jauh tertinggal dari Classicorp. Sekali lagi, jejaring internasional yang luas dan rapat tetap menjadi pekerjaan rumah bagi siapapun penerus Mutia nantinya.

Terakhir, penting untuk diingat, bahwa sebagaimanapun ramainya konser sepeninggal Mutia, tetap beliau selalu menguatkan rantai agar tidak terputus: aspek edukasi dan pembinaan generasi muda. Harus diakui, Mutia berhasil pelan-pelan membangun ekosistem musik klasik yang bagus dengan terus menyediakan panggung bagi musisi muda -yang dalam beberapa programnya, musisi muda tersebut terlebih dahulu diedukasi ilmu dan pengalaman dari musisi yang sudah malang melintang (misal: program string camp atau masterclass)-. Lewat program ini juga, Mutia berhasil menyatukan banyak orang dalam sebuah energi yang positif -karena demikianlah sifat edukasi jika dijalankan secara tulus-. 

Hanya saja, kalaupun Mutia bersikap seperti seorang petarung solo dalam menghadapi itu semua, pada akhirnya saya bisa mengerti juga. Di Indonesia dan khususnya di Bandung, untuk menjadi penyelenggara musik klasik dibutuhkan keimanan yang tidak main-main. Meski sudah menghadirkan musisi internasional ternama, kehadiran penonton tetap sulit untuk diprediksi -bisa ramai, bisa sedikit sekali-. Pun sponsor dengan dana besar atau media massa belum sepenuhnya menganggap penyelenggaraan musik klasik sebagai hal yang menarik. Penyelenggaraan musik klasik di Bandung, secara umum, masih mengandalkan dana dari tiket atau bahkan patungan dari para pemusik yang akan tampil. Itu sebabnya, mungkin, saya mencoba menebak pikiran Mutia: Daripada ia repot-repot mengajak orang yang belum punya level keimanan yang sama, lebih baik kerja sendiri saja. Hanya saja, ke depannya, meski sikap idealis tersebut terbukti tetap membuat program-program berjalan lancar, namun tetap mempunyai dampak kurang baik bagi regenerasi dan suksesi. Maka, siapapun penerus Mutia, bekerja dalam organisasi, meski kadang harus berbenturan dengan idealisme individu, pada akhirnya, tetap penting. Selain memudahkan kerja lapangan, juga untuk meneruskan tongkat kepemimpinan.

Mutia Dharma (tengah) bersama saya ketika siaran di 100.4 KLCBS dalam rangka konser Ragazze Quartet (2014)
      
Continue reading

Senin, 20 Februari 2017

Penonton NBA dan Eurobasket

Sejak langganan TV Kabel, saya jadi rajin nonton saluran NBATV. Karena ya, kita tahu, sudah sejak lama saluran televisi lokal tidak lagi menayangkan pertandingan basket NBA. Saya memang bukan penggemar basket sejati, tapi keberadaan NBATV ini lumayan menghibur (ketika saluran lain sedang tidak seru). Berbeda dengan NBA yang pertandingannya umumnya dilakukan di pagi hari waktu Indonesia, ada juga Eurobasket yang ditayangkan pada saat dini hari (biasanya di saluran Eurosports). Jika bicara kualitas permainan, tentu saja NBA lebih menyenangkan untuk ditonton. Selain karena pemainnya lebih berkualitas (tanpa merendahkan kualitas pemain Eropa), NBA juga sukses mengemas kompetisinya menjadi panggung hiburan besar -alih-alih tayangan olahraga biasa-.

Meski demikian, ada hal menarik yang dapat diperhatikan dari perbedaan antara dua kompetisi ini, yaitu sikap penonton dalam mendukung tim kesayangannya. Penonton NBA tentu saja ramai. Mereka kompak meneriakkan "Defense! Defense!" setiap timnya dalam posisi bertahan; mereka rajin mengganggu lawan yang tengah melakukan free throw dengan beragam cara yang kreatif (termasuk foto Eva Longoria untuk mengganggu Tony Parker); mereka juga kompak berdiri jika pertandingan sedang dalam situasi yang menegangkan; hal tersebut belum termasuk atribut dalam bentuk kaos, syal, topi, dan sebagainya. Penonton Eurobasket juga ramai, tapi dengan cara yang berbeda. Mereka biasanya memasang bendera besar yang tidak cukup dipegang satu orang dan meneriakkan yel-yel tanpa henti sepanjang pertandingan. Berbeda dengan para penonton NBA yang meski ramai, tapi tetap menganggap bahwa tontonan di depannya adalah tontonan (sehingga meski menegangkan, mereka tetap tak lupa melahap popcorn dan memeluk kekasihnya di sampingnya), penonton Eurobasket lebih tampak menghayati dan melihat bahwa lapangan pertandingan adalah penentu segala nasib dalam kehidupannya.

Bertolt Brecht (1896 - 1956), seorang pemain, penulis skenario, dan sutradara teater asal Jerman, mengatakan bahwa teater dramatis -yang dibesarkan oleh Constantin Stanislavsky- bisa jadi terlalu membawa penonton pada sikap-sikap ilusif dan tidak realistis. Harusnya, penonton tak perlu hanyut ke dalam pertunjukkan. Mereka seyogianya bersikap bebas dan mampu mengambil jarak dari apa yang ditampilkan, sehingga menonton teater dapat menjadi sangat santai sebagaimana halnya menonton pertandingan tinju. Itulah mungkin yang dilakukan penonton NBA, yang menyaksikan pertandingan dengan santai, tanpa perlu mengagung-agungkan panggung sebagai sesuatu yang mesti dihayati: "Bolehlah tim kita kalah hari ini, tapi toh esok dunia tidak serta merta runtuh. Ini semua hanyalah hiburan belaka, tidak punya koneksi langsung terhadap kehidupan kita."

Apakah dengan demikian, serta merta pertunjukkan fanatisme dari para penonton Eurobasket adalah keliru? Tidak juga. Memang ada orang yang senang melihat panggung dan segala latarnya, sebagai sesuatu yang menentukan hidup-matinya. Ia dengan sangat bersemangat meneriakkan yel-yel tanpa henti karena panggung tersebut tidak lain adalah juga proyeksi dari kehidupannya (Jika tim basket Barcelona kalah, maka ia merasa bahwa harga diri Catalunya-nya juga turut dinistakan). Pada akhirnya, kita bebas memilih: Mau menjalani hidup seperti penonton NBA, atau penonton Eurobasket?  




Continue reading

Selasa, 13 Desember 2016

Trik Meloloskan Diri dari Dilema


Dalam hidup sehari-hari, kita sering mengalami sebuah dilema. Apa itu dilema? Dilema kira-kira adalah dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi yang tidak enak (jika pilihan itu berjumlah tiga, maka menjadi trilema -tapi itu tidak akan dibahas sekarang ini-). Contoh dilema misalnya buah simalakama: Jika dimakan, Bapak yang mati; jika tidak dimakan, Ibu yang mati; maka itu, dimakan atau tidak dimakan, kita akan mengalami kehilangan.

Dalam ilmu logika, dilema sering diibaratkan sebagai horns atau tanduk. Dilema bukanlah sesuatu yang mutlak membingungkan dan merugikan. Sebelum memulai membahas trik meloloskan diri dari dilema, mari membuat contohnya terlebih dahulu:

Dilema 1 : Jika Ahok tidak dihukum, maka umat Islam akan marah
Dilema 2 : Jika Ahok dihukum, maka artinya hukum di Indonesia bisa dipengaruhi oleh orang banyak
Kesimpulannya: Ahok dihukum atau tidak dihukum, keduanya akan menimbulkan implikasi negatif pada negeri ini

Demikian contohnya, dan ini tiga trik untuk lolos dari dilema tersebut:

Going between the horns
Going between the horns artinya tidak memilih diantara kedua pilihan, dan mencoba untuk menyusup di pilihan ketiga (walaupun hal ini berimplikasi pada fallacy kemungkinan ketiga). 
Misalnya: 
1. Ahok dihukum atau tidak, publik tidak pernah tahu. Kasusnya akhirnya dibiarkan mengambang begitu saja. 
2. Ahok diputuskan untuk dihukum, padahal kemudian dibebaskan diam-diam. 
3. Ahok melakukan dialog intensif dengan umat Islam sehingga tidak ada lagi kemarahan pada Ahok.

Grasping it by the horns
Grasping by the horns artinya mengambil salah satu premis yang dikira paling "lemah", untuk dibedah konsekuensinya. Misalnya kita ambil dilema 1: Jika Ahok tidak dihukum, maka umat Islam akan marah. Mari cek konsekuensinya: Umat Islam akan marah. Memang benar begitu? Umat Islam yang mana? Apakah seluruh umat Islam? Tidakkah ada juga umat Islam yang mendukung Ahok? Artinya, konsekuensinya bukan berarti salah, tapi diragukan. 

Rebuttal
Rebuttal berarti mengubah konsekuensi-konsekuensi dalam dilema, yang tadinya membingungkan untuk dipilih, menjadi punya nilai positif. Sehingga memilih manapun, dianggap sama-sama menguntungkan. 
Misalnya:
Dilema 1: Jika Ahok dihukum, maka umat Islam akan senang
Dilema 2: Jika Ahok tidak dihukum, maka orang-orang Tionghoa akan senang
Kesimpulan: Ahok dihukum ataupun tidak dihukum, yang penting bisa menyenangkan pihak tertentu

Dengan demikian, semoga kita bisa berpikir bahwa dilema bukan akhir dari segalanya. Selalu ada kemungkinan ketiga, selalu ada premis yang konsekuensinya lebih lemah, dan selalu ada cara pandang positif agar dilema menjadi pilihan-pilihan yang sama baiknya. 

Continue reading

Sabtu, 19 November 2016

Betawi dalam Sarnadi Adam

"Kalau orang Betawi itu.."

Entah berapa kali saya mendengar Pak Sarnadi Adam memulai kalimat dengan kata-kata itu. Meski cuma enam hari berjumpa dalam rangka pameran Asian Silk Link Art Exhibition di Guangzhou, Tiongkok, Pak Sarnadi berhasil membuat saya tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang Betawi. Siapakah Pak Sarnadi? Cukup ketik di Google nama "Sarnadi Adam" maka akan ada 3200-an entri terkait nama ini dan hampir semuanya mengaitkan beliau dengan ke-Betawi-an. Secara spesifik bahkan disebutkan bahwa Sarnadi Adam adalah seorang "pelukis Betawi", "maestro seni lukis Betawi", hingga "pelukis Betawi yang go international". 

Tapi tentu, tiada yang lebih menguntungkan daripada punya kesempatan berbincang langsung dengan Pak Sarnadi selama enam hari -daripada sekadar baca-baca tentangnya di internet-. Saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi pernah berambut gondrong; saya jadi tahu, bahwa setiap dua tahun sekali, Pak Sarnadi berpameran di Belanda yang membuat orang-orang Belanda yang sudah sepuh, merasa ingat pada Betawi ketika mereka pernah tinggal di sana masa-masa tempo doeloe; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sangat dekat dengan tokoh-tokoh Betawi yang juga diketahui banyak orang, seperti seniman Benyamin, Rano Karno, Mandra, hingga politisi seperti Fauzi Bowo, Haji Lulung dan Sylviana Murni; saya jadi tahu, bahwa dari menjual lukisanlah, Pak Sarnadi bisa membeli mobil dan naik haji; saya jadi tahu, bahwa Pak Sarnadi sudah pernah berpameran di New York hingga ke Swedia; dan lain-lain, dan lain-lain. 

Meski demikian, hal menarik dari Pak Sarnadi adalah itu tadi: Kebanggaannya yang terus digaungkan atas Betawi dan orang-orangnya. Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang berkurangnya sopan santun generasi muda hari ini pada orangtua, Pak Sarnadi selalu menyela cepat, "Tidak, kalau orang Betawi masih mengerti sopan santun pada orang tua. Kami selalu diajarkan untuk cium tangan pada orang tua." Ketika ada obrolan yang ramai membicarakan tentang stereotip orang Betawi dalam film Si Doel Anak Sekolahan yang salah satunya direpresentasikan oleh Mandra (penuh kepolosan, bahkan kekonyolan), Pak Sarnadi juga menukas, "Tidak, kalau orang Betawi itu sebenarnya pintar-pintar. Banyak diantaranya juga jadi dokter. Mungkin memang ada, beberapa gelintir orang Betawi yang malas, itu karena hidupnya keenakan, sudah diwariskan rumah dari orangtuanya, sehingga dia tinggal kontrak-kontrakkan dan menerima uang sewa saja. Tapi sekarang lihat, generasi muda Betawi sudah banyak yang tangguh."

Persoalan apakah pernyataan-pernyataan Pak Sarnadi itu merupakan fakta objektif atau hanya sebatas "pembelaan kultural", sebenarnya tidak menjadi terlalu penting. Bahkan saya berpikir, kalaupun ini cuma pembelaan kultural, lantas kenapa? Bukankah pada akhirnya kita harus melakukan pembelaan kultural untuk meyakinkan orang lain, dan juga diri kita sendiri, sebagai bagian dari pengembaraan identitas yang tiada henti? Kita semua disibukkan, dalam percakapan sehari-hari, oleh pembelaan-pembelaan kebudayaan yang tiada putus antar satu manusia dan manusia yang lain. 

Saya tentu saja sekarang jadi punya pandangan lain tentang Betawi berkat pembelaan kultural Pak Sarnadi. Pembelaan tersebut tidak hanya dalam kata-kata, tapi juga didukung oleh karya-karya beliau yang sangat kuat dan jujur melukiskan fenomena keseharian dalam kebudayaan Betawi, seperti penari cokek, ondel-ondel, pernikahan orang Betawi, hingga suasana lebaran di Betawi. Sekarang jika saya mengenang percakapan-percakapan dengan Pak Sarnadi, saya akan membayangkan Betawi dengan senyum yang mengembang. 



Continue reading

Senin, 03 Oktober 2016

Jalan Sunyi Pegiat Literasi

Satu lagi toko buku bagus tutup. Kemarin Reading Lights, sekarang Lawang Buku. Anehnya, keduanya adalah toko buku yang tidak sekadar toko: keduanya mempunyai semangat memajukan literasi secara umum. Reading Lights kita tahu, mereka pernah secara rutin memfasilitasi kelompok yang dinamakan dengan writer's circle. Mereka berkumpul setiap minggu untuk menulis dan kemudian membacakan hasil tulisannya pada peserta yang lain untuk diapresiasi. Walau saya baru datang ke komunitas ini dua kali dan itupun sekitar lima tahun silam, tapi kenangan atasnya begitu membekas. 

Semangat Lawang Buku dalam memajukan literasi tampil dalam diri individu, sang pemilik kios, Kang Deni. Kita bisa datang ke Lawang Buku (yang letaknya di Baltos) dan mendapat ragam informasi mengenai buku yang dipajang. Kang Deni pernah berbagi tips, "Penjual buku yang baik harus mengerti produknya. Ia juga harus rajin membaca." Dapat kita bayangkan: Lawang Buku tidak menjual buku-buku biasa. Sebagai contoh, saya pernah membeli majalah Uni Soviet yang terbit di Indonesia pada sekitar tahun 1950an dan juga buku karya Nikolai Chernishevsky ejaan lama yang diterbitkan sekitar tahun 1960an. Itu belum termasuk buku-buku bertema kebangsaan, yang sering disusupkan oleh Kang Deni, ke diskusi Asian African Reading Club yang diadakan setiap Rabu di Museum Konperensi Asia Afrika. Jadi dapat dibayangkan, kita bisa datang ke Lawang Buku, melihat-lihat, dan ngobrol dengan Kang Deni tentang hal ikhwal itu semua. Persoalan jadi beli atau tidak, toh Kang Deni akan tetap melayani pelanggannya dengan obrolan penuh wawasan. Karena mungkin, baginya, yang penting adalah semangat literasi yang harus terus diperjuangkan. 

Kabar itupun akhirnya saya baca di Facebook. Kabar bahwa Lawang Buku hanya akan beroperasi via daring dan sesekali ikut pameran buku. Saya tulis ini tanpa menglarifikasi Kang Deni karena tulisan ini saya buat jam dua pagi sambil sedih, marah, dan kecewa. Sebagaimanapun saya mencoba tidur, saya tetap galau karena macam-macam pertanyaan: Mengapa mereka, yang punya semangat memajukan literasi, yang akhirnya harus tutup kios? Mengapa bukan mereka, yang menganggap buku sebagai komoditi belaka, tak peduli kedalaman, yang penting sampul bagus -kita beri plastik agar tangan-tangan kotor pembaca yang coba-coba baca tanpa berniat beli tidak menodainya-, yang tersingkir? 

Inilah yang membuat Pak Awal Uzhara, ketika kembali dari Rusia setelah lima puluh tahun tidak bisa pulang atas alasan politik, langsung jatuh sakit ketika melihat mahasiswa-mahasiswa Indonesia di tempat yang beliau ajar. Katanya, "Mengapa mereka malas sekali membaca? Di Rusia, anak-anak SMP sudah terbiasa membaca buku-buku Tolstoy dan Chekov. Sekarang apa yang mau saya ajarkan kalau mereka tidak pernah membaca?" Hal sama juga saya rasakan ketika berhadapan dengan mahasiswa di kelas. Pertanyaan, "Kamu membaca buku apa?" Adalah jenis pertanyaan yang nampaknya sulit. Hal yang lebih elementer yang bisa kita tanyakan adalah, "Apakah kamu membaca buku?" 

Memang saya tidak punya data, tentang apakah secara umum literasi di Indonesia ini meningkat atau tidak. Tapi satu hal yang dapat ditarik kesimpulannya berdasarkan kejadian di atas, adalah kenyataan bahwa tempat bernaung para pegiat literasi, lambat laun mundur dari peradaban. Mungkin ini ada kaitannya, dengan paperless society yang diidam-idamkan masyarakat praktis-ogah ribet-yang ingin memampatkan segala sesuatunya dalam tablet. Bapak saya dari dulu sudah sering meramalkan dengan nada suara bergetar karena membayangkan betapa sedihnya jika itu benar: suatu saat, buku-buku hanya akan dapat kita temukan di museum. 

Memang iya, buku-buku yang dijual Lawang Buku pada akhirnya beralih ke daring. "Ah, cuma ganti medium saja. Tidak usah dramatis," mungkin begitu hibur seseorang. Tapi pastilah tutup kios itu punya kaitan juga dengan biaya sewa yang mencekik, disertai pembeli yang tidak-sebanyak-toko-buku-besar-yang-memuat-buku-buku-motivasi. Dan juga, bagaimanapun, meski buku tetap bisa dihadirkan di dunia maya, tetap ada hal yang hilang: obrolan penuh wawasan dari Kang Deni, yang dari sorot matanya, dapat kita ketahui bahwa ia tidak hanya sekadar jualan untuk kantongnya sendiri. Ia jualan untuk kemajuan peradaban. 

Foto: 
1. Artikel saya di Pikiran Rakyat sekitar setahun lalu tentang Komunitas Kebangsaan, yang salah satunya bercerita tentang Lawang Buku sebagai toko buku yang rajin memajang buku-buku bertema nasionalisme. 
2. Karya instalasi dari Jorge Mendez Blake berjudul The Castle. Menunjukkan bagaimana sebuah buku dapat memberi perubahan bagi dinding yang tebal -disebut The Castle karena buku yang digunakan adalah buku Franz Kafka dengan judul itu-.





Continue reading

Senin, 12 September 2016

Malam Takbiran dan Tuhan yang Ada Dalam Kenangan

Malam Takbiran dan Tuhan yang Ada Dalam Kenangan
Mendengar takbir bergema di malam Idul Adha, harus diakui, dalam diri saya timbul semacam rasa haru. Inikah yang dinamakan iman? Saya tidak mau menyimpulkan terlalu cepat. Tapi ada satu hal yang saya pikir masuk akal: rasa haru akan malam takbiran, adalah rasa haru akan masa kecil. Ketika malam takbiran, itulah momen berkumpul bersama keluarga, bersiap menggunakan baju baru di keesokan harinya, dan memperoleh uang dari saudara-saudara untuk ditabung kemudian dibelikan kaset SEGA.  

Namun saya tiba-tiba teringat novel Albert Camus berjudul Orang Asing yang ditulisnya tahun 1942. Novel ini berkisah tentang seorang bernama Meursault yang hidup dengan begitu santai seolah tidak takut dengan konsekuensi apapun: tidak menangis di pemakaman ibunya, mau menikah dengan pacarnya karena pacarnya yang memintanya demikian (ia sendiri tidak peduli dengan rasa cinta), membunuh orang Arab, diadili dan tidak membela diri, divonis hukuman mati dan bahkan menolak untuk bertaubat di saat akhir. Pertanyaan besarnya: Apakah ia sedemikian bedebah sehingga sangat tidak peduli pada sekeliling dan termasuk pada dirinya sendiri? Lalu apakah kebedebahan itu terjadi karena ia notabene tidak menyandarkan dirinya pada agama, Tuhan, dan jenis spiritualitas apapun? 

Pertama, Camus hendak mengajarkan pada kita untuk hidup dengan berani (dalam bahasa Camus: hidup dengan menerima seluruh absurditasnya). Satu-satunya yang membatasi tindakan kita, adalah konsekuensi dari tindakan itu sendiri, dan konsekuensi adalah hal yang tidak boleh ditolak. Jadi, kalau kamu sudah membunuh dan divonis hukuman mati, maka hadapilah tanpa rasa takut. Jangan sampai jadi orang yang membunuh tapi kemudian berkelit sedemikian rupa sehingga divonis tidak bersalah dan kamu gembira karenanya. Jadi, Meursault bukan sedang menjadi bedebah. Justru ia, dalam kacamata Camus, adalah manusia absurd yang sempurna karena toh, sebagaimanapun kita hidup baik dan berbudi, pada akhirnya menjadi sia-sia di hadapan kematian. Jadi kita bebas melakukan apapun, selama konsekuensinya kita hadapi dengan gagah berani.

Kedua, Camus menolak segala sandaran pada agama maupun Tuhan. Ia menyebut hal seperti itu sebagai sikap menyerah terhadap hidup (ia samakan dengan bunuh diri). Bersandar pada agama maupun Tuhan, adalah bunuh diri eksistensial yang memalukan. Jadi, jikapun manusia perlu "sesuatu" untuk mengisi kekosongan batinnya, Camus menawarkan jalan: spiritualitasmu, berasal dari kenangan akan masa lalu. Lewat kenangan akan masa lalu, batin kita terisi, tersenyum pada segala macam memori, dan menjadi punya semangat untuk melanjutkan hidup. Demikianlah ketika Meursault menjelang ajalnya, ia tiba-tiba teringat sesuatu, sebagaimana dilukiskan oleh Camus di bagian akhir Orang Asing: Suara-suara dari perdusunan naik sampai kepadaku. Bau-bau malam, tanah, dan garam, menyegarkan keningku kembali. Kedamaian yang menakjubkan dari musim panas yang tertidur itu merasuk ke dalam diriku seperti air pasang. Untuk pertama kali setelah sekian lama, aku memikirkan Ibu. 

Maka itulah pada malam takbiran, tidak jarang saya menitikkan airmata, meski tidak serta merta hal tersebut terkait dengan Sang Khalik yang nun jauh di sana. Atau lebih adil jika saya mengatakan: Mungkin Tuhan itu, bukan sesuatu yang kita temui di masa yang akan datang, melainkan sesuatu yang tertanam di benak kita, dari waktu ke waktu, menjelma menjadi kenangan yang indah.  

Continue reading