Wednesday, June 3, 2020

Review Musik "Touched By Wonders"



Sebelum mendengarkan karya Touched by Wonders, hal yang saya lakukan pertama kali adalah membaca narasinya yang sepertinya menjadi bagian dari promosi karya ini. Karya ini adalah soundtrack bagi gim Ghost Parade yang diproduksi oleh Lentera Nusantara. Gim Ghost Parade sendiri, berdasarkan narasi tersebut, konsepnya dikreasi oleh Assattari, yang kemudian juga mengisi vokal dari Touched by Wonders (bahkan kelihatannya, juga menulis liriknya, atau bahkan juga merancang musiknya). Musik tersebut kelihatannya dikemas sepaket dengan videonya, karena selain berisi lirik, juga berisi cuplikan dari gim Ghost Parade, yang bercerita tentang hantu-hantu tradisional Indonesia. 

Sehingga dengan demikian, menikmati karya ini bisa melalui dua jalan. Pertama, dengan mengetahui konteksnya, yaitu dengan membaca narasinya terlebih dahulu, lengkap dengan segala profilnya, lalu mendengarkan musik sambil menyimak videonya. Kedua, adalah dengan mengalami musiknya saja, tanpa tahu narasinya (atau pura-pura tidak tahu) dan tidak sambil menyaksikan videonya. Jalan pertama, saya mendengarkan sambil menyaksikan videonya, dan bermodalkan pengetahuan-pengetahuan yang berasal dari narasi. Terasa sangat holistik dan juga komprehensif: Mata, telinga, dan pikiran dimanjakan. Ujung-ujungnya, terbentuk asosiasi yang menarik, misalnya: Mendengarkan musik, ingat visualnya; melihat visualnya, ingat musiknya; membaca narasinya, ingat visual dan musiknya; aneka persepsi itu menjadi penting dalam menciptakan pengalaman bagi konsumen atau pengguna permainan ini. Mereka tidak akan bertumpu pada permainannya saja, melainkan juga mengingat keseluruhan yang masuk ke penginderaan, terutama telinga. Karya Touched by Wonders mencipta imaji melampaui apa yang terlihat, sehingga konsep “hantu-hantu tradisional” menjadi kaya dalam khazanah mental para gamer yang memainkan game ini. 

Jalan kedua, adalah mendengarkan musiknya saja, tanpa menyaksikan video dan mengetahui narasinya (sudah membaca, tapi bisa pura-pura tidak tahu). Di sini lah unsur musik terdengar lebih jernih dan murni, tidak terdistraksi oleh visualisasi dan asumsi-asumsi yang muncul dari pikiran. Musiknya, meski elektronis, tapi terasa sekali mengambil ritmik dan “cengkok” yang umumnya muncul dari musik tradisi, yang diduga mengarahkan asosiasi kita pada hantu tradisional yang menjadi tema utama gim Ghost Parade. Suara Assattari juga menarik: tinggi, lembut, halus, dan kelihatannya sengaja dibuat samar, untuk menciptakan kesan “mistik”. 

Persoalan minor tentu ada, seperti misalnya beberapa kekurang-pas-an kecil terjadi pada vokal Assattari ketika musik melakukan modulasi. Namun hal demikian dianggap tidak mengganggu, terutama ketika kita menikmati karya ini dalam intensinya, yang sengaja dibuat sedemikian rupa agar terdengar seperti: “hantu tradisional yang hadir tidak lagi di rumah kosong atau tempat angker, melainkan pada ruang imaji digitalmu”.

Video musiknya dapat dilihat pada tautan berikut ini.
Continue reading

Friday, February 28, 2020

Demotivasi, Obat Pahit Abad Ke-21

Demotivasi, Obat Pahit Abad Ke-21
Sudah lama saya merasa ada yang salah dengan berbagai acara motivasional di televisi ataupun kutipan motivasi yang bertebaran di media sosial ataupun Whatsapp group. Perasaan itu kira-kira begini: Mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut? Dibaca tentu dibaca, diamini tentu diamini, dan kadang-kadang, harus diakui, ungkapan-ungkapan motivasional itu lumayan ada yang bagus juga. Tapi sekali lagi, mengapa saya tidak sedikitpun merasa termotivasi dengan hal tersebut?

Tapi kita sepertinya tidak hidup di era di mana sikap anti-motivasional dipandang sebagai sikap yang mesti dihargai. Kurang dari itu, malah sikap anti-motivasional lebih baik dianggap sebagai sikap yang tidak populer, tidak terpuji, dan bahkan penyakit menular yang harus dijauhi. Iya, para motivator terkenal itu sering mengatakan, jangan dekat-dekat orang yang berpikiran negatif, nanti kita yang berpikiran positif ikut terbawa. 

Namun gelagat anti-motivasional sebenarnya mulai menggeliat, terutama sejak media sosial mulai akrab dengan meme. Iya, meme kelihatannya menunjukkan suatu ekspresi yang cenderung ke arah humor yang gelap, satir, sinis, dan cenderung menertawakan diri sendiri. Meme, yang cenderung anonim, kelihatan lari dari tanggung jawab dari upaya-upayanya dalam mengingatkan para warganet tentang hidup kita yang absurd. Tapi anonimitas itulah yang justru menarik: jangan-jangan, sebagian manusia memang sudah berpikir anti-motivasional. Hanya saja, tidak semua dari mereka mau menampakkan diri dengan identitas aslinya - karena mungkin, khawatir dianggap sebagai penyakit masyarakat, sebagaimana sudah diungkap di atas -. 

Bandingkan dengan para motivator yang selalu bangga dengan kalimat motivasi atas nama dirinya, seolah ingin dicatat sebagai sosok yang berjasa dalam mengangkat mereka yang batinnya hampa, dari lubang yang gelap.

Suatu hari, kira-kira empat atau lima tahun yang lalu, saya menulis status di Facebook kira-kira seperti ini (persisnya saya lupa): "Ingin rasanya saya duduk berdua dengan motivator, dan mengatakan, Pak, cari rejeki yang halal aja, jangan mengambil keuntungan dari kekosongan batin orang lain." Responsnya lumayan. Kelihatannya ada belasan atau beberapa puluh orang yang setuju (dilihat dari jumlah likes dan comments) terkait pemikiran ini, yang mungkin merepresentasikan kegelisahan mereka. Bisa saja sudah sejak lama mereka berpikiran yang sama, bahwa apa yang dikatakan pada para motivator itu, sebenarnya adalah sesuatu yang sangat sederhana dan klise. Namun banyak dari peserta yang datang dalam keadaan limbung, batin kosong, dan maka itu meminta pendapat tentang sesuatu yang mereka harusnya juga tahu. Saya tidak menyalahkan para peserta acara motivasi. Hanya saja, masyarakat kita seolah sudah dibentuk seperti itu. Motivator menjadi "nabi abad ke-21", yang pengikutnya adalah mereka yang cemas bagaimana menata hidup di tengah modernitas yang serba cepat dan tidak pasti. 

Apakah yang dikatakan oleh para motivator itu, sesuatu yang keliru? Tidak sama sekali, bahkan bisa jadi, sesuatu yang benar. Namun ada permasalahan yang bisa diangkat: Motivator tersebut, cenderung menganggap pola pikir sebagai panacea atau obat bagi segala. Mau kaya? Berpikirlah ke arah sana. Mau sukses? Berpikirlah ke arah sana. Mereka yang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, pasti karena pikirannya tidak fokus ke sana! Itulah mengapa sikap anti-motivasional kemudian dianggap penyakit masyarakat, karena bertentangan dengan kredo menuju kesuksesan dan kekayaan. Padahal kita bisa kritisi, bahwa orang gagal meraih kekayaan dan kesuksesan, tidak selalu tentang pola pikirnya yang negatif, melainkan juga karena masalah sistemik yang ada di luar kuasa mereka. 

Itulah sebabnya kata-kata motivasional harus kita kritisi sebagai suatu metode yang mengilusi, bahwa seolah-olah semua orang bisa jadi apapun asal pikirannya ke arah sana. Pada titik ilusi yang akut ini, motivator sering menjadi orang yang dimanfaatkan untuk kepentingan eksploitasi dan konsumerisme. Mereka "dipesan" oleh perusahaan agar karyawan lebih rajin dan kadang, religius, atas nama kemajuan korporasi, tanpa bisa bersikap kritis karena pemikirannya sudah dikepung oleh kredo-kredo motivasional. Kalimat motivasional juga ada pada dorongan kita untuk mengonsumsi, seolah-olah membeli ada kaitannya dengan moralitas, dan itu mengepung kita juga, di mana-mana (contohnya, slogan-slogan pada iklan komersial). Apakah sikap kritis bisa mengeluarkan tajinya dalam kondisi semacam itu? Bisa, tapi tidak bisa secara langsung menunjuk sikap motivasional sebagai biang keladi dari persoalan. Sekali lagi, karena secara sistemik sikap anti-motivasional dianggap sebagai penyakit masyarakat. 

Maka mari kita coba tawarkan suatu pemikiran yang sebenarnya tidak baru sama sekali, tapi mungkin menarik karena dimunculkan di tengah masyarakat yang alergi dengan sikap anti-motivasional. Kita punya ruang dan momentum, yaitu kehidupan internet dengan segala meme-nya, yang merayakan dengan tragis segala bentuk sinisme dan absurditas. Namanya sederhana dan istilahnya sudah sering digunakan: demotivasi. Dalam demotivasi ini, kita bisa membangkitkan kembali pemikiran yang tenggelam dalam masyarakat yang terkena "inflasi motivasi", seperti skeptisisme, stoisisme, sinisme, absurdisme, pesimisme, dan bahkan nihilisme. Pemikiran-pemikiran yang muncul di era mulai dari Yunani Kuno, Hellenisme, sampai Abad ke-20 tersebut, pasti bukan muncul tanpa alasan. -Isme -isme itu hadir untuk mengimbangi suatu pemikiran yang terlampau positif dan antusias, yang bisa jadi menyebabkan masalah tersendiri bagi masyarakat. 

Paling mudah tentu menunjuk Perang Dunia I dan II, sebagai konsekuensi dari pemikiran masa Romantik, yang erat dengan patriotisme yang sangat optimistik dan melihat negara sebagai instrumen untuk mewujudkan cita-cita kemanusiaan yang luhur. Sejumlah pemikir, seperti kaum eksistensialisme kemudian menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang omong kosong: "Beginikah hasil pemikiran yang 'super motivasional' yang muncul dari gagasan Romantik itu? Perang besar yang mengorbankan jutaan manusia atas nama patriotisme dan apalah itu terkait negara dan cita-cita kemanusiaannya?" 

Demotivasi adalah pemikiran yang tidak rumit-rumit amat, namun mesti dipahami sebagai antitesis dari kondisi masyarakat yang serba motivasional. Lewat demotivasi, kita diajak untuk memahami kembali hidup secara kritis dan realistis. Skeptis itu boleh, sinis itu perlu, tanpa harus takut dicap sebagai pesakitan. Demotivasi bukan artinya hidup malas-malasan, melainkan hidup dengan berpegang pada tanggung jawab dan panggilan dari dalam, berupa suara hati atau gairah, tanpa perlu menalikan diri pada suara-suara motivasional yang bisa jadi tidak ada kaitannya dengan keinginan kita yang terdalam. Motivasi seringkali mengajarkan kita untuk menjadi homogen, dalam arti menuju kekayaan dan kesuksesan - yang bisa jadi, sangat utopis -, sementara demotivasi membawa kita untuk merayakan heterogenitas, bahwa dalam hidup ada juga "orang biasa dengan pekerjaan biasa" yang bisa jadi lebih bergairah daripada mereka yang mengejar kekayaan dan kesuksesan, tapi bingung dengan apa yang dipijaknya. 

Demotivasi juga mengingatkan kita lebih sering terkait kematian, yang menghantui kita setiap saat, sebagai batas dari segala tindakan yang paling mulia sekalipun. Motivasi berlebihan memang berbahaya, karena menepikan kematian sebagai kenyataan eksistensial yang tidak penting. Padahal, tidakkah umumnya agama-agama, sebenarnya menyuarakan demotivasi lebih sering, bahwa hidup di dunia ini tidak lebih dari persinggahan yang penuh senda gurau? Kenapa harus terlalu serius terhadap segala sesuatu? 

Demotivasi mengandung sisi bahaya, yang tidak bisa begitu saja diterapkan bagi anak-anak hingga remaja, yang memerlukan harapan dan cita-cita dalam tindak-tanduk mereka. Demotivasi juga mengandung sisi bahaya, bagi mereka yang sakit dan berharap kesembuhan melalui harapan sesedikit apapun. Tidak semua orang dapat menerima demotivasi sebagai obat yang sangat pahit ini. Tapi setidaknya, mari mulai pelan-pelan mempromosikan konsep ini, bukan lagi sebagai racun yang berbahaya, namun sebagai obat penawar bagi berbagai ilusi memabukkan yang ditebar oleh kalimat-kalimat motivasional. 


Continue reading

Wednesday, December 18, 2019

Belajar dari Hidup Seneca: Bolehkah Filsuf Sekaligus Orang Kaya?

Bunuh Diri Seneca (1871) karya Manuel Dominguez Sanchez diambil dari sini.

Seneca (4 SM - 65) adalah pemikir Romawi yang juga sekaligus penasihat dari Nero, kaisar Romawi yang terkenal tiran dan kejam. Seneca menulis sejumlah karya termasuk tragedi Medea, Thyestes, dan Phaedra, serta pemikiran filosofi yang beberapa diantaranya dituangkan ke dalam buku berjudul Naturales Quaestiones dan surat-surat berjudul Epistulae Morales ad Lucilium. Secara garis besar, pemikiran Seneca adalah tentang stoisisme, suatu aliran pemikiran yang mengajarkan untuk berjarak dari "keinginan", "kehendak", dan "kecenderungan" sebagai cara untuk mencapai ketenangan batin dalam tujuannya mencapai kebahagiaan (eudaimonia). Orang-orang stoik biasanya cenderung tenang, bahkan dingin - seperti tidak memiliki emosi - sebagai cara mereka untuk tidak terlalu terlibat secara berlebihan dengan hidup.

Namun di sisi lain, Seneca adalah orang dengan kekayaan berlimpah. Ia mempunyai lima ratus meja dengan kaki yang terbuat dari gading, suka meminjamkan uang dengan bunga besar, dan berinvestasi pada sejumlah tanah. Seneca sering disebut sebagai salah satu orang paling kaya di generasinya, dan ini dimungkinkan sebagai upahnya menjadi penasihat Nero selama delapan tahun.

Selama hidupnya, Seneca dianggap sebagai orang dengan hidup paradoks. Filsafat-filsafatnya mengajarkan kesederhanaan cara berpikir dengan menekan berbagai keinginan, tapi di sisi lain, pemikirannya ditujukan untuk melanggengkan tirani. Bagaimana Seneca menyikapi paradoks ini?

Seneca sendiri akhirnya mati atas titah Nero. Ia dianggap sebagai bagian dari komplotan yang hendak menjatuhkan Nero, sehingga dihukum mati dengan cara memotong nadinya sendiri sampai kehabisan darah. Sebelum mati, Nero menuliskan pertentangan batinnya, dalam surat kepada sahabatnya Lucilius Junior. Beberapa potong kalimatnya isinya adalah sebagai berikut, "Hanya orang bijak yang bisa memainkan satu karakter ke karakter yang lain. Orang bijak seyogianya mengembangkan kebajikan, baik dalam kekayaan maupun kemiskinan. Dalam kondisi apapun, orang bijak akan selalu meninggalkan sesuatu yang berkesan."

Tulisan Seneca memang terdengar hanya apologia bagi pembaca yang sinis. Sikap Seneca merupakan sikap yang berbahaya dan selalu relevan terkait dengan cara berpikir yang pro-kekuasaan (terlebih yang tiran). Namun tetap masih bisa dipertanyakan: Apakah kebijaksanaan mesti identik dengan kemiskinan?

Apakah Nero tanpa Seneca (atau siapapun yang relevan dengan kehidupan sekarang), akan lebih baik perangainya, atau malah lebih buruk? Bolehkah filsuf adalah sekaligus orang kaya dan masih bisa tetap disebut sebagai orang bijak, sebagaimana Seneca mengatakan: hanya orang bijak yang bisa memainkan satu karakter ke karakter lainnya? Seneca mengajarkan kita, bahwa tidak selalu benar tentang hidup yang seperti kata WS Rendra: "Gagah dalam kemiskinan". Meski demikian, tidak semua dari kita bisa kuat berada dalam permainan macam Seneca. Beruntunglah Seneca masih ada yang mengharumkan namanya. Kebanyakan dari kita, jika bersikap seperti Seneca, akan hilang ditelan penghakiman sejarah.
Continue reading

Thursday, November 21, 2019

Ludwig dan Keluarga Wittgenstein

Gambar diambil dari sini.

Ludwig Wittgenstein adalah filsuf asal Wina dari awal abad ke-20 yang pemikirannya bertalian dengan bahasa dan dituangkan dalam dua bukunya yaitu Tractatus Logico Philosophicus (1921) dan Philosophical Investigations (1953). Buku kedua berjarak 22 tahun dari buku pertama dan isinya justru merevisi pemikirannya terdahulu. Di buku pertama, Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa adalah "gambar fakta". Artinya, jika ada gambar, atau kata, maka ada faktanya. Jika sebuah gambar tidak memiliki basis fakta, maka itu omong kosong, atau lebih baik dikatakan nilai kebenarannya hanyalah psikologis ketimbang logis.

Di buku kedua, Wittgenstein mengakui bahwa dulu dia sangat kaku dalam memahami bahasa. Ia lebih setuju kalau bahasa bukan perkara benar atau tidaknya, melainkan bagaimana penempatannya dalam satu konteks permainan (language game). Jadi kalau kita bilang "Cus!", meski tidak ada relasi logisnya, tapi punya nilai kebenaran dalam permainan capsah.

Namun bukan pemikiran Ludwig saja yang akan dibahas dalam tulisan ini, melainkan keluarga Wittgenstein yang sangat menarik. Keluarga Wittgenstein terdiri dari sembilan bersaudara dan bisa dikatakan sebagai keluarga terkaya di Wina saat itu. Untuk menggambarkan kekayaannya, bisa diilustrasikan sebagai berikut: Secara reguler, komposer Gustav Mahler dan Johannes Brahms menggelar konser di kediaman keluarga tersebut. Lalu sang ayah, Karl, adalah orang yang rutin membiayai pameran-pameran Auguste Rodin. Lalu adik perempuan Ludwig, Margaret, pernah dilukis oleh Gustav Klimt pada tahun 1905.

Selain Ludwig, kakaknya, Karl, adalah juga "orang sukses", dengan karirnya sebagai pianis bertangan satu - satu tangannya diamputasi karena perang -. Meski demikian, tiga dari sembilan bersaudara keluarga ini meninggal akibat bunuh diri.

Pemikiran-pemikiran mungkin lebih mudah disampaikan dalam konteks sosial-ekonomi-politik yang "menang". Dalam kehidupan kontemporer pun demikian, orang kaya dan berkuasa tampak lebih didengar meski secara argumentatif sebenarnya omong kosong. Pertarungan wacana harus dimenangkan sebelum narasi-narasi disampaikan. Ya tidak artinya harus jadi punya kekuasaan dulu. Wacana bisa dimenangkan lewat idealisme dan konsistensi terus menerus, yang pada akhirnya membuat kekuasaan itu sendiri menoleh dan bahkan tunduk. 

Namun kemenangan wacana saja tidak cukup. Ludwig adalah contoh filsuf yang sudah memenangkan pertarungan wacana akibat posisi sosial keluarganya yang tinggi, tapi kemudian ia menulis pemikiran penting, yang dapat dikatakan juga mengandung kerendahan hati (karena itu tadi, pemikirannya bersedia dikoreksi oleh dirinya sendiri). Kemenangan, kekayaan dan kecerdasan adalah tanggung jawab besar bagi kemanusiaan.
Continue reading

Sunday, October 6, 2019

Rashomon dan Alih Wahana Sastra ke Teater

(Ditulis sebagai suplemen diskusi Maca #9 tentang "Teater Naskah Adaptasi", Bandung Creative Hub, 6 Oktober 2019)



Sudah lama saya merasa bahwa literatur Jepang adalah "sesuatu". Selain mahakarya Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa, yang menyuguhkan romantisme historis, Jepang juga melahirkan tulisan-tulisan gelap, absurd, psikologis dan eksistensialistik. Para penulisnya, sebut saja, Yukio Mishima, Ryonusuke Akutagawa, dan yang paling baru, Haruki Murakami. 

Mishima dan Murakami tentu saja menarik dan "aneh", tapi mari membahas lebih banyak tentang Akutagawa, sebagaimana topik tulisan ini yang akan membahas karyanya yang diadaptasi dengan unik oleh Zulfa Nasrulloh, seorang kawan penyair yang kemudian akan menjalani debutnya sebagai sutradara teater. 

Selain terpesona oleh tulisan Akutagawa yang gelap dan dalam, saya menduga Zulfa juga terinspirasi oleh sutradara film Jepang, Akira Kurosawa. Kurosawa menyutradarai film Rashomon (1950) yang sebenarnya merupakan interpretasi dari cerpen Akutagawa dengan judul yang sama. Apa yang diberi judul Rashomon dalam versi Kurosawa, sebenarnya merupakan adaptasi gabungan dari dua cerpen Akutagawa, yaitu In The Grove (dalam hal konten ceritanya) dan Rashomon (dalam hal latar peristiwanya). Kreativitas Kurosawa itu memberi jalan masuk bagi Zulfa untuk juga menggabungkan dua cerpen Akutagawa, yaitu Kesa and Morito dan Rashomon terutama dalam hal penokohan. 

Tentang Alih Wahana 

Pada pementasan teater ini, Zulfa memberi istilah "alih wahana" untuk upayanya memvisualisasikan teks-teks dalam cerpen Akutagawa menjadi sebuah pertunjukan. Teks dalam cerpen sangat dimungkinkan untuk pertama-tama menjadi naskah, karena yang paling dasar, tentu karena ada kesamaan aspek alur cerita, adegan, latar, dan penokohan. Tinggal bagaimana menjadikan unsur-unsur dalam teks, yang terhubung dengan imajinasi kita yang nyaris tak terbatas (atau sekaligus juga terbatas pada pengalaman-pengalaman indrawi), menjadi terealisasi dalam hal teknis dan juga tetap mempertimbangkan kapasitas psikologis penonton pertunjukan. 

Maksudnya, orang bisa menyelesaikan cerpen Rashomon dalam satu jam, tiga hari, atau satu bulan, dan tetap menangkap maknanya. Sementara pertunjukan teater harus bisa merangkum seluruhnya dalam maksimal tiga jam pertunjukan. Ini belum lagi mengatasi tantangan lain, yang itu tadi, terkait imajinasi penulis yang bebas dan bahkan merasa tidak punya kepentingan untuk "membumikan", menjadi sesuatu yang cukup bisa dipahami secara intelektual maupun empirik dalam sudut pandang apresiator pertunjukan. 

Sebelum membahas lebih jauh tentang alih wahana dari sastra ke teater, sebenarnya menarik untuk dibahas terlebih dahulu hal ikhwal alih wahana dari sastra ke film. Padahal, usia sastra dan film, sebagai seni yang "paling muda", tentu sangat berjauhan - karena film sangat erat kaitannya dengan keberadaan teknologi media rekam -. Mengapa menarik? Kita bisa melihat bahwa pada dasarnya teknik-teknik dalam film, adalah juga meminjam sejumlah teknik dalam sastra. Misalnya, sebuah ungkapan dari tokoh utama bernama Pierre Bezukhov dalam novel War and Peace karya Leo Tolstoy kira-kira mengatakan begini (saya lupa persisnya), "Kaki-kaki ini sudah sangat lelah, tapi tubuh tetap memaksanya untuk terus diseret." Kita bisa membayangkan suatu adegan close-up dalam visualisasi benak kita, sebagaimana kita membaca tulisan, "Suatu pagi di Lembang, yang terlihat dari segala sudut, pemandangan Gunung Tangkuban Parahu," sebagai bayangan kita akan teknik extreme long shot

Jika kita memerhatikan secara seksama, alih wahana dari sastra ke film ini bisa lebih banyak, hingga ke teknik slow motion sampai flashback. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin karena film lebih mampu mengakomodasi prinsip berimajinasi kita yang "melompat-lompat" dan "bergerak liar mencari sudut pandang sendiri", yang kemudian dilaksanakan secara mendekati oleh teknik khas film: montage dan mise en scene

Apakah teater bisa melakukan hal yang sama? Bisa saja, tapi jelas ada perbedaan antara film dan teater. Mata penonton dalam konteks film (yang diwakili oleh kamera) dan teater adalah hal yang berbeda. Film menyuguhkan sajian visual yang melalui kamera, sudah dipilihkan untuk penonton, bahwa apa yang terlihat di layar, adalah memang yang harus dilihat. Sementara dalam teater, penonton bebas memilih melihat yang mana, meski kemudian ada "pengondisian" berupa fokus dan pembesaran, tapi jelas bahwa audiens teater diberi kebebasan lebih dalam melihat. 

Namun artinya, memindahkan sastra ke film tampak lebih mudah, oleh sebab kesamaan aspek imajinatif yang diakomodir oleh teknologi, ketimbang teater yang hanya ditopang oleh mata penonton yang "telanjang". Dalam teater, aspek-aspek imajinatif mungkin lebih didukung oleh representasi-representasi yang mensyaratkan penonton untuk turut aktif melihat A tidak sekadar A, tapi juga A+ atau B atau bahkan X. Pada titik pembesaran imajinasi dan multi-interpretasi ini, penonton teater seringkali, secara stereotip, harus lebih terdidik daripada penonton film umumnya yang "tinggal duduk manis" (walau film pun banyak juga yang punya muatan intelektual tinggi). 

Tentang Morito dan Dua Pelayan di Rashomon 

Terkait karya Zulfa yang akan dipentaskan tanggal 19 Oktober ini, kelihatannya menjadi tantangan besar untuk menjodohkan sejumlah tokoh dari "alam yang berbeda". Namun hal yang sedikit menjadi keuntungan adalah cerpen Kesa and Morito, kelihatannya sudah dirancang oleh Akutagawa dengan latar yang sedemikian teatrikal, sehingga visual-visual khas teater langsung terbayang - dari baik monolog Morito maupun Kesa -. 

Sementara cerpen satunya, Rashomon, mengisi nilai-nilai dalam naskah ini agar juga memuat tentang dilema moral dan psikologis yang begitu kuat sebagaimana termuat pada tema-tema sastra Jepang modern. Situasi pada Rashomon, yang diwakili oleh para pelayan dalam kondisi pasca bencana, adalah situasi yang pelik, yang mengandaikan perumusan nilai-nilai moral yang baru, setelah yang lama luluh lantak bersama seluruh bangunan yang didirikan atas nama kemanusiaan. 

Namun asumsi saya, seorang Zulfa, agaknya tidak mungkin meminjam pikiran Akutagawa hanya untuk menumbuhkan romantisme ke-Jepang-an bagi penonton pertunjukannya kelak. Morito dan Dua Pelayan di Rashomon adalah juga tentang situasi kontemporer sebagaimana digambarkan dalam istilah yang diambil dari salah satu adegannya yaitu "Setiap Orang adalah Bencana". 

Literatur modern sudah sejak lama menggaungkan hal ini, sebagaimana Jean Paul Sartre menegaskan filsafatnya sebagai prinsip atas "Orang Lain adalah Neraka", dalam konteks bahwa kita senantiasa diobjekkan oleh tatapan-tatapan orang lain. Cerpen Anton Chekhov, Ward No. 6 juga secara tidak langsung membicarakan hal serupa, lewat tokoh Ivan Dimitrich Gromov yang selalu curiga pada gerak-gerik orang lain, sehingga kemudian dirinya divonis gila. 

Tentu ada semangat zaman yang mendasari kenapa timbul pemikiran-pemikiran semacam itu dari mulai abad ke-20 hingga era posmodern sebagaimana dialami oleh Zulfa saat ini. Kita adalah Morito sekaligus dua pelayan di Rashomon, yang mencurigai orang lain berdasarkan proyeksi-proyeksi pikiran kita sendiri. Dunia kontemporer adalah dunia yang lebih tenang jika orang lain adalah proyeksi, ketimbang kita menghadapinya sebagai subjek sebagai dirinya sendiri. Tidakkah ini merupakan dehumanisasi yang serius dan menyedihkan?
Continue reading

Menjadi Pimpro Harpa Nusantara







Tawaran untuk menjadi pimpinan produksi Harpa Nusantara itu saya ingat sekali, tanggal 1 Maret 2019. Waktu itu Sisca dan suami datang ke restoran Truno 58, karena saya sedang ada tampil di sana. Sisca bertanya apakah kira-kira yang bisa dilakukan untuk konsernya? Karena dia kurang sreg dengan konsep konser yang megah dan melibatkan banyak artis (komersil) - seperti yang katanya sudah dibicarakan dengan beberapa temannya -. 

Inilah yang membuat saya senang mendengarnya. Sisca, si pemain guzheng dan harpa yang nyaris lekat dengan dunia "weddingan" tersebut, ternyata sedang mencari bentuk pertunjukan yang kiranya lebih relevan dengan renungan dan pencariannya. Saya bisa membayangkan apa yang ada di benaknya: Tidakkah harus ada hal yang lebih agung, yang mesti dicapai lewat seni, yang tentunya sekaligus lebih ugahari daripada panggung nikahan ke nikahan? Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat pada panggung nikahan, tapi seni, bagaimanapun, punya fungsi-fungsi lain yang tak kalah sakral, spiritual, dan bersifat katarsis. 

Sebenarnya Sisca, dan suaminya, Pak Sugih, adalah duet yang sangat rinci dalam mengurusi banyak hal. Artinya, saya tidak bisa dikatakan mengorganisasi seluruh produksi karena mereka pun begitu aktif dalam bergerak mengatasi satu demi satu persoalan (yang sangat banyak). Namun persiapan hampir enam bulan ini - mungkin bagi Sisca satu tahun karena juga terkait pembuatan empat harpanya yang lumayan rumit - adalah persiapan yang lebih dari sekadar produksi. Obrolan kami nyaris tiap hari via WA, adalah juga tentang bagaimana membuat kami sendiri yakin, bahwa Harpa Nusantara adalah konser yang penting, brilian, dan punya nilai lebih di kemudian hari. Jadi obrolan kami tidak seperti dua orang yang berbisnis: hanya tegur sapa bicara pembayaran dan ceklis persiapan, tapi juga masuk pada wilayah kultural dan filosofis. Mungkin saja, tanpa bermaksud ge-er, dan tentu saja tanpa mengabaikan keajaiban musik Iman Ulle dan tata artistik dahsyat dari Aji Sangiaji, konser Harpa Nusantara tadi malam begitu terasa sekali sebagaimana pepatah bersahaja mengatakan: "Apa yang dari hati, akan sampai juga ke hati". 

Konser Harpa Nusantara berakhir. Kelihatannya apa yang kami cita-citakan sejak semula, tidak jauh berbeda dengan kenyataannya. Tentu saja, ada kekurangan sana sini, itu pasti, karena harus jujur dikata, persiapan Harpa Nusantara secara teknis begitu rumit dan berdarah. Namun setelah tirai pertunjukan ditutup dan penonton melakukan "standing applause", kami sadari sesuatu, tentang bagaimana seni dapat mengubah hidup manusia: rasa haru yang timbul dari merasakan suatu keindahan, akan berdenyut senantiasa, dan memanggil-manggil, ketika kita, siapapun itu, berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan. Di situlah letak seni yang menyucikan. 

Selamat untuk Sisca Guzheng Harp, jangan kapok! 

Kredit foto: Agus Bebeng
Continue reading

Perayaan Kebudayaan dalam Harpa Nusantara

(Tulisan sambutan untuk konser Harpa Nusantara dari Sisca Guzheng Harp, Gedung Kesenian Rumentang Siang, 30 September 2019)


Sisca Guzheng Harp adalah musisi yang cukup lama saya kenal. Dulu, sekitar delapan tahun lalu, kami bersama-sama menjadi pemain reguler di Hilton, dengan dia menjadi pianis dan saya menjadi gitaris. Tak lama kemudian saya tahu juga bahwa dia ternyata lebih memfokuskan penguasaan instrumennya pada guzheng (kecapi Tiongkok) dan harpa - yang kemudian kita ketahui dari mana asal muasal nama panggungnya -. 

Hal yang baru saya ketahui belakangan adalah ini: Sisca ternyata punya perhatian lebih pada tradisi dan sekaligus juga kemasakinian. Tentu masa kini ini ada dua aspek, yaitu aspek populer dan aspek kontemporer dalam arti "new movement". Ini terlihat sekurang-kurangnya dari aktivitas Sisca yang selain bermain untuk dimensi hiburan (baca: "weddingan"), juga untuk acara-acara apresiatif seperti teater, puisi, dan musik yang "tidak biasa". Misalnya, terakhir, saya melihat sendiri bagaimana Sisca dengan lihainya melakukan eksplorasi musik dalam pertunjukan Hades Fading karya Sandra Fiona Long, dengan memperlakukan guzheng-nya secara tidak konvensional. Rupanya, rekam jejaknya pun menunjukkan bahwa Sisca, meski sebentar, pernah bersentuhan dengan legenda "musik baru" Indonesia, Slamet Abdul Sjukur. 

Maka itu bukanlah hal yang datang dari ruang hampa ketika Sisca merancang konser Harpa Nusantara. Pemikirannya agaknya timbul dari elaborasi yang manis antara pikirannya yang ke depan, kecintaannya pada tradisi Nusantara, tanpa mengabaikan peluang bahwa konsep ini bisa dilanjutkan secara komersil karena kelihatannya belum ada yang serius menggarapnya selain Sisca. 

Sisca memang seorang keturunan Tionghoa, dan maka itu mungkin diantara kita timbul pertanyaan sejauh mana kelekatan dia pada aspek-aspek tradisi Nusantara. Untuk konser ini, ke-Nusantara-an "masih" sebatas pada aspek-aspek motif dan visual yang melekat pada harpa, yaitu empat prototipe dengan motif lokal yaitu Toraja, Kawung, Dewi Sri, dan Mega Mendung. Eksperimen ini bukannya tidak terbuka pada kemungkinan kritik, seperti misalnya: mengapa aspek-aspek tidak pada riset terhadap kekhasan alat petik Nusantara saja, yang karakteristiknya seperti harpa? 

Namun agaknya kita tidak bisa merta membebankan idealisme semacam itu secara langsung, pada seniman yang tengah berjuang membumikan latar belakang ke-Tionghoa-an nya pada dimensi ke-Nusantara-an yang begitu luas dan juga masih dinamis. Singkat kata: Sisca memulainya, dan membuka wacana penting bagi kita semua, tentang betapa Nusantara kita disuling dari berbagai kebudayaan besar, dan kebudayaan Tiongkok juga berkontribusi di dalamnya. Ini adalah tawaran wacana antar budaya yang penting dan menarik, apalagi jika ditambah dengan kenyataan bahwa harpa identik dengan instrumen "musik klasik Barat". Dalam arti kata lain, konser Harpa Nusantara adalah perayaan budaya yang megah sekaligus bersahaja. Kita akan semakin merasakannya ketika menginderai musik garapan Iman Ulle, yang memang merangkul dua karakter barusan. 

Walhasil, saya tidak berpikir panjang ketika Sisca menawari untuk menjadi produser, ketua panitia, pimpro atau apapun itu pada sekitar bulan Maret kemarin. Bukan pekerjaan yang mudah, karena tantangan idealisme yang ditawarkannya. Namun mudah-mudahan, konser Harpa Nusantara tidak hanya menghibur, tapi juga menawarkan hal-hal yang membuka pikiran kita lebih luas. 

Selamat mengapresiasi!
Continue reading